You are on page 1of 31

Tipe-Tipe pembelajaran Kooperatif

Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Kooperatif

Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran

Pengertian Pembelajaran Kooperatif
 Pembelajaran Kooperatif
Konsep Belajar I.
Nama/NIM/OFF : Aisyatur Robia
NIM :150341600791
Offering :A
Prodi : S1 Pendidikan Biologi
Tempat: GKB O3 204 FMIPA UM
Waktu : Senin dan Rabu, 26 dan 29 Maret 2017
Konsep yang dipelajari : Pembelajaran Kooperatif, Problem Based Leraning (PBL) dan Problem Solving
Tujuan : Untuk mengetahui Pembelajaran Kooperatif, Problem Based Leraning (PBL) dan Problem Solving
Tujuan :
Dosen Pengampu Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (BDP)
JURNAL BELAJAR

 Problem Based Learning dan Problem Solving

Pengertian PBL dan Problem Solving
Learning) dan Problem
PBL (Problem Based

Solving Komponen-Komponen PBL dan Problem Solving

Manfaat Sintaks PBL dan Problem Solving

Langkah-Langkah PBL dan Problem Solving

Sintaks PBL dan Problem Solving

Kelebihan dan keurangan PBL dan Problem Solving

II. Bukti Belajar
 Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan
pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama
dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang
atau lebih (Nurhadi 2003). Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-
siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk
meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari.
Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang
diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama
mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok
berhasil memahami dan melengkapinya.

2. Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Prinsip model pembelajaran kooperatif yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2)
tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5)
evaluasi proses kelompok (Lie, 2000).

Model pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan
teori pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada
apa yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik
selama aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak
ditransfer begitu saja oleh guru kepada peserta didik, tetapi peserta didik difasilitasi
dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dalam kelompok, dengan
guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan
sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi peserta didik, pembimbing peserta
didik dalam belajar kelompok, pemberi motivasi peserta didik dalam memecahkan
masalah, dan sebagai pelatih peserta didik agar memiliki ketrampilan kooperatif
(Abdurrahman dan Bintoro, 2000).

3. Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Manfaat dari Cooperative Learning antara lain: meningkatkan aktivitas belajar
siswa dan prestasi akademiknya, membantu siswa dalam mengembangkan
keterampilan berkomunikasi secara lisan, mengembangkan keterampilan sosial siswa,
meningkatkan rasa percaya diri siswa, membantu meningkatkan hubungan positif
antar siswa (Lie, 2010).

4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya
tiga tujuan pembelajaran yaitu (Lie, 2000):
1. Meningkatkan hasil belajar akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan social,
tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas
akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam
membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit.
2. Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbada latar
belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas
tugas – tugas bersama.

dan e. Fase 3 : organize students into learning Memberikan penjelasan kepada peserta didik teams tentang tata cara pembentukan tim belajar dan Mengorganisir peserta didik ke dalam tim – membantu kelompok melakukan transisi yang tim belajar efisien. Fase 4 : assist team work and study Membantu tim. . Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability) d. Fase 6 : provide recognition Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha Memberikan pengakuan atau penghargaan dan prestasi individu maupun kelompok. Untuk memperoleh manfaat yang diharapkan dari implementasi pembelajaran kooperatif.tim belajar selama peserta Membantu kerja tim dan belajar didik mengerjakan tugasnya. Interaksi Tatap Muka (Face to Face Interaction) c. mencakup: a. peserta didik Fase 2 : present information Mempresentasikan informasi kepada paserta Menyajikan informasi didik secara verbal. Johnson dan Johnson menganjurkan lima unsur penting yang harus dibangun dalam aktivitas intruksional. Ketrampilan Sosial (Sosial skill). 3. Unsur-unsur Metode Cooperative Learning Menurut Roger dan David Johnson dalam Anita Lie. Saling Ketergantungan Positif (Positif Interdependence) b. Fase 5 : test on the materials Menguji pengetahuan peserta didik mengenai Mengevaluasi berbagai materi pembelajaran atau kelompok- kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Sintak Model Pembelajaran Kooperatif FASE – FASE PERILAKU GURU Fase 1 : present goals and set Menjelaskan tujuan pembelajaran dan Menyampaikan tujuan dan memper siapkan mempersiapkan peserta didik siap belajar. 6. 5. tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sebagai Cooperative Learning. Pengembangan ketrampilan sosial Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain. Evaluasi Proses Kelompok (Group debrieving).

