You are on page 1of 43

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA PELVIS

PERAWATAN TRAUMA

OLEH:
Kelompok 7
Liasanil ulfa Ilaika 1411311002
Winda Juwita 1411311018
Rahma Febrianti 1411312023
Ranti Anggasari 1411312024

PROGRA STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ASUHAN
KEPERAWATAN TRAUMA PELVIS“, yang mana makalah ini merupakan tugas mata
kuliah Perawatan Trauma.

Dalam penulisan makalah ini kami banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Oleh sebab itu, kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
seperjuangan dan pihak lain yang telah membantu kami. Semoga bimbingan, bantuan dan
petunjuk yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Amiin ya rabbal
‘alamin.

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak sempurna. Oleh karena itu dengan tulus
hati kami menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun dan mengarahkan kepada
perbaikan. Akhir kata kami mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca
serta dapat dijadikan sebagai sumbangan pikiran untuk perkembangan pendidikan.

Padang, 27 Januari 2017

Kelompok 7

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Pelvis .......................................................................................... 3
2.2 Klasifikasi Trauma Pelvis ......................................................................... 8
2.3 Mekanisme Injuri yang Menyebabkan Trauma Pelvis .............................. 11
2.4 Manifestasi Klinis...................................................................................... 12
2.5 Penilaian untuk Fraktur Pelvis .................................................................. 13
2.6 Komplikasi ................................................................................................ 16
2.7 Penatalaksanaan ......................................................................................... 17
2.8 Pemeriksaan Diagnosis .............................................................................. 18

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................... 19

BAB IV PENUTUP Kesimpulan .................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 35

Lampiran

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur pelvis berkekuatan tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa.
Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama
lazim dengan fraktur berkekuatan tinggi. Kira-kira 15–30% pasien dengan cedera
pelvis berkekuatan tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara
langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan
merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan
keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi
rangkaian besar (chris jack, 2009).
Karena trauma multipel biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur pelvis,
hipotensi yang terjadi belum tentu berasal dari fraktur pelvis yang terjadi. Pasien
dengan fraktur pelvis mempunyai 4 daerah potensial perdarahan hebat, yaitu
permukaan tulang yang fraktur, trauma pada arteri di pelvis, trauma pada plexus
venosus pelvis, sumber dari luar pelvis.
Berdasarkan uraian diatas kelompok akan menjelaskan bagaimana mekanisme
fraktur pelvis sehingga menyebabkan gangguan serta bagaimana penangan yang
dapat dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi pelvis?
2. Apa saja klasifikasi trauma pelvis?
3. Bagaimana mekanisme injuri yang menyebabkan trauma pelvis?
4. Apa sitem penilaian fraktur pelvis?
5. Apa saja komplikasi trauma pelvis?
6. Bagaimana penatalaksanaan trauma pelvis?
7. Apa saja pemeriksaan diagnosis trauma pelvis?

1

Mengetahui bagaimana penatalaksanaan trauma pelvis. 5.3 Tujuan Tujuan makalah ini di buat adalah: 1.1. Mengetahui bagaimana mekanisme injuri yang menyebabkan trauma pelvis. 3. Mengetahui apa sitem penilaian fraktur pelvis. Mengetahui apa saja pemeriksaan diagnosis trauma pelvis. 7. Mengetahui apa saja klasifikasi trauma pelvis. 4. Mengetahui apa saja komplikasi trauma pelvis. 2 . 2. 6. Mengetahui bagaimana anatomi pelvis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan saraf (Syaifuddin. tulang-tulang ini bersatu pada simfisis pubis. 2014). Pelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terbentuk dari tiga tulang yaitu sacrum dan dua tulang innominata. os sacrum (Syaifuddin. dan otot.1 Anatomi Pelvis Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada di sebelah dorsokaudal terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke extremitas inferior. yang masing-masing terdiri dari ilium. Vertebra koksigeus hanya terdiri atas 3 . yang merupakan bagian penting bagi ahli kandungan untuk menentukan ukuran pelvis. Pinggir atas atau basis ossis sacri bersendi dengan vertebra lumbalis V. Kavitas pelvis yang berbentuk seperti corong. disebut promontorium os sacrum. pembuluh darah dan limfe. 2014). rectum. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang. ischium dan pubis. Pinggir anterior dan atas vertebra sacralis pertama menonjol ke depan sebagai batas posterior apertura pelvis superior. os ischii. Tulang ini terdiri dari empat vertebra rudimenter yang bersatu membentuk tulang segitiga kecil yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum. Simfisis bertindak sebagai penopang sepanjang memikul beban berat badan untuk mempertahankan struktur cincin pelvis. dan os pubis. memberi tempat kepada vesicaurinaria. sacrales. Pinggir inferior yang sempit bersendi dengan os coceygis. Os sacrum terdiri dari lima vertebrae rudimenter yang bersatu membentuk tulang berbentuk baji yang cekung kearah anterior. os sacrum bersendi dengan kedua os coxae membentuk articulation sacroiliaca. alat kelamin pelvic. dan coccygeus filum terminale dan lemak fibrosa. Pelvis bersendi dengan vertebra lumbalis ke-5 di bagian atas dan dengan caput femoris kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai. Foramina vertebralia bersama-sama membentuk canalis sacralis. Tulang-tulang innominata menyatu dengan sacrum di bagian posterior pada dua persendian sacroiliaca di bagian anterior. Kerangka pelvis terdiri dari: dua os coxae yang masing-masing dibentuk oleh tiga tulang : os ilii. Canalis sacralis berisi radix anterior dan posterior nervi lumbales. Di lateral. ligamentum. 1. Os coccygis berartikulasi dengan sacrum di superior.

