You are on page 1of 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Normal Varian
2.1.1 Red Marrow
1. Definisi

Bone marrow atau sum-um tulang adalah jariingan yang terdiri dari pusat tulang besarIni

adalah tempat di mana sel-sel darah baru yang diproduksi.
Sumsum tulang mengandung dua jenis sel induk: hemopoietic (yang dapat menghasilkan sel

darah) dan stroma (yang dapat menghasilkan lemak, tulang rawan dan tulang). Ada dua jenis

sumsum tulang:

a. Red marroww atau sumsum merah (juga dikenal sebagai jaringan myeloid). Red Marrow

biasanya ditemukan terutama di tulang pipih seperti tulang pinggul, tulang dada,

tengkorak, tulang rusuk, tulang belakang dan bahu pisau, dan di cancellous ("spons")

materi di ujung proksimal tulang femur panjang dan humerus.
b. Yellow marrow atau sumsum kuning. Sel darah merah, trombosit dan sel darah putih yang

paling muncul di sumsum merah; beberapa sel darah putih berkembang dalam sumsum

kuning. Warna sumsum kuning adalah karena jumlah yang jauh lebih tinggi dari sel-sel

lemak.
Kedua jenis sumsum tulang mengandung pembuluh darah banyak dan kapiler.Saat lahir,

semua sumsum tulang merah.Dengan usia, lebih dan lebih dari itu dikonversi ke jenis kuning.Orang

dewasa memiliki rata-rata sekitar 2.6 kg dari sumsum tulang, dengan sekitar setengah dari itu

menjadi merah.1
2. Gambaran Radiologi
Erythropoietic atau merah sumsum bisa menjadi penyebab umum untuk kekhawatiran tentang

magnetic resonance imaging (MRI). Ini akan sangat bermasalah jika daerah sumsum merah massal

seperti dalam penampilan. Red sumsum harus hyperintense ke sumsum lemak pada T2-tertimbang

urutan (T2W) MRI lemak ditekan dan hypointense pada T1-tertimbang urutan (T1W) MRI. Fitur

utama adalah bahwa intensitas sinyal rendah pada urutan T1W MRI harus lebih tinggi dari otot

rangka atau diskus intervertebralis. Pada fase dan out-of-fase gambar T1W MRI dapat membantu
4

5

dalam kasus samar-samar sebagai sumsum merah harus memiliki beberapa sumsum lemak

bercampur dan, akibatnya, harus kehilangan sinyal (menjadi gelap) pada out-of-fase dibandingkan

dengan di fase MRI.

Gambar 1. (A dan B): Pulau sumsum merah pada sakrum.Seorang pria berusia 49 tahun dengan kembung berulang
menjalani enterography MR, yang menunjukkan lesi insidental di sakrum. Dia ingat untuk dan out-of-fase pencitraan
MRI T1W di-fase. (A) dalam fase gambar T1W MRI menunjukkan lesi (panah) sedikit hyperintense ke otot rangka (B)
Di out-of-fase T1W MRI gambar, ada kehilangan sinyal karena adanya sumsum lemak bercampur (panah).

Di sisi lain, sumsum-menggantikan tumor, seperti banyak metastasis, harus mengganti semua

sumsum lemak dan tidak harus kehilangan sinyal pada out-of-fase T1W pencitraan . Jadi, ketika

mendekati kelainan sumsum pada MRI, penting untuk memiliki T1W gambar yang mencakup otot

rangka untuk perbandingan dan di-fase dan out-of-fase T1W gambar untuk menunjukkan ada

tidaknya lemak. Sumsum kuning dapat mengubah kembali ke sumsum merah dengan stres

fisiologis seperti anemia. Selain itu, sumsum merah harus tidak memperpanjang masa lalu parut

physeal ke epiphysis dan tidak harus mendistorsi pola trabekular yang normal.

2.1.2 Humeral Pseudocyst
1. Definisi

Gambaran Anataomi normal karena terjadinya peningkatan tulang cancellous

dibagian tuberositas paling besar dari humerus yang dapat dilihat sebagai lesi berkilau pada

radiografi.2
Radiolusen ini terlihat pada kepala humerus superolateral dan dapat didiagnosa sebagai

chondroblastoma, giant sel tumor, sel Langerhans Histiositosis, atau bahkan metastasis osteolitik

pada radiografi. Meningkat Lemak di daerah ini dapat segera terlihat pada MRI dan membantu

membuat diagnosis . Pada radiografi, pseudolesion ini akan terlihat pada pandangan rotasi eksternal

Ketika daerah ini dari penghalusan trabekular secara visual dibandingkan dengan tulang sekitarnya yang berisi trabekula lebih menonjol.3 Gambar 2. 4. 6 bahu dan biasanya ada garis tajam demarkasi inferior antara pseudolesion dan sumsum yang berdekatan. 2 2. Sisa dari margin biasanya tidak jelas. Seorang wanita berusia 47 tahun dengan nyeri bahu kiri. area ini menjadi kurang jelas pada pasien dengan osteoporosis oleh karena adanya kelemahan dari struktur trabekula tulang. pseudokista memiliki sinyal sumsum normal. 5 . Daerah ini stres relatif lebih rendah berkembang menjadi lesi litik jelas. Gambaran Radiologi Sebuah pseudokista adalah daerah stres yang relatif rendah dalam tulang yang mengakibatkan pembentukan tulang trabekular yang tidak diucapkan seperti di daerah stres yang lebih tinggi. Seperti halnya pseudokista humerus. Sebuah radiolusen putaran di tuberositas lebih besar (panah) pada radiografi bahu rotasi eksternal (A) sesuai dengan lemak sumsum normal (panah) yang hyperintense pada (B) T1W dan hypointense pada (C) T2W lemak jenuh gambar MRI koronal. yang karena garis fusi antara epiphysis di tuberositas lebih besar dan poros humerus.1. karena adalah varian normal. yang sebenarnya merupakan daerah penghalusan trabekular. Pada magnetic resonance imaging (MRI). 2. salah satu melihat sebuah litik lesi jelas atau yang disebut pseudokista.3 Ward’s Triangle Suatu area dengan peningkatan densitas (radiolusen) yang biasanya tampak pada collum femoralis tepat di persimpangan antara penekanan dan garis-garis trabekula tulang (lihat gambar 3). (AC): Pseudokista humerus.

