You are on page 1of 16

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi

Pitiriasis versicolor adalah infeksi jamur superfisial pada kulit yang
disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare dan ditandai dengan
adanya makula di kulit, skuama halus dan disertai rasa gatal.Infeksi ini bersifat
menahun, ringan dan biasanya tanpa peradangan.Pityriasis versicolor biasanya
mengenai wajah, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha, dan lipatan paha. (Madani A,
2000)

Penyakit ini terutama terdapat pada orang dewasa muda, dan disebabkan oleh
ragi Malassezia, yang merupakan komensal kulit normal pada folikel pilosebaseus.Ini
merupakan kelainan yang biasa didapatkan di daerah beriklim sedang, bahkan lebih
sering lagi terdapat di daerah beriklim tropis.Alasan mengapa multipikasi ragi
tersebut sampai terjadi dan dapat menimbulkan lesi kulit pada orang-orang tertentu
belum diketahui. (Graham-Brown, 2005)

1.2 Etiologi

Flora normal pada kulit ada beberapa termasuk jamur lopopilik. Bisa berupa
jamur polimorpik single spesies seperti Pityrosporum ovale atau Pityrosporum
oblicular, namun sekarang diakui bahwa nama genus tersebut tidak valid, dan jamur
ini sudah di klasifikasikan ulang dalam genus malassezia sebagai spesies tunggal,
Malassezia furfur. Namun, analisa genetik mendemonstrasikan bahwa sekarang jauh
lebih komplek.Saat ini setidaknya sudah 12 spesies terpisah dari jamur lofilik yang
dapat dijelaskan, dan hanya 8 yang dapat menginfeksi kulit manusia.Spesies yang
tergantug pada lemak adalah M. sympodialis, M. globosa, M. restricta, M. slooffiae,
M. fufur, M. obtusa, dan yang terbaru ditemukan M. dermatis, M. japonica, M.
yamotoensis, M. nana, M. carpae, dan M. equina.Ada satu lipofilik yang tidak
sepenuhnya bergantung pada lemak yaitu M. pachydermatis ini sering ditemukan

Tetapi pada tahun 1977 tiga kelompok peneliti sukses menunjukkan jamur dan bentuk mycelial dengan beberapa media.Yang sebelumnya kita kenal sebagai M. globosa adalah spesies yang paling sering ditemukan pada pitiriasis versikolor. fufur sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. furfur dan M.pada kulit hewan. karena teknik sampling yang berbeda-beda maka sangat sedikit sekali yang bisa dibandingkan. globosa dan mycelium bersepta dan tersusun atas filamenfilamen tipis. bentuk bulat dan tunas dari dasarnya berbentuk sempit sesuai gambaran M. Dari pemeriksaan mikroskopis sisik jamur pitiriasis versikolor hampir selalu berdinding tebal. Beberapa penelitian pada kulit normal dan kulit yang terdapat lesi khususnya kulit yang dicurigai malassezia beberapa percobaan ada yang menggunakan mikroskopis dan kultur. . hal ini belum diketahui karena genetik atau disebabkan faktor resiko paparan yang semakin besar dari M. Pitiriasis versikolor dalam beberapa kasus terjadi karena tidak seimbangnya atara host dan flora jamur tersebut. furfur. furfur atau M. tetapi para peneliti lain menemukan bahwa M. Beberapa keluarga dengan riwayat positif terkena pitiriasis versikolor lebih sering terkena penyakit tersebut. Di daerah tropis mycelium muncul bersama jamur berbentuk oval yang bertunas dari dasarnya secara morfologi mirip dengan M. Kasus terkait M. furfur terjadi karena flora yang ada di host tapi juga dapat dikarenakan transmisi dari orang lain. Ada beberapa faktor yang berkontribusi menganggu keseimbangan tersebut. Diketahui beberapa spesies malassezia berubah menjadi mycelial dan memeliki tingkat yang lebih besar. sympodialis dalah spesies predominan dan M. Pada awalanya sangat tidak mungkin untuk menggambarkan fase mycelial dari spesies malassezia di dalam makhluk hidup. Beberapa peneliti menemukan bahwa M. sympodialis sering ditemukan pada kulit normal. obtusa.

