You are on page 1of 13

TUGAS : SOSIOLOGI HUKUM

BURUKNYA PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

PENGARUH KESADARAN HUKUM TERHADAP SISTEM HUKUM
REHABILITASI DAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DI INDONESIA

OLEH :

HAINUDIN
(21209109)
KELAS : 3B

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
KENDARI
2013

Kendari.Sholawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah SAW beserta keluargadan sahabatnya. Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada semuarekan-rekan yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini. KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur saya panjatkan ataskehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah ini . Untuk itu saya mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya. Semogamakalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya dapat menambah wawasan. Saya juga menyadari bahwa karena keterbatasan waktu dan pengetahuan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dankekurangan di dalamnya baik dari segi isimaupun bahasa. Desember 2013 Penulis. amin. .

Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu. tetapi faktanya perbuatan itu masih tetap dilakukan. akan semakin tertib kehidupan bermasyarakat dan bernegara. baik dari warga masyarakat secara keseluruhan. yang dapat memberikan rasa keadilan. Kesadaran hukum masyarakat yang pada gilirannya akan menciptakan suasana penegakan hukum yang baik. yang menunjukkan kecenderungan semakin meningkat baik dan mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Faktor kesadaran hukum ini mempunyai peran penting dalam perkembangan hukum artinya semakin lemah tingkat kesadaran masyarakat. menciptakan kepastian hukum dalam masyarakat dan memberikan kemanfaatan bagi anggota masyarakat. Dalam praktik terkadang terjadi suatu aturan hukum tidak efektif diterapkan di masyarakat sehingga tujuan undang-undang tersebut tidak dapat dicapai secara maksimal. dan seterusnya. keuangan yang cukup. Sosiologi hukum sangat berperan dalam upaya sosialisasi hukum demi meningkatkan kesadaran hukum yang positif. Semakin tinggi kesadaran hukum penduduk suatu negara. Undang-undang Narkotika telah beberapa kali diganti dengan undang-undang baru karena dianggap Undang-undang Narkotika yang lama sudah tertinggal oleh perkembangan dan maraknya penggunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia. Undang-Undang Nomor . peralatan dan tempat yang memadai. maka tidak mungkin upaya pemberantasan tindak pidana narkotika berlangsung dengan lancar. Upaya sosialisasi hukum kepada masyarakat juga harus terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Sosialisasi merupakan salah satu aspek penting dalam proses kontrol sosial sebab untuk dapat mempengaruhi orang-orang agar bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah hukum berlaku. semakin lemah pula kepatuhan hukumnya sebaliknya semakin kuat kesadaran hukumnya semakin kuat pula faktor kepatuhan hukum. BAB 1 PENDAHULUAN 1. maupun dari kalangan penegak hukum. Sarana atau fasilitas tersebut antara lain mencakup sumber daya manusia. Hal ini juga terjadi pada Undang-Undang Narkotika. Kesadaran hukum masyarakat Indonesia masih lemah yang identik dengan ketidaktaatan hukum. Latar belakang Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat kesadaran hukum warganya. organisasi yang baik. tetapi secara sadar pula mereka masih melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum. Faktor berikutnya adalah sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum. Para pemakai dan pengedar narkotika tahu bahwa mengkomsumsi dan mengedarkan narkotika secara melawan hukum adalah tindak pidana. Pada dasarnya masyarakat Indonesia tahu dan paham hukum.

