You are on page 1of 49

KSO

DRAFT PENDAHULUAN
DED PENINGKATAN D.I. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. PASAMAN
BARAT

4.2.2.1. INVENTARISASI DATA HIDROLOGI DAN ANALISA
1. ACUAN NORMATIF
 SNI 03-1724, Tata cara perencanaan umum dan analisis hidrologi dan hidraulik untuk desain
bangunan di sungai.
 SNI 03-2415, Tata cara perhitungan debit banjir.

2. METODE PELAKSANAAN
1. Pengumpulan Data Hidrologi
 Pengumpulan data debit sungai (terbaru) selama minimum 10 tahun berturut-turut (jika
ada)
 Pengumpulan data curah hujan (terbaru) selama minimum 10 tahun berturut-turut dari
stasiun terdekat.
 Pengumpulan data informasi banjir (tinggi, lamanya dan luas genangan serta saat
terjadinya) baik dengan pengamatan langsung dengan memperhatikan bekas tanda-tanda
banjir di pohon atau rumah maupun melalui wawancara dengan penduduk setempat.

2. Penentuan Koefisien Pengaliran DAS
Suatu DAS biasanya terdiri dari areal yang mempunyai tataguna lahan bervariasi seperti hutan,
tanah pertanian, dan pemukiman. Setiap tipe tataguna lahan ini mempunyai nilai koefisien pengaliran
yang berbeda-beda seperti yang tertera di tabel. Ini berarti apabila terjadi hujan di suatu DAS maka
respon permukaan tanah terhadap hujan akan menghasilkan aliran permukaan yang berbeda-beda
pula. Sebagai contoh hujan yang jatuh di daerah pemukiman yang mempunyai koefisien permukaan
yang lebih besar daripada hutan akan menghasilkan aliran permukaan yang lebih besar daripada aliran
permukaan yang dihasilkan oleh hujan yang jatuh di hutan.

Variasi koefisien pengaliran yang ada di DAS akibat keragaman tataguna lahan kadang
menimbulkan kesulitan dalam perhitungan debit di DAS. Hanya model-model hidrologi mutakhir yang
mampu menghitung debit di DAS dengan memperhitungkan variasi tataguna lahan secara detail. Untuk
perhitungan debit sederhana, koefisien pengaliran di DAS biasanya dirata-rata dengan
memperhitungkan luas daerah tataguna lahan. Metode lain untuk menghitung koefisien pengaliran
adalah metode Australia. Pada metode ini, koefisien pengaliran merupakan kombinasi dari koefisien

Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi
III - 1

KSO
DRAFT PENDAHULUAN
DED PENINGKATAN D.I. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. PASAMAN
BARAT

yang dipengaruhi beberapa unsur seperti intensitas hujan, topografi, tampungan permukaan, daya
infiltrasi tanah, dan keadaan penutup lahan. Nilai-nilai koefisien tersebut dapat dilihat pada tabel-tabel di
bawah ini.

Tabel 3.1. Koefisien Pengaliran (C)
Daerah C

Pegunungan curam 0,75 - 0,95
Pegunungan tersier 0,70 - 0,80
Tanah bergelombang dan hutan 0,50 - 0,75
Daerah Perbukitan 0,70 - 0,80
Daerah Pegunungan 0,75 - 0,90
Tanah dataran yang ditanami 0,45 - 0,60
Persawahan yang diairi 0,45 - 0,60
Daerah perkotaan (urban) 0,70 - 0,95
Daerah sub-urban 0,60 - 0,70
Daerah Industri 0,60 - 0,95
Daerah berpenduduk padat 0,40 - 0,60
Daerah berpenduduk jarang 0,40 – 0,60
Taman dan kebun 0,20 – 0,40

Tabel 3.2. Harga koefisien pengaliran akibat pengaruh intensitas hujan
Intensitas hujan (mm/jam) Cp

< 25 0,05
25 – 50 0,15
50 - 75 0,25
> 75 0,30

Tabel 3.3.Harga koefisien pengaliran akibat pengaruh topografi

Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi
III- 2

KSO
DRAFT PENDAHULUAN
DED PENINGKATAN D.I. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. PASAMAN
BARAT

Keadaan topografi Slope (m/km) Ct

1. Curam dan tidak rata 200 0,10
2. Berbukit-bukit 100 – 200 0,05
3. Landai 50 – 100 0,00
4. Hampir datar 0 – 50 0,00

Tabel 3.4. Harga koefisien pengaliran akibat pengaruh tampungan permukaan
Tampungan permukaan Co

1. DAS curam dengan sedikit depresi di permukaan 0,10
2. DAS sempit dengan sistem teratur 0,05
3. DAS dengan tampungan seperti kolam dan berkontur 0,00
4. DAS dengan sungai berkelok dengan usaha pelestarian lahan 0,00

Tabel 3.5. Harga koefisien pengaliran akibat pengaruh infiltrasi
Kemampuan infiltrasi tanah K (cm/dt) Cs

1. Lahan tanpa penutup (infiltrasi besar) < 10-5 0,25
2. Lahan lempung (infiltrasi lambat) 10-5 – 10-6 0,20
3. Lahan loam (infiltrasi sedang) 10-3 – 10-4 0,10
4. Lahan pasir (infiltrasi cepat) 10-3 0,05

Tabel 3.6. Harga koefisien pengaliran akibat keadaan penutup lahan
Keadaan penutup lahan Cc

1. Lahan tanpa tanaman yang efektif 0,25
2. Lahan dengan padang rumput yang baik sekitar 10% 0,20
3. Lahan dengan padang rumput yang baik sekitar 50% dengan pepohonan 0,10
4. Lahan dengan padang rumput yang baik sekitar 90% atau hutan 0,05

Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi
III- 3

KSO
DRAFT PENDAHULUAN
DED PENINGKATAN D.I. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. PASAMAN
BARAT

3. Analisis Data Curah Hujan
Dengan mengetahui tabel curah hujan di lokasi proyek atau di daerah sekitarnya yang diperoleh dari
Badan Geofisika dan Meteorologi setempat, maka kita dapat menggunakannya untuk kepentingan
pekerjaan perencanaan teknis.

Data-data curah hujan yang diperoleh pada suatu lokasi proyek kadang kala tidak lengkap, berasal lebih
dari satu stasiun pengamat hujan dan bahkan tidak ada sama sekali. Untuk itu perlu dilakukan Analisa
agar data yang digunakan mewakili karakteristik daerah proyek yang bersangkutan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat gambar dibawah ini yang menerangkan pengolahan data hujan menjadi hujan wilayah.

Mulai

Pembacaan Data: A
Daerah, JStasiun, JTahun,
Stasiun, Lintang, Bujur, Data
Hujan
Penulisan hasi:
data hujan yang
Proses perhitungan dilengkapi
jumlah data kosong

Pembacaan Data:
Penulisan Hasil: Bobot wilayah
persentase data kosong polygon Thiessen
tiap stasiun

Proses perhitungan
Proses perhitungan hujan wilayah
jarak antar stasiun

Penulisan hasil:
Penulisan hasil: hujan wilayah Yes
jarak antar stasiun

Untuk tiap stasiun dan tiap bulan Hitung hujan
wilayah lagi?

Proses sortir:
No
jarak terdekat thd 3 stasiun yang
mempunyai data
Analisis Homogenitas

Proses pengisian data
kosong
Selesai

A

Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi
III- 4

Metode ini dikembangkan oleh Lang Bein dari US Geological Survey. Uji Konsistensi Data Hujan Pada dasarnya metoda pengujian tersebut merupakan pembandingan data stasiun yang bersangkutan dengan data stasiun lain di sekitarnya. PASAMAN BARAT Gambar 3. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.I. a. Hal ini dilakukan dengan asumsi perubahan meteorologi tidak akan menyebabkan perubahan kemiringan garis hubungan antara data stasiun tersebut dengan data stasiun di sekitarnya.1. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Perhitungan test homogenitas yang dimaksud mempergunakan variabel-variabel sebagai berikut : a = jumlah tahun pengamatan setiap stasiun curah hujan b = besarnya curah hujan harian dengan perioda ulang 10 tahun.5 . b. untuk analisa ini diambil dari dua analisa gumbel c = harga rata-rata dari data curah hujan maksimum d = perbandingan b dengan c = b / c e = harga rata-rata dari d f = perioda ulang dari c g = faktor resiko =exf Harga-harga ini kemudian diplot dalam grafik lengkung homogenitas dari US Geological Survey di mana terlihat bahwa titik yang menghubungkan harga-harga recurrence interval dengan lama waktu pengamatan berada di dalam area garis lengkung kontrol. Bab 3. Uji Homogenitas Untuk mengetahui apakah data daristasiun-stasiun curah hujan mempunyai sifat yang serupa satu sama lain atau tidak (homogen) maka perlu dianalisa dengan test homogenitas. karena stasiun-stasiun lainnya pun akan ikut terpengaruh kondisi yang sama. Bagan alir proses pengolahan data hujan menjadi hujan wilayah.

apabila pada stasiun D ada data hujan yang tidak lengkap maka data hilang tersebut dapat diperkirakan dengan rumus: HD = 1/3 (HA + HB + HC). Uraian cara tersebut adalah sebagai berikut: 1). KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Bab 3. HB. maka data-data yang menyebabkan kemiringan tersebut harus disesuaikan dengan perbandingan kemiringan dari kedua segmen kurva. HC = data hujan teramati pada masing-masing stasiun (A. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. C) HD = data hujan yang diperkirakan pada stasiun D. maka data tersebut dianggap konsisten. Misalkan A.I. Caranya adalah dengan memplot data hujan kumulatifnya (sebagai absis). dan perubahan kemiringan hanya dapat diterima bila didukung oleh penjelasan lain. . MANDAILING NATAL DAN KAB. rasio normal dan kebalikan kuadrat jarak. dimana : HA. Data hujan pada suatu stasiun akan diuji konsistensinya dengan meninjau data pos hujan di sekitarnya. Jika dari data-data tersebut bisa ditarik suatu garis lurus dengan kemiringan tertentu. Dalam mempergunakan metode ini diperlukan ketelitian. C dan D adalah stasiun pengamat hujan. Titik-titik yang tergambar selalu berdeviasi di sekitar garis rata-rata. Rata-rata Aljabar Cara rata-rata aljabar maksudnya adalah memperkirakan data curah hujan yang tidak lengkap dengan menghitung rata-rata curah hujan dari stasiun-stasiun yang terdekat dengan stasiun yang ditinjau pada waktu yang sama. PASAMAN BARAT Cara Masa Ganda.6 . 4. B. yaitu cara rata-rata aljabar. Memperkirakan Data Curah Hujan yang Hilang Cara yang biasa digunakan disajikan dalam uraian berikut ini. BATANG BATAHAN KAB. Apabila terdapat perubahan kemiringan.

