BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bermain merupakan kebutuhan anak seperti halnya kasih sayang,
makanan, perawatan, dan lain-lainnya, karena dapat memberi kesenangan dan
pengalaman hidup yang nyata. Bermain juga merupakan unsur penting untuk
perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, sosial, kreativitas serta intelektual.
Oleh karena itu bermain merupakan stimulasi untuk tumbuh kembang anak.
Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk
membantu anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada
masa pra sekolah adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam
perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar
dari waktu mereka dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 2012: 121).
Dalam bermain di rumah sakit mempunyai fungsi penting yaitu
menghilangkan kecemasan, dimana lingkungan rumah sakit membangkitkan
ketakutan yang tidak dapat dihindarkan (Sacharin, 2011: 78).
Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi
anak. Semakin muda usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi,
sehingga timbul hal yang menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin
lama anak mengalami hospitalisasi maka dampak psikologis yang terjadi salah
satunya adalah peningkatan kecemasan yanng berhubungan erat dengan
perpisahan dengan saudara atau teman-temannya dan akibat pemindahan dari
lingkungan yang sudah akrab dan sesuai dengannya (Whaley and Wong, 2013).
Anak-anak dapat merasakan tekanan (stress) pada saat sebelum
hospitalisasi, selama hospitalisasi, bahkan setelah hospitalisasi, karena tidak dapat
melakukan kebiasaannya bermain bersama teman-temannnya, lingkungan dan
orang-orang yang asing baginya serta perawatan dengan berbagai prosedur yang
harus dijalaninya terutama bagi anak yang baru pertama kali di rawat menjadi
sumber utama stress dan kecemasan / ketakutan (Carson, dkk, 2012: 1139).
Hospitalisasi merupakan masalah yang dapat menyebabkan terjadinya
kecemasan bagi anak. Dengan demikian berarti menambah permasalahan baru
yang bila tidak ditanggulangi akan menghambat pelaksanaan terapi di rumah
sakit.

1

sehingga anak tidak kooperatif atau menolak terhadap prosedur tindakan medis. Hal tersebut bermanfaat untuk meningkatkan system motorik pada anak. Pada kenyataannya tidak semua anak dapat melewati masa kanak- kanaknya dengan baik. Hal tersebut dimaksudkan agar anak mampu bersosialisasi dengan orang lain guna mengekspresikan perasaannya. Pemberian terapi bermain ini dapat menunjang tumbuh kembang anak dengan baik. Hasil observasi wawancara dengan 5 pasien dan keluarga diruang anggrek menunjukkan dari 5 pasien mengalami rasa cemas dan takut ketika dilakukan prosedure tindakan medis. permen dan sejenisnya untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan hasil memasaknya. Fun Cooking yaitu suatu bentuk terapi bermain dimana anak diberi kesempatan untuk menghias kue yang telah disediakan dengan menggunakan krim. Selanjutnya anak diminta untuk membagikan pada perawat atau keluarganya. maka perlu adanya program terapi bermain di rumah sakit khususnya di ruang perawatan anak. . dimana pasien yang dirawat merupakan pasien pada usia anak- anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa anak juga kurang bisa mengekspresikan diri secara langsung akan penyakitnya seperti demam. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas. 2 . ada sebagian yang dalam proses tumbuh kembangnya mengalami gangguan kesehatan. Ruang Anggrek RSUD Seohadi Prijonegoro merupakan bangsal perawatan anak. sehingga diharapkan asuhan keperawatan dapat menunjang proses penyembuhan. Dalam kondisi seperti ini anak membutuhkan suatu hiburan dalam bentuk permainan dimana anak dapat mengekspresikan dirinya dan bersosialisasi dengan orang lain sehingga bermanfaat bagi anak selama dirawat di Rumah Sakit.Permainana ini sangat cocok untuk anak usia Pra Sekolah dan Sekolah (usia 4- 12 tahun ) Dimana pada usia ini mereka cenderung akan mulai mengenal berkelompok dan jati dirinya. yang bertujuan agar anak mengekspresikan dirinya. coklat.