(A) Pada foto hip joint AP tampak area berbentuk triangular dengan peningkatan densitas (radiolusen) di collum femoralis (tanda panah). 7 Gambar 3. 2. Tumor ini antara lain simple bone cyst. namun disini terdapat area kalsifikasi (tanda panah atas) yang mengalami nekrosis. (A and B): Psudokista Kalkaneus dan Lipoma Intraosseus (A) Foto ankle posisi lateral pada wanita 39 tahun dengan nyeri pada kakinya menunjukkan gambaran radiolusen (tanda panah) di sebelah anterior kalkaneus dengan penurunan struktur trabekula tulang.2 Congenital and Developmental Abnormalities 2. (A and B): Triangular Ward.4 2. Meskipun gambaran hampir tampak normal namun beberapa lesi patologis lain dapat terjadi di area ini yang juga membentuk area radiolusen pada foto radiologis. Gambar 4.4 Calcaneal Pseudocyst Pseudokista Kalkaneus memiliki bentukan yang sama dengan triangular Ward. Pada lipoma intraosseus dapat terjadi nekrosis yang dapat menyebabkan kalsifikasi distrofik tulang dengan lesi sklerotik. dan lipoma intraosseous. (B) Foto ankle pada pria 45 tahun dengan Lipoma Intraosseus (tanda panah) menunjukkan gambaran radiologis yang sama dengan pseudokista kalkaneus.2. Sebuah area radiolusen di anterior tulang kalkaneus yang disusun oleh trabekula tulang (Lihat Gambar 4). kondroblastoma. Wanita 67 tahun dengan nyeri pinggang kiri.1 Dorsal Defect of The Patella 1. Definisi . (B) Pada CT Scan potongan koronal menunjukkan garis-garis trabekula tulang collum femoralis yang mulai hilang (tanda panah).1. Giant cell tumor.

Epidemiologi Kecacatan Patella bagian dorsal terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan frekuensi yang sama. Presentasi Klinis Kondisi ini sering asimtomatik dan insidental menemukan pada pencitraan lutut. 4.2 Synovial Herniation Pit in The Proximal Femur 1.7 2. ini dihubungkan dengan tubrukan femoracetabular.2. Seorang wanita berusia 38 tahun nyeri pada lutut kiri. 2. Presentasi Klinis Meskipun lesi ini kadang bersifat asimtomatik. lesi ini dapat memuncukan gejala. dan yang paling sering ditemukan pada remaja. Kadang-kadang. Gambaran Radiologi . (A dan B) : Kecacatan patella bagian dorsal. yang dapat menjadi suatu kesalahan bila mengira suatu proses patologis seperti fokus infeksi atau osteochondritis dissecans. tetapi kadang-kadang mungkin penyebab nyeri lutut. (B) Pada gambaran MRI potongan sagital menunjukkan area fokal pada kortikal tidak beraturan dengan hialin kartilago masih intak. Definisi Merupakan herniasi sinovial dengan kecacatan kortikal yang disebabkan oleh abrasi dari kapsul sendi panggul terhadap leher femoralis.4 Gambar 5. Gambaran Radiologi Kecacatan patella bagian dorsal dapat tampak 1-2 cm berbentuk bulat dan radiolusen pada lokasi yang sama dengan bipsrtitte patella dan ini diyakini karena penggabungan yang tidak lengkap dari pusat osifikasi patela [Gambar 5]6 etiologi lain yang potensial adalah bahwa itu adalah karena daya tarik pada penyisipan dari vastus lateralis. (A) Gambaran radiologi lutut (AP) menunjukkan gambaran radiolusen (panah) pada aspek superolateral dari patella. Hal ini terlihat pada sekitar 1% dari populasi dan biasanya terdapat bilateral. 7 3. meskipun mungkin ini masih merupakan varian yang normal [Gambar 6]. 2. 8 Kecacatan Patella bagian dorsal merupakan lesi jinak subchondral dari etiologi tidak diketahui dan merupakan suatu perkembangan yang tidak normal dari patela.6 3.

Kadang-kadang juga dapat keluhan nyeri. [13] Diagnosis untuk gambaran sperti ini termasuk osteomielitis dan permukaan osteosarcoma. 8 Biasanya lesi ini kurang dari 1 cm. (B) Dengan MRI T1W potongan coronal terlihat suatu lesi yang hipointens (panah). (A-C) : Lubang herniasi sinovial pada femur proximal. Definisi Sebuah Avulsi kortikal yang irreguler dari tulang paha posterior. 9 Digambarkan dengan suatu bulatan atau berbentuk oval yang radiolusen di bagian proksimal leher femur superior yang dikenal sebagai lubang herniasi sinovial. tetapi dapat tumbuh hingga 2-3 cm dan dapat membentuk lobus-lobus. Gambaran Radiologi Terlihat sebagai lesi radiolusen fokal yang tidak teratur sepanjang aspek posteromedial dari tulang femur distal pada anak-anak [Gambar 7]. Seorang wanita berusia 60 tahun dengan dicurigai patah tulang setela terjatuh. Presentasi Klinis Pasien biasanya tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan.9 Gambar 6.3 Avulsive Cortical Irregularity of The Posterior Femur 1. Telah diusulkan bahwa lesi ini mungkin disebabkan oleh traksi karena kepala medial gastrocnemius atau magnus adduktor lesi ini tidak harus dilihat pada kerangka individu dewasa. 2. yang dikenal sebagai desmoid kortikal.2. (C) Dengan Gambaran MRI T2W potongan coronal terlihat suatu lesi yang hiperintens. terutama jika lesi memiliki penampilan agresif. 4. (A) Gambaran radiologi AP terlihat bulatan kecil yang radiolusen (panah) dan tepi sklerotik pada leher tulang femur aspek superior lateral. 2. Epidemiologi Ini biasanya terjadi pada remaja (10-15 tahun) dan kecenderungan lebih banyak terjadi pada laki-laki.10 . 3.

11 . sedangkan poin proses suprakondilerr menuju sendi siku [Gambar 8]. hal ini terlihat sebagai pendorong tulang kecil memproyeksikan anteromedially dari metadiaphysis humerus terhadap sendi siku. Pada osteokondroma terletak dari titik jauh dari sendi. 2. Definisi Sebuah proses suprakondiler pada humerus adalah munculnya tulang yang menyimpang (spur) dari aspek anteromedial humerus. 10 Gambar 7.4 Supracondylar Process of The Humerus 1. (A dan B) : Sebuah Avulsi kortikal yang irreguler dari tulang paha posterior.2. 2.[15] Hal ini biasanya temuan secara tidak sengaja. (A) Gambaran radiologi lateral dari lutut menunjukkan area kortikal yang tidak beraturan pada letak medial dari metafisis femur distal. Seorang perempuan berusia 18 tahun dengan nyeri pada lutut sebelah kanan. Presentasi Klinis Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala meskipun harus dipertimbangkan jika pasien datang dengan gejala kompresi saraf median dan tidak ada patologi pada pencitraan dari terowongan karpal. yang akan menimbulkan gejala. Penegakan diagnosa tidak boleh salah untuk osteokondroma atau permukaan osteosarkoma. membentuk sebuah terowongan yang dapat menjerat saraf median dan bahkan arteri brakialis. Gambaran Radiologi Biasanya. Kadang-kadang. (B) Pada MRI T2W menunjukkan edema sum-sum tulang (mata panah) dan pada area kortikal tang tidak beraturan (panah). ligamen memanjang dari proses suprakondiler ke epikondilus medial (ligamentum dari Struthers). 4. Epidemiologi Kasus ini terjadi sekitar 1-3% dari populasi. 3.