NC = hujan tahunan rata-rata pada masing-masing stasiun A. Perhitungan-perhitungan ini akan lebih mendekati kenyataan jika dipergunakan pada daerah pegunungan. HA. apabila perbedaan antara data hujan pada stasiun terdekat untuk jangka waktu tahunan rata-rata < 10 %. HC = hujan pada masing-masing stasiun A. Kebalikan Kuadrat Jarak Metode ini digunakan oleh “US National Weather Service” untuk peramalan debit sungai. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. B dan C. Rumus yang dipergunakan adalah: Bab 3. 3). maka cara ratio normal lebih dianjurkan. PASAMAN BARAT Cara tersebut berlaku. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. MANDAILING NATAL DAN KAB. Perbandingan (Ratio) Normal Bila ternyata perbedaan data hujan untuk jangka waktu tahunan rata-rata antara stasiun hujan yang terdekat > 10 %.I. 3  NA NB NC  dimana : NA. B dan C ND = hujan tahunan rata-rata pada stasiun D. Rumus yang dipergunakan adalah sebagai berikut: 1  ND N N  HD =  H A  D H B  D HC  . 2). BATANG BATAHAN KAB. HB.7 . Dengan memperkirakan hujan pada suatu stasiun sebagai rata-rata berbobot dari empat stasiun yang terdekat di mana masing-masing terdapat dalam kuadran yang dibatasi oleh garis utara-selatan dan timur-barat melalui stasiun yang bersangkutan. HD = data hujan yang diperkirakan pada stasiun D. NB.

MANDAILING NATAL DAN KAB. II. kemudian hubungkan tiap titik yang berdekatan dengan sebuah garis lurus sehingga membentuk segitiga.8 . Koordinat/lokasi stasiun diplot pada peta. HIV = hujan pada masing-masing stasiun pada kuadran I. Hujan Wilayah Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan rancangan pemanfaatan air adalah curah hujan rata- rata di seluruh daerah yang bersangkutan.I. Tujuan mencari hujan rata-rata adalah mengubah hujan titik (point rainfall) menjadi hujan wilayah (regional rainfall) atau mencari suatu nilai yang dapat mewakili pada suatu daerah aliran. 1 1 1 1 2  2  2  RI R II R III R IV 2 dimana : HI. III dan IV RI. RII. Stasiun-stasiun pengamat hujan yang tersebar pada suatu daerah aliran dapat dianggap sebagai titik (point). sehingga dapat membentuk segitiga. Cara Poligon Theiessen dapat dipakai pada daerah dataran atau daerah pegunungan (dataran tinggi) dan stasiun pengamat hujan minimal ada tiga. Hujan rata-rata dapat dihitung dengan rumus pendekatan : Bab 3. Luas masing-masing poligon ditentukan dengan planimetri atau cara lain. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Dalam analisa ini cara yang digunakan adalah Cara Poligon Thiessen Cara ini sering dipakai karena mengimbangi tidak meratanya distribusi alat penakar dengan menyediakan suatu faktor pembobot (weighting factor) bagi masing-masing stasiun. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. BATANG BATAHAN KAB. RIV = jarak masing-masing stasiun terhadap stasiun yang ditinjau Hx = hujan yang diperkirakan pada sistem yang ditinjau. RIII. Garis-garis bagi tegak lurus dari garis-garis penghubung ini membentuk poligon di sekitar masing-masing stasiun. Sisi-sisi setiap poligon merupakan batas luas efektif yang diasumsikan untuk stasiun tersebut. 5. PASAMAN BARAT 1 1 1 1 2 HI  2 H II  2 H III  H RI R II R III R IV 2 IV HX = . HII. HIII.

(0. MANDAILING NATAL DAN KAB.yn)/Sn. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. n Li = luas poligon masing-masing stasiun 1. Beberapa metoda yang sangat dikenal antara lain adalah Metoda Log Pearson Type III. Sebagai contoh di bawah ini disajikan metoda perhitungan berdasarkan Gumbel. Kendala terbesar dari metode ini adalah sifat ketidakluwesannya. n = jumlah stasiun yang ditinjau.….2. Yt = . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.9 . 50 serta 100 tahun. Periode ulang yang akan dihitung pada masing-masing metode adalah untuk periode ulang 2. 10. Distribusi Frekuensi Gumbel.I.303 log T/T-1) dimana: Bab 3.834 + 2. 25. 5. Metoda yang dipakai nantinya harus ditentukan dengan melihat karakteristik distribusi hujan daerah setempat.2. BATANG BATAHAN KAB. Analisa Curah Hujan Harian Maksimum Penentuan curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu dapat dihitung menggunakan metode analisa frekuensi. PASAMAN BARAT n H . Metoda distribusi gumbel banyak digunakan dalam analisa frekuensi hujan yang mempunyai rumus Rt = R + K. a). Sx K = (yt . RH = rata-rata hujan.L i 1 i i RH = n L i 1 i dimana: Hi = hujan pada masing-masing stasiun 1..n. 6. selalu diperlukan setiap kali terdapat suatu perubahan dalam jaringan alat ukurnya. Haspers dan Gumbell. dimana suatu diagram poligon Thiessen baru.….

Distribusi Log Pearson Type III Metoda ini mempunyai persamaan sebagai berikut log Xt = log Xi + G.Si  log Xi log X= N (log Xi  log X ) 2 Si = standar deviasi = N 1 (log Xi  log X ) 2 Cs = Koefisien skewness = ( N  1). Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.I. Tetapi sebelum dilakukan perhitungan. BATANG BATAHAN KAB. 1. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.10 . 7. R : Curah hujan maksimum rata-rata Sx : Standar deviasi K : Faktor frekuensi Sn. perlu diketahui terlebih dahulu struktur hirarki sungai pada DAS yang bersangkutan. Metode Rational Bentuk persamaan dasar analisis debit banjir rencana (design flood) Metode Rational adalah sebagai berikut : Bab 3. metode weduwen dan metode hidrograf satuan sintetik Nakayasu serta lainnya. PASAMAN BARAT Rt : Curah hujan untuk periode ulang T tahun (mm). Debit Banjir Rencana Adapun perhitungan debit rancangan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode rasional. MANDAILING NATAL DAN KAB.( N  2) Si 3 dimana : G = Koefisien frekuensi didapat dari tabel. Yn : Faktor pengurangan deviasi standar rata-rata sebagai fungsi dari jumlah data. b).

I.6 ) Keterangan: Q = debit banjir rencana periode ulang T ( tahun ) t = waktu konsetrasi ( jam ) R = curah hujan harian maksimum ( mm ) r = intensitas hujan selama waktu konsentrasi ( mm / hari ) V = kecepatan perambatan banjir ( mm/hari )  = koefesien limpasan air hujan L = Panjang sungai ( km ) H = beda tinggi antara titik terjauh dan mulut catchment ( km ) 2. PASAMAN BARAT 0. MANDAILING NATAL DAN KAB. A 1  4. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. r .1  =   β  q n   7 Bab 3. qn . BATANG BATAHAN KAB. Metode Der Weduwen Rumus banjir Der Weduwen didasarkan pada rumus berikut : Qn =  . 24  t L t = V Q = α . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.6  H   V = 72  L 2/3 R  24    r = . ( A / 3.  .11 .

25 L Q-0. dengan distribusi 10%. Metode Nakayasu  Perhitungan distribusi hujan rencana Menurut hasil penyelidikan Van Breen di Indonesia.125 I-0.058 L  Satuan Waktu dari Curah Hujan Satuan waktu dari curah hujan dihitung dengan rumus : Tr = (0. hujan harian terkonsentrasi selama 4 jam dengan jumlah hujan sebesar 90% dari jumlah hujan selama 24 jam. 40%. BATANG BATAHAN KAB.4 + 0. 40% dan 10%. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. MANDAILING NATAL DAN KAB. PASAMAN BARAT t 1 120  A  = t9 120  A Rn 67.75 Tg  Waktu Permulaan Banjir Sampai Puncak Hidrograf Banjir dan Debit Puncak Banjir Bab 3.km2 dengan periode ulangan tahun A = luas daerah aliran. 3. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.45 t = 0.65 qn = .  Waktu Konsentrasi (Tg) Panjang sungai L.12 . 240 t  1. sehingga waktu konsentrasi dihitung dengan rumus : Tg = 0. jam L = panjang sungai.I.5 sampai 1 ) Tg dan pada umumnya untuk DAS di Indonesia diambil Tr = 0.25 Keterangan: Qn = debit banjir (m3/dt) dengan periode ulang n tahun Rn = curah hujan maksimum harian (mm/hari) dengan periode ulang n tahun  = koefisien limpasan air hujan  = koefisien pengurangan luas untuk curah hujan di daerah aliran sungai qn = luasan curah hujan m3/dt. km2 sampai 100 km2 T = lamanya hujan. km I = kemiringan sungai atau medan.

09 debit puncak banjir dihitung dengan rumus : T0.3 Pada saat (Tp + T0. PASAMAN BARAT  Waktu permulaan banjir sampai puncak hidrograf banjir dihitung dengan rumus : Tp = Tg + 0.3 = 2 Tg Pada saat Tp < T < (Tp + T 0. kurva hidrograf banjir mempunyai bagian lengkung naik dan debitnya dihitung dengan rumus : 2.3   Waktu dari 0.3) . kurva hidrograf banjir mempunyai lengkung turun dengan debit banjir dihitung menggunakan rumus : Bab 3. kurva hidrograf banjir mempunyai lengkung turun dengan debit banjir dihitung menggunakan rumus :  T Tp  0.3 debit puncak banjir dihitung dengan rumus : T0.3) .3 debit puncak banjir sampai 0.13 . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. kurva hidrograf banjir mempunyai lengkung turun dengan debit banjir dihitung menggunakan rumus :  T Tp     T  Qd 1  Qp 0.6 ( 0.09 debit puncak banjir dihitung dengan rumus : Pada saat T > (Tp + 2.5 T0.3) < T < (Tp + 2. BATANG BATAHAN KAB.5 T 0.I.8 Tr  Debit puncak banjir dihitung dengan rumus : C A Rt Qp  3. 4  T  Qa  Qp   Tp   Waktu dari puncak hidrograf banjir sampai 0.3 )  Debit banjir pada 0 < T < Tp Pada saat 0 < T < T p .3 Tp  T0.5 T0 .3  0. 3  Qd 2  Qp 0.3 =  Tg T0.5 T0. MANDAILING NATAL DAN KAB.3T0.3     1.3    Waktu setelah 0.09 = 1.3) .

