You are on page 1of 3

Prospek Budidaya Rumput Laut di Indonesia

Oleh : Triyitno
14/367490/PN/13850
Rumput laut (seaweed) merupakan salah satu komoditas potensial dan dapat dijadikan
andalan bagi upaya pengembangan usaha skala kecil dan menengah yang sering disebut
sebagai Usaha Kecil Menegah (UKM). Ini terjadi karena rumput laut sangat banyak
manfaatnya, baik melalui pengolahan sederhana yang langsung dapat dikonsumsi maupun
melalui pengolahan yang lebih kompleks, seperti produk farmasi, kosmetik, dan pangan, serta
produk lainnya.
Potensi rumput laut Indonesia yang sangat menjanjikan dan dapat menjadi komoditi
yang bisa berperan dalam pergerakan kemajuan ekonomi nasional. Terbukti, Indonesia
menjadi salah satu produsen terbesar rumput laut jenis Euchema Cotonii dan menguasai 50%
pangsa pasar dunia untuk memenuhi permintaan pasar ekspor dari industri kosmetik dan
farmasi. Walaupun Indonesia telah memiliki upaya pemasaran dan budidaya rumput laut yang
cukup berkembang namun belum diimbangi dengan pengembangan pengolahan yang
memadai. Hal ini terlihat dari hasil produksi rumput laut nasional baru sekitar 20% yang
dapat terserap dan diolah oleh industri dalam negeri (Hikmah, 2015)
Strategi peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri pengolahan rumput
laut E. cotonii di sentra-sentra kawasan industrialisasi ini selaras dengan program
industrialisasi rumput laut yang diimplementasikan oleh KKP. Peraturan Menteri Kelautan
dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.27/ MEN/2012 yang menyebutkan bahwa
industrialisasi rumput laut dimaksudkan untuk meningkatkan volume dan nilai produksi.
Dengan adanya kegiatan industrialisasi rumput laut ditargetkan akan dapat meningkatkan
diversifikasi produk yang bernilai tambah tinggi dan meningkatkan jumlah serapan tenaga
kerja dan pendapatan pelaku usaha.
Usaha rumput laut sekarang telah berkembang dengan pesat, hal ini disebabkan
semakin meningkatnya permintaan pasar baik domestik maupun luar negeri terutama akibat
berkembangnya industri-industri yang berbasiskan bahan baku rumput laut. Permintaan
rumput laut kering secara global pada tahun 2012 mencapai 541.020 ton rumput laut kering
jenis E. cottonii dan 95.760 ton rumput laut kering jenis G. verrucosa. Namun demikian,
permasalahan akan tetap muncul baik secara teknis maupun non-teknis, apabila upaya
pengembangannya tidak didukung dengan teknologi budidaya serta pascapanen yang sesuai
dan kebijakan pemerintah yang tepat. Berdasarkan data yang ada baik produksi maupun
ekspor rumput laut, Indonesia menempati urutan kedua setelah Filipina. Potensi
pengembangan rumput laut di Indonesia mencapai 1,11 juta ha dengan produksi diperkirakan
mencapai sebesar 167.937 MT per tahun (Anonim, 2009)
Pemanfaatan rumput laut dewasa ini semakin luas dan beragam, karena peningkatan
pengetahuan akan komoditas tersebut. Rumput laut banyak digunakan sebagai bahan
makanan bagi manusia, sebagai bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antimehmetes,
antihypertensive agent, pengurang kolesterol, dilatory agent, dan insektisida). Rumput laut
juga banyak digunakan sebagai bahan pakan organisme di laut, sebagai pupuk tanaman dan
penyubur tanah, sebagai pengemas transportasi yang sangat baik untuk lobster dan clam
hidup (khususnya dari jenis Ascophyllum dan Focus), sebagai stabilizer larutan, dan juga
kegunaan lainnya. Perkembangan produk turunan dewasa ini juga sudah banyak diolah
menjadi kertas, cat, bahan kosmetik, bahan laboratorium, pasta gigi, es krim, dan lain-lain
(Indriani & Suminarsih, 1999).

