You are on page 1of 27

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkat dan RahmatNya pula

saya dapat menyelesaikan referat ini. Adapun penulisan referat berjudul ”Atonia Uteri” yang

merupakan bagian dari tugas Kepaniteraan Klinik di Bagian Obstetri dan Ginekologi di RSUD

DAYA Makassar.

Ucapan terima kasih saya kepada : dr. Abd Rahman, Sp.OG (K) selaku pembimbing

dan juga masukan dari semua pihak yang telah membantu dalam penulisan referat ini.

Saya menyadari referat ini masih banyak kekurangan, untuk itu saya mohon kritik

maupun saran yang bersifat membangun. Sebagai penutup semoga kiranya referat ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Wasalammualaikum Wr. Wb

Mengetahui

( dr Abd
Rahman Sp. OG (K) )

BAB I
PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat

kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah

ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan

kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾

resiko jumlah kematian ibu.

Angka kematian ibu (AKI) diperkirakan terjadi 287.000 di seluruh dunia pada tahun 2010,

dengan angka kematian ibu yaitu 210 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Sebagian besar

kematian ibu terjadi di negara- negara berkembang, Berdasarkan Survey Demografi dan

Kesehatan Indonesia (SDKI), survey terakhir menunjukan adanya peningkatan signifikan AKI

dari 228 (tahun 2007) menjadi 359 (tahun 2012) per 100.000 kelahiran hidup. Sungguh

mengenaskan, AKI yang sangat tinggi itu artinya Indonesia bahkan jauh lebih buruk dari negara-

negara paling miskin di Asia, seperti Timor Leste, Myanmar, Bangladesh dan Kamboja.

Indonesia kini telah berpredikat terbelakang di Asia dalam melindungi kesehatan Ibu. Darurat

kematian ibu ini harus diakhiri dengan keseriusan dan tindakan segera.

Beberapa penyebab kematian maternal di Indonesia yang paling sering adalah perdarahan

pasca persalinan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), abortus (5%), partus lama/macet (5%),

emboli obstetri (3%), trauma obstetri (5%), komplikasi puerperium (8%), dan lain lain (11%).

Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian ibu. Di berbagai negara paling

sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh pendarahan. Tiga penyebab

diagnosis dini. dari semua kasus perdarahan postpartum sebesar 70 % disebabkan oleh atonia uteri. . Atonia uteri menyebabkan terjadinya perdarahan yang cepat dan parah dan juga shock hypovolemik. Perdarahan akibat atonia uteri dapat menjadi ancaman. merupakan kunci untuk mengurangi dampak tersebut. dan sisa-sisa jaringan .terbesar perdarahan pasca salin diantaranya atonia uteri. dan manajemen yang benar. sehingga pencegahan. laserasi jalan lahir.

yakni peritoneum . sedangkan korpus uteri adalah bagian dari uterus yang paling terbesar. Saluran ini dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks. berbentuk seperti saluran lonjong dengan panjang 2.5 cm. dan 3) lapisan serosa. 2) pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada di atas vagina. berbentuk sel- sel torak bersilia dan berfungsi sebagai reseptakulum seminis.1 Anatomi dan Fisiologi Uterus Uterus berbentuk seperti buah advokad atau buah pir yang sedikit gepeng. Rongga yang terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri (rongga rahim). Serviks uteri terdiri atas 1) pars vaginalis servisis uteri yang dinamakan porsio. Letak uterus dalam keadaan normal adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina. Fundus uteri adalah bagian dari uterus yang proksimal. pada suatu kehamilan bagian ini memiliki fungsi sebagai tempat janin berkembang. dan tebal dinding 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pintu saluran serviks sebelah dalam disebut ostium uteri internum dan pintu di vagina disebut ostium uteri eksternum.25 cm. 2.5 cm. 3 Secara histologik dari dalam ke luar. 3 Saluran yang terdapat dalam serviks disebut kanalis servikalis. sedangkan korpus uteri ke depan dan membentuk dengan serviks uteri)3 Uterus terdiri atas 1) fundus uteri 2) korpus uteri dan 3) serviks uteri. Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. 2) otot-otot polos. uterus terdiri atas (1) endometrium di korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri. kearah depan.