Metode Snyder Empat parameter yaitu waktu kelambatan.5 Apabila durasi hujan efektif t r tidak sama dengan durasi standar t D . aliran puncak.14 . dan durasi standar dari hujan efektif untuk hidrograf satuan dikaitkan dengan geometri fisik dari DAS dengan hubungan berikut ini.3T0. PASAMAN BARAT  T Tp  0.25 t r  t D  tp Q pR  Q p t pR dengan: Bab 3.I. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.3   Gambar 3. Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu 4.3 C pA Qp  tp tp T  3 8 tp tD  5. BATANG BATAHAN KAB. maka: t pR  t p  0.3     2 T0 . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. 3  Qd 3  Qp 0.2. MANDAILING NATAL DAN KAB. t p  Ct  LLc  0. waktu dasar.

7. 08 0.15 . Cp = koefisien yang tergantung pada karakteristik DAS. Bab 3. lebar W50 dan W75 dibuat dengan perbandingan 1:2. Sebagai acuan. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. berikut ini diberikan beberapa rumus: 0. yang bervariasi antara 0.I. Untuk memudahkan penggambaran. PASAMAN BARAT tD = durasi standar dari hujan efektif (jam) tr = durasi hujan efektif (jam) tp = waktu dari titik berat durasi hujan efektif t D ke puncak hidrograf satuan (jam) t pR = waktu dari titik berat durasi hujan t r ke puncak hidrograf satuan (jam) T = waktu dasar hidrograf satuan (hari) Qp = debit puncak untuk durasi t D Q pR = debit puncak untuk durasi t r L = panjang sungai utama terhadap titik kontrol yang ditinjau (km) Lc = jarak antara titik control ke titik terdekat dengan titik berat DAS (km) A = luas DAS (km 2 ) Ct = koefisien yang tergantung kemiringan DAS. Dengan menggunakan rumus-rumus tersebut di atas dapat digambarkan hidrograf satuan. MANDAILING NATAL DAN KAB. yang bervariasi dari 1. 08 W50  Q pR1.13 A1. 08 W75  1.15 sampai 0. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. 08 Q pR dengan W50 dan W75 adalah lebar unit hidrograf pada debit 50%dan 75% dari debit puncak. dengan sisi pendek di sebelah kiridari hidrograf satuan. BATANG BATAHAN KAB.19. yang dinyatakan dalam jam.23 A1.4 sampai 1.

I.2000) berdasar perilaku 30 DAS di pulau Jawa. Metode SCS (Soil Conservation Service) SCS menggunakanhidrograf tak berdimensi yang dikembangkan dari analisis sejumlah besar hidrograf satuan dari data lapangan dengan berbagai ukuran DAS dan lokasi berbeda. HSS Gama I terdiri dari tiga bagian pokok yaitu sisi naik (rising limb). Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. puncak (crest) dan sisi turun/resesi (recession limb). Hal ini disebabkan sisi resesi mengikuti persamaan eksponensial yang tidak memungkinkan debitsama dengan nol.16 .208 A Qp  Pr tr Pr   tp 2 6. PASAMAN BARAT 5. MANDAILING NATAL DAN KAB. menunjukkan HSS Gama I. ternyata hidrograf satuan sintetis Gama I juga berfungsi baik untuk berbagai daerah lain di Indonesia. Meskipun diturunkan dari data DAS di pulau Jawa. Hidrograf Satuan Sintetik GAMA I Bab 3. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. dengan nilai: 0. Metode GAMA I Hidrograf satuan sintetis Gama I dikembangkan oleh Sri Harto (1993. dalamgambar tersebut tampak ada patahan dalam sisi resesi. BATANG BATAHAN KAB.3. Ordinat hidrograf satuan untuk periode waktu berbeda dapat diperoleh daritabel berikut. Gambar 3.

1836 A 0 .1798 S 0. 4008 JN 0 . 0452  Aliran dasar (QB ) QB  0. waktu dasar (TB).9430 dengan: Bab 3.4132TR 0. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.5886TR 0 . 7344 RUA0.I.TR). PASAMAN BARAT Meskipun pengaruhnya sangat kecil namun harus diperhitungkan bahwa volume hidrograf satuan harus tetep satu.43  L / 100SF  3  1.1457 S 0. 2381  Waktu dasar (TB) TB  27.17 . dan sisi resesi yang ditentukan oleh nilai koefisien tampungan (K) yang mengikuti persamaan berikut: Qt  Q p e  t / K dengan: Qt = debit pada jam ke t (m3/d) Qp = debit puncak (m3/d) t = waktu dari saat terjadinya debit puncak (jam) K = koefisien tampungan (jam) Persamaan-persamaan yang dalam HSS Gama I adalah:  Waktu puncak HSS Gama I (TR) TR = 0.0665SIM  1.4715 A 0.2775  Debit puncak banjir  QP  QP  0.1446 SF 1. 00986 SN 0 .yaitu waktu naik (time of rise. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.5617 A 0. 6444 D 0 . 0897 D 0. MANDAILING NATAL DAN KAB. BATANG BATAHAN KAB.debit puncak ( Q p ). HSS Gama I terdiri dari empat variable pokok. 2574  Koefisien resesi (K) K  0.

perbandingan luas DAS yang diukur di hulu garis yang ditarik tegak lurus garis hubung antar stasiun hidrometri dengan titik yang paling dekat dengan titik berat DAS. hasil kali antara lebar (WF) dengan luas DAS sebelah hulu (RUA) RUA : luas DAS sebelah hulu. perbandingan antara lebar DAS yang diukur di titik sungai yang berjarak0. Sketsa Penetapan WF Bab 3.I. perbandingan antara jumlah panjang sungai tingkat satu dengan jumlah panjang sungai semua tingkat WF : factor lebar.18 . jumlah panjang sungai semua tingkat tiap satuan luas DAS. Gambar 3. BATANG BATAHAN KAB. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. melalui titik tersebut D : kerapatan jaringan kuras. PASAMAN BARAT A : luas DAS ( km 2 ) L : panjang sungai utama (km) S : kemiringan dasar sungai SF : factor sumber.4.25 L dari stasiun hidrometri . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. MANDAILING NATAL DAN KAB.75 L dengan lebar DAS yang diukur di sungai yang berjarak 0. JN : Jumlah pertemuan sungai SIM : factor simetri.

1987 dalam Zulfikar dkk. 2012). Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. BATANG BATAHAN KAB. MANDAILING NATAL DAN KAB. dapat dihitung dengan beberapa metode yang disesuaikan dengan data yang tersedia.4903 -3.5.859A2 +1.6985 x 1013(A/SN)4 dengan: Φ indeks : indeks infiltrasi ( mm / jam) A : luas DAS ( km 2 ) SN : frekuensi sumber 8. Analisa Debit Andalan Debit andalan adalah besarnya debit yang tersedia di suatu lokasi sumber air (misalnya: sungai) untuk dapat dimanfaatkan/dikelola dalam penyediaan air (misalnya. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. air baku dan air irigasi) dengan resiko kegagalan yang telah diperhitungkan. yang tujuannya adalah untuk menentukan debit perencanaan yang diharapkan selalu tersedia di sungai (Soemarto.19 . Data yang tersedia dapat berupa seri data debit yang dimiliki Bab 3. PASAMAN BARAT Gambar 3.I. Untuk menentukan besarnya debit andalan. Sketsa Penetapan RUA Persamaan tambahan yang terkait dengan HSS Gama I adalah indeks infiltrasi atau Φ indeks. Besarnya Φ indeks dapat dihitung dengan persamaan berikut: Φ indeks = -10. Dalam perencanaan suatu bangunan penyediaan air terlebih dahulu harus dicari debit andalan (dependable discharge).

20 . Keandalan 80% mempunyai arti bahwa kemungkinan debit terpenuhi adalah 80% atau kemungkinan debit sungai lebih rendah dari debit andalan adalah 20% (SPI KP-1 : 1986). Bab 3. A. Metode Mock Metode Mock ditemukan dan dikembangkan oleh Dr. dengan urutan variasi dari besar ke kecil n : jumlah data pengamatan debit Probabilitas atau keandalan debit yang dimaksud berhubungan dengan probabilitas atau nilai kemungkinan terjadinya sama atau melampui dari yang diharapkan. 1.I. 2009). KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Debit andalah dihitung berdasarkan probabilitas dari sejumlah data pengamatan debit. ketepatan hasil dan kemudahan perhitungan (Dirrjen ESDM.Mock. Debit Andalan Berdasarkan Data Hujan Perhitungan debit andalan dengan cara empiris dapat dilakukan bila data debit sungai tidak tersedia. Debit Andalan Berdasarkan Data Debit Metode yang sering dipakai untuk analisis debit andalan adalah metode statistik rangking. Metode perhitungan yang umumnya digunakan di Indonesia antara lain metode F. MANDAILING NATAL DAN KAB.J Mock memperkenalkan model sederhana simulasi keseimbangan air (water balance) untuk menghitung aliran sungai dari data curah hujan.J Mock dan NRECA. Analisis debit dari kedua metode tersebut direkomendasikan berdasarkan tingkat empiris. F. Perhitungan debit andalan mengunakan rumus dari Weibull: -------------------------------------------------------------------------------------(3) Keterangan variabel yang digunakan: P : probabilitas terjadinya kumpulan nilai (misalnya: debit) yang diharapkan selama periode pengamatan (%) m : nomor urut kejadian. Penetapan rangking dilakukan menggunakan analisis frekuensi atau probabilitas dengan rumus Weibull. B. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.J. Debit andalan yang digunakan untuk perencanaan penyediaan air irigasi menggunakan debit andalan 80%. “Land Capability Appraisal Indonesia & Water Availability Appraisal”. Dalam makalahnya.F. PASAMAN BARAT oleh setiap stasiun pengamatan debit sungai maupun data seri data curah hujan yang dimiliki oleh setiap stasiun pencatat curah hujan pada DAS Sungai yang dimaksud. BATANG BATAHAN KAB.

