You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ujian Akhir Nasional merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan
Pemerintah yang merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap
Akhir) yang sebelumnya dihapus. Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN)
dalam beberapa tahun ini menjadi satu masalah yang cukup ramai dibicarakan dan
menjadi kontraversi dalam banyak seminar atau perdebatan. Beberapa kali sempat
terlontar rencana atau keinginan dari beberapa pihak untuk menghapus atau
meniadakan Ujian Akhir Nasional tersebut. Tidak kurang dari Mendikbud sendiri
pernah melontarkan pernyataan akan menghapus UAN, dan pernyataan beberapa
anggota Dewan yang mengusulkan penghapusan UAN tersebut.

Pendidikan yang berkualitas memegang peran kunci dalam menciptakan
sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Sementara SDM diperlukan
sebagai penggerak proses pembangunan suatu Negara, semakin berkualitas SDM
yang dimiliki oleh suatu Negara maka semakin cepat proses pembangunannya
menuju masyarakat madani. Undang-undang Dasar tahun 1945 menyebutkan
bahwa pendidikan merupakan hak warga Negara yang harus dipenuhi oleh
pemerintah sebagai intitusi Negara.
Hak warga Negara tersebut dapat berupa mendapatkan akses pendidikan
yang berkualitas dan murah, sehingga masyarakat tidak terbebani dengan biaya
pendidikan yang mahal. Dalam era otonomi daerah, terutama sejak
dikeluarkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan
daerah, pemerintah pusat menyerahkan wewenang kepada pemerintah daerah
untuk menjalankan proses pendidikan di daerahnya masing-masing, tetapi tetap
megikuti pedoman dan prosedur yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat selaku
pemegang kebijakan tertinggi.
Menurut Heintz Eulau dan Kenneth Prewitt dalam buku Charles O. Jones
mendefinisikan kebijakan sebagai “keputusan tetap” yang dicirikan oleh

1
konsistensi dan pengulangan (repetiveness) tingkah laku dari mereka yang
membuat dan dari mereka yang mematuhi keputusan tersebut (1996). Sehingga
sering terdengar di masing-masing daerah di Indonesia memiliki kebijakan yang
berbeda berkaitan dengan biaya pendidikan dan peningkatan kesejahteraan
praktisi pendidikan.
Semakin besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) maka semakin besar pula
dana yang dianggarkan untuk peningkatan penyelenggaraan pendidikan.
Sementara pemerintah pusat mematok anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari
APBN. Salah satu program pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan
di negeri ini adalah dengan melaksanakan ujian kelulusan atau yang dikenal
dengan Ujian Nasional (UN) yang dilakukan serentak secara nasional dengan
standar nilai dan jumlah mata ujian ditentukan sebelumnya oleh Departemen
Pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas
(SMA). UN sudah dilaksanakan sejak tahun ajaran 2002/2003 dengan standar
nilai 3,01 hingga tahun ajaran 2009/2010 dengan standar nilai kelulusan menjadi
6,00 dan dengan enam (6) mata pelajaran yang diujikan.
Terjadi perdebatan di masyarakat berkenaan dengan kebijakan pemerintah
ini, ada yang mendukung UN dengan alasan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia yang memang terperosok jauh dari Negara tetangga dan
ada yang menolak dengan beragam argumentasi kerugian yang timbul akibat
pelaksanaan UN. Puncaknya ketika pada 14 September 2009 Mahkamah Agung
(MA) memutuskan menolak kasasi perkara yang diajukan pemerintah dengan No
2596 K/PDT/2008 (www.kompas.com).
Dalam isi putusan ini, tergugat yakni presiden, wapres, mendiknas, dan
Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dinilai lalai memenuhi
kebutuhan hak asasi manusia (HAM) di bidang pendidikan. Pemerintah juga lalai
meningkatkan kualitas guru. Dengan demikian MA melarang UN yang
diselenggarakan oleh Depdiknas. Sehingga terjadi permasalahan yang belum ada
kejelasan hingga saat ini, apakah UN tetap dijalankan dengan mekanisme dan
prosedur yang diperbaiki atau UN dihapus berganti dengan kebijakan lain.
Meskipun perkembangannya pada akhirnya UN tetap dilaksanakan dengan

2
memberikan keringan bagi yang tidak lulus UN untuk mengulang kembali mata
pelajaran yang tidak lulus.