namun vertebra pertama mempunyai processus transverses rudimenter dan cornu coccygeum. Tiga tulang dan tiga persendian tersebut menjadikan cincin pelvis stabil oleh struktur ligamentosa. korpus. (Syaifuddin. Permukaan aurikularis ilium berartikulasi dengan sacrum pada sendi sakro iliaka (sendi sinovial). 4. 2003) Foramen obturatorium merupakan lubang besar yang dibatasi oleh rami pubis dan iskium. iliakus. Krista iliaka berjalan ke belakang dari spina iliaka anterior superior menuju spina iliaka posterior superior. yang terkuat dan paling penting adalah ligamentum- ligamentum sacroiliaca posterior. Fosailiaka merupakan tempat melekatnya m. anterior. Linea iliopektinealis berjalan di sebelah anterior permukaan dalam ilium dari permukaan aurikularis menuju pubis. terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior. Tulang ini berartikulasi dengan tulang pubis di tiap sisi simfisis pubis. gluteus. Permukaan superior dari korpus memiliki krista pubikum dan tuberkulum pubikum. dan anterior memperkuat sendi sakro iliaka. Iskium terdiri dari spina di bagian posterior yang membatasi insisura iskiadika mayor (atas) dan minor (bawah). Linea glutealis inferior. 3. Iskium. 2014 dan Rabe. Tuberositas iskia adalah penebalan bagian bawah korpus iskium yang menyangga berat badan saat duduk. interoseus. Permukaan dalam ilium halus dan berongga membentuk fosailiaka. dan posterior membatasi pelekatan glutei ke tulang. Pubis. 2. Di bawah tonjolan tulang ini terdapat spina inferiornya. Permukaan aurikularis ilium disebut permukaan glutealis karena disitulah pelekatan m. Batas atas tulang ini adalah Krista iliaka. Ligamentum sakro iliaka posterior. Ramus iskium menonjol ke depan dari tuberositas ini dan bertemu serta menyatu dengan ramus pubis inferior. Saat dewasa tulang innominata menyatu selurunya pada asetabulum. Kornu adalah sisa pedikulus dan processus articularis superior yang menonjol ke atas untuk bersendi dengan kornu sakral. Ligamentum-ligamentum ini terbuat dari serat oblik pendek yang melintang dari tonjolan posterior sacrum sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS) dan spina iliaca posterior inferior (SIPI) seperti halnya serat longitudinal yang lebih panjang melintang dari sacrum lateral sampai ke spina iliaca 4 . Ilium.

Gambar 2. 5 . Ligamentum sacrospinosum melintang dari batas lateral sacrum dan coccygeus sampai ke ligamentum sacrotuberale dan masuk ke spina ischiadica. ligamentum lumbosacrale melintang dari processus transversus lumbalis ke lima sampai ke ala ossis sacri (Syaifuddin. 2003).jpg Ligamentum sacroiliaca anterior jauh kurang kuat dibandingkan dengan ligamentum sacroiliaca posterior.wordpress.com/2009/12/447f02.files.wordpress. Ligamentum sacrotuberale adalah sebuah jalinan kuat yang melintang dari sacrum posterolateral dan aspek dorsal spina iliaca posterior sampai ke tuber ischiadicum.com/2009/12/447f01. Sumber: https://ningrumwahyuni. Pandangan posterior (A) dan anterior (B) dari ligamentum pelvis. memberikan stabilitas vertikal pada pelvis. bersama dengan ligamentum sacroiliaca posterior.jpg. 2014). Ligamentum iliolumbale melintang dari processus transversus lumbalis keempat dan kelima sampai ke crista iliaca posterior. Sumber: https://ningrumwahyuni. Gambar 1.posterior superior (SIPS) dan bergabung dengan ligamentum sacrotuberale (Rabe. Aspek internal pelvis yang memperlihatkan pembuluh darah mayor yang terletak pada dinding dalam pelvis. Ligamentum ini.files.

dinding dorsal. Cabang anterior arteri iliaca interna termasuk arteri obturatoria. menjadi arteri iliaca externa. Arteri iliaca interna terletak diatas pinggiran pelvis. Masing-masing musculus piriformis meninggalkan pelvis minor melalui foramen ischiadicum (sciaticum) 6 . Masing-masing musculus obturator internus meninggalkan pelvis melalui foramen ischiadicum minus dan melekat pada femur (os femoris). Pemahaman tentang anatomi pelvis akan membantu untuk mengenali pola fraktur mana yang lebih mungkin menyebabkan kerusakan langsung terhadap pembuluh darah mayor dan mengakibatkan perdarahan retroperitoneal signifikan. dan cabang lain dari pembuluh iliaca interna. Arteri iliaca communis terbagi. arteri glutea inferior. yang terletak secara langsung diatas tulang. arteri glutea superior dan arteri sacralis lateralis. 3. 2003). Arteri tersebut mengalir ke anterior dan dalam dekat dengan sendi sacroliliaca. Arteri glutea superior berjalan ke sekeliling menuju bentuk panggul lebih besar. Dinding-dinding pelvis lateral memiliki kerangka tulang yang dibentuk oleh bagian-bagian os coxae. dan articulation sacroiliaca serta ligamenta sacroiliaca. Musculus piriformis melapisi dinding ini di sebelah lateral. Dinding pelvis ventral pertama-tama dibentuk oleh kedua corpus ossis pubis dan ramus ossis pubis serta symphisis pubica. dua dinding lateral. Arteri pudenda dan obturatoria secara anatomis berhubungan dengan rami pubis dan dapat cedera dengan fraktur atau perlukaan pada struktur ini. 2. Musculus obturator internus menutupi hampir seluruh dinding-dinding ini. arteri umbilicalis. memyang terdapat pada pelvis anterior diatas pinggiran pelvis. arteri pudenda. bagian-bagian os ischii yang berdekatan. arteri rectalis dan arteri hemoroidalis. Medial terhadap musculus obturator internus terdapat nervus obturatorius dan pembuluh obturatoria. Dinding pelvis dorsal dibentuk oleh sacrum. kulit genetalia externa. Arteri-arteri ini dan juga vena-vena yang menyertainya seluruhnya dapat cedera selama adanya disrupsi pelvis. dan sebuah dasar pelvis 1. Arteri iliaca externa memperdarahu otot dan tulang paha. arteri vesicalis. Dinding pelvis dapat dibedakan atas dinding ventral. Cabang posterior arteri iliaca interna termasuk arteri iliolumbalis. dan dinding abdomen bagian luar (Rabe.

SIAS menghadap ke medial SIAS menghadap ke ventra Apertura pelvis superior berbentuk heart. tuba uteri falopii. Berikut perbedaan bentuk panggul pria dan wanita Pria Wanita Dinding pelvis spurium tajam / curam. 2003). 4. Dinding pelvis spurium dangkal. Medial terhadap musculus piriformis terdapat saraf-saraf dari plexus sacralis dan pembuluh iliaca interna serta cabangnya.5 cm Pada wanita. Kelenjar prostat. rongga panggul lebih besar (perbedaan sampai sebesar 0. dan dari dinding-dinding pelvis lateral yang satu ke dinding- dinding pelvis lateral di seberangnya. majus. diameter lebih besar. bundar. labia minora kanan dan kiri diatas bertemu 7 . Rongga panggul lebih kecil 0. lebar / besar. testis. Organ genetalia yang berada di penis. Karena itu. lengkung.5-1.5 cm). mons veneris. Apertura pelvis inferior berbentuk Apertura pelvis inferior berbentuk lonjong dan kecil. labia mayor kanan dan kiri. os sacrum menonjol ke anterior. Diaphragma pelvis terbentang antara os pubis di sebelah ventral. vesikulaseminalis. Pelvis verum merupakan segmen panjang Pelvis verum merupakan segmen suatu kerucut pendek. dengan promontorium oval. pendek suatu kerucut panjang. diaphragma pelvis menyerupai sebuah corong yang tergantung pada tempat perlekatan tadi (Rabe. dan os coccyges di sebelah dorsal. Angulus subpubicus merupakan sudut Angulus subpubicus adalah sudut tajam / kecil. ukuran-ukuran diameter dibandingkan wanita. cavum pelvis yaitu ovarium. Apertura pelvis superior berbentuk shaped. uterus.5-1. Dasar pelvis dibentuk oleh diaphragma pelvis yang dibentuk oleh musculus levator ani dan musculus coccygeus serta fascia-fascia yang menutupi permukaan cranial dan permukaan kaudal otot tersebut.