sebagian akan langsung menjadi aliran permukaan (direct run off) dan sebagian lagi akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi). keluar dan yang disimpan di dalam tanah (soil storage). a. semakin kecil air yang mampu keluar dari tanah  Vn-1 = penyimpanan awal (initial storage). nilainya dapat ditaksir dengan peta tata guna lahan atau pengamatan di lapangan  K = koefisien simpan tanah atau faktor resesi aliran tanah (Catchment Area Resession Factor).0. metode F. PASAMAN BARAT evapotranspirasi dan karakteristik hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk memperkirakan ketersediaan air di sungai. run off dan air tanah. Semakin besar K. Pada prinsipnya.I. 2010). c.21 . Data meteorologi  Data curah hujan bulanan (R) untuk setiap tahun  Data jumlah hari hujan bulanan (n) untuk setiap tahun b. Evapotranspirasi Bab 3. dimana volume air total yang ada di bumi adalah tetap. perkolasi dan yang paling dominan adalah evapotranspirasi. Batasan nilai K yaitu antara 0 – 1.J Mock memperhitungkan volume air yang masuk. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.J Mock dibagi ke dalam lima perhitungan utama yaitu perhitungan evapotranspirasi aktual. Kriteria perhitungan dan asumsi diurutkan sebagai berikut. Evapotranspirasi pada Metode F. hanya sirkulasi dan distribusinya yang bervariasi (Yanuar. permukaan tanah dan jumlah hari hujan. MANDAILING NATAL DAN KAB. Volume air yang masuk adalah hujan. Nilai ini berkisar antara 3 mm –109 mm. perhitungan debit andalan dengan Metode F. Air hujan yang jatuh (presipitasi) pada cathment area. 2012). Infiltrasi pertama akan menjenuhkan top soil. BATANG BATAHAN KAB. Proses evapotranspirasi terjadi sesuai dengan vegetasi yang menutupi daerah tangkapan hujan. kemudian menjadi perkolasi membentuk air bawah tanah (ground water) yang kemudian akan keluar ke sungai sebagai aliran dasar atau base flow (Kadir. sebagian akan mengalami evapotranspirasi. volume air yang keluar adalah infiltrasi. Nilai K ditentukan oleh kondisi geologi lapisan bawah. total volume tersimpan dan aliran permukaan. Parameter yang digunakan dalam perhitungan debit andalan  m = persentase lahan yang terbuka atau tidak ditumbuhi vegetasi.J Mock adalah evapotranspirasi yang dipengaruhi oleh jenis vegetasi. Perhitungan debit andalan F. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.J Mock ini mengacu pada water balance. Secara keseluruhan. water balance atau keseimbangan air.

MANDAILING NATAL DAN KAB.I. dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer (Asdak. air. BATANG BATAHAN KAB. Evaporasi yaitu penguapan air dari permukaan air. evapotranspirasi aktual juga dipengaruhi oleh proporsi permukaan luar yang tidak tertutupi tumbuhan hijau (exposed surface) pada musim kemarau. 1995). Evaporasi aktual lebih dipengaruhi oleh faktor fisiologi tanaman dan unsur tanam (Asdak.22 . kelembapan atmosfer dan kecepatan angin (Asdak. Perhitungan evapotranspirasi dapat menggunakan metode Penman Modifikasi. sekunder 10 . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. evapotranspirasi merupakan gabungan dari dua kata.40 % Daerah tererosi 30 . 2007 dalam Wirasembada. 2012).12 berikut. yaitu evapotranspirasi potensial (PET) dan evapotranspirasi aktual (AET). Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari tanah. Gambar 3. Transpirasi umumnya terjadi pada siang hari karena pada malam hari stomata akan tertutup (Asdak. Evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi yang terjadi pada kondisi air yang jumlahnya terbatas. 1995). maka jumlah air yang ditranspirasikan relatif lebih besar dibandingkan apabila tersedianya air di bawah keperluan (Bappenas. Nilai m tersebut tertera pada tabel 4. PASAMAN BARAT Menurut Setiawan dkk (2009).6. Apabila evaporasi dan transpirasi digabungkan maka disebut evapotranspirasi. Besarnya exposed surface (m) untuk tiap daerah berbeda-beda (Mock. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Evapotranspirasi diklasifikasi menjadi 2 jenis. Nilai Exposed Surface (m) Berdasarkan Jenis Tutupan Lahan M Daerah 0% Hutan primer. 1995). suhu. evaporasi dan transpirasi. Transpirasi adalah penguapan air dari daun dan cabang tanaman melalui pori -pori daun. Jika jumlah air selalu tersedia berlebihan dari yang diperlukan oleh tanaman selama proses transpirasi.50 % Daerah ladang pertanian Bab 3. Faktor dominan yang mempengaruhi terjadinya evapotranspirasi potensial yaitu radiasi panas matahari. 1995). Selain itu. tanah dan bentuk permukaan bukan vegetasi lainnya oleh proses fisika. Evapotranspirasi ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi dan tersedianya air yang cukup banyak. Evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi yang mungkin terjadi pada kondisi air yang tersedia berlebihan. 1973) mengklasifikasikan nilai m ke dalam tiga daerah.

2007 dalam Wirasembada. dan dihitung dengan formulasi sebagai berikut. BATANG BATAHAN KAB.(3) Sehingga ----------------------------------------------------------------------.(4) Dari formulasi di atas dapat dianalisis bahwa evapotranspirasi potensial akan sama dengan evapotranspirasi aktual (atau ΔE = 0) jika evapotranspirasi terjadi pada hutan primer atau hutan sekunder. 2012) Selain exposed surface. dimana jumlah parameter model hanya 3 atau 4 parameter. dimana daerah ini memiliki harga exposed surface (m) sama dengan nol (0) atau banyaknya hari hujan dalam bulan yang diamati pada daerah itu sama dengan 18 hari.23 . MANDAILING NATAL DAN KAB.I. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. H – E + PT = L-------------------------------------------------------------------------------------(7) Keterangan variabel yang digunakan: H : Hujan E : Evapotranspirasi PT : Perubahan Tampungan Bab 3. Sehingga evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi yang sebenarnya terjadi. Persamaan dasar yang digunakan adalah persamaan keseimbangan air yaitu sebagai berikut. dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: ---------------------------------------------------------------------------------------.(5) d. PASAMAN BARAT (sumber: Bappenas. Menurut Mock (1973). bulanan yang merupakan model hujan-limpasan yang relatif sederhana. Metode NRECA Model NRECA dikembangkan oleh NORMAN CRAN FORD untuk data debit harian. ---------------------------------------------------------------------------. Jadi evapotranspirasi aktual adalah evapotranspirasi potensial yang memperhitungkan faktor exposed surface dan jumlah hari hujan dalam bulan yang bersangkutan. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. rasio antara selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi aktual dengan evapotranspirasi potensial dipengaruhi oleh exposed surface (m) dan jumlah hari hujan (n). evapotranspirasi aktual juga dipengaruhi oleh jumlah hari hujan (n) dalam bulan yang bersangkutan.

kehilangan air. PASAMAN BARAT L : Limpasan Model NRECA strukturnya dibagi menjadi dua tampungan. Kebutuhan bersih air di sawah ( NFR ) NFR = Etc + P – Re + WLR ------------------------------------------------------------------.(8) Dimana : NFR = kebutuhan air di sawah untuk tanaman padi. GFR ) mencakup faktor 1 sampai 4 dan kebutuhan bersih air di sawah (Net Field Requirement. Kebutuhan air di sawah untuk padi ditentukan oleh faktor–faktor berikut (SPI KP 1: 1986 ) : 1 Penyiapan lahan 2 Penggunaan konsumtif 3 Perkolasi dan rembesan 4 Pergantian lapisan air 5 Curah hujan efektif Kebutuhan total air di sawah ( Gross Field Requirement. Kebutuhan air untuk tanaman pada suatu jaringan irigasi merupakan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman yang optimal tanpa kekurangan air. Suatu pertumbuhan tanaman sangat dibatasi oleh ketersediaan air yang di dalam tanah. Kandungan air tanah ditentukan oleh jumlah kelebihan kelengasan (excess moisture). NFR) mencakup GFR dengan memperhitungkan curah hujan efektif (faktor 5).24 . kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah.I. 9. Kandungan kelengasan di tentukan oleh hujan dan evapotranspirasi aktual. Dari kelima faktor tadi maka perkiraan kebutuhan air irigasi ialah sebagai berikut ( SPI bagian penunjang . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Kebutuhan Air Di Sawah Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evapotranspirasi. 1986) : 1. mm/hari Bab 3. BATANG BATAHAN KAB. sehingga pertumbuhan tanaman akan terhenti. Kekurangan air akan mengakibatkan terjadinya gangguan aktivitas fisiologis tanaman. MANDAILING NATAL DAN KAB. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. yaitu tampungan kelengasan (moisture storage) dan tampungan air tanah (groundwater storage).

Waktu yang dibutuhkan dapat selama 30 hari atau 45 hari dan jumlah kebutuhan air selama penyiapan lahan dihitung dengan metode yang dikembangkan oleh van de Goor dan Zijlstra (1968) yaitu : --------------------------------------------------------------------------------------------. MANDAILING NATAL DAN KAB.(11) Bab 3. mm/hari Re = curah hujan efektif.I. Penyiapan Lahan Kebutuhan air untuk penyiapan lahan ditentukan oleh lamanya waktu yang dibutuhkan dan jumlah air yang dibutuhkan untuk menyiapkan lahan. mm/hari = angka konversi satuan dari mm/hari ke lt/dt/ha EI = efisiensi Irigasi secara total (%) a. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.(10) Dimana : IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan. mm/ hari ---------------------------------------------------------------------. PASAMAN BARAT Etc = kebutuhan air untuk konsumtif tanaman.25 . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. mm/ hari M = kebutuhan air untuk mengganti/mengkompensasi kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan M = Eo+ P. mm/hari 2. mm/hari WLR = pergantian lapisan air (water layer requirement). BATANG BATAHAN KAB. Kebutuhan air irigasi di pintu pengambilan ------------------------------------------------------------------------------------.(9) Dimana : NFR = kebutuhan air di sawah untuk tanaman padi. mm/hari P = perkolasi.