(A dan B): Proses suprakondiler pada humerus. yang mana sesuai dengan enthesopyite dari tambahan garis soleus.12 2. namun. 11 Gambar 8. 2. lesi ini memiliki penampilan non-agresif dan berpusat di subperiosteum tersebut. Seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan nyeri pada siku kanan.1 Subperiosteal Hematoma Periosteum adalah membran fibrosa tebal yang bersifat vaskular yang erat melekat pada tulang. (A) Riadiografi AP dari siku menunjukkan proses osseous (panah) yang timbul dari aspek anteromedial dari distal humerus. Gambaran Radiologi Baris soleal dimulai 1-2 cm di bawah segi fibula dan dapat muncul sebagai garis ridge. Pada tibia terjadi kalsifikasi lateral hingga medial sepanjang kortek posterior. atau fraktur stres [Gambar 9].3 Trauma and Iatrogenic Lesions 2. juga dapat mengeras dan bertahan. infeksi.2. Perubahan serupa tulang dapat dilihat di lampiran fibula dari soleus tersebut. Jejas ke periosteum dapat menyebabkan hematoma subperiosteal. dengan penebalan korteks memperluas lateral hingga medial sepanjang posterior atas sepertiga dari tibia.14 .13 Gambar 9. Hematoma subperiosteal sering sembuh tanpa pengobatan.3. Jika mengeras. 2. Hal ini dapat muncul dari kepala tibialis dari soleus. (A dan B) : Garis soleal pada seorang laki-laki berusia 67 tahun dengan dicurigai fraktur pada kaki kanan setelah terjatuh. dapat berisi sumsum lemak. yang mengangkat periosteum dari tulang dan dapat menyerupai massa fokal seperti osteosarcoma parosteal atau osteochondroma. (A) AP dan (B) lateral radiografi dari tibia proksimal menunjukkan terdapat garis penebalan pada kortikal (panah) sepanjang tibia proksimal dan fibula. Pada pencitraan.5 Soleal Line 1. Memiliki kemiripan denga gambar USG (B) yang menunjukkan osseous yang menonjol (panah) dengan ligamen hiperintens dari struthers yang dempet (mata panah). Definisi Garis soleal adalah garis pada tulang tulang "tug lesi" yang dapat terbentuk pada tibia pada lampiran soleus dan meniru periostitis dari tumor.

Fraktur stress juga timbul dari penggunaan normal tulang yang telah melebah akibat kondisi seperti osteoporosis. nyeri.menunjukkan lesi () yang timbul dari korteks femoralis medial dengan pengerasan pusat. 12 Gambar 10. Pada laki-laki berusia 53 tahun dengan riwayat trauma paha. dan tibia) yang berfungsi menahan beban. kerapuhan di tempat tertentu.2 Stress Fracture Fraktur stress adalah sebuah retakan kecil pada tulang yang disebabkan oleh penggunaan kekuatan atau tekanan yang berulang. sering dan berlebihan.15 Gambar 11. Gejala: bengkak. Pada wanita berusia 68 tahun dengan pinggul kanan dan paha yang sakit. (B) Coronal dan (C) gambar CT aksial menunjukkan garis fraktur linear dalam penebalan korteks. (A) foto AP pinggul menunjukkan penebalan korteks di aspek lateral poros tibialis.(A) posisi AP dan (B) CT koronal pinggul kiri. . penurunan pembengkakan dan rasa sakit saat beristirahat. Fraktur stress paling sering terjadi pada tulang kaki bagian bawah (metatarsal. peningkatan pembengkakan dan rasa sakit saat beraktivitas. menunjukkan hematoma subperiosteal kronis yang berisi sumsum lemak () dan tulang kortikal ( ). 2. (C) MRI Axial.3. fraktur stres. Hematoma Subperiosteal. tarsal.

fraktur stres mungkin tidak terlihat pada radiografi dan dapat terdeteksi pada CT atau MRI. yang merupakan pertumbuhan tulang baru bukan neoplassma diluar tulang baru. Pada wanita berusia 53 tahun. Faktor Etiologi dan Predisposisi Biasanya kelainan ini dimualai dengan adanya riwayat trauma atau komplikasi yang terjadi seperti paralisis. terasa nyeri saat digerakan. Garis fraktur biasanya tegak lurus terhadap korteks. lunak atau padat. Biasanya terjadi pada ekstremitas atas dan bawah. biasanya pada otot lateral. tetapi dapat dibedakan dari satu sama lain pada CT. fibro- osseous pseudotumour of the digits. Definisi Miositis osifikan adalah sebuah masa jinak yang ditandai dengan osifikasi heterotopik.3 Myositis Ossificans16 1.3. Gambar 12. (B) potongan Sagittal dan (C) aksial gambar CT menunjukkan kalsifikasi perifer dan osifikasi sentral lesi antara massa dan korteks tibialis.15 2. 3. panniculitis osifikan. reaksi periosteal dan resorpsi korteks dapat dilihat. Fraktur stres di tibia dapat menyerupai garis soleal atau osteoid osteoma. Myositis ossificans. 2. miositis osifikan progresif. Sering terjadi pada dewasa muda decade ke-2sampai ke-3. 2. 13 Awalnya.4 Biceps Tenodesis17 . (A) Foto lateral.sebanyak 80% terjadi pada otot-otot alat gerak. Jenis Miosis Osifikan Miositis osifikan cirkumscripta. Tanda dan Gejala Dapat assimtomatis. 4. otot quadriceps dan brachialis. menunjukkan nodul oval dengan tepi padat pada bagian anterior dari poros tibialis.3. Sebuah garis fraktur dapat terlihat pada computed tomography (CT). Dengan berjalanya waktu. pembatasan pergerakan. dengan massa teraba sepanjang tibia distal. Massa yang membesar.