Pitiriasis versikolor diklaim sebagai penyakit yang serius. Faktor predesposisi yang mempengaruhi perkembangan pitiriasis versikolor bervariasi. Jenis kelamin adalah faktor yang tidak berpengaruh tetapi terdapat perbedaan pada usia yang berbeda. sedangankan faktor eksogen yang terpenting adalah suhu dan kelembapan kulit. furfur sendiri biasanya ditemukan di kulit kepala. malnutrisi. furfur. Di zona dengan temperatur hangat sangat jarang pada anak-anak. faktor immunologi dan pemakaian obat-obatan. sangat rentan terjadi pada orang yang malnutrisi. malassezia akan berkembang dari bentuk jamur sporofit menjadi bentuk miselial dan bersifat patogen. tungkai atas. yang perlu diperhatikan adalah faktor lingkungan dan faktor host tersebut. Keadaan yang mempengaruhi keseimbangan antara hospes dan jamur tersebut adalah faktor endogen dan eksogen. tetapi paling sering pada remaja dan dewasa muda. area yang kaya akan kelenjar sebasea dan sekresinya dalam kondisi tertentu. Kehamilan dan kontrasepsi oral juga salah satu faktor dari timbulnya Pitiriasis versikolor. genetik. Produksi Keringat Orang dengan hiperhidrosis mempunyai kecenderugan untuk terjadi pertumbuhan jamur ini. Isidensi terjadi pada saat kelenjar sebasea paling aktif yaitu masa pubertas dan dewasa awal. Faktor endogen antara lain produksi kelenjar sebasea dan keringat.Organisme yang biasanya ditemukan adalah M. Koloni dari M. Produksi sebum berbeda pada tiap usianya. Produksi sebum Peningkatan sekresi sebum oleh kelenjar sebasea akan mempengaruhi pertumbuhan berlebihan dari organisme bersifat lipofilik ini. furfur. dan daerah lipatan. Startum korneum akan melunak pada keadaan yang basah dan lembab sehingga mudah dimasuki M. Pada lingkungan beriklim hangat ditemukan hifa yang berhubugan dengan jamur malassezia pada kulit normal. .

Malnutrisi Kekurangan beberapa zat gizi akan memudahkan pertumbuhan jamur oportunis. transplantasi ginjal dan HIV/AIDS serta dapat terjadi pada penderita penyakit cushing.3 Epidemiologi Pitiriasis versicolor adalah penyakit universal tapi lebih banyak dijumpai di daerah tropis karena tingginya temperatur dan kelembaban. namun diperkirakan 40-50% dari populasi di negara tropis . furfur pada tempat tersebut. Beberapa obat-obatan sistemik seperti antibiotika. terbanyak pada usia 16-40 tahun. Suhu dan kelembapan Daerah tropis dengan suhu panas dan kelembapan yang tinggi akan meningkatkan produksi kelenjar sebum dan keringat sehingga pertumbuhan M. furfur meningkat. Insiden yang akurat di Indonesia belum ada. 1. walaupun di Amerika Serikat dilaporkan bahwa penderita pada usia 20-30 tahun dengan perbandingan 1.09% pria dan 0. steroid kontrasepsi oral dan obat-obatan immunosupresan merupakan faktor yang mempermudah pertumbuhan berlebih dari jamur peyebab. Faktor immunologi Insiden infeksi jamur meningkat pada sejumlah penderita dengan penekanan sistem imun misalnya pada penderita kanker.Genetik Predesposisi genetik terjadi pada keluarga yang rentan terhadap infeksi jamur.6% wanita. Bahan topikal dan sistemik Pemakaian bahan topikal yang mengandung minyak dapat menyebabkan oklusi terhadap saluran kelenjar sebum sehingga memudahkan pertumbuhan M. Menyerang hampir semua umur terutama remaja. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita.