Pembuluh darah ini berasal dari arteria Iliaka Interna (disebut juga arteria Hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum masuk ke dalam uterus di daerah serviks kira-kira 1.3. Endometrium terdiri atas epitel kubik. Arteri ini berjalan dari lateral dinding pevis melalui ligament infundibulo-pelvikum mengikuti tuba fallopi.serabut saraf tersebut diatas meberikan inervasi pada miometrium dan endometrium. Endometrium melapisi seluruh kavum uteri dan mempunyai arti penting dalam siklus haid perempuan dalam masa reproduksi.4 kemudian selanjutnya memasuki pleksus frankenhauser. sedangkan parasimpatik sebaliknya yaitu mencegah kontraksi dan menimbulkan vasodilatasi. beranastomose dengan ramus asenden arteri uterine di sebelah lateral. Bersama.viserale. 3 Vaskularisasi uterus oleh arteria uterina kiri dan kanan yang terdiri atas ramus asendens dan ramus desendens. Serabut. pemendekan otot rahim lebih besar. Pembuluh darah lain yang memberi pula darah ke uterus adalah arteria ovarika kiri dan kanan. tenaga dapat disebarkan ke segala arah karena . sistem parasimpatetik dan serebrospinal. Berbeda dengan otot polos lain.3 Tiga lapisan otot pada uterus yaitu lapisan luar longitudinal. System parasimpatetik berada di dalam panggul sebelah kiri dan kanan os sacrum. berasal dari saraf 2.sama dengan arteri diatas terdapat pembuluh darah vena yang kembali melalui pleksus vena ke vena hipogastrika. Saraf simpatik menimbukan kontraksi dan vasokonstriksi. dan diantara dua lapisan ini terapat lapisan dengan otot beranyaman tikar. kanan dan kiri uterus. 3 Inervasi uterus terutama terdiri atas sistem saraf simpatetik.5 cm di atas forniks lateralis vagina. System simpatik masuk ke rongga panggul sebagai pleksus hipogastrik melalui bifurcatio aorta dan promontorium kemudian menuju ke pleksus frankenhausser. lapisan dalam sirkular. kelenjar-kelenjar dan jaringan dengan banyak mengandung pembuluh darah yang berkelok-kelok.

mekanisme kontraksi ada dua yaitu akut dan kronik. His yang sempurna bila terdapat kontraksi yang simetris. kontraksi paling kuat pada fundus uteri dan sesudah itu terjadi relaksasi. dengan jangka waktu antara kontraksi 2 sampai 4 menit. tetapi frekuensinya berkurang. Aktifitas miometrium dimulai saat kehamilan.susunannya tidak terorganisasi secara memanjang sehingga memudahkan terjadi pemedekan. Sesudah 24 jam persalinan intensitas dan frekuensi his menurun. Meningkatnya kontraksi Ca2+ bebas dalam sel memicu satu reaksi berantai yang . Sesudah 36 minggu aktifitas uterus akan lebih meningkat sampai persalinan mulai.4 Ditingkat sel. Dan juga durasinya dari 20 detik pada permulaan partus sampai 60-90 detik pada akhir kala 1 atau pada permulaan kala II. His pada usia kehamilan 30 minggu terasa lebih kuat dan lebih sering. besar janin. 4 Beberapa faktor diduga berpengaruh dalam kontraksi rahim yaitu besar rahim. Amplitudo uterus meningkat sampai 60 mmHg pada akhir kala 1 dan frekuensinya menjadi 2-4 kali tiap 10 menit. amplitude his masih tinggi + 60 sampai 80 mmHg. His yang sempurna dan afektif bila ada kontraksi simetris dengan dominasi di fundus uteri dan mempunyai amplitudo 40-60 mmHg yang berdurasi 60 sampai 90 detik. Pada kala II ibu menambah kekuatan uterus yang sudah optimum dengan adanya peningkatan tekanan intra abdomen. berat badan ibu dan lain. Pada kala III atau kala uri yang berlangsung 2 sampai 6 menit. meningkatkan kapasitas tekanan dan menyebabkan tidak bergantung pada letak atau presentasi janin. Yang akut disebabkan masuknya ion kalsium (Ca 2+) kedalam sel yang dimulai dengan depolarisasi membrane sel. dan pada relaksasi tonus uterus kurang dari 12 mmHg.lain. 3 His yang paling tinggi di fundus uteri yang lapisan ototnya paling tebal dan puncak kontraksi terjadi simultan di seluruh bagian uterus.