8 . O.U.com/anatomipelvis-160127041740/95/anatomi-pelvis-4- 638. Sumber: https://image. Klaifikasi Tile Menurut Tile (1988) ia membagi fraktur pelvis ke dalam cidera yang stabil. Gambar 3.E (orivisium uretra externum) dibawahnya terdapat orivisium vagina (lubang vagina). menbentuk klitoris. cidera yang secara rotasi tak stabil dan cidera yang secara rotasi dan vertikal tak stabil. a Tipe A/stabil Tipe A/stabil ini temasuk avulse dan fraktur pada cincin pelvis dengan sedikit atau tanpa pergeseran.slidesharecdn.2 Klasifikasi Taruma Pelvis 1.jpg?cb=1453868572 2.

9 . dan mekanisme kombinasi (CM). Klasifikasi Young dan Burgess Klasifikasi Young-Burgess membagi disrupsi pelvis kedalam cedera- cedera kompresi anterior-posterior (APC). Daya rotasi luar yang mengena pada satu sisi pelvis dapat merusak dan membuka simfisis biasa disebut fraktur open book atau daya rotasi internal yaitu tekanan lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada rami iskiopubik pada salah satu atau kedua sisi juga disertai cidera posterior tetapi tida ada pembukaan simfisis. kompresi lateral (LC). Kategori APC dan LC lebih lanjut disubklasifikasi dari tipe I – III berdasarkan pada meningkatnya perburukan cedera yang dihasilkan oleh peningkatan tekanan besar. shear vertikal (VS). 2. b Tipe B/ rotasi tak stabil Tipe B/ rotasi tak stabil yaitu secara rotasi tidak stabil tapi secara vertikal stabil. terdapat kerusakan pada ligament posterior yang keras dengan cidera pada salah satu atau kedua sisi dan pergeseran vertical pada salah satu sisi pelvis. c Tipe C/ secara rotasi dan vertikal tak stabil Tipe C yaitu secara rotasi dan vertical tak stabil. mungkin juga terdapat fraktur acetabulum.

Perpindahan hemipelvis mungkin dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah. memendek dan tidak terkena gaya tarik. sering mendorong ke arah diastase simfisis pubis. arteri glutea superior) relatif luar biasa dengan cedera LC.5 cm dengan sisi posterior yang intak) cedera yang stabil. arteri iliaca interna. 1) Tipe APCI (diastasis simfisis <2. diduga sebagai akibat dari laserasi fragmen fraktur. 2) Tipe APCII (Diastasis simfisis >2. dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis.5 cm dengan terbukanya SI joint tapi tidak terdapat instabilitas vertikal). yang berada dalam penjajaran dekat dengan persendian sacroiliaca anterior. Ada cedera “open book” yang mengganggu ligamentum sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum sacrospinale ipsilateral dan ligamentum sacrotuberale. ketika hal ini terjadi. serta pembuluh darah iliaca interna.a Cedera APC Cedera APC disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis. 3) Tipe APCIII (Disrupsi komplit dari anterior dan posterior pelvis dengan kemungkinan adanya pergeseran vertikal). Disrupsi pembuluh darah besar bernama (misal. Ligamentum sacrotuberale dan ligamentum sacrospinale. Cedera APC dipertimbangkan menjadi penanda radiografi yang baik untuk cabang- cabang pembuluh darah iliaca interna. b Cedera LC Cedera LC sebagai akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar pelvis pada sisi benturan ke arah midline. 10 .

3 Mekanisme Injury yang Menyebabkan Trauma Pelvis Pada saat seseorang mengalami kecelakaan. jatuh dari ketinggian. 2004) 2. Karena fraktur terbentuk. Trauma langsung bisa menembus kulit sehingga mengalami perlukaan maka terjadi pelepasan mediator inflamasi lalu terjadilah vasodilatasi yang mengakibatkan peningkatan aliran darah dan permeabelitas kapiler lalu terjadilah kebocoran interstisial dan terbentuk oedema. Tulang tidak mampu meredam energi yang terlalu besar sehingga terjadi fraktur. hantaman. terjadi pergeseran fragmen tulang sehingga merusak jaringan. Oedema ini akan menekan pembuluh darah sehingga terjadilah inefektif perfusi jaringan perifer. Penekanan pembuluh 11 . otot. (Frakes dan Evan. dsb secara langsung akan menekan tulang pelvis. vaskuler disekitar pelvis. 2) Tipe LCII (impaksi sakral dengan fraktur iliac wing ipsilateral atau terbukanya SI joint posterior dan fraktur ramus pubis) 3) Tipe LCIII (sama dengan tipe AII dengan tambahan cedera rotasional eksterna dengan SI joint kontralateral dan fraktur ramus pubis) c Cedera VS Cedera VS dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis. 1) Tipe LCI (impaksi sakral dengan fraktur ramus pubis sisi yang sama (ipsilateral)—cedera yang stabil. Perpindahan hemipelvis mungkin dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah. d Cedera CM Pola cedera CM meliputi fraktur pelvis berkekuatan tinggi yang ditimbulkan oleh kombinasi dua vektor tekanan terpisah.

2. maka dilakukanlah prosedur pembedahan. Perlukaan tadi juga mengakibatkan kerusakan integritas kulit sehingga pertahanan primer tubuh terhadap infeksi rusak yang dapat menyebabkan port de entry kuman resiko syok sepsis.4 Manifestasi Klinis 1. prostaglandine. tubuh tidak mampu menahan beban energi dari luar. Keluhan berupa gejala pembengkakan. 2. dan bradikinin) yang ditangkap oleh reseptor nyeri perifer lalu terjadi implus ke otak yang menyebabkan persepsi nyeri oleh penderita. 12 . Fraktur pelvis sering merupkana bagian dari salh satu traumamultiple yang dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul. Trauma langsung pada pelvis juga menyebabkan gangguan pada arteri dan vena disekitar sehingga terjadilah perdarahan yang tidak terkontrol yang mengakibatkan kehilangan volume cairan dan elektrolit sehingga terjadilah resiko syok hipovolemic. deformitas serta perdarahan subkutan sekitar panggul. pasien mungkin juga tidak dapat kencing. Pada cedera tipe A pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila berusaha berjalan. 3. sangat nyeri dan tak dapat berdiri. Pada saat trauma langsung pada pelvis juga mengakibatkan deformitas yang menyebabkan hambatan mobilitas tubuh. Pasien datang dalam keadaan anemidan syok karena perdarahan yang hebat. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas. Jika fraktur parah. Sebelum prsedur pembedahan terkadang pasien kurang terpapar informasi terkait pembedahan yang akan dilakukan sehingga pasien mengalami kecemasan. Pada tipe cedera B dan C pasien mengalami syok berat. darah perifer menyebabkan pelepasan mediator nyeri (histamine. Mungkin terdapat darah di meatus eksternus. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada visera pelvis. Terdapat gangguan fungsi anggota gerak bawah.