Kelompok ini disebut kelompok asal. setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut.7. 2002): 1. siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama. Dalam kelompok ahli. Pembelajaran Kooperatif Jigsaw. serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika . dan rendah serta jika mungkin anggota berasal dari ras. Gambar 1. Tipe-tipe pembelajaran kooperatif Beberapa tipe pembelajaran kooperatif dan teknik aplikasinya menurut para ahli adalah sebagai berikut (Usman. sedang. Pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk. Dalam tipe Jigsaw ini. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi. Dengan langkah aplikasinya sebagai berikut: a. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. budaya. Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif dan Teknik Aplikasinya.

c. Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal. f. perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai (Santos. 1991). Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). b. selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji). Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Heads Together). Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran. d. Model Jigsaw 2. e. . Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual. Gambar 2.kembali ke kelompok asal. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru.

Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). mengarahkan. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. h. Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara individual. f. Pada proses pembelajaran kooperatif tipe STAD. d. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. g. c. melalui lima tahapan. e. setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama. setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman. dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran. Tipe STAD dikembangkan oleh Slavin (1995) dan merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.Langkah-langkah penerapan tipe NHT: a. Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang digunakan untuk mendukung dan memotivasi siswa mempelajari materi secara berkelompok. Metode NHT 3. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok. lebih jelasnya tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran tersebut adalah: . Gambar 3. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok. b.

Tahap tes individu. b. Dalam kerja kelompok siswa saling berbagi tugas. agar siswa dapat menghubungkan materi yang akan disajikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki. mengenai materi yang telah dibahas. diadakan tes secara individual. dan bukan hapalan. yaitu untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai. d. Tahap perhitungan skor perkembangan individu. yang akan digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok dan tes dilaksanakan secara tertulis melalui tatap muka di kelas. Berdasarkan skor tes awal setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor tes yang diperolehnya. (b) menekankan bahwa belajar adalah memahami makna. Tahapan penyajian materi. (d) memberikan penjelasan mengapa jawaban itu benar atau salah. (c) memberikan umpan balik sesering mungkin untuk mengontrol pemahaman siswa. Skor perolehan individu ini didata dan diarsipkan. Dalam pengembangan materi pembelajaran perlu ditekankan hal-hal sebagai berikut (a) mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang dipelajari siswa dalam kelompok. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok. Lamanya penyajian materi bergantung dengan kekomplekan materi yang akan di bahas. dihitung berdasarkan pada skor tes awal. c. Penghitungan perkembangan skor individu dimaksud agar siswa terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuanya.a. saling membantu memberikan penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Tahap kerja kelompok. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi dengan tujuan mengingatkan siswa terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD: . pada tahap ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yang harus dipelajari. yang mana guru memulai dengan menyampaikan indikator yang harus dicapai dan memotivasi rasa ingin tahu siswa tetang materi yang akan dipelajari.

4. dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI adalah sebagai berikut: a. kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. a. g. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman. Oleh karena itu. suku yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender. Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction). c. b. budaya. mengarahkan. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. d. dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. . Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual. dan rendah). Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individual sehingga akan diperoleh skor awal. e. Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras. Pembelajaran kooperatif tipe STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru. Guru membentuk beberapa kelompok. f. sedang. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi atau permasalahan yang disampaikan guru. menjawab. tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya. Guru memimpin pleno kecil diskusi. Dari cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama. c. d. g. e. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal. mengarahkan. Jika mungkin. . Langkah-langkah pelaksanaan antara lain: a. dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini). b. sedang. b. suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender. dan rendah). saling membutuhkan. Think-Pair-Share Dikemukakan oleh Frank Lyman (1985). Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi. Dalam diskusi kelompok. setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok. 5. dan saling membantu satu sama lain. dan saling tergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. budaya. Guru menyampaikan inti materi atau komptensi yang ingin dicapai. f. Guru membentuk beberapa kelompok. anggota kelompok terdiri dari ras. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman. d. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual. c. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok dua orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan.

