You are on page 1of 22

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Rumah Sakit

2.1.1. Sejarah Rumah Sakit

Dalam sejarah kuno, kepercayaan dan pengobatan
berhubungan sangat erat. Salah satu contoh institusi pengobatan tertua
adalah kuil Mesir. Kuil Asclepius di Yunani juga dipercaya
memberikan pengobatan kepada orang sakit, yang kemudian juga
diadopsi bangsa Romawi sebagai kepercayaan. Kuil Romawi untuk
Æsculapius dibangun pada tahun 291 SM di tanah Tiber, Roma dengan
ritus-ritus hampir sama dengan kepercayaan Yunani.

Institusi yang spesifik untuk pengobatan pertama kali,
ditemukan di India. Rumah sakit Brahmanti pertama kali didirikan di
Sri Lanka pada tahun 431 SM, kemudian Raja Ashoka juga mendirikan
18 rumah sakit di Hindustan pada 230 SM dengan dilengkapi tenaga
medis dan perawat yang dibiayai anggaran kerajaan.

Rumah sakit pertama yang melibatkan pula konsep pengajaran
pengobatan, dengan mahasiswa yang diberikan pengajaran oleh tenaga
ahli, adalah Akademi Gundishapur di Kerajaan Persia.

Bangsa Romawi menciptakan valetudinaria untuk pengobatan
budak, gladiator, dan prajurit sekitar 100 SM. Adopsi kepercayaan
Kristiani turut memengaruhi pelayanan medis di sana. Konsili Nicea I
pada tahun 325 memerintahkan pihak Gereja untuk juga memberikan
pelayanan kepada orang-orang miskin, sakit, janda, dan musafir. Setiap
satu katedral di setiap kota harus menyediakan satu pelayanan
kesehatan. Salah satu yang pertama kali mendirikan adalah Saint
Sampson di Konstantinopel dan Basil, bishop of Caesarea. Bangunan
ini berhubungan langsung dengan bagunan gereja, dan disediakan pula
tempat terpisah untuk penderita lepra.

Rumah sakit abad pertengahan di Eropa juga mengikuti pola
tersebut. Di setiap tempat peribadahan biasanya terdapat pelayanan
kesehatan oleh pendeta dan suster (Frase Perancis untuk rumah sakit
adalah hôtel-Dieu, yang berarti "hostel of God."). Namun beberapa di
antaranya bisa pula terpisah dari tempat peribadahan. Ditemukan pula
rumah sakit yang terspesialisasi untuk penderita lepra, kaum miskin,
atau musafir.

Rumah sakit dalam sejarah Islam memperkenalkan standar
pengobatan yang tinggi pada abad 8 hingga 12. Rumah sakit pertama
dibangun pada abad 9 hingga 10 mempekerjakan 25 staff pengobatan
dan perlakuan pengobatan berbeda untuk penyakit yang berbeda pula.
Rumah sakit yang didanai pemerintah muncul pula dalam sejarah
Tiongkok pada awal abad 10.

Perubahan rumah sakit menjadi lebih sekular di Eropa terjadi
pada abad 16 hingga 17. Tetapi baru pada abad 18 rumah sakit modern
pertama dibangun dengan hanya menyediakan pelayanan dan
pembedahan medis. Inggris pertama kali memperkenalkan konsep ini.
Guy's Hospital didirikan di London pada 1724 atas permintaan seorang
saudagar kaya Thomas Guy. Rumah sakit yang dibiayai swasta seperti
ini kemudian menjamur di seluruh Inggris Raya. Di koloni Inggris di
Amerika kemudian berdiri Pennsylvania General Hospital di
Philadelphia pada 1751. setelah terkumpul sumbangan £2,000. Di
Eropa Daratan biasanya rumah sakit dibiayai dana publik. Namun
secara umum pada pertengahan abad 19 hampir seluruh negara di
Eropa dan Amerika Utara telah memiliki keberagaman rumah sakit.

