You are on page 1of 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI 1,2,3
Penyalahgunaan zat adalah suatu perilaku mengkonsumsi atau menggunakan
zat-zat tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya pada diri sendiri maupun orang
lain. Menurut DSM penyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang
yang menghasilkan konsekuensi yang merusak. Konsekuensi yang merusak bisa
termasuk kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab utama seseorang,
menempatkan diri dalam situasi dimana penggunaan zat secara fisik berbahaya,
berhadapan dengan masalah hukum berulang kali yang meningkat karena
penggunaan obat. Memiliki masalah social atau interpersonal yang kerap muncul
karena penggunaan zat.
1. Napza
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah
bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi
tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan
kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan
(adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA.
Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan,
yang menitik beratkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik,
psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat
yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan
pikiran.

2.2 JENIS NAPZA YANG DISALAHGUNAKAN 1,2
1. NARKOTIKA
Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika,
NARKOTIKA adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
NARKOTIKA dibedakan kedalam golongan-golongan :

6

Psikotropika Menurut Undang-undang RI No. LSD)  PSIKOTROPIKA GOLONGAN II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi. (Contoh : heroin/putauw. PSIKOTROPIKA dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut :  PSIKOTROPIKA GOLONGAN I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika. kokain. metilfenidat atau ritalin)  PSIKOTROPIKA GOLONGAN III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital. Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan. Flunitrazepam). yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Yang dimaksud dengan PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat. (Contoh : ekstasi. petidin)  Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein). 2. shabu. ( Contoh amfetamin.  PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu 7 . ganja)  Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin.5 tahun 1997 tentang Psikotropika. dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan .

thinner. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat. Zat adiktif lainnya Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika. (Bir) o Golongan B : kadar etanol 5-20%. yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat. nitrazepam. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri.  Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. harus menjadi bagian dari upaya pencegahan. MG). yaitu : o Golongan A: kadar etanol 1-5%. Rohip. Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut :  Sama sekali dilarang : Narkotoka golongan I dan Psikotropika Golongan I. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika. klordiazepoxide. TKW. pil Koplo. 3.)  Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik. sedatif hipnotika. karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya. thinner dan lain-lain.  Diperjual belikan secara bebas : lem. (Berbagai jenis minuman anggur) o Golongan C : kadar etanol 20-45 %. Dum. kantor dan sebagai pelumas mesin. Manson House.  Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol. Golongan ini termasuk Opioida 8 . (Whiskey. Kamput. bensin. rokok. Fenobarbital. Johny Walker. seperti pil BK. penghapus cat kuku. Ada 3 golongan minuman berakohol.  Penggunaan dengan resep dokter: amfetamin. Mengandung etanol etil alkohol. pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja. Vodca. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan : 1. meliputi :  Minuman berakohol. klonazepam. Yang sering disalah gunakan. bromazepam. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang.pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam. dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga. antara lain : Lem.

apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal symptom). Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu. dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. Kafein. hipnotik (otot tidur). segar dan bersemangat.4.3 Penyalahgunaan dan Ketergantungan adalah istilah klinis/medik-psikiatrik yang menunjukan ciri pemakaian yang bersifat patologik yang perlu di bedakan dengan tingkat pemakaian psikologik-sosial. sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi).3 PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN 1. Sedatif (penenang). Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif. yaitu pemakaian NAPZA yang tujuannya ingin mencoba. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. untuk memenuhi rasa ingin tahu. Kokain. agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara “normal”.sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik. 3. psikis dan gangguan fungsi sosial. esktasi). Ketergantungan Napza adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis. yang belum bersifat patologik.2. Mescalin 2. LSD. 2. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun. 9 . heroin/putauw. Golongan Stimulan (Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Penyalahgunaan Napza adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja). dan sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat. kodein).(morfin.3  Pemakaian coba-coba (experimental use). TINGKAT PEMAKAIAN NAPZA 1. Sebagian pemakai berhenti pada tahap ini.2. 2.