B. Rumusan Masalah
UN sejak awal sudah menuai kontroversi di Indonesia, sebahagian
masyarakat menganggap UN tidak tepat untuk dilaksanakan secara merata di
Indonesia. Disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana masing-masing
sekolah yang ada di seluruh Indonesia belum merata, serta tidak semua sekolah
dan siswa mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Sehingga
dari latar belakang di atas dapat dibuat rumusan masalahnya, apakan kebijakan
UN masih tetap layak untuk dilaksanakan di Indonesia dan jika tidak solusi apa
yang bisa diberikan untuk mengganti kebijakan UN tersebut.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah UN itu sebenarnya?
2. Analisis Kebijakan UN.
3. Bagaimanakah plaksanaan UN di lapangan?
4. Apa yang terjadi jika UN dilaksanakan?
5. Apakah UN itu perlu dilaksanakan?
6. Jika UN dilaksanakan

BAB II

3
PEMBAHASAN

A. UAN
1. Pengertian Ujian Nasional (UN)

Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran
dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan
menengah. Ujian Nasional (UN) merupakan istilah bagi penilaian kompetensi
peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Berbagai polemik yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional di Indonesia
tampak baik bagi demokrasi di negeri ini. Tapi satu hal yang jangan terlupa bahwa
siswa peserta UN jangan sampai dibuat ragu atau takut tentang kepastian Ujian
Nasional sebagai sarana untuk mengukur kemampuan mereka di bangku
sekolahnya. Walaupun UN mengundang pro dan kontra tapi hendaknya tetap di
jalur yang semestinya, karena bagaimana pun para siswa terutama siswa SMA /
MA adalah para calon Agent of Change yang akan berperan untuk membawa
perubahan-perubahan konstruktif bagi negeri ini. Oleh karena itu agar keraguan
berkurang di kalangan dunia kependidikan, kami dari Tim Ujian Nasional
mencoba menyampaikan beberapa hal yang dipandang penting terutama dalam hal
dalam kebijakan UN 2011 yang tentunya diharapkan dapat menjadi bekal bagi
para siswa agar mereka cukup persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional 2011.

B. Empiris
1. Analisa Kebijakan UAN
Analisa kebijakan UAN yang bertentangan dengan UU Sisdiknas dan
bentuk evaluasi di dalam pendidikan. Pertama, ada anggapan dari sebagian orang,
terutama para pejabat Legislatif yang menganggap bahwa UAN bertentangan
dengan UU Sisdiknas. Dimana Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk
menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir
Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa
sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas.

4
Begitu pula evaluasi dalam pendidikan seharusnya dapat memberikan
gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-
Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi
tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan
tiga informasi penting seperti yang dipaparkan oleh McNeil. Selain itupula dalam
evaluasi pendidikan diharapkan dapat memberikan informasi tentang keimanan
dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan juga dapat
meningkatkan kreativitas, kemandirian dan sikap demokratis peserta didik

Dari paparan di atas, yang menjadi pertanyaan apakah mutu pendidikan
dapat diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun
ajaran? Apalagi bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku
siswa, apakah bisa dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu
pendidikan pada tingkat nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi
pelaksanaan UAN sebagaimana yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan
sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari
tahun sebelumnya. Bahkan terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu
disebut Ebtanas) berbeda dari tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka
akibatnya tidak bisa dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan
sekarang. Selain itu mutu pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya
memberikan tes pada beberapa mata pelajaran ‘penting’ saja, apalagi dilaksanakan
sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu pendidikan terkait dengan semua mata
pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya
pengetahuan kognitif saja. UAN tidak akan dapat menjawab pertanyaan seberapa
jauh perkembangan anak didik dalam mengenal seni, olah raga, dan menyanyi.
UAN tidak akan mampu melihat mutu pendidikan dari sisi percaya diri dan
keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bersikap demokratis.
Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu menyediakan informasi yang cukup
mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang diinginkan masih terlalu jauh
untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN.