2012) 4. Social affective play Anak belajar memberi respon terhadap respon yang diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan. ( Hurlock . misalnya orang tua berbicara memanjakan anak tertawa senang. anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya melihat) Contoh : memberikan support. ( Foster. 2014) 2. C. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan. 3 . Bermain pasif Energi yang dikeluarkan sedikit. Ciri-Ciri Bermain 1. Jadi kesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. B. 2013 ) 3. Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak disadari. Selalu ada timbal balik interaksi 3. Bermain aktif Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri. Pengertian Bermain 1. (Wholey and Wong. Selalu dinamis 4. Klasifikasi Bermain Menurut Isi 1. Contoh : bermain sepak bola. Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. dengan bermain anak diharapkan dapat bersosialisasi dengan lingkungan. Menuntut ruangan tertentu D. 2. Selalu bermain dengan sesuatu atau benda 2. Kategori Bermain 1. Ada aturan tertentu 5. BAB II LANDASAN TEORI A.

misalnya meraih pensil. 4. Perkembangan Sensori Motorik Membantu perkembangan gerak dengan memainkan obyek tertentu. 4. Dramatika play role play Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya menjadi ayah atau ibu E. 2. 2.misalnya bermain air atau pasir. Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah Adolesen. Sense of pleasure play Anak memproleh kesenangan dari satu obyek yang ada disekitarnya.dengan bermain dapat merangsang perabaan alat. Perkembangan Kognitif Membantu mengenal benda sekitar (warna. Paralel play Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung. Skill play Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh keterampilan tertentu dan anak akan melakukan secara berulang-ulang misalnya mengendarai sepeda. Kooperatif play Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi dan terencana dan ada aturan tertentu. Fungsi Bermain Anak dapat melangsungkan perkembangannya : 1. Solitary play Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain yang bermai disekitarnya. Asosiatif play Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yang sama tetapi belum terorganisasi dengan baik. 3.bentuk. anak bermain sesukanya. Menurut Karakteristik Sosial 1. 2. F. kegunaan) 4 . biasanya dilakukan oleh anak preischool Contoh : bermain balok 3. Biasa dilakukan oleh anak balita Todler. belum ada pembagian tugas.

Alat permainan → senang dapat menggunakan 6.anak mulai masuk dalam tahap perminan.takut. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain 1. 6.menggambar. Status kesehatan. 3. 8. Lingkungan → lokasi. Tahap Perkembangan Bermain 1.kultur. Tahap permainan Setelah tahu cara bermain. 7. Komunikasi Bermain sebagai alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat mengatakan secara verbal. 5. Tahap eksplorasi Merupkan tahapan menggali dengan melihat cara bermain 2.benci. anak sakit→perkembangan psikomotor kognitif terganggu 3. Tahap perkembangan. Perkembangan Sosial Diperoleh dengan belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari belajar dalam kelompok.bermain peran.tiap tahap mempunyai potensi/keterbatasan 2. Jenis kelamin 4. Terapi Bermain kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang tidak enak misalnya : marah. G. 5 . Kreatifitas Mengembangkan kreatifitas mencoba ide baru misalnya menyusun balok. Contoh : dapat menerapkan kejujuran. Intelegensia dan status social ekonomi H. 4. 5.negara. Perkembangan Moral Intraksi dengan orang lain bertingkah laku sesuai harapan teman menyesuaikan dengan aturan kelompok. Kesadaran Diri (Self Awareness) Bermain belajar memahami kemampuan diri kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain. misalnya : melukis.

3.Pegang mainan bunyi.ulangi suara yang dibuat. bicara Auditori dengan bayi. bawa bayi ke ruangan lain : Letakkan bayi agar dapat memandang disekitar. beri mainan bunyi.mandi cemplung/cebur : Bantu tengkurap. gambar. menyanyi. beri mainan dengan warna : terang Auditori Anak bicara. : Memandikan . beri Taktil mainan lembut/kasar.mengganti popok.bermain air Kinetik 4-6 Bulan : Visual Bermain cermin. Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan 1 Bulan : Visual : Lihat dengan jarak dekat Gantungkan benda yang terang dan menyolok Auditori : Bicara dengan bayi.detik jam Taktil : Memeluk. Tahap bermain sungguhan Anak sudah ikut dalam perminan.sokong waktu duduk Kinetik 6-9 Bulan : 6 .menyisir rambut dengan Taktil lembut. 4. cermin ditembok. : Remas kertas didekat telinga.radio.gosok dengan lotion/bedak : Jalan dengan kereta.musik.panggil nama.naik kereta dorong 2-3 Bulan : Visual : Buat ruangan menjadi tenang. Tahap melamun Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.gerakan berenang.menggendong.ikut sertakan dalam pertemuan keluarga.memberi kesenangan Kinetik : Mengayun. I.anak nonton TV.

