You are on page 1of 24

BAB I

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

1.1. Definisi
Gonore merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae. Pada umumnya penularan terjadi melalui hubungan seksual secara genito-
genital, oro-genital atau ano-genital. Tetapi dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat,
pakaian, handuk, termometer, dan sebagainya. Oleh karena itu secara garis besar dikenal
gonore genital dan gonore ekstra genital. Gonore sering disebut juga sebagai penyakit
kencing nanah, uretritis spesifik dan disingkat sebagai GO.2

1.2. Epidemiologi
Diperkirakan terdapat sekitar 60 juta kasus baru setiap tahun di seluruh dunia. Di
United States, setiap tahunnya dilaporkan lebih dari 700.000 orang baru mendapatkan infeksi
gonore. Namun, hanya sebagian dari yang terinfeksi yang melapor ke Centers for Disease
Control and Prevention (CDC). Pada tahun 2008, WHO memperkirakan 106 juta kasus
gonore terjadi secara global diantara orang dewasa. Di Eropa, gonore merupakan penyakit
infeksi bakteri terbanyak kedua setelah infeksi klamidia yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Angka kejadian penyakit ini untuk sebagian besar negara tidak diketahui karena
pengawasan dan sistem pelaporan yang kurang, tetapi secara luas dianggap bahwa angka
kejadian penyakit dan komplikasinya jauh lebih tinggi di negara-negara berkembang seperti
di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. 1,2
Sedangkan di Indonesia, dari data rumah sakit yang beragam seperti RSU Mataram
pada tahun 1989 dilaporkan gonore yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari seluruh
penderita IMS. Sedangkan pada RS Dr.Pirngadi Medan ditemukan 16% dari sebanyak 326
penderita IMS. Data morbiditas di RSCM, infeksi ini menempati urutan ke-3, setelah
kondiloma akuminata, infeksi genital non spesifik.1,4
Seperti penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) lainya, angka kejadian infeksi
tertinggi terjadi pada anak muda, terutama pada wanita remaja dan pria umur dua puluhan.
Angka kejadian infeksi juga meningkat pada kelompok usia yang lebih tua. Prevalensi gonore
terbanyak pada populasi kulit hitam, dan pada pria yang berhubungan seksual dengan pria,
Sosio-ekonomi, faktor perilaku dan pola seksual campuran, mempengaruhi penyebarannya.
Gonore memiliki infektivitas tinggi dan mudah menular sebelum timbulnya gejala.2

Pada umunya penularan terjadi melalui hubungan seksual secara genito-genital, oro-
genital atau anogenital. Tetapi, dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat, pakaian,
handuk, termometer, dan sebagainya. Oleh karena itu, secara garis besar dikenal gonore
genital dan gonore ekstra genital.1

1.3. Etiologi 1
Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh NEISSER pada tahun 1879
dan baru berhasil dilakukan kultur pada tahun 1882 oleh LEISTIKOW. Kuman tersebut
termasuk dalam grup Neisseria, terdapat 4 spesies, yaitu N.gonorrhoeae dan N.meningitidis
yang bersifat patogen serta N.catarrhalis dan N.pharyngis sicca yang sukar dibedakan
kecuali dengan tes fermentasi.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi dengan sisi yang datar
berhadap-hadapan berukuran lebar 0,8µ dan panjang 1,6µ bersifat tahan asam. Pada sediaan
langsung dengan pewarnaan Gram bersifat Gram-negatif, terlihat diluar dan didalam leukosit,
tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadan kering, tidak tahan suhu diatas
39ºC, dan tidak tahan desinfektan. Neisseria gonorrhoeae dapat dibiakkan dalam media
Thayer Martin dengan suhu optimal 35-37º C, pH 6,5-7,5 dengan kadar CO2 5%.

Gambar 1. Neisseria
gonorrhoeae

Secara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai
pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili yang bersifat
nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah mukosa epitel kuboid atau lapis
gepeng yang belum berkembang (immatur), yakni pada vagina perempuan sebelum pubertas.