PASAMAN BARAT Eo = Evaporasi air terbuka yang diambil 1. Koefisien Tanaman Koefisien tanaman ini merupakan faktor yang dapat digunakan untuk mencari besarnya air yang habis terpakai untuk tanaman untuk masa pertumbuhannya. atau dapat diambil 250 + 50 = 300 mm untuk lahan telah dibiarkan beda selama jangka waktu yanglama (2. MANDAILING NATAL DAN KAB. Untuk menghitung kebutuhan air untuk konsumtif tanaman digunakan persamaan empiris sebagai berikut :: --------------------------------------------------------------------------------------(13) Dimana Etc = evapotranspirasi tanaman. tumbuh di areal pertanian pada kondisi cukup air dari kesuburan tanah dengan potensi pertumbuhan yang baik dan tingkat lingkungan pertumbuhan yang baik.1. mm/ hari c.I. Kebutuhan Air untuk Konsumtif Tanaman Kebutuhan air untuk konsumtif tanaman merupakan kedalaman air yang diperlukan untuk memenuhi evapotranspirasi tanaman yang bebas penyakit. mm/ hari Kc = koefisien tanaman ETo = evapotransirasi tanaman acuan.(12) T = jangka waktu penyiapan lahan. hari S = Kebutuhan air : = tanaman padi : untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm. Eto selama penyiapan lahan. mm/ hari P = Perkolasi k = --------------------------------------------------------------------------------------.5 bulan atau lebih) = tanaman ladang: untuk penjenuhan diperlukan jumlah air 50 sampai 100 mm b.26 . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. BATANG BATAHAN KAB. mm yakni 200 + 50 = 250 mm. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Adapun harga koefisien tanaman padi dan palawija untuk periode ½ bulanan disajikan pada tabel di bawah ini: Bab 3.

95 3.05 0.40 1.24 0 1.5 1.27 1.0 1.96 2. tinggi muka air tanah juga harus diperhitungkan.05 0 0.05 1.10 1.10 0.35 1. Perkolasi dan Rembesan Laju perkolasi sangat bergantung pada sifat-sifat tanah.10 1.10 0.12 0. Dari hasil penyelidikan tanah pertanian dan penyelidikan kelulusan.30 1. MANDAILING NATAL DAN KAB. Bab 3. Perembesan terjadi akibat meresapnya air melalui tanggul sawah.5 1. Laju perkolasi normal pada tanah lempung sesudah dilakukan genangan berkisar antara 1 sampai 3 mm/hari.7.32 1.95 0 4.0 1. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. PASAMAN BARAT Tabel 3.27 .59 1.33 1.20 1.05 2.5 1. BATANG BATAHAN KAB.0 04 0 Sumber : Standar Perencanaan Irigasi KP – 01 : 1986 Catatan 1 : Harga – harga koefisien ini akan dipakai dengan rumus evapotranspirasi Penman yang sudah dimodifikasi.10 1.95 1.10 1. Harga – Harga Koefisien1 Tanaman Padi Dan Palawija Padi Palawija Nedeco/ Prosida FAO FAO Bulan Varietas2 Varietas3 Varietas2 Varietas3 Jagung Biasa Unggul Biasa Unggul 0.20 1. dengan menggunakan metode yang diperkenalkan oleh Nedeco/ Prosida atau FAO 2 : Varietas padi biasa adalah varietas padi yang masa tumbuhnya lama 3 : Varietas unggul adalah varietas padi yang jangka waktu tumbuhnya pendek 4 : Selama setengah bulan terakhir pemberian air irigasi ke sawah dihentikan. kemudian koefisien tanaman diambil “nol” dan padi akan menjadi masak dengan air yang tersediatanaman padi d. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. besarnya laju perkolasi serta tingkat kecocokan tanah untuk pengolahan tanah dapat ditetapkan dan dianjurkan pemakaiannya.02 3.30 1.5 1. Guna menentukan laju perkolasi.5 1.I.10 0.20 1.0 1.

PASAMAN BARAT Di daerah dengan kemiringan di atas 5 %. Curah hujan efektif ini dimanfaatkan oleh tanaman untuk memenuhi kehilangan air akibat evapotranspirasi tanaman. BATANG BATAHAN KAB.I. Curah hujan efektif Curah hujan efektif merupakan curah hujan yang jatuh pada suatu daerah dan dapat digunakan tanaman untuk pertumbuhannya. (2) poligon thiessen dan (3) isohyet. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. perkolasi dan lain-lain. Bab 3. Mengingat bahwa jumlah curah hujan yang turun tersebut tidak semuanya dapat dipergunakan untuk tanaman dalam pertumbuhannya. usahakan untuk menjadwalkan dan mengganti lapisan air menurut kebutuhan. f. dilakukan penggantian sebanyak 2 kali. b. Metode perhitungan curah hujan rata-rata ini ialah dengan menggunakan rumus (1) rata-rata aljabar. masing-masing 50 mm (atau 3. Curah hujan ini disebut hujan wilayah dan dinyatakan dalam mm. Curah hujan rata-rata Curah hujan yang diperlukan untuk penggunaan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir ialah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. MANDAILING NATAL DAN KAB. bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. paling tidak akan terjadi kehilangan 5 mm/hari akibat perkolasi dan rembesan e. a) Setelah pemupukan. Curah Hujan Efektif a. Curah hujan daerah ini harus diperkirakan dari beberapa titik hujan.3 mm/hari selama ½ bulan ) selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi. Jumlah hujan yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman tergantung pada jenis tanaman. maka disini perlu diperhitungkan dan dicari curah hujan efektifnya. sehingga dapat memperkecil debit yang diperlukan dari pintu pengambilan.28 . b) Jika tidak ada penjadwalan semacam itu. Pergantian Lapisan Air (Water Layer Requirement) Pergantian lapisan air pada lahan irigasi dilakukan. Besarnya curah hujan yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.

Untuk irigasi padi curah hujan efektif bulanan diambil 70% dari curah hujan minimum dengan periode ulang rencana tertentu dengan kemungkinan kegagalan 20% (Curah hujan R80 ). PASAMAN BARAT Curah hujan efektif (Reff) ditentukan besarnya R80 yang merupakan curah hujan yang besarnya dapat dilampaui sebanyak 80% atau dengan kata lain dilampauinya 8 kali kejadian dari 10 kali kejadian. BATANG BATAHAN KAB. Air yang diambil dari sumber air yang dialirkan ke areal irigasi tidak semuanya dimanfaatkan oleh tanaman.Int menghitung besarnya curah hujan efektif berdasarkan R80 = Rainfall equal or exceeding in 8 years out of 10 years.(15) g. Agar air yang sampai pada tanaman tepat jumlahnya seperti yang direncanakan. Bab 3.I. Harza Engineering Comp. Bila dinyatakan dengan rumus adalah sebagai berikut : --------------------------------------------------------------------------------. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Apabila data hujan yang digunakan 15 harian maka persamaannya menjadi (SPI KP 01: 1986 ) : .(14) Dimana : Reff = R80 = Curah hujan 80% = Rangking curah hujan efektif dihitung curah hujan terkecil n = jumlah data Analisa curah hujan efektif dilakukan dengan maksud untuk menghitung kebutuhan air irigasi. Curah hujan efektif ialah bagian dari keseluruhan curah hujan yang secara efektif tersedia untuk kebutuhan air tanaman. Efisiensi Irigasi Efisiensi merupakan persentase perbandingan antara jumlah air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman dengan jumlah air yang dikeluarkan dari pintu pengambilan. mm/hari----------------------------------------------------------.29 . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Dengan kata lain bahwa besarnya curah hujan yang lebih kecil dari R80 mempunyai kemungkinan hanya 20%. maka air yang dikeluarkan dari pintu pengambilan harus lebih besar dari kebutuhan. MANDAILING NATAL DAN KAB. Dalam praktek irigasi terjadi kehilangan air.

BATANG BATAHAN KAB. Nilai Efisiensi Irigasi Jaringan Efisiensi Irigasi (%) Primer 80 Sekunder 90 Tersier 90 Total 65 Sumber : Standar Perencanaan Irigasi KP – 01 : 1986 h. Kebiasaan petani setempat c. PASAMAN BARAT Biasanya Efisiensi Irigasi dipengaruhi oleh besarnya jumlah air yang hilang di perjalanannya dari saluran primer. Rencana Pola Tanam dan Tata Tanam Guritno (2011) menjelaskan bahwa cropping system yaitu suatu usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur pola tanam (cropping pattern) yang berinteraksi dengan sumber daya lahan serta teknologi budidaya tanaman yang dilakukan. Rencana pola tanam dan tata tanam harus mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut : a. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Debit tersedia di Sungai b. Kebijaksanaan pemerintah e. waktu penanaman.30 . Padi . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. pada sebidang lahan selama periode tertentu. sekunder hingga tersier.I. Kebutuhan air pada DI di sebelah hilir (bila ada) Pola tanam pada irigasi teknis biasanya bervariasi sebagai berikut : a. Sedangkan pola tanam (cropping pattern) adalah susunan tata letak dan tata urutan tanaman. Tabel 3. MANDAILING NATAL DAN KAB. tempat atau lokasi tanaman dan luas areal tanaman yang memperoleh hak atas air pada suatu daerah irigasi (Anonim. 2009 dalam Huda dkk 2012).Palawija Bab 3. termasuk pengolahan tanah dan bera.8. Kebijaksanaan petani setempat d.Padi . Pola tata tanam adalah pola mengenai rencana tata tanam yang terdiri dari pengaturan jenis tanaman.