maka penulis mengangkat beberapa persoalan sebagai berikut: a. Upaya sosialisasi hukum dimasyarakat tentang peredaran dan penyalahgunaan nnarkotika di indonesi . Penjara bukan jawaban untuk menyembuhkan pengguna narkotika. maka penerapan wajib lapor bagi pecandu Narkotika harus segera dilakukan. Sampai akhir tahun 2011. Rumusan Masalah Berdasarkan urayan tersebut . Badan Narkotika Nasional RI.849 orang merupakan kasus Narkotika yang selanjutnya diketahui 70% merupakan dari kasus pecandu. Direktorat Bina Kesehatan Jiwa dan instansi terkait dengan sebuah tujuan mulia yaitu untuk mengatasi permasalahan penyalahgunaan narkotika. Oleh karenanya. diperlukan sebuah pola baru yang membantu pengguna keluar dari kecanduan. Rumah Tahanan dan Lembaga Permasyarakatan yang memiliki jumlah kapasitas 96.000 orang telah dihuni Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sejumlah 142. Komunikasi dan sosialisasi harus dilakukan untuk membina kesadaran hukum masyarakat. 2. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bahwa 3.35 Tahun 2009 merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika karena adanya kesadaran yang mendasar bahwa diperlukan upaya rehabilitatif. Pemerintah daerah. khususnya bagi pengguna karena keterbatasan efek jera pemenjaraan dan fasilitas serta sumberdaya yang ada. Dalam hal ini harus ada koordinasi lintas sektoral yang baik antara Kementerian Kesehatan RI.000 orang. Terkait pelaksanaannya Pemerintah juga menetapkan Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika. bukan menempatkan mereka dalam penjara. Demikian juga sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum juga penting. Dan tentunya Pemerintah mengharapkan masyarakat memahami tujuan dari peraturan tersebut dan melaksanankannya. Untuk mengetahui tingkat kesdaran hukum masyarakat dan faktor kesadaran hukum mempunyai peran penting dalam perkembangan hukum. jika tidak akan menjadi kendala dan menimbulkan beberapa persoalan di masyarakat.5 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna Narkoba. Hanya rehabilitas yang akan membawa mereka keluar dari kecanduan. Melihat situasi ini.(Dirjen Pemasyarakatan KemenKumHam). Agar tujuan Pemerintah efektif tercapai perlu diciptakannya suatu sistem hukum yaitu dengan mempersatukan terlebih dahulu struktur sosial yang ada. Tujuannya adalah untuk memenuhi hak Pecandu Narkotika dalam mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosia dengan melibatkan masyarakat. Dari angka tersebut tercatat 34. b. Kepolisian RI.

penghayatan masyarakat terhadap hukum. tetapi lebih jauh adalah merupakan kewajiban pula bagi para pembuat peraturan hukum itu sendiri (legislatif). Peran pemerintah dalam menciptakan suatu sistem hukum dengan mempersatukan struktur sosial yang ada. para eksekutif serta anggota masyarakat secara keseluruhan sebagai pemegang peran. c. Direktorat Bina kesehatan Jiwa. 3. Kesadaran hukum meliputi pengetahuan masyarakat tentang hukum. sehingga mampu memprediksi suatu hukum yang sesuai dan/atau tidak sesuai dengan masyarakat tertentu. Badan Narkotika Nasinal RI. Pemerintah Daerah. tetapi juga berkaitan dengan manusia sebagai subyek (pelaku) hukum yang meliputi. Keharusan untuk memelihara ketertiban hukum tidak saja merupakan tugas aparat penegak hukum. Dalam kaitannya dengan hal tersebut maka permasalahannya yang perlu mendapat perhatian adalah langkah-langkah apa yang . Hukum sebagai suatu norma hanya dapat diterapkan dengan baik dan baru mencapai tujuannya apabila semua anggota masyarakat memiliki kemauan untuk memelihara norma hukum yang menjadi ukuran untuk bertingkah laku serta kemauan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan nyata. pengetahuannya terhadap peraturan hukum (termasuk) isi peraturannya. Kepolisian RI. yang secara empiris dan analitis mempelajari hubungan timbal-balik antara hukum sebagai gejala sosial. dalam hal ini lintas kordinasi disetiap sektoral yaitu Kementrian Kesehatan RI. dengan gejala gejala sosial lain BAB 11 PEMBAHASAN 1. Sosilogi hukum bersifat khas ini adalah apakah kenyataan seperti yang Tertera pada peraturan dan harus Menguji dengan data empiris. Salah satu upaya ke arah itu adalah melalui peningkatan kesadaran hukum masyarakat. Tujuan Dan Manfaat Untuk mengetahui bagaimana Sosiologi hukum senantiasa menguji kesahihan empiris dari suatu peraturan atau pernyataan hukum. Artinya. penghayatannya terhadap hukum serta ketaatannya terhadap hukum. dan ketaatan masyarakat terhadap hukum. Scholten memberikan rumusan sebagai berikut. pemahaman masyarakat tidak boleh terbatas hanya terhadap kaedah hukumnya saja. Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat Dalam rangka pencapaian tujuan penegakan hukum yaitu untuk mewujudkan rasa keadilan. “Kesadaran hukum itu tidak lain dari pada suatu kesadaran yang ada dalam kehidupan manusia untuk selalu patuh dan taat kepada hukum”. menciptakan kepastian hukum dalam masyarakat dan memberikan kemanfaatan bagi anggota masyarakat yang bersangkutan. maka pemeliharaan tertib hukum mutlak diperlukan.