(Partogi. 2001). 2001) 1. Sedangkan faktor individual antara lain adanya kecenderungan genetik. (Budimulja. (Radiono. (Partogi.5-1% dari semua penyakit jamur. (Amelia. Penyakit ini dapat terjadi pada pria dan wanita.terkena penyakit ini. kelembaban udara dan keringat. sedangkan di negara subtropis yaitu Eropa tengah dan utara hanya 0. dimana pria lebih sering terserang dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 2. 2008) Pityriasis versicolor dapat terjadi di seluruh dunia. Di Mexico 50% penduduknya menderita penyakit ini. 2008) 1. walaupun dilaporkan pula adanya penularan dari individu lain. Dalam kondisi tertentu Malassezia furfur akan berkembang ke bentuk miselial.4 Cara Penularan Sebagian besar kasus Pitiriasis versicolor terjadi karena aktivasi Malassezia furfur pada tubuh penderita sendiri (autothocus flora). Faktor lingkungan diantaranya adalah lingkungan mikro pada kulit.5 Patogenesis Pitiriasis versicolor timbul bila Malassezia furfur berubah bentuk menjadi bentuk miselia karena adanya faktor predisposisi. Kondisi patogen terjadi bila terdapat perubahan keseimbangan hubungan antara hospes dengan ragi sebagai flora normal kulit. Faktor eksogen meliputi suhu. tetapi penyakit ini lebih sering menyerang daerah yang beriklim tropis dan sub tropis. baik eksogen maupun endogen. Hal ini merupakan penyebab sehingga Pityriasis versicolor banyak di jumpai di daerah. Faktor eksogen lain adalah penutupan kulit oleh pakaian atau kosmetik . dan bersifat lebih patogenik. atau adanya penyakit yang mendasari misalnya sindrom Cushing atau malnutrisi. misalnya kelembaban kulit. Keadaan yang mempengaruhi keseimbangan antara hospes dengan ragi tersebut diduga adalah faktor lingkungan atau faktor individual. 2011) 1.

(Partogi. dermatitis seboroik. (Partogi. adanya toksin yang langsung menghambat pembentukan melanin. 2008) . sindrom cushing. 2008) Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh terhambatnya sinar matahari yang masuk ke dalam lapisan kulit akan mengganggu proses pembentukan melanin. Disamping itu bias juga karena Diabetes Melitus. 2008) 2. hiperhidrosis. pemakaian steroid jangka panjang. dan adanya asam azeleat yang dihasilkan oleh Pityrosporum dari asam lemak dalam serum yang merupakan inhibitor kompetitf dari tirosinase. terapi imunosupresan. kehamilan. Sedangkan faktor endogen meliputi malnutrisi. dan riwayat keluarga yang positif.dimana akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi CO2. dan penyakit – penyakit berat lainnya yang dapat mempermudah timbulnya Pityriasis versicolor. (Partogi. mikroflora dan pH.

(Madani A. g. 2002) Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan. d. bentuk tidak teratur sampai teratur. Psoriasis vulgaris e. batas jelas sampai difus. akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksis jamur terhadap pembentukan pigmen. Pityriasis Alba i. f. Sifilis stadium II. (Budimulja. Dermatitis seboroik. 2000). (Radiono. Hipopigmentasi pascainflamasi.Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni.6 Diagnosa Banding Diagnosa banding Pityriasis versicolor adalah : a. 2001). . Eritrasma h. Vitiligo. 1.Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. yang merupakan alasan berobat.1.Pseudoakromia. sering dikeluhkan penderita. b. Penderita pada umumnya hanya mengeluhkan adanya bercak/makula berwarna putih (hipopigmentasi) atau kecoklatan (hiperpigmentasi) dengan rasa gatal ringan yang umumnya muncul saat berkeringat. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut.Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. Pityriasis rosea.7 Gambaran Klinis Kelainan kulit Pitiriasis versicolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Morbus Hansen tipe Tuberkoloid. c.