1.4. Mikrobiologi 2

Lapisan ini mengandung “penicilline binding component” yang merupakan sasaran antibiotik penisilin dalam proses kematian kuman. Mikrobiologi Neisseria gonorrhoeae Komponen permukaan tertentu mulai dari lapisan dalam ke luar dengan susunan sebagai berikut : 1. NADH dehidrogenase dan ATP-ase. Lapisan peptidoglikan Lapisan ini mengandung beberapa jenis asam amino seperti pada kuman gram negatif lainnya. Pili ini dihubungkan dengan patogenitas kuman yang sangat berperan dalam perlekatan (adhesi) pada sel mukosa dan penyebaran kuman dalam inang. Membran sitoplasma Membran ini menghasilkan beberapa enzim seperti suksinat dehidrogenase. 3. Terjadi hambatan sintesis dinding sel. Dengan mikroskop elektron. Membran luar (dinding sel) Membran ini terdiri atas beberapa komponen yang terpenting adalah :  Lapisan polisakarida Lapisan ini memegang peranan dalam virulensi dan patogenesis kuman Neisseria gonorrhoeae.800 dalton. Gambar 2. laktat dehidrogenase. dinding Neisseria gonorrhoeae terlihat memiliki komponen-komponen permukaan yang diduga berperan pada patogenesis virulensinya. berbentuk batang dan terdiri dari subunit protein sekitar 1. 2.  Pili Pili merupakan bagian dinding sel gonokokus yang mempunyai rambut.  Protein  Porin protein (por) Dengan teknik elektroforesis dapat ditemukan protein pada lapisan dinding sel gonokokus dengan berat sekitar 34-36 kilo Dalton yang dikenal dengan porin protein (Por). sehingga kuman akan mati. Fungsi dari Por ini adalah sebagai .

Selama endositosis. dengan cara memproduksi endotoksin yang menyebabkan kematian sel mukosa. Epitel skuamosa dimana terdapat pada vagina dewasa.5. Neisseria gonorrheae tidak dirusak dalam vakuol endositik ini. membran sel mukosa menarik dan mengambil sebuah vakuola yang berisi bakteri.bakteri melekat pada sel epitel kolumnar.bakteri masuk ke sel epitel melalui proses parasite – directed endositosis. Protein porin.melakukan penetrasi dan bermultiplikasi di membran bawah (basement membrane). Hilangnya IgA1 protease menyebabkan hilangnya kemampuan gonokokus untuk tumbuh dalam sel epitel. yang terdapat pada membran luar merupakan protein yang dapat memperantarai penetrasi pada sel hospes.tidak rentan terhadap infeksi neisseria gonorrheae. Masing –masing strain dari neiserria gonorrheae hanya . Komponen ini berperan dalam menginvasi sel epitel.  H. tetapi tidak jelas apakah bakter – bakteri ini breplikasi dalam vakuola sebagai parasit intraseluler.perlekatan pada sel bersilia tidak terjadi. Protein ini memegang peranan penting karena dapat memblokade antibodi yang ada dalam serum.Perlekatan ini diperantarai oleh fimbriae dan protein OPA. Protein ini berukuran antara 24-28 K Dalton. Vakuola ini ditransportasikan ke dasar sel dimana bakteri akan dilepaskan melalui eksositosis ke dalam jaringan subepitelial.  Lipo Oligosakarida (LOS) Semua glukosa mengekspresikan LOS pada permukaan selnya. 8 protein Perenan protein ini sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. 1. Bakteri melekat pada mikrofili dari sel epitel kolumnar. penghubung anion spesifik kedalam lapisan yang banyak mengandung lemak pada membran luar. Ig A1 protease Komponen ini berperan dalam inaktivasi pertahanan imun mukosa. Patogenesis 2 Infeksi gonore umumnya hanya terbatas pada permukaan superfisial yang berlapis epitel silindris kubis.  Reduction Modifiable Protein (RMP) Semua Neisseria patogen mempunyai protein RMP dengan beratmolekul 30-31 K Dalton. membantu perlekatan antar sel dalam koloni atau dengan sel epitel.setelah itu bakteri dikelilingi oleh mikrofili yang akan menariknya ke permukaan sel mukosa.  Opacity protein (Opa) Protein ini banyak ditemukan pada daerah perlekatan sel yang mempunyai kemampuan menyesuaikan perubahan panas sel.

