You are on page 1of 12

OBAT SISTEM SARAF PUSAT II

DHIYA LUTHFIYYAH1, SUKMAWATI2

1
Mahasiswa Fakultas Farmasi, UMI

2
Asisten Laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi, UMI

dhiyalthfyh@gmail.com

BAB 1

PENDAHULUAN

ABSTRAK

Latar Belakang : Sistem saraf pusat adalah sistem saraf yang berfungsi sebagai
pengendalian sistem saraf lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh kemuan kita.
Sistem saraf pusat biasaya dikenal dengan sistem saraf sentral yang terbagi dua yaitu
otak dan sumsum tulang belakang.
Suatu obat hanya akan memberikan efek jika telah berikatan dengan reseptor khusus
(spesifik) yang memodulasi transmisi sinaps. Rangsangan-ransangan saraf
berhubungan dengan rasa sakit (nyeri), dan kapasitas mental. Dimana pusat pengatur
suhu tubuh terletak pada hipotalamus, seangkan pusat rasa sakit terletak pada
cerebrum. Susunan saraf pusat terbagi menjadi 7 bagian dan 3 diantaranaya akan
dibahas pada laporan ini yaitu analgesic, antipiterik, dan antiinflamasi.
Dilakukannya percobaan system saraf pusat 2 ini sebagai lnjutan dari system saraf
pertama yang tujuannya untuk melihat efektivitas dari obat antiinflmasi, antipiretik
dan analgetik.
Metode : Praktikum ini menggunakan 4 ekor mencit dan 1 ekor tikus yang
dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1 menggunakan tikus untuk mellihat
efektivitas dari obat antipiretik, kelompok 2 menggunakan mencit sebagai
hewan coba untuk melihat efektivitas dari obat antiinflamasi, begitupun untuk

Hasil : Hasil praktikum menunjukka bahwa terjadi penurunan pada efektivitas dari obat piroxicam pada percobaan antiinflamasi. Latar Belakang Sistem saraf pusat adalah sistem saraf yang berfungsi sebagai pengendalian sistem saraf lainnya yang tidak dapat dikendalikan oleh kemuan kita. Kelompok 4 dan 5 masing- masing menggunakan mecit untuk menguji efektivitas dari obat antianalgetik.kelompok 3. tetapi dengan obat yang berbeda. Sistem .1. Kesimpulan : Obat yang digunakan pada percobaan aantiinflamasi memberikan hasil yang efektiv. BAB 1 PENDAHULUAN 1.

Untuk menentukan dan mengetahui efektivitas dari obat analgetik yaitu dexametasone dan femisic dengan melihat frekuensi geliat hewan coba mencit (Mus musculus). Rangsangan-ransangan saraf berhubungan dengan rasa sakit (nyeri). antipiretik dan analgetik.2. Untuk antipiretik yaitu ibuprofen untuk melihat suhu rektalhewan coba dengan diinduksi pepton 1%. Dimana pusat pengatur suhu tubuh terletak pada hipotalamus. antipiretik dan antiinflamasi dari hewan coba mencit dan tikus. seangkan pusat rasa sakit terletak pada cerebrum. Susunan saraf pusat terbagi menjadi 7 bagian dan 3 diantaranaya akan dibahas pada laporan ini yaitu analgesic.Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk menentukan efek farmakodinamik obat-obat yang termasuk golongan analgetik. Suatu obat hanya akan memberikan efek jika telah berikatan dengan reseptor khusus (spesifik) yang memodulasi transmisi sinaps. saraf pusat biasaya dikenal dengan sistem saraf sentral yang terbagi dua yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Untuk melihat efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu piroxicam dan mefinal dengan melihat volume kaki hewan coba setelah diinduksi dengan karagen 1% 3. dan antiinflamasi. Tujuan dari percobaaan ini yaitu : 1.. . dan kapasitas mental. 1. 2. antipiterik. Dilakukannya percobaan system saraf pusat 2 ini sebagai lnjutan dari system saraf pertama yang tujuannya untuk melihat efektivitas dari obat antiinflmasi.