Sejarah perkembangan rumah sakit di Indonesia pertama sekali
didirikan oleh VOC tahun 1626 dan kemudian juga oleh tentara Inggris
pada zaman Raffles terutama ditujukan untuk melayani anggota militer
beserta keluarganya secara gratis. Jika masyarakat pribumi
memerlukan pertolongan, kepada mereka juga diberikan pelayanan
gratis. Hal ini berlanjut dengan rumah sakit-rumah sakit yang didirikan
oleh kelompok agama. Sikap karitatif ini juga diteruskan oleh rumah
sakit CBZ di Jakarta. Rumah sakit ini juga tidak memungut bayaran
pada orang miskin dan gelandangan yang memerlukan pertolongan.
Semua ini telah menanamkan kesan yang mendalam di kalangan
masyarakat pribumi bahwa pelayanan penyembuhan di rumah sakit
adalah gratis. Mereka tidak mengetahui bahwa sejak zaman VOC,
orang Eropa yang berobat di rumah sakit VOC (kecuali tentara dan
keluarganya) ditarik bayaran termasuk pegawai VOCrika kemudian
berdiri Pennsylvania General Hospital di Philadelphia pada 1751.
setelah terkumpul sumbangan £2,000. Di Eropa Daratan biasanya
rumah sakit dibiayai dana publik. Namun secara umum pada
pertengahan abad 19 hampir seluruh negara di Eropa dan Amerika
Utara telah memiliki keberagaman rumah sakit.

2.1.2 Definisi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun
2009 tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.
Rumah sakit juga merupakan tempat menyelenggarakan upaya

kesehatan yaitu setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan serta bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang

optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan dilakukan dengan

pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif),

pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu

serta berkesinambungan (Siregar, 2004).

2.1.3 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Berdasarkan UU No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugasnya tersebut,
Rumah Sakit mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan
kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.

2.1.4 Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.Berdasarkan Kepemilikan
1) Rumah Sakit Umum pemerintah
Rumah Sakit Umum Pemerintah adalah Rumah Sakit yang
dibiayai, diselenggarakan dan diawasi oleh pemerintah baik
pemerintah pusat (Departemen Kesehatan), Pemerintah Daerah,
ABRI, Departemen Pertahanan dan keamanan maupun Badan
Umum Milik Negara (BUMN). Rumah Sakit ini bersifat no
profit. Rumah Sakit Umum Pemerintah dapat dikasifikasikan
berdasarkan pada unsur pelayanan, ketenangan, fisik, dan
peralatan.
a) Rumah Sakit Umum kelas A adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
spesialistik luas dan subspesialistik.
b) Rumah Sakit Umum kelas B adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
sekurang-kurangnya 11 spesialistik dan subspesialistik
terbatas.
c) Rumah Sakit Umum kelas C adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik
spesilistik dasar.
d) Rumah Sakit Umum kelas D adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik dasar.
2) Rumah Sakit Umum Swasta
Rumah Sakit Umum Swasta adalah Rumah Sakit yang
dimiliki dan diselenggarakan oleh yayasan, organisasi
keagamaan atau badan hukum lain dan dapat juga bekerja sama
dengan Institusi Pendidikan. Rumah Sakit ini bersifat profit dan
nonprofit. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. No. 806b/Menkes/SK/XII/1987, klasifikasi Rumah
Sakit Umum Swasta, yaitu:
a) Rumah Sakit Umum Swasta Pratama, memberikan pelayanan
medik bersifat umum.
b) Rumah Sakit Umum Swasta Madya, memberikan pelayanan
medik secara umum dan spesialistik 4 cabang.
c) Rumah Sakit Umum Swasta Utama, memberikan pelayanan
medik secara umum, spesialistik dan subspesialistik
b. Berdasarkan Jenis Pelayanan
1) Rumah Sakit Umum