 Penyalahgunaan (abuse): yaitu pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologik/klinis (menyimpang) yang ditandai oleh intoksikasi sepanjang hari. Ciri-ciri tersebut antara lain : 10 . faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). dan sebagainnya. berusaha berulang kali mengendalikan. sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologik. 2. bila pemakaian NAPZA dihentikan atau dikurangi dosisnya.2. kesedihan. Untuk itu perludilakukan penyuluhan pada keluarga dan masyarakat. hubungan dengan kawan terganggu. namun sebagian lagi meningkat pada tahap yang lebih berat  Pemakaian Situasional (situasional use) : yaitu pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan. Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini. kekecewaan.pada saat rekreasi atau santai. sering bolos sekolah atau kerja. maka sebaiknya tingkat- tingkat pemakaian tersebutmemerlukan perhatian dan kewaspadaan keluarga dan masyarakat.perilaku agresif dan tak wajar. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan fungsional atau okupasional yang ditandai oleh : tugas dan relasi dalam keluarga tak terpenuhi dengan baik. tak mapu mengurangi atau menghentikan. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA. Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) : yaitu pemakaian NAPZA dengan tujuan bersenang-senang. Tidak terdapat adanya penyebab tunggal (single cause) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyalagunaan NAPZA adalah sebagian berikut : 1.3 Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara faktor yang terkait dengan individu. psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan NAPZA. dengan maksud menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.  Ketergantungan (dependence use) : yaitu telah terjadi toleransi dan gejala putus zat. terus menggunakan walaupun sakit fisiknya kambuh. Agar tidak berlanjut pada tingkatyang lebih berat (ketergantungan). melanggar hukum atau kriminal dan tak mampu berfungsi secara efektif. Faktor individu : Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa remaja.5 ETIOLOGI PENYALAHGUNAAN NAPZA 1.

Lingkungan Keluarga o Komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif o Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga o Orang tua otoriter atau serba melarang o Orang tua yang serba membolehkan (permisif) o Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan o Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga o Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna NAPZA b. o Keinginan untuk diterima dalam pergaulan. sehingga merasa diri kurang “jantan” o Kurang menghayati iman kepercayaannya 2. cenderung agresif dan destruktif o Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran o Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun) o Keinginan untuk mengikuti mode. o Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku o Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence).karena dianggap sebagai lambang keperkasaan dan kehidupan modern. Faktor Lingkungan : Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik disekitar rumah. Faktor keluarga. Lingkungan masyarakat/sosial 11 . rendah diri dan memiliki citra diri negatif (low self-esteem) o Sifat mudah kecewa.o Cenderung membrontak dan menolak otoritas o Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti Depresi. Psikotik. teman sebaya maupun masyarakat. keperibadian dissosial. sekolah. Lingkungan Teman Sebaya o Berteman dengan penyalahguna o Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar d.Cemas. o Identitas diri yang kabur. Lingkungan Sekolah o Sekolah yang kurang disiplin o Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual NAPZA o Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif o Adanya murid pengguna NAPZA c.terutama faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau remaja menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah : a.

2. Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selau membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA.6 GANGGUAN BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ALKOHOL 4. Dari segi kimiawi. semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.2 Epidemiologi 12 . seperti sarana untuk komunikasi transedental dalam upacara kepercayaan dan untuk memperoleh kenikmatan.1 Definisi Alkohol merupakan substansi yang paling banyak digunakan di dunia. menidurkan. Alkohol bersifat depresan terhadap sistem saraf pusat dengan menghambat aktivitas neuronal.5 2. Faktor Napza  Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga “terjangkau”  Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba  Khasiat farmakologik NAPZA yang menenangkan. Ini berakibat hilangnya kendali diri dan mengarah kepada keadaan membahayakan diri sendiri maupun orang disekitarnya.o Lemahnya penegakan hukum o Situasi politik. membuat euforia/fly/stone/high/teler dan lain-lain. alkohol merupakan suatu senyawa kimia yang mengandung gugus OH. Sejak 5000 tahun yang lalu alkohol digunakan sebagai minuman dengan berbagai tujuan. menghilangkan nyeri. Etanol dapat dibuat dari fermentasi buah atau gandum dengan ragi.6. dan tidak ada obat lain yang dipelajari sebanyak alkohol. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor diatas. Alkohol dalam masyarakat umum mengacu kepada etanol atau grain alkohol. Istilah alkohol sendiri pada awalnya berasal dari bahasa Arab “Al Kuhl” yang digunakan untuk menyebut bubuk yang sangat halus yang biasanya dipakai untuk bahan kosmetik khususnya eyeshadow. 2.6. sosial dan ekonomi yang kurang mendukung 3.