5
Selain itu pula UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa
mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang
perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan. Karena
tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran tidak dapat memberikan
gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik, tes tersebut tidak dapat
memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian karena tes tertulis tidak
dapat melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak selain itu pula tes
di ujung tahun ajaran tidak dapat menyajikan keterampilan siswa yang
sesungguhnya dan juga hasil tes tidak dapat menggambarkan kemampuan dan
keterampilan anak selama mengikuti pelajaran. Oleh karena itu terjadi
pertentangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan bentuk ujian yang
diterapkan, karena pengukuran hasil belajar tidak bisa diukur hanya dengan
memberikan tes di akhir tahun ajaran saja.

Kedua, tujuan UAN yang lain dalam Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran
2003/2004 adalah untuk mengukur mutu pendidikan dan
mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional,
provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Adalah ironis kalau UAN dipakai
sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan pendidikan, karena
pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif, afektif, dan
psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang
berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang semuanya itu
tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata lain, UAN
belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban
penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.

Ketiga, jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan
dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu
diversifikasi kurikulum. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan
dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan
kota-kota besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah

6
perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda
mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota
relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah
pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah
guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan
penerapan UAN dengan standar yang sama untuk semua sekolah di Indonesia
telah melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidakadilan bagi peserta
didik yang tentu saja hasilnya akan jauh berbeda, sedangkan kebijakan yang
diambil adalah menyamakan mereka.

Keempat, pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang
dianggap “penting” juga memiliki permasalahan tersendiri. Sekarang yang terjadi
orang akan beranggapan hanya matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan
IPA yang merupakan mata pelajaran penting. Sedangkan ada diantara kita anak-
anak yang memiliki bakat untuk melukis atau olahraga, mereka akan meragukan
bahwa pelajaran tersebut merupakan pelajaran penting bagi dia. Sehingga bakat
tersebut akan terkubur dengan sendirinya karena yang ada di benak mereka adalah
bagaimana mereka bisa lulus dalam UAN tersebut. Dengan demikian pelaksanaan
UAN hanya pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung
mengajarkan hanya mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan
ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain,
padahal tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari
kondisi ini adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan
pengujian.

Kelima, tingkat kreativitas guru empat mata pelajaran tersebut akan
terkekang karena dikejar target untuk menyelesaikan materi. Selain itu pula
metode pembelajaran yang seharusnya bisa disajikan secara menarik dan
dikembangkan sesuai dengan implementasi peserta didik dalam kehidupan sehari-
hari tergantikan dengan metode drill latihan soal dan peserta didik hanya
“dicekoki” dengan bagaimana dapat menjawab soal-soal pada empat mata
pelajaran tersebut.

7
Keenam, beberapa orang berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan
kebijakan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22
Tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Kebijakan UAN
dilaksanakan bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah. Selain
itu pada saat yang sama juga dikenalkan kebijakan otonomi sekolah melalui
manajemen berbasis sekolah. Evaluasi sudah seharusnya menjadi hak dan
tanggung jawab daerah termasuk sekolah, tetapi pelaksanaan UAN telah membuat
otonomi sekolah menjadi terkurangi karena sekolah harus tetap mengikuti
kebijakan UAN yang diatur dari pusat. Selain itu UAN berfungsi untuk
menentukan kelulusan siswa. Padahal pendidikan merupakan salah satu bidang
yang diotonomikan, kecuali sistem dan perencanaan pendidikan yang diatur
secara nasional termasuk kurikulum. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan
otonomi sekolah yang berhak meluluskan siswa adalah sekolah melalui kebijakan
manajemen berbasis sekolah. UAN telah dijadikan alat untuk “menghakim”
siswa, tetapi dengan cara yang tanggung karena dengan memberikan batasan nilai
minimal 4.25. Dengan menetapkan nilai serendah itu, maka berarti bahwa standar
mutu pendidikan di Indonesia memang ditetapkan sangat rendah. Kalau
direnungkan, apa arti nilai 4 pada suatu ujian. Nilai 4 dapat diartikan hanya 40%
dari seluruh soal yang diujikan dikuasai, padahal secara umum pada bagian lain
diakui bahwa nilai yang dapat diterima untuk dinyatakan cukup atau baik adalah
di atas 6. Dengan kata lain, UAN selain menetapkan standar mutu pendidikan
yang sangat rendah telah “menghakimi” semua siswa tanpa melihat latar
belakang, situasi, kondisi, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar yang
dialami terutama siswa di daerah pedesaan.