Yang menyebabkan uterus mulai berkontraksi belum diketahui sampai saat ini. Sementara itu.proteins). Anatomi uterus . mekanisme yang kronik diakibatkan pengaruh hormon yang memediasi transkripsi gen yang menekan atau meningkatkan kontraktilitas sel yaitu CAP (Contraktion Associated. Diperkirakan adanya sinyal biomolekular dari janin yang diterima oleh otak ibu akan memulai kaskade penurunan progresteron. 4 Gambar 1. estrogen dan peningkatan prostaglandin dan oksitosin sehingga terjadi tanda.menyebabkan pebentukan hubungan (cross-bridge) antara filament aktin dan myosin sehingga sel berkontraksi.tanda persalinan.

Gambar 2. Organ reprduksi wanita tampak dari samping .

2 Atonia Uterus 2. hal ini disebabkan karena kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh. Gambar 3. Sistem vaskularisasi pada organ rahim 2.1 Definisi Atonia uteri adalah keadaan dimana uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri setelah plasenta lahir. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas .2. melebar. lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan.

2.3 Diagnosis Tanda dan Gejala6 . Mioma uteri yang mengganggu kontraksi Rahim 6. polihidramnion. Regangan Rahim berlebihan karena kehamilan gemeli. Rouse dkk(2003) meneliti 23. 5 Baberapa faktor yang dapat menyababkan Atonia uteri 5 : 1.900 perempuan yang mengalami pelahiran Caesar untuk pertama kalinya dan melaporkan bahwa separuh antara mereka yang mengalami atonia tidak memiliki faktor risiko. Atonia uteri menyebabkan terjadinya perdarahan yang cepat dan parah dan juga shock hypovolemik. Ada riwayat pernah atonia uterus sebelumnya 8.seluruhnya. kemmpuan untuk mengetahui perempuan mana yang akan mengalami atonia masih terbatas. Infeksi intrauterine (korioamnionitis) 7. Tindakan operasi dengan anestesi terlalu dalam. atonia uterus paling tidak dapat diantisipasi dengan baik jauh sebelum pelahitan. Ibu dengan keadaan umum yang jelek anemis atau menderita penyakit menahun 5.2 Faktor Risiko Pada banyak perempuan. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep 3. Kehamilan grande multi para 4. 5 2.2. Meskipun faktor risiko diketahui dengan baik.2. atau anak terlalu besar 2.

Urine yang sedikit ( < 30 cc/ jam) Perlu diperhatikan bahwa pada saat atonia uteri didiagnosis. Nadi cepat dan lemah (110 kali/ menit atau lebih) b. Gelisah. Fundus uteri naik 4 . Sangat sulit untuk memperkirakan kehilangan darah secara tepat Karena darah seringkali bercampur dengan air ketuban atau urin dan mugkin terserap handuk. pusing dan kesadaran menurun serta tekanan darah sistolik turun 10 mmHg dari kondisi sebelumnya maka telah terjadi perdarahan > 500 ml.Terdapat tanda-tanda syok a. bila ibu mengalami syok hipovolemik. maka pada saat itu juga masih ada darah sebanyak 500-1000 CC yang sudah keluar dari pembuluh darah tetapi masih terperangkap dalam uterus dan harus diperhitungkan dalam kalkulasi pemberian darah pengganti. Pucat d. Perdarahan pervaginam adalah perdarahan Aktif yang sangat banyak dan bergumpal 2. Pernafasan cepat frekuensi 30 kali/ menit atau lebih f. Konsistensi rahim lunak. maka ibu telah mengalami kehilangan darah 50 % dari jumlah darah ibu (2000-2500). 1. bingung atau kehilangan kesadaran g. Tekanan darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg c. Menggunakan pispot di bokong ibu untuk menumpulkan darah juga bukanlah cara yang efektif. (Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya) 3. Apabila kehiangan darah menyebabkan ibu lemas. 6 . kain atau sarung.cara tak langsung untuk mengukur kehilangan darah adalah melalui penampakan gejala dan tekanan darah. Keringat/ kulit terasa dingin dan lembap e.

Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 . yaitu: 1.2. Jika . Tangan lain menegangkan tali pusat. Masase uterus segera setelah plasenta dilahirkan agar uterus tetap berkontraksi.5 Manajemen aktif kala III terdiri atas intervensi yang direncanakan untuk mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan kontraksi uterus dan untuk mencegah perdarahan postpartum dengan menghindari atonia uteri. di tepi atas simfisis. Melakukan penegangan tali pusat terkedali meliputi 7 : 1. Atonia uteri dapat dicegah dengan Manajemen aktif kala III. anemia.5 Pencegahan Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan postpartum lebih dari 40%. tegangkan tali pusat kearah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas (dorso-kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri) jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik. Meletakkan 1 tangan diatas kain pada perut ibu.10 cm dari vulva. 3. Setelah uterus berkontraksi. 2. untuk mendeteksi.2. Memberikan obat oksitosin 10 IU segera setelah bahu bayi lahir. hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur di atas. 2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali. dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. dan kebutuhan transfusi darah. Manajemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan. 3.

Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir. Pemeriksaan Plasenta a. Insersi tali pusat apakah sentral. uterus tidak segera berkontraksi. Tali pusat : jumlah arteri atau vena yang terputus untuk mendeteksi plasenta suksenturia. b. Jika tali pusat bertambah panjang. mengikuti poros jalan lahir (tetaplakukan tekanan dorso-kranial). minta ibu. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan. lahirkan plasenta dengan kedua tangan. pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10cm dari vulva dan lahirkan plasenta. Melakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas. bagian maternal: jumlah kotiledon. keutuhan pinggir kotiledon. serta panjang tali pusa . Saat plasenta muncul di introitus vagina. 5. minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas. Mengeluarkan Plasenta7 a. c. Selaput ketuban utuh atau tidak b. marginal. lakukan masase uterus. suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu. letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras). Plasenta : ukuran plasenta. bagian fetal : utuh atau tidak c. 4.

difiksasi dengan karet gelang dan diisi cairan infus 200ml yang akan mengurangi perdarahan dan menghindari tindakan operatif.m.c c) Memberikan derivate prostaglandin F2a yang kadang memberikan efek samping berupa diare. 2. Pada umumnya dilakukan secara simultan (bila pasien syok) 1. Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. febris dan takikardi d) Pemberian misoprostol 800-1200 per rektal e) Kompresi bimanual eksternal dan atau internal f) Kompresi aorta abdominalis g) Pemasangan”tampon kondom”. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. tindakan pertama yang harus dilakukan bergantung pada keadaan kliniknya. Masukkan plasenta ke dalam kantong plastik atau tempat khusus. dan memberikan oksigen 2. mual muntah. segera lakukan penjahitan. sikap trendelenburg.6. Pasien masih bisa dalam keadaan sadar. memasang venous line. kondam dalam cavum uteri disambung dengan kateter. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. b. iv atau s.2.4 Penanganan Banyaknya darah yang hilang akan mempengaruhi keadaan umum pasien. sekaligus merangsang kontraksi uterus dengan cara a) Masase fundus uteri dan merangsang putting susu b) Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui suntikan secara i. Menilai perdarahan a. . sedikit anemis. hipertensi. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif. atau sampai syok berat hipovolemik.

Tindakan darurat yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan pasca salin. Dalam melakukan kompresi bimanual eksterna ini.2004) 2. demikian juga . Kompresi bimanual eksterna 2.1997) Kompresi bimanual dibagi dalam dua cara yaitu : 1.1996-1997) 3. waktu sangat penting. Menekan rahim diantara kedua tangan dengan maksud merangsang rahim untuk berkontraksi dan mengurangi perdarahan (depkes RI. Penolong dapat menganjurkan pada keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksterna sambil penolong melakukan tahapan selanjutnya untuk penatalaksanaan atonia uteri.antara lain sebagai berikut: 1. Kompresi bimanual ini diteruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan perdarahan dapat dihentikan. Kompresi bimanual adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan segera homorrage postpartum.Komperesi Bimanual Ada beberapa macam pengertian dari kompresi bimanual.(varney. Kompresi bimanual interna Kompresi bimanual eksterna Kompresi bimanual eksterna merupakan tindakan yang efektif untuk mengendalikan perdarahan misalnya akibat atonia uteri.ini dapat di uji dengan melepaskan sesaat tekanan pada uterus dan kemudian mengevaluasi konsistensi uterus dan jumlah perdarahan.dinamakan demikian karena secara literature melibatkatkan kompresi uterus diantara dua tangan.(depkes RI.