2. Penyakit partikel dapat meniru tumor osteolitik atau infeksi.19 . 2. Pada wanita berusia 58 tahun dengan riwayat rotator cuff dan labral tear. AP radiografi dari bahu kanan menunjukkan lesi fokal di poros humerus proksimal dari tenodesis bisep. Seorang wanita berusia 23 tahun dengan limfoma dan biopsi tulang iliaka.5 Bone Marrow Biopsy and Bone Graft Donor Sites18 Aspirasi dan biopsi sumsum tulang untuk diagnosis hematologi yang paling sering diperoleh dari tulang iliac melalui pendekatan posterior. Namun. Bisep tenodesis. Akhir-akhir ini biopsy dilakukan jika ada kemungkinan edema atau perubahan kistik. penyakit partikel dapat dibedakan dengan adanya bagian keras dan adanya lusenisi abnormal yang terlihat di kedua sisi sendi. 14 Suatu tindakan bedah operasi dengan menggunakan oethosis untuk stabilisasi sendi dengan mengaitkan tendon bisep pada tulang. gambar MRI Aksial T2W lemak jenuh menunjukkan lesi hyperintense dengan batas yang tidak teratur pada tulang iliaka kiri dengan perubahan dari biopsi sumsum tulang.3.3. Biopsi sumsum tulang. Gambar 14. Jahitan jangkar pada kepala humerus. Gambar 13.biasanya diikuti dengan artroplasti.6 Particle Disease Penyakit partikel dapat muncul sebagai daerah radiolusen.

Iradiasi tulang dapat meningkatkan risiko untuk fraktur insufisiensi. 15 Gambar 15. gambar MRI menunjukkan distribusi regional edema tulang di tulang iliaka dan sakrum dengan batas batas-batasnya (garis putus-putus). Pada laki-laki berusia 82 tahun yang telah menjalani penggantian panggul total untuk nyeri pinggul. menjadi meluas. dan kadang-kadang dapat memiliki fitur agresif.3.22 4. yang menunjukkan medan radiasi.21 2. tulang rusuk.1 Brown Tumor of Hyperparathyroidism 1. yang mungkin memiliki septations. menunjukkan beberapa rongga sekitar prostesis. Pada wanita berusia 59 tahun dengan riwayat kanker endometrium Salpingohisterektomi dan terapi radiasi. dan tulang wajah. dengan sinyal tinggi pada T1W dan sinyal menengah di T2W. 21 3.dan penurunan seluleritas di sumsum tulang. Perubahan Radiasi. Axial short tau inversion recovery (STIR).edema. kemudian menjadi proses neoplastik. 2. 2. Definisi Brown tumor yang juga dikenal sebagai osteitis fibrosa cystica atau osteoclastoma adalah salah satu manifestasi dari hiperparatiroidisme.4.20 Gambar 16. Penyakit Partikel. Epidemiologi Hiperparatiroidisme yang lama tidak diobati dapat mengakibatkan lesi osteolitik dikenal sebagai tumor coklat (osteoclastomas). Patologi Penampilan khas tumor coklat adalah lesi osteolitik yang terdefinisi dengan baik. yang mana dapat dilihat baik pada hiperparatirodime primer atau hiperparatiroidisme sekunder dan terlihat pada 5% pasien dengan hiperparatiroidisme. dan sarkoma radiasi. Keadaan ini merupakan proses seluler reparatif. (A) AP radiografi dari pinggul kanan menunjukkan beberapa lesi di kedua sisi sendi pinggul kanan. panggul.4 Metabolic Disease and Arthritic Changes 2. berbatasan kedua femoral dan acetabular (B) Axial CT. osteonekrosis.7 Radiation Changes Radioterapi dapat menyebabkan kongesti vaskuler. sehingga sumsum tulang akan diganti dengan lemak atau fibrosis. Bagian yang umumnya terkena yaitu tulang panjang. Hal ini akan menyebabkan sinyal menurun pada T1W dan sinyal meningkat pada T2W. Gambaran Radiologi .

Definisi Melorheostosis didefenisikan sebagai penyakit sklerosing mesodermal yang langka.000 penduduk. non herediter. yang menyebabkan sklerosis tulang dan jaringan lunak disekitarnya. Hingga kini. meskipun demikian sekitar 40%-50% kasus ini didiagnosis pada usia 20 tahun. berbatasan femoralis dan komponen acetabular (B) Axial CT gambar menunjukkan beberapa rongga (yang ditunjukkan panah) di sekitar prosthesis.23 2. Epidemiologi Kejadian penyakit ini diperkirakan 0.24 Tidak ada predileksi gender untuk penyakit ini.25 . lesi litik murni yang memprovokasi tuang secara reaktif kecil. Pertama sekali dideskripsikan oleh Leri dan Joanny pada tahun 1922. jinak. dimana sejumlah kasus terdiagnosis secara kebetulan.000. dari usia 2 tahun sampai dengan 64 tahun. (A) AP radiografi dari pinggul kanan menunjukkan beberapa lesi berkilau (panah) pada kedua sisi sendi pinggul kanan. Seorang laki-laki berusia 82 tahun yang mengalami Total Hip Replacement untuk nyeri pinggul.22 Pada gambar diatas.11 Usia pada saat munculnya melorheostosis bervariasi. Korteks dapat menipis dan meluas. A. baru dilaporkan sebanyak 400 kasus melorheostosis di seluruh dunia. 21 Gambar 18. B.4. Beberapa kasus muncul pada dekade keempat dan kelima. tetapi tidak akan menembus. CT Image. AP Radiograf. menunjukkan terdefinisikan dengan baik. Foto AP Humerus 2.2 Melorheostosis 1. 16 Gambar 17. Particle disease.9 per 1.