. BAB 2 METODE KERJA 2.1. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu benang godam. kanula. dan spoit. thermometer.

ibuprofen.1. dan 60. 2. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu dexametasone.3. piroxicam.30. 2. kemudian diinduksi dengan pepton 1 %.1.2.1 ml. femisic. 2. Kemudian hewan coba diberi obat ibuprofen dengan dosis obat 1.2. Antiinflamasi Disiapkan hewan coba (mencit) dengan berat badan untuk hewan coba pertama 25 mg (kelompok 2) dan untuk hewan coba kedua dengan berat . Prosedur kerja 2. Kemudian hewan coba pertama diinduksi dengan dexametasone dengan volume pemberian 1 ml dan untuk hewan coba kedua diinduksi dengan femisic dengan volume pemberian 0. Antipiretik Disiapkan hewan coba tikus dengan berat badan 175 g. diukur suhu rektalnya. Analgetik Disiapkan hewan coba (mencit) dengan berat badan untuk hewan coba pertama 30 g (kelompok 4) dan untuk hewan coba kedua dengan berat badan 25 g (kelompok 5).3. kemudian diletakkan lagi pada plat panas dan diukur frekuensi pengangkatan kaki pada menit 15.3. Dan diukur kembali suhu rektalnya setelah 15 menit pemberian. 2. Hewan coba diletakkan pada plat panas dan dihitung durasi pengangkatan kakinya. pepton 1% dan mefinal. karagen 1%. Hewan Coba Adapun hewan coba yang digunakan dalam praktikum ini adalah mencit dan tikus.75 ml.3. setelah itu diukur lagi suhu rectal pada menit ke 30 dan 60.

1 ml. diukur lagi voleme kakinya setalah itu.83 ml dan untuk hewan coba kedua diinduksi dengan mefinal dengan volume pemberian 0. Analgetik Obat BB Vp Jumlah geliat pada ke- .30. BAB 3 DATA PENGAMATAN 1. Kemudian kedua hewan coba diinduksi dengan karagen 1 % sebanyak 0. diinduksi dengan obat piroxicam untuk hewan coba pertama dengan volume pemberian 0. kemudian diukur volem kaki hewan coba pada menit 15.73 ml. dan 60. Hewan coba diukur volume kaki awal . badan 22 mg (kelompok 3).

1.83 ml 1.5 cm m Mefinal 22 g 0.75 ml 34.20C 33. 15 30 60 mexametason 30 g 1 ml 27 7 6 e femisic 25 g 0.6 0C 33.5 cm 2.9 0C profen 3.4 cm 1.kaki V.1 ml 42 40 26 2.73 ml 1.7 cm 2 cm 1.20C 35.kaki Suhu perlakuan obat awal bengkak 15 30 60 Piroxica 25 g 1. Antinflamasi Obat BB Dosis V.4 cm 1. Pembahasan .8 cm 1.2 cm 1. Antipiretik Obat BB Dosis Suhu Suhu Suhu perlakuan obat awal demam 15 30 60 Ibu 175 g 1.9 cm 1.5 cm BAB 4 PEMBAHASAN 4.

Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum) (Tjay. Demam ditandai dengan kenaikan suhu tubuh di atas suhu tubuh normal yaitu 36-37 C. 2009). I. Inflamasi bisa dianggap sebagai rangkaian kejadian komplek yang terjadi karena tubuh mengalami injury. bau. atau zat-zat mikrobiologik. gangguan pada pusat pengaturan suhu tubuh ini lah yang kemudian kita kenal dengan istilah demam (Amila. 2015). kondisi organ internal dan lain-lain (Carole. tekanan pada kulit. Pengaturan suhu tubuh terdapat pada bagian otak yang disebut hypothalamus. Sistem saraf pusat atau sentral nerveous system (CNS) berfungsi untuk menerima. memproses. dari sudut pandang yang lebih berimbang sebenarnya inflamasi adalah penting sebagai sebuah respon protektif dimana tubuh berupaya untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum terjadi injury (preinjury) atau untuk memperbaiki secara mandiri setelah terkena injury. Respon inflammatory adalah reaksi protektif dan restoratif dari tubuh yang sangat penting karena tubuh berupaya untuk mempertahankan homeostasis dibawah pengaruh lingkungan yang merugikan (Lutfianto. Walaupun ada kecenderungan pada pengobatan klinis untuk memperhatikan respon inflammatory dalam hal reaksi yang dapat membahayakan tubuh. 2007). dan setelah itu terjadi kemerahan pada permukaan kulit. Demam merupakan gangguan kesehatan yang hampir pernah dirasakan oleh setiap orang. zat kimia yang merusak. Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik. Adapun maksud dan tujuan dari percobaaan ini yaitu untuk menentukan dan mengetahui efektivitas dari obat analgetik yaitu dexametasone dan femisic . yang diawali dengan kondisi menggigil (kedinginan) pada saat peningkatan suhu. baik yang disebabkan oleh bahan kimia atau mekanis atau proses self-destructive (autoimun). 2008).. menginterprestasikan dan menyimpan informasi sensoris yang datang seperti informasi mengenai rasa. warna.