kadang-kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati diri sendiri. neiserria gonorrhea dapat memproduksi satu atau beberapa protein lapisan membran luar yang dinamakan opa.mengekspresikan satu tipe por. Pada perempuan masa tunas sulit ditentukan karena pada umumnya asimtomatik. Selama infeksi gonokokus akan menghasilkan berbagai produk ekstraseluler seperti fosfolipase peptidase yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Ga mbar 3. Gambaran klinis dan komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal genitalia. sementara LOS juga menstimulasi produksi tumor nekrosis faktor yang menyebaban kerusakan sel. tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan oleh penderita.6.sampai neytrofil mati dan melepaskan bakteri yang dicerna. Peptidoglikan dan lipooligosakarida bakteri akan mengaktifasi jalur alternatif komplemen hospes. Neutrofil segera datang ke tempat tersebut dan mencerna bakteri. Setelah itu infiltrasi sejumlah leukosit dan respon neutrifil menyebabkan terbentuknya pus dan munculnya gejala subyektif. pada laki-laki umumnya bervariasi antara 2-5 hari. Gejala Klinis 1 Masa inkubasi sangat singkat. Oleh karena itu perlu pengetahuan susunan anatomi genitalia laki- . Patogenesis Gonore 1. Dengan alasan yang belum diketahui beberapa bakteri neiserria gonorrheae mampu bertahan hidup dalam fagositosis.

Berikut ini dicantumkan infeksi pertama dan komplikasi. Serta dapat terjadi penularan akibat kontak mukosa mata bayi intrapartum yang mengakibatkan konjungtivitis.I. Gejala klinis pada laki-laki a) Uretritis .laki dan perempuan.1.6. Infeksi pada perempuan Infeksi Pertama Komplikasi Uretritis Lokal :  Parauretritis  Bartholinitis Servisitis Asendens :  Salphingitis  P.D (Pelvic Inflammatory Diseases) / Penyakit Radang Pinggul (PRP) Komplikasi diseminata pada laki-laki dan perempuan dapat berupa :  Artritis  Miokarditis  Endokarditis  Perikarditis  Meningitis Infeksi yang timbul akibat hubungan seksual orogebital atau anogenital. baik pada laki- laki maupun pada perempuan Tabel 1. pada laki-laki dan perempuan dapat berupa orofaringitis dan proktitis. 1. Infeksi pada laki-laki Infeksi simtomatik Komplikasi Uretritis Lokal :  Tysonitis  Paraureteritis  Litriasis  Cowperitis Ascendens :  Prostatitis  Vesikulitis  Vas deferentitis/funkulitis  Epididimitis  Trigonitis Tabel 2.

e) Cowperitis . Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra. c) Parauretritis Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang panjang dan kebersihan yang kurang baik. Uretritis Gonore Yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akuta dan dapat meluas ke proksimal. dan disertai perasaan nyeri pada waktu ereksi. Bila salah satu saluran tersumbat. kemudisn disusul disuria. Pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal medial unilateral atau bilateral. edema dan ektropion. Asendens dan diseminata. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan. hanya pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal. Diagnosis dengan bantuan pemeriksaan utereskopi. Gambar 4. Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum hiperemin. keluar duh tubuh mukopurulen dari orificium uretra eksternum yang kadang-kadang disertai darah. Bila duktus tertutup akan timbul abses dan merupakan sumber infeksi. dapat terjadi abses folikular. d) Littritis Tidak ada gejala khusus. b) Tysonitis Kelenjar Tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Keluhan subyektif berupa rasa gatal dan panas di bagian distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum.