usia.2. atau berat (GCS 3-8). dan pengulangan perhitungan dapat menginformasikan perkembangan atau perburukan pasien. 13 . sulit untuk menilai GCS pada pasien terintubasi atau paralisis. pembelajaran dan kontrol kualitas. TRISS dapat diterapkan karena dpat memperkirakan probabilitas kelangsungan hidup dan telah banyak digunakan daripada sistem penilaian lain dan dinilai cukup efektif karena memasukkan penilaian anatomis. namun perhitungannya kompleks (Carolina. GCS adalah metode yang diakui untuk cedera kepala. dan motorik dijumlah nilai berkisar antara 3 dan 15. 2015). dan mekanisme cedera. respons verbal. Metode kombinasi mengusahakan cara terbaik karena membutuhkan data yang banyak. Nilai rendah menggambarkan cedera yang lebih berat dan memiliki risiko mortalitas yang lebih tinggi. Cedera kepala yang dapat disebabkan oleh gangguan anatomi atau fisiologi tubuh yang lainnya. dan dapat digunakan untuk menentukan tatalaksana dan memantau perubahan klinis. Namun. Nilai membuka mata. fisiologis. Penilaian menggunakan GCS Sistem ini merupakan system penilaian fisiologis pertama dan diperkenalkan pada tahun 1974 oleh Teasdale dan Jennett. ASCOT dikatakan lebih baik daripada TRISS. 1.5 Penilaian untuk Fraktur Pelvis Penilaian paling praktis untuk penilaian trauma pada kondisi gawat darurat dan paling sederhana adalah GCS dan RTS. Untuk tujuan penelitian. GCS diklasifikasikan menjadi 3 yaitu ringan (GCS 13-15). Perhitungan GCS cepat dan sederhana. Keduanya dapat dikerjakan oleh dokter dan perawat. sedang (GCS 9-12).

RTS ≤11 berhubungan dengan mortalitas 30% dan harus segera dibawa ke pusat trauma. Penilaian menggunakan RTS Sistem ini paling banyak digunakan sebagai sistem penilaian fisiologis. untuk triase dan penelitian. Untuk tenaga kesehatan rumah sakit. Berikut penghitungan TS: Terdapat dua tipe. RTS triase digunakan sebagai instrumen tenaga kesehatan pra-rumah sakit untuk membantu memutuskan apakah pasien trauma harus dibawa ke fasilitas pelayanan primer atau ke pusat trauma. RTS membantu memutuskan tingkat respons yang diaktifkan.2. RTS lebih sensitif daripada TS. RTS penelitian berbeda dari triase dalam hal penggunaan faktor pemberat dan didesain untuk pengumpulan data retrospektif 14 . Sistem ini menggabungkan nilai GCS dengan laju respirasi dan tekanan darah sistolik.

ISS. 4.9368. Sistem ini menggabungkan usia. serta mirip dengan TRIS. namun dapat memberikan dasar perhitungan probabilitas hidup. tekanan darah sistolik dikalikan 0. pada tahun 1996 untuk mengurangi kelemahan TRISS. Penilaian menggunakan TRISS Sistem penilaian kombinasi digunakan untuk mengatasi kelemahan sistem anatomis dan fisiologis. tetapi memiliki kompleksitas perhitungan lebih besar. Ps hanya gambaran statistik dan bukan prediksi dampak yang akurat. Faktor pemberat tersebut berupa komponen respirasi dikalikan dengan koefisien 0. 5. Nilai trauma dan nilai keparahan cedera digabung dalam metodologi TRISS (Trauma Score-Injury Severity Score) yang dikembangkan pada tahun 1987 oleh Champion. tekanan darah sistolik. dan GCS dikalikan 0. ASCOT tampaknya dapat memberikan prediksi kematian yang lebih baik daripada TRISS. mekanisme cedera. Penilaian menggunakan KTS Di negara berkembang KTS paling banyak digunakan. dan laju respirasi untuk memperkirakan probabilitas hidup. usia.2908. dkk. ASCOT diperkenalkan oleh Champion. KTS merupakan penyerdehanaan ISS dan RTS. dibandingkan penilaian prospektif. dan jika dijumlahkan memberikan nilai berkisar dari 0 hingga 7. dan komponen RTS penelitian untuk menghitung kemungkinan hidup (Ps/Probability of survival).7326. Penilaian menggunakan ASCOT ASCOT adalah sistem penilaian kombinasi yang menggunakan GCS. Koefisien diperoleh dari regresi logistik data MTOS (Major Trauma Outcome Study). ASCOT menggunakan AP menggantikan ISS dan menggolongkan usia ke dalam bilangan desimal.8408. dkk. 3. nilai rendah menunjukkan cedera lebih berat. AIS. KTS dapat digunakan 15 .

Tromboemboli vena Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest. Emboli lemak c. cedera sedang 11-13. dan cedera ringan 14-16. Shock Hipovolemik/traumatik Fraktur (ekstremitas. vertebra. 2. Cedera berat <11. Komplikasi awal a. b. KTS dan RTS dapat memperkiraan kematian. femur) → perdarahan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock hipovolemi. Sistem penilaian diatas dapat digunakan untuk prioritaskan masalah apa yang akan kita berikan tindakan terlebih dahulu untuk mempertahankan kelangsungan hidup pasien.6 Komplikasi 1. e. d. Infeksi Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik. pada dewasa dan anak-anak. Sindrom kompartemen 16 . pelvis.