Rumah Sakit yang melayani semua bentuk pelayanan
kesehatan yang diberikan Rumah Sakit bersifat dasar, spesialistik,
dan subspesialistik.
2) Rumah Sakit Khusus
Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan seperti
Rumah Sakit Kanker, Rumah Sakit Kusta, Rumah Sakit Paru,
Rumah Sakit Mata, dan lain-lain.
c.Berdasarkan Lama Tinggal di Rumah Sakit
1) Rumah Sakit Untuk Perawatan Jangka Pendek
Rumah Sakit ini melayani pasien dengan penyakit-penyakit
kambuhan yang dapat dirawat dalam periode waktu relatif
pendek, misalnya Rumah Sakit yang menyediakan pelayanan
spesialis.
2) Rumah Sakit Untuk Perawatan Jangka Panjang
Rumah Sakit ini melayani pasien dengan penyakit-penyakit
kronik yang harus berobat secara tetap dan dalam jangka waktu
yang panjang, misalnya Rumah Sakit Rehabilitasi dan Rumah
Sakit Jiwa
d. Berdasarkan Kapasitas Tempat Tidur
1) Di bawah 50 tempat tidur
2) 50-99 tempat tidur
3) 100-199 tempat tidur
4) 200-299 tempat tidur
5) 300-399 tempat tidur
6) 400-499 tempat tidur
7) 500 tempat tidur dan lebih.
2.2. Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha Martapura
Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha Martapura telah berdiri
sebelum kemerdekaan, tepatnya tahun 1943. Sedang dalam catatan
dokumen, RSUD Ratu Zalecha dibangun pada tahun 1963. Rumah sakit ini
terletak di jalan A. Yani Km. 40,100 Martapura. Dengan luas areal rumah
sakit 12.792 m2. Sekarang RSUD Ratu Zalecha terletak di Jl.Menteri Empat
Martapura dengan luas kurang lebih 5,07 ha dan luas bangunan fisik
berjumlah 1,47 ha. Sejak itu rumah sakit ini selalu berkembang. Sesuai
dengan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 214/MenKes/SK/II/1993
tanggal 23 Februari, RSUD Ratu Zalecha Martapura ditetapkan sebagai
Rumah Sakit Kelas B.
RSUD Ratu Zalecha sudah terakreditas unit 5 pelayanan dasar :
1. Pelayanan Darurat
2. Pelayanan Manjemen
3. Pelayanan Keprawatn
4. Pelalayan Medik dan Rekamedik
5. Pelayanan Administrasi
2.3 Visi dan Misi Rumah Sakit
a. Visi
“Rumah Sakit Bermutu dan Profesional”.
b. Misi
1. Menyediakan pelayanan kesehatan komperhensif dan religius.
2. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar mutu.
3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan pola kemitraan
4. Menyelenggarakan pelyanan tertib administrasi dan keuangan.
5. Menjadi pusat kajian pendidikann, pelatihan dan penelitian.

2.4.Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha Martapura

2.4.1. Struktur Organisasi Rumah Sakit

Struktur orgamisasi lembaga daerah di RSUD Ratu Zalecha
Martapura, diatur dalam Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten
Banjar No. 09 Pasal 17 tahun 2008, 09 Juni 2008 tentang pembentukan
organisasi, terdiri dari :

a. Direktur
b. Bagian Tata Usaha, terdiri dari :
1) Sub Bagian Program
2) Sub Bagian Keuangan
3) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
c. Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan, terdiri dari :
1) Seksi Pelayanan Medik
2) Seksi Keperawtan dan Askep
d. Bidang Pelayanan Penunjang, terdiri dari :
1) Seksi Penunjang Medik
2) Seksi Penunjang Non Medik
e. Bidang Hubungan Masyarkat dan Pendidikan dan Pelatihan, terdiri
dari :
1) Seksi Hubungan Masyarakat
2) Seksi Pendidikan dan Pelatihan
f. Komite Medik
g. Staf Medis Fungsional
h. Instalasi
i. Kelompok
j. Jabatan
k. Fungsional
Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Umum
Daerah Ratu Zalecha Martapura sesuai struktur organisai yang telah
ditetapkan, didukung ketersediaan sarana dan prasarana kelembagaan,
sistem prosedur yang baku serta jumlah pegawai yang cukup, dan
penyediaan anggaran yang memadai. Rumah Sakit melaksanakan program
kegiatan sebagai berikut :
a. Peningkatan Pelayanan Kesehatan
b. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
c. Peningkatan fasilitas rumah sakit
d. Peningkatan pelayanan melalui sistem informasi manajemen rumah
sakit.

2.4.2 Sumber Daya Manusia RSUD Ratu Zalecha Martapura
RSUD Ratu Zalecha Martapura dipimpin oleh seorang direktur
yaitu Ikhwansyah, M.Kes, dengan karyawan sekitar 200 orang yang
terbagi dalam berbagai bidang, divisi serta instalasi – instalasi tertentu.
Setiap bidang terdapat seorang kepala bidang yang bertanggung jawab
atas bidang yang dikelolanya tersebut. Di bawah kepala bidang
terdapat beberapa kepala seksi dengan tugas yang berbeda – beda.