C. Normatif
1. Pelaksanaan UN di lapangan
1) Dilematis Pelaksanaan UN

Ujian Nasional sejak digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003 tidak jarang
menjadi momok menakutkan bagi pelajar yang kawatir tidak lulus karena tidak
mendapatkan nilai yang mencukupi, sementara bagi para guru dan institusi

8
pendidikan tempat siswa menimba ilmu kekawatiran serupa terjadi, kualitas dan
profesionalitas mereka dipertaruhkan, tergantung dari banyak dan sedikitnya
siswa yang lulus dalam UN. Sehingga tidak jarang terjadi kecurangan-kecurangan
dari pelaksanaan UN di daerah-daerah baik yang dilakukan oleh siswa itu sendiri
maupun oleh para pendidik, dengan tujuan satu, mendongkrak nilai UN siswa
agar mendapatkan nilai sesuai dengan batas minimal kelulusan.

UN di beberapa daerah masih cenderung mengabaikan nilai-nilai kejujuran
dan tanggung jawab. Media elektronik dan cetak merekam kecurangan ini, banyak
sekolah dan orang tua siswa yang paranoid dan sangat khawatir siswanya tidak
lulus ujian dengan persentase tinggi. UN layaknya ‘palu sidang’ yang akan
dijatuhkan untuk memvonis apakah seorang siswa dianggap pandai sehingga
layak memperoleh predikat lulus, atau sebaliknya.

Mengingat hasil ujian ini berimplikasi pula pada eksistensi dan kredibilitas
sekolah, setelah ditelisik lebih jauh ternyata paranoid ini tidak saja mengidap
sekolah dan orang tua siswa, namun pemerintah daerah juga merasa perlu dan
berkepentingan menjaga muka terkait pengelolaan pendidikan di wilayahnya.
Selanjutnya sudah bisa ditebak, beragam kebijakan diambil oleh pemerintah
daerah terkait sukses UN ini.

Realitas ini tentu sangat memprihatinkan apalagi di dunia pendidikan yang
semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Faktanya pelaksanaan UN
tahun 2008-2009 yang lalu masih ditemukan sejumlah 33 sekolah yang
melakukan kecurangan dalam pelaksanaannya (www.swaramerdeka.com). Masih
segar dalam ingatan kita terhadap sekelompok guru yang menamakan dirinya
Komunitas Air Mata Guru. Sebuah kelompok guru yang meskipun pahit telah
berani mengikuti nuraninya sebagai seorang pendidik, untuk melaporkan berbagai
macam tindakan kecurangan dalam pelaksanaan ujian pada sekolah mereka di
Medan dan daerah sekitarnya.

Sayangnya, keberanian mereka mengungkap kecurangan ini menuai
intimidasi. Mereka dianggap mencemarkan nama baik sekolah, diturunkan atau

9
ditunda kenaikan pangkatnya hingga diberhentikan. Sikap Depdiknas pun setali
tiga uang. Alih-alih melindungi para guru tersebut malah ikut menyudutkan
mereka. Padahal dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya berhak
memperoleh perlindungan atau memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan
dalam melaksanakan tugas.