gantillah sarung tangan atau cucilah tangan sebelum memulai tindakan ini. Letakan satu tangan pada dinding perut dan usahakan sedapat mungkin bagian belakang uterus. Letakan tangan dan lain dalam keadaan terkepal pada bagian depan kurpus uteri. sedapat mungkin . 2. Gambar 4. Kompresi Bimanual Eksterna Kompresi Bimanual Interna .kebersihan. 3. Teknik kompresi Bimanual eksterna : 1. Kemudian rapatkan kedua tangan untuk menekan pembuluh darah ke dinding uterus dengan jalan menjepit uterus diantara kedua tangan tersebut.

Tangan kanan diletakan pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan dengan ibu jari di depan serta jari-jari lain di belakang uterus. teruskan melakukan KBI selama 2 menit. Gambar 5. yaitu tangan kanan melaksanakan massage pada uterus dan sekalian menekannya terhadap tangan kiri. Sekarang korpus uteri terpegang antara 2 tangan antara lain. Kompresi Bimanual Interna adalah tangan kiri penolong dimasukan ke dalam vagina dan sambil membuat kepalan diletakan pada forniks anterior vagina. pantau kondisi ibu secara melekat selama kala IV . Kompresi bimanual Interna Evaluasi hasil kompresi bimanual internal:  Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang. kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina.

penekanan yang tepat akan menghentikan atau mengurangi denyut arteri femoralis Gambar 6. tegak lurus dengan sumbuh badan. ajarkan pada keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal. kemudian teruskan dengan langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. pertahankan posisi tersebut lalu genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilicus. periksa perineum. Caranya yaitu dengan meraba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri.  Jika uterus berkontraksi tetapi perdarahan terus berlangsung. segera lakukan penjahitan bila ditemukan laserasi. hingga mencapai kolumna vertebralis. Kompresi Aorta Abdominalis Kompresi Aorta Abdominal dilakukan untuk menghentikan perdarahan akibat atonia uteri. vagina dan serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut.  kontraksi uterus tidak terjadi dalam 5 menit. Kompresi aorta abdominalis .

3. Gambar 7. uterina. Penolong dan asisten memasang sarung tangan. Dulu. Namun tamponade dengan kassa ini menuai issu infeksi tinggi dan risiko trauma. 2. yaitu dengan penggunaan kondom kateter Langkah pemasangan tamponade kateter kondom adalah sbb: 1.Tampon Kondom Tamponade uterus merupakan salah satu upaya mengontrol perdarahan postpartum karena atonia. Posisi pasien lithotomi. tamponade uterus menggunakan kassa yang telah dipadatkan. Prinsif kerjanya adalah menekan cavum uteri dari sisi dalam ke arah luar dengan kuat sehingga terjadi penekanan pada arteria sistemik serta memberikan tekanan hidrostatik pada a. Kondom Diikatkan pada kateter . Masukkan kateter pada kondom. jika tampon kurang padat dapat mengakibatkan perdarahan tersembunyi. Saat ini tamponade uterus dilakukan dengan balon. ikat dengan benang yang kuat dan ikatan yang kuat. Selain itu.

sambil diberikan drip oksitosin untuk mempertahankan kontraksi uterus (minimal sampai 6 jam paska tindakan) . Gambar 8 Kondom Kateter yg telah diikat dimasukkan ke dalam cavum uteri 6.5. Observasi perdarahan dan kontraksi uterus selama pemasangan kondom kateter 24-48 jam. Dengan bantuan spekulum sim dan klem untuk melihat area. Jika telah penuh. masukkan gulungan kasa pada vagina untuk memfiksasi. masukkan kateter kondom dalam cavum uteri. Bagian luar kateter disambungkan dengan ujung tali infus dan difiksasi dengan benang. Alirkan cairan (normal saline) melalui kateter ke dalam kondom di cavum uteri sampai seluruh cavitas penuh (ditandai dengan terhentinya aliran cairan).