dan bisa dibuat skema pengaturan tata tanam dengan luas areal tanam yang direncanakan. Padi .A.Padi . Dirjen Pengairan Departemen PU. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.Palawija – Bera Pola tanam erat sekali hubungannya dengan rencana pemberian air irigasi.Palawija d. 2012) adalah: -------------------------------------------------------------(2) 2. Pembagian Air Irigasi Secara Serentak Air dibagikan ke seluruh areal yang ditanami pada waktu bersamaan secara merata. Cara ini dapat dilakukan apabila jumlah air yang tersedia cukup banyak. atau jika nilai k lebih besar atau sama dengan 1. 1. Padi . PASAMAN BARAT b. 2010 dalam Huda dkk. KP. Untuk jaringan irigasi pedesaan.Padi .Bera (tidak ditanami) e. sementara kebutuhan air (terutama saat pengolahan tanah) sangat besar. seiring dengan makin bertambahnya debit Bab 3. Penerapan ketiga cara tersebut tergantung pada jumlah air yang tersedia.Padi (Apabila keadaan memungkinkan) c. menyatakan bahwa pemberian air dengan golongan atau dapat diistilahkan rotasi teknis berguna untuk mengurangi kebutuhan puncak air irigasi dan kebutuhan pengambilan bertambah secara berangsur–angsur pada awal waktu pemberian air irigasi (pada periode penyiapan lahan).I. sistem golongan dan sistem rotasi.Palawija . 01 (1986). Padi . MANDAILING NATAL DAN KAB. Maka saat tanam dilakukan secara bertahap dari satu petak tersier ke petak lainnya. Idealnya satu daerah irigasi dibagi dalam 3-5 (tiga sampai lima) golongan dengan jarak waktu tanam biasanya 2-3 (dua sampai tiga) minggu. Jumlah air yang dibagikan disesuaikan fase perkembangan padi dan kebutuhan air yang diperlukan secara maksimal. Rumus untuk menghitung nilai k (Kunaifi.31 . BATANG BATAHAN KAB. Kelompok-kelompok dalam petak tersier ini disebut sebagai golongan. Cara Pembagian Air Irigasi Ada 3 (tiga) cara pembagian air irigasi yaitu: sistem serentak. Padi . i. Cara Golongan Cara ini dilakukan bila jumlah air yang tersedia sangat terbatas.A. rencana pola tanam dan tata tanam harus disesuaikan dengan kebiasaan dan keinginan petani setempat. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.

MANDAILING NATAL DAN KAB. Eksploitasi lebih rumit. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Kehilangan air akibat ekploitasi sedikit lebih tinggi. (3). 1984 dalam Purba 2011) j. Keseimbangan Air (Neraca Air) Imbangan air dihitung berdasarkan perbandingan debit aktual dan kebutuhan air irigasi dengan penentuan pola tanam dan jadwal tanam dapat dilihat berapa kebutuhan air irigasi pada suatu areal irigasi (Kriteria Perencanaan Irigasi 01 Dep. k. pemakaian insektisida 3. BATANG BATAHAN KAB. Cara Rotasi/Giliran Jika kebutuhan air irigasinya besar sementara air yang tersedia kurang.32 . PASAMAN BARAT sungai. Tetapi metode ini akan menyebabkan eksploitasi yang lebih kompleks. 1984 dalam Huda dkk 2012). Idealnya periode giliran adalah 2-3 (dua sampai tiga) hari dan jangan lebih dari 1 (satu) minggu karena akan berpengaruh terhadap per tumbuhan tanaman (Hansen dkk. Pasandaran dkk. Beberapa hal yang tidak menguntungkan dari metode ini adalah: (1). Intensitas Tanam Intensitas tanam adalah prosentase dari perbandingan antara luas pencapaian tanam pada suatu lahan dengan luas lahan yang bersangkutan dalam kurun waktu setahun (Priyantoro. Daur/siklus gangguan serangga . akibatnya lebih sedikit waktu tersedia untuk tanaman kedua. yang merupakan perbandingan antara ketersediaan air dan kebutuhan air dimana jika perbandingan tersebut kurang dari 0.I.70 (70%) maka sistem penyediaan air tersebut dianggap gagal. 1986): Parameter tinjauan neraca air ini adalah meliputi ketersediaan air yang masing-masing titik tinjau (control point) dan kebutuhan yang harus dilayani di titik tersebut dengan rangkaian sistem yang saling berhubungan mulai dari hulu-tengah-hilir. (3). (2). atau antar petak sekunder. PU. Timbulnya konflik sosial. Bab 3. kebutuhan pengambilan puncak dapat ditunda. 1986. Jangka waktu irigasi untuk tanaman pertama lebih lama. (4). maka perlu dilakukan pemberian air secara giliran antar petak tersier. Dari neraca air ini akan diperoleh hasil berupa faktor kegagalan. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.

2. kesuburan tanah merupakan salah satu faktor penentu.3. b. K2O. struktur tanah serta kedalaman tanah. permasalahan. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.2. Faktor Fisik Faktor fisik yang meliputi tekstur. serta usaha penanggulangan permasalahan yang terjadi untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal di lokasi pekerjaan. SURVEY TANAH PERTANIAN / KESESUAIAN LAHAN I. struktur. P 2O5. PASAMAN BARAT 4. UMUM Tujuan pelaksanaan survey tanah pertanian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan masalah karakteristik lahan dalam kaitannya dengan jenis tanaman terutama padi . batas olah serta unsur-unsur hara yang meliputi kandungan C. dll akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. drainase. A. Bab 3. tanaman akan mengalami sakit bahkan dapat mengakibatkan kematian pada tanaman. SURVEY TANAH PERTANIAN Dalam upaya untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah pada daerah studi diperlukan penelitian yang meliputi sifat-sifat fisika dan kimia seperti yang sering dilakukan dalam kegiatan survey kapabilitas tanah. Pengertian kesuburan tanah adalah suatu kondisi fisik dan kimia tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kelangsungan hidup tanaman tersebut serta produk yang dihasilkannya. BATANG BATAHAN KAB. a.Adapun langkah dalam melakukan penelitian tersebut adalah dengan pengambilan sampel tanah pada titik tanah yang mewakili daerah survey pada kedalaman 0-30 cm dengan tingkat kerapatan 1 sample setiap 100 ha. Faktor Kimia Faktor kimia meliputi tersedianya unsur-unsur hara dalam tanah yang akan menentukan pertumbuhan tanaman.2.2. Dari data hasil survey tersebut setelah dianalisa dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi proyek dalam pelaksanaan perencanaan konstruksi dan pelaksanaan fisik dikemudian hari. tekstur. PH dan KTK. 4.2.33 . Apabila terjadi kekurangan salah satu unsur hara esensial (pokok). Dalam menentukan karakteristik tanah/lahan pertanian. MANDAILING NATAL DAN KAB. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah dengan mengadakan analisa di laboratorium untuk mengetahui sifat fisik. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.I.Data dan informasi ini sangat berguna dalam mengidentifikasi kondisi.

serta upaya – upayanya untuk mengatasi faktor penghambat tersebut. BATANG BATAHAN KAB.Dalam melakukan evaluasi/analisa kesesuaian lahan pada studi ini dapat dilakukan dengan metode evaluasi yang didasarkan pada kerangka klasifikasi kesesuaian lahan FAO 1976. dan lainnya) sehingga mempunyai hasil yang baik. dimana kualitas lahan yang menjadi faktor pembatas dan karakteristik lahan mengacu pada produk dari Pusat Penelitian Tanah (1983) dan hasil penelitian sejenis di wilayah yang mempunyai tipe hampir sama. Dalam studi ini akan dijelaskan secara sederhana sebagai berikut : 1. sehingga akan diperoleh gambaran profil tanah. palawija. kode perlakuan. 3. dengan mempertimbangkan kondisi tanah setempat yaitu tanah/lahan yang selalu tergenang air . kode tanah. 3) Masukkan sekitar 1-2 kg contoh tanah kering dalam plastik yang beretiket Kode tempat. Mengadakan penilaian data dan karakteristik tanah dan lahan untuk membuat satuan lahan.I. MANDAILING NATAL DAN KAB. nomor perlapisan dan ciri-ciri istimewa lainnya. Tipe penggunaan lahan adalah tanaman semusim misalnya padi sawah yang ditanam 2 kali setahun dan tanaman palawija lainnya. 2) Contoh tanah diambil pada ketebalan 30 cm dan 60 cm lalu diletakkan tersusun menurut kedalaman aslinya. Mencari/menentukan persyaratan-persyaratan yang diperlukan misalnya iklim. b) Analisa Kesesuaian lahan Pengertian kesesuaian lahan adalah suatu kondisi lahan yang mampu / dapat memberikan atau menampung pertumbuhan tanaman ( padi.34 . PASAMAN BARAT Adapun kegiatan yang dilakukan dalam survey kesuburan tanah meliputi: a) Pengambilan Contoh Tanah (Terganggu) Prosedure pengambilan contoh tanah adalah sebagai berikut : 1) Tentukan lokasi yang akan diambil contoh tanahnya. 4. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. dll. Berdasakan pengertian tersebut berarti kita harus mengetahui persyaratan pertumbuhan tanaman maupun faktor – faktor penghambat pertumbuhan tanaman. lahan yang dapat air dan lahan kering . kemungkinan juga ada yang lebih cocok untuk tanaman lain. 2. tanah. Mencocokkan persyaratan-persyaratan yang diperlukan oleh tipe penggunaan lahan (misal padi) dengan data dari satuan lahan. Dari pemahaman diatas dengan melakukan evaluasi/analisa kesesuaian lahan tidak seluruh area studi cocok untuk satu jenis tanaman saja. Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.