Rincian petugas tenaga kesehatan RSUD Ratu Zalecha Martapura :

Medis

a) Dokter Spesialis :
– Purna Waktu : 23Orang
– Paruh Waktu : 6 Orang
b) Dokter Umum :
16 Orang
c) Dokter Gigi
: 1 Orang
Spesialis
d) Dokter Gigi : 3 Orang
TOTAL : 49 Orang

Paramedis dan Keperawatan

a) Perawat : 221 Orang
b) Bidan : 61 Orang
c) Apoteker : 7 Orang
d) Asisten Apoteker : 33 Orang
e) Sanitarian : 9 Orang
f) Tenaga Gizi : 40 Orang
g) Terapi Fisik : 3 Orang
h) Teknis Medis : 5 Orang
i) SDM Non Perawat : 272 Orang

TOTAL : 651 Orang

Status Kepegawaian

a) PNS : 479 Orang
b) Kontrak : 221 Orang

TOTAL : 700 Orang

2.4.3 Macam-macam Pelayanan RSUD Ratu Zalecha Martapura
a. Pelayanan Rawat Jalan, antara lain :
1) Poli Anak
2) Poli Bedah
3) Poli Penyakit Dalam
4) Poli Kandungan & Kebidanan
5) Poli Maya
6) Poli Paru
7) Poli Gigi
8) Poli Tumbang
9) Poli Orthopedi
10) Poli Kulit dan Kelamin
11) Poli THT
12) Poli Urologi
13) Poli Umum
14) Poli KIA
15) Poli PKBRS
16) Poli Saraf
17) Poli Jantung
18) Poli Psikologi dan Rehabilitasi Medis
b. Pelayanan Rawat Inap, antara lain :
1) Ruang Perawatan Anak
2) Ruang Perawatan Bedah
3) Ruang Penyakit Dalam
4) Ruang Perawatan Bersalin
5) Ruang Perawatan Perinatologi
6) Ruang Perawatan ICU
7) Ruang Perawatan Saraf
8) Ruang Perawatan Kelas
9) Ruang VIP Intan
10) Ruang Perawatan Jantung
c. Pelayanan Penunjang
1) Instalasi Laboratorium Klinik
2) Instalasi Farmasi
3) Instalasi Gizi
4) Instalasi Radiologi
5) Instalasi Bedah Sentral
6) Instalasi Gawat Darurat
7) Instalasi Rekam Medik
8) Instalasi Rehabilitasi Medik
9) Instalasi Pemulasaran Jenazah