6. Titik didih alkohol meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah atom karbon.3 Kimiawi Alkohol Dalam kimia.6. karbonasi juga dapat mempercepat absorpsi alkohol. antara lain. alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. 2. jenis. dan konsentrasi alkohol yang dikonsumsi. Alkohol dengan konsentrasi rendah diabsorpsi lebih lambat. cardiomiopaty. Karena tingginya kadar alkohol. sekunder. tergantung beberapa faktor. 2. Alkohol dapat dibagi kedalam beberapa kelompok tergantung pada bagaimana posisi gugus -OH dalam rantai atom-atom karbonnya. dan atropi otak. Namun alkohol dengan konsentrasi tinggi akan menghambat proses pengosongan lambung. Namun wanita lebih cepat menjadi alkoholik karena rendahnya kadar air dalam tubuh dan tingginya lemak pada wanita dibandingkan pria. Volume.4 Farmakokinetik Alkohol A. Kecepatan absorpsi bervariasi. dan biaya pengobatan langsung. Pria dilaporkan mengkonsumsi alkohol lebih banyak dibandingkan wanita. a. Sekitar 14 juta warga Amerika termasuk dalam kriteria alkoholism. Wanita mulai mengkonsumsi alkohol lebih lambat dibandingkan pria. yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain. alkohol kebanyakan diabsorpsi di duodenum melalui difusi. sedangkan 3-5% wanita dan 10% pria dimasukkan dalam ketergantungan alkohol. membuatnya sebagai peringkat ketiga penyakit yang memerlukan kunjungan ke psikiater dan menghabiskan lebih dari 165 miliar dolar amerika setiap tahunnya akibat penurunan produksi kerja. Diantara mereka 10% wanita dan 20% pria termasuk dalam kriteria penyalahgunaan alkohol. kematian. Selain itu. 13 . dan tersier. wanita memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan alkohol seperti cirosis. Absorpsi Setelah diminum. Kelompok-kelompok alkohol antara lain alkohol primer.3 Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH.

Metabolisme lambung. wanita tersebut akan memiliki kadar alkohol darah yang lebih tinggi C. Jumlah. Kecepatan minum. Pada tahap awal. acetaldehyde dimetabolisme secara cepat dan biasanya tidak mengganggu fungsi normal. dengan melalui 3 tahap. Terdapat perbedaan komposisi tubuh antara pria dan wanita.b. Metabolisme Metabolisme primer alkohol adalah di hati. Makanan. seperti juga metabolisme hati. dan bahkan berbeda pula pada orang yang sama dari hari ke hari Tahap kedua reaksi metabolisme. acetaldehyde diubah menjadi acetate oleh enzim aldehyde dehydrogenase. B. hingga perasaan nyeri saat bangun tidur 14 . Dalam keadaan normal. gastritis. terjadi zero-order kinetics. Distribusi Alkohol didistribusikan melalui cairan tubuh. Makanan memegang peranan besar dalam absorpsi alkohol. pusing. dimana kecepatan metabolisme menjadi maksimal. d. dapat secara signifikan menurunkan bioavailabilitas alkohol sebelum memasuki sistem sirkulasi. yaitu 7-10 gram/jam (setara dengan sekali minum dalam satu jam). mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang sama dengan pria. meskipun seorang wanita dengan berat badan yang sama. dimana wanita memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih rendah dibandingkan pria. Efek utama makanan terhadap alkohol adalah perlambatan pengosongan lambung. Karena itu. waktu. Kemudian saat kadar alkohol dalam darah meningkat hingga tarap sedang (social drinking). c. dan jenis makanan sangat mempengaruhi. sejumlah acetaldehyde akan menimbulkan gejala seperti sakit kepala. Namum saat sejumlah besar alkohol di konsumsi. Makanan tinggi lemak secara signifikan dapat memperlambat absorpsi alkohol. mual. semakin cepat seseorang meminumnya. meskipun mereka memiliki berat badan yang sama. alkohol dioksidasi menjadi acetaldehyde oleh enzim alkohol dehydrogenase (ADH). Enzim ini terdapat sedikit pada konsentrasi alkohol yang rendah dalam darah. Namun kecepatan metabolisme tersebut sangat berbeda antara masing- masing individu. semakin cepat absorpsi terjadi.

Tahap ini juga dapat terjadi pada semua jaringan dan biasanya merupakan bagian dari siklus asam trikarbosilat (siklus Krebs). tidak dengan berikatan langsung pada glutamate binding site. c. atau asam asetat. stress hormone) Alkohol menghambat reseptor NMDA. Peningkatan ini memiliki efek terhadap penguatan efek alkohol dalam tubuh. anxiolytic. Efek pada sistem GABA Alkohol menimbulkan efek seperti kerja GABA-A dengan berinteraksi dengan GABA-A reseptor. 15 . Pada otak. kemungkinan melalui gangguan pada transmisi sinaptik. Terjadi pembebasan pusat otak yang lebih rendah dari kontrol pusat yang lebih tinggi dan inhibisi. b. Efek terhadap sistem lain (NMDA. D. terjadi konversi gugus acetate dari koenzim A menjadi lemak. dan hyperexcitability. Efek pada sistem Dopamin dan Opioid Alkohol tidak bekerja secara langsung pada reseptor DA (dopamine). terutama otak. 5HT. asetil koenzim A. Interaksi alkohol dengan sistem opioid juga tidak langsung dan mengakibatkan pengaktifan sistem opioid. a. namun dengan mengubah jalan glutamate menuju tempatnya berikatan pada reseptor (allosteric effect). namun melalui tempat yang berbeda dari tempat berikatannya GABA ataupun benzodiazepine. Interaksi ini juga memfasilitasi munculnya efek sedatif/hypnotic alkohol. Tahap ketiga merupakan tahap akhir. seperti halnya neuroadaptation. dimana impuls saraf akan mengalami inhibisi. Interaksi ini akan mengaktifkan neuron DA di sistem mesolimbik. atau karbondioksida dan air. alkohol mengakibatkan depresi yang menyerupai depresi akibat narkotik. Farmakodinamik Alkohol Alkohol lebih banyak bekerja pada sistem saraf. Interaksi ini bersifat menguatkan (kemungkinan melalui reseptor MU). Jaringan otak dapat mengubah alkohol menjadi asetaldehid. Akibatnya muncul efek sedatif. Sistem opioid juga terlibat dalam munculnya kecanduan alkohol. namun secara tidak langsung dengan meningkatkan kadar DA pada sistem mesocorticolimbic.

cara berjalan yang tidak mantap. Diagnosis DSM –IV juga memungkinakna untuk menentukan dengan gangguan persepsi.7 GANGGUAN BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN DEXTROMETHORPHAN (DMP) 4. kejang. namun membantu dalam pelepasan DA.Sistem serotonin juga berperanan dalam farmakologi alkohol. perasaan dan perilaku. mudah marah dan tersinggung. mata jereng. dan juga adanya gejala fisik atau neuropsikiatrik spesifik.5 16 . Konsumsi alkohol akut juga memiliki efek terhadap hypothalamic-pituitary axis.6. Peningkatan kadar serotonin pada sinap menurunkan pengambilan alkohol. gangguan perhatian atau konsentrasi 2. Tanda Klasik dari putus alkohol adalah gemetar. 3.6.6 Diagnosis dan Gambaran Klinis Kriteria DSM-IV untuk putus alkohol memerlukan dihentikannya atau penurunan penggunaan alkohol yang sebelumnya adalah berat dan lama. Terdapat gejala fisiologik sebagai berikut: pembicaraan cadel. Ganggua koordinasi. misalnya berkelahi. walaupun spectrum dgejala dapat meluas sampai termasuk gejala psikoik dan perepsi (cth: waham dan halusinasi). 2. dan gejala delirium tremens. Berikut geala-gejala gangguan mental organik yang terjadi pada seseorang : 1. 2. banyak bicara. atau delirium putus alkohol. Tampak gejala psikologik sebagai berikut : perubahan alam perasaan (euphoria atau disforia). Meskipun mekanisme kerja belum jelas. muka merah. Terdapat dampak perubahan berupa perubahan perilaku. kemungkinan dengan melibatkan hormone CRF (corticotrophin releasing factor). Kerja pada tempat ini kemungkinan mendasari efek penekanan stress pada alkohol. Penyalahgunaan atau ketergantungan jenis Alkohol ini dapat dimenimbulkan gangguan mental organik yaitu gangguan dala fungsi berpikir.5 Gejala Klinis Telah disebutkan bahwa alkohol termasuk dalam zat adiktif dimana zat tersebut dapat menimbulkan candu. 2. atau tindak kekerasan lain.

2.1 DEFINISI Menurut kamus besar bahasa Indonesia penyalahgunaan adalah proses. Serta dari hasil kunjungan kerja ke 26 kota/kabupaten di Jabar. Tetapi mereka ingin mencoba lagi. Dextromethorphan (DXM atau DMP) merupakan bahan kimia sintetik dengan nama kimianya adalah 3 methoxy-17-methyl morphinan monohydrat yang merupakan d-isomer dari levophenol. Jika digunakan sesuai aturan. pil dextro relatif mudah dibeli dan murah.2. ekstasi. menjadi pil dextro. tidak berbau.3 ETIOLOGI Ada tiga kemungkinan seorang memulai penyalahgunaan obat : 1.2 EPIDEMIOLOGI Prevalensi penggunaan obat dextrometorfan untuk anak-anak dibawah umur boleh dikatakan cukup tinggi. larut dalam air maupun ethanol dan tidak larut dalam ether. Sebagai contoh survey yang dilakukan oleh badan narkotika provinsi Jawa barat dalam situs resminya mengatakan bahwa 38. penyelewengan. putaw.H2O dengan berat molekul: 370. obat-obat tersebut menyebabkan 17 . Selain ketakutan terhadap ancaman hukuman penjara yang cukup berat. kecemasan. Dosis dewasa adalah 15-30 mg. Seseorang awalnya memang sakit.07% merasa pusing dan tidak nyaman.50% anak yang pernah memakai pil dextro merasakan pusing dan tidak nyaman. dll. Dekstrometorfan berupa serbuk kristal berwarna putih. diminum 3-4 kali sehari.3 Dextromethorphan merupakan jenis obat penekan batuk (antitusif) yang dapat diperoleh secara bebas.7. Efek anti batuknya bias bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. cara. analog dari kodein dan analgesik opioid. Sementara 38. misalnya nyeri kronis. jarang menimbulkan efek samping yang berarti.7. yang memang membutuhkan obat. insomnia.7. Dalam aritan luasnya adalah suatu kegiatan dimana seseorang melakukan kegiatan yang menyalahgunakan apapun itu diluar dari koridor yang seharusnya. Namun selanjutnya. Adapun struktur kimia dari dekstrometorfan adalah: C18H25NO. 2. dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. serta ingin segera berhenti. perbuatan menyalahgunakan. Ternyata hasilnya ditemukan pemakaian narkoba sudah bergeser dari sebatas sabu.HBr. dan mereka mendapatkan obat secara legal dengan resep dokter.

mereka akan mengalami gejala putus obat jika pengobatan dihentikan. dll. 2. termasuk yang bukan obat diresepkan. sehingga mereka berusaha untuk memperoleh obat-obat tersebut dengan segala cara. sedangkan amfetamin. Selanjutnya. hal ini bahkan bisa sampai menyebabkan skizofrenia yang disebabkan oleh neurotoksisitas. Kejadian ini umumnya erat kaitannya dengan penyalahgunaan substance yang lain. Seseorang memulai penyalahgunaan obat memang untuk tujuan rekreasional. bekerja menghambat re-uptake dopamin. 2. di mana pasien memerlukan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama. bekerja meningkatkan pelepasan dopamine dari saraf dan menghambat re-uptake-nya. sejak awal penggunaan obat memang tanpa tujuan medis yang jelas. confusion. sehingga menyebabkan kadar dopamine meningkat. Selain itu.Hal inilah yang menyebabkannya memiliki afinitas terhadap reseptor opioid (reseptornya narkoba) dan mengaktifkan reseptor tersebut sehingga dapat menimbulkan efek rekreasi.7. mungkin tanpa berkonsultasi dengan dokter. turunan morfin). alkohol. Padahal. heroin. Penghambatan reseptor NMDA yang berlebihan ini dapat menyebabkan berkurangnya fungsi memori. Merekapun kemudian akan meningkatkan penggunaannya. dan justru disalah artikan sebagai fungsi 'rekreasi'. dextromethorphan juga bisa menjadi antagonis reseptor NMDA.toleransi.5 DIAGNOSA DAN GAMBARAN KLINIS Penderita dengan gangguan penyalahgunaan obat dextromentrofan mempunyai gambaran klinis : Pada dosis normal: 18 . hanya untuk memperoleh efek-efek menyenangkan yang mungkin dapat diperoleh dari obat tersebut. analgesik. 2. Artinya. seperti kokain. halusinasi. mereka akan menjadi kecanduan atau ketergantungan terhadap obat tersebut. Obat-obat yang dikenal menyebabkan adiksi / ketagihan seperti kokain.4 PATOFISIOLOGI Dextromethorphan merupakan isomer levorphanol (suatu analog kodein. misalnya.7. ecstassy.

7 PENATALAKSANAAN Penyalahgunaan obat memerlukan upaya-upaya yang terintegrasi.5-75 kali dosis normal:  halusinasi  muntah  penglihatan kabur  merah mata  dilatasi pupil  berkeringat  demam  hipertensi  Pernapasan dangkal  diare  retensi urin 2. mudah-sukarnya mendapatkan obat tersebut dan sering-jarangnya kesempatan memakai obat tersebut serta lamanya ketergantungan.7. 2.6 PROGNOSIS Prognosis umumnya dipengaruhi oleh besar kecilnya predisposisi (pengaruh factor kepribadian. yang melibatkan pendekatan psikologis. Makin mudah faktor-faktor ini dapat ditangani. sasaran terapinya bervariasi tergantung tujuannya : 19 . hukum. kondisi intoksikasi dan kejadian munculnya gejala putus obat Dengan demikian.8. dan medis. makin baik prognosisnya. sosio budaya dan fisik). serta kondisi yang perlu diatasi secara farmakoterapi pada keadaan ketergantungan obat yaitu ada dua. Tubuh ruam / gatal  mual  kantuk  pusing  Kesulitan bernapas Pada dosis 12. sosial.

sehingga pasien tetap nyaman dalam menjalani program penghentian obat 3." sehingga mengurangi motivasi untuk mengkonsumsi. Terapi pada intoksikasi/over dosis tujuannya untuk mengeliminasi obat dari tubuh. menjaga fungsi vital tubuh 2. dimana Naltrexone bekerja dengan menghalangi perasaan menyenangkan. atau "tinggi. Terapi pada gejala putus obat tujuannya untuk mencegah perkembangan gejala supaya tidak semakin parah. Pengobatan medika mentosa pada orang-orang yang mengalami ketergantungan pada obat dextromethorphan dapat menggunakan obat Naltrexone. Naltrexone dapat digunakan setiap hari sebagai pil dan tersedia dalam injeksi long-acting.1. 20 .