berbagai teori mulai dikemukakan. atau cedera pada satu atau lebih segmen neural crest pada saat embriogenesis dapat menyebabkan terjadinya penyakit melorheostosis. Diameter lesi lebih dari 5cm. Pola radiografis dengan hiperostosis goresan-goresan yang panjang dan tebal berdekatan dengan sisi dalam korteks dua tulang atau lebih. perusakan. Jika hanya ada satu tulang yang terlibat. . b. c. menyebutkan adanya hubungan melorheostosis dengan sklerotom tubuh (regio pada tulang yang diinervasi oleh saraf sensorik tulang belakang). c.27 dalam penelitiannya pada 23 kasus melorheostosis menyimpulkan gambaran radiologis melorheostosis memiliki lima pola. c. 17 3. namun unilateral berbeda dengan pola khas osteopathia striata (gambar 21). b. Etiologi Etiologi dan patogenesis masih belum diketahui secara pasti. dimana sel-sel pembentuk kartilago bermigrasi dari sklerotom tubuh menuju kuncup-kuncup anggota tubuh. Osifikasi berdekatan dengan sendi di dua atau lebih regio unilateral dengan atau tanpa adanya hyperostosis intraoseus. terdapat tanda lain seperti skleroderma yang berbatas. Berbeda dengan myositis ossificans klasik. Sklerotom mencerminkan pola segmental pada awal perkembangan embriogenik. Adanya lesi sensori segmental oleh karena infeksi spesifik. Gambaran Radiologi Freyschmidt. Pola radiologis khusus dengan gambaran fenomena aliran atau tetesan lilin pada permukaan dalam atau luar tulang yang terlibat (gambar 19). atau fibrosis subkutan diatas tulang yang terlibat. Kasus hiperostosis seperti osteoma pada axis panjang tulang yang terlibat (gambar 20) dengan kriteria: a.26 4. Setelah lima tahun sejak pertama kali dideskripsikan oleh Leri dan Joanny. b. Teori klasik dikemukakan oleh Murray dan McCredie pada tahun 1979. d. d. yang wajib ditegakkan diagnosisnya.Lebih dari satu tulang yang terlibat. yaitu: a. Lesi yang hanya terletak eksentrik pada dan atau di tulang yang memenuhi syarat. Teori ini dapat menjelaskan sifat ganjil penyakit ini yakni keterlibatan satu anggota gerak tubuh (monomelic). osifikasi tersusun noduler dan tidak terlihat sebagai struktur tulang yang pipih. Pada kasus hiperostosis yang mirip dengan myositis ossificans neuropathica (gambar 22) dengan kriteria: a.

18 Kriteria eksklusi: riwayat trauma langsung pada daerah yang dimaksud dan atau adanya defisit neurologis.27 Gambar 19 Gambar 20 Gambar 21 Gambar 22 . e. Pola campuran (gambar 23). terdapat lebih dari satu pola radiografis diatas dan dengan tampilan klinis yang berbeda.

juga bisa terjadi osteonekrosis dalam satu atau lebih tulang. Awalnya.22 MRI sensitif untuk mendeteksi infark tulang. tetapi tidak memiliki kalsifikasi pusat. alkoholisme. dan bisa terjadi nyeri di sendi. steroid. dapat menyebabkan rusaknya tulang subchondral dan osteoarthritis. lutut. Mungkin meniru enchondromas. dan pergelangan kaki. tapi dengan waktu. bahu. fitur karakteristik band luar sinyal rendah terkait dengan band dalam sinyal tinggi pada gambar T2W-non-lemak jenuh (tanda garis ganda) dapat berkembang. Epidemiologi Osteonekrosis paling sering ditemukan di pinggul. Definisi Osteonekrosis adalah penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah ke tulang pada sendi.22 2. daerah ini muncul sebagai daerah non- spesifik edema sumsum. dan kemoterapi. Ketika osteonekrosis melibatkan epiphysis (nekrosis avaskular). Gambaran Radiologi Awalnya. radioterapi.3 Osteonecrosis 1. penyakit memburuk dan tulang-tulang di sendi rusak.22 Gambar 24 2. menyebabkan tidak dapat menekuk atau menggerakkan sendi yang terkena dengan baik. tapi seiring waktu.4. 19 Gambar 23 2. osteonekrosis mungkin tidak terlihat pada radiografi. dapat bermanifestasi sebagai radiolusensi terpusat dengan margin sklerotik.28 3. Jika tidak mendapatkan pengobatan. hemoglobinopati. Nekrosis iskemik pada tulang dan sumsum dapat terjadi karena berbagai penyebab termasuk trauma.4 Calcific Tendinitis (Resorptive Phase) .4.

meskipun beberapa sumber literatur mengungkapkan bahwa laki-laki cenderung memiliki tingkat predisposisi lebih tinggi dibandingkan perempuan. Pasien dengan diabetes mellitus lebih cenderung mampu berkembang mengalami deposit kalsifikasi.yaitu pre-kalsifik. 20 1. Tahapan Kalsifikasi Uththoff dan coworkers mempunyai hipotesis bahwa kondisi aktif dalam proses kalsifikasi sel. insiden rate dapat terjadi pada semua gender . 30 Gambar 25 a. 15% di tendon infraspinatus dan 5% pada tendon subscapularis. Diagnosis dari kalsifikasi tendinitis ini ditentukan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis. Berbagai studi menunjukkan bahwa lebih dari 50 % pasien dengan deposit kalsifikasi menggambarkan gejala klinis yang progresif. dilakukan pemeriksaan radiologis dan sonografi. Berdasarkan hasil penelitian telah dilakukan sampai saat ini. Bahkan.29 3. yaitu pada tendon supraspinatus adalah 1. Lokasi yang cenderung menjadi tempat terjadinya kalsifikasi .resorptif dan pembulihan. Etiologi dari kasifikasi tendinitis ini masih diperdebatkan dan belum diketahui secara pasti. dimana proses ini terjadi terutama pada pasien dengan usia antara 30 dan 50 tahun. Epidemiologi Sekitar 80% dari deposit kalsifikasi terletak pada tendon supraspinatus.5 sampai 2 cm proximomedial dari tuberositas.29 2. lebih dari 30 % pasien dengan diabetes mellitus tergantung insulin. memiliki kalsifikasi pada rotator cuff. Tahap Pre – Kalsifikasi . Mereka mendeskripsikan proses kalsifikasi menjadi empat tahap . sering disertai dengan resorpsi fagosit spontan. dan sebagai pemeriksaan penunjang sebagai bukti khusus adanya deposit kalsifikasi. Definisi Kalsifikasi tendinitis adalah proses yang melibatkan deposisi kristal kalsium pada tendon rotator cuff .kalsifik.