Menentukan kemungkinan tulang yang patah e. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Delayed union Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Non union Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Riwayat kecelakaan b. d. Hal ini disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis. Rekognisi Menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit. Reduksi Reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang. Nekrosis avaskuler di tulang Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang. 2. b. plat yang langsung kedalam medula tulang. Krepitus 2. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips b.7 Penatalaksanaan 1. c. Parah tidaknya luka c. a. biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu: a. Mal union Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk). Retensi Menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen- fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi) 17 . 2. 3. Komplikasi lambat a. Diskripsi kejadian oleh pasien d. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan. pin.

dikombinasi denagn traksi tungkai bawah kurang lebih 4-6 minggu. b) Fraktur tipe B Apabila cidera open book kurang dari 2. 4. c) Fraktur tipe C Merupakan fraktur yang paling berbahaya dan paling sulit diterapi.5 cm dapat dicoba dengan membaringkan pasien miring dan menekan ala ossis ilii. 18 . Apabila lebih dari 2. Selain itu juga dapat dilakukan fiksasi internal apabila fiksasi eksternal tidak berhasil dilakukan. pielografi intravena dan pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mengkaji derajat trauma pada organ yang berbeda. Pasien harus bedrest total kurang lebih selama 10 minggu.5cm biasanya dapat diterapi dengan bed rest total dengan pemasangan korset elastic bermanfaat untuk mengembalikan ke posisi semula. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma 2. Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal setelah trauma. Operasi berbahaya dilakukan karena bisa terjadi perdarahan masif dan infeksi. Untuk penanganan fraktur. Rehabilitasi Langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). CT scan merupakan pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan untuk mengkaji injuri intrra abdomen Angiografi. sebagai berikut: a) Fraktur tipe A Hanya membutuhkan istirahat total di tempat tidur. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal 3.8 Pemeriksaan Diagnosis 1. 4. Pemakaian traksi kerangka dan fiksasi luar mungkin lebih aman 2. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple).

Primary Survey Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan (Gilbert. Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum b.1 Pengkajian A. tempat. leher atau dada. menentukan status mental dan orientasi (waktu. Apakah pasien dapat berbicara atau bernafas dengan bebas?  Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:  Adanya snoring atau gurgling  Stridor atau suara napas tidak normal  Agitasi (hipoksia)  Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements  Sianosis  Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan potensial penyebab obstruksi :  Muntahan  Perdarahan  Gigi lepas atau hilang 19 . Tulang belakang leher harus dilindungi selama intubasi endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala. Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA TRAUMA PELVIS 3. General Impressions a. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain:  Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka. Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan bantuan airway dan ventilasi. 2009): 1. orang) 2. Airway dengan kontrol servikal Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. memenentukan keluhan utama atau mekanisme cidera c.

kaji lebih lanjut mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien. 20 . 2000). flail chest.  Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai indikasi :  Chin lift/jaw thrust  Lakukan suction (jika tersedia)  Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway. Apakah ada tanda-tanda sebagai berikut : cyanosis. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Laryngeal Mask Airway  Lakukan intubasi 3. maka pastikan jalan nafas pasien terbuka. perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax dan pneumotoraks. Jika pernafasan pada pasien tidak memadai. closure of open chest injury dan ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner. dan penggunaan otot bantu pernafasan. listen dan feel.  Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea. lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi pasien.  Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting.  Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang. penetrating injury. fraktur ruling iga. sucking chest wounds. subcutaneous emphysema.  Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien.  Gigi palsu  Trauma wajah  Jika terjadi obstruksi jalan nafas.  Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.  Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada. maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah: dekompresi dan drainase tension pneumothorax/haemothorax.  Penilaian kembali status mental pasien. Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :  Look.

 CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan. atau cepat)  Regularity  Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia (capillary refill). antara lain :  Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan. yaitu merespon suara dengan tepat. 4.  Palpasi nadi radial jika diperlukan:  Menentukan ada atau tidaknya  Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)  Identifikasi rate (lambat. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien. misalnya mematuhi perintah yang diberikan  V . jika diindikasikan  Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway procedures  Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan terapi sesuai kebutuhan. Disability Pada primary survey.  Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan pemberian penekanan secara langsung.  Lakukan treatment terhadap hipoperfusi 5. normal. mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak bias dimengerti 21 . disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :  A .vocalises.alert.  Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan  Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau oksigenasi:  Pemberian terapi oksigen  Bag-Valve Masker  Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang benar).

c. 22 . Anamnesa a.  P . 6.unresponsive to pain. Exposure/Environment Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. b. jenis kelamin. tanggal MRS. Identitas Klien Meliputi nama. Lakukan log roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung pasien. adanya deformitas atau gerakan abnormal setelah terjadi trauma langsung yang mengenai tulang. B. Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada fraktur adalah nyeri. leher. maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:  Lakukan pemeriksaan kepala. Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang mengancam jiwa. tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien. no registrasi. jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri maupun stimulus verbal. pekerjaan.responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)  U . kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien adalah mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal. alamat. tergantung lamanya serangan. Jika pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang. pendidikan. agama. Secondary Survey 1. umur. Setelah semua pemeriksaan telah selesai dilakukan. imobilisasi in-line penting untuk dilakukan. dan ekstremitas pada pasien  Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang berpotensi tidak stabil atau kritis. bahasa. status perkawinan. Nyeri bisa akut maupun kronik. diagnosa medis. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya pasien mengeluh nyeri saat bergerak.

e. g. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah pasien pernah mengalami fraktur sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah keluarga ada yang mengalami hal serupa dengan pasien. perkusi dan auskultasi pada : a. baik dalam keluarga maupun masyarakat. kencing manis. selain itu juga periode menstruasi termasuk dalam komponen ini) E : Events. Penyakit tulang merupakan faktor resiko terjadinya fratur pelvis klien dengan kecelakaan. seperti obat-obatan. Kulit Kepala b. dan apakah keluarga memiliki penyakit tulang / penyakit lainnya yang diturunkan. kanker tulang. Vertebra Servikalis dan Leher d. f. apakah klien mempunyai penyakit tulang seperti osteoporosis. hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama) (Emergency Nursing Association. penggunaan obat-obatan herbal) L : Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi. dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian. makanan) M: Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang menjalani pengobatan hipertensi. d. Thoraks 23 . berapa dosisnya. atau penyalahgunaan obat P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit yang pernah diderita. Riwayat Psikososial Merupakan respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari. dosis. Wajah c. obatnya apa. Pemeriksaan fisik Meliputi inspeksi. plester. Riwayat AMPLE A : Alergi (adakah alergi pada pasien. jantung. palpasi. 2007) 2. atau penyakit penyerta lainnya.