Masyarakat sebenarnya bisa mengerti ketika pemerintah menilai bahwa
ujian tersebut bisa meningkatkan motivasi belajar. Namun kamingnya, motivasi
itu muncul hanya di akhir tahun ajaran menjelang ujian, bukan sebagai bagian dari
proses pembelajaran. Mereka berlomba-lomba memasuki institusi pendidikan non
formal hanya untuk dapat lulus UN dan tentunya akan membuat pengeluaran
masyarakat di bidang pendidikan semakin membengkak, belum lagi mental
pelajar yang menjadi terganggu dengan tekanan belajar yang meningkat tajam.

2) Pelaksanaan UN di Tahun 2010

Tahun 2010 ini sejarah pendidikan kita kembali tercoreng oleh ulah para
oknum pendidik beberapa waktu lalu yang harus berurusan dengan kepolisian
karena kasus kecurangan dalam pelaksanaan UN. Bahkan ada beberapa sekolah
yang secara diam-diam telah memberikan bocoran jawaban UN kepada para
siswanya. Bisnis bocoran soal dan jawaban pun menjadi ladang uang bagi oknum-
oknum yang tidak bertanggung jawab. Sejak awal digulirkan kebijakan UN,
tampak jelas begitu banyak permasalahan dan kontroversi yang ditimbulkannya.

2. Apa yang terjadi jika UN dilaksanakan

Akhir – akhir ini kita diingatkan kembali dengan masalah Ujian Nasional,
karena beberapa Media baik cetak maupun Elektronik, ramai – ramai
memberitakan kemenangan dari gugatan warga Negara atau Citizen Lawsuit
terhadap Pemerintah, dimana kemenangan ini mulai dari tingkat Pengadilan

10
Negri sampai dengan Mahkamah Agung. Ujian Nasional sesungguhnya
mempunyai 2 sisi baik dan buruk,

 SISI BAIK

1. Kita jadi mempunyai standard yang sama untuk kelulusan siswa,
sehingga pada akhirnya tidak ada perbedaan antara siswa di Jakarta dan
kota kota besar lainnya dengan siswa didaerah.

2. Kelulusan akan menjadi suatu hal yang membanggakan dan suatu hal
yang patut disyukuri, karena ditempuh dengan perjuangan dan
pengorbanan yang besar.

3. Pada akhirnya untuk masuk ke Perguruan tinggi cukup menggunakan
nilai hasil kelulusan.

4. Dan lain lain.

 SISI BURUK

1. Siswa menjadi Depresi dan sangat tertekan karena Ujian Nasional seolah
olah tidak bisa diprediksi materi yang akan diujikan

2. Karena Standard pengajaran diseluruh Indonesia berbeda – beda, sesuai
dengan kualitas pengajar, tingkat ekonomi didaerah, dan lain lain, maka
sulit untuk dilakukan penyeragaman soal ujian. Bayangkan saja sekolah
yang berbeda standard pengajarannya dipaksakan harus mengerjakan soal
yang sama.

3. Pembuat soal kurang turun ke lapangan, meninjau sekolah sekolah
terpencil untuk mengetahui sebaiknya materi Ujian itu sampai tingkat
yang bagaimana.

4. Di beberapa kasus terjadi kesalahan dari sistim koreksi yang dilakukan
untuk menilai hasil ujian Nasional ini, contohnya ada kasus dimana satu

11
sekolah tidak lulus ujian dan selanjutnya dilakukan ujian ulang.
Bagaimana Pemerintah bisa yankin bahwa sistim penilaiannya sudah
benar, seandainya saja pada contoh kasus diatas yang mengalami
kesalahan penilaian hanya 11 orang, mungkin ujiannya tidak bisa diulang.
Dan jadilah siswa yang apes tadi harus menerima nasib ia tidak lulus ujian.