masuk ke uretra posterior atau rektum dan mengakibatkan proktitis. Pada pemeriksaan prostat teraba kenyal. Gejala subjektif meneyrupai gejala prostatitis akut berupa demam. spasme otot uretra hingga terjadi retensi urin. abese akan pecah. sedangkan infeksi yang mengenai kelenjar Cowper. Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimitis akut. Pada pemeriksaan colok dubur dapat diraba vesikula seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis. demam. malese. tetapi kadang-kadang menetap. serta obstipasi. h) Vas Deferinitis atau furunkulitis Gejala berupa rasa nyeri pada daerah abdomen bawah pada sisi yang sama dengan terjadinya infeksi. Bila protatitis berlanjut menjadi kronik. hematuria terminal. g) Vesikulitis Vesikulitis adalah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus ejakulatorius. Jika tidak diobati. f) Prostatitis Prostatitis akut ditandai dengan rasa tidak nyaman di daerah perineum dan suprapubis. Terasa tidak nyaman pada perineum bagian dalam dan bila duduk terlalu lama. memanjang di atas lokasi prostat. nyeri pada saat ereksi atau ejakulasi. dapat terjadi abses. atau rektum dan mnegakibatkan proktitis. polakisuria. gejalanya ringan dan intermitten. nyeri saat berkemih. dan umumnya disertai deferenitis. uretra. Ada kalanya sulit menentukan batas kelenjar prostat yang membesar. Jika tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum. berbentuk nodus. Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perineum disertai rasa penuh dan panas. Epididimitis dan tali . Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan oleh tatalaksana tidak tepat atau kelalaian pasien sendiri. dan disuria. nyer tekan. tenesmus ani. i) Epididimitis Epididimitis akut biasanya unilateral. hematuri. sulit buang air besar. nyeri pada saat defekasi. dan didapatkan fluktuasi bila terjadi abses. dan sedikit nyeri pada penekanan. Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal.

rektum dan dapat juga menjalar ke atas sampai pada daerah indung telur. kelenjar Bartholin. Pada umumnya perempuan datang mencari pengobatan bila sudah terjadi komplikasi. Bila mengenai kedua epididimis dapat menakibatkan sterilitas. 1. 3.spermatika membengkak dan teraba panas. 2. dan hematuria. sehingga dapat terjadi vaginitis gonore. j) Trigonitis Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. serta mengandung banyak gonokok mengalir ke luar dan menyerang uretra. duktus parauretra. kadang-kadang disertai darah. kadar glikogen menurun. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Pada perempuan dewasa. Basil Döderline akan memecahkan glikogen sehingga suasana menjadi asam dan suasana ini tidak menguntungkan untuk tumbuhnya kuman gonokok. juga testis. Duh tubuh mukopurulen. jadi dapat terjadi vaginitis gonore. sehingga suasana asam berkurang dan suasana ini menguntungkan untuk pertumbuhan kuman gonokok. dan tebal dengan banyak glikogen dan basil Döderlein. Masa Prapubertas Epitel vagina dalam keadaan belum berkembang (sangat tipis). Pada perempuan.2. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria. Sebagian besar kasus ditemukan pada saat pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana. a) Uretritis pada perempuan . gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan obyektif. Masa Menopause Selaput lendir vagina menjadi atrofi. yang disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin. sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Gejala klinis pada perempuan Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada perempuan berbeda dengan laki-laki. infeksi umumnya mengenai serviks uteri. Perlu diingat bahwa perempuan mengalami tiga masa perkembangan : 1.6. disuria terminal. dan basil Doderlein juga berkurang. Masa Reproduksi Lapisan selaput lendir vagina menjadi matang.

serviks tampak hiperemis dengan erosi dan sekret mukopurulen. Kelenjar Bartholini membengkak. terasa nyeri sekali bila berjalan dan pasien sukar duduk. Pada pemeriksaan. Gambar 5. Bartholinitis Labium minor pada sisi yang terkena membengkak. Uretritis Gonore pada perempuan Gejala utama ialah disuria. Bila kelainan tidak diobati dapat rekuren atau menjadi kista. b) Servisitis Dapat asimtomatik. Servisitis c. orifisium uretra eksterna tampak merah. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak. Pada pemeriksaan. bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses atau dapat pecah melalui mukosa atau kulit. Gambar 6. kadang-kadang poliuria. edematosa dan ditemukannya sekret mukopurulen. merah dan nyeri tekan. kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah. .