histerektomi supravaginal 4. Gambar 9. operasi ransel B Lynch 3. ligasi arteri uterine atau arteri ovarika 2. histerektomi total abdominal2 . Alternatifnya berupa 1. Larutan infus dialirkan ke dalam kondom guna menghentikan perdarahan Bila semua tindakan ini gagal maka dipersiapkan untuk tindakan operatif laparotomy dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi.

Mulai resusitasi volume1 . tidak boleh ada waktu yang terbuang karena melakukan upaya serampangan untuk mengendalikan perdarahan tetapi langkah-langkah tatalaksana berikut harus dimulai4 1. yang merupakan ukuran yang baik untuk perfusi ginjal 8. Pasang kanula intravena berdiameter besar kedua sehingga kristaloid dan oksitosin dapat dilanjutkan bersama-sama dengan pemberian darah 4. Inspeksi serviks dan vagina secara menyeluruh untuk mencari laserasi setelah divisualisasikan setelah adekuat 7. Panggil bantuan 3. Mulai kompresi bimanual uterus. 2. Pasang kateter foley untuk memantau keluaran urin. termasuk dalam beberapa kasus ruptur uterus1 Jadi jika perdarahan berlanjut. prosedur sederhana yang dapat mengendalikan sebagian besar perdarahan uterus. Eksplorasi kavitas uteri secara manual untuk mencari fragmen plasenta yang tertinggal atau laserasi 6. Teknik ini terdiri atas pemijatan sisi posterior uterus dengan tangan yang diletakan pada abdomen dan pemijatan dinding anterior uterus melalui vagina dengan tangan lain yang di kepalkan.Perdarahan yang tidak berespon terhadap oksitosin Perdarahan yang berlanjut setelah pemberian berulang oksitosik dapat disebabkan oleh robekan jalan lahir yang terlewatkan. Mulai tranfusi darah 5.

jahitan ini tampak seperti bretel atau brace yang menekan dinding anterior dan posterior menjadi satu. memiliki teknik yang sulit dan memerlukan banyak waktu jika akhirnya diperlukan histerektomi5. Price dan B-lynch (2005) merangkum 17 laporan dan melaoprkan bahwa 44 di antara 46 prosedur bermanfaat. sepertiganya memerlukan hsterektomi. intervensi bedah dapat menyelamatkan jiwa. 9. insiden . Dengan tranfusi darah sekaligus kompresi uterus manual dan pemberian oksitosin intravena jarang diperlukan tindakan tambahan. yang dilakukan dengan memasangkan sepasang penopang vertical yaitu jahitan khromik #2 di sekeliling uterus. Pada laporan pendahuluan lainnya. kekhawatiran kami adalah prosedur ini. ligase arteria uterine kurang bermanfaat untuk perdarahan akibat atonia uterus dibandingkan dengan manfaatnya untuk memperpanjang waktu jika dilakukan histerektomi saat pelahiran Caesar. Selain tingginya angka kegagalan. Hal lain yang juga diperdebatkan adalah apakah ligase arteri iliaka interna bermanfaat untuk atonia uterus. Pengalaman kami tidak sesukses ini. Laporan mengenai komplikasi akibat jahitan kompresi lambat laun bermunculan. Menurut pengalaman kami. tapi jelas teknik ini efektif Pada sejumlah kasus. menggambarkan suatu teknik bedah untuk atonia pascapartum berat. B-Lynch. memaparkan mengenai 36 perempuan yang pernah mengalami prosedur ini untuk atonia pasca partum. Padaa saat ini.1 Tatalaksana bedah atoni uterus Pada atonia uterus yang tidak terkendali dan tidak berespons terhadap tindakan- tindakan diatas. Dari india Jashi dalam Ilmu Kebidanan Prawiroharjo S. Penjahitan Kompresi uterus Pada tahun 1997. Saat diketatkan dan diikat. B-Lynch 2005 mengutip 948 kasus dengan hanya 7 kegagalan.