struktur pertahanan keamanan harus diperbaiki. khususnya bagi . Negara berkepentingan untuk memastikan bahwa setiap warga negaranya mampu menikmati berbagai pelayanan mendasar yang diselenggarakan negara termasuk akses pada keadilan. Donald Black dalam bukunya The Behavior of Law mengemukakan bahwa suatu perilaku hukum mempunyai struktur sosialnya sendiri. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika karena adanya kesadaran yang mendasar bahwa diperlukan upaya rehabilitatif. Langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah terkait komitmen pemerintah dan seluruh masyarakat.dapat ditempuh untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat yang pada gilirannya tercipta suatu suasana penegakan hukum yang baik. Karenanya dalam hubungan ini yang harus dipahami bahwa lemahnya penegakan hukum meskipun dapat diartikan sebagai persoalan tekhnis juridis semata. Struktur ekonomi harus diperbaiki. namun lebih jauh memahaminya dari sudut pandang sosiologi di mana elemen masyarakat berkontribusi aktif dalam sistem hukum. struktur politik harus diperbaiki. serta struktur-struktur lainnya yang terdapat dalam sistem sosial yang luas. Oleh karena itu jika kita mengharapkan perilaku hukum masyarakat yang baik. Selama struktur sosial masyarakat tidak terkandung kearah susunan masyarakat yang baik maka selama itu pula perilaku hukum masyarakat sulit untuk mengarah kepada perilaku hukum yang baik. Sebagaimana rasa keadilan memiliki nilai yang bersifat relatif maka ia merupakan proses yang selalu diupayakan hadir dan bukan merupakan faktor yang dengan sendirinya lahir didalam langkah-langkah penegakan hukum itu sendiri. Sebaliknya bila masyarakat cenderung mangabaikan mekanisme penegakan hukum formal dalam suatu sistem akibat penyampaian informasi yang tidak benar dan tidak dapat dipercaya. struktur pendidikan harus diperbaiki. maka langkah awal yang harus ditempuh adalah mempersatukan terlebih dahulu struktur sosial yang ada dalam arti homogen. namun hendaknya jangan dipisahkan dari konteks sosialnya artinya ia bersinggungan dengan komitmen seluruh masyarakat dan pemerintah. Untuk itu strategi yang dapat di lakukan adalah melalui penyampaian informasi yang benar dan dipercaya. Sedangkan hukum itu sendiri adalah sub sistem dalam sistem sosial yang lebih luas. Jika Indonesia menghendaki adanya satu sistem hukum. maka pemerintahlah yang akan menanggung akibatnya karena akan kehilangan legitimasi di mata masyarakatnya sendiri. Sistem Hukum adalah kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan secara erat. adalah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2011. Suatu hukum hanya dapat dilaksanakan dan diterapkan dengan baik apabila dalam masyarakat terdapat suatu struktur yang memungkinkan bagi setiap anggota masyarakat untuk mewujudkan cita-cita hukum tersebut. Dalam konteks ini sebaiknya dalam memaknai penegakan hukum tidak sekedar secara tekhnis sebagai rutinitas tindakan aparat penegak hukum didalam memproses tindakan melawan hukum. Pandangan ini berkait erat dengan suatu asumsi bahwa hukum adalah sebagai produk sistem sosial. maka kita harus menciptakan struktur sosial masyarakat yang baik pula.

