You are on page 1of 8

ISSN 2406-8012

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBEJARAN BONEKA KAUS KAKI UNTUK
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA
SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR

Erwin Putera Permana
PGSD FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri
erwinp@unpkediri.ac.id

Abstract

The purpose of this study are: (1) to produce instructional media sock puppets which are practical,
attractive, effective and ef¿cient in improving speaking skills of elementary school students, (2)
to determine the steps of making media sock puppets to improve speaking skills elementary school
students, and (3) to test the feasibility of instructional media products which include practicality, the
attractiveness, effectiveness and ef¿ciency of the product. This study uses a model of the development of a
modi¿ed Borg & Gall. The steps of this research, namely (1) Preliminary Study, (2) Planning, (3) Design
Products, (4) Product Validation, (5) Trial Product, and (6) End Product. The practical implications of
this research is to develop the basic capabilities of cognitive, affective and psychomotor learning fun
through the media. The use of storytelling with a sock puppet media proved to meet these objectives.

Keywords: Media Education, Doll Socks, Speaking Skills

PENDAHULUAN dan mengekspresikan pemikirannya dengan
Pendidikan adalah usaha sadar dan menggunakan kata dan kalimat yang tepat.
terencana untuk mewujudkan suasana belajar Pengembangan keterampilan berbicara pada
dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif siswa sekolah dasar lebih menekankan pada
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki pemilihan kata (diksi), keruntutan kata, intonasi
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian membaca kalimat dan ekspresi.
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, Keterampilan berbicara memiliki peranan
serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, penting dalam upaya melahirkan generasi
masyarakat, bangsa dan negara (Sagala, 2010: 3). masa depan yang cerdas, kreatif, kritis dan
Berdasarkan hal tersebut maka pendidikan harus berbudaya. Dengan menguasai keterampilan
berkualitas, artinya dalam pembelajaran seorang berbicara, siswa mampu mengekspresikan
siswa harus mengalami proses pembelajaran pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai
secara efektif yang bermakna serta menunjukkan materi dan situasi pada saat dia sedang berbicara.
adanya tingkat penguasaan terhadap tugas- Keterampilan berbicara juga mampu membentuk
tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan generasi masa depan yang kreatif sehingga
pendidikan. mampu berbicara yang komunikatif, jelas,
Perwujudan pembelajaran yang bermakna runtut, mudah dipahami. Selain itu, keterampilan
salah satunya ditinjau dari keterampilan siswa berbicara juga mampu melahirkan generasi
dalam berbicara. Keterampilan berbicara masa depan yang kritis karena mereka memiliki
merupakan salah satu aspek yang harus kemampuan untuk mengekspresikan gagasan,
dikembangkan dalam pendidikan sekolah pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara
dasar, siswa dilatih agar mampu menggunakan runtut dan sistematis.