Hilangnya pigmen diduga ada hubungannya dengan produksi asam azelaik oleh ragi.Inilah sebabnya mengapa lesi berwarna cokelat pada kulit yang pucat tidak diketahui. Gambaran ragi dan miselium tersebut sering dilukiskan sebagai “meat ball and spaghetti”.8 Diagnosis Selain mengenal kelainan-kelainan yang khas yang disebabkan oleh Malassezia fulfur diagnosa Pityriasis versicolor harus dibantu dengan pemeriksaan- pemeriksaan sebagai berikut: 1. hanya berupa gangguan kosmetik.Variasi warna yang tergantung pada warna kulit aslinya merupakan sebab mengapa penyakit tersebut dinamakan ‘Versicolor’. lesi berupa makula cokelat muda dengan skuama halus di permukaan. penampakan yang khas berupa bercak-bercak hipopigmentasi.Bahan-bahan kerokan kulit diambil dengan cara mengerok bagian kulit yang mengalami lesi.Sering didapatkan lesi bentuk folikular atau lebih besar.Sebagian dari bahan tersebut diperiksa langsung dengan KOH% yang diberi tinta Parker Biru Hitam. folikular dengan plakat ataupun folikular. terutama terdapat di badan dan lengan atas. 2001). Dipanaskan sebentar. (Madani A. (Graham-Brown. 2005) 1. 2000) Pada kulit yang terang. yang akanlebih mudah dilihat dengan penambahan zat warna tinta Parker blue-black atau biru laktafenol. lalu dikerok dengan skalpel steril dan jatuhannya ditampung dalam lempenglempeng steril pula. yaitu folikular dengan numular. sering terputus-putus (pendek-pendek). Bentuk lesi tidak teratur dapat berbatas tegas atau difus. atau numular dan plakat.Kadang-kadang dijumpai bentuk campuran. yang menghambat tironase dan dengan demikian mengganggu produksi melanin. atau bentuk numular yang meluas membentuk plakat. Sebelumnya kulit dibersihkan dengan kapas alkohol 70%. Pemeriksaan ini memperlihatkan kelompokan sel ragi bulat berdinding tebal dengan miselium kasar.Kelainan ini biasanya bersifat asimtomatik.Pada kulit gelap. ditutup dengan gelas penutup . Pemeriksaan langsung dengan KOH 10%. (Radiono.

Pemeriksaan dengan Sinar Wood Pemeriksaan dengan Sinar Wood. (Trelia.Tingginya angka kekambuhan merupakan masalah. Obat yang dapat digunakan ialah :2. profilaksis untuk mencegah rekurensi: 1.dapat memberikan perubahan warna pada seluruh daerah lesi sehingga batas lesi lebih mudah dilihat.jarak tertentu dipisahkan oleh sekat-sekat atau seperti butir-butir yang bersambung seperti kalung. tekun dan konsisten. Daerah yang terkena infeksi akan memperlihatkan fluoresensi warna kuning keemasan sampai orange.5% dalam bentuk shampoo 2-3 kali seminggu. Pada Pityriasis versicolor hifa tampak pendekpendek. Oleh sebab itu diperlukan terapi. maka kelihatan garis yang memiliki indeks bias lain dari sekitarnya dan jarak . dimana mencapai 60% pada tahun pertama dan 80% setelah tahun kedua. 2003) 2. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi . bercabang.dan diperiksa di bawah mikroskop. 2003) 1. Bila penyebabnya memang jamur. terpotong-potong. Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh. (Trelia. Pengobatan Topikal 2.9 Penatalaksanaan Pengobatan Pitiriasis versicolor dapat diterapi secara topikal maupun sistemik. lurus atau bengkok dengan spora yang berkelompok.

2009) Pitiriasis versicolor cenderung untuk kambuh. Pengobatan Sistemik Pengobatan sistemik diberikan pada kasus Pityriasis versicolor yang luas atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil. isokonazol dan ekonazol dalam bentuk topikal d.00-15. (Partogi. Obat yang dapat diberikan adalah : a. Salisil spiritus 10% c. Larutan Natrium Tiosulfas 25%. salep pagi/malam b. Krim kortikosteroid menengah pagi dan malam c.b. 2000) 4. dioleskan 2 kali sehari sehabis mandi selama 2 minggu. Itraconazole Dosis: 100 mg per hari selama 2 minggu. (Graham-Brown. Jemur di matahari ±10 menit antara jam 10. 2008) 3. Fluconazole Dosis: dosis tunggal 150-300 mg setiap minggu c. misalnya : mikozanol. klotrimazol. Terapi hipopigmentasi (Leukoderma) a. 2005) . Turunan azol.Daerah hipopigmentasi perlu Waktu yang lama untuk repigmentasi. (Madani A. Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20% e. sehingga pengobatan harus diulangi. Ketoconazole Dosis: 200 mg per hari selama 10 hari b. Liquor carbonas detergent 5%.00 (Murtiastutik. dan kedaan yang bertahan lama ini janganlah dianggap sebagai suatu kegagalan pengobatan.