pengguna karena keterbatasan efek jera pemenjaraan dan fasilitas serta sumberdaya yang ada. Kita tidak berhadapan dengan orang jahat yang mencelakakan atau mengambil hak orang lain. dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika. tetapi kita sedang berhadapan dengan para orang-orang yang sakit yang tidak dapat mengkontrol diri untuk menggunakan narkotika. Penjara bukan jawaban untuk menyembuhkan . secara tegas bahwa Undang-Undang ini dibentuk untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. memang kebanyakan ahli-ahli hukum masih ingin pemidanaan terhadap pengguna masih tetap dijalankan. memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Kemudian di dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika bertujuan: a. apa lantas kemudian mengambil kebijakan untuk memenjarakan para pengguna yang notabene sebagai korban. Pengalaman terbaik dalam penanggulangan penggunaan Narkotika di manca negara khususnya di Australia. c. dan d. Jika negara tidak mampu untuk menangkap penjahat sesungguhnya yakni pengedar. Di dalam pertimbangan huruf a dan b Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. juga menunjukkan bahwa diversi ke pemulihandan rehabilitasi bagi pengguna Napza terbukti lebih efektif dan murah dibanding pemenjaraan. b. menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi Penyalah Guna dan pecandu Narkotika. Pasal-pasal inilah yang seharusnya menjadi prioritas dalam penegakan hukum bagi pengguna dan pecandu. b. bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan. melindungi. adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mencegah. selengkapnya: a. Jika dikaitkan dengan etika dan moral serta efek jera terhadap pengguna narkotika. termasuk derajat kesehatannya.bahwa untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera. Semangat ini cocok dengan filosofi reintegrasi dari program pemasyarakatan itu sendiri yang telah ada di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang tercantum dalam Pasal 127 ayat (3) dan Pasal 128 ayat (3). Tetapi sekali lagi ahli menekankan bahwa kita sedang berhadapan dengan oran- orang sakit yang butuh bantuan pemulihandan rehabilitasi. kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai salah sate modal pembangunan nasional perlu dipelihara dan ditingkatkan secara terus-menerus. menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

55 dan 56 yang mengatur tentang Rehabilitasi pecandu narkotika. Dalam hal ini Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). keluarga. Dengan demikian. Minimnya sosialisasi tentang berlaku penuhnya Pasal UU No. mewajibkan pecandu dan orang tua/wali pecandu Narkotika agar melaporkan diri/keluarga kepada institusi medis atau institusi sosial yang ditunjuk oleh pemerintah.25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika. penghayatannya terhadap hukum serta ketaatannya terhadap hukum. Untuk efektifnya Undang-Undang No. Hanya rehabilitas yang akan membawa mereka keluar dari kecanduan. bukan menempatkan mereka dalam penjara. Sebagai kelompok advokasi kebijakan NAPZA (Narkotika. Penetapan PP No. 35/2009 yang diatur dalam petunjuk pelaksanaan berupa PP No.25/2011 tentang pelaksanaan wajib lapor pecandu narkotika kemudian ditindaklanjuti oleh Menteri Kesehatan dengan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Terkait pelaksanaan pasal-pasal tersebut diatas. dan masyarakat dalam meningkatkan tanggung jawab terhadap Pecandu Narkotika yang ada di bawah pengawasan dan bimbingannya. Rumah Sakit (RSUP/RSUD). Selain itu juga untuk memberikan bahan informasi bagi Pemerintah dalam menetapkan kebijakan di bidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Oleh karenanya. 35 Tahun 2009. Ketentuan sanksi pidana dan rehabilitasi adalah ketentuan yang bersifat komplementer (saling melengkapi) dan bukan substitusional (pengganti). Psikotropika dan Zat . 2. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menetapkan Peraturan Pemerintah No. wali. Tujuannya adalah untuk memenuhi hak Pecandu Narkotika dalam mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial dengan mengikutsertakan orang tua. diperlukan sebuah pola baru yang membantu pengguna keluar dari kecanduan.35 Tahun 2009. pada 18 April 2011. Lembaga Rehabilitasi Medis dan Lembaga Rehabilitasi Sosial yang telah ditunjuk pemerintah. khususnya pasal 54. Kriteria penjatuhan sanksi pidana wajib memperhatikan ketentuan tentang rehabilitasi 9). 1305/MENKES/SK/VI/2011 tentang Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL).25/2011 menimbulkan beberapa persoalan di masyarakat. 1305/Menkes/SK/VI/2011 dapat diterapkan dengan baik di masyarakat dan membangun kesadaran hukum masyarakat perlu dilakukan penyampaian informasi dengan benar.pengguna narkotika. Pemahaman masyarakat tidak boleh terbatas hanya terhadap kaedah hukumnya saja. Peran pemerintah Dalam Menciptakan Suatu Sistem Hukum UU No. tetapi juga pengetahuannya terhadap peraturan hukum (termasuk) isi peraturannya. pembentuk Undang- Undang memberi keleluasaan kepada hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana kepada penyalah guna narkotika termasuk perintah untuk menjalani rehabilitasi jika terbukti bahwa terdakwa adalah korban penyalahgunaan narkotika. Kealpaan melaporkan diri dan atau melaporkan anggota keluarga akan dikenai sangsi yang diatur dalam Pasal 128. PP No. 25 Tahun 2011 dan SK Menteri Kesehatan RI No.