tetapi kemungkinan rendah. Namun teknik yang lebih baru telah mengurangi sebagian kekhawatiran ini. alternative lain uterus atau pelvis dapat dipak secara langsung dengan kassa5 . Dalam satu teknik. ujung kateter foley 24 F dengan balon 30 ml dimasukan ke dalam cavitas uteri dan diisi dengan 60-80 ml salin. ujung yang terbuka memungkinkan drainase uterus terus menerus. nekrosis iskemik uterus disertai peritonitis pernah dipaparkan dalam beberapa laporan kasus. 1 Packing Uterus Teknik ini harus dipertimbangkan pda perempuan dengan perdarahan pascapartum refrakter yang berkaitan dengan atonia uterus dan bergharap dapat memperahankan kesuburannya. Jika perdarahan berhenti. Teknik yang sempat popular pada paruh pertama abad ke 20 ini kemudian tidak banyak lagi dilakukan karena kekhawatiran akan terjadinya infeksi dan perdarahan terselubung. kateter umumnya dikeluarkan setelah 12-14 jam.komplikasi tidak dketahui.

Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep 3. BAB III KESIMPULAN Atonia uteri adalah keadaan dimana uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri setelah plasenta lahir. polihidramnion. Tindakan kompresi bimanual eksterna dan Interna merupakan salah satu rangkaian tindakan medis yang dilakukan guna mencegah kehilangan banyak darah pasca persalinan dengan cara Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi . Regangan Rahim berlebihan karena kehamilan gemeli. Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya perdarahan. atau anak terlalu besar 2. Infeksi intrauterine (korioamnionitis) 7. Atoni uteri merupakan salah satu kegawat daruratan obstetrik yang memerlukan penanganan medis yang segera dan tepat untuk mencegah perdarahan pada pasca persalinan dan menyelamat nyawa ibu hamil. hal ini disebabkan karena kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh. melebar. lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas 5 seluruhnya. Tindakan operasi dengan anestesi terlalu dalam. Ada riwayat pernah atonia uterus sebelumnya 8. Baberapa faktor yang dapat menyababkan Atonia uteri :1. Kehamilan grande multi para 4. Mioma uteri yang mengganggu kontraksi Rahim 6. Ibu dengan keadaan umum yang jelek anemis atau menderita penyakit menahun 5.

uterus. .lalu memantau aliran darah yang keluar. dan di pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi. . Bila perdarahan berkurang. kompresi diteruskan.

Jahitan B-Lynch Sebagai Manajemen Alternatif Bedah Konservatif Pada Atonia Uteri. Oxford: Mc Graw Hill Medical. 5. hal : 523-528. bloom S L et al. 23rd Edition. Cunningham F G. Anatomi Alat Reproduksi. 2007. Joewono T H. Bina Pustaka Sarwono Praworohardjo 2009. Ngurahanom I G. Desember 2011 [cited 20 Maret 2015]Didapat dari: URL: http://igustingurahanom. Jakarta: PT. 2010 7.pdf. Boyle. His dan Tenaga Lain Dalam Persalinan. Bina Pustaka Sarwono Praworohardjo 2009. Asuhan Persalinan Normal. 6. Pribadi A.org/new/ck_ uploads/files/Prakarsa %20Policy_Oktober_Rev3-1. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : EGC. 2009. Prawirohardjo S. Edisi Keempat. Jakarta: PT. h 115-29 4. Mose J C.angka kematian ibu melonjak. Indonesia mundur 15 tahun. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.com/2011/12/jahitan-b-lynch-sebagai- manajemen_2333. Perdarahan Post Partum Ilmu kebidanan. h 288-95. DAFTAR PUSTAKA 1. Edisi Keempat. Bina Pustaka Sarwono Praworohardjo 2009. h 334-47 8. Maureen. Rachimhadi T. leveno K J. Jakarta: PT. Prakarsa Police review. Kedaruratan dalam Persalinan. William Obstetrics.html 3. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. 2.blogspot. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. . Edisi Keempat. [cited 4 April 2015] Didapat dari: URL: http://theprakarsa.