Langkah-langkah pelaksanaannya: a. d. g. Dengan pendekatan problem posing siswa dapat pengalaman langsung dalam membentuk pertanyaan sendiri. b. Kesimpulan. Guru memberikan kesimpulan. Picture and Picture. guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkap siswa. Problem Posing. e. Sesuai dengan namanya. Berawal dari kegiatan tersebut. 6. g. Proses berpikir demikian dilakukan siswa dengan cara mengingatkan skemata yang dimilikinya dengan mempergunakannya dalam merumuskan pertanyaan. e. Penutup. Dari alasan/ urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Guru menunjukkan atau memperlihatkan gamabar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi. tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Tipe pembelajaran kooperatif problem posing merupakan pendekatan pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan siswa. Guru menanyakan alasan/ dasar pemikiran urutan gambar tersebut. f. Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Menyajikan materi sebagai pengantar. dan dalam proses pembelajarannya difokuskan pada membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. 7. Problem Solving. c. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. f. 8. Guru menunjuk atau memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar menjadi urutan yang logis. .

(2) tahap eksplorasi (exploration). Dalam proses pembelajarannya siswa dilatih untuk kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah serta difokuskan pada membangun struktur kognitif siswa. dan (5) tahap evaluasi (evaluation). 9. yaitu (1) tahap pendahuluan (engage). 12. peserta didik dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan empat peserta didik yang masing-masing anggotanya melakukan turnamen pada kelompoknya masing-masing. (3) tahap penjelasan (explanation). Pemenang turnamen adalah peserta didik yang paling banyak menjawab soal dengan benar dalam waktu yang paling cepat. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Team Games Tournament (TGT). Tipe CIRC dalam model pembelajaran kooperatif merupakan tipe pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan peserta didik. . Learning Cycle merupakan tipe pembelajaran yang memiliki lima tahap pembelajaran. Learning Cycle (Daur Belajar). (4) tahap penerapan konsep (elaboration). 11. dan dalam proses pembelajarannya bertujuan membangun kemampuan peserta didik untuk membaca dan menyusun rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya.Problem solving (pembelajaran berbasis masalah) merupakan pendekatan pembelajaran yang menggiring siswa untuk dapat menyelesaikan masalah (problem). Pada pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT). Masalah dapat diperoleh dari guru atau dari siswa. 10. Cooperative Script (CS).

b. h. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman. b. Dalam tipe pembelajaran Cooperative Script siswa berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Make a match (mencari pasangan). Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: a. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah). g. c. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. . Dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). yang telah disepakati bersama. 13. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. i. Guru membagi wacana atau materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. Setelah satu babak. d. Langkah-langkah pelaksanaan: a. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. e. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. Model pemebelajaran ini dikemukakan oleh Dansereau dkk (1985). c. f. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Guru membagi siswa berpasangan. kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. demikian seterusnya.

Setelah selesai maka dua orang dari masing-masing kelompok menjadi tamu kelompok yang lain. dimana dalam model ini memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lainnya. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. f. Guru memebrikan penjelasan singkat sekaligus memberikan kesimpulan. PBL (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata. d. Masing-masing kelompok membahas materi yang ada secara kooperatif yang bersifat penemuan. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen. 15. c. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan hasil temuan mereka dan kelompok lainnya. Group Investigation. Dikembangkan oleh Sharan (1992). h.14. Two Stay Two Stray ( dua tinggal-dua tamu). g. 16. . b. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi atau tugas yang berbeda dari kelompok lain. e. Evaluasi. Dua orang yang tinggal dalam kelompok membagikan hasil kerja dan informasi kepada tamu. Siswa bekerjasama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang. Model ini diajukan oleh Spencer Kagan (1992). b. Penutup. PBL (Problem Base Learning). Setelah selesai diskusi juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok. c. d. dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. e. Kelompok mencocokkan dan membahasa hasil kerja mereka. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Langkah-langkah pelaksanaan: a. Sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.