2.5. Instalasi Farmasi Rumah Sakit
2.5.1 Definisi
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian/ unit/
divisi atau fasilitas di rumah sakit tempat penyelenggaraan semua
kegiatan pekejaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah
sakit itu sendiri.
Perbedaan antara IFRS dan Farmasi Komunitas ( apotek ) :
a. Rumah sakit adalah suatu institusi dan hak komunitas yang sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan, pengharapan dan permintaan anggota
masyarakatnya Oleh karena itu, sosio medico economic dan
organisasi rumah sakit menekankan pada praktik farmasi rumah
sakit.
b. Farmasi rumah sakit harus dianggap sebagai salah satu dari banyak
bagian ( departemen ) pada sebuah rumah sakit yang mempunyai
berbagai fungsi dasar umum.
c. Farmasi rumah sakit dewasa ini telah berkembang secara signifikan
sehingga menyebabkan perlunya pendidikan dan pelatihan khusus
pada tingkat pascasarjana.
d. Pengetahuan spesialis farmasi rumah sakit yang berguna telah
berkembang melalui pustaka pendidikan dan pelatihan.
e. Telah berkembang juga suatu krop ( persatuan ) apoteker praktisi
karir rumah sakit yang sangat memenuhi syarat dan telah
mengadopsi suatu filosofi pelayanan profesional yang baik dan telah
mengembangkan standar praktik yang tinggi.
f. Apoteker yang berpraktik dalam rumah sakit memerlukan
pendidikan atau pengalaman khusus agar mampu melaksanakan
praktiknyya dengan keefektifan yang maksimal. Tidak seperti dalam
praktik farmasi komunitas (apotek), apoteker rumah sakit harus
wajib berfungsi dalam suatu organisasi dengan tanggung jawab ini
mencangkup pendidikan, pelatihan, dan kesehatan masyarakat.
g. Apoteker rumah sakit harus memperhatikan hubungan profesional
terspesialis tinggi dan terlatih dengan terampil. Apoteker bertemu
dengan dokter spesialis dan apoteker rumah sakit berhubungan
langsung secara tetap dengan profesi keperawatan dalam praktik
harian,berkaitan dengan obat penderita dan pelayanan informasi
yang dibutuhkan perawat.
h. Telah lama diakui apoteker rumah sakit memerlukan pendidikan dan
tambahan dan pelatihan tambahan dan perlu diadakan program
pelatihan residen untuk mencapai berbagai hal.
2.5.2. Struktur IFRS
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI
No.85/Menkes/1989 pasal 1 ayat 2, Instalasi Farmasi Rumah Sakit
adalah instalasi yang mempunyai tugas menyediakan, mengelola,
member penerangan dan melaksanakan penelitian tentang obat –
obatan. Dalam struktur organisasi RSUD Ratu Zalecha Martapura,
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) merupakan salah satu unit
pelayanan yang berkedudukan langsung dibawah direktur, IFRS
dipimpin oleh seorang apoteker yang dalam menjalankan tugasnya
dibantu oleh apoteker – apoteker sebagai kepala medis koordinasi
instalasi farmasi.
Instalasi RSUD Ratu Zalecha Martapura memiliki 5 unit
pelayanan dan 2 unit gudang, yaitu :
1) Unit Sentral (BPJS Rawat Inap, BPJS Rawat Jalan, Umum Rawat
Jalan)
2) Unit IGD
3) Unit Satelit VIP Intan
4) Unit Penerimaan
5) Unit Penyimpanan
6) Unit Farmasi Ruangan
2.5.3. Sumber Daya Manusia
2.5.4. Job Description dan Kualifikasi
1) Apoteker
a) Sebagai Pemimpin
(1) Mempunyai kemampuan untuk memimpin
(2) Mepunyai kemampuan dan kemauan mengelola dan
mengembangkan pelayanan farmasi
(3) Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan diri
(4) Mempunyai kemampuan untuk bekerja dengan pihak lain
(5) Mempunyai kemampuan untuk melihat masalah
(6) Menganalisa dan memecahkan masalah
b) Sebagai Tenaga Fungsional
(1) Mampu memberikan pelayanan kefarmasian
(2) Mampu melakukan praktek kefarmasian
(3) Mampu mengelola manajemen kefarmasian
(4) Mampu berkomunikasi tentang kefarmasian
(5) Dapat mengoperasikan computer
(6) Mampu melaksanakan penelitian dan pengembangan
farmasi klinik
2) Asisten Apoteker
a. Pelayanan Resep
(1) Mengidentifikasi resep
(2) Melakukan konsultasi memastikan resep dapat dilayani
(3) Menghitung dan menginformasikan harga resep
(4) Menyiapkan atau meracik sediaan farmasi
(5) Memeriksa hasil akhir
(6) Menyerahkansediaan farmasi sesuai resep disertai informasi
b. Pengelolaan Sediaan Farmasi
(1) Memesan dan menerima sediaan farmasi
(2) Memeriksa sediaan farmasi yang stoknya habis
(3) Memeriksa dan mengendalikan sediaan farmasi yang
mendekati waktu kadaluarsa
(4) Menyimpan sediaan farmasi yang sesuai dengan
golongannya
c. Pengelolaan Dokumentasi
(1) Melaksanakan tata cara penyimpanan resep
(2) Pencatatan sediaan farmasi
(3) Penyimpanan surat pesanan
(4) Ikut serta dalam pencatatan dan penyimpanan laporan
narkotik dan psikotropika
2.6. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Pembekalan Kesehatan