133 Profesi Pendidikan Dasar Vol. 2, No. 2, Desember 2015 : 133 - 140

gaduh. Sehingga melalui masalah yang dilakukan yaitu dengan media pembelajaran boneka kaus kaki inilah mengembangkan media pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran yaitu disesuaikan dengan karakteristik siswa. di antaranya kelancaran siswa berpikir masih terbatas pada hal yang berbicara. Alternatif pemecahan nyata melalui model tiruan. Karena pada tahap ini kemampuan siswa dalam berbicara. intonasi membaca kalimat dan ekspresi. Pengembangan Media Pembelajaran . Penggunaan media penting dalam proses belajar. Edgar Dale (dalam Sanjaya 2006: diperlukan individu untuk mengelola pikiran 165) dikenal dengan cone of experience (kerucut mereka. Proses mengamati bicara adalah alat budaya. media pembelajaran yang dapat dipih oleh dan berbicara dengan teman sebangkunya. atau dengan kata lain sendiri apa yang dipelajari. siswa sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar merasa gugup saat menyampaikan pendapat.. Menurutnya kita melambangkan dan pengalaman) yang memberikan gambaran menggambarkan dunia kita melalui bicara. Ia berpandangan dalam pembelajaran dapat mempermudah siswa perkembangan bicara berhubungan langsung dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi dengan perkembangan kognitif.. Salah satunya berhubungan dengan keterampilan berbahasa yaitu penggunaan media pembelajaran dalam yang lain. hal yang bersifat abstrak. Alasan peneliti memilih dikuasai siswa. Semakin dilakukan di sekolah dasar se-Kecamatan kongkrit siswa mempelajari bahan pengajaran. digunakan dapat mewakili benda-benda yang perlu dilakukan upaya untuk menyelesaikan bagi siswa sulit dijangkau menjadi sesuatu yang permasalahan tersebut. Indikator disampaikan oleh guru diterima atau dimengerti yang digunakan untuk mengukur keterampilan oleh siswa. Terdapat beberapa teori yang mendukung dalam Berbicara sebagai keterampilan berbahasa mengatasi permasalahan tersebut. Kemampuan berbicara berkembang meningkatkan keterampilan berbicara. (Erwin Putera Permana) 134 . ISSN 2406-8012 Keterampilan berbicara juga mampu dilakukan jenis media ajar yang sesuai dengan melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karakteristik siswa dan dapat digunakan sesuai karena sudah terbiasa dan terlatih untuk dengan kebutuhan adalah media pembelajaran berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan boneka kaus kaki memalui metode bercerita. Jadi. saja kurang dari harapan di mana pembelajaran siswa memerlukan perantara yaitu media untuk dikatakan berhasil dan tuntas apabila 70% memudahkan memahami pesan atau materi yang dari siswa telah mencapai KKM. Boneka kaus kaki yang Mencermati berbagai permasalahan di atas. Gandusari secara acak. Bicara lebih konkret. 2007). ketepatan pilihan kata (diksi). struktur bersifat nyata atau konkret dan belum memahami kalimat. seorang guru sesuai dengan tujuan pembelajaran Pembelajaran aspek berbicara belum sepenuhnya dan karakteristik siswa. dan merasa malu. kelas II. Menurut Vygotsky dapat membantu siswa dalam memberikan (dalam Aisyah. Hal ini berakibat siswa kurang media boneka kaus kaki dan adalah media ini percaya diri saat tampil di depan kelas. ditemukan bahwa saat maka semakin kompleks siswa memperoleh terjadi proses pembelajaran bahasa Indonesia pengalaman. mampu meningkatkan keterampilan berbicara Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah siswa secara optimal. pada kehidupan siswa apabila didahului dengan Penggunaan media dalam pembelajaran keterampilan menyimak. Beberapa sikap yang adalah salah satu media dari sekian banyak ditunjukkan adalah sikap acuh tak acuh. materi dan situasi tutur pada saat berbicara. Hal ini tentu konkrit tentang teori kognitif Jean Piaget. bicara adalah sentral yang pengalaman yang bermakna. tampak 60 % siswa tidak tertarik dengan metode Media pembelajaran boneka kaus kaki bercerita yang guru berikan. dimana siswa dalam tahapan operasional takut salah. dan mendengarkan melalui media tertentu dan Berdasarkan hasil pengamatan yang proses mendengarkan melalui bahasa. bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa sehingga bicara adalah sistem simbolik dengan dapat melalui proses perbuatan atau mengalami apa kita berkomunikasi.