Kenudin masing-msiang siswa diberi satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi dan sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. Sekarang giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagi informasi dan seterusnya. Adapun langkah-langkah pelaksanaan Snowball throwing adalah sebagai berikut: a. b. d.17. e. Inside Outside Circle (IOC). . kemudian menyampaikan materi yang diajarkan guru kepada temannya. c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. sementara siswa yang berada pada lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam. Separuh yang lain membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama dan menghadap kedalam. c. pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan. Snowball throwing. Dikemukakan oleh spencer Kagan. b. Separuh kelas berdiri dan membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar. dimana pada pembelajaran ini siswa saling membagi informasi pada saat bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. d. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 18. Kemudian siswa yang berada pada lingkaran kecil diam di tempat. Dua siswa berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbaga informasi. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. Adapaun langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut: a.

(7) membuat belajan secara inklusif. Penutup. belajar kooperatif juga mempunyai beberapa kelemahan. (6) mengembangkan sikap menghargai diri sendiri. (2) membutuhkan waktu yamg lama untuk guru sehingga kebanyakan guru tidak mau menggunakan strategi kooperatif. dan (9) mengembangkan keterampilan untuk masa depan. dan (4) menuntut sifat tertentu dari siswa. Setelah siswa mendapat satu bola/ satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.  Problem Based Learning dan Problem Solving 1. (2) memperdalam pemahaman siswa. Pengertian PBL (Problem Based Learning) Model pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Kelebihan belajar kooperati menurut Hill & Hill (1993: 1-6) adalah (1) meningkatkan perestasi siswa. sehingga sulit mencapai target kurikulum. 8. Evaluasi. (5) menembangkan sikap positif siswa. Selain mempunyai kelebihan. g. e. f. Seperti yang diungkapkan oleh Burg (2010) bahwa:”Model pembelajaran berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki . (8) mengembangkan rasa saling memiliki. (3) menyenangkan siswa. (3) membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan atau menggunakan strategi belajar kooperatif. misalnya sifat suka bekerja sama. Kemudin kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa kepada siswa lain selama ± 15 menit. Menurut Dess (1991: 411) beberapa kelemahan belajar kooperatif adalah (1) membutuhkan waktu yang lama bagi siswa. h. (4) mengembangkan sikap kepemimpinan.

Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experience Based Education). Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan. Chart shows lower and higher order thinking skills (Sumber: Study. Sedangkan menurut Arends (2008) menyatakan bahwa: ”Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. . Fokus interdisipliner. mengembangkan kemandirian dan percaya diri”. b.sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru”. Komponen-Komponen Pembelajaran Berbasis Masalah Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah dikemkakan oleh Arends. mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi. Belajar Autentik (Autentic Learning). Pembelajaran Bermakna (Anchored Instruction)”. Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Gambar 1. diantaranya adalah : a. 2008) : ”Model pembelajaran berdasarkan masalah) mengacu pada Pembelajaran Proyek (Project Based Learning). Model pembelajaran berdasarkan masalah juga mengacu pada model pembelajaran yang lain seperti yang diungkapkan oleh diungkapkan oleh (Arends. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.com) 2.

Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga sudah dipahami. . 2008). f. membuat inferensi. 2009). e. Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang harus dipecahkan. Mengumpulkan Data.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain. Merumuskan Masalah. c. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial (Suci. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. dan menarik kesimpulan. melaksanakan eksperimen. Kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya (Muhson. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya. e. d. d. Produk. mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi. Pengamatan autentik. Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan menelaah dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang diuji. b. Rumusan masalah berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data yang harus dikumpulkan. mengumpulkan dan menganalisis informasi. c. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang dirasakan oleh manusia dan lingkungan sosial. Merumuskan Hipotesis. Diharapkan peserta didik dapat menentukan prioritas masalah. Menyadari Masalah. peserta didik didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kolaborasi. peserta didik diharapkan dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. 3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah : a. Menguji Hipotesis. Menetukan Pilihan Penyelesaian.