30. Gejala Klinis Gejala klinis tendinitis kalsifikasi sangat bervariasi dan sangat tergantung pada tahap gangguan tersebut telah tercapai. Ini terutama dipisahkan oleh septa fibrocartilaginous . tingkat keparahan dan sifat dari rasa sakit yang dirasakan berkorelasi dengan ukuran kalsifikasi dan lokasi. kalsifikasi akan mencair dan berubah menjadi konsistensi pasta gigi . umur pertengahan atau lebih. 31 4. 29. kristal hidroksiapatit menumpuk antara kondrosit dan jaringan fibrocartilaginous . 30. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa fase ini ditandai oleh reaksi inflamasi berat seiring dengan pelepasan mediator nyeri dan oleh Tekanan meningkat pada deposit disebabkan oleh meningkatnya pencairan.kalsifikasi mengikuti fase resorptive. 30. nyeri tiba-tiba saat istirahat yang dapat memperburuk selama gerakan. banyak pasien mengalami nyeri hebat selama fase resorptive. 31 Selama fase istirahat . 29. tapi saling menyatu sebagai gangguan yang bersifat progresif. Dalam fase ini. Tahap Kalsifikasi Ini adalah tahap di mana gangguan tersebut menjadi klinis jelas . 30. Tahap Post Kalsifikasi Tahap pasca . Sedangkan gejala klinis mungkin terjadi pada tahap pre-kalsifikasi dan dalam tahap formatif dan istirahat . Selama proses ini. Tahap resorptive dimulai dengan peningkatan vaskularisasi pada kapsul deposit. dengan gejala mulai dengan ringan sampai perubahan degeneratif . 31  Fase formatif  Fase istirahat  Fase resorptive Selama fase formatif . 30. Kelainan ini terutama terjadi pada laki – laki. 31 b. Hal ini dapat dibagi menjadi tahap-tahap berikut : 29. 31 c. deposit dengan fibrocartilage yang berdinding off . Ini mengarah pada pembentukan jaringan parut yang terutama terdiri dari kolagen tipe III yang digantikan oleh kolagen tipe I jalannya proses remodeling. Di tahap ini pasien belum merasakan adanya nyeri. 29. Selain itu. Gambaran utama dari gejala klinik yaitu. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi proteoglikan dan pembentukan fibrocartilaginous jaringan di lokasi predileksi. Makrofag dan giant sel sekitarnya membentuk granuloma di mana deposit kalsifikasi diserap . tetapi tidak ada tanda-tanda proses inflamasi. 21 Tahap ini dimulai dengan metaplasia chondral dari tenocytes dalam tendon . Fase resorptive ini merupakan fase dimana pasien akan merasakan nyeri yang hebat. membentuk deposit kalsium kecil . kalsifikasi memiliki kapur dengan konsistensi seperti gembur. Sekarang ditandai dengan migrasi fibroblas ke zona cacat . 29.

menyebabkan mereka untuk membentuk perbatasan. Gambar 26 b.ray deposit kalsifikasi . USG Ultrasound imaging masih merupakan prosedur penting dalam diagnosis tendinitis bahu. DePalma dan Kruper membedakan antara dua morfologi X – ray menurut definisi pinggiran dan radiotransparency : 29. Gambaran kllinis yang terjadi biasanya khas. X-Ray Radiografi bahu yang terkena dalam tiga bidang (true AP.  Tipe II : deposit padat dengan batas reguler . ini karena pencitraan USG memungkinkan menunjukkan lokalisasi pra- operasi dan menunjukkan lokasi deposit kalsifikasi. Pandangan aksial sangat berguna dalam diagnosis kalsifikasi deposit di wilayah subscapularis tendon.32  Tipe I : deposit transparan dengan batas irreguler. aksial. Mampu membuktikan bahwa ada korelasi yang tinggi antara konsistensi dan sonomorphology dari kalsifikasi. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis menunjukan adanya penimbunan kalsium pada pembungkus muskulotendinosa daerah sekitar insersinya di humerus. Pada bagian . Berbagai klasifikasi telah diusulkan dalam diagnosis X . 29. . Y -view) adalah standar prosedur pencitraan dalam diagnosis kalsifikasi tendinitis.33 a.ray tambahan lengan di rotasi internal untuk memastikan bahwa kepala humerus tidak mengganggu deposit kalsifikasi di wilayah tendon infraspinatus. Namun. 22 pembungkus muskulotendinosa dengan atau tanpa penimbunan kalsium. Farin dan Jaroma et al. Mereka menunjukkan bahwa dalam deposit fase formatif dengan konsistensi padat mampu mengarahkan pada suara sonografi dan batasan jaringan tendon sekitarnya. Proyeksi AP benar dapat dikombinasikan dengan pemeriksaan X . dalam banyak kasus klasifikasi ini tidak sesuai dengan gejala klinis dan intraoperatif temuan.32 5.

bagaimanapun reaksi inflamasi menyebabkan jumlah cairan dan jumlah sel meningkat. Harus ada bukti osteoarthritis pada sendi untuk mendukung diagnosis ini dan perubahan yang paling sering terlihat di kedua sisi sendi.22 CT dapat membantu dalam menunjukkan margin sklerotik. 23 Deposit dengan peningkatkan tingkat pencairan pada fase resorptive menghasilkan bayangan akustik jauh lebih lemah dan lebih sulit untuk membedakan dari jaringan sekitarnya. gambar CT menunjukkan adanya kalsifikasi di lokasi insersi dari tendon gluteus maximus ke femur posterior (tanda panah).22 . bisa membesar. yang mengarah pada refleksi substansial berkurang dari gelombang ultrasound. defek pada tulang rawan bagian atasnya dapat memungkinkan sinovium dan cairan sendi untuk memasuki tulang subchondral sehingga menyebabkan kista subchondral (geodes).4. Sinyal T1 tinggi dapat terjadi pada lesi yang mengandung bahan protein. tapi dapat memanjang ke bawah poros dari tulang tubular menyerupai neoplasma. lesi bersifat seperti kista dan biasanya isointense otot pada gambar T1W dan hyperintense gambar T2W. dan internal enhancement dapat terlihat jika lesi mengandung material fibrosa. Erosi korteks ringan juga terdapat pada area insersi gluteal (panah). sekitar permukaan artikular. Hal ini disebabkan fakta bahwa dalam fase formatif deposit kalsifikasi memiliki kepadatan kristal hidroksiapatit tinggi dan dengan demikian menyebabkan refleksi USG kuat. dan memiliki margin sklerotik. Dalam fase resoptive. Pada pemeriksaan CT Scan potongan (A) Axial dan (B) koronal. 22 2.32 c. Tendinitis kalsifikasi (fase resorptive). Pada MRI.5 Subchondral Cyst (Geode) Pada osteoarthritis. 29. CT-Scan Gambar 27. Namun. Biasanya berukuran kecil.

sedangkan osteomielitis pada orang dewasa merupakan infeksi subakut atau kronik yang berkembang secara sekunder dari fraktur terbuka dan meliputi jaringan lunak. 36. tetapi dapat pula ditemukan pada bayi dan neonatus.37 3. radius. virus. Definisi Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri.5 Infection 2. Osteomielitis akut berkembang dalam dua minggu setelah onset penyakit. osteomielitis dikategorikan atas akut.1 Osteomyelitis/Brodie’s Abscess 1.37 Kejadian pada anak laki-laki lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan dengan perbandingan 4:1. 34. Pada keseluruhan insiden terbanyak pada negara berkembang. tuberkulosa. 36. . ulna dan fibula. dan 1 dari 1000 pada neonatal.5. Lokasi yang tersering ialah tulang-tulang panjang. Menurut perjalanan waktunya. Namun tibia menjadi lokasi tersering untuk osteomielitis post trauma karena pada tibia hanya terdapat sedikit pembuluh darah. atau kronik dengan pembagian pada tiap tipe berdasarkan onset penyakit (timbulnya infeksi). Epidemiologi Osteomielitis sering ditemukan pada usia dekade I-II. 24 Gambar 28 2. misalnya femur. tibia. jamur ).35 2. Etiologi Organisme spesifik yang diisolasi dari osteomielitis seringkali dihubungkan dengan usia pasien atau keadaan-keadaan tertentu yang menyertainya (trauma atau riwayat operasi). atau proses spesifik (M. humerus. sub-akut. sedangkan osteomielitis sub-akut dalam dua minggu sampai tiga bulan dan osteomielitis kronik setelah lebih dari tiga bulan. Osteomielitis pada anak-anak sering bersifat akut dan menyebar secara hematogen. Insiden di amerika 1 dari 5000 anak.