Gambar 7. keluarnya duh tubuh. Ada beberapa faktor predisposisi.3. Bartholinitis d. Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pungsi kavum Douglas dan dilanjutkan kultur mikroorganisme atau dengan laparoskopi. vagina. abortus septik. Infeksi PRP ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Masa puerperium (nifas) . appendisitis akut. Diagnosis banding dengan beberapa penyakit lain yang menimbulkan gejala hampir sama. sehingga dapat menimbulkan penyakit radang panggul ( PRP). Kira-kira 10% perempuan dengan servisitis gonore akan berakhir dengan PRP.6. misalnya : kehamilan diluar kandungan. 1. dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal. Salpingitis Peradangan dapat berisfat akut. endometriosis. Pada perempuan infeksi dapat terjadi akibat perluasan infeksi di vagina dan kadang-kadang akibat infeksi yang . yaitu : . Gejala subjektif berupa rasa nyeri pada daerah abdomen bawah. dan diverkulitits. Pemakaian IUD. perlu dipikirkan. Infeksi Gonore Non Genital a) Proktitis Proktitis pada laki-laki dan perempuan pada umumnya asimtomatik. disuria. ileitis regional. Dilatasi setelah kuretase . sub akut atau kronis. tindakan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba Faloppi smapai daerah salping dan ovarium.

1. konjungtiva bengkak dan merah dan keluarnya eksudat mukopurulen. d) Gonore diseminata Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore diseminata. terutama pada perempuan. dan pemeriksaan pembantu. Diagnosa Dignosis ditegakkan atas dasar anamnesis.8. terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukos hiperemis. Pada pemeriksaan daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen jumlah sedikit atau sedang. Gejala yang timbul dapat berupa : artritis (terutama monoartritis). c) Konjungtivitis Infeksi ini terjadi pada bayi baru lahir dari ibu yang menderita servisitis gonore. b) Orofaringitis Infeksi terjadi melalui kontak seksual orogenital. Konjungtivitis pada dewasa terjadi akibat penularan pada konjungtiva melalui tangan atau alat-alat.8. stomatitis atau laringitis. Apabila pada layanan kesehatan tidak didapatkan fasilitas untuk melakukan pemeriksaan dalam dan laboratorium. Penyakit ini banyak didapat pada penderita dengan gonore asimtomatik sebelumnya. seperti pada laki-laki yang melakukan hubungan sesama jenis. pemeriksaan klinis. Pemeriksaan Penunjang Berikut adalah uraian lima tahapan pemeriksaan penunjang : 1. dan tertutup duh genital mukopurulen. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih sering daripada ginggivitis. enoftalmitis hingga kebutaan. miokarditis. Keluhan yang ditimbulkan berupa fotofobi. perikarditis dan meningitis. dapat digunakan alur pendekatan sindrom (lihat bagan) baik untuk pasien laki-laki maupun perempuan.7. Bila tidak diobati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea. Sediaan langsung . endokarditis.ditimbulkan akibat hubungan seksual anogenital. Keluhan umumnya asimtomatik. 1.1. Keluhan pada perempuan biasanya lebih ringan daripada laki-laki. Bila ada keluhan sukar dibedakan dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan kuman lain. edema.

2. pada spesimen duh uretra laki-laki sensitivitas berkisar 90-95%. Spesimen dalam media transpor yang disimpan didalam lemari es dapat tahan selama 24 jam. 1. sedangkan dari spesimen endoserviks sensitivitasnya hanya berkisar antara 45-65%. Dua macam media yang dapat digunakan : 1. Media Stuart . intraseluler (akut) dan atau ekstraseluler (kronik).serviks. Pada bayi dapat dilakukan pengambilan sekret mata. maka pengambilan duh dilakukan pada faring dan rektum. Kultur Untuk identifikasi spesies perlu dilakukan pemeriksaan biakan (kultur). Media transport Media transpor digunakan jika letak pengambilan spesimen jauh dari laboratorium. muara kelenjar Bartholin. dengan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-99%. Gambar 8. Contoh media transport : a. untuk pasien dengan anamnesis beresiko melakukan kontak seksual anogenital dan orogenital. Bahan duh tubuh pada laki-laki diambil dari daerah fossa navikularis. Neisseria gonorrhoeae pada pewarnaan gram Sensitivitas pemeriksaan langsung ini bervariasi. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram ditemukan gonokok Gram-negatif. sedangkan pada perempuan diambil dari uretra.8.