Tahap-2 Guru membantu peserta didik untuk Mengorganisasi peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasi belajar tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Tahap-3 Guru mendorong peserta didik untuk Membimbing penyelidikan individual mengumpulkan informasi yang sesuai.Gambar 2. Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah Tahap Hal yang dilakukan Guru Tahap-1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah. Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning (Sumber: Info Dunia Pendidkan) 4. maupun kelompok melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Tahap-4 Guru membantu peserta didik dalam Mengembangkan dan menyajikan hasil merencanakan dan menyiapkan karya . Orientasi peserta didik pada masalah menjelaskan logistik yang dibutuhkan. memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

2007). video. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self- assessment) dan peer-assessment. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah . Tahap-5 Guru membantu peserta didik untuk Menganalisis dan mengevaluasi proses melakukan refleksi atau evaluasi pemecahan masalah terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. ujian tengah semester (UTS). dan sikap (attitude). dan laporan. Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. 6. 5. PR. Self-assessment. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS).karya yang sesuai seperti laporan. Penilaian dan Evaluasi Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge). kecakapan (skill). maupun kemampuan perancangan dan pengujian. dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. hardware. kuis.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. baik software. Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya (Sudarman. dokumen. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran.

.  Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba. model ini juga mempunyai kelemahan.  Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.Sebagai suatu model pembelajaran. model pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa kelebihan. Disamping keunggulannya.  Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.  Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.  Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik. maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar.  Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru. yaitu :  Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan. diantaranya :  Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.  Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi peserta didik.  Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari.  Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

Pengertian Problem Solving Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Menurut Syaiful Bahri Djamara (2006 : 103) bahwa Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berfikir. mengumpulkan dan menganalisis informasi dan membuat kesimpulan. Sesuai dengan minat siswa sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajari Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan metode pembelajaran problem solving adalah suatu penyajian materi pelajaran yang menghadapkan siswa pada persoalan yang harus dipecahkan atau diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa di haruskan melakukan penyelidikan otentik untuk mencari penyelesaian terhadap masalah yang diberikan. Bersifat familiar dengan siswa iii.Sudirman (1987:146) metode problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Menurut N. Problem Solving 1. sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. Mereka menganalisis dan mengidentifikasikan masalah. Mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki siswa sesuai kurikulum yang berlaku v. Mengandung isu – isu yang mengandung konflik bias dari berita. mengembangkan hipotesis. Ada beberapa kriteria pemilihan bahan pelajaran untuk metode pemecahan masalah yaitu: i. . Berhubungan dengan kepentingan orang banyak iv. rekaman video dan lain – lain ii.

b) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa. Manfaat dan Tujuan dari Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Manfaat dari penggunaan metode problem solving pada proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut. c) Potensi intelektual siswa meningkat. krisis – analisis baik secara individual maupun kelompok Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. Langkah – Langkah Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Penyelesaian masalah menurut J.Gulo (2002:115) dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu Tahap-Tahap Kemampuan yang Diperlukan Merumuskan masalah Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas Menelaah masalah Menggunakan pengetahuan untuk memperinci menganalisa masalah dari berbagai sudut Merumuskan hipotesis Berimajinasi dan menghayati ruang . diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam altenatif d) Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif – mandiri. Menurut Djahiri (1983:133) metode problem solving memberikan beberapa manfaat antara lain : a) Mengembangkan sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan. anggapan yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah c) Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi atau keadaan yang bener – bener dihayati. serta dalam mengambil kepuutusan secara objektif dan mandiri b) Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa. 2. d) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.Dewey dalam bukunya W. 3. a) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.

Kemukakan kepada siswa peristiwa yang bermasalah. Tampunglah setiap pendapat mereka dengan menulisnya dipapan tulis tanpa mempersoalkan tepat atau tidaknya. Dipilih rumusan yang tepat. Mendiagnosis masalah . baik melalui bahan tertulis maupun secara lisan. Setiap pendapat yang ditinjau dengan permintaan penjelasan dari siswa yang bersangkutan. restate) perumusan – perumusan yang kurang tepat. akhirnya di kelas memilih satu rumusan yang paling tepat dipakai oleh semua. Mendifinisikan Masalah Mendefinisikan masalah di kelas dapat dilakukan sebagai berikut: a. atau dirumuskan kembali (rephrase.gambar dan table Pembuktian hipotesis Kecakapan menelaah dan membahas data. sebab – akibat dan alternative penyelesaian Mengumpulkan dan mengelompokkan Kecakapan mencari dan menyusun data data sebagai bahan pembuktian menyajikan data dalam bentuk hipotesis diagram. b. lingkup. kemudian minta pada siswa untuk merumuskan masalahnya dalam satu kalimat sederhana (brain stroming). benar atau salah pendapat tersebut.Gulo 2002 : 117): 1. 2. kecakapan menghubung – hubungkan dan menghitung Ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan Menentukan pilihan penyelesaian Kecakapan membuat altenatif penyelesaian kecakapan dengan memperhitungkan akibat yang terjadi pada setiap pilihan Penyelesaian masalah Menurut David Johnson dan Johnson dapat dilakukan melalui kelompok dengan prosedur penyelesaiannya dilakukan sebagai berikut (W. Dengan demikian dapat dicoret beberapa rumusan yang kurang relevan.