2.6.1. Perencanaan

Perencanaan merupakan kegiatan untuk menetukan jenis,
jumlah kebutuhan perbekalan yang diperlukan dan harga yang sesuai
dengan kebutuhan dan anggaran untuk menghindari kekosongan obat
dengan menggunakan metode yang apat dipertanggung jawabkan dan
dasar – dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain Konsumsi,
Epidemiologi, Kombinasi metode tersebut disesuaikan dengan
anggaran yang tersedia. Perencanaan perbekalan farmasi pada
dasarnya sama, baik perencanaan obat-obat non narkotika maupun
obat-obat golongan narkotika dan psikotropika.
Pedoman perencanaan perbekalan farmasi di Rumah Sakit, yaitu :
a. DOEN, Formularium Rumah Sakit, Standar Terapi Rumah Sakitm
Ketentuan setempat yang berlaku
b. Data catatan medis
c. Anggaran yang tersedia
d. Penetapan prioritas
e. Siklus penyakit
f. Siklus persediaan
g. Data pemakaian periode yang lalu
h. Rencana pengembangan
2.6.2. Pengadaan
Pengadaan adalah kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan
yang akan direncanakan dan disetujui melalui pembelian, produksi dan
pembuatan sediaan farmasi, sumbangan, droping atau hibah.
Dalam menajemen perbekalan farmasi, daftar perencanaan
yang telah dibuat dan ditandatangani dan disetujui oleh direktur rumah
sakit, selanjutnya diberikan kepada panitia pengadaan untuk dilakukan
pemesanan langsung ke distributor resmi. Pemesanan perbekalan
farmasi dengan menggunakan Surat Pemesanan (SP) yang
ditandatangani oleh apoteker, diketahui oleh panitia pengadaan.
Untuk pengadaan narkotika dan psikotropika langsung
menghubungi distributor resmi atau PBF terkait, dengan melampirkan
SP khusus untuk narkotika dan psikotropika. Untuk pemesanan
narkotik menggunakan satu lembar surat pemesanan disetiap jenisnya.
Sedangkan untuk pemesanan obat psikotropik dan perbekalan farmasi
lainnya dapat menggunakan satu lembar surat pemesanan untuk
beberapa jenis sediaan. Prosedur pengadaan perbekalan farmasi,
sebagai berikut:
a. Rencana perbekalan farmasi bulanan yang telah dibuat diserahkan
kepada panitia pengadaan (Apoteker di instalasi farmasi adalah
anggota panitia pengadaan)
b. Barang yang diperlukan diklasifikasikan berdasarkan distributor atau
penyalur untuk dibuatkan SP.
c. Barang yang datang sesuai dengan SP dibuatkan surat order dari RS
dan berita acara penerimaan barang rangkap 3.
Pengadaan perbekalan farmasi menggunakan sumber dana
yang telah ditetapkan oleh Panitia Pengelola Teknis Kegiatan (PPTK)
yang disebut dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
2.6.3. Penerimaan dan Pemeriksaan barang
Penerimaan dan pemeriksaan barang merupakan proses
lanjutan setelah pengadaan. Dalam penerimaan perbekalan farmasi
dilakukan pemeriksaan terhadap barang pesanan tersebut. Pemeriksaan
barang bertujuan untuk mengetahui kesesuaian barang yang diterima
dengan surat SP dan dilakukan pencatatan yang meliputi; nama obat,
nama PBF, nomor faktur, tanggal barang datang, harga satuan, tanggal
kadaluarsa, tanggal jatuh tempo, dan jenis barang, jumlah barang dan
kemasan. Faktur ditandatangani oleh penerima, yang mana faktur
tersebut berjumlah dua rangkap, satu rangkap diserahkan pada bagiaan
keuangan sebagai bukti penagihan dari PBF, sedangkan yang satunya
lagi disimpan sebagai arsip. Barang yang sudah dicek tersebut diberi
label harga, selanjutnya pemasukan barang dicatat pada kartu stok.
Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi :
a. Pabrik harus mempunyai Sertifikat Analisa
b. Barang harus bersumber dari distributor utama
c. Harus mempunyai Material Safety data Sheet (MSDS)
d. Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai
certificate of origin
e. Expired date minimal 2 tahun
2.6.4. Penyimpanan
Penyimpanan merupakan kegiatan pengaturan perbekalan
farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan disertai sistem informasi
yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai
kebutuhan. Kegiatan-kegiatan penyimpanan meliputi pengaturan tata
ruang dan penyusunan stok perbekalan farmasi sesuai klasifikasi yang
bertujuan untuk menjamin kualitas dan memudahkan dalam
pengawasan dan pencarian. Tata ruang merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi efesiensi dan efektifitas kegiatan-kegiatan di
gudang perbekalam farmasi. Penyimpanan barang di gudang bertujuan
untuk:
a. Memudahkan dalam penempatan dan mencari barang-barang yang
disimpan.
b. Memudahkan untuk mengetahui jumlah persediannya.
c. Aman dari kerusakan ataupun kehilangan, sehingga perbekalan
farmasi lebih terjamin kualitasnya dan dapat memenuhi
persyaratan penyimpanan obat.
d. Memudahkan dalam hal pengawasan.