2. kata. Sedangkan pembelajaran adalah upaya ujaran sendiri yang belum benar dan ujaran membelajarkan pebelajar. dan wacana. Adapun tujuan berbicara menurut produktif.ISSN 2406-8012 Berbicara adalah salah satu jenis kelancaran berbicara. Ellis (dalam Ro¿’uddin. Media pembelajaran kepada siswa untuk menyampaikan pendapat ini dikemas lebih menarik. untuk mengembangkan secara vertikal dalam Dari beberapa pendapat ahli di atas. Sedangkan. Akhadiah (1991:153) menyatakan Tarigan (1991: 134-135) adalah (1) menghibur. Blacks (dalam strukturnya semakin benar. dan ketrampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat ketangkasan. ditemukan di sekitar siswa. Media boneka yang menciptakan berbagai lapangan pengalaman dapat dipergunakan guru pada teknik ini yaitu yang memungkinkan siswa mengembangkan boneka kaus kaki. 2009: 65). sehingga gagasan itu sampai dilatih semakin sempurna dalam artian kepada penerima. keruntutan berbicara. Tujuan keterampilan berbicara di sekolah Penggunaan media pembelajaran boneka dasar yaitu untuk melatih siswa agar terampil kaus kaki ditampilkan dalam bercerita dan dapat dalam berbicara. bahwa proses penyampaian secara lisan disebut (2) menginformasikan. 2005: 17) berpendapat bahwa media semakin tepat. kalimatnya semakin bervariasi. 2.140 . adalah saluran komunikasi atau medium yang Dengan kata lain perkembangan tersebut tidak digunakan untuk membawa atau menyampaikan secara horizontal mulai dari fonem. berlaku sebagai pengirim pesan sedangkan Sedangkan media pembelajaran berasal penerima adalah penerima pesan. fase. di mana medium itu merupakan kalimat. dan (3) mendekatkan atau untuk diteruskan kepada sasaran atau penerima menyejajarkan dua bentuk ujaran. Membelajarkan yaitu orang dewasa (terutama guru) yang sudah benar. Desember 2015 : 133 . 2005: 16) menyatakan bahwa media secara lengkap meskipun belum sempurna. Dalam Keterampilan berbicara lebih mudah pembelajaran terjadi komunikasi antara siswa dikembangkan apabila siswa memperoleh dengan guru sehingga pembelajaran ini adalah kesempatan untuk mengkomunikasikan sebagai proses komunikasi antar manusia. suatu pesan. Dalam materi komunikasi pembicara menyakinkan. Siswa dapat mengungkapkan pesan Setyosari. dan (5) menggerakkan. (2) mengembangkan bentuk-bentuk ujaran berfungsi menyampaikan pesan dari sumber yang telah dikuasai. Selain itu. Hamidjojo (dalam horizontal. (3) menstimulus. menggunakan tercapai dengan baik maka ada beberapa aspek media boneka kaus kaki dalam bercerita akan yang perlu diperhatikan. Kegiatan dari dua istilah yaitu media dan pembelajaran. upaya untuk membuat seseorang belajar. Keterampilan berbicara siswa menyampaikan pesan yang mendidik dan hiburan dapat dilatih dengan cara memberi kesempatan yang menarik bagi siswa. ialah semua bentuk perantara yang dipakai Semakin lama keterampilan berbicara orang penyebar ide. yaitu bentuk pesan. Penggunakan media boneka juga tidak kalah Selama proses pembelajaran di sekolah guru menariknya bagi siswa. jalan atau alat berisi pesan berjalan antara 1999:12) mengemukakan adanya tiga cara komunikator dan komunikan. (4) berbicara. diantaranya aspek melibatkan pancaindra secara bersamaan 135 Profesi Pendidikan Dasar Vol. Dalam proses belajar yang berarti perantara atau pengantar pesan berbahasa di sekolah siswa mengembangkan dari pengirim pesan kepada penerima pesan kemampuan secara vertikal tidak secara (Fathurrohman. berbicara dilakukan untuk mengadakan hubungan Kata “media” berasal dari bahasa latin medium sosial dan berkomunikasi. meningkatkan keterampilan berbicara yaitu (1) maka dapat disimpulkan bahwa media adalah menirukan pembicaraan orang lain (khususnya sebagai suatu alat. sesuatu secara alami kepada orang lain. Agar tujuan berbicara dapat menyenangkan. sarana atau perangkat yang guru). pilihan katanya Setyosari. No. komunikatif dan secara lisan. Kegiatan untuk melatih kaus kaki merupakan media sederhana yang keterampilan berbicara itu antara lain menyajikan dapat dibuat sendiri dengan bahan yang mudah informasi dan berpartisipasi dalam diskusi. Media pembelajaran boneka keterampilan berbicara.