Setelah berhasil merumuskan masalah langkah berikutnya ialah membentuk kelompok kecil. Menentukan dan menerapkan Strategi Setelah berbagai altenatif ditemukan kelompok. 3. selektif. dengan berpikir kovergen 5. 2. Dalam tahap ini kelompok menggunakan pertimbangan. memahami pertentangan diantara berbagai ide. berpikir divergen. kelompok ini yang akan mendiskusikan sebab – sebab timbulnya masalah 3.pertimbangan yang cukup cukup kritis. gambar. Menelaah masalah Dalam menelaah masalah kemampuan yang diperlukan adalah menganalisis dan merinci masalah yang diteliti dari berbagai sudut. Apakah akibat dari penerapan strategi itu (evaluasi hasil) ? Berdasarkan pendapat para ahli. dan lain-lain sebagai bahan pembuktian hipotesis. Menghimpun dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis Menghimpun dan mengelompokkan data adalah memperagakan data dalam bentuk bagan. . Untuk itu kelompok harus kreatif. dan memiliki daya temu yang tinggi 4. maka dipilih altenatif mana yang akan dipakai. Mengevaluasi Keberhasilan Strategi Dalam langkah terakhir ini kelompok mempelajari : (1). maka dapat disimpulkan langkah – langkah yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan pembelajaran problem solving sebagai berikut: 1. Merumuskan Altenatif Strategi Pada tahap ini kelompok mencari dan menemukan berbagai altenatif tentang cara penyelesaikan masalah. Apakah strategi itu berhasil (evaluasi proses)? (2). Merumuskan masalah Dalam merumuskan masalah kemampuan yang diperlukan adalah kemampuan mengetahui dan merumuskan suatu masalah.

. 1996). 5. Gambar 3. Kelebihan dan Kekurangan Pemecahan Masalah (Problem Solving) Pembelajaran problem solving ini memiliki keunggulan dan kelemahan. berpikir dan bertindak kreatif. mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. Menentukan pilihan pemecahan masalah dan keputusan Dalam menentukan pilihan pemecahan masalah dan keputusan kemampuan yang diperlukan adalah kecakapan membuat alternatif pemecahan. memecahkan masalah yang di hadapi secara realistis.4. Adapun keunggulan model pembelajaran problem solving diantaranya yaitu melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. Dalam pembelajaran problem solving ini memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. serta dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan khususnya dunia kerja. Sepp's Counselor Corner) 4. memilih alternatif pemecahan dan keterampilan mengambil keputusan (Sardiman. menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. Misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. Tahapan problem solving (Sumber: Ms. Sementara kelemahan model pembelajaran problem solving itu sendiri seperti beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Pembuktian hipotesis Dalam pembuktian hipotesis kemampuan yang diperlukan adalah kecakapan menelaah dan membahas data yang telah terkumpul.

Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability). mengidentifikasi juga misalnya saat siswa diajak berkunjung ke situs bersejarah. Kolaborasi Muka (Face to Face Interaction). Penerimaan kemampuan berpikir para siswa. Fokus Saling Ketergantungan Positif (Positif interdisipliner. prasasti kemudian mengidentifikasinya. Pengamatan Interdependence). Misalnya dibidang sosial menerapkan prosespengamatan. Produk. Berdasarkan pada teori psikologi Berdasarkan pada teori kognitif dan teori pembelajaran sosial kontruktivisme 3. Interaksi Tatap autentik. Pembelajaran Kooperatif PBL dan PS 1. Membina pengembangan sikap rasa ingin tahu 4. Terdiri atas beberapa unsur yaitu Permasalahan autentik. Pengembangan Mengembangkan sikap ketrampilan sosial keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan. siswa dapat mengamati relief candi. terhadap keragaman. tetapi tidak menutup kemungkinan dapat pula diterapkan pada bidang lain. Tujuannya untuk Meningkatkan hasil Tujuannya Mengembangkan belajar akademik. Identifikasi Masalah  Pembelajaran Kooperatif 1.III. Relevansi No. IV. dan Evaluasi Proses Kelompok (Group debrieving). Ketrampilan Sosial (Sosial skill). Bagaimana cara membuat kelompok tetap kondusif? Jawab: Model pembelajaran ini memamng identic dengan sains. . Pembelajaran berbasis kerjasama yang Pembelajaran berbasis teratur dalam kelompok penyelesaian masalah 2.

