You are on page 1of 21

JURNAL READING

MODUL PEDODONSIA

Bacterial Interactions in Dental Biofilm

Oleh:
Alifia Aura Syafira
1110343015

Pembimbing:
drg. Deli Mona, Sp. KG

Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Andalas
2017

Interaksi Bakteri pada Dental Biofilm

Ruijie Huang, Mingyun Li, and Richard L. Gregory

Department of Oral Biology and Tobacco Cessation and Biobehavioral Center; School of
Dentistry; Department of Pathology and Laboratory Medicine; School of Medicine

Indiana University; Indianapolis, IN USA; State Key Laboratory of Oral Disease; Sichuan
University; Chengdu, China

Keywords: dental plaque, ecology, microbial community, antagonism, bacterial aggregation

Biofilm adalah kumpulan mikroorganisme yang saling berikatan, tumbuh dan berkembang biak
pada permukaan yang padat disertai adanya cairan yang menyelubungi mikroba-mikroba
tersebut. Mikroorganisme yang tidak menempel, namun hanya terapung bebas di lingkungan
yang basah disebut juga sel planktonik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa biofilm
merupakan bentuk pertumbuhan yang lebih disukai oleh kebanyakan mikroba terutama
mikroorganisme pathogen. Uji coba mengenai resistensi terhadap antimikroba pada biofilm dan
sel planktonik pada bintanag menunjukkan lebih tingginya resistensi terhadap antimikroba pada
biofilm dibanding sel planktonik. Mikroba-mikroba tersebut akan membentuk mikrokoloni yang
dapat berinteraksi satu sama lain menggunakan metode-metode komunikasi yang canggih,
(quorum-sensing). Dengan dukungan kemajuan alat-alat mikrobiologi, penelitian-penelitian
laboratorium saat ini dapat dilakukan untuk mengetahui dan memeriksa berbagai macam biofilm
disekitar. Melalui pembahasan ini, akan didiskusikan bagaimana mekanisme utama pembentukan
biofilm dan apa saja interaksi-interaksi yang terjadi antara sesama bakteri rongga mulut.

Pendahuluan

Anton van Leeuwenhoek adalah peneliti pertama yang mengobservasi mikroorganisme
menggunakan mikroskop di tahun 1683. Salah satu dari sampel-sampel yang Ia periksa
merupakan plak gigi atau biofilm dirinya sendiri. Sejak saat itu, mikroorganisme menjadi pusat
perhatian para peneliti. Pada mulanya, peneliti hanya terfokus pada satu jenis pertumbuhan

Saluran gastrointestinal manusia kaya akan berbagai jenis mikrobiota dan studi mengenai kehidupan mikroba di saluran gastrointestinal menjadi semakin banyak dilakukan. Biofilm tipe jamur memiliki struktur yang dibentuk oleh P. terutama pada usus besar. aeruginosa yang terdiri dari satu strain pseudomonal dan strain berbeda yang kedua di kepala jamur. para peneliti menyadari bahwa mayoritas bakteri lebih menyukai hidup didalam biofilm dibanding broth. penelitian mengenai biofilm menjadi lebih populer. Terdapat sekitar 1014 jenis bakteri usus. Mikroorganisme pada vagina sehat akan mempertahanakan keseimbangan dengan host dan lingkungan. Biofilm usus tersusun atas bakteri hidup dan mati yang terdapat pada lapisan mucus diatas permukaan mukosa atau diatas sisa-sisa makanan di saluran usus. Biofilm otoalaryngologik pada umumnya terdiri dari Pseudomonas aeruginosa yang menghasilkan SPE- tower seluler yang dipisahkan oleh jalur terbuka untuk mengantarkan makanan dan mengeluarkan yang tidak diperlukan. Biofilm bukan hanya diselubungi oleh cairan. Bacteriodes dan Bifidobacteria merupakan bakteri yang mendominasi pada feses dan menunjukkan kesamaan secara fenotip pada mikrobiota non-adherent. Namun kemudian. walaupun juga terdapat bakteri lainnya dalam jumlah kecil. Proses ini disebut juga proses keseimbangan ecological. dan yang terbanyak adalah bakteri residen. dan saluran gastrointestinal. Pertumbuhan bakteri jenis ini disebut juga pertumbuhan planktonic. jumlah bakteri mencapai 10 kali lebih banyak dibanding jumlah sel tubuh. Pengurangan jumlah Lactobacilli pada vagina dapat menyebabkan ketidakeseimbangan mikroflora pada vagina. Grup bakteri vagina pada wanita sehat secara umum terbagi atas bakteri residen dan bakteri pendatang. beberapa tahun terakhir. Oleh sebab itu. Biofilm dapat diartikan sebagai kumpulan mikroorganisme yang melekat satu sama lain atau melekat pada satu permukaan yang diselubungi oleh substansi polimer ekstraseluler (SPE) yang diproduksi sendiri oleh bakteri-bakteri tersebut. Di dalam tubuh manusia. Biofilm dapat ditemukan hampir diseluruh tempat yang lembab. bakteri ditemukan pula pada bioreactor industri. Sejumlah besar jenis bakteri usus pada permukaan mukosa usus membentuk biofilm yang padat. Lactobacilli adalah mikroorganisme yang mendominasi vagina wanita yang sehat. vaginal.bakteri. diatas batu. Selain ditubuh. tetapi cairan tersebut dapat mengalir mengisi ruang-ruang yang ada. Biofilm yang telah matang diperkirakan terdiri atas 5-25% sel bakteri dan 75-95% matriks glikokaliks. yaitu pertumbuhan bakteri menggunakan kultur broth. dan lingkungan tubuh hewan seperti didalam atau diluar otolaryngologic. seperti saliva yang dapat mengalir diatas plak gigi pada permukaan gigi. .