Hewan coba diletakkan pada plat panas dan dihitung durasi pengangkatan kakinya. Dan untuk melihat efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu piroxicam dan mefinal dengan melihat volume kaki hewan coba setelah diinduksi dengan karagen 1% dan untuk antipiretik yaitu ibuprofen untuk melihat suhu rektalhewan coba dengan diinduksi pepton 1%.1 ml. Untuk pengerjaan analgetik langkah pertama dilakukan adalah disiapkan hewan coba (mencit) dengan berat badan untuk hewan coba pertama 30 g (kelompok 4) dan untuk hewan coba kedua dengan berat badan 25 g (kelompok 5). dan 60. Hewan coba diukur volume kaki awal . setelah itu diukur lagi suhu rectal pada menit ke 30 dan 60. Kemudian hewan coba pertama diinduksi dengan dexametasone dengan volume pemberian 1 ml dan untuk hewan coba kedua diinduksi dengan femisic dengan volume pemberian 0.73 ml. diukur suhu rektalnya. diinduksi dengan obat piroxicam untuk hewan coba pertama dengan volume pemberian 0. Dan diukur kembali suhu rektalnya setelah 15 menit pemberian. diukur lagi voleme kakinya setalah itu.30.1 ml. kemudian diukur volem kaki hewan coba pada menit 15.83 ml dan untuk hewan coba kedua diinduksi dengan mefinal dengan volume pemberian 0. Untuk pengerjaan antiiflamasi langkah pertama dilakukan Disiapkan hewan coba (mencit) dengan berat badan untuk hewan coba pertama 25 mg (kelompok 2) dan untuk hewan coba kedua dengan berat badan 22 mg (kelompok 3). dan 60.30. . kemudian diinduksi dengan pepton 1 %.dengan melihat frekuensi geliat hewan coba mencit (Mus musculus). Kemudian hewan coba diberi obat ibuprofen dengan dosis obat 1. Kemudian kedua hewan coba diinduksi dengan karagen 1 % sebanyak 0.75 ml. Untuk pengerjaan antipiretik langkah pertama dilakukan disiapkan hewan coba tikus dengan berat badan 175 g. kemudian diletakkan lagi pada plat panas dan diukur frekuensi pengangkatan kaki pada menit 15.

1. lalu diinduksi dengan karagen 1% untuk memicu pembengkkan pada kaki mencit agar dapat dilihat efek dari setelah pemberian obat. Setelah 15 menit pemberian mencit mengalami pembengkkan dengan volume kaki 2.4 cm.5 cm. BAB 5 PENUTUP 5. Hasil dari percobaan antiinflamasi sebelum dilakukan pemberian volume kaki awal mencit 1.9 cm pada menit ke 30 yaitu 1. Obat deksametasone dan femisic memberikan efek analgetik pada mencit yang diinduksi yaitu dapat meningkatkan frekuensi geliat pada mencit. Setelah itu mencit induksi dengan oba pirocam dan volume kaki mencit pada menit ke 15 yaitu 1. Pada percobaan antinflamasi dengan menggunakan golongan non-steroid yaitu pirocam terjadi penurunan ukuran voleme kaki setelah diinduksi dengan obat hal ini disebabkan karena mekanisme kerja dari golongan non steroid ini yaitu langsung menghambat prostaglandin meskipun zat-zat pembentukan awalnya tidak dihambat seperti asam arakidonat). 2. Selama praktikum berlangsung factor kesalahan pada saat mencit diinduksi dengan karagen 1 % jarum spoit membus kaki mencit namun tidak mempengaruhi hasil dari percobaan. Obat ibuprofen memberikan efek antipirtik pada mencit yaitu dapat menurunkan suhu tubuh pada tikus .5 cm.8 cm dan pada menit ke 60 1. Kesimpulan Adapun kesimpulan setelah dilakukannnya praktikum yaitu : 1.

. Obat piroxicam dan mefinal memberikan efek antiinflamasi pada mencit yaitu dapat menurunkan lingkaran kaki yang mengalami pembengkakan. Erlangga. 3. 2007.2015. Saran Sebaiknya praktikan lebih memahami materi terlebih dahuu agar mengurangi terjadinya factor kesalahan dan dapat mengefesienkan waktu. T. dan Kirana R. I. Psikologi. Daftar Pustaka Wade. 5. Mekanisme pada Injury Jaringan Inflamasi.. H.. shita 2008. Jakarta Amila. Patofisiologi. Jakarta Lutfianto. Jakarta Tjay. Bandung . Obat-obat Penting. Gramedia. Carole.2. (2009). PT.