memahami siswa itu juga butuh waktu. 5. 2. Guru harus menekankan bahwa permasalahan tersebut penting dalam pembelajaran. contohnya guru harus memerintahkan siswanya untuk membuat resume. Dalam Jigsaw ada kemungkinan siswa hanya mempelajari topic yang hanya satu saja atau hanya berusaha menjawab 1 masalah yang menjadi bagiannya saja. guru juga berhak menegur siswa yang sangat bergantung secara negative. Maka dapat dianggap bahwa siklus belajar siswa telah berhasil. meskipun siswa tersebut tidak terlalu pandai. Dapat dilakukan dengan cara pembagian tugas tiap anak harus jelas. lalu. Bagaimana cara guru mengatasi hal tersebut? Jawab: Adanya kelompok asal dan ahli akan membuat para siswa mendapatkan semua sub. Bagaimana mengatasi hal tersebut? Jawab: Metode PBL masih terlalu awal untuk siswa dan siswa cenderung malas untuk menyelesaikan masalah. 4. siswa tersebut tidak mau menyelesaikan soalnya. tetapi setidaknya pemahamannya bertambah.  Problem Based Learning dan Problem Solving 1.materi dan tugas guru untuk selalu membantu proses dan tujuan belajar agar siswa tetap pada jalurnya. Pemaksaan pada siswa itu diperlukan. Bagaimana jika dalam proses pembelajaran terjadi ketergantungan negative? Jawab:Guru harus pandai memantau dan menginvestigasi. Dan pengalaman konkrit diperoleh dari keaktifan siswa itu sendiri dalam memahami konsepnya misalnya penguatan teori dilakukan dengan cara melaksanakan praktikum. Siswa yang memiliki ketergantungan negative yaitu dimana siswa tersebut memiliki ketergantungan terhadap temannya. Menurut Anda bagaimana tujuan belajar yang baik dan bagaimana menerapkannya dalam kelompok? Jawab: Jika fase-fase dan tahapan telah berhasil dilakukan oleh siswa. Masalah juga tidak . Bagaimana cara membuat kelompok yang heterogen yang tidak hanya berdasarkan nilai? Jawab: Dengan cara memberikan pretest untuk dasar pembentukan kelompok. 3. PBL adalah metode pembelajaran yang efektif akan tetapi saat penerapannya dalam proses pembelajaran kurang disukai oleh siswa.

studi literature sudah termasuk dalam PBL. 2. Elemen yang menarik dari PBL dan problem solving yaitu [embelajaran didasarkan pada pemberiaan permasalahan dengan diberikan masalah dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis. 3. maka cukup dilakukan secara individu. dimana guru disini berperan sebagai fasilitator dan harus mengontrol siswanya. Jika memungkinkan untuk dilakukan secara individu. dan keterampilan sosialnya. masalah dapat dipecahkan secara berkolompok melalui diskusi. PBL dan PS dapat dilakukan secara individu dan kelompok mana yang lebih efektif? Pada PBL dan PS teori belajar apa yang digunakan? Jawab: Hal tersebut tergantung pada materi apa yang sedang dibahas. bergantung pada materi dan kondisi pembelajaran. akan tetapi pada kenyataannya setelah siswa melakukan eksperimen. Permasalahan yang diberikan ke siswa haruslah terstruktur. teori dasar yang digunakan adalah kontruktivisme akan tetapi siswa sudah mulai diarahkan untuk mengkontruksikan pengetahuannya sendiri. menerima keberagaman. ternyata siswa tidak mengetahui dan bingung mengenai eksperimen yang mereka lakukan. Banyak sekali tipe pembelajaran yang bisa diterapkan sesuai dengan kondisi kelas. Jawab: Sebelum dilakukan praktikum siswa harus terlebih dahulu mengetahui apa tujuan dari praktikum tersebut. .Pada model pembelajaran PBL. Apakah media pembelajaran berupa observasi dan wawancara juga termasuk model pembelajaran PBL? Jawab: Wawancara. Action pada PBL tidak selalu eksperimen. boleh terlalu jauh dari apa yang diketahui siswa dan kemampuan kognitif dari siswa. V. Elemen yang menarik Elemen yang menarik dari materi pembelajaran kooperatif adalah siswa di biasakan untuk menyelesaikan maslah dan belajar dalam kelompok dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar akademik. Apabila terlalu sulit. Setidaknya guru harus memberikan peunjuk praktikum atau handout untuk membanu siswa. 4. Tahap 3 dapalam PBL adalah eksperimen. bisa dilakukan secara berkelompok.