penyadapan. Pecandu narkotika di seluruh Indonesia belum mendapatkan informasi yang memadai tentang kewajiban melaporkan diri pada IPWL. menghentikan orang yang dicurigai. pemeriksaan. cara memakai zat narkotika serta riwayat rehabilitasi kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai lembaga negara penyelenggara sistem informasi pecandu narkotika. Seperti telah dijelaskan di atas. Dalam hal ini harus ada koordinasi lintas sektoral yang baik antara Kementerian Kesehatan RI. menyita barang bukti. Adapun persoalan yang muncul antara lain: 1. Ketidaksiapan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). hukum adalah sub sistem dalam sistem sosial yang lebih luas. Kepolisian RI. Keengganan pecandu narkotika dan atau orang tua/wali pecandu narkotika melapor pada IPWL dikarenakan pengaturan dalam PP No. 4. Fakta ini membuat tugas lain BNN yang diatur dalam UU 35/2009 Pasal 70 (d) yaitu meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial pecandu . 3. Pasal 75. identitas. lama pemakaian. Dengan kekuasaan yang sedemikian besar. berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. melakukan tes urin. Badan Narkotika Nasional RI. Aliansi Rakyat Indonesia untuk Perubahan Kebijakan NAPZA (SIRABIN) melihat berbagai persoalan yang muncul terkait minimnya sosialisasi tersebut. BNN tugas dan kewenangan yang sama dengan Kepolisian RI dalam penanganan masalah narkotika.25/2011 Pasal 18 dan Pasal 19 menetapkan agar Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial menyampaikan informasi tentang jumlah pecandu narkotika. Pemerintah daerah. Orang tua/wali pecandu narkotika di seluruh Indonesia belum mendapatkan informasi yang memadai tentang kewajiban melaporkan anggota keluarga pada Institusi Medis dan Institusi Sosial yang ditunjuk pemerintah. Jika Indonesia menghendaki adanya satu sistem hukum. maka langkah awal yang harus ditempuh adalah mempersatukan terlebih dahulu struktur sosial yang ada dalam arti homogen. Direktorat Bina Kesehatan Jiwa dan instansi terkait dengan sebuah harapan mulia yaitu untuk mengatasi permasalahan penyalahgunaan narkotika. Tugas Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diatur dalam UU 35/ 2009 Pasal 70 (b) yaitu mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. jenis zat narkotika yang dipakai.Adiktif Lainnya) di Indonesia. dan Pasal 70 (c). BNN berwenang untuk melakukan penyelidikan. 2. mengambil sidik jari dan memotret tersangka penyalah guna narkotika. pemanggilan saksi. memeriksa tanda pengenal diri tersangka. menggeledah. Mahkamah Agung. menangkap dan menahan orang yang diduga melakukan penyalahgunaan narkotika. Hal ini dapat diketahui dari tidak tersedianya informasi yang memadai tentang Prosedur Standar Wajib Lapor beserta informasi berlakunya sangsi bagi pecandu dan orang tua/wali pecandu narkotika.