Dengan mengadaptasi pengembangan Borg and Gall. (6) uji lapangan utama. (9) penyempurnaan dengan nilai-nilai yang ingin disampaikan produk akhir. Adapun modi¿kasi model masukan dari uji awal. (5) revisi produk berdasarkan kualitas produk. (3) perancangan produk awal. pengembangan Borg and Gall yang dimaksud (7) penyempurnaan produk hasil uji lapangan.. adalah seperti pada Gambar 1 berikut ini: Gambar 1 Model Pengembangan Modifikasi Borg & Gall (Borg & Gall. 1987: 775) Pengamatan kelas pada sekolah-sekolah untuk mengembangkan alternatif pemecahan secara acak dilakukan untuk mengetahui kegiatan masalah yang akan dibuat. Kegiatan selanjutnya dalam tahap yang dapat digunakan menjadi landasan pijak perencanaan adalah pengembangan instrumen Pengembangan Media Pembelajaran . (10) diseminasi dan implementasi mudah untuk diterima (Sandra. pembelajaran yang dilakukan di kelas khususnya Pada analisis struktur isi. (Erwin Putera Permana) 136 . (Borg & Gall. ISSN 2406-8012 sehingga pembelajaran akan lebih bermakna (8) uji pelaksanaan lapangan. Kegiatan yang dilakukan adalah menganalisis menganalisis karakteristik dan kebutuhan siswa standar kompetensi. Kegiatan pengkajian pustaka dan sebagai acuan dalam menyusun materi media penganalisisan jurnal penelitian terdahulu yang pembelajaran boneka kaus kaki dengan metode relevan dilakukan untuk memperoleh teori-teori bercerita. Langkah- pendapat Borg & Gall di atas. (4) lebih sederhana dengan tanpa mengurangi uji awal produk. Indikator dan tujuan pembelajaran mengetahui karakteristik siswa kelas II dalam yang telah dikembangkan akan digunakan bercerita. kegiatan keterampilan berbicara (bercerita).. langkah- langkah model pengembangan Borg & Gall adalah (1) penelitian dan pengumpulan data. Tahapan-tahapan Borg & Gall di atas tampak METODE PENELITIAN sangat panjang dan cermat untuk menjamin Penelitian ini menggunakan model hasil dan kualitasnya. kompetensi dasar dan dilakukan untuk mengetahui permasalahan mengembangkan indikator serta tujuan yang dihadapi oleh guru dan siswa serta untuk pembelajaran. (2) langkah pengembangan dapat dibuat mejadi perencanaan. 2012: 8). 1983:775).

keefektifan. Hasil dari merevisi produk yang dikembangkan. pengumpulan data. kepraktisan. dan 5) teknik analisis data. Data yang dikumpulkan produk dilakukan pada para ahli. 137 Profesi Pendidikan Dasar Vol. Story board pada penelitian ini yaitu uji coba pada 1 sekolah merupakan susunan alur dari media pembelajaran dasar yang dipilih secara acak. Kegiatan uji coba dalam penelitian instrumen yang digunakan.ISSN 2406-8012 kelayakan produk. pengembangan ini dilakukan melalui tiga tahap dan responden dalam pengembangan media yaitu validasi ahli. Para ahli yang dalam penelitian ini digunakan untuk menguji dimaksud adalah ahli materi dan ahli desain media pembelajaran. Tabel 1 disajikan jabaran aspek yang dinilai. 4) instrumen kaki. kemenarikan. 2. data yang diamati. Sedangkan data dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan kualitatif diperoleh dari saran dan perbaikan pembelajaran yang telah ditetapkan. Produk instrumen ini akan dijadikan sebagai pedoman yang telah direvisi kemudian diujicobakan pada untuk perbaikan produk media pembelajaran. pedoman penggunaan media pembelajaran Uji coba skala terbatas yang dilakukan yaitu boneka kaus kaki yang dibuat untuk guru. Desember 2015 : 133 . guru dan siswa kelas II. dan uji coba terbatas. yang telah dikembangkan dapat digunakan untuk Produk hasil pengembangan ini adalah uji coba sasaran. uji coba kelompok kecil dan pembelajaran boneka kaus kaki yang diterapkan uji coba terbatas pada guru dan siswa. Uji Instrumen dalam penelitian ini digunakan coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan untuk mengukur keseluruhan aspek yang data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk berkaitan dengan kepraktisan. Uji coba menggunakan kegiatan bercerita. keefektifan. Uji coba kelompok yang akan dikembangkan yang berisi desain kecil dilakukan untuk mengetahui apakah produk boneka kaus kaki dan teks yang akan digunakan. 3) jenis data. No. ahli desain media dari uji coba ahli digunakan sebagai acuan untuk pembelajaran. Hasil diberikan pada ahli media. keterterapan media pembelajaran boneka kaus 2) subjek uji coba. kelompok kecil. kemenarikan. Pada kegiatan ini dilakukan ahli yang dimaksud adalah uji coba kepada ahli penyusunan instrumen penilaian yang akan materi dan ahli desain media pembelajaran.140 . Validasi dari subjek coba. 2. Data pembelajaran yang dikembangkan layak kuantitatif diperoleh dari angket dan tes yang untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran diberikan kepada subjek coba. Kegiatan terakhir pada tahap perencanaan ini Uji coba kelompok kecil yang dilakukan adalah penyusunan story board. kee¿sienan produk dan keterterapan keefektifan dan kee¿sienan media pembelajaran media pembelajaran boneka kaus kaki. Uji coba Media pembelajaran boneka kaus kaki ini terbatas dilakukan menggunakan Lesson Study digunakan pada kegiatan bercerita. Setelah dilakukan uji coba media pembelajaran boneka kaus kaki dan kelompok kecil akan dilakukan uji coba terbatas. menetapkan tingkat kepraktisan. Uji coba produk dalam penelitian kee¿sienan produk dan untuk mengetahui pengembangan ini meliputi: 1) desain uji coba. Pada yang telah dibuat. yang melibatkan observer dan guru model. Validasi produk dalam penelitian ini Jenis data yang diperoleh dalam penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah media ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Ngaringan 03 Kecamatan Gandusari. kemenarikan. dan uji coba pada SDN Tulungrejo 02 dan SDN akan dioperasikan oleh guru maupun siswa.