M. VII. DAFTAR RUJUKAN Abraham. I. 2. Bandung : JICA Dahar. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. dan kondisi lingkungan siswa. Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. padahal dengan dihadirkannya masalah dalam pembelajaran dapat memacu siswa untu berpikir kritis. 1997. Sehinnga sudah menjadi tugas saya nantinya ketika menjadi guru untuk membut permasalahan semenarik mungkin yang disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa. Hamalik. The Learning Cycle Approach To Science Instruction. 2001. Teori-Teori Belajar. Kajian Implementasi Model Siklus Belajar (Learning Cycle) dalam Pembelajaran Kimia. 1997.narst. 1989. Belajar Mengajar. Metode Belajar Mengajar. 5 September 2005.to the Science Teacher No. Dalam http://www.Wayan. Jakarta : Bumi Aksara.Jakarta : Penerbit Erlangga Dasna. . Oemar. Common Textbook Strategi Belajar Mengajar. Mulyati. R. dengan banyaknya tipe pemebelajaran dapat mempermudah proses penyampaian materi kepada siswa bergantung pada materi dan kondisi kelas. Bandung : Alfabeta Arifin. Refleksi Diri (Umum) Saya dapat memahami tipe pembelajaran pada model pembelejaran kooperatif.org/publications/research/cycle. dkk.Jan. 2001.VI.2005. Sri W. R. siswa tidak akan merasa bosan dengan pembelajaran di kelas. Refleksi Diri (Khusus) Saat di kelas siswa ketika diberi permasalahan mungkin akan cenderung tidak menyukainya. 9701. sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik. 2000. Dengan adanya tipe pemebelajaran ini. Research Matters .W.cfm diakses 12 Maret 2017 Anita.

1988. . Sanjaya. Jakarta: Prestasi Pustaka. L. Lucas. Broderick. Lawson A. Westport. 2010.Kuklthau. Paper presented at the annual convention of the National Association for Research in Science Teaching. Wibowo. Tanggal Akses: 12 Maret 2017. Universitas Terbuka. CT & London: Libraries Unlimited. 2007. Wina.K. Penggunaan Strategi Pembelajaran Learning Cycle- Cooperative Learning 5E (LCC-5E). C.edu/uploads/paper_skripsi_dik/PENERAPAN%20MODEL %20PEMBELAJARAN%20SIKLUS%20BELAJAR%20(LEARNING %20CYCLE)%205E%20DALAM%20MENINGKATKAN%20HASIL %20BELAJAR%20SIS WA%20PADA%20MATAPELAJARAN %20TEKNOLOGI%20INFORM ASI%20DAN%20KOMUNIKASI. Materi dan Pembelajaran IPA SD. Online. Sutarno. Tersedia di: http://cs. Lake Ozark.pdf. E. Guided inquiry: Learning in the 21st century. & Caspari.. Maniotes.. 5 September 2005. & Bohanan. Jakarta Trianto. Ari. R. Jakarta : Kencana. MO. S. 2005.upi. N. dkk. 2005. D. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.. Lehrer. Making the grounds of scientific inquiry visible in the classroom. Prayitno. “Three Types of Learning Cycle s: a better way to teach science”.K. 2007. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. Science Scope Rahayu. Penerapan Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle) 5E Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Matapelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Kontruktivistk..C. Nono. R.. A. 2006. Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya.. 2007.