telah diatur dalam UU No. 35 tentang Narkotika yang berbunyi “Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Wajib Menjalani Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial ” hanya merupakan sebuah dokumen yang sulit untuk diterapkan oleh penyelenggara Negara ketika pecandu berhadapan dengan hukum. kekerasan dan perlakuan yang melanggar HAM selama 13 tahun dibawah penanganan institusi Kepolisian RI menjadi kendala utama pelaksanaan UU No. Menurut dari beberapa sumber para pelaksana program bagi pecandu Narkotika bahwa hal ini disebabkan beberapa faktor. baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat menjadi sulit untuk dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut. faktor-faktor ini harusnya dapat diatasi karena pembiayaan operasional pecandu yang melaporkan dirinya telah diatur sesuai dengan Keputusan Menteri bahwa institusi IPWL dapat mengajukan klaim melalui Dinas Kesehatan setempat kepada Subdit Napza Direktorat Bina Kesehatan Jiwa yang melalui tahapan proses hingga selanjutnya Direktur Bina Keswa dapat membayarkan ke nomor rekening yang telah dilakukan untuk pembayaran klaim tersebut. bahkan program-program pemulihan baik pendekatan medis dan sosial belum banyak mengetahui. tetapi aturan ini hanya berupa himbauan yang bersifat dapat diterapkan maupun tidak. Menggunakan hak sebagai anggota masyarakat untuk menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum atau BNN.35/ 2009 Pasal 106. Sehingga pecandu Narkotika yang telah melaporkan diri dan atau sedang dalam masa perawatan belum memperoleh akses fasisilitas layanan yang sudah tersedia atupun jaminan perlindungan dari aturan-aturan tersebut.11) Di Intitusi Pengadilan juga masih belum efektif berjalan.35/2009 Pasal 54. Namun. kapasitas SDM. diantaranya belum adanya dukungan infrastruktur dan operasional. Infrastruktur yang belum memadai di daerah-daerah juga menjadi alasan Hakim menjatuhkan putusan pidana kurungan kepada pecandu narkoba. Disisi lain. 55 dan 56. sebagai berikut : . Aliansi Rakyat Indonesia untuk Perubahan Kebijakan NAPZA (SIRABIN) mengemukakan pendapat untuk mewujudkan sistem hukum yang lebih baik. pemerasan. belum adanya SK Kepala Dinas Kesehatan yang mendasari era otonomi daerah dan lain sebagainya. yang dikenakan pasal tunggal dari UU Narkotika yakni pasal 111 ataupun pasal 112 yaitu hukuman pidana kurungan. aparat penegak hukum hingga jajaran yang paling bawah juga berada pada ketidaktahuan akan aturan turunan dari UU Narkotika. Sehingga jaminan pecandu Narkotika sesuai dengan pasal 54 UU No. Pengalaman traumatis pecandu narkotika yang mengalami penanganan tak sesuai prosedur.Narkotika. Sementara itu kesiapan SDM di IPWL sendiri telah diberikan pelatihan oleh berbagai pihak baik di tingkat Nasional maupun provinsi. Pecandu narkotika tidak akan mempercayakan data diri mereka berada di tangan sebuah institusi yang menangani rehabilitasi tetapi juga berwenang untuk menangkap dan menyidik pecandu narkotika. meski Hakim telah memperoleh Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 4 tahun 2011 tentang Penempatan Pecandu Narkotika pada Rehabilitasi Medis dan Sosial.

Peninjauan ulang PP 25/2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika dengan melakukan revisi pada Pasal 19 yang memuat kewenangan BNN sebagai penyelenggara sistem informasi pecandu Narkotika. 6. Menunda berlakunya sangsi yang diatur dalam UU No. . 3.35/2009 Pasal 128 sampai adanya revisi pada PP 25/2011 Pasal 19 yang memuat kewenangan BNN sebagai penyelenggara sistem informasi pecandu narkotika. baik tingkat Nasional. 4. Meminta pembatasan akses penguasaan informasi tentang identitas diri pecandu narkotika di Indonesia hanya boleh berada di tangan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial dan bukan di tangan Badan Narkotika Nasional dan Kepolisian RI. BNN dan Polri. Kemenkes dan Kemensos berkewajiban menyiapkan sarana dan prasarana baik Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pendanaan terhadap Institusi Penerima Wajib Lapor di daerah. Menunda pemberlakuan sangsi yang diatur dalam UU No. Provinsi. maupun polsek. 2. 5. diskriminasi. 7.35/2009 Pasal 128 sampai adanya kesiapan Institusi Penerima Wajib Lapor Pecandu di seluruh Indonesia.1. Meningkatkan peranan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Sosial (Kemensos) dalam menangani masalah Rehabilitasi Pecandu Narkotika di Indonesia. WAJIB menindak aparatnya yang melakukan tindak kekerasan. Kab/Kota. pemerasan dan menolak segala bentuk penjebakan dalam mengungkap sebuah kasus narkotika di segala jenjang.