kelainan ini sulit dikenali. Pada cidera berat. 5) Bila ragu akan adanya perdarahan intra abdominal dapat dilakukan pemeriksaan DPL (diagnostic peritoneal lavage) f. dan perdarahan uretra. Pasien dengan keluhan kemih harus ditanya tentang rasa sakit atau terbakar dengan buang air kecil.e. adanya fraktur pelvis. frekuensi. karakter dan jumlah kehilangan darah harus dilaporkan (pada tampon yang penuh memegang 20 sampai 30 mL darah). Harus diteliti akan kemungkinan adanya darah dari lumen rectum. lokasi. 24 . hematoma. Juga harus dilakuakn tes kehamilan pada semua wanita usia subur. laserasi . atau kontusio. Colok dubur harus dilakukan sebelum memasang kateter uretra. Pelvis dan perineum diperiksa akan adanya luka. Permasalahan yang ada adalah ketika terjadi kerusakan uretra pada wanita. Pada wanita. ruam. jika terdapat perdarahan vagina dicatat. Pelvis Cedera pelvis yang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik. nyeri lepas yang jelas 4) Perkusi : untuk mengetahui adanya nyeri ketok. lesi. pemeriksaan colok vagina dapat menentukan adanya darah dalam vagina atau laserasi. yaitu pelvis menjadi tidak stabil. utuh tidaknya rectum dan tonus musculo sfinkter ani. Bila terjadi. denyut jantung janin (pertama kali mendengar dengan Doppler ultrasonografi pada sekitar 10 sampai 12 kehamilan minggu) yang dinilai untuk frekuensi. Bila ada indikasi pasang PASG/ gurita untuk mengontrol perdarahan dari fraktur pelvis. walaupun jarang dapat terjadi pada fraktur pelvis dan straddle injury. jika pasien hamil. kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan syok yang harus segera diatasi. dan tempat. Abdomen 1) Inspeksi : abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat adanya trauma tajam atau tumpul serta lihat apakah ada perdarahan 2) Auskultasi : auskultasi apabila adanya penurunan bising usus 3) Palpasi : untuk mengetahui adanya nyeri tekan. defans muskuler. timpani akibat dilatasi lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum. edema. prostat letak tinggi.

Reassessment Mengkaji ulang untuk melengkapi primary survey Komponen Pertimbangan Airway Pastikan bahwa peralatan airway : Oro Pharyngeal Airway. maupun Endotracheal Tube (salah satu dari peralatan airway) tetap efektif untuk menjamin kelancaran jalan napas. hematotoraks atau trauma pelvis yang bisa mengakibatkan gangguan oksigenasi tidak adekuat  Penggunaan ventilator mekanik Circulation Pastikan bahwa dukungan sirkulasi menjamin perfusi jaringan khususnya organ vital tetap terjaga. C. untuk meyakinkan ada tidaknya masalah seperti Tension pneumothoraks. Pengkajian ini dilakukan untuk melengkapi data secondary sesuai masalh yang ditemukan atau tempat dimana injury ditemukan. g. Ekstremitas Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. hemodinamik tetap 25 . pada saat palpasi jangan lupa untuk memeriksa denyut nadidistal dari fraktur dan jangan dipaksakan untuk bergerak apabila sudah jelas mengalmi fraktur. Pada saat inspeksi. Breathing Pastikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan pasien :  Pemeriksaan definitive rongga dada dengan rontgen foto thoraks. Laryngeal Mask Airway . Focused Assessment Focused assessment adalah tahap pengkajian pada area keperawatan yang dilakukan setelah primary dan secondary survey. sebuah sampel urin harus diperoleh untuk analisis. Pertimbangkan penggunaaan peralatan dengan manfaat yang optimal dengan risiko yang minimal. hematuria. kencing berkurang. jangan lupa untuk memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur terbuka. Yang paling banyak dilakukan dalam tahapan ini adalah beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik atau bahkan dilakukan pemeriksaan ulang dengan tujuan segera dapat dilakukan tindakan definitif D.

Catat kadar HB dan Ht setelah pasien . perlu didukung dengan :  Pemeriksaan spesifik neurologic yang lain seperti reflex patologis. atau MRI Exposure Konfirmasi hasil data primary survey dengan  Rontgen foto paada daerah yang mungkin dicurigai trauma atau fraktu  USG abdomen atau pelvis 3. termonitor serta menjamin tidak terjadi over hidrasi pada saat penanganan resusitasicairan.Tekanan vena sentral : mengalami kehilangan banyak darah DBH c. pemeriksaan persepsi sensori dan pemeriksaan yang lainnya.Tekanan darah : DBH a. Berikut NANDA NON NIC klien dengan trauma pelvis ringan: Diagnosa NOC NIC Resiko Kekurangan Keseimbangan cairan Pencegahan pendarahan Volume Cairan b.  Pemasangan cateter vena central  Pemeriksaan analisa gas darah  Balance cairan  Pemasangan kateter urin (jika memungkinkan) Disability Setelah pemeriksaan GCS pada primary survey.Tekanan arteri rata-rata : perdarahan pada pasien DBN b.2 NANDA NOC NIC Pada kejadian trauma pelvis hebat biasanya seluruh asuhan keperawatan dilakukan dalam waktu singkat sehingga pendokumentasian dilakukan pada akhir setelah melakukan tindakan dan evaluasi terhadap pasien. Pantau gejala dan tanda timbulnya perdarahan yang berkelanjutan (cek 26 . Monitor kemungkinan terjadinya .d Indikator: Aktivitas: perdarahan .  CT scan kepala. deficit neurologi.

Pantau factor koagulasi.Kesimbangan intake & sekresi pasien baik yang terlihat maupun output yang tidak disadari perawat) . jika tersedia (contoh: tekanan vena sentral dan kapiler paru/tekanan arteri temporalis) f. Monitor TD dan paameter hemodinamik. Monitor status/keadaan cairan termasuk intake dan output 27 .Elektrolit serum : DBN degradasi fibrin. termasuk . Catat kadar Hb/Ht sebelum dan setelah kehilanga darah sebagai indikasi e.Pantau perubahan status perdarahan kesehatan.Atur strategi kontrol menimbulkan perdarahan resiko sesuai kebutuhan Pengurangan pendarahan .Hematokrit : DBN e. termasuk TD Kontrol Resiko f. b.Gunakan sistem Aktivitas: pendukung personal a.Rasa haus abnormal (-) d. Monitor pasien secara ketat akan . .Perubahan suara napas protrombin (Pt). waktu paruh (-) tromboplastin (PTT). c. Atur pasien agar pasien tetap bed rest Indikator: juka masih ada indikasi pendarahan . osmotic. Pantau tanda-tanda vital.Hemoglobin : DBN dalam darah) . Atur kepatenan/ kualitas produk / alat lingkungan yang berhubungan dengan perdarahan . fibrinogen. dan kadar platelet .. Monitor jumlah dan karakter (nature) kehilangan darah pasien d. Identifikasi etiologi perdarahan untuk mengontrol resiko.Pantau faktor resiko h.Pantau faktor resiko g. Lindungai pasien dari hal-hal yang prilaku personal menimbulkan trauma dan bias .

