You are on page 1of 5

MENINGAITIS TUBERKULOSA 

(Kode ICD X : A17.0)
1. Pengertian 

Meningitis Tuberkulosa adalah radang selaput otak akibat komplikasi
Tuberkulosa Primer.

2. Anamnesis 

 Malaise
 Anoreksia
 Demam
 Nyeri kepala yang semakin memburuk
 Perubahan mental
 Penurunan kesadaran
 Kejang
 Kelemahan 1 sisi

3, Pemeriksaan Fisik 

 Pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan fisik menyeluruh

 Pemeriksaan neurologis: pemeriksaan GCS, pemeriksaan
kaku kuduk, pemeriksaan saraf kranialis (kelumpuhan
saraf kranialis II, III, IV, VI, VII, VIII), kekuatan motorik
(hemiparesis), pemeriksaan funduskopi (tuberkel pada
khoroid dan papil edema sebagai tanda peningkatan
tekanan intrakranial).

4. Kriteria Diagnosis 

Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan
imaging dan cairan serebrospinal.

kultur Ogawa. Pemeriksaan Penunjang   CT-scan kepala / MRI kepala dengan kontras  Thorax foto PA  Lab: darah rutin (Hb/leuko).o Streptomisin IM kurang lebih 3 bulan dengan dosis 30-50 o mg/KgBB/hari. Deksametason IV (terutama bila ada edema otak) dengan dosis 10 . 400 mg/hari (dewasa).   Pengobatan: o Isoniazid (INH) 10-20 mg/KgBB/hari (anak). gula darah sewaktu.o Etambutol 25 mg/KgBB/hari sampai 150 mg/hari. dosis 600 mg/hari dengan dosis o tunggal (dewasa). perawatan kandung kemih. posisi penderita. natrium  Test HIV  Pemeriksaan mikrobiologi: pewarnaan langsung dengan ZN. dan defekasi. GeneXpert 7.5.o Rifampisin 10-20 mg/KgBB/hari.o PAS (Para-Amino-Salicilyc0-Acid) 200 mg/KgBB/hari dibagi dalam 3 o dosis dapat diberikan sampai 12 g/hari. kebutuhan  gizi. Diagnosis Banding  Meningitis Bakterialis 6. 20 o mg/hari dibagi dalam 3 dosis selama 2-4 minggu kemudian diteruskan dengan dosis 1 mg/KgBB/hari selama 1-2 minggu. kreatinin. Tatalaksana   Penderita sebaiknya dirawat di perawatan intensif  Perawatan penderita meliputi kebutuhan cairan dan elektrolit.o Kortikosteroid: prednisone 2-3 mg/KgBB/hari (dosis normal). ureum.

masa dan tindakan pemulihan dan latihan. perawatan kandung kemih. bila membaik dapat diturunkan sampai 4 mg setiap 6 jam.  Tatalaksana operatifJika terdapat tanda hidrosefalus. posisi penderita. pemasangan VP shunt atau EVD  gizi.o Streptomisin IM kurang lebih 3 bulan dengan dosis 30-50  mg/KgBB/hari.o PAS (Para-Amino-Salicilyc0-Acid) 200 mg/KgBB/hari dibagi dalam 3  dosis dapat diberikan sampai 12 g/hari. risiko dan komplikasi)  Penjelasan mengenai risiko dan komplikasi selama perawatan  Penjelasan mengenai faktor risiko dan pencegahan rekurensi  Penjelasan program pemulangan pasien (Discharge Planning)  Penjelasan mengenai gejala dan apa yang harus dilakukan sebelum dibawa ke RS .o Rifampisin 10-20 mg/KgBB/hari.  Tatalaksana operatifJika terdapat tanda hidrosefalus. mg setiap 4-6 jam. dosis 600 mg/hari dengan dosis  tunggal (dewasa). 400 mg/hari (dewasa).o Kortikosteroid: prednisone 2-3 mg/KgBB/hari (dosis normal). dan defekasi. biaya. pemasangan VP shunt atau EVD 8. pengobatan. Deksametason IV (terutama bila ada edema otak) dengan dosis 10 mg setiap 4-6 jam. Edukasi   Penjelasan Sebelum MRS (rencana rawat.o Etambutol 25 mg/KgBB/hari sampai 150 mg/hari. 20  mg/hari dibagi dalam 3 dosis selama 2-4 minggu kemudian diteruskan dengan dosis 1 mg/KgBB/hari selama 1-2 minggu. manajemen nyeri. prosedur. Pengobatan:  Isoniazid (INH) 10-20 mg/KgBB/hari (anak). bila membaik dapat diturunkan sampai 4 mg setiap 6 jam.

Zuger A. Lippincott Williams&Wilkins: 441-457 3. Marra CM (eds). Infections of the Nervous System (Bacterial. third ed. Fungal. Koshy AA and Jay CA. New York. Infection of the central nervous system. 2. Adam and Victor’s. New York – Toronto. 9. Kewenangan berdasar Tingkat Pelayanan Kesehatan   Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer  Tatalaksana ABC dan Resusitasirujuk  PPK 2 (RS tipe B dan C) :  Tatalaksana medis komprehensif sesuai ketersediaan fasilitas PPK 3 (RS tipe A) :  . In: Scheld WM. 2009. 9th Ed. Demos Medical: 341-343 . infections of the nervous system. Roper AH and Samuels MA. Clinical Adult Neurology. 2009.Tatalaksana operatif 11. Prognosis  Ad vitam : dubia ad bonam Ad Sanationam : dubia ad bonam Ad Fungsionam : dubia ad bonam 10. In: Bloom JC and David RB (eds). Spirochetal. Tuberculosis. 2004. In: Principles of Neurology. Parasite) and Sarcoidosis. third ed. Philadelphia. McGraw Hill Medical: 667-707.Tatalaksana medis komprehensif . Whitley RJ. Kepustakaan  1.

Tuberculosis. Jannis J. Standar Kompetensi Dokter Spesialis Neurologi Indonesia. Decision making in Neurocritical Care. Thieme Medical Publishers. Inc: 134-148 6. second ed. Dalam: Pertemuan Regional Jakarta . 2015 . New York. Neurologic infections. Tatalaksana dan Diagnosis Meningitis Tuberkulosis. Krieger S.Bandung – Palembang 24-25 Oktober 1998 7. Lippincott Williams&Wilkins: 445-458 5. In: Frontera JA (ed). 1998.4. Rom WN. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer 8. Philadelphia. 2009. 2004.