Meningitidis. agar serum. Berisi agar coklat. dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan. Media pertumbuhan a. gonorrhoeae dan N. Selain kuman N. Media Transgrow Media ini selektif dan nutritif untuk N. kuman-kuman yang lain juga dapat tumbuh. Gonorrhoeae. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp. Gambar 9. sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan lagi. Media Stuart b. Media Transgrow 2. Gambar 10. . Mc Leod’s chocolate agar Merupakan media nonselektif.

Thayer Martin Agar adalah media selektif dan diperkaya untuk isolasi dan budidaya Neisseria sp dari flora campuran. Media Mc Leod’s chocolate b. Bio-X dan dextrose adalah agen nutrisi untuk memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme pemilih. Hemoglobin. Media Thayer Martin Media ini selektif untuk isolasi N. Media Thayer Martin Akan tampak koloni berwarna putih keabuan. Mengandung vankomisin untuk menekan kuman Gram-positif. Antibiotik menghambat pertumbuhan flora normal seperti jamur. Gambar 12. bakteri gram positif dan gram negatif. Campuran vankomisin dan . dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. mengkilap dan sembung. Gambar 11. Gonorrhoeae. kolestrimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri Gram- negatif. Pembiakan dengan media kultur ini sangat perlu terutama pada kasus-kasus yang bersifat asimtomatis.

. Laktat trimetoprim menahan kumpulan Proteus. - N. BBL 961192 ysng mengandung chromogenic cephalosporin. c. Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai merah lembayung. 1. Catarrhalis . akan menyebabkan perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta-lakmatase. . N. Reaksi Fermentasi N. Gonorrhoea Spesies Glukosa Maltosa Sukrosa Laktosa N. Modified Thayer Martin agar Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman Proteus spp. .8.3. Hasil reaksi fermentasi spesies N. maltosa. - N. Tes beta-laktamase Pemeriksaan beta-lakmatase dengan menggunakan cefinase TM dis. . b. Tes Oksidase Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. - N. sukrosa dan laktosa serta fenol merah sebagai indikator. Tes Fermentasi Tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi menggunakan media cystine trypticase yang mengandung glukosa. Meningitides + + . Hasil positif bila warna berubah menjadi kuning. Gonorrhoea + .8. Gonorrhoea hanya meragikan glukosa. Gonorrhoea tampak pada tabel dibawah : Tabel 3. + + + + Pharyngitidis 1. Tes identifikasi presumtif dan konfirmasi (definitif) a.4.lincomycin mencegah penghambatan Neisseria gonorrhoeae oleh konsentrasi tinggi dari vankomisin.

jamur Herpes simplex virus. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat. maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra anterior. Gambar 13.5. Hasil Pemeriksaan Tes Thomson Gelas I Gelas II Interpretasi Jernih Jernih Tidak ada infeksi Keruh Jernih Infeksi uretritis anterior Keruh Keruh Panuretritis Jernih Keruh Tidak mungkin 1. Tes Thomson (Percobaan dua gelas) Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. jika air seni kurang dari 80 ml. Diagnosis pasti uretritis gonore harus dengan ditemukannya kuman Neisseria gonorrhoaea sebagai penyebab. Tes beta- laktamase 1. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan :  Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi  Urin dibagi dalam dua gelas  Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II  Syarat mutlak adalah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100 ml. Ureaplasma urealyticum atau yang lain : Mycoplasma genitaslium. Diagnosis Banding a. Uretritis Non-Gonore Akut Dapat disebabkan oleh Clamydia trachomatis. Tabel 4.9.8. Trichomonas vaginalis. Secara klinis antara uretritis gonore dan uretritis non-gonore .