Penyimpanan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di
Rumah Sakit dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
(1) Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya
(2) Dibedakan menurut suhunya, kestabilannya
(3) Dibedakan menurut Alfabetis atau Abjad
(4) Dibedakan menurut golongan (narkotika, psikotropika)
(5) Mudah tidaknya meledak/terbakar
(6) Tahan/tidaknya terhadap cahaya
(7) Sistem FIFO, FEFO, dan LIFO
Sistem penyimpanan ini berdasarkan barang yang pertama
kali datang akan dikeluarkan diawal (First In First Out),
barang yang mendekati ED maka akan di keluarkan lebih
dahulu (Fisrt Expired First Out), dan barang yang masuk
terakhir akan dikeluarkan di awal (Last In First Out).
(8) Sistem LASA
Sistem penyimpanan Look a like Sound a like (LASA)
merupakan metode penyimpanan yang diterapkan pada
RSUD Ratu Zalecha, agar obat yang mempunyai bentuk dan
nama/pengucapan hampir mirip dapat dipisahkan sehingga
tidak terjadi salah ambil obat. Obat LASA ditandai dengan
tulisan yang di temple pada rak obat. Selain LASA juga
terdapat tulisan tanda Hight Alert untuk obat-obat yang
memerlukan perhatian khusus.
(9) High Alert Medication
Penyimpanan obat kategori High Alert Medication (HAM) di
setiap ruangan, diwajibkan memenuhi kriteria khusus. Mulai
dari standar tempat penyimpanan, standar keamanan, standar
pencatatan penggunaan, pembatasan akses, sampai dengan
pemberian simbol. Pada awal triwulan I masih ditemukan
penyimpanan yang belum memenuhi standar tersebut.
Namun, setelah dilakukan pembenahan bertahap maka mulai
triwulan kedua, keseluruhan penyimpanan obat kategori
HAM sudah memenuhi standar. Cara Penyimpanan High
alert medications sebagai berikut :

a) High alert medications disimpan di pos perawat di
dalam tempat yang memiliki kunci.
b) Semua tempat penyimpanan harus diberikan label yang
jelas dan dipisahkan dengan obat-obatan rutin lainnya.
Jika high alert medications harus disimpan di area
perawatan pasin, kuncilah tempat penyimpanan dengan
diberikan label ‘Peringatan:high alert medications’ pada
tutup luar tempat penyimpanan.
c) Jika menggunakan dispensing cabinet untuk
menyimpanhigh alert medicationsI, berikanlah pesan
pengingat di tutup cabinet agar pengasuh / perawat
pasien menjadi waspada dan berhati-hati dengan high
alert medications. Setiap kotak /tempat yang berisihigh
alert medicationsharus diberi label.
d) Infus intravena high alert medications harus diberikan
label yang jelas dengan menggunakan huruf / tulisan
yang berbeda dengan sekitarnya