Kaji koagulasi.Monitor fungsi neurologi Manajemen Cairan Aktivitas: .Evaluasi respon psikologi pasien terhadap perdarahan dan persepsi terhadap peristiwa yang terjadi .Kaji ketersediaan produk darah untuk trsanfusi 28 .Mengenal penyebab perdarahan .Monitor jumlah dan sifat darah yang hilang . nadi) .Monitor respon pasien untuk meresepkan terapi elektrolit .Monitor TTV . dan jumlah platelet jika diperlukan Pengontrolan perdarahan Aktivitas: .g.Konsultasi dengan dokter. fibrinogen. termasuk prothrombin time (PT). partial thomboplastin time (PTT).Catat nilai hemoglobin / hematokrit sebelum dan sesudah kehilangan darah sesuai indikasi .Monitor status hidrasi (seperti :kelebapan mukosa membrane. degradasi fibrin/split products.Monitor tanda dan gejala perdarahan persisten . jika gejala dan tanda kehilangan cairan makin buruk .

Mengenali gejala nyeri hubungan sosial. . .Menyediakan analgesic yang nyeri berkurang dibutuhkan dalam mengatasi nyeri .Menggunakan langkah- intensitas dan penyebab. kualitas.Kontrol faktor lingkungan yang dapat Tingkat nyeri menimbulkan ketidaknyamanan pada Indikator: pasien (suhu ruangan.Menggunakan buku harian . performance kerja dan .Laporan nyeri dikontrol melakukan tanggung jawab sehari-hari) .Kaji ketidaknyamanan secara nonverbal.Menggunakan langkah- mengkomunikasikannya secara efektif langkah bantuan non .Klien tidak lagi .Menggunakan analgesik .Pastikan pasien mendapatkan perawatan analgesik dengan analgesic . frekuensi. kesadaran. dari waktu ke waktu karakteristik. . aktivitas.Klien tidak merasa manajemen nyeri ynag diberikan dalam gelisah lagi interval yang ditetapkan. . pencahayaan. durasi. langkah pencegahan gejala .Monitor kepuasan pasien terhadap .Tentukan dampak nyeri terhadap seperti yang kehidupan sehari-hari (tidur.Lakukan penilaian nyeri secara untuk memantau gejala komprehensif dimulai dari lokasi. nyeri terutama untuk pasien yang tidak bisa .Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri berkurang atau ketika memilih metoda mengurangi menghilang nyeri . mood.Gunakan pendekatan dari berbagai mengekpresikan wajah disiplin ilmu dalam manajemen nyeri nyeri .TTV dalm batas normal 29 . .Klien melaporkan nyeri keributan) yang dirasakan telah .Berikan resusitasi cairan IV Nyeri Akut b.d Kontrol nyeri Manajemen nyeri Cidera Pelvic Indikator: Aktivitas: .Panjangnya episode . nafsu direkomendasikan makan.

Periksa order/pesanan medis untuk obat. 30 . . rute pemberian dan dosis optimal. dosis.Kolaborasikan dengan dokter jika terjadi perubahan obat. dosis. dan frekuensi yang ditentukan analgesik . serta membuat rekomendasi spesifik berdasar pada prinsip equianalgesic. . catat efek yang merugikan .Menentukan lokasi .Cek riwayat alergi obat .Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian obat narkotik dengan dosis pertama atau jika ada catatan luar biasa. . Aktivitas: . atau interval. rute pemberian.Nafsu makan klien Pemberian analgesic diharapkan meningkat. mutu.Tentukan jenis analgesik yang digunakan (narkotik. dan intensitas nyeri sebelum mengobati pasien .Cek pemberian analgesik selama 24 jam untuk mencegah terjadinya puncak nyeri tanpa rasa sakit.Tentukan analgesik yang cocok. non narkotik atau NSAID) berdasarkan tipe dan tingkat nyeri. terutama dengan nyeri yang menjengkelkan . karakteristik.Dokumentasikan respon pasien tentang analgesik..

Anjurkan pengunjung untuk mencuci  Menghindari paparan tangan sebelum dan setelah ancaman kesehatan meninggalkan ruangan pasien  Memantau perubahan e. Lakukan perawatan aseptic pada semua Indikator: jalur IV  Mencari validasi risiko i. Gunakan sarung tangan steril Infeksi h. Anjurkan istirahat  Mempertahankan m. Tingkatkan asupan nutrisi untuk faktor yang terkait k. WBC dan hasil yang berbeda d.Resiko tinggi Kontrol Risiko Kontrol Infeksi infeksi b. Berikan terapi antibiotik lingkungan yang bersih Infection Protection  Menggunakan Aktivitas : kewaspadaan universal a. Cuci tangan sebelum dan sesudah status kesehatan kontak dengan pasien f. Lakukan universal precautions Kontrol Risiko : Proses g. Lakukan teknik perawatan luka yang infeksi yang dirasakan tepat  Memonitor lingkungan j. Ajarkan cuci tangan untuk menjaga pengendalian risiko yang kesehatan individu efektif d. Ganti peralatan pasien setiap selesai lingkungan tindakan  Mengembangkan strategi c. Monitor kerentanan terhadap infeksi c. Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko 31 . Bersikan lingkungan secara tepat  Mengetahui faktor risiko setelah digunakan oleh pasien  Memonitor faktor risiko b. Monitor tanda dan gejala infeksi  Memantau perubahan sistemik dan lokal status kesehatan umum b. Monitor angka granulosit. Anjurkan asupan cairan dengan risiko infeksi l.d luka Aktivitas : Indikator: terbuka a.

warna. Bersihkan luka dengan NaCl (normal saline) c. ukuran dan bau b. Atur posisi untuk mencegah tekanan pada daerah luka g.e. Dukungan istirahat k. Ispeksi kondisi luka h. Dukungan masukkan nutrisi yang cukup i. atau drainase g. Bandingkan dan laporkan adanya perubahan pada luka secara reguler f. Monitor karakteristik luka meliputi drainase. Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka d. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan. panas. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep Perawatan luka Aktivitas : a. Tingkatkan intake cairan h. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang prosedur perawatan luka i. Dukungan masukan cairan j. Berikan perawatan kulit yang tepat pada area edematous f. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang tanda dan gejala infeksi 32 . Inspeksi luka setiap melakukan pergantian dreesing e.

dan penampakannya. Dokumentasikan lokasi luka.j. 33 . ukuran.

Pada orang tua penyebab paling umum adalah jatuh dari posisi berdiri. prinsip utama yang harus diperhatikan adalah airway. gangguan mobilitas fisik dan resiko infeksi. fraktur yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas terbesar melibatkan pasukan yang signifikan misalnya dari kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian. emboli lemak. Namun. Dalam penatalaksanaan. circulation. 34 . tromboemboli vena. Komplikasi yang mungkin terjadi pada fraktur pelvis adalah shock hipovolemik. breathing. BAB IV KESIMPULAN Patah tulang panggul adalah putusnya kontinuitas tulang. Diagnosa keperawatan yang bisa diangkat dalam kasus fraktur pelvis diantaranya resiko perdarahan. infeksi dan kompartemen. proses penyakit. disability dan exposure. muscle (otot). nyeri akut. trauma tidak langsung. tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi dan gangguan struktur tulang dari pelvis. Penyebab dari fraktur pelvis diantaranya karena trauma langsung. compresion forcedan.