Kegiatan budidaya rumput laut telah nyata memberikan konstribusi peningkatan sumber pendapatan masyarakat dan peluang pekerjaan terutama masyarakat di wilayah pesisir. Durvillea. Hal yang mendasari distribusi pekerjaan yang merata adalah ketersediaan tenaga kerja yang memadai. bahwa sekitar 99. Phyllophora Alginat Ascophyllum. bersifat sederhana. 2013) Menurut Asaad et al. maka cara terbaik untuk tidak selalu menggantungkan persediaan dari sumberdaya alam berbasiskan karbon adalah dengan melakukan budidaya. nilai rupiah yang didapatkan relatif besar. bertambak. pekerjaan mudah dilakukan oleh siapa saja.73% produksi rumput laut Indonesia berasal dari hasil budidaya. Hingga saat ini. Secara umum. menangkap ikan yang awalnya merupakan mata pencaharian utama telah bergeser menjadi pekerjaan sampingan (secondary source of income). sekaligus memperbesar devisa negara dari sektor non- migas. baik untuk memenuhi kebutuhan dalam maupun luar negeri. serta berpenduduk padat. keunggulan budidaya rumput laut antara lain adalah banyak menyerap tenaga kerja. Sementara itu. Hypnea. Sebagian besar hasil rumput laut di Indonesia di ekspor dalam bentuk rumput laut kering. Iriclaea. Turbinaria Sumber: Eka & Nur (2006) Seiring kebutuhan rumput laut yang semakin meningkat. dan belum banyak mendapat input teknologi dari luar. Hal tersebut dapat terjadi karena potensi alam laut sangat mendukung sehingga hampir dapat dilakukan di seluruh wilayah Indonesia (Priono. Referensi . Oleh karena itu. Ecklonia. budidaya rumput laut Indonesia masih dilakukan dengan cara tradisional. Gelidella. Litbang tersebut juga sangat berguna bagi masukan kebijakan dalam merumuskan strategi pengembangan usaha yang sesuai untuk diterapkan di tingkat pembudidaya rumput laut. Gigartina. berdasarkan produk yang dihasilkan. Sekitar 75%-80% dari urutan dan beban pekerjaan yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dilakukan secara merata oleh kaum pria dan wanita. (2008). Indonesia masih mengimpor hasil olahan rumput laut untuk keperluan industri. Tabel 1. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan. Gelidium. serta usaha budidayanya saat ini belum maksimal. sehingga diharapkan pembukaan lahan budidaya rumput laut di perairan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengatasi lapangan kerja yang semakin kecil. Gracilaria. Euchema. Budidaya di perairan pantai sangat cocok diterapkan pada daerah yang memiliki lahan tanah sedikit (sempit). kegiatan litbang dalam upaya pengembangan usaha budidaya rumput laut layak dilakukan terus-menerus guna membantu ikut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Rumput laut masih memiliki prospek ekonomi yang cerah mengingat potensi pasar dan lahan yang tersedia cukup luas. budidaya rumput laut tidak hanya dilakukan di perairan pantai (laut) tetapi juga sudah mulai digalakkan pengembangannya di perairan payau (tambak). Pterrocclaidia Karaginan Chondrus. Aktivitas ekonomi seperti bertani. Kini. tidak adanya pandangan yang membedakan peran perempuan dan laki-laki. Jenis rumput laut yang nilai ekonomis tinggi. Penyerapan tenaga kerja usaha budidaya rumput laut juga tidak memandang perbedaan gender dan umur. produksi terbesar rumput laut di Indonesia hampir seluruhnya didukung oleh kegiatan budidaya. Produk Jenis rumput laut Agar-agar Acantthopeltia.

J. PT Bank Ekspor Indonesia (Persero). & Utojo. 1999. Perkembangan komoditi rumput laut Indonesia. Indikator Kelautan Dan Perikanan. Undu. A. Budidaya. 2015. & H.B.C. Priono. Agustus 2009. Karakteristik Distribusi Kerja Pembudidaya Rumput Laut Di Kabupaten Bulukumba. Kebijakan Sosek Kp 5(1)1:27-36 Indriani. Cotonii Untuk Peningkatan Nilai Tambah Di Sentra Kawasan Industrialisasi. J. Strategi Pengembangan Industri Pengolahan Komoditas Rumput Laut E. Eka. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. Pengolahan. Pusat Data. Prosiding Seminar Nasional Perikanan 2008. Jakarta. Penebar Swadaya. & Suminarsih.Anonim. M. Jakarta.W. E. 4-5 Desember 2008.. Dan Pemasaran Rumput Laut. Asaad. Hikmah. Statistik Dan Informasi (Pusdatin Kkp). Sulawesi Selatan. Nur 2006. 2009. Kementerian Kelautan Dan Perikanan. Media Akuakultur 8(1):1-8 .W. Budidaya Rumput Laut Dalam Upaya Peningkatan Industrialisasi Perikanan. Cetakan Ke-6. 2008. Makmur..I. J. H.