(Radiono. perlu diberikan pengobatan pencegahan.1. Pajanan terhadap sinar matahari dan kalau perlu obat fototoksik dapat dipakai dengan hati-hati. tekun dan konsisten.(Madani A. Pada daerah endemik dapat disarankan pemakaian ketokonazol 200 mg/hari selama 3 bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan atau pemakaian sampo selenium sulfid sekali seminggu. misalnya oleum bergamot atau metoksalen untuk memulihkan warna kulit tersebut. 2008) . misalnya sekali dalam seminggu. 2000) 1. Warna kulit akan pulih kembali bila tidak terjadi reinfeksi. (Partogi. 2001) Untuk mencegah timbulnya kekambuhan. sebulan dan seterusnya. Pengobatan harus di teruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif.11 Prognosis Prognosisnya baik dalam hal kesembuhan (Radiono.10 Pencegahan Untuk mencegah terjadinya Pitiriasis versicolor dapat disarankan pemakaian 50% propilen glikol dalam air untuk pencegahan kekambuhan. 2001) bila pengobataan dilakukan menyeluruh.

2 ANAMNESIS . IDENTITAS Nama : Tn .1. BAB II LAPORAN KASUS 2.Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini . PEMERIKSAAN FISIK Status Generalisata: Keadaan umum : Tampak sakit ringan .Keluhan Utama: Timbul bercak putih tidak gatal dipunggung dan tengkuk sejak 1 bulan yang lalu.A Umur : 60 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Suku : Minang Alamat : Agam Pekerjaan : Tani 2. .3.Riwayat Pengobatan: Pasien pernah diobati di Puskesmas diberi salap hidrokortison tapi tidak sembuh 2.Riwayat Penyakit Sekarang:  Pasien mengeluhkan timbulnya bercak putih dibahu menyebar ke tengkuk dan punggung sejak 1 bulan yang lalu  Tidak gatal dan tidak nyeri  Pasien bekerja setiap hari disawah dari jam 08.00 WIB  Banyak keringat  Baju kerja diganti sekali 2 hari .00-15.Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien tidak pernah punya penyakit yang sama .

Kesadaran : Compos mentis kooperatif Status gizi : Baik Pemeriksaan thorax : Diharapkan dalam batas normal Pemeriksaan abdomen : Diharapkan dalam batas normal Status Dermatologikus: Lokasi : Tengkuk dan bahu Distribusi : Regional Bentuk : Bulat.tidak khas Susunan : Khas Batas : Tegas Ukuran : Lentikuler-numularis Efloresensi : Makula hipopigmentasi dengan skuama halus diatasnya .

Status Venerologikus : Tidak ditemukan kelainan Kelainan Selaput : Tidak ditemukan kelainan Kelainan Rambut : Tidak ditemukan kelainan Kelainan Kelenjar Limfe : Tidak terdapat pembesaran KGB PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan .

Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi .5% dalam bentuk lotion 2-3 kali seminggu. Topikal : -Mikonazole krim 2% dipakai 2-4 kali sehari selama 2 minggu -Selenium sulfida 2. Pengobatan teratur Khusus: . Sistemik : Ketokonazole tablet 200 mg 1 kali sehari selama 10 hari PROGNOSIS: Quo ad sanationam : Dubia ad bonam Quo ad vitam : Bonam Quo ad kosmetikum : Bonam Quo ad functionam : Bonam Resep: RSUD DR. Hindari suasana lembab dan keringat berlebihan: Segera mengganti pakaian apabila berkeringat banyak .DIAGNOSA KERJA Pitiriasis versikolor ANJURAN PEMERIKSAAN . Usahakan badan tetap kering . Achmad Mochtar Poliklinik Kulit dan Kelamin Dr. Mikologi: kerokan kulit pada bercak putih + KOH 20% PENATALAKSANAAN Umum: . A SIP: 30/11/2015 . Lampu wood . Setelah aktivitas usahakan mandi apabila berkeringat banyak . Gunakan pakaian longgar dan menyerap keringat .

30 November 2015 R/ selenium sulfide 2. A Umur: 60 tahun Alamat: Agam . Telp: (0752) 53631 Bukittinggi.5% lotion No I Sue R/ ketokonazol tab 200 mg No XX S1dd tab II R/ Mikonazole krim 2% No I Sue Pro: Tn.