3. Sebuah Gambaran tentang Ujian Nasional (UN)

 UN Amburadul, Gambaran Pendidikan yang Bobrok 09:48, 29/04/2010

Pengumuman hasil ujian nasional (UN) di beberapa daerah sangat
mengejutkan kita. Ironisnya, ada sekolah yang 99 persen bahkan 100 persen
siswanya dinyatakan tidak lulus. Meski tingkat kelulusan cenderung meningkat,
tapi kecurangan-kecurang pada pelaksanaan UN menegasikan validitas data
kelulusan.
“Fenomena kecurangan dan hasil UN yang amburadul dan mengecewakan
tersebut merupakan gambaran kebobrokan sistem pendidikan kita,” kata Syamsir
Pohan, Ketua Umum Badko HMI Sumut.
Terkait Komisi E DPRD Sumut meminta panitia UN Provinsi Sumatera Utara
memeriksa ulang lembar jawaban untuk Kabupaten Labuhan Batu, menyusul
penolakan hasil UN dari Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu, itu
merupakan affirmative action, tindakan penyelamatan positif.
Tapi, akar permasalahan kita bukan itu. Sejatinya, Komisi E DPRD Sumut
harus mengevaluasi total manajemen mutu pendidikan kita, khususnya di

12
Sumatera Utara. Lebih jauh lagi, persoalan ini harus dibahas secara serius dan
dibawa ke Musrembangnas oleh Dinas Pendidikan Sumut,” tambah Syamsir.
Belakangan, lanjut Syamsir, peristiwa kasus bunuh diri Juliana di Plaza
Medan Fair juga diuga akibat stres karena takut tidak naik kelas.
Ini juga menjadi persoalan. Ada kecenderungan bahwa kenaikan kelas,
kelulusan UN dan prestasi dengan tolok ukur angka-angka di rapor menjadi
“momok” bagi siswa.
“Menurut saya, selain berorientasi pada peningkatan intelejensia dan
pengetahuan, pendidikan kita harus diarahkan pada pembangunan mental dan
kerohanian. Agar siswa dapat menghayati dan menikmati pendidikan, khususnya
pendidikan formal, sebagai sebuah kawah candra di muka, tempat menempa diri,”
pungkasnya. (mag-13/rel)

Gambar: Menangis Seorang siswi SMK Negeri 7 Medan menangis ketika
mengetahui dirinya harus kembali melaksanakan ujian ulangan karena
gagal lulus pada Ujian Nasional, Senin (26/4)

D. Evaluatif

1. Bagaimana seharusnya UN itu.

1) Menurut kami Ujian Nasional dengan penyeragaman soal, baik untuk
dilakukan diseluruh Indonesia, namun untuk kelulusan siswa tetap
diserahkan pada sekolah masing – masing dengan
mempertimbangkan hasil ujian Harian, Tengah Semester dan Semester

13
yang telah dilakukan selama ini. Karena yang benar benar mengetahui
kemampuan siswa yang bersangkutan adalah guru guru mereka
sendiri.

2) Data hasil dari Ujian Nasional itu menjadi masukan yang baik bagi
Pemerintah untuk mengetahui peta keberhasilan pendidikan yang
dilaksanakan diseluruh Indonesia, jadi bisa tahu, mana daerah yang
perlu mendapatkan perhatian lebih, atau mana Sekolah yang perlu
dievaluasi mutu pendidikkannya.

2. Kenapa harus demikian
Mutu Standard Pendidikan belum merata baik antar sekolah, maupun antar
Daerah, untuk itu merupakan tugas Pemerintah melalui Departemen
Pendidikan untuk membenahi hal tersebut. Alasan lainnya adalah
Pemerintah seharusnya tidak terburu buru menerapkan standard yang
MUTLAK untuk Ujian Nasional, sebaiknya diberlakukan standard
NORMA, yang mempertimbangkan berbagai aspek, belajar itu tidak harus
dibangku sekolah, banyak orang yang disekolahnya biasa-biasa saja
namun setelah lulus ia menambah pengetahuannya dengan berbagai hal
yang menunjang pekerjaannya dan berhasil.
Disini kami berikan sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin
jadi Ahli kimia, tapi ia tidak bisa segera mewujudkan keinginannya itu
karena tidak lulus ujian Nasional pada mata pelajaran Matematika, di Bab
Calculus Diferential. Atau tidak lulus Bahasa Indonesia pada bagian
Sinonim. Kan konyol jadinya ? Lebih parah lagi bila ternyata ada oknum
pembuat soal ujian yang merasa seperti pembuat Teka – teki, jadi makin
susah dijawab, dia makin bangga karenanya. Kasihan anak – anak jadi
korban. Kan bisa saja itu terjadi, banyak yang bilang orang Indonesia
(baca “Oknum”) itu, seringkali terlihatnya seperti rendah hati, padahal
Arogan. contohnya banyak (kalau dibilang banyak berarti tidak semua)
yang sebelum terpilih jadi anggota DPR, wah baik banget seolah olah akan
berjuang demi rakyat, namun setelah terpilih ternyata mengecewakan.

