You are on page 1of 3

NAMA: RIANDI YAYANG

NIM: 020423193

UPBJJ: PADANG

1. Di Orde lama:
Pada awal-awal Republik Indonesia terbentuk, tahun 1945-1965
adalah periode kepemimpinan Soekarno dengan demokrasi
terpimpin. Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah
Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan
(presidensiil/single executive), namun pada masa revolusi
kemerdekaan (November 1945) berubah menjadi semi-
presidensiil/double executive dengan Sutan Syahrir sebagai Kepala
Pemerintahan/Perdana Menteri.

Polstranas pada masa-masa ini sangat kental dengan unsur-unsur
kediktatoran, karena politik dan strategi nasional hanya berpusat
pada satu orang, tanpa kontrol yang memadai dari pihak manapun.
Efek dari kediktatoran ini adalah perekonomian menjadi tidak maju,
partisipasi masa sangat dibatasi, penghormatan terhadap HAM
rendah dan masuknya militer ke dalam tubuh pemerintahan. Proses
pemerintahan menjadi tidak sehat dan pada akhirnya masyarakat
yang merasakan imbas keterpurukan dari sistem ini.

Di Orde Baru
Presiden Soeharto diangkat menjadi Presiden oleh MPRS pada tahun
1966 dan lengser pada tahun 1998. Pada 32 tahun kekuasaannya,
Soeharto menggunakan GBHN sebagai acuan politik dan strategi
nasional yang sebelumnya telah disusun oleh MPR. Sebagian besar
anggota MPR pada masa itu adalah orang-orang pilihan Soeharto
sehingga dapat dipastikan bahwa polstranas pada saat itu adalah
polstranas pesanan Soeharto. Pemerintahan yang dipimpinnya
memang sukses dalam memajukan ekonomi makro, namun ekonomi
mikro sangat lemah. Pembangunan cenderung berpusat di
pemerintahan pusat.

Awal Reformasi:
(di masa ini NKRI paling makmur menurut saya pribadi, hutang luar
negeri terlunasi separuhnya dan terdapat pelaksanaan HAM yang
ideal, harga bensin stabil, kebutuhan pokok murah, yakni di zaman
Habibie dan Gusdur, sayang cuma bentar)

menjadi sebuah bangsa yang terbebas dari berbagai macam ketidakadilan pemerintah. Indonesia seperti dilahirkan kembali. apakah terdapat perbedaan strategi "politik dan strategi nasional" (polstranas) pada tiap-tiap masa pemerintahan. Pada kurun waktu ini bangsa Indonesia mengalami perubahan hampir di seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada masa orde baru sistem pemerintahan kita bersifat sentralistik. kemudian tahun 2001-2004 menjabat Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden Republik Indonesia. ditambah peristiwa lepasnya Timor Timur dari bangsa indonesia. Reformasi didengungkan di segala bidang. tahun 1999-2001 Abdurrahman Wahid. namun pandangan soeharto tentang efisiensi kekuasaan tersebut dianggap kurang tepat. Habibie. Selama kurang lebih enam tahun masa reformasi ini polstranas Indonesia masih mengacu kepada GBHN yang dibuat dan ditetapkan oleh MPR. 2. Merupakan masa-masa transisi dari orde baru milik Soeharto menuju pemerintahan yang demokratis di seluruh aspek kehidupan. pasca reformasi sistem sentralistik dianggap tidak efektif dan rentan terjadi penyalahgunaan kekuasaan. J. Pada tahun 1998-1999 Presiden B. sistem sentarlistik itu tentunya berkenaan dengan pandangan soeharto berkenaan dengan efisiensi kekuasaaan. menambah keyakinan pemimpin-pemimpin berikutnya untuk memberikan peran lebih bagi-bagi daerah untuk mengatur kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan daerah kekuasaan mereka sendiri. atau semua kebijakan berkenaan dengan bangsa indonesia selalu berasal dari pusat. jawabannya: iya. seperti digambarkan di atas. oleh sebab itu. Setidaknya. Masa-masa ini merupakan masa euphoria reformasi. atau pusat terlalu memonopoli kekuasaannya. Polstranas pemerintah RI saat ini (pimpinan presiden Joko Widodo) dapat dikatakan sudah mengakomodasi reformasi administrasi pemerintahan dan menerapkan prinsip good governance. sampai sekarang sistem pemerintahan kita menganut sistem desentralistik atau lebih dikenal sebagai otonomi daerah. hal itu dapat dilihat dari . bahwa pada era soeharto (ordebaru) sistem pemerintahan yang digunakan adalah sentralistik. lalu.

dan pelaporan. profesionalisme. . penguatan pengawasan. dan penegakan hukum. penataan sistem manajemen SDM aparatur. penataan ketatalaksanaan. penguatan akuntabilitas kinerja. polstranas pemerintah Indonesia pasca reformasi telah mengarah pada penguatan demokrasi dan masyarakat sipil sebagai tuntutan rakyat setelah tumbangnya Orde Baru. Dalam bidang good governance. daya tanggap. partisipasi. pengawasan.kebijakan yang mengarah pada reformasi birokrasi dengan ciri: manajemen perubahan. Polstranas tersebut mengakomodasi sifat- sifat berikut: akuntabilitas. penataan dan penguatan organisasi. peningkatan kualitas layanan publik. efisiensi dan efektivitas. evaluasi. serta monitoring. kesetaraan. penataan peraturan perundang-undangan. wawasan ke depan.