Pengembalian barang yang mendekati kadaluarsa atau yang
sudah kadaluarsa dilakukan oleh petugas gudang dengan
menghubungi PBF terkait, pihak PBF kemudian mengganti dengan
bahan yang samadengan barang yang masa kadaluarsanya lebih
lama.Pengembalian barang tersebut berdasarkan ketentuan perjanjian
yang sudah disepakati antara kedua belah pihak.
2.6.5. Distribusi
Distribusi obat adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan
farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi
bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang
pelayanan medis. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan
untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan :
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi
c. System floor stock, resep individu, dispending dosis unit atau
kombinasi.
1. Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Inap
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi
untuk memenuhi kebutuhan pasien rawat inap di rumah sakit yang
diselenggarakan secara sentralisasi atau desentralisasi dengan
system persediaan lengkap di ruangan, sistem kombinasi oleh
satelit farmasi.
a. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan
Pendistribusian perbekalan farmasi untuk persediaan di
ruang rawat merupakan tanggung jawab perawat ruangan.
Seriap ruang rawat harus mempunyai penanggung jawab obat.
Perbekalanyang disimpan tidak dalam jumlah besar dan dapat
dikontrol secara berkala oleh petugas farmasi.
b. Sistem Resep Perorangan
Pendistribusian perbekalan farmasi resep perorangan/pasien
rawat jalan dan rawat inap melalui Instalasi Farmasi.
c. Sistem Unit Dosis
Pendistribusian obat – obatan melalui resep perorangan
yang disiapkan, diberikan/digunakan dan dibayar dalam unit
dosis tunggal atau ganda, yang berisi obat dalam jumlah yang
telah ditetapkan atau jumlah yang cukup untuk penggunaan
satu kali dosis biasa.
2. Pendistribusian Perbekalan Farmasi untuk Pasien Rawat Jalan
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi
untuk memenuhi kebutuhan pasien rawat jalan di rumah sakit, yang
diselenggarakan secara sentralisasi dan atau desentralisasi dengan
sistem perorangan oleh Apotek Rumah Sakit.
3. Pendistribusian Perbekalan Farmasi di luar Jam Kerja
Merupakan kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi
untuk memenuhi kebutuhan pasien diluar jam kerja yang
diselenggarakan oleh Apotek Rumah Sakit atau Satelit Farmasi
yang dibuka 24 jam.
2.6.6.Pelaporan
Pelaporan adalah suatu kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi perecanaan
kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian
persediaan, pengembalian,pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai. Pelaporan dibuat secara periodik
yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam periode waktu tertentu (bulanan,
triwulanan, semester atau pertahun).
Setiap rangkaian kegiatan harus dilakukan pencatatan dan
pelaporan untuk memonitor semua kegiatan di gudang farmasi apakah
berjalan dengan baik atau tidak. Kegiatan pencatatan dan pelaporan dapat
memberikan data mengenai jumlah barang, jenis barang, pengeluaran, dan
seluruh rangkaian kegiata proses pendistribusian barang. Berbagai
pencatatan dan pelaporan yang dilakukan di mulai dari perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian hingga pelaporan.
Gudang instalasi farmasi menggunakan pencatatan dengan menggunakan
kartu stok. Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan
peraturan yang berlaku.
Pencatatan dilakukan untuk :
a. Persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM;
b. Dasar akreditasi Rumah Sakit;
c. Dasar audit Rumah Sakit; dan
d. Dokumentasi farmasi.
Pelaporan dilakukan sebagai :
1) Komunikasi antara level manajemen;
2) Penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan di
Instalasi Farmasi dan
3) Laporan tahunan

Pelaporan yang dilakukan meliputi :
a. Laporan Distribusi Floor Stock
b. Laporan Stok
c. Laporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi
d. Obat yang ED
e. Laporan pembelian
2.6.7. Pengelolaan barang kadaluarsa dan barang rusak
Barang yang telah kadaluarsa atau rusak dicatat ke dalam buku ED
sebagai data untuk melakukan pemusnahan perbekalan farmasi nantinya
yang meliputi nama obat, nomor, batch, jumlah barang, tanggal kadaluarsa
serta harga satuan barang. Pemusnahan dilakukan setiap tahun dengan
disaksikan oleh dua orang saksi dari instalasi farmasi, kemudian instlasi
farmasi membuat berita acara yang memuat nama, jenis, sifat dan jumlah,
keterangan, tempat, jam, hari, bulan, tahun, tanda tangan dan identitas
pelaksana dan pejabat yang menyaksiskan berkompeten. Berita Acara
tersebut dikirim kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota dan Balai
Pengawasan Obat dan makanan.
2.6.8. Pelayanan resep dan pemberian informasi obat
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, pengkajian Resep, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan Obat,
pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap
alur pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan
pemberian Obat (medication error).
Kegiatan ini untuk menganalisa adanya masalah terkait Obat, bila
ditemukan masalah terkait Obat harus dikonsultasikan kepada dokter
penulis Resep. Apoteker harus melakukan pengkajian Resep sesuai
persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis
baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Pemberian Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan
dan pemberian informasi, rekomendasi Obat yang independen, akurat, tidak
biasa, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada
dokter, Apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak
lain di luar Rumah Sakit.
PIO bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi mengenai Obat kepada pasien dan tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah
Sakit
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang
berhubungan dengan Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai, terutama bagi Tim Farmasi dan Terapi
c. Meningkatkan profesionalisme Apoteker
d. Menunjang penggunaan Obat yang rasional

Kegiatan :
a. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara
aktif dan pasif.
b. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui
telepon, surat atau tatap muka.
c. Membuat bulletin, leaflat, label obat.
d. Menyediakan informasi bagi Komite/Panitia Farmasi dan Terapi
sehubungan dengan penuyusunan Formularium Rumah Sakit.
e. Bersama dengan PKMRS melakukan kegiatan penyuluhan bagi
pasien rawat jalan dan rawta inap.
f. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga farmasi dan
tenaga kesehatan lainnya.
g. Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan
kefarmasian.