Spesies-spesies ini mengolonisasi gigi. menyebabkan pH vagina abnormal. Sebagian besar mikroflora memberi keuntungan bagi kesehatan manusia. serta meningkatnya jumlah mikroorganisme berbahaya dan jumlah populasi bakteri endogen berkurang. lesi karies. Terdapat lebih dari 700 jenis bakteri rongga mulut. Hal ini disebabkan biofilm rongga mulut memerlukan glikoprotein dari saliva host agar dapat melekat. Roberts dan Darveau mengungkapkan bahwa dental biofilm dan produk metabolismenya berkontribusi pada kesehatan periodontium. Mikroflora dapat ditemukan baik pada orang yang bebas karies dan bebas penyakit periodontal maupun orang dengan karies dan penyakit periodontal. Pada kebanyakan penelitian hanya terfokus pada spesies-spesies pathogen yang memberikan ilusi kepada masyarakat bahwa bacteria dalah musuh yang harus dijauhi. Studi klinis telah banyak menunjukkan bahwa beberapa bakteri seperti Streptococus mutans atau Porphyromonas gingivalis akan meningkat jumlahnya pada pasien dengan karies dan periodontitis. poket periodontal. Padahal faktanya. dimana apabila glikoprotein melekat pada permukaan gigi. Tahap awal dalam pembentukan biofilm rongga mulut adalah perlekatan pelikel ke permukaan gigi. dan lain-lain. kebanyakan bakteri adalah teman yang memberikan keuntungan dan bahkan menjadi komponen penting bagi kesehatan tubuh. Pembentukan Oral Biofilm Pembentukan acquired pellicle. Pembahasan ini akan menjelaskan pembentukan dental biofilm. Oral biofilm merupakan biofilm yang unik jika dibandingkan biofilm lainnya. mukosa mulut. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bakteri hasil kompetisi antara bakteri yang menguntungkan dan bakteri yang pathogen akan menunjukkan status sakit dan sehatnya seseorang. maka semakin . lidah. Mekanisme pembentukan pelikel didasarkan oleh teori entalpi energy bebas dari Gibbs. mekanisme dari interaksi bacteria rongga mulut dan interaksi antar bakteri. misalnya poket periodontal merupakan tempat dengan suasana anaerob yang disukai oleh bakteri-bakteri anaerob. namun sebagian kecilnya dapat membahayakan. Pelikel merupakan film yang terdiri atas protein tipis yang berasal dari glikoprotein saliva. palatum keras. Distribusi mikroflora pada rogga mulut sudah cukup jelas berdasarkan lokasi yang tersedia dan berdasarkan pada kebutuhan mikroorganisme tersebut.mengurangi kebersihan vagina.

tetapi kemudian gaya kimia menjadi lebih dominan. Gaya yang terjadi saat adhesi bacteria pelopor pada pelikel adalah hydrogen bonds. calcium bridges. Namun. Strptococcus spp. kemudian akan terikat pada pelikel melalui binding protein tersebut. Adhesi bakteri ke pelikel adalah step kedua dalam proses pembentukan biofilm rongga mulut. pada tahap ini. and Neisseria merupakan bakteri-bakteri pelopor yang melekat pada permukaan gigi. seperti α- amilase dan glikoprotein yang kaya proline. Gaya jarak jauh menggunakan gaya coulomb. Banyak interaksi yang terjadi antara berbagai jenis glikoprotein. hanya saja lebih pendek dan tipis dan terdistribusi pada permukaan sel dengan kepadatan yang dapat lebih kecil atau besar. Kolonisasi awal akan membantu spesies tersebut menempati ruang dan memenangkan kompetisi selanjutnya dengan spesies lain. Dengan gaya-gaya yang terjadi tersebut. ikatan hydrogen. dan teori asam-basa Lewis. Beberapa planktonik akan mengenali binding protein pada pelikel. Initial adhesion. gaya elektorosatitik. protein akan terserap dan ditata ulang sehingga pelikel siap untuk diadhesi oleh bakteri pelopor. Gaya-gaya yang terjadi pada interaksi tersebut dapat dibagi menjadi 3 jenis: gaya jarak jauh (50-100 nm antara dua komponen yang berinteraksi). Fimbriae terdiri dari fimbrillins-fimbrillins. dan gaya jarak dekat menggunakan gaya ikatan covalent. mereka mulai mensekresikan SPE yang dapat membantu bakteri tersebut menyatu dan melekat pada pelikel. dan interaksi elektrostatik. Kolonisasi bakteri yang mengenali polisakarida atau reseptor protein pada permukaan bakteri . perlekatan yang terjadi masih bersifat reversible dan bakteri pelopor yang melekat masih dapat terlepas dari pelikel dengan mudah. komponen lain saliva danpermukaan gigi.banyak energi yang akan dikeluarkan. Veillonella spp. Segera setelah bakteri pelopor melakat pada pelikel. kolonisasi awal akan memberi ruang sebagai tempat untuk berikatan kepada kolinisasi bakteri yang akan menyusul dan turut serta membantu pembentukan biofilm secara langsung atau melalui ikatan glikoprotein saliva. van der Waals dan dipole-dipole. interaksi hidrofobik. Perlekatan awal ini terjadi berdasarkan gaya elektrostatik atau perlekatan fisik. interaksi ionic. Actinomyces spp. Gaya jarak menengah menggunakan gaya hidrofobik. gaya jarak menengah (10-50 nm) dan gaya jarak dekat (<5 nm). sedangkan fibrils strukturnya mirip dengan fimbriae. Setelah bakteria pelopor menempel pada pelikel. van der Waals. Haemophilus spp. Struktur dari permukaan utama yang melekatkan bakteri dengan pelikel adalah Fimbriae dan Fibrils. interaksi asam-basa. Maturasi. Capnocytophaga spp.

Tannerella forsythensis. Secara umum. satu jenis bacteria dapat menyatu dengan banyak jenis bakteri dengan cara pengenalan sel-dan-sel. Bakteri tersebut dapat menyatu dengan cara melekat pada bakteri yang pertama. Corynobacterium. Namun. Komponen-komponen mikroba pada mature biofilm akan sedikit berbeda dengan initial biofilm karena akan terjadi pergantian proporsi seiring berjalannya pembentukan biofilm. seperti jumlah dari Streptococci dan Neisseria akan berkurang. seperti S. Treponema spp. Bakteri berikutnya yang akan melekat adalah Fusobacterium nucleatum. dua sel bakteri tersebut akan berkompetisi untuk berikatan pada sisi ikatan tersebut. sukrosa. nucleatum. Jika ada dua sel bakteri mengenali reseptor yang sama.pelopor akan melekatkan dirinya pada permukaan tersebut. Hal ini dikarenakan sel bacteria memiliki beberapa reseptor yang berbeda yang dapat melengkapi adhesi dengan jenis bakteri lainnya. Veillorella akan meningkat. cellobiose. Proses penyatuan bakteri merupakan dasar terjadinya interaksi bakteri dalam proses pembentukan biofilm. P. bacteria dapat meninggalkan biofilm tersebut dengan melepaskan satu sel atau melepaskan banyak sel. Penyebaran sel biofilm. atau bentuk lainnya. tetapi tidak dapat menyatu dengan P. Dari 300 jenis bacteria rongga mulut dilakukan uji penyatuan dan didapatkan bahwa 90% dapat menyatu dengan baik. Sebuah struktur dari bakteri yang memiliki dua atau lebih reseptor dapat dikenali dengan cara adhesi oleh dua atau lebih jenis bakteri disebut juga jembatan coaggregasi. Model dari penyebaran biofilm . gingivalis. Kebanyakan penyatuan dihambat oleh laktosa bukan sukrosa. Mature biofilm memiliki banyak lapisan porus dan kanal air disepanjang biofilm yang akan menyediakan nutrisi penting bagi bacteria. Proses penyatuan yang terjadi antara bakteri-bakteri ini merupakan proses yang sangat kompleks. bulu sikat. dapat berupa jagung. Pada mature biofilm. dan monosakarida lainnya. mutans dapat menyatu dengan F. nucleatum yang merupakan jembatan coaggregasi yang akan membantu terjadinya pengikatan antara Streptococcal dan obligate anaerob. Aggregatibacter actinomycetamcomitans. Fusobacterium. ada pula strain bacteria yang tidak dapat menyatu dengan bakteri tertentu. gingivalis. dan 10% sisanya dihambat oleh maltose. McIntire melaporkan 90% penyatuan antara Streptococcus dan Actinomyces dihambat oleh laktosa dan D-galaktosa. misalnya F. Bakteri-bakteri tersebut berkumpul membentuk gumpalan. sementara jumlah Actinomyces. dan lain sebagainya. Pengenalan polisakarida antar sesama bakteri menjadi tonggak paling penting dalam mekanisme penyatuan bakteri. Daerah pengenalan polisakarida dapat bervariasi dari satu bakteri dan bakteri lainnya.

Penyebaran aktif dilakukan oleh bakteri itu sendiri.termasuk erosi dan pengelupasan. Sel bakteri pada biofilm memerlukan karakter khusus untuk membedakannya dengan sel planktonik. (A) Pellicle formation. Oral biofilm formation. (B) Initial adhesion. Bacteria disperse from the biofilm surface and spread to colonize a new site. Kerjasama dalam Biofilm Hampir seluruh bakteria di alam tumbuh pada sebuah komunitas bakteria yang bekerja sama baiknya dengan masyarakat yang telah terorganisir. Studi yang telah dilakukan membuktikan bahwa S. Pioneer bacteria in saliva recognize the binding proteins in acquired pellicle and attach to them. (C) Maturation. This adhesion is reversible. (D) Dispersion. sedangkan penyebaran pasif dilakukan oleh bakteri lainnya yang turut berkompetisi untuk nutrisi yang sama-sama dibutuhkan oleh bakteri yang memutuskan untuk melepaskan ikatan dengan permukaan sel. Pertama terjadi dapat disebabkan oleh terbatasnya nutrisi yang tersedia dan bakteri tersebut memiliki lokasi baru yang memiliki lebih banyak nutrisi bagi mereka untuk tumbuh. This diagram represents each step of oral biofilm formation. Alasan pencarian nutrisi ini dapat dibagi menjadi penyebaran aktif dan penyebaran pasif. Alasan kedua adalah pertahanan host seperti gaya yang diakibatkan oleh saliva yang dapat menghambat pembentukan biofilm. fructanase dan cell division protein FTsG akan jauh lebih tinggi pada biofilm dibanding planktonik. The pellicle is a thin film derived from salivary glycoproteins attached to a clean tooth surface. Different bacterial species coaggregate and mature biofilm forms. glucosamine- fructose-6-phosphate aminotransferase I dan chaperonin GroEL akan ditekan pada sel biofilm. seperti fructan hydrolase. Paling tidak terdapat dua kemungkinan ynag dapat dilepaskan terkait pelepasan yang terjadi. mutans mengeluarkan protein yang berbeda pada biofilm dan planktonic. exo-beta-D-fructosidase. . tetapi antigen I/II. Figure 1.

SPE dapat beradaptasi dengan bentuk yang baru dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh biofilm. SPE dapat pula menjadi perantara bagi spesies bakteri dalam berkomunikasi karena hampir seluruh bakteri pada biofilm dapat melakukan biosintesis dan menurunkan SPE. sementara dalam sel biofilm. Seluruh biofilm memiliki SPE. mutans (Huang. Meskipun struktur biofilm dapat berubah tergantung jenis bakteri yang ada dan makanan yang tersedia di lingkungan. mesikpun jenis SPE tersebut akan berbeda- beda antara satu biofilm dengan biofilm lainnya. reproduksi dan pertahanan diri bagi bakteri terhadap bakteri lain dan host. Metabolisme dan pertukaran oksigen dalam biofilm antara spesies aerob dan spesies anaerob obligat memiliki peran yang penting bagi anaerob obligat untuk dapat bertahan hidup. Komunikasi metabolic. mutans. SPE dapat pula mempengaruhi terjadinya pertukaran zat besi dalam biofilm dan mengontrol suasana hidrofilik dan hidrofobik dalam biofilm itu sendiri. Biofilm merupakan bentuk yang paling disukai untuk tumbuh dan berkembang karena biofilm memberikan banyak keuntungan untuk metabolisme. nikotin dalam konsentrasi rendah (0.5 mg/ml) akan meningkatkan pertumbuhan S.25-0. SPE membantu mempertahankan struktur biofilm. Fungsi lain dari SPE adalah untuk menyediakan perlindungan pada bakteri berupa cross-linked SPE yang dapat menutup agen berbahaya dari luar biofilm dan memerangkap nutrisi dari lingkungan diluar biofilm dan enzim ekstraseluler agar didapat substrat biosintesis yang lebih baik. mutans. nikotin dalam konsentrasi rendah maupun tinggi akan meningkatkan jumlah S. Li dan Gregory). Substansi Polimer Ekstraseluler (SPE) yang telah disebutkan sebelumnya merupakan komponen utama dari biofilm.Beberapa data sebelumnya menjelaskan bahwa dalam sel planktonik. Spesies aerob akan mengambil oksigen yang ada pada lingkungan dan terjadi perubahan bertahap potensial redoks lokal sehingga menyebabkan konsentrasi oksigen menjadi rendah sehingga kondisi anaerob dapat teracapai dengan begitu spesies anaerob dapat bertahan . Hal ini dikarenakan status pertumbuhan bakteri dan substrat hasil dari metabolisme dari bakteri yang berbeda. Dasar dari komunikasi metabolic adalah coaggregasi atau saling terikatnya satu bakteri dengan bakteri lain sehingga tersedianya akses antar sel yang sangat dekat dan membuat proses komunikasi antara sesama bakteri menjadi nyaman dan mudah dilakukan. sedangkan nikotin dalam konsentrasi tinggi (2-4 mg/ml) akan menekan pertumbuhan S. Anaerob obligat akan sangat sulit untuk bertahan hidup dalam suasana aerob apabila tanpa kerja sama dari spesies aerob.

dimana bakteri ini dapat menyatukan spesies aerob dan anaerob. nucleatum merupakan salah satu bacteri jembatan aggregasi yang penting. The direction of the arrow indicates the direction of inhibition or facilitation . gingivalis hanya dapat bertahan dalam pH rendah yaitu lebih kecil dari 6. Bacterial interactions. exogenous quinines dan vitamin K yang telah dibahas oleh Hojo dkk.5. gingivalis dan spesies bakteri yang sensitive terhadap asam lainnya dapat terus bertahan hidup.hidup. nucleatum dapat menghasilkan ammonia dan asam organic dengan cara memfermentasikan glutamate dan aspartat sehingga menjadikan lingkungan yang netral bagi P.0. memungkinkan keduanya dapat hidup bersama. Solid lines indicate inhibition while dashed lines indicate facilitation. nucleatum dan Prevotella intermedia dapat tumbuh dalam pH 5. Namun. nucleatum. jumlah spesies anaerob oligat akan berkurang drastis dalam kavitas rongga mulut.0 – 7. sedangkan P. Beberapa jenis bacteria dapat menolong bakteri lainnya untuk dapat bertahan hidup dengan menghabiskan asam dan meningkatkan suasana lingkungan lokal. Komunikasi metabolic lainnya yang terjadi antara spesies bacteria rongga mulut adalah asam lemak rantai-pendek. F. Tanpa F. F. P. intermedia dan F. Figure 2.

amoxicillin. Jarak yang dekat antar sel-sel bakteri membuat komunikasi antar sel terjadi lebih sering. hamper sleuruh sel biofilm memperlihatkan konsentrasi hambat minimum atau minimum inhibitory concentration (MIC) yang lebih tinggi disbanding sel planktonik. parasanguis. S. amoxisilin. . Campylobacter spp. trimethroprimsulfamethoxazole dan eritromisin telah terlihat pada anak-anak yang diobati dengan antibiotic tersebut untuk penyakit radang telinga (otitis). P. Streptococcus intermedius. Campylobacter spp. nucleatum. intermedia/nigrescens. P. F. Eubacterium spp. Trauma fisik yang terjadi pada biofilm dapat mengurangi matriks-matriks biofilm. Resistensi antibiotik telah menjadi masalah yang besar di dunia kesehatan. Apabila terdapat banyak spesies bakteri dalam biofilm dan struktur biofilm akan menjadi lebih kompleks dan matang. sanguinis. Antigen dari bakteri pada biofilm tersembunyi didalam matriks biofilm dan menjadi tidak sensitive terhadap sistem pertahanan tubuh host. keduanya diberi tetrasiklin. intermedia.048µg/ml. Prevotella loescheii. dan clindamisin dengan konsentrasi antara 0 hingga 2. Terdapat 19 spesies subgingiva dilakukan pemeriksaan: Actinomyces naeslundii. Actinomyces meyeri. A naeslundii. Fusobacterium alocis. Resistensi terhadap antibiotic pada sel bakteri pada biofilm telah dilaporakan menjadi 1000 hingga 1500 kali lebih besar dibanding resistensi pada sel planktonik. S. loescheii. baik langsung dari host kepada bakteri atau melindungi dari antibiotic yang diaplikasikan. Pembawa gen resistensi ini biasanya adalah plasmid yang mana merupakan DNA rantai-ganda sirkular yang terdapat pada bakteri. Sedlacek dan Walker membandingkan efek antibiotic antara sel biofilm dan sel planktonik. Gen resistensi anitbiotik dapat ditransfer dari bakteri dalam biofilm. Plasmid dengan gen resisten antibiotic didapat dari konjugasi bacteria. Peneliti mengemukakan dasar pemikiran mengenai “hipotesis jaminan” yang mana berisi satu spesies di lingkungan lebih lemah dibanding banyak banyak spesies. Baik biofilm dan planktonik. Biofilm dapat melindungi bacteria dari lingkungan yang berbahaya bagi mereka. Streptococcus parasanguis. Veillonella stypical dan Veillonella parvula. Bacteroides spesies. S. Bifidiobacterium species. Faecalibacterium prausnitzii.Resistensi terhadap antibiotik. V. F. Resistensi Streptococci terhadap penicillin. atypical dan V. Streptococcis sanguinis. intermedius. sehingga resistensi terhadap antibiotic menjadi lebih besar. parvula menunjukkan resistensi antibiotic yang meningkat secara signifikan anatara biofilm dan sel planktonik hingga 4-250 kali. nucleatum. P.

dan kesempatan untuk bertahan hidup. resistensi antibiotic dapat bervariasi dari satu antibiotic dan antibiotic lainnya. namun 512-2. sanguinis. Jenis kedua adalah non-lantibiotik yang teridiri dari mutasin IV dan V. II. salivarius merupakan probiotik rongga mulut yang penting. Sebagai tambahan. bakteri tertentu mengeluarkan protein spesifik dan protein non- spesifik (bakteriosin) yang memberi dampak bagi bakteri lain. Jenis pertama adalah lantibiotik. Mutasin dapat meningkatkan kompetisi S. Spesies bakteri berkompetisi untuk makanan. kompetisi yang terjadi antar sesama bacteria dalam biofilm sangat tinggi. amoxisilin dan clindamysin. sedangkan non-lantibiotik memiliki spectrum antimikroba yang lebih sempit. S. Bakterisoin dihasilkan oleh S. III.Sebagai tambahan. mutans dapat dibedakan menjadi 2 jenis yang disebut mutasin. hanya bekerja pada S. lantionin asam amino atau metilantiomine. Sedlacek dan Walker menemukan konsentrasi untuk menghambat pertumbuhan F nucleatum adalah 256. dan ia menghasilkan bakteriosin seperti salivaricin A yang dapat dengan kuat . Kompetisi dalam Biofilm Layaknya sebuah masyarakat yang kompleks dan beragam. juga dehidroalanin asam amino yang tidak disaturasi dan 2- aminoisobutric asam. dan 64 µg/ml untuk tetrasiklin. quorum sensing dan eksresi hydrogen peroksida. meyeri. Beberapa mekanisme kompetisi utama yang dilakukan oleh bacteria diantaranya adalah sintesis bakteriosin. Lantibiotik terdiri atas mutasin I. naeslundii. Pada biofilm. 128. spectrum lantibiotik dalam menghambat gram positf cukup luas. Bakteriosin berbeda dari antibiotic tradisional yang mana antibiotik tersebut hanya bekerja pada strain itu sendiri atau strain yang mirip dengan spesies yang menghasilkan antibiotik tersebut. tempat ikatan.048 µg/ml yang dibutuhkan untuk menghambat A. mutans untuk berkolonisasi dan kemampuannya untuk dapat berkembang dalam biofilm. Lantibiotik dihasilkan oleh banyak jenis bakteri gram positif. Dimana konsentrasi hambat minimum untuk tetrasiklin pada satu jenis sel biofilm adalah 64 µg/ml untuk A. Bakteriosin. Lantibitoik adalah kelas peptida antibiotic yang berisi karakteristik thioter poliklik. Selain itu. Studi menunjukkan bahwa Streptococci memiki kemampuan yang besar dalam menghasilkan bakteriosin jika dibandingkan bakteri rongga mulut lainnya. resistensi antibiotic dapat bervariasi dari satu spesies bakteri dengan yang lain.

mengangkat jaringan 3 . dan lain sebagainya. berpindah tempat. dan ekspresi factor virulen. bakteriosin yang dikeluarkan oleh beberapa strain bakteri dapat berpengaruh besar terhadap kehidupan strain bakteri lainnya dalam biofilm. dan mengontrol sekumpulan tindakan disebut juga sistem quorum sensing.menghambat pertumbuhan Streptococcus pyogenes. merasakan. bioluminescence. Oleh sebab itu. sintesis biosrufaktan. kompetensi. pembentukan spora. pengaturan ini sangat mencengangkan karena masing-masing bacteria dapat menghasilkan berbagai jenis QS yang memberi sinyal pada molekul dengan berbagai cara seperti Vibtio harveyi dengan 3 jenis AI. contoh pada saat bakteri mencapai ambang batas tertentu. mutacin V dapat digunakan sebagai bakteriosin penyebab kematian. yang menginisiasi keluarnya gen untuk mengatur tingkah laku sel atau grup. juga memediasi S. Bakteriosin memiliki prospek yang luas dalam pemakaian nya didunia kesehatan. mutans melakukan autolysis melalui mekanisme novel yang mana secara luas disebut sebagai intracellular action yaitu melawan dirinya sendiri. Perry dkk menemukan bahwa saat konsentrasi competence-stimulating peptide (CSP) tinggi didalam lingkungan kecil. Didalam komunitas mikroba yang kompleks. untuk menghindari resistesni bakteri dan mencapai efek klinis yang diinginkan dibawah kondisi mikroflora tetap normal didalam tubuh Quorum Sensing (QS). Tetapi memberi sinyal pada molekul biasanya hanya dapat mengatur spesies itu sendiri tanpa mempengaruhi bakteri lainnya. proses dari bacteria dalam menghasilkan molekul sinyal. menggunakan property antibibakteri spectrum sempit yang unik. namun bakteri planktonik tidak dapat menunjukkan fungsi fisiologis ini. Mayoritas bakteri biofilm dapat merasakan keberadaan mereka di lingkungan biofilm sepanjang system ini mengontrol karakter fisiologis mereka. Perry berpendapat bahwa ada kemungkinan hubungan autolysis S. Bakteriosin dapat menjadi sebuah obat baru dapat ditingkatkan targetnya dengan efek samping yang sedikit. Quorum sensing merupakan sekresi yang diinduksi oleh tubuh dari satu atau lebih agen yang memberi respon saat terjadi perubahan kepadatan bakteri dan lingkungan sekitarnya. System QS mengontrol respon yang luas termasuk adhesi bakteri ke permukaan. mutans dengan transformasi genetic dalam bacterium. Pada biofilm. System QS merupakan dasar pengaturan dari fenotip bakteri yang berbeda. Memberi isyarat pada molekul pada arah yang bervariasi juga dapat mempengaruhi masing-masing. produksi maktriks ekstraseluler.

Gen luxS mengeluarkan AI-2 yang dipertahankan oleh banyak jenis spesies baktetia termasuk S. Sebagai tambahan. AI-2 juga dapat menjadi perantara Streptococci dan Actinomyces untuk membentuk biofilm campuran. AI-2 merupakan molekul sinyal yang penting dalam biofilm multi-spesies. Reseptor protein dapat terikat pada region depan dari gen target. gingivalis. AHL jenis AIs telah dilaporkan sebagai isyarat untuk system QS tertentu. jenis kedua terjadi pada bakteri gram negatif menggunakan acyl-hemoserine lactone sebagai molekul sinyal. dan kemudian mengaktivasi dan kembali menekan treanskripsi gen. Streptococcus gordonii. dan jenis ketiga pada bakteri gram positif dan gram negatif yang menggunakan AI-2 sebagai molekul sinyal. Grup fosforil mentransfer dari sensor kinase ke protein fosfotransfer histidine dan selanjutnya merespon molekul regulator. Jika satu spesies menghasilkan AHL. Ada 3 jenis sistem QS pada bacteria: jenis pertama adalah yang terjadi pada bakteri gram positif. ia menggunakan oligopeptida sebagai molekul sinyal. Acyl hemoserine lactone (AHL) biasanya dapat terdeteksi disepanjang pengikat atau pengaktivasi protein reseptor sitoplasma yang mendemerisasi ketika AHL terikat. P. Streptococcus oralis. AHL jenis AIs dikenali dengan sensor kinase yaitu protein hybrid. bacteria mengekspresikan mutasi pada gen luxS pada oral Streptococci yang tidak dapat mengeluarkan AI-2. Sebagai contoh. tetapi beberapa diantaranya biasanya dapat berpindah ke sitoplasma sebelum berikatan dengan reseptor yang berhubungan. AHL diproduksi dan dikenal dengan karakter yang khas.dimensi yang canggih dengan system signaling yang memiliki banyak tingakatan dan skala yang besar. mutans. A. Oligo-peptida tidak masuk ke dalam sel. Pembentukan biofilm bergantung pada produksi AI-2 yang dihasilkan oral Streptococci. Mereka biasanya hanya terikat pada membrane protein sensor yang terdiri atas 2 komponen sistem transduksi sinyal. sehingga terjadi kegagalan komunikasi anatara Oral Streptococci dan Actinomyces. actinomycetemcomitans dan mikroorganisme rongga mulut lainnya. . AHL biasanya akan dikenali oleh spesies yang sama pula. Kegagalan ini menyebabkan kegagalan pembentukan biofilm dan mengurangi secara signifikan kepadatan bacteria. Bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus sering menggunakan system QS ini dimana oligopeptida berperan sebagai AIs.

albicans untuk memproduksi tabung germ pada kultur yang dilakukan bersama meskipun ketika itu S. respon terhadap stress. QS. generasi bakteriosin. mutans secara fisik dipisahkan dari C. S. CSP dapat mengatur aktivitas fisiologis S. telah menunjukkan pengaturan kompetensi gentetik. mutans berinteraksi dengan C. mutans. termasuk pembentukan biofilm. albicans. dan dapat membawa pesan kepada populasi termasuk induksi altruistic seluler yang dapat membunuh dirinya sendiri apabila dalam kondisi tertekan. molekul CSP pada lingkungan luar mencapai konsentrasi ambang batas dengan angka tertentu dan mulai untuk mengatur kepadatan bakteri. mutans yang mana akan menghambat pembentukan tabung germ C. mutans menghambat kemampuan C. Pada S. acid tolerance dan konversi genetic. CSP adalah pendahulu yang lamban. CSP dihasilkan di dalam sel dan dikeluarkan kedalam medium ekstraseluler. mutans. S. dan lain-lain. albicans. Studi sebelumnya memperlihatkan spaP diatur oleh CSP karena gen spaP di hapuskan di strain com gen-deficient. albicans. tetapi kemudian dibelah dan dikeluarkan oleh ABC- transporter. ComAB. Pada S. Namun. yang mana didasari oleh petida. . dan toleransi asam pada bacteria. Studi terbaru menunjukkan QS molecule CSP disekresi selama tahap pertumbuhan awal S. mutans. kompetensi genetic dan produksi bakteriosin diatur oleh system ComED yang secara khusus merasakan dan merespon CSP. diperantai oleh system QS. mutans biasanya tumbuh pada permukaan enamel pada biofilm dan sering dikatakan sebagai penyebab tersebesar terjadinya karies gigi pada manusia. system QS terdiri atas lebih kurang 5 protein termasuk 21-asam-amino CSP. Candida albicans juga sering ditemukan pada karies gigi. Bukti terakhir menunjukkan CSP dapat menyebabkan peringatan adanya factor lingkungan yang berbahaya dengan diproduksinya molekul signal intraseluler. Ketika kepadatan bakteri dalam biofilm meningkat. pembentukan biofilm.Competence-stimulating Peptide (CSP). CSP adalah molekul keil yang didapat dari DNA eksogen dan mengubah informasi genetic. penambahan langsung dari CSP sintetik ke kultur low-density gagal untuk menekan kembali ekspresi gen spaP. dimana S.

oralis. mutans berkolonisasi pertama. sobrinus adalah lemah. mutans. maka jumlah S. S. Ketika makanan . Hambatan tertinggi adalah hambatan S. sanguinis tidak saling terkait. mutans dan S. jika S. mutans pada kavitas oral dengan bebas lesi karies adalah sangat rendah.Interaksi Spesies Bakteria pada Biofilms Akibat kekurangan ruang tumbuh dan nutrisi. mutans tinggi. sanguinis rendah. Streptococcus cristatus dan S. susunan kolonisasi akan menentukan hasil dari kompetisi diantara mereka. gordonii. bakteri-bakteri berkompetisi satu sama lain dalam biofilm. perumbuhan kolonisasi S. Masing-masing spesies memiliki strategi masing-masing untuk dapat melawan yang lainnya. mutans merupakan jenis bakteri yang paling umum pada manusia karena bakteri ini dtiemukan pada seluruh kavitas rongga mulut manusia. mutans terhadap berbagai jenis bakteri. dan hambatan pada S. Jumlah S. Begitu pula sebaliknya. mutans rendah. sanguinis. sanguinis. Kreth dkk melaporkan bahwa pertumbuhan dual-spesies akan menghambat aktivitas S. mitis ATCC 33399 dan S. Dalam kondisi dual-spesies biofilm. pyogenes. sanguinis yang rendah dan seseorang dengan bebas karies memiliki S. Streptococcus mitis ATCC 903. kedua spesies dapat saling menghambat yang lain. jika S. sanguinis berkolonisasi bersama diwaktu bersamaan. S. Oleh sebab itu. Jumlah S. maka jumlah S. Jika jumah S. Studi klinis juga telah dibuktikan bahwa adanya kompetisi antara S. mutans. sanguinis kemudian akan dihambat oleh S. Kemp dkk telah membuktikannya pada penelitian yang telah dilakukannya pada tahun 1983. Streptococcus pneumoniae. S. Streptococcus mutans. mutans atau antara S. mutans dan S. sedangkan kavitas oral disertai lesi karies jumlah akan meningkatkan jumlah S. Hal ini dapat menjelaskan alasan mengapa karies pada seseorang memiliki jumlah S. mutans merupakan salah satu bakteri kariogenik yang paling penting. Lebih jauh lagi. Namun bagaimanapun juga makanan yang tersedia tetapi menjadi peranan yang signifikan dalam memenangkan kompetisi. mutans dan S. sanguinis lebih disebabkan oleh substansi yang dapat didifusikan daripada diakibatkan oleh kurangnya makanan. parasanguinis adalah medium. S. hambatan terhadap S. sanguinis tinggi. Penelitian lain menyebutkan hambatan yang terjadi pada S. gordonii dan S. mutans terhadap S. mutans dan S. sanguinis yang cukup tinggi. sedangkan jika jumlah S.

sanguinis akan tumbuh dengan baik. Mekanisme kedua dari S. mutans dan S. Mutacin I dan IV yang dihasilkan S. Ketika S. namun penekanan terhadap S. mutans. Oleh karna itu. sanguinis adalah melalui banyaknya jumlah asam organic yang dihasilkan oleh S. Mutaci menyusun S. mutans untuk menghambat S. asam laktat yang dihasilkan oleh metabolisme glukosa S. tidak peduli siapa yang lebih dahulu berkolonisasi. sanguinis dikultur didalam suasana asam (pH 5. mengakibatkan meningkatnya jumlah S. mutans untuk menghambat pertumbuhan S. mutans akan tumbuh lebih baik dibanding S. mutans menghasilkan lebih banyak asam daripada S. S. mutans and S. Interaction between S. strain mutacin IV tidak sempurna (I+ IV-) dan strain yang tidak teratur atau wild strain (I + IV+). S. Mekanisme dari S.5) dalam waktu bersmaan. mutans pada S. Meskipun kedua S. mutans an S. sanguinis. sanguinis.IV-). mutans dan berkurangnya jumlah S. sanguinis dapat memetabolisme glukosa dan menghasilkan laktat. strain mutacin I tidak sempurna (I- IV+). kedua S. sanguinis adalah melalui mutacin yang dikeluarkan oleh S. sanguinis. mutans diekskresi ke lingkungan dan menghambat pertumbuhan S. Ada dan tidak adanya oksigen akan berpengaruh terhadap ekspresi dari mutacin. Kreth dkk telah membuktikan pernyataan ini. sanguinis. Figure 3. sanguinis. sanguinis karena tingginya aktifitas ATP-glucose-phosphotransferase. Didalam . mutans lebih sedikit dibanding S. sanguinis. Lines indicate inhibition pathways.yang tersedia berjumlah banyak. and the direction of the arrow indicates the direction of inhibition or facilitation. sanguinis dari yang kecil hingga yang besar menjadi strain double-mutant (I. mutans dapat menghambat pertumbuhan S. mutans. Kondisi asam dapat menekan atau mengganggu aktifitas ATP-glucose-phosphotransferase pada kedua strain bakteri. mutans dan S.

mutans baik pada biofilm dan sel planktonik menunjukkan sensitifitas terhadap H2O2. sanguinis mengambat produksi mutacin dari S.suasana aerob struktur mutacin IV akan meningkat 5 kali lipat dibanding saat suasana anaerob. mutans menghambat kemampuan S. Konsentrasi yang rendah dari H2O2 (16. sanguinis dibanding ketika tumbuh sendiri. mutans dan pertumbuhan pathogen periodontal anaerob. mutans dan S. Baldeck dan Marquis melaporkan S. Konsentrasi tinggi dari H2O2 (30mmol/L) dapat menghambat sintesis protein yang akan membuat kerusakan sel karena oksidasi mehionine atau terhambatnya mekanisme perbaikan sel. mutans dikatikan dengan resistensi antimicrobial H2O2. Target yang paling sensitive adalah glyceraldehydes-3-phosphate dehydrogenase dan target yang tidak begitu sensitive adalah phosphpoenolpyruvate. Streptococcus sanguinis. tidak bisa langsung dikatakan bahwa S. Strain S. Namun. sanguinis berkurang karena kehadiran glukosa. Tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan pada struktur mutacin I baik dalam suasana aerob maupun anaerob. Kreth dkk mengobservasi penghambatan S. Hal ini terjadi karena glukosa dapat menekan ekspresi oksidase piruvat. sanguinis akan berkurang hingga 66% ketika S. sanguinis berkompetisi dengan bakteri lainnya dengan menghasilkan bakteriosin khusus yang disebut sanguicin atau dengan mengeluarkan H2O2. Oleh karena itu. sanguinis merupakan salah satu bakteri yang berkolonisasi awal pada biofilm dan salah satu bakteri baik rongga mulut. . mutans oleh S. sanguinis. Serine jenis eukariotik atau protein kinase threonine pada sel S. sanguinis akan berjalan lebih baik dalam suasana aerob dibanding suasana anaerob.3 mmol/L) dapat dengan cepat menhambat glikolisis dan bersifat bakteriostatik. Acetyl phosphate dan karbon dioksida disintsis dari piruvat oleh oksidase piruvat. S. Hidrogen peroksida tersebut dapat menghambat glikolisis dan sintesis protein dari bacteria target. mutans dengan kerusakan protein kinase threonine terlihat menjadi lebih sensitive kepada H2O2. Pengurangan hasil H2O2 oleh S. Ia dapat menghasilkan H2O2 yang artinya ia dapat menghasilkan oksigen dalam jumlah besar serta dapat pula menjadi agen antimicrobial yang dapat menghambat pertumbuhan S. S. sanguinis 100% memberikan keuntungan karena keterlibatannya dalam penyakit bacterial endocarditis. Mekanisme ketiga adalah S. Penghambatan S. mutans tumbuh bersama dengan S. sanguinis untuk menghasilkan hydrogen peroksidase (H2O2). glukosa secara tidak langsung menekan eksresi H 2O2 oleh S. S. sanguinis. mutans yang dilakukan oleh S. Jumlah oksigen di lingkungan juga berpengaruh pada kompetisi antara S.

H2O2 yang dihasilkan oleh Strptococcus oligofermentans dapat bekerja sama dengan H2O2 yang dihasilkan S. oralis jumlahnya lebih banyak sehingga menguntungkan saat berkompetisi dengan S. Penelitian yang dilakukan telah mengonfirmasi strain S. Ingbritt dan ATCC 25175 dan S. Streptococus oralis. Strptococcus oligofermentans. Factor yang meningkatkan sekresi IgA1 ini dapat larut dan ukurannya lebih kecil dari 14 kDa. Sebelumnya. sanguinis dan dapat menghambat S. gordonii lebih baik jika didalam kondisi aerob. sedangkan metode keuda dengan memetabolisme peoksidase menjadi H2O2 dengan oksidase asam L-amino. YH16. S. sanguinis. gordoniI mengambat pertumbuhan A. Produksi mutacin oleh S. S. mutans. kami telah menyelidiki sekresi IgA1 protease oleh S. S. A. Studi klinis menunjukkan terjadinya kompetisi antara S. mutans menjadi H2O2 dengan oksidase laktat. oligofermentans menghasilkan H2O2 dengan dua metode. Streptococcus gordonii. gordonii adalah salah satu bacteria pelopor yang melekat pada pelikel supragingiva. gordonii dan S. Hasil ini menunjukkan terdapat factor ekologikal yang meningkatkan IgA1 protease pada S. oralis doubling time lebih cepat dibanding generation time S. mutans. Metode pertama yaitu dengan memetabolisme asam lakatat yang dihasilkan oleh S. naeslundii dengan mengeksresikan H2O2. mutans 20% berkurang ketika tumbuh bersamaan dengan S. mutans atau Actinomyces viscosus. V318. sobrinus agar dapat menghindari antibody IgA di dalam saliva dan agar dapat berkembang biak. . oralis biasanya terlihat di dalam dental biofilm bersamaan dengan Veillonella spesies. mutans. viscosus dan S. mutans lebih baik. mutans MT8148. sanguinis dibanding tumbuh sendiri. dan hal ini menyebabkan S. proses penghambatan ini dapat dikurangi oleh glukosa. ATCC 10449. Kami menemukan bahwa IgA1 protease S. sobrinnus ATCC 27352 juga meningkatkan IgA1 protease yang dihasilkan oleh S. mutans oleh S. gordonii biasanya terlihat bersama dengan Veillonella spesies di dalam dental biofilm. sanguinis akan meningkat ketika diinkubasi dengan S. V310. S. sanguinis. dimana oksidase piruvat akan mengurangi jumlah H2O2.mutans. Kreth dkk mengobservasi hambatan pada S. S. Menkanismenya mirip dengan S. mutans. KPSK2. sanguinis yang dikultur bersamaan dengan S. mutans. S. Menariknya.

hubungan pertumbuhan antara P. Oleh sebab itu. F. denticola menghasilkan asam succinic yang dapat diidentifikasi dengan phospholipids dan lipid pada sel P. Kemampuan bakteri anaerobic untuk berahan tergantung oleh toleransi dari masing-masing spesies terhadap oksigen dan bagaimana interaksi bakteri tersebut di dalam komunitas biofilm. gingivalis dan lipopolisakarida termasuk disepanjang reseptor yang diperantarai oleh penyatuan antara spesiesl bakteri rongga mulut. nucleatum . gingivalis tidak dapat tumbuh bersama dengan S. naeslundii untuk pembentukan biofilm dirinya dan meningkatkan kolonisasi Streptococci pada dual-species biofilm. gingivalis. Penyatuan antara fusobacteria dengan spesies bakteri lainnya menjadi mata rantai yang sangat penting antara kolonisasi plak gigi primer dan sekunder. Bacteria rongga mulut akan menghadapi tekanan oksigen pada dental biofilm. nucleatum dengan spesies bakteri gram negative lainya diaturr oleh interaksi reseptor lectin-karbohidrat. gingivalis dan T. Kehadiran F. gingivalis. oralis dalam dual-spesies biofilm. nucelatum akan meningkatkan S. spesies streptococci dan actinomyces merupakan spesies yang terbanyak. nucleatum merupakan mikroorganisme yang memiliki peranan penting dalam dental biofilm karena peran nya sebagai coordinator yang dapat menyatukan kolonisasi awal dan kolonisasi yang menyusul. nucleatum dan spesies bakteri gram positif telah banyak diteliti. Disisi lain. naeslundii. nucleatum diatur oleh galaktosida dari P. gordonii membantu pertumbuhan P. Karenanya. gingivalis biasanya terlihat bersama dengan Treponema denticola pada plak subgingiva. oralis. P. oralis. Penelitian terbaru memperlihatkan F. Fusobacteria merupakan spesies gram negatiF yang paling dominan pada plak gigi yang mature. gingivalis dan F. Fusobacterium nucleatum. gordonii dan S. gingivalis. penyatuan ini masih dapat dihambat oleh gula. T. Meskipun pada kolonisasi awal. Penyatuan antara F. nucleatum sulit untuk tumbuh didalam saliva tanpa kehadiran A. denticola. Kapsular polisakarida P. Disisi lain. gingivalis juga menghasilkan asam isobutyric yang dapat meningkatkan pertumbuhan T. Fusobacteria membutuhkan A. denticola merupakan hubungan pertumbuhan yang sinergis.Porphyromonas gingivalis. meskipun penyatuan antara F. Hal ini menunjukkan kehadiran S. P. F. Sebagai contoh. penyatuan P. P. Namun dapat tumbuh dengan baik pada three-species biofilm bersama S.

naeslundii dapat melindungi banyak spesies bakteri dari H2O2 karena A. S. naeslundii. pertumbuhan S. A. forsythensis. L. mikroorganisme anaerob dapat bertahan pada lingkungan yang penuh udara apabila menyatu dengan F. mutans yang dapat menguntungkan bagi pertumbuhan keduanya. S. sanguinis sehingga mengambat pertumbuhan strain-strain bakteri tersebut.intermedia. casei sendiri akan lebih kecil jika dibandigkan dengan pembentukan biofilm dual-spesies bersama dengan S. Veilonella spp membutuhkan asam organic yang dihasilkan S. casei merupakan kariogenik yang dapat dideteksi pada biofilm. Hal ini karena S. Jumlah residu arginine S. naeslundii mengonsumsi H2O2 dengan oksidasi protein. gordonii dapat tumbuh dibawah suasana tanpa arganine. A. Kehadiran A. paracasei menghasilkan bacteriosin yang membuat porus pada membrane sitoplasma P. Veillonella. Actinomyces naeslundii. A. Strain ini dapat menghasilkan sejumlah besar asam laktat dan diketahui memiliki pH tinggi. naeslundii menyediakan arginine untuk S. sehingga adhesi bacteria dapat meningkat. Lactobacillus casei. gordonii akan meningkat jika bersatu dengan A. naeslundii. gordonii intraseluler terbatas karena ekskresi S. gingivlis dengan menyediakan lingkungan capnophilic ketika tumbuh dalam suasana kaya oksigen dan miskin karbon dioksida. Namun bagaimanapun juga. nucleatum. ikatan permukaan gigi dengan asam adalah lemah. Lactobacillus paracasei. Spesies veillonella menghasilkan spesies vitamin K yang dibutuhkan Prevotella spp dan Porphyromonas spp untuk pertumbuhan mereka.membantu pertumbuhan P. Pada dua tahap system kemostat. naeslundii. T. gordonii. . yang biasanya S. mutans. yang berkaitan dengan terlihatnya efek oksidasi protein pada A. Karena itu. asam amino hidrofobik hadir pula di tengah region dan residu hidrofilik di C-terminus. gingivalis. Wen dkk mengobservasi pembentukan biofilm oleh L. Bakteriosin memiliki berat molekul sekitar 56 kDa dengan komposisi 68% karbohidrat dan 32% protein. gordonii. P. dan hal ini dikatikan dengan penyakit periodontal dan karies akar. mutans menyediakan enzim glucosyltransferase (GTF) dengan sintesis glukan. Protein ini memiliki asam amino kation yang hadir di sekitar N-terminus. L. gordonii tidak dapat bertahan. naeslundii merupakan salah satu bacteria pelopor pembentukan biofilm gigi. salivarius dan S.

Sejak ekosistem rongga mulut menjadi hal yang dapat diterima dan interaksi antara bacteria rongga mulut menjadi lebih jelas. Karena begitu kompleks dan beragamnya lingkungan pada biofilm. Namun. pengobatan untuk mengontrol bakteri dan mencegah timbulnya penyakit diharapkan dapat segera ditemukan.Kesimpulan Telah ratusan tahun peneliti dan dokter gigi mencari metode yang paling efisien untuk mengontrol penyakit rongga mulut. tujuan-tujuan yang diharapkan hanya bisa diapai dengan investigasi lanjutan pada model ekosistem rongga mulut dan factor terkait. . disertai dengan pemahaman mengenai mekanisme interaksi antar bacteria dalam biofilm. penelitian lanjutan perlu terus dilakukan terkait interaksi di dalam biofilm yang masih belum sepenuhnya dipahami hingga hari ini.