You are on page 1of 14

LAPORAN KASUS

Open Fracture Ossis Digiti III, IV, V Pedis Dextra

Nama : Peny Kurnia Cristanti

NIM : 20120310072

Pembimbing : dr. Antoni, Sp.OT

RSUD Djojonegoro Temanggung

pasien mendapatkan injeksi Tetagam 250 IU. Riwayat alergi (-) Riwayat Personal Sosial : Merokok (-). Pasien mengalami kecelakaan dari motor dan jari-jari kaki kanannya terlindas oleh ban mobil. Riwayat DM (-). Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami trauma serupa Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat hipertensi (-). IV dan V pedis dextra Secondary Survey Anamnesis Keluhan Utama : Nyeri pada jari-jari kaki kanan (jari ke-3. 4 dan 5) Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluh nyeri hebat pada jari-jari kaki kanannya (jari ke -3.4 dan 5) akibat kecelakaan lalu lintas. III. obat-obatan dan alkohol (-) Review Sistemik : Pasien sadar penuh. tampak kesakitan dan lemah .S Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 33 tahun Alamat : Curug Sewu Patean Kendal.Identitas Nama : Nn. Pukul 10:00 pasien dibawa ke IGD RSUD Temanggung. Temanggung Tanggal Masuk Rumah Sakit : 19 Maret 2017 Nomor Rekam Medis : 233865 Primary Survey Airway : Jalan nafas bebas Breathing : Pernafasan spontan Circulation : Nadi kuat Disability : GCS 15 (E4M6V5) Exposure : Luka robek (Vulnus Laseratum) pada digiti II. debridement luka dan penutupan luka dengan kasa untuk menghentikan perdarahan.

16x/menit Perkusi : Timpani Palpasi : Supel. Nyeri tekan (-/-). jejas (-) Mata : Konjungtiva pucat (-/-). Sonor. hepar lien tidak teraba. SDV (+/+) Jantung : Suara SI-SII reguler Abdomen : Inspeksi : Datar. Ketinggalan gerak (-/-). defans muskuler (-) Ekstremitas : Atas : Luka : -/- Sendi : Nyeri -/- Gerakan : Aktif +/+ Kekuatan : 5/5 Oedem : -/- .Pemeriksaan Fisik KU : Cukup Kesadaran : Compos mentis GCS : GCS 15 (E4M6V5) Vital Sign : TD : 130/80 mmHg Nadi : 88 X/mnt Suhu : 36. Sklera ikterik (-/-). Reflek cahaya (+/+). Isokor Thorax : Paru : Jejas (-) Simetri (+/+). nyeri tekan (-).4o C Respirasi : 16 X/mnt Kepala : Mesochepal. jejas (-) Auskultasi : BU (+).

.

Gerakan aktif digiti III. IV. V CTR >2 detik pada digiti V. digiti III dan IV teraba dingin . IV Pedis Dextra . sensibilitas (+) pada digiti I. IV. Feel : Nyeri (+) . II. V. V Deformitas (+) pada Os digiti III. Bawah : Pedis : Luka : +/- Gerakan : Aktif -/+ Kekuatan : 5/5 Oedem : -/- Tungkai atas dan bawah : Luka : -/- Gerakan : Aktif +/+ Kekuatan : 5/5 Oedem : -/- Status Lokalis (Pedis Dextra) : Look : Warna biru kehitaman pada digiti III dan IV Tampak vulnus laseratum ± 6cm pada dorsum pedis digiti III. IV. IV. V pedis dextra Diagnosis Banding : Nekrosis jaringan Os digiti III . < 2 detik pada digiti I dan II Krepitasi tidak dapat dinilai Move : Gerakan aktif (flexi & ekstensi) digiti II terbatas. V (-) Diagnosis Sementara : Open fracture grade IIIC Os digiti III .

Close Fracture Ossis Digiti II Pedis Dextra PEMBAHASAN .Open Fracture Grade IIIC Ossis Digiti III.5 g/dL AL : 9. III . Os phalanx III media.103/uL AT : 294.103/uL CT / BT : 6’00” / 2’00” Pemeriksaan Radiologi : Rontgen Pedis Dextra AP/Lat view Kesan : . Os phalanx IV proksimal dan os phalanx V proksimal . V Pedis Dextra . V tidak normal . IV.4 . Sistema tulang intak Diagnosis : . Aposisi dan alignment tidak baik Os digiti II . IV . Tampak diskontinuitas tulang pada Os phalanx II proksimal.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium : Hb : 13.

Terbuka/ Tertutup . dan calcaneus (os calcis). I. III. ANATOMI PEDIS Terdiri atas 26 tulang.  hindfoot (talus/astragalus. navicular. II.  midfoot (cuneiform. Os tarsi terdiri atas os calcaneus. Bagian permukaan anterior (superior) kaki disebut dengan dorsum atau permukaan Dorsal. sebagian atau seluruh korteks dan struktur tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. KLASIFIKASI FRAKTUR 1. Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi 3 yaitu :  forefoot (metatarsal dan toes). 5 os metatarsal dan 7 os Tarsi. os navicular.3 os cuneiform. yaitu :14 phalanges.os talus. dan inferior (posterior) dari kaki disebut permukaan plantar. Tulang kaki dibentuk dan bersatu untuk membentuk kesatuan longitudinal dan arcus transversal. dan os cuboid. dan cuboid). DEFINISI FRAKTUR Fraktur adalah diskontinuitas atau terputusnya kesinambungan.

oblik atau kominutif ringan. meliputi struktur kulit. tidak ada tanda luka remuk. Dapat dibagi menjadi 2: 1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat. kontaminasi minimal b) Grade II : luka > 1cm. kerusakan jaringan lunak sedikit. fraktur kominutif sedang. fraktur terbuka dapat dibagi menjadi: a) Grade I : luka < 1cm. DIAGNOSIS . flap/ avulsi. kontaminasi sedang c) Grade III : terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas. otot dan neurovaskuler. yaitu :  Fraktur Tertutup Apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar  Fraktur Terbuka Menurut Gustillo. fraktur sederhana. atau fraktur segmental/ sangat kominutif yang disebabkan trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya luka 2) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau terkontaminasi masif 3) Luka pada pembuluh darah arteri/ saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat jaringan lunak IV. Salah satu klasifikasi fraktur berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. kerusakan jaringan lunak tidak luas. transversal. meskipