You are on page 1of 11

LO 5

:
Mucus Extravasation Phenomenon (MEP) / Mucocele

Etiologi: Trauma yang parah pada kelenjar saliva duktus extretoris yang menyebabkan keluarnya
cairan / mukus ke jaringan disekitarnya

Gambaran Klinis: terdapat pembesaraan mucosa berbentuk kubah dengan ukuran berkisar antara 1
atau 2 cm sebagai ciri khas dari MEP, Penampakan pembesaran mukosa yang translusen berwarna
kebiruan, Lesi biasanya berfluktuasi (Kenyal) tetapi beberapa MEP pada palpasi terasa firm (Keras),
bibir bawah adalah tempat yang paling sering terjadinya MEP, juga terjadi pada mukosa buccal,
permukaan anterior-ventral pada lidah (Lokasi terdapatnya Kelenjar Blandin-Nuhn).

MEP juga dapat terjadi pada daerah palatum mole dan retromolare, MEP pada daerah ini merupakan
MEP yang superfisial. MEP superfisial berpenampilan klinis seperti vesikel dengan ukuran diameter 1
mm sampai 4 mm, dapat tunggal atau multipel. Lesi ini sering pecah meninggalkan ulkus dangkal dan
sakit yang akan sembuh dalam beberapa hari.

Treatment: Eksisi, untuk MEP superfisial tidak perlu dilakukan perawatan karena akan hancur dengan
sendirinya dan berumur pendek.

Ranula

Ranula adalah suatu bentuk dari mucocele yang mengenai/menyerang dasar dari rongga mulut, pada
ranula mucin keluar melalui Kelenjar Saliva Minor (Glandula Sublingual dan tak jarang melalui
duktus submandibular

Gambaran Klinis: Tampak kebiruan, berbentuk seperti kubah, bernanah secara fluktuatif pada dasar
rongga mulut dan biasanya berada pada lateral dari midline

Treatment: Dilakukan pengangkatan pada glandula sublingual dengan teknik Marsupialization

Salivary Ductus Cyst / Mucus Retention Cyst (Sialocyst)

Etiologi: Terjadi karena adanya obstruksi aliran saliva oleh batu saliva (sialolith), sialolith terbentuk
karena akumulasi garam kalsium (campuran calcium carbonate dan calciu phosphate)

Gambaran Klinis: Gambaran Klinis menyerupai MEP yaitu pembesaran lunak berwarna kebiruan
berfluktuasi, tergantung kedalaman kista, beberapa kista pada palpasi teraba kenyal yang terlihat
sebagai pembesaran yang lambat dan asimptomatik

dan ASI serta trans plasental yang menyebabkan infeksi kongenital dan malformasi. tapi 10% kasus melibatkan gld. Gambaran Klinis: Terlihat adana pembengkakan unilateral pada palatum durum / palatum mole. Pembengkakan bilateral terjadi sampai 7 hari. sekresi respiratory. yang paling sering adalah gld. Adenomatoid Hyperplasia Pembesaran Non-neoplastic kelenjar saliva minor pada palatum yang belum diketahui penyebabnya dan pada penelitian saat ini menunjukan bahwa trauma berperan dalam proses terjadinya Adenomatoid Hyperplasia. Masa inkubasi antara 2 sampai 3 minggu. tetapi pada orang dengan kondisi immuno compromised dapat membahayakan jiwa. Transmisi melalui muntahan. malaise. Pembengkakan glandula terjadi tiba-tiba dan terasa sakit pada palpasi. CMV dapat tetap laten setelah paparan pertama dan infeksi. serta pasien diarahkan untuk beristirahat. kemudian diikuti dengan inflamasi dan pembengkakan glandula. sakit kepala dan myalgia. Pada bayi dan anakanak dapat berakibat fatal. Treatment: Tidak diperlukan tindakan karena tidak ada potensi neoplastic Mumps Etiologi: Disebabkan oleh paramyxovirus. Treatment: Dilakukan pemberian analgesic dan pemberian corticosteroid bila terjadi kasus yang parah. Jika terjadi obstruksi duktus parsial maka akan terasa sakit pada waktu makan. Intra oral kista dapat terjadi pada gld minor. dapat melibatkan kelenjar ludah minor maupun mayor. asimtomatik. rasa sakit pada preauricular. lebih sering terjadi pada dasar mulut. . Jarak antara pembengkakan glandula pada satu sisi dengan sisi yang lain berkisar antara 24 sampai 48 jam. Reaktivasi dapat terjadi. Duktus glandula inflamasi tanpa cairan purulen. mukosa bukal dan bibir. Parotis. yang juga terdapat cairan mukosa disekitarnya. Cytomegalovirus Sialadenisis Etilogi: Human CMV merupakan beta herpesvirus yang hanya menginfeksi manusia. Sebagian besar menyerang glandula parotis. urine.SDC biasa terjadi pada orang dewasa. kulit yang menutupi glandula edematous. pada orang sehat tidak menimbulkan gejala. demam. yang disebabkan kontak langsung dengan cairan saliva Gambaran Klinis: Biasanya mumps terjadi pada anak-anak usia antara 4 dan 6 tahun. submandibular saja. Treatment: Dilakukan pengangkatan Kista pada kelenjar saliva yang terkena SDC melalui insisi pada duktus dan dilakukan pemijatan hingga batu saliva (sialolith) keluar melalui orifice pada duktus.

demam ringan. Infeksi pada anak-anak dapat berakibat fatal. Organisme yang menyebabkan sialadenitis adalah Stapylococcus aureus. Allergic sialadenitis Pembesaran glandula saliva berhubungan dengan paparan bermacam-macam agen pharmaceutical dan alergen. Sarcoidosis Sarcoidosis merupakan suatu kondisi khronis dimana T limfosit. Bacterial Sialadenisis (Parotitis) Etiologi: Infeksi Bakteri pada kelenjar saliva yang disebabkan oleh pertumbuhan yang berlebihan pada mikroba yang berkaitan dengan berkurangnya cairan saliva contohnya karena dehidrasi. jika anak tersebut dapat bertahan hidup maka dapat terjadi kerusakan syaraf yang permanen yang menyebabkan keterbelakangan mental dan seizure disorders. mononuclear phagocytes dan granuloma menyebabkan destruksi jaringan yang terlibat. Streptococcus pneumoniae Gambaran Klinis: Terjadi pembengkakan wajah unilateral dan bilateral. disertai erithematous (kemerahan) pada daerah yang terkena. Primer terjadi pada usia dekade ketiga atau keempat. Diagnosis ditetapkan berdasar pada kenaikan titer antibodi terhadap CMV. Pasien yang menggunakan obat imunosupressive dan pasien dengan kelainan hematologik atau infeksi HIV akan peka terhadap infeksi CMV yang berat. pemberian analgesik dan pasien diarahkan untuk beristirahat. Etiologi: Belum diketahui Gejala Klinis: . Pasien dijauhkan dari alergen keseimbangan cairan dijaga dan monitoring adanya infeksi sekunder. prognosis pada orang dewasa sehat adalah baik. Penyebab penyakit tidak jelas.Gambaran klinis: CMV mononukleosis biasanya terjadi pada dewasa muda disertai demam akut dengan pembesaran glandula. Karakteristik gambaran reaksi alergik adalah pembesaran glandula akut kadang disertai rasa gatal pada glandula. Sistem immun yang kurang baik memberi kesempatan pada virus untuk replikasi dan menyebabkan infeksi. Alergik sialadenitis akan sembuh sendiri. Infeksi pada orang dewasa dapat terjadi karena reaktivasi virus laten atau karena infeksi primer. dan sakit kepala Treatment: Pemberian antibiotik penicilinase-resistant yang juga bersamaan dengan rehidrasi atau pengambalian cairan saliva seperti semua yaitu dengan kompres air hangat. Streptococcus viridans. dan debilitiasi. malaise. Lebih banyak pada wanita dibanding pria. keadaan post-operasi.

treatment lebih bersifat preventif yaitu dengan pencegahan xerostomia (faktor pencetusnya) dengan menjaga keseimbangan cairan pada rongga mulut. lupus erythematosus. Ophtalmologist. . Mulut kering . dan solusi remineralisasi untuk mencegah fluorisis dan menjaga kondisi jaringan rongga mulut. Pembesaran Kelenjar Limfatik dan Kelenjar Saliva . yaitu Primary Sjorgen Syndrome dan Secondary Sjorgen Syndrome. scleroderma) Treatment: Penalaksanaan Lintas Bidang (Dokter Gigi. terapi pemberian topical fluoride. Facial Palsy (Kelumpuhan Otot-Otot Wajah) . Pembesaran Hati & Limfe . . dll) Pada kedokteran gigi. Malaise dan Penurunan Berat badan Treatment: Pemberian kortikosteroid atau chloroquine atau kombinasi keduanya tergantung respon pada pasien Sjorgen Syndrome Etiologi: Penyebab spesifik dari kasus ini belum diketahui dan merupakan proses multifaktorial dan juga akibat penyakit sistemik autoimun serta penghancuran parenkim saliva yang dimediasi oleh limfosit Gambaran Klinis: Terdapat 2 tipe sjorgen syndrome. Rheumatologist. pada Primary Sjorgen Syndrome tampak kondisi penderita yang mengalami kekeringan pada mulut dan mata sedangkan Secondary sama seperti Primary tetapi dengan tambahan penyakit kolagen vaskular (Rheumatoid arthritis. dan sesak nafas . Luka dan ruam di kulit . Demam. sakit kepala . Batuk.

amilase. atau sedikit hypertonic. lisozyme. leukosit polymorphnuklear dari crevicular fluid. 0. cairan acinar dimodifikasi dari isotonic. Mg. dan bakteri. laktat dan asam lemak.0% pada saliva tidak distimulus / dirangsang.99. Sel duktus impermeable secara luas ke air dimana sisanya pada lumen duktus. lipid. ketika bikarbonat dan potassium secara aktif berpindah dari sel ini ke saliva. aktivitas elektrolit ini di rubah pada duktus striated dan paling ditandai pada saliva distimulus/dirangsang. IgM. proses diatas menghasilkan larutan hypotonic. komposisi saliva : air (94 % . asam amino bebas. Reabsorbsi sodium terjadi dengan melawan gradient konsentrasi dan energi dimana untuk proses disediakan oleh mitokondria pada sel ini. F. peroksidase. cairan hypotonic terdiri dari konsentrasi rendah ion sodium dan klorida. HCO3. dan IgG. Modifikasi Komposisi Saliva oleh duktus system Setiap melewati duktus.5 %) dan padat (6. K. karakter osmotic saliva dirubah oleh transport aktif sodium dari saliva melewati duktus striated menuju bagian extrsellular. .LO 6: Komposisi Saliva Parotid saliva (serosa) merupakan cairan encer ketika saliva submandibular dan sublingual dicampur. glokosa bebas. N2. ion klorida diresorb dengan pasif secara serentak. Bahan Inorganik substansi inorganic paling penting yang ditemukan diseluruh saliva : ion Ca. NH4 Gas (CO2. Cl. IgA. Na.5% pada saliva distimulus/dirangsang ). dan O2 ) Air Bahan-bahan Didapat dari Rongga Oral ini termasuk sel epitel desquamosa. adapun makromolekul yang ditemukan di saliva : protein. thiocyanate. asam uric. Bahan Organik bahan organic penyusun saliva secara keseluruha ialah urea.

kandungan organic yang paling penting mucin atau mukoprotein. serine dan alanin sebagai asam amino mayor. Dimana peningkatan dari saliva akan berbanding lurus dengan peningkatan protein. Dalam mukoprotein residu karbohidrat termasuk fucose dan N-acetiglukosamin serta N-asetilgalaktosamin dalam jumlah besar. Glikoprotein yang kaya prolin ini memiliki rantai peptide tunggal dengan enam unit oligosakarida yang melekat. Mereka memiliki protein core dengan oligosakarida pada rantainya. Perannya dalam lubrikasi kecil. . Protein b. Mereka dikenal dengan MG1 dan MG2. . juga memiliki karbohidrat sekitar 40% pada molekulnya. Biasanya merupakan glycoprotein yang mengandung lebih dari 40% karbohidrat. Molekul panjang MG1 berkontribusi dalam sifat lubrikasi dari saliva. proline. · Protein kaya Prolin (proline-rich) Parotis dan submandibular mengandung glikoprotein yang kaya akan prolin. Komponen organic utama dari saliva adalah protein dan mukoprotein Protein dengan Sifat Lubrikasi · Mucin Jika fungsi utama saliva adalah lubrikasi. bervariasi antara 4 dan 16 residu gula. MG2 lebih kecil. bertindak sebagai lubrikan pada permukaan epitel seluruh traktus digestive.1 Komposisi Organik • Fungsi enzimatik dan menlindungi jaringan • Terdiri atas: a. tapi account ini hanya unutk 15% dari berat total. Rantai peptide ini account sekitar 30% molekul dan karbohidrat dengan beberapa 170 rantai pendek oligosakarida melekat seperti bristle of bottlebrush. Rantai oligisakarida lebih besar dari MG2. Dua prinsip mucin dari kelenjar saliva submandibular adalah terisolasi dan memiliki kareakteristik. Protein core MG2 adalah rantai peptide tunggal dengan threonin. memiliki ukuran molekul 200-250 kDa sedangkan MG1 lebih besar memiliki ukuran diatas 1000kDa. Mucin yang besar memiliki protein core yang dengan komposisi dasar yang sama dengan MG2. dilekatkan oleh O- glycosidic linkage.3.

· Lipase: sekresi kelenjar lingual untuk pencernaan lemak · Peroksida: antibakterial · Kalikerein: mengubah serum beta globulin menjadi bradikmin yang gunanya untuk vasodilatasi untuk meningkatkan sekresi kelenjar.85 % saliva mayor dan 30%-35% saliva minor. c. Lipid : Sebagai pelindung dan antibacterial . Enzim saliva · Amilase: enzim pencernaan karbohidrat · Lisozim: enzim antibakterial.dan pertahanan rongga mulut dan saluran cerna.Albumin. Mukus glikoprotein · Fungsi untuk lapisan permukaan/lubrikasi jaringan rongga mulut · Sebagai perangkap bakteri e. d.Ig M. Karbohidrat : Sebagai ikatan dalam protein saliva dimana konsentrasi sama dengan darah g. Immunoglobulin : Ig A.Ig G. Hormon Terdapat 2 substansi: · Parotin: proses kalsifikasi dan pemeliharaan kadar kasium serum · Faktor pertumbuhan saraf:tumbuh dan pembentukan saraf simpatik f. dan beberapa alfa dan beta globulin · Sekresi S-Ig A dihasilkan dari sintesis sel plasma kelenjar dan epitel mukosa mulut · S-IgA terbanyak di hasilkan kelenjar parotis. · Fungsi immunoglobulin adalah penetralisir virus.c.antibodi terhadap antigen bakteri dan makanan.produksi di tentukan kelenjar submandbular · Asam fosfatase: buffer saliva dan anti pelarutan saliva.

Hal ini sangat penting untuk dua alasan : ada fakta bahwa estrogen dan testosteron mempengaruhi populasi bakteri oral. Nitrogen : Hasil degradasi dari protein mikroba. · Asam amino. dan faktanya bentuk ikatan non-protein steroid dapat memberikan jalan masuk saliva yang berarti bahwa steroid yang terdapat dalam saliva dapat diuji untuk memperoleh ukuran dari konsentrasi steroid bebas dalam plasma.dan beberapa vitamin larut air i. dan kreatinin. sialin Diantara komponen-komponen lainnya dari saliva adalah asam amino. Laktoferin : Diproduksi oleh sel epitel kelenjar dan leukosit PMN yang mempunyai efek bakteriasid j. walaupun Lewis A juga disekresikan oleh subjek sebaliknya status non-sekretor. tidak disekresikan. Antigen golongan darah lainnnya. Sifat saliva ini kadang-kadang penting untuk forensik.h. Saliva kelenjar parotid tidak mengandung substansi-substansi golongan darah. sebuah tetrapeptida yang dinamakan sialin dengan komposisi GGKR (gly-gly-lys-arg). Antigen golongan darah sebagian besar karbohidrat dengan sejumlah kecil protein. dengna pengecualian lewis A dan lewis B. urea. Komponen organik yang lain · Substansi-substansi golongan darah Sekitar 805 dari komunitas barat mensekresikan substansi-substansi golongan darah dari golongan darah AOB ke dalam saliva mereka. urea. · Gula Sejumlah kecil gula ditemukan pada saliva. ammonia. amonia.metabolisme KH. Hal ini berarti bahwa kumpulan non-invasif dari seluruh saliva dapat digunakan untuk mengontrol level hormon plasma. sialin . · Lipid Lipid yang terkandung dalam saliva sangat rendah tapi itu termasuk hormon steroid. termasuk substansi H yang dihasilkan oleh orang dengan golongan darah O sebaik substansi A dan B. asam urea.darah. Urea siap dipecah dengan lempengan urea untuk menghasilkan amonia. konsentrasi glukosa mengikuti plasma glukosa tapi kadang-kadang seratus kali lebih kecil.

dan thiocyanate karena aktivitas antibacterialnya ketika diubah menjadi hypothiocyanate oleh salivary lactoperoxidase.bikarbonat. ini menyediakan produksi sebuah kombinasi asam plak dan perbaikan lebih plak alkalin selama periode berpuasa. • Terdiri atas: a.2 Komponen Inorganik • Komponen terpenting dalam saliva: natrium dan kalium juga anion cl. Selain itu ada dua ion lain yang juga berperan dalam melindungi permukaan enamel : fluoride karena kemampuannya bersubstitusi menjadi hydroxyapatite lattice. saliva akan memiliki sejumlah kecil dari saliva submandibularis dan jumlah yang lebih besar dari saliva parotis dengan kecepatan aliran yang tinggi. Kalsium dan fosfat • Pada komposisi ion. Fosfat. dan amonia ada dengan sendirinya. dan hidrogen karbonat – kalsium dan fosfat penting karena membantu mencegah dissolution dari enamel sedangkan hidrogen karbonat penting karena bersifat buffer. tiga ion yang paling penting dalam saliva adalah kalsium. • Peningkatan pH atau peningkatan konsentrasi kalsium atau fosfat dapat menyebabkan pengendapan garam kalsium yang membentuk kalkulus.7 dan 4 mmol/l. • Air dan komponen ionik berasal dari plasma darah tetapi konsentrasinya tidak sama. fosfat. Sewaktu konsentrasi kalsium meningkat bersama kecepatan aliran pada saat sekresi. • Kalsium dan fosfat yang terdapat di dalam unstimulated saliva : 1.juga diubah ke dalam amonia dalam plak. • Konsentrasi kalsium dalam saliva dapat berubah-ubah pada kecepatan aliran (flow) yang berbeda. Kalsium dalam bentuk ion banyaknya sekitar 50 % dalam saliva – sekitar 40 % bergabung dengan ion lain dan 10 % terikat dengan protein saliva. pH dental plak tampak dimunculkan amonia dari tiga sumbr ini .4 mmol/l dan 6 mmol/l. sedangkan di dalam stimulated saliva : 1. 3. hampir seluruhnya dalam bentuk ion – kemungkinan 10 % menjadi organik fosfat. Saliva parotis hanya mempunyai konsentrasi kalsium setengah dari yang ada pada saliva submandibula. Konsentrasi fosfat dalam saliva justru cenderung berkurang pada kecepatan aliran yang .

Natrium: • Saliva istirahat(menurun)->meningkat bila sekresi meningkat • Fungsi untuk menjaga keseimbangan ionik c. Mekanismenya adalah oksidasi dari thiocyanat menjadi hypothiocyanat dengan oksigen aktif yang dihasilkan oleh bakteri peroksida akan dipecahkan oleh salivary lactoperoksida. Klorida • Dihasilkan oleh sekresi sel asinus = konsentrasi plasma • Fungsi untuk menjaga keseimbangan elektrokimia d. Hypothiocyanit adalah agen antibakteri yang kuat. saliva yang melewati duktus juga semakin cepat. Thiocyanat mencapai saliva melalui transport dalam duktus dan konsentrasinya menurun seiring dengan meningkatnya daya alir (flow). Mungkin dikarenakan fosfat yang disekresikan di dalam duktus dan semakin cepat disekresi. Konsentrasi thiocyanat dalam saliva tinggi pada perokok dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi . Thiocyanat dalam saliva ditemukan berasosiasi dengan insiden kecil dari dental karies. • Fosfat mempunyai konsentrasi yang rendah pada saliva kelenjar minor. Fluorida • Fungsi dalam proses pembentukan plak f. Konsentrasi kalsium yang tinggi juga membantu menjelaskan kenapa kalkulus sering muncul di sisi lingual pada gigi incisivus bawah b. Iodin • konsentrasi saliva lebih tinggi dari konsentrasi plasma • Ioding terus-menerus di sekresikan ke dalam saliva e.tinggi. Tiosinat • Thiocyanat adalah komponen system antibakteri dalam saliva.

dan O2 .anak-anak yang merokok. • Berfungsi sebagai sistem bakteriostatik laktoperoksidae g. Fosfat • Konsentrasi menurun dengan meningkatnya aliran saliva • Fungsi untuk buffer saliva Selain komponen diatas saliva juga mengadung gas CO2. walaupun orang-orang perokok kelas tinggi juga memiliki konsentrasi ion yang tinggi dalam salivanya.N2.