36. Haemophillus influenza (2-4%). 25 Staphylococcus aureus terlibat pada kebanyakan pasien dengan osteomielitis hematogenous akut dan bertangguang jawab atas 90% kasus pada anak-anak yang sehat. Streptococcus (4-7%). mengangkat periost dan kadang-kadang menembusnya.39 5. sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut sistem klasifikasi Cierny-Mader berdasarkan status dari proses penyakit. Bukti radiograf dari osteomielitis tidak akan muncul sampai kira-kira dua minggu setelah onset dari infeksi. kronisitas.35. Selain itu juga dapat disebabkan oleh virus. 38. sub-akut. atau factor lainnya sehingga istilah akut dan kronik tidak dipergunakan pada system Cierny-Mader derajat pada system ini bersifat dinamik dan dapat berubah-ubah sesuai sesuai kondisi medik pasien. Pus meluas di daerah periost dan pada tempat-tempat tertentu membentuk fokus skunder.40 4. Bakteri penyebab osteomielitis kronik terutama Staphylococcus aureus (75%).40 Kuman biasanya bersarang dlam spongiosa metafisis dan membentuk pus sehingga timbul abses. contiguous and chronic. oleh jamur seperti aktinomikosis yang pada awalnya seringkali bersifat kronik. dan kronik. foto radiografi polos dan scintigrafi tulang adalah alat pemeriksaan utama. Nekrosis tulang yang timbul dapat luas dan terbentuk sekuester. Staphylococcus epidermidis merupakan penyebab utama osteomielitis kronik pada operasi-operasi ortopedi yang menggunakan implan. Penyebab osteomielitis pada anak-anak ialah Staphylococcus aureus (89-90%).38.40 Selain disebabkan bakteri piogenik. 35. Salmonella typhi dan Escherichia coli (1-2%). Periost yang terangkat .37. Gambaran Radiografi Dalam osteomielitis pada ekstremitas. Pus menjalar ke arah diafisis dan korteks. Proteus atau Pseudomonas aeruginosa. keberhasilan terapi antibiotic dan pengobatan lainnya. bukan etiologi. atau Escherichia coli. Klasifikasi Osteomielitis merupakan penyakit yang kompleks. sehingga sistem klasifikasi yang bervariasi telah dikembangkan disamping kategori umum yaitu akut. System klasifikasi Waldvogel membagi osteomielitis dalam kategori hematogenous. osteomielitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri granulomatosa seperti tuberkulosis dan siphilis melalui proses spesifik.

scalloping endosteal. AP radiografi dari lutut menunjukkan lucencies subarticular besar dengan rims sklerotik (panah) di medial dan kondilus femoralis lateral. Tulang yang dibentuk di bawah periost ini membentuk bungkus bagi tulang yang lama dan disebut involukrum. sehingga tulang terlihat lebih opak dan dikenal sebagai sklerosis. Kadang-kadang suatu abses. temuan radiografi meliputi area periostitis agresif. Dalam tulang yang terinfeksi akan terdapat sekuestra dan area destruksi. Di sana mungkin terjadi pembengkakan jaringan lunak dan pembentukan gas. 40 Pada osteomielitis akut. Pada osteomielitis kronik tulang akan menjadi tebal dan sklerotik dengan gambaran hilangnya batas antara korteks dan medula. baik pada trabekula dan korteks. 34. kerusakan korteks. yang disebut kloaka. dikenal dengan brodie’s abscess akan terlihat sebagai daerah lusen yang dikelilingi area sklerotik. Juga di dalam tulang itu sendiri dibentuk tulang baru. 26 oleh pus kemudian akan membentuk tulang di bawahnya. dan tunneling intracortical. baru kemudian terlihat daerah-daerah yang berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan adanya dekstruksi tulang. Brodie’s abscess akan terlihat sebagai daerah lusen yang dikelilingi area sklerotik. temuan radiografi mungkin tidak muncul selama 1-2 minggu. . Namun. 40 Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu. dan disebut rarefikasi.40 Gambar 28. Gambar 29. yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Ada penyempitan ruang dan konsisten osteofitosis sendi (panah) dengan osteoarthritis degeneratif. Involukrum ini pada berbagai tempat terdapat lubang tempat pus keluar.

6. MRI juga memberikan gambaran resolusi ruang anatomi dari perluasan infeksi. 27 Magnetic resonance imaging (MRI) sangat membantu dalam mendeteksi osteomielitis. di posterior (dislokasi posterior). Gambaran Coronal T2W fat-saturated MRI menunjukkan lesi kistik (panah) berbatasan ruang sendi yangmenyempit (panah). MRI lebih unggul jika dibandingkan dengan radiografi. dan di bawah glenoid (dislokasi inferior). Tuberkulosis osteomielitis.6 Technical Artifacts 2. Gambar 31.1 Humeral Head . 2. 37 Gambar 30. (C) Gambaran coronal T2W fat-saturated MRI menunjukkan hyperintense abses (panah) berbatasan dengan batas inferior lesi sacral (panah). CT scan dan scintigrafi tulang MRI memiliki sensitifitas 90-100% dalam mendeteksi osteomielitis. berada di anterior dan medial glenoid (dislokasi anterior). Definisi dan Etiologi Dislokasi humerus merupakan pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral.Internal Rotation View 1. (A) Gambaran coronal T1W and (B) coronal T2W fat-saturated MRI menunjukkan kelainan sinyal sumsum pada sakrum (panah). Dislokasi terjadi karena kekuatan yang menyebabkan gerakan rotasi .