bila tidak memungkinkan anjurkan penggunaan kondom c. Pedoman tatalaksana pada infeksi gonore : Non-medikamentosa : a. Inkubasi pada uretritis gonore juga kebih pendek antara 2-5 hari setelah terpapar sedangkan pada uretritis non-gonore berkembang antara 1-5 minggu setelah terpapar dengan puncak antara 2-3 minggu. atau gatal pada uretra. Beberapa penulis menyebutkan bahwa pada uretritis gonore duh tubuh uretra lebih profuse dan biasanya purulen sedangkan pada uretritis non-gonore duh tubuh uretra lebih mukoid. komplikasi yang dapat terjadi. Anjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh sponan secara laboratoris. Penatalaksanaan Dalam hal tatalaksana duh tubuh uretra dan vagina perlu dipertimbangkan ketersediaan sarana pemeriksaan pada lokasi layanan kesehatan. Oleh karena itu pada praktisnya perlu dibedakan antara ada atau tidak adanya fasilitas pemeriksaan mikroskopis. dan langsung mengobatinya untuk kedua infeksi tersebut.10. Pengobatan yang benar meliputi pemilihan onat yang tepat serta dosis yang adekuat untuk menghindari resistensi kuman. pentingnya keteraturan obat e. melakukan tindak lanjut secara teratur sampai penyakitnya dinyatakan sembuh. Bila memungkinkan periksaan dan lakukan pengobatan pada pasangan tetap pasien (notifikasi pasangan) b.sangat sulit dibedakan karena sama-sama memberikan gejala duh tubuh uretra. Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan penapisan untuk IMS lainnya. disuria. Kunjungan ulang untuk tindak lanjut di hari ke-3 dan hari ke-7 d. Untuk daerah tanpa fasilitas pemeriksaan dan laboratorium lengkap. Sebelum penyakitnya benar-benar sembuh dianjurkan untuk . 1. pendekatannnya dapat lebih sempurna. Lakukan konseling untuk mengenal infeksi. Untuk lokasi layanan kesehatan yang mempunyai fasilitas pemeriksaan dan laboratorium lengkap. Lakuka Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) terhadap infeksi HIV dan kemungkinan mendapatkan infeksi menular seksual lain f. kadang-kadang terdapat hematuria. Yang paling ideal adalah melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui mikroorganisme penyebab. tatalaksana dapat dilakukan dengan sindrom approach (pendekatan sindrom) berupa penilaian faktor resiko.

Angka kesembuhan ialah 97. Efektifitas dan sensitifitas sampai saat ini paling baik. di Indonesia c) Tiamfenikol Dosisnya 3. Prognosis Sebagian besar infeksi gonore memberikan respon yang cepat terhadap pengobatan dengan antibiotik. Pasangan seksual harus diperiksa dan diobati agar tidak terjadi “fenomena pingpong”. Macam-macam obat yang dapat dipilih antara lain : a) Sefiksim Merupakan sefalosporin generasi ke-3 dipakai sebagai dosis tunggal 400mg. dosis tunggal secara oral. Dahulu. A Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Pengangguran Alamat : Bukittinggi Suku : Minang .5 gram. per oral.11. BAB II LAPORAN KASUS 2. Obat pilihan utama adalah sefiksim dosis tunggal. dilaporkan sudah resisten pada beberapa daerah tertentu. 1. yaitu sebesar 95%. dosis tunggal.P). peroral dosis tunggal.1 Identitas Pasien Nama : Tn. dan Ofloksasin 400mg. b) Levloksasin Dari golongan kuinolon. Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap.G.7%. harga dan ketersediaan obat dan sedikit efek toksiknya. pilihan utama ialah penisilin + probenesid. Saat ini secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat per oral dengan dosis tunggal. Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas. kecuali di daerah yang insidens Neisseria gonorrhoeae Penghasil Penisilinase (N.tidak melakukan hubungan seksual.P. Sedangkan Ciprofloksasin 500mg. Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan. obat yang menjadi pilihan adalah Levofloksasin 500mg.