Blockies warna-warni jumlah. Mulai mengerti memiliki “ Ini milikku …. beri tahu yang anda lakukan. berenang Kinetik : Letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya. tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan Auditori : Kenalkan dengan suara binatang.mendorong.lari 2. Buku dengan gambar menarik 3.memanjat. Auditori : Panggil nama “Mama …Papa. beri kertas untuk dirobek-robek. 7.bermain depan cermin. Ajak pergi ke berbagai tempat. Visual : Mainan berwarna.dapat menyebutkan bagian tubuh. Mulai berjalan. beri makanan yang dapat dipegang Taktil : Kenalkan dingin. Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya 3. tunjukkan bangunan agak jauh.mengambil sesuatu 4. Mainan yang dapat didorong dan ditarik Todler ( 2-3 Tahun ) 1.” 6. Mainan yang dapat ditarik dan didorong 7 .cangkir dan sendok 4. Perhatiannya singkat 5. Kinetik : Beri mainan Mainan yang dianjurkan untuk Bayi 6-12 bulan 1.main air mengalir. Senang melempar. ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana. Karakteristik bermain “Sense of pleasure Play”dengan jenis “Solitary Play”.”ciluk ….ukuran. 2.ba”. 9-12 Bulan : Visual : Perlihatkan gambar dalam buku. Taktil : Meraba bahan bermacam-macam tekstur.ukuran. bermain bola.panas dan hangat. Balon. Boneka bayi 5. Toddler selalu bertengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu 8. Senang musik/irama Mainan Untuk Toddler 1.

Dapat belajar dengan aturan kelompok 3.lilin 4. Peralatan rumah tangga 2. Pre-School 1. Mulai terbentuk perkembangan moral 5. Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dengan kelompok 6.boneka.bermain dan bersepeda. Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin 2. krayon.buku dengan kata simple. Dramatic play 9.menerima orang lain. Assosiative play 8. Telepon. 4. Karakteristik bermain 7. Karakteristik “Cooperative Play” 5.cooperative.bersaing. Laki-laki : Mechanical 6. Drum. Blockies. gambar dalam buku. Lilin.truk Usia Sekolah 1. Laki-laki aktif bermain di luar 11. Malam. Perempuan : Mother Role Mainan untuk Usia Sekolah 6-8 Tahun 8 .kertas 5. Belajar Independent. Perempuan didalam rumah Mainan untuk Pre-school 1. Alat masak 3. kertas. Sangat energik dan imaginative 4. Boneka. 3. Dapat melompat.kapal terbang. dram yang dapat dipukul. bola.2.mobil. Sepeda roda Tiga 3. Papan tulis/kapur 4. Skill play 10. Cross motor and fine motors 2.

olah raga bersama. mencatat. robot. Sengaja mencari kesempatan khusus Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan 1. Melibatkan keluarga/orang tua. 8-12 Tahun Buku.singkat dan sederhana 2. buku. alat untuk melukis. kerjasama Tim dan keluarga 2. Kelompok umur sama 4. sepatu roda. BAB III TERAPI BERMAIN FUN COOKING A. Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang 3. pekerjaan tangan. sepeda. Faktor penghambat Tidak semua RS mempunyai fasilitas bermain. sepeda. alat olah raga. Alat bermain 2. mengumpulkan perangko. Mengembangkan kreativitas melalui pengalaman permainan yang tepat 3. Faktor pendukung Pengetahuan perawat. boneka. Beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit atau dirawat Prinsip 1. Tujuan 9 . Tempat bermain Pelaksanaan Bermain di RS Dipengaruhi Oleh : 1. Lakukan saat tindakan keperawatan 2. kartu. uang logam. Bermain Di Rumah Sakit Tujuan 1. Upaya Perawatan Dalam Pelaksanaan Bermain 1. fasilitas kebijakan RS. Kartu. Tidak banyak energi. Melanjutkan tugas kembang selama perawatan 2.

Tujuan umum Anak mampu mengekspresikan diri sesuai dengan masa perkembangannya 2. Kue 2. Mampu menghias sebuah objek benda (kue) b. Kegiatan bermain 10 . Suhu tubuh 38º C b. Meises 4. Kriteria eksklusi a. Tidak infeksi f. Pasien dalam masa inkubasi C. kateter dll d. Hiasan kue 5. Melanjutkan perkembangan keterampilan motorik halus (koordinasi mata dengan tangan) d. Membina tingkah laku positif e. Sebagai alat komunikasi perawat dengan klien f. Suhu tubuh 36º C-37º C c. Meningkatkan kreativitas anak g. Pasien tidak dalam masa inkubasi 2. Anak usia 4-12 tahun b. Membina hubungan saling percaya antara perawat dan pasien B. Sosialisasi dengan orang di sekitar c. Tidak terpasang alat-alat invasive seperti NGT. Terpasang alat-alat invasive seperti NGT. Kriteria inklusi a. 1. kateter dll c. Coklat D. Media 1. Pasien infeksi e. Bedrest total d. Krim 3. Tujuan khusus a. Tidak bedrest e. Karakteristik peserta Kegiatan bermain ini diikuti peserta dengan kriteria sebagai berikut: 1.