Sendi bahu memiliki ROM terbesar dari semua sendi dalam tubuh dan. (A dan B): humerus kepala pseudolesion. Kaput humerus didorong kedepan dan menimbulkan avulsi kapsul sendi dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidalis bagian anterior.41 Gambar 32.Lateral View 1.2 Gambar 33. Sebuah perbatasan sklerotik tajam terlihat di leher humerus sebagai diameter tulang berubah tiba-tiba. trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna.41 2. Dislokasi Posterior Untuk etiologi dari dislokasi humerus ini adalah Trauma (langsung atau tidak langsung) adalah mekanisme yang paling umum dari cedera untuk semua dislokasi bahu. Gambaran Radiologi Pada radiografi rotasi internal bahu.6. dengan demikian beresiko tinggi untuk dislokasi. atau tonjolan keluar dari tulang.6 2. Pseudolesion seharusnya tidak dilihat pada rotasi eksternal atau pandangan lain dan tidak boleh salah untuk lesi osteolitik. (A) pandangan rotasi internal bahu kanan menunjukkan pseudolesion berkilau dengan perbatasan pseudosclerotic (panah) (B) pseudolesion ini menghilang pada pandangan rotasi eksternal. yang menyediakan titik insersi untuk oto bisep brachii. Definisi Tuberositas radialis adalah anatomi normal yang menonjol pada radius. 28 eksterna dan ekstensi sendi bahu. dan arah dislokasi tergantung pada arah gaya. Hal ini terletak tepat dibawah kepala radial dan siku.42 . Jarang ditemukan.2 Radial Tuberosity .Seorang laki-laki berusia 30 tahun dengan nyeri bahu kanan. Tuberositas radiali adalah proe.tulang panjang di lengan bawah. sebuah pseudolesion dengan perbatasan sklerotik dan pusat radiolusen dapat muncul di kepala humerus.

itu digambarkan en face dan dapat muncul sebagai lesi radiolusen bulat telur Pada proyeksi lainnya.43 Dasar aliasing terletak pada "analog-ke-digital konversi" dimana sinyal MR terus menerus diambil oleh kumparan penerima diubah menjadi mitra digital untuk presentasi sebagai gambar skala abu-abu. Namun. yaitu. 2.42 2. tuberositas menjadi jelas dan radiolusen artifactual menghilang. Ini ubiquitously melibatkan sampling sinyal kontinu pada interval yang telah ditentukan. penting untuk meninjau proyeksi tambahan.Seorang wanita berusia 33 tahun dengan nyeri siku medial. dislokasi siku. proyeksi lateral.(A) radiografi lateral siku menunjukkan pseudolesion berkilau (panah) di tuberositas radial yang menghilang pada radiografi AP (B). laju sampling harus minimal dua kali frekuensi tertinggi dalam sinyal (Nyquist rate). (A dan B): Radial tuberositas pseudolesion.43 . trauma. Gambaran Radiologi Tuberositas radial adalah struktur anatomi normal dalam radius proksimal. mereka menjadi alias.6. Tonjolan tulang dari osteochondroma dapat meniru lesi radiolusen jika dilihat en face juga. Pada tingkat sampling yang lebih rendah. 29 Kondisi yang dapat menimpa tuberositas radialis termasuk robeknya tendon bisep brachii. fraktur. sinyal frekuensi tinggi menjadi tidak bisa dibedakan dari sinyal frekuensi yang lebih rendah.2 Gambar 34. Untuk kesetiaan yang lebih besar dalam konversi sinyal. Untuk menghindari perangkap ini. Definisi Aliasing di MRI (juga dikenal sebagai wrap-around) adalah gambaran umum artefak MRI yang terjadi ketika bidang pandang (Field Of View) lebih kecil dari tubuh-bagian yang digambarkan .Bagian tubuh yang terletak di luar tepi FOV diproyeksikan ke sisi lain dari gambar.3 Wrap-Around/Aliasing in MRI 1. dan osteomielitis.

Untuk mengurangi denyut .dan frekuensi-encoding arah dapat membantu untuk menentukan apakah atau tidak lesi adalah nyata.4 Pulsation Artifact on MRI Denyut struktur pembuluh darah dapat menyebabkan "ghosting" pada MRI. wrap-around atau aliasing artefak dapat terjadi.Aksial gambar STIR MRI menunjukkan wrap-around / aliasing artefak dari tangan kanan (panah) dan meniru lesi fokal dari kepala femoral kanan (panah). Seorang laki-laki berusia 47 tahun dengan nyeri pantat yang lebih rendah. Mengulangi urutan pencitraan setelah menukar phase. Dalam bandwidth yang diberikan. Hal ini dapat diperbaiki dengan menggunakan cukup FOV besar ke arah fase-encoding untuk memasukkan seluruh bagian tubuh atau dengan menggunakan teknik oversampling fase selama pencitraan. sinyal frekuensi yang lebih tinggi umumnya berasal dari pinggiran gambar dan alias atas frekuensi yang lebih rendah (relatif) bagian tengah gambar.6. Memutuskan pada FOV yang tepat tergantung pada ukuran struktur yang dicitrakan dan mempertimbangkan trade-off antara resolusi spasial dan rasio signal-to-noise. Jika FOV dipilih yang lebih kecil dari anatomi yang dicitrakan. Hal ini dapat menyebabkan data gambar yang berada di luar FOV yang "membungkus" dan artifactually termasuk dalam gambar. Aliasing di MRI dapat terjadi di kedua fase dan frekuensi sumbu. 30 Pada MRI. Gambaran Radiologi Bidang pandang (FOV) di MRI mengacu pada wilayah anatomi yang dicitrakan.43 2.2 Gambar 35. Hal ini dapat meniru lesi tulang sebagai data gambar artifactual dari pembuluh yang ditumpangkan ke tulang . Wrap-around / aliasing di MRI. lokalisasi spasial dalam satu gambar tergantung pada signature frekuensi sinyal MR yang berasal dari bagian itu. 2.

44 Gambar 37. (A dan B): objek eksternal. yang menghilang pada (B) AP radiografi pinggul kiri. Radiolusen yang disebabkan oleh lubang kecil di tag sisi locator. seseorang dapat menempatkan sebuah band kejenuhan atas kapal atau tidak menyelaraskan kapal dan target lesi ke arah fase-encoding yang sama. . Gambar aksial T1W MRI menunjukkan fokus sinyal rendah bulat (panah) di fibula.6.2 Gambar 36.5 External Objects Objek-objek eksternal tertindih di kulit pasien dapat meniru lesi tulang. Denyut artefak. (A) Frog pandangan pinggul kiri menunjukkan radiolusen kecil (panah) di poros femoralis proksimal. 2. Seorang laki-laki berusia 31 tahun dengan nyeri lutut kanan. 31 artefak. Seorang wanita berusia 60 tahun dengan nyeri pinggul kiri. yang disebabkan oleh denyut artefak dari arteri poplitea (panah) dan meniru tumor. Hal ini biasanya terjadi pada pengaturan trauma akut ketika pencitraan mendesak diperlukan dan teknik mungkin suboptimal.