namun memerlukan masukan teknologi dan lainnya pada tingkat tertentu. Pemilihan faktor pembatas dan interpretasinya merupakan hal yang cukup sulit. lahan tidak mempunyai kendala terhadap tipe penggunaan lahan tertentu yang direkomendasikan  S2 : Cukup sesuai.35 . faktor pembatas yang ada saat ini dapat diatasi. Tabel 3.11.  N2 : tidak sesuai permanen. Simbol Keterangan Pembatas 1. Kesesuaian lahan dalam kelas selanjutnya dapat dibagi lagi ke dalam sub-kelas kesesuaian berdasarkan sifat faktor pembatas utama dalam kelas tersebut. Dalam evaluasi ini. e Bahaya Erosi Bab 3.  Tingkat ordo S yang menunjukkan tingkat kesesuaian lahan untuk pertumbuhan tanaman yang dibagi menjadi 3 (tiga). Lahan mempunyai faktor pembatas yang permanen dan tidak mungkin diatasi saat ini maupun yang akan datang. Tingkat ordo N dibagi :  N1 : tidak sesuai saat ini. Dalam penilaian kesesuaian lahan (FAO) untuk penggunaan atau persyaratan tumbuh tanaman dibagi menjadi beberapa tingkat.  S3 : Sesuai marginal.I. Membuat saran pengelolaan untuk satuan-satuan yang dinilai dalam rangka menaikkan tingkat kelas satuan lokasi. Membuat dan menentukan kelas dan sub kelas dari satuan lahan yang diniali berdasarkan faktor pembatas pokok. berikut ini. MANDAILING NATAL DAN KAB. lahan ada sedikit kendala karena adanya sedikit faktor pembatas sehingga kurang menguntungkan bagi tipe penggunaan lahan tertentu secara berkelanjutan. d Kedalaman efektif tanah 3. Faktor Pembatas Kesesuaian Lahan No. PASAMAN BARAT 5. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. lahan mempunyai pembatas berat sehingga akan merugikan bagi tipe penggunaan lahan tertentu secara berkelanjutan. c Pembatas iklim 2. karena informasi tentang persyaratan tumbuh suatu tanaman sering hanya bersifat kualitatif. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.9. yaitu:  S1 : Sangat sesuai. 6. BATANG BATAHAN KAB.  Tingkat ordo N (tidak sesuai) lokasi tidak memenuhi persyaratan kriteria untuk penggunaan tertentu. pemilihan dan pengelompokan faktor pembatas didasarkan pada: Kriteria faktor pembatas untuk evaluasi kesesuain lahan yang dikemukakan oleh PPT Bogor (1983) seperti pada tabel 4.

guna pengembangan penelitian lebih lanjut tentang penyesuaian varietas (jenis) dan teknik perlakuan pemupukan. MANDAILING NATAL DAN KAB. Simbol Keterangan Pembatas 4. s Tekstur yang berpengaruh pada infiltrasi 8. PASAMAN BARAT No. Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. b Singkapan batuan di permukaan Sumber : PPT Bogor Tahun 1983  Tipe Penggunaan (Land Utilization Type-LUT) Pada studi ini digunakan tipe penggunaan lahan dalam evaluasi lahan diantaranya :  Padi sawah beririgasi (2 sampai dengan 3 kali setahun)  Sistem pertanian pangan lahan kering (palawija)  Sistem pertanaman tanaman perkebunan  Sistem pertanaman sayur mayuran  Masukan Dalam upaya mengatasi/memperbaiki kendala utama suatu lahan untuk peningkartan penggunaannya bagi masa berikutnya dibagi menjadi :  Li: masukan rendah. t Kendala Lereng 7. l Tinggi tempat di atas muka air laut 11. f Banjir dan genangan musiman 5. x Salinitas dan asam sulfat 10. hal ini perlu biaya besar. hal ini seperti dilakukan oleh masyarakat tani sendiri  Mi : masukan sedang  Hi : masukan tinggi. w Lahan Tergenang permanen 9. BATANG BATAHAN KAB. n Unsur hara atau kesuburan tanah 6.I.36 . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.

7. MANDAILING NATAL DAN KAB.8. PASAMAN BARAT Tabel 3.0 3.5 .8.5 .5 Salinitas X < 1.5 Cm/ Lambat sampai P Lambat sampai sedang< Lambat sampai jam agak lapisan bawah 5 Cm/jam sedang < 5 Cm/jam cepat 15 < 5 Cm/jam sedang < 5 Cm/jam Cm/jam baik sampai Kesuburan tanah lapisan atas N baik sampai sedang baik sampai agak kurang baik sampai kurang kurang Reaksi tanah lapisan atas A 5 .8. liat lempung erpasir.5 < 4. liat berpasir. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III .liat berdebu lempung berpasir pasir berlempung liat lempung.37 .I.0 Kemiringan (%) T < 1% < 2% < 3% < 5% Bab 3. Kriteria penilaian Lahan untuk Tanaman Padi Sawah Karakterikstik Tanah /Lahan Simbol S1 S2 S3 N1 N2 *) Kedalaman efektif K >75 Cm >50 Cm > 25 Cm > 10 Cm S liat.10.5 < 2.5 4.0 . liat sampai liat Tektur topsoil sampai liat liat lempung berdebu lempung berdebu. liat.0 < 4. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. liat berlempung Permeabilitas Lambat < 0.5 < 2.liat berdebu. BATANG BATAHAN KAB.

BATANG BATAHAN KAB. sedikit rata.I. sedikit peralatan diperlukan Peralatan Penghambat pertum w tidak ada kadang-kadang ada penghambat penghambat penghambat selama sedikit pengambat sedang dalam sedang sampai buhan karena kekurangan air masa pertumbuhan periode < 4 tahun kuat dalam periode< 6 tahun Klas drainase D baik sampai agak terhambat agak terhambat agak terhambat sangat sampai terhambat sampai terhambat sampai terhambat terhambat Bab 3. MANDAILING NATAL DAN KAB. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. PASAMAN BARAT Karakterikstik Tanah /Lahan Simbol S1 S2 S3 N1 N2 Relief mikro N 80% dari wilayah 80% dari wilayah agak 50% dari wilayah 40% dari agak rata. sedikit diperlukan agak rata. sedikit wilayah agak diperlukan peralatan peralatan diperlukan rata. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.38 .

kadang-kadang.I.39 . BATANG BATAHAN KAB.Air untuk irigasi mencukupi Lahan belum diteras Bab 3. kerusakan hebat kali dalam 10 tahun < 4 kali dalam 10 6 kali dalam 10 tahun tahun Keterangan : *) Kriteria N2 adalah yang tidak memenuhi syarat N1 Asumsi : . PASAMAN BARAT Karakterikstik Tanah /Lahan Simbol S1 S2 S3 N1 N2 Kerusakan banjir F Jarang < 1 kali dalam kadang-kadang. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. MANDAILING NATAL DAN KAB. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. < 3 kerusakan sedang. sering terjadi 10 tahun kerusakan sedang.

01-5.00 N(%) <0.0 (me/100g) Bab 3.40 . Hasil analisis tersebut memberikan gambaran bahwa tanah di lokasi rencana lahan sawah DI. Batang Batahan rata-rata adalah berliat (halus sampai dengan sangat halus). Batang Batahan diambil untuk lahan yang mewakili untuk lahan yang direncanakan akan dilakukan pencetakan sawah. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III .00 1.11.25 > 25 Total P tersedia (ppm) <5 5-10 11-15 16-20 >20 K dapat ditukar < 0. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.I.75 C/N rasio <5 5 .1-0. Karakteristik Kesuburan Lahan Kriteria penilaian lahan berdasarkan sifat kimia tanah dapat mengacu pada penilaian lahan yang dikeluarkan Lembaga Penelitian Tanah (LPT) seperti terlihat pada Tabel 4.00 3. BATANG BATAHAN KAB. Kondisi tekstur ini sangat sesuai untuk lahan budidaya tanaman padi sawah.10-0. PASAMAN BARAT 4.1 0.75 >0.15 16 . Batang Batahan diperoleh dari hasil pengamatan lapangan dan hasil analisis tekstur tanah yang di lakukan di Laboratorium. 3 .2.4-0.10 11.00 >5. Pengambilan Sampel Tanah Pengambilan sampel tanah akan menunjukan karakter wilayah yang akan dianalisis.4.01-3. Hasil Karakteristik Fisik Penilaian karakteristik fisik sumberdaya lahan wilayah yang direncanakan menjadi areal lahan budi daya sawah DI. Penilaian kesuburan lahan Berdasarkan sifat kimia tanah Kategori Kandungan/sifat Sangat Sangat tanah Rendah (R) Sedang (S) Tinggi (T) rendah (Sr) Tinggi (ST) C(%) < 1.20-0.5 0.2. MANDAILING NATAL DAN KAB.00-2.00 2.13 Tabel 3.51-0.3 0.50 0. dalam pengambilan sampel tanah untuk keperluan analisis kesesuaian lahan di Daerah Irigasi DI. 2.0 >1. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan kedalaman sampai dengan 60 cm yang mewakili lahan budidaya sawah di lokasi setempat.10 0.20 0.6-1. ANALISA HASIL LABORATORIUM 1.

20 21 .35 36 .1-2.70 >70 KTK(me/100g) <5 5-10 11-15 15-20 >20 Derajad Keasaman Sangat Masam Agak Netral(N) Agak Alkalis (A) masam (sm) (m) Masam Alkalis pH (H2O) (Am) (Aa) Kriteria <4.30 31 . Jakarta. BATANG BATAHAN KAB.2. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. 1995. Evaluasi kesesuaian lahan pada hakekatnya berhubungan dengan evaluasi untuk suatu penggunaan tertentu. Tahapan pertama adalah menilai persyaratan tumbuh tanaman yang akan dibudidayakan atau mengetahui sifat-sifat tanah dan lokasi yang pengaruhnya negatip terhadap tanaman. 4. MANDAILING NATAL DAN KAB. 126.1-5.0 (me/100g) Al (almunium Me/100 < 10 10 .0 >5.5 >8. jagung. seperti untuk budidaya padi sawah. Penerbit Akademika Pressindo. Bab 3.5=8. S.5 4. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Evaluasi Kesesuaian Lahan .3 0. kedelai dan sebagainya.5-7. padi ladang. PASAMAN BARAT Kategori Kandungan/sifat Sangat Sangat tanah Rendah (R) Sedang (S) Tinggi (T) rendah (Sr) Tinggi (ST) Ca dapat ditukar <2 2-5 8-10 11-20 >20 (me/100g) Mg dapat ditukar <0.0 1.0 2.3-1.5-5. Tersedianya peta-peta tanah membuat kedua tahapan tersebut lebih mudah untuk dilaksanakan. Umum Kesesuaian lahan adalah penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu.2.I.6-6.5 7. Ilmu Tanah.5 Sumber : Hardjowigeno. Edisi Revisi. Tahapan kedua adalah mengidentifikasi dan membatasi lahan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tetapi tanpa sifat lain yang tidak diinginkan.41 . Di dalam memilih lahan yang sesuai untuk tanaman tertentu dikenal ada dua tahapan untuk mendapatkan lahan yang sesuai. Kelas kesesuaian lahan suatu areal dapat berbeda tergantung dari tipe penggunaan lahan.5.60 >60 Kejenuhan Basa (%) < 20 20 .5 6. Evaluasi lahan berdasarkan tingkat derajat keasaman dan ketersediaan hara di DI. Batang Batahan yang direncanakan dijadikan lahan sawah diperoleh berdasarkan hasil uji laboratorium di Laboratorium. Hal.50 51 .5 5.

KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III.14 Bab 3. Persyaratan sifat-sifat tanah yang diperlukan oleh tanaman 2.42 . BATANG BATAHAN KAB. PASAMAN BARAT Dalam kaitannya dengan evaluasi kesesuaian lahan dapat digunakan dua acuan yakni: 1. MANDAILING NATAL DAN KAB.I. Kriteria utama yang digunakan dalam menilai kesesuaian lahan untuk berbagai tanaman Kriteria utama yang sering digunakan dalam menilai keseuaian lahan untuk berbagai tanaman menurut Prots (1977) dapat dilihat pada Tabel 4.

LAPORAN PENDAHULUAN “Studi Pengembangan DI Batang Batahan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Pasaman Barat” Tabel 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III . Keke. Tekstur Keadaan Salinitas Berliat baik Masam nangan ringan Berliat masam 1 Padi T S R R R T R T T R/S 2 Jagung R/S R S R R R S/T R R R/S 3 Ubi kayu S S S S R S* S T* S S 4 Karet T T R R S T R T S R 5 Kopi S R T S R R S R R R 6 Kakao S S T S R R S R R R 7 Teh T R T R T S R R T R 8 Tembakau S R T S R R S R R S 9 Jeruk S S T T R R S S S R/S* 10 Kentang S/T R T R T S/T R R T R 11 Kacang S S S* S* R R/S* R S R R Ketr: R: Rendah. T : Tinggi Bab 4.44 . Persayaratan Sifat-sifat Tanah yang Diperlukan Berbagai Tanaman No Jenis Kebutuhan Akan Toleransi Terhadap tanaman Air Tekstur Struktur Kalsium Keberadaan Pengge.12. S : Sedang.

LAPORAN PENDAHULUAN “Studi Pengembangan DI Batang Batahan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Pasaman Barat” * : tergantung varietas Bab 4. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III .45 .

permebilitas dan batu) n : kesuburan tanah f : bahaya banjir atau genangan . lereng < 3% dengan 80% dari wilayah datar . pH tanah lapisan tanah berkisar : 5. kelas besar butir. Zona Agroklimat B. tanpa ada atau sedikit batu dipermukaan lahan (< 5%) . kejenuhan AL < 80% . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.46 .5 – 7. termasuk satu atau lebih dari sifat-sifat berikut : . kedalaman efektif lebih dari 75 cm .I. atau lebih basah . Tanpa adanya banjir/genangan Bab 3. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Faktor yang biasa menjadi pembatas dalam sub kelas padi sawah adalah: s : Pembatas sifat fisik tanah pada daerah perakaran (kedalaman efektif. lama dan tinggi genangan serta pengaruh pada tingkat kerusakannya harus diperhatikan t : pembatas topografi yang disebabkan oleh tingginya persentase lereng serta adanya mikro relief yang nyata membatasi terhadap pertumbuhan tanaman s : salinitas yang disebabkan oleh kadar garam yang tinggi Adapun pembagian Kelas kesesuian lahan untuk padi sawah sebagai berikut 1) Kelas S 1 : Lahan sangat sesuai untuk padi sawah Pada umumnya lahan ini mempunyai pembatas yang tidak berat. permeabelitas lambat . kesuburan tanah tinggi . kelas butir berlempung halus atau lebih halus . kedalaman pirit > 100 cm . Drainase terhambat . BATANG BATAHAN KAB. PASAMAN BARAT B Klasifikasi Lahan untuk Tanaman Padi Sawah Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah dapat dirinci menjadi satu atau lebih sub-kelas tergantung dari jenis pembatasnya. tinggi dari muka air laut < 500 m . MANDAILING NATAL DAN KAB.5 .

5 – 7.500 mmhos/cm . permeabelitas sedang atau sangatlambat .5 atau 7. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. pH tanah lapisan tanah berkisar : 4. Untuk tanah gambut harus dari bahan saprik dengan ketebalan < 30 cm 3 )Kelas S 3 : Lahan Sesuai Marginal untuk Padi Sawah Pada umumnya lahan ini mempunyai pembatas satu atau lebih dari sifat-sifat berikut : . Keracunan yang disebabkan oleh adanya pirit pada kedalaman 75 – 100 cm . Untuk tanah gambut harus dari bahan saprik dengan ketebalan < 50 cm 2) Kelas S 2 : Lahan Sesuai untuk Padi Sawah Pada umumnya lahan ini mempunyai pembatas yang tidak berat.5 .0 . kesuburan tanah rendah . pH tanah lapisan tanah berkisar : 4. lereng 3 . kelas butir berdebu kasar . Salinitas 1. Salinitas < 1.1000 m . Berbatu dipermukaan lahan 25 – 50 %) .80% dari wilayah datar . MANDAILING NATAL DAN KAB.75 cm . Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. BATANG BATAHAN KAB. kedalaman efektif berkisar 60 .47 .I. kelas butir berlempung halus sampai berdebu agak kasar .50 cm . Keracunan yang disebabkan oleh adanya pirit pada kedalaman 50 – 75 cm Bab 3. kesuburan tanah sedang . PASAMAN BARAT . tinggi dari muka air laut 750 . permeabelitas lambat .500 – 2. Berbatu dipermukaan lahan 5 – 25 %) .4.0 . termasuk satu atau lebih dari sifat-sifat berikut : .5% antara 60 .5 – 8. Drainase agak terhambat . Zona Agroklimat B 2 . Adanya banjir 2 bulan tanpa ada genangan tetap .000mmhos/cm . kedalaman efektif berkisar 25 .

Keracunan yang disebabkan oleh: 1. MANDAILING NATAL DAN KAB.80% dari wilayah datar . Adanya genangan tetap . Untuk tanah gambut harus dari bahan fibrik dengan ketebalan 30-150 cm dan ketebalan gambut 100 – 150 cm 5) Kelas N 2 : Lahan Tidak Sesuai Permanen untuk Padi Sawah Bab 3. agak cepat atau baik . tinggi dari muka air laut 750 . Drainase sangat terhambat . permeabelitas cepat atau agak cepat . atau C3 .5% antara 50 . BATANG BATAHAN KAB.48 .5 . KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.000-2. lereng 3 .Zona Agroklimat C 4 .000 mmhas/cm . pH tanah lapisan tanah berkisar : 3.1000 m .4. kelas butir berpasir atau berlembung besar .500-4.D 1 .0 – 8. C2. Untuk tanah gambut harus dari bahan saprik dengan ketebalan 75-100 cm 4) Kelas N 1 : Lahan Tidak Sesuai Saat Ini untuk Padi Sawah Pada umumnya lahan ini mempunyai pembatas satu atau lebih dari sifat-sifat berikut : . adanya pirit pada kedalaman 25 – 50 cm . Adanya banjir 2 -7 bulan tanpa ada genangan tetap .50% dari wilayah datar .8% antara 40 .5 . Berbatu dipermukaan lahan 50 – 75 % . kejenuhan Alumunium 80-100% 2. Salinitas 2.500 mmhas/cm .25 cm . kedalaman efektif berkisar 10 . PASAMAN BARAT . kesuburan tanah sangat rendah . atau D 3 . lereng 5 .0 atau 8. Salinitas 2. Zona Agroklimat C1. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Drainase cepat.I.

49 . PASAMAN BARAT Lahan pada kelas ini mempunyai banyak pembatas yang sulit diatasi. Kedalaman efektif sangat dangkal . Kategori Rekomendasi Dosis Pemupukan Untuk Budidaya Tanaman Padi sawah Jenis Pupuk No Kategori Dosis Pemupukan N (kg/ha) P 2 O 5 (kg/ha) K 2 O (kg/ha) 1 Tinggi 135 67. sehingga membuatnya tidak sesuai untuk tanaman padi sawah.I. Permeabilitas sangat cepat .5 45 15 Sumber : Sarief Saifudin( 1984) Bab 3. Sedangkan untuk Lahan Kering – Basah dan lahan basah adalah S3-nf yakni lahan di daerah tersebut sesuai untuk budidaya padi sawah dengan faktor pembatas pada unsur hara atau kesuburan dan banjir. Faktor pembatasnya termasuk: . Banjir/genangan sangat membahayakan Dari hasil evaluasi lahan di daerah rencana lahan budidaya sawah DI Lambunu. Salinitas dan kejenuhan Al sangat tinggi . maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata kelas keseuaiannya adalah S2-n untuk lahan kering yakni lahan di daerah tersebut sesuai untuk budidaya padi sawah dengan faktor pembatas pada unsur hara atau kesuburan.9 Tabel 3. Kategori Dosis Pemupukan Untuk Budidaya Padi sawah Dosis pemupukan untuk kekurangan unsur hara NPK dengan berbagai tingkat ketersediaan unsur hara tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D. Lereng terjal dan keadaan topografi yang tidak memungkinkan menahan atau mengumpulkan air . MANDAILING NATAL DAN KAB. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Kelas butir berpasir kuarsa .13. C. Batang Batahan untuk aktifitas budidaya padi sawah yang baik di lokasi studi sebagian besar memerlukan dosis pemupukan tinggi disertai pengelolaan pengendalian banjir/genangan yang baik. Secara detail pembagian kesesuian lahan di lokasi DI. BATANG BATAHAN KAB.5 60 2 Sedang 90 60 30 3 Rendah 67.

dan pupuk K 2 O: 60 kg. PASAMAN BARAT Dengan melihat tingkat kesuburan lahan rencana budidaya padi sawah DI Lambunu pada kisaran rendah.5 kg. MANDAILING NATAL DAN KAB.7.I. Pendekatan Teknis dan Metodelogi III. Gambar 3. Pengambilan Sampel Tanah Pertanian Bab 3. BATANG BATAHAN KAB.50 . agar budidaya padi sawah dapat optimal diperlukan pemupukan dengan dosis tinggi yakni untuk 1 ha sawah memerlukan pupuk N sebesar 135 kg. pupuk P 2 O 5 :67. KSO DRAFT PENDAHULUAN DED PENINGKATAN D.