kesadaran hukum. UU No. ketaatan dan kepatuhan masyarakat terhadap kaedah hukum dan pola perilaku hukum masyarakat itu sendiri. maka langkah awal yang harus ditempuh adalah mempersatukan terlebih dahulu struktur sosial yang ada dalam arti homogen. budaya hukum dan masyarakat sebagai pemegang peran untuk mewujudkan sistem hukum yang baik. tidak hanya dipengaruhi oleh faktor juridis semata. maka perlu pula dibenahi struktur masyarakat yang bersangkutan yang terdapat dalam sistem sosial. . 35 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. BAB 111 PENUTUP 1. 2. tetapi juga dipengaruhi oleh faktor non juridis seperti sikap penegak hukum. Kemudian.25 Tahun 2011 berkaitan dengan upaya rehabilitatif dan wajib lapor pecandu narkotika. Kesadaran hukum masyarakat dipengaruhi oleh struktur sosial tempat di mana hukum itu berlaku. SARAN Pemberdayaan masyarakat untuk memelihara tertib hukum. penanggulangan penggunaan Narkotika dengan pemulihandan rehabilitasi bagi pengguna Napza terbukti lebih efektif dan murah dibanding pemenjaraan. Jika Indonesia menghendaki adanya satu sistem hukum. KESIMPULAN Pemberdayaan masyarakat dalam proses penegakan hukum terkait dengan kesadaran hukum yang meliputi peningkatan. sarana dan prasarana. Layanan rehabilitasi medis dan sosial sangat berguna bagi pecandu narkotika untuk memulihkan kesehatannya dari ketergantungan Narkotika. adil dan makmur termasuk derajat kesehatannya yang perlu dipelihara dan ditingkatkan secara terus-menerus melalui upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan. Untuk itu strategi yang dapat di lakukan adalah melalui penyampaian informasi yang benar dan dipercaya. pengetahuan masyarakat terhadap kaedah hukum termasuk pengetahuan dan pemahamannya terhadap isi kaedah hukum. agar efektif diterapkan dengan pembentukan sistem hukum yang baik untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Jakarta. Fak. Spooner. Bukoski.2001. Soerjono. Diversion strategies for Australian drug-related offenders. M. Jurnal Hukum EQUALITY. Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Upaya Penegakkan Hukum. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika . Februari. 2006. Februari. DAFTAR PUSTAKA Arief. Evans. Volume 11 Nomor 1. Undang-Undang No. Fakultas Hukum USU. Drug and Alcohol Review (2001)20. FakultasHukum USU. Jurnal Hukum EQUALITY. Dirjen Pemasyarakatan KemenKumHam. RajaGrafindo Persada. Hall.I. Research of Drug Abuse Prevention:Implications for Programming and Policy. M. Satjipto Rahardjo 1993.1998. Volume 11 Nomor 2. Barda Nawawi. Soekamto. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. Medan Husni.J. 2001. 4 Tahun 2011. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kajian Hukum. Faktor–Faktor yang mempengaruhi Penegak Hukum. & Mattick. 2002. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijaksanaan Pencegahan danPenanggulangan Kejahatan. W. Jakarta. Hukum UI. Medan. Cost Benefit/Cost-Effectiveness. 2006. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Data Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). & R. Makalah Pada Penataran Lanjutan Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kajian Hukum.25 Tahun 2011 Tentang Wajib Lapor Pecandu Narkoba. Moral dan Keadilan Sebagai Landasan Penegakan Hukum yang Responsif. NIDA Research Monograph.. Husni. Citra Aditya Bakti.