. Hasil pelaksanaan lesson study melatih keterampilan berbicara (bercerita) dalam pada setiap pertemuan yang telah dilaksanakan pembelajaran di kelas. kemenarikan. dan buku teks. atau menyediakan media pembelajaran untuk See (ReÀeksi). diberi catatan di pada kegiatan bercerita. Kegiatan pembelajaran yang keefektifan. Do (Tindakan). Kegiatan pembelajaran pernah mendesain media pembelajaran sendiri yang dilakukan oleh guru dan siswa pada khususnya media pembelajaran boneka kaus pertemuan pertama diamati oleh observer Pengembangan Media Pembelajaran . secara deskriptif kualitatif dan statistik deskriptif. yaitu pembelajaran yang papan tulis dan diberi pertanyaan. Berdasarkan hasil dasar. Sedangkan analisis data pembelajaran masih kurang dapat mengaktifkan statistik deskriptif digunakan untuk mengolah siswa. data yang diperoleh dari angket dan lembar Guru menginformasikan bahwa siswa lebih observasi. Metode yang digunakan dalam saran dan tanggapan. Siswa HASIL DAN PEMBAHASAN cenderung kurang bersemangat dan cenderung Pada tahap studi pendahuluan diperoleh data mengantuk dalam belajar jika materi hanya terkait kegiatan pembelajaran yang dilakukan disampaikan dengan dijelaskan. dilaksanakan masih mengacu pada buku teks Uji coba terbatas dilakukan untuk dan LKS yang isinya belum tentu sesuai dengan mengetahui tingkat kepraktisan. Aspek yang dinilai Instrumen Data yang diamati Responden Kemudahan dalam Ahi desain media menggunakan media Kepraktisan produk Angket pembelajaran/Guru pembelajaran boneka kaus kaki Ketertarikan siswa dalam belajar menggunakan media Kemenarikan produk Angket Siswa pembelajaran boneka kaus kaki Lembar Nilai evaluasi siswa pada Keefektifan produk observasi Siswa kegiatan bercerita penilaian afektif Lembar Daftar harga pengadaan Kee¿sienan produk observasi harga Observer dan guru bahan media pembelajaran pengadaan bahan Keterterapan media Keterterapan media pembelajaran boneka Lembar pembelajaran boneka kaus Observer/peneliti kaus kaki dalam observasi kaki untuk meningkatkan kegiatan bercerita keterampilan berbicara Analisis data dalam penelitian ini dilakukan kaki untuk untuk melatih keterampilan bercerita.. karakteristik siswa. Media yang digunakan dalam pembelajaran Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk mengacu pada gambar yang ada pada LKS mengolah data yang berupa masukan. tertarik pada materi yang dapat mereka lihat dan melibatkan siswa secara langsung. ISSN 2406-8012 Tabel 1 Jabaran Aspek yang Dinilai dalam Media Pembelajaran Boneka Kaus Kaki yang Diterapkan Menggunakan Kegiatan Bercerita. Uji coba terbatas dilakukan dengan wawancara dengan guru diperoleh data bahwa menggunakan lesson study yang tahapannya guru mengalami kesulitan dalam menentukan yaitu Plan (Perencanaan). kritik. Selama ini guru belum adalah sebagai berikut. (Erwin Putera Permana) 138 . kee¿sienan produk dan keterterapan didominasi oleh guru berdampak pada rendahnya media pembelajaran boneka kaus kaki di sekolah aktivitas belajar siswa.