E. anak-anak diminta untuk membagikan kue kepada perawat atau keluarga. 2. Perawat memberikan kue yang belum di hias. 4. 1. . Lalu anak dibimbing untuk menghias kue yang telah diberikan. 18 November 2016 Waktu : 13. Setting tempat Keterangan: : Leader : Peserta : keluarga pasien F. Jika menghias telah selesai. 3.00 WIB Tempat : Ruang Anggrek 11 . Perawat menjelaskan yang terapi bermain yang akan dilakukan. Rencana pelaksanaan Hari/tanggal : Jumat.

Persiapan: 5 menit ~ Menyiapkan ruangan ~ Menyiapkan alat ~ Menyiapkan anak dengan keluarga 2.G. dan anak menjadi peserta dalam terapi bermain 5. diri ~ Menjelaskan kepada anak 5 menit Memperhatikan dan keluarga tentang tujuan dan manfaat bermain ~ Menjelaskan cara bermain 5 menit Memperhatikan ~ Mengajak anak bermain 15 menit Mengajak anak ~ Mengevaluasi respon anak bermain bersama dan keluarga dengan antusias 3. bermain dengan mengucapkan memperkenalkan salam. Melakukan kontrak dengan anak dan orang tua 2. Proses: ~ Membuka proses terapi 3 menit Menjawab salam. Rencana kegiatan No Kegiatan Waktu Subyek terapi 1. Menyiapkan alat yang diperlukan 4. Pengorganisasian 1. Menempatkan anak pada ruangan terapi bermain 3. Mengobservasi kondisi pasien selama terapi bermain berlangsung 12 . Penutup : 4 menit Mengingkapkan ~ Menyimpulkan perasaannya ~ Mengucapkan salam Memperhatikan 3 menit Menjawab salam H. Kegiatan dipimpin oleh leader. memperkenalkan diri.

Membaca aturan bermain 3. Perawat memberikan kue yang belum di hias.com/2015/01/19/bermain-bagi-pasien-anak-di- rumah-sakit 13 . Memimpin jalannya permainan 4. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir 2. 4. 2014. Mengambil keputusan 7. Aspek yang dinilai An. Menghias kue sampai selesai 3. 1.wordpress. Memberi semangat kepeda peserta 5. Kemampuan verbal NamaKlien No. Memberikan reward  Cara bermain 1. Lalu anak dibimbing untuk menghias kue yang telah diberikan. 2012. Wong. Mengekspresikan perasaannya DAFTAR PUSTAKA Anggani. Memberikan kue pada perawat/keluarga 4. Sumber Belajar Dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. EGC:Jakarta http://forbetterhealth. Perawat menjelaskan yang terapi bermain yang akan dilakukan. Jika menghias telah selesai. I. anak-anak diminta untuk membagikan kue kepada perawat atau keluarga. Menciptakan suasana menjadi meriah 6. Sudono. 2. Membuka acara 2. 3. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatric.  Leader : Tugas: 1. Grafindo : Jakarta Donna L. Evaluasi 1.

EVALUASI KEGIATAN NamaKlien No. Aspek yang dinilai An. T awalnya sedikit diam dan malu 14 . Tumbuh Kembang Anak. Sularso dkk. EGC:Jakarta LAPORAN EVALUASI KEGIATAN TERAPI BERMAIN “FUN COOKING” A. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga.2012. Depkes RI:Jakarta Soetjiningsih. Sagung seto:Jakarta Pusdiknakes.2013. Tumbuh Kembang Anak Dan Remaja. 2013. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir An. T 1. N mampu mengikuti kegiatan fun cooking dengan baik dari awal sampai akhir meskipun An.Narendra.

Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir berlangsung An. Anak kooperatif. R mampu menghiasi kue sampai selesai tetapi gambarnya 15 . Aspek yang dinilai An. NamaKlien No. An. 2. walaupun pada saat permaian 1.R meningGalkan permainan karena cek darah. Menghias kue sampai selesai lingkaran besar seperti angin berwarna merah muda dan topping putih di setiap atas bunga lingkaran Setelah menyelesaikan membuat kue An T akan memberikan kuenya pada ibunya. Mengekspresikan perasaannya mengambar bunga bulat disetiap tepi kue dan bunga besar di tenganya. T mamapu menghias kue yang diberikan dengan membuat bunga bunga putih ditepi kue kemudian 2. R An. Menghias kue sampai selesai An. Memberikan kue pada perawat/keluarga kepada perawat dengan berucap “terimakasih sudah merawat “ An T mamapu mengekspresikan perasaannya dengan maenggambar sesuai dengan yang dirasakan yaitu 4. Dan memberikan kue 3. tetapi ia mampu menyelesaikan kegiatan dengan baik. R mampu melakukan kegiatan dari awal sampai akhir kegiatan.

Mengekspresikan perasaannya pada saat kegiatan berlangsung.Z terlihat bahagia dan ceria 4. Permainan ini mampu menumbuhkan rasa percaya diri terhadap dirinya 16 . 1. perawat dan kepada bapaknya An. Aspek yang dinilai An. R mampu memberikan kue ke 3. Permainan ini mampu meningkatkan motorik kasar anak 5. Permainan ini mampu membuat anak untuk bisa mengungkapkan perasaannya dan mulai berimajinasi tentang objek apa yang akan di gambarkan 4. pada saat kegiatan berlansung. KELEBIHAN 1. Z An. Menghias kue sampai selesai bunga An. tidak teratur. Memberikan kue pada perawat/keluarga Sayang Ayah Ibu An.R terlihat bahagia dan ceria 4. Permainan ini mampu menumbuhkan keceriaan sehingga lupa akan sakit yang dialami 3. An. Z mampu melakukan kegiatan dari awal sampai akhir kegiatan. Memberikan kue pada perawat/keluarga An. Z mampu memberikan kue ke orang tuanya dengan ucapan Aku 3. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir anak kooperatif. Mengekspresikan perasaannya NamaKlien No. B. Permainan ini mampu membuat anak menjadi ceria dan melupakan kejenuhanya terhadap rutinitas dirumah sakit 2. Z mampu menghiasi kue sampai selesai dengan toping 2.

Dalam permainan ini tidak menggunakan yel yel sebagai pembuka sehingga anak anak belum bisa rileks 2. Kesulitan dalam membangun semangat. 17 . Dalam permainan ini langsung ke inti. 6. Dalam permainan ini anak belum sepenuhnya mampu membuat kue seperti yang mereka mau karena masih beradaptasi dengan media 6. seharusnya diawali dengan pembukaan seperti menyanyi dan sebagainya 3. sehingga saat terapi berlangsung anak-anak kurang percaya diri dalam mengekspresikan perasaan dan kegembiraanya. percaya diri pada peserta terapi bermain. Permainan ini mampu mengubah persepsi dan menghapus ketakutan anak terhadap perawat C. Dalam permainan ini tidak diaali dengan doa terlebih dahulu 4. Dokumentasi : Gambar : 1 Memperlihatkan suasana dalam pemberian hiasan atau fun cooking sedang berlangsung dengan serius dengan keinginan masing-masing dan digambarkan di kue. seharusnya lebih lama karena anak anak belum sepenuhnya mamapu bereksplorasi 5. Permaianan ini mampu membuat anak memberanikan diri mengungkapkan perasaanya pada orang yang disayangi 7. KEKURANGAN 1. Dalam permainan ini waktu yang diberikan hanya 15 menit.

Gambar : 2 Sedang melukan pengamatan ekspresi dan keaktifan dalam mengkreasikan perasaannya ke kue yang ada dihadapannya sehingga bisa merasa bahagia Gambar : 3 Salah satu contoh kreasi dari kegiatan terapi bermain fun cooking sesuai apa yang dirasakan sehingga dapat memberikan atau dipersembahkan untuk orang terkasih atau keluarga. Gambar : 5 18 . Gambar : 4 Ekspresi salah satu peserta terpai bermain ini dengan senyuman yang iklas dan bahagia terasa tidak sedang perawatan dirumah sakit dengan didepanya kue karyanya sendiri yang akan dipersembahkan sama keluarga tercinta.

19 . Gambar : 7 Betapa bahagianya ketika melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama orang terkasih dan selalu tersenyum bahagia dan tidak ada beban dalam melakukan penghiasan kue terasa lagi di dapur dan membuatkan kue buat ibu. Foto bersama tim dan preseptor dengan peserta terapi bermain dengan senyuman senang dan melakukan terapi yang menyenangkan Gambar : 6 Senyuman bahagia salah satu peserta dan kakak yang mendampingi setelah selesai menghias kue bersama dengan senyuman dan melupakan apa yang sakit dideritanya.