14
3. Aspek yang perlu diterapkan dalam UN
Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan, setidaknya ada empat
penyimpangan dengan digulirkannya UN. Pertama, aspek pedagogis.
Dalam ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek,
yakni pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap
(afektif). Tapi yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu
kognitif, sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu
kelulusan.

Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya
pasal 35 ayat 1 yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan
terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan,
yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. UN yang selama ini
dilakukan hanya mengukur kemampuan pengetahuan dan penentuan
standar pendidikan yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah.
Ketiga, aspek sosial dan psikologis.
Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah
mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 dan
meningkat seterusnya dari tahun ketahun. Ini menimbulkan kecemasan
psikologis bagi peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa
menghafalkan pelajaran-pelajaran yang akan di UN kan di sekolah dan di
rumah. Keempat, aspek ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN
memboroskan biaya.
Tidak hanya pemerintah yang harus mengeluarkan dana ekstra
dalam memberikan materi tambahan kepada peserta didik, tetapi juga
orang tua siswa yang terpaksa mengalokasikan dana untuk memberikan
kursus tambahan agar anaknya mendapatkan nilai memuaskan dalam
pelaksanaan UN nantinya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk
menangkal penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama

15
ini masih sangat tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi
ini memungkinkan terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ujian Nasional
yang diberlakukan oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan tidak lain
mempunyai tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang
terpuruk dari Negara lain terutama di wilayah Asia Tenggara. Meskipun akhirnya
terjadi kontroversi di tengah masyarakat dan berakibat keluarnya putusan MA,
yang melarang dilaksanakannya UN pada tahun ajaran 2009/2010.

B. Saran
Adapun beberapa hal yang dapat kami sarankan terhadap pemerintah perlu
dilakukan dalam pelaksanaan UN selanjutnya yaitu:

16
1. UN tetap dilaksanakan tetapi soal UN diselaraskan dengan tingkatan
Akreditasi masing-masing sekolah.
2. Membentuk kepanitiaan independen dalam pelaksanaan UN dari tingkat
pusat,sampai ke sekolah-sekolah. Bukan hanya itu, Panitia Independen
juga bertugas menjadi pengawas ruang saat berlangsungnya ujian,
mengawasi dan atau mengumpulkan lembar-lembar jawaban, sampai
dengan pengawasan dalam proses penilaian dan pengumuman hasil ujian
nasional.
3. Pemerintah pusat dan daerah perlu terus menerus meningkatkan
pengalokasian anggaran di bidang pendidikan agar kualitas pendidikan
dinegeri ini semakin meningkat dan merata.
4. Para pendidik dan pemerintah daerah negeri ini perlu belajar kembali
tentang norma-norma kejujuran, sehingga tidak dengan mudah
menerapkan segala cara dalam mendongkrak nilai UN siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Conny R. Semiawan. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. 2005. PT
RAJAGRAFINDO PERSADA : JAKARTA

Jones, Charles O.. (1996). Pengantar Kebijakan Publik. Ed. 1. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.

Suharto, Edi. (2005). Analisis Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

www.swaramerdeka.com.

www.kompas.com.

http://www.hariansumutpos.com/2010/04/42801/un-amburadul-gambaran-
pendidikan-yang-bobrok.html

17
http://jurnal-politik.blogspot.com/2009/07/kontroversi-ujian-nasional.html

http://antikorupsi.org/indo/content/view/3764/2/

http://scalamedia.net/berita/editorial/389-ujian-nasional.html

http://kampungtki.com/baca/10710

18