Pada saat siswa melakukan diskusi dan bekerja secara kelompok. siswa lebih pertama akan digunakan sebagai perbaikan gembira dan antusias dalam pembelajaran. memberikan penguatan pada siswa berupa Adapun kekurangan yang ditemukan yaitu. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas lebih dari 75. SIMPULAN DAN SARAN Permasalahan yang terjadi pada pertemuan Berdasarkan hasil lesson study dapat diketahui pertama dapat terselesaikan. Desember 2015 : 133 . Berdasarkan data yang diperoleh terkait tampak bersemangat menyimak. RPP dan beberapa siswa masih kesulitan dalam Hasil lesson study pada pertemuan kedua kegiatan bercerita. Berdasarkan hasil observasi ditemukan Pemecahan masalah dilakukan dengan beberapa kekurangan dalam pembelajaran. No. namun ketika dengan keterampilan berbicara siswa lebih dari mereka diminta untuk bercerita tampak kurang 70% siswa telah tuntas dalam belajar dengan nilai malu-malu. Agar seluruh besar siswa dapat bekerja secara kelompok siswa dapat bekerja secara kelompok dengan dengan baik ditunjukkan dengan siswa aktif baik sebaiknya pada pertemuan berikutnya guru bercerita dengan menggunakan media yang telah memberikan penjelasan pada siswa tentang dibuat. pekerjaan atau tugas yang diberikan pada teman Hasil lesson study pada pertemuan lain yang dianggap lebih pintar.140 . Selain itu. pemanfaatan media pembelajaran boneka belum secara maksimal. Berdasarkan hasil siswa lebih aktif dalam mengemukakan pendapat observasi pada pertemuan kedua dapat dilihat seusai kegiatan bercerita. Setelah dilakukan pertemuan kedua tim lesson study menemukan observasi oleh tim lesson study hasilnya akan pemecahan masalah yang akan dilakukan. Kegiatan pembelajaran tidak rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah lagi didominasi oleh guru. berbicara. 139 Profesi Pendidikan Dasar Vol. perubahan yang cukup memuaskan terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. walaupun masih bahwa. Ditinjau dari analisis penggunaan siswa pada saat diminta bercerita ke depan media boneka kaus kaki mempunyai pengaruh kelas ada beberapa siswa yang terkadang masih positif. membaca juga menulisnya. sebagian dan menghafalkan teks cerita. siswa baik dari pertemuan sebelumnya. meningkatkan bercanda dengan teman dalam kelompok dan kemampuan anak dalam berbagai aspek yaitu tidak segera mengerjakannya. menyimak. kembali terkait dengan pembelajaran yang berdasarkan hasil diskusi tim lesson study dilakukan oleh guru dan siswa. Siswa menjadi lebih dibuat namun ada sedikit permasalahan terkait aktif dalam mengikuti pembelajaran dengan dengan aktivitas belajar siswa. akan digunakan sebagai perbaikan pada Hasil permasalahan yang ditemukan pertemuan ketiga dan dilakukan observasi akan dibahas dan dicari solusi pemecahannya. serta pada pertemuan kedua. 2. Dari hasil diperoleh alternatif pemecahan yang akan observasi pada pertemuan ketiga diperoleh dilakukan diantaranya guru model disarankan data bahwa pada pertemuan ketiga kegiatan agar lebih memperhatikan alokasi waktu yang pembelajaran yang dilakukan sudah lebih telah direncanakan pada RPP. pemberian reward bagi siswa yang dapat siswa terlalu bergembira sehingga memakan melaksanakan kegiatan bercerita dengan baik waktu yang lebih lama dan tidak sesuai dengan dan tepat waktu. siswa aktif menyimak dan menuliskan langkah-langkah dan pembagian tugas yang isi pesan cerita dan tidak lagi menggantungkan harus dilakukan saat belajar secara kelompok. diberikan penjelasan dengan menggunakan Keterampilan berbicara siswa juga sudah sangat media pembelajaran boneka kaus kaki mereka baik. direÀeksi. Hal tersebut pada pertemuan berikutnya sebaiknya diberi ditunjukkan dengan kegiatan bercerita yang kesempatan untuk pembagian tugas bercerita dilakukan dapat selesai tepat waktu.ISSN 2406-8012 dengan menggunakan pedoman observasi yang Dari permasalahan yang ditemukan pada telah disiapkan sebelumnya. 2. efektif dan e¿sien yaitu. Kegiatan guru dalam kaus kaki dapat meningkatkan keterampilan melakukan pembelajaran telah sesuai dengan berbicara siswa.