Agama : Islam Status : Belum Menikah Negeri asal : Bukittinggi 2. Riwayat Penyakit Sekarang :  Keluar nanah dari kemaluan sejak 5 hari yang lalu  Nyeri. tetapi tidak pernah di obati.2 Anamnesis Seorang pasien laki-laki berusia 21 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi pada tanggal 13 November 2015 dengan : Keluhan utama : Keluar nanah dari kemaluan sejak 5 hari yang lalu. tidak ada keluar darah  Riwayat berhubungan seksual dengan wanita sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat Pengobatan :  Pasien belum pernah mengobati penyakit ini sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga :  Keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.3 Pemeriksaan Fisik Status Generalisata Keadaan umum : Tampak sakit ringan Kesadaran : Composmentis cooperatif .  belum pernah diobati Riwayat Penyakit Dahulu :  6 bulan yang lalu pasien pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. dan berhubungan seksual dengan wanita berbeda dan tidak memakai kondom. sakit dan terasa panas ketika buang air kecil. 2.  Tidak ada riwayat trauma pada penis.tidak pakai kondom  Sudah pernah sakit seperti ini 6 bulan yang lalu.

Pemeriksaan Thorax : Diharapkan dalam batas normal Pemeriksaan Abdomen : Diharapkan dalam batas normal Status Dermatologikus Tidak ditemukan adanya kelainan Status Venereologikus Orificium urethra extenum :  Eritema : ada  Edema : ada  Duh tubuh : ada (mukopurulen) Muara kelenjar para urethra : tidak ada kelainan Muara kelenjar Tyson : tidak ada kelainan Kelainan pada genitalis :  Penis : tidak ada kelainan  Scrotum : tidak ada kelainan  Testis : tidak ada kelainan  Epididimis : tidak ada kelainan  Prostat : tidak ada kelainan Kelainan bentuk vegetasi : tidak ada Pembesaran KGB : tidak ada Nyeri tekan didaerah abdomen bawah : tidak ada Kelainan diderah perineum : tidak ada .

5 Diagnosis Gonore 2.7 Terapi Umum :  Menghindari berhubungan seksual sebelum pasien sembuh. Kelainan didaerah perianal : tidak ada Kelainan didaerah anal : tidak ada Kelainan bawaan : tidak ada Kelainan Mukosa : Tidak terdapat kelainan Kelainan Kuku : Tidak terdapat kelainan Kelainan Rambut : Tidak terdapat kelainan Kelainan Kelenjar Limfe : Tidak terdapat kelainan 2.  Memberikan edukasi mengenai cara penularan. bahaya dan komplikasi dari penyakit menular seksual yang dialaminya dan pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan  Pengobatan pada mitra seksual pasien  Pasien harus menjaga kebersihan didaerah kelamin Khusus : .6 Diagnosis Banding - 2.4 Pemeriksaan Anjuran Sediaan langsung pewarnaan gram : ditemukan Neisseria gonorhoaea 2.

 Sistemik : Cefixime 400mg. H SIP : 26/10/2015 Telp. (0752) 53631 Bukittinggi. dosis tunggal  Topikal : - 2. 13 November 2015 R/ Cefixime tab 100 mg No IV S1dd tab IV . Achmad Mochtar Poliklinik Kulit dan Kelamin dr.8 Prognosis Quo ad vitam : Bonam Quo ad sanam : Bonam Quo ad kosmetikum : Bonam Quo ad functionam : Bonam RESEP RSUD DR.

2015 Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit edisi 3. 4. R.id/bitstream/123456789/26065/4/Chapter%20II. Menaldi.ac. Frida. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pro : Tn.A Umur : 21 tahun Alamat : Bukittinggi DAFTAR PUSTAKA 1. Diunduh pada tanggal 23 September 2015 3. Adelina. 2015.S. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Siregar. http://scribd. http://repository. 2014.pdf . Sri Linuwih SW. 2.com. Gonore. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketujuh.usu.