Yogyakarta : Nuha Medika. DAFTAR PUSTAKA Chris. 2014. Patient assessment routine medical care primary and secondary survey. Jakarta : EGC. Arif. Peter. Barbara. Assessment and Management of Trauma. Jakarta Barat : Binarupa Aksara. (2010). Purwadianto. Rabe.. Pletz. th. 2009. Carolina. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Keperawatan Gawat Darurat. Buku Saku Ilmu Kandungan. Major Pelvic Fractures. CDK-232/ vol. 35 . (2009). Musliha. 2004. Kedaruratan Medik. Thomas. 42 no. Mark A. Jakarta: Hipokrates Salim. Louis Missouri : Elsevier Mosby. Journal of Critical Care Nurse Gilbert. 2015.2015 Syaifuddin.. Jakarta : EGC. 9. 2003. University of Southern California: Division of Trauma and Surgical Critical Care. Gregory. Jakarta: EGC Thomas. Emergency Nurses Association (2007). Sheehy`s manual of emergency care 6th edition. Anatomi Fisiologi Ed. Jack. San Mateo County EMS Agency. D’Souza. 4. (2008). Sistem Penilaian Trauma. (2000). (2011). Muttaqin. dkk. St. Frakes dan Evan. Agus. Terapi dan rehabilitasi Fraktur.

.. .. Rekam Medis ... ... Pemberian terapi oksigen … … ltr/mnt. Persiapan ventilator mekanik 4. . Diagnosa Medis . via… … Retraksi otot dada :  Ada  N/A 2... forcep 3...headtilt-chin lift/jaw thrust Stridor  N/A 2. .. Diagnosa Keperawatan: AIRWAY Inefektif airway b/d … … … Jalan Nafas :  Paten  Tidak Paten Kriteria Hasil : … … … Obstruksi :  Lidah  Cairan  Benda Asing  N/A Intervensi : Suara Nafas : Snoring Gurgling 1. Manajemen airway..... Bantuan dengan Bag Valve Mask Sesak Nafas :  Ada  N/A  RR : . Waktu.. … … Keluhan Lain: … … 5.. . x/mnt 3. … … Diagnosa Keperawatan: 1. . Lakukan CPR dan Defibrilasi 36 . dan Orang) :  Baik  Tidak Baik.. Lampiran FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA ORANG DEWASA No..... Pengambilan benda asing dengan PRIMER SURVEY Keluhan Lain: .. Inefektif pola nafas b/d … … … BREATHING 2. … … 4.. Inefektif perfusi jaringan b/d … … … Nadi :  Teraba  Tidak teraba Kriteria Hasil : … … … Sianosis :  Ya  Tidak Intervensi : CRT :  < 2 detik  > 2 detik 1. … … Diagnosa Keperawatan: 1. . Kerusakan pertukaran gas b/d … … … Gerakan dada :  Simetris  Asimetris Kriteria Hasil : … … … Irama Nafas :  Cepat  Dangkal  Normal Intervensi : Pola Nafas :  Teratur  Tidak Teratur 1. IDENTITAS Nama : Jenis Kelamin : L/P Umur : Agama : Status Perkawinan : Pendidikan : Pekerjaan : Sumber informasi : Alamat : TRIAGE P1 P2 P3 P4 GENERAL IMPRESSION Keluhan Utama : Mekanisme Cedera : Orientasi (Tempat... . Penurunan curah jantung b/d … … … CIRCULATION 2.

4.. … … … 4. Inefektif perfusi serebral b/d … … … 2... Regimen terapiutik inefektif b/d … … SECONDARY SURVEY … ANAMNESA 2... Pendarahan :  Ya  Tidak ada 2.. … … … Keluhan Lain : … … Diagnosa Keperawatan: 1. Perawatan luka Laserasi : Ya  Tidak 2..  Verbal .. … … … Alergi : Medikasi : Riwayat Penyakit Sebelumnya: 37 .. Kerusakan integritas jaringan b/d … …… EXPOSURE 2. Intervensi : .. . … … DISABILITY Diagnosa Keperawatan: 1. Nyeri Akut b/d … … … 3. 1. … … … …… Diagnosa Keperawatan: 1. Intoleransi aktivias b/d … … … 3. … … … Deformitas :  Ya  Tidak Kriteria Hasil : … … … Contusio :  Ya  Tidak Abrasi :  Ya  Tidak Intervensi : Penetrasi : Ya  Tidak 1.. … … … Keluhan Lain: 4. Kerusakan mobilitas fisik b/d … … … 3.. . … … … Refleks Cahaya:  Ada  Tidak Ada 5. Periksa kesadaran dann GCS tiap 5 GCS :  Eye . … … … Respon : Alert  Verbal  Pain  Unrespon Kriteria Hasil : … … … PRIMER SURVEY Kesadaran :  CM  Delirium  Somnolen  . Berikan posisi head up 30 derajat 2..  Motorik ... … … … Riwayat Penyakit Saat Ini : … … … Kriteria Hasil : … … … Intervensi : 1.. Heacting Edema : Ya  Tidak 3. … … Keluhan Lain: . … … … 2. menit Pupil :  Isokor  Unisokor  Pinpoint  Medriasis 3. Kontrol perdarahan 3.

. ...... . ..... .. Perkusi . Punggung : Inspeksi ... Perkusi .. ..... ..... Pelvis: Inspeksi .. … … … 2. Abdomen: Inspeksi . . … … … Kepala dan Leher: Kriteria Hasil : … … … Inspeksi .. . . … … … 4..... . ..... Makan Minum Terakhir: Even/Peristiwa Penyebab: Tanda Vital : BP : N: S: RR : PEMERIKSAAN FISIK Diagnosa Keperawatan: 1. Palpasi . Intervensi : Palpasi .. … … … 2... 3. Palpasi ............... SECONDARY SURVEY Auskultasi .. … … … Dada: Inspeksi ... Palpasi . Neurologis : Diagnosa Keperawatan: PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. … … … 38 ... Palpasi ... . . . . ... Auskultasi . Palpasi .... Ektremitas Atas/Bawah: Inspeksi ....

.. … … … 2.. . Intervensi : Hasil : 1... … … … Tanggal Pengkajian : TANDA TANGAN PENGKAJI: Jam : Keterangan : NAMA TERANG : 39 . RONTGEN  CT-SCAN  USG  EKG Kriteria Hasil : … … …  ENDOSKOPI  Lain-lain.

40 .