Education Research an Introduction (fourth ed. New York: Longman Inc. 90% dari apa yang kualitas pembelajaran yang dilakukan dapat dilakukan. Munir. secara kelompok. Re¿ka Aditama. DAFTAR PUSTAKA Arsyad. isi dari buku petunjuk penggunaan media Dilakukan penelitian eksperimen yaitu pembelajaran boneka kaus kaki. Media Pembelajaran. M. Berpijak pada konsep Vernom. A.. 1983.. menggunakan media pembelajaran boneka kaus Sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan kaki. 2006. 2003. maka terus ditinggkatkan.. Setyosari. Fathurrahman. S. Bandung: Alfabeta. Bandung: PT. 30% dari apa yang boneka kaus kaki dengan metode bercerita dilihat. P. sebaiknya diakukan dengan lesson study agar 70% dari apa yang dikatakan. Jakarta: Raja Gro¿ndo Persada. Media Pembelajaran. R. Borg. Jakarta: Kencana Prenada Media Pengembangan Media Pembelajaran . W. 2005. D. W. 10% dari apa yang dibaca. 20% dalam belajar.). Bandung: CV alfabeta Sanjaya. Adapun hal yang disarankan untuk menggunakan media. guru sebaiknya memastikan kesiapan motivasi dan stimulasi agar anak optimal dalam siswa dalam kegiatan bercerita dan bekerja pencapaian tingkatan perkembangan bahasanya. Menambah karakter yang menggunakan produk media pembelajaran ada pada media pembelajaran boneka kaus boneka kaus kaki ini guru sebaiknya memahami kaki menjadi lebih banyak dan penjelasannya. Malang: Elang Mas Sagala. & Gall. 2010. 2012. pembelajaran dengan menggunakan teknologi Saran juga diberikan untuk melakukan multimedia akan meningkatkan kemampuan pengembangan materi pembelajaran lebih belajar siswa sebesar 50% dari pada tanpa lanjut. guru juga dapat memberikan Hal ini dikuatkan oleh pendapat Vernom dalam hadiah pada siswa yang aktif dalam mengikuti Munir (2012:142) yang menyatakan bahwa pembelajaran untuk lebih memotivasi siswa siswa belajar. penerapan media pembelajaran dari apa yang didengar. Konsep dan Makna Pembelajaran. P dan Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar. (Erwin Putera Permana) 140 . guru sebaiknya membandingkan antara kelas yang dibelajarkan memahami isi dari RPP yang telah dibuat menggunakan media pembelajaran boneka kaus agar metode dan media pembelajaran yang kaki dengan kelas yang tidak dibelajarkan dengan direncanakan dapat diterapkan dengan lancar. S. Multimedia Konsep dan Aplikasi dalam Pendidikan. ISSN 2406-8012 Semua aspek berbahasa secara umum sebaiknya alat dan bahan yang akan digunakan merupakan keseluruhan kemampuan bahasa dalam pembelajaran dipersiapkan terlebih anak yang memerlukan proses yang memerlukan dahulu. 50% dari apa yang dilihat dan didengar. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan mengembangkan produk lebih lanjut adalah yang telah dilakukan disarankan dalam sebagai berikut.