You are on page 1of 5

BEBERAPA KONSERVASI YANG DILAKUKAN

1. DAPUR UMUM ( MUSEUM GOEDANG RANSOEUM)

Museum Gudang Ransum menempati sebuah kompleks bangunan bekas dapur
umum para pekerja tambang batu bara dan pasien RSU Sawahlunto yang ketika itu
berjumlah ribuan. Gedung Museum Gudang Ransum sendiri dibangun pada 1918
sewaktu penjajahan Belanda. Dapur umum ini dilengkapi dua buah gudang besar
dan steam generator (tungku pembakaran) untuk memasak 3.900 kg beras setiap
hari bagi para pekerja tambang batu bara.
2. Gedung Societiet ( GEDUNG PUSAT KEBUDAYAAN )

dibangun tahun 1910 dengan nama gedung ‘ Gluck Aut sociter’ kadang -
kadang orang menyebut dengan nama Rumah Bola. Gedung societiet
merupakan gedung pertemuan para petinggi – petinggi Belanda yang ada di
sawahlunto.

Di gedung inilah para pejabat Belanda dan Eropa melepaskan lelah setelah
beraktivitas, disini mereka bercengkrama, minum, dansa dan bernyanyi tersedia
juga sarana olahraga seperti bowling dan bilyar. Pada masa setelah
kemerdekaan gedung ini dijadikan sebagai Gedung Pertemuan Buruh ( GPB).
Pernah juga sebagai cabang Bank Dagang Negara atau Bank Mandiri sekarang.
Pada tanggal 1 desember 2006 ( sampai sekarang ) gedung ini diresmikan
sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

3. Rumah Komedi ( RUMAH GADAI )
Roemah Komidi dibangun oleh Sian Seng Wong A Lan, seorang Tionghoa
sawahlunto di tahun 1917. Di sini masyarakat tambang sawahlunto memperoleh
hiburan pertunjukan. Kemudian gedung ini menjadi Rumah Gadai tempat
masyarakat mengadaikan barang – barang pribadinya.

Selanjutnya gedung ini pernah juga di tempati Bank Rakyat Indonesia ( BRI )
hingga tahun 2010. Setelah revitalisasi, gedung dengan arsitektur percinaan ini
kembali ditempati Pegadaian Sawahlunto tahun 2011.

4. Toko Suvenir ( RUMAH PEK SIN KEK )
Rumah Pek Sin Kek merupakan bangunan tua lainnya di kota sawahluto, Sumatera
Barat, yang sempat dipudarkan pada tahun 2005 – 2006.

Pada jaman Kolonial Belanda, daerah di sekitar rumah Pek Sin Kek ini dulu
dikenal dengan kampung Tionghoa. Setelah Indonesia merdeka, namanya sempat
berubah menjadi jalan Pasar Usang, kemudian diganti lagi menjadi jl. Pasar
Remaja, sebelum akhirnya dirubah menjadi jl. A. yani.
Rumah Pek Sin Kek dibangun pada tahun 1906, dan pernah digunakan sebagai
gedung Teater, Tempat Perhimpunan Masyarakat Melayu, dan sebagai Pabrik Es.
Saat ini Rumah Pek Sin Kek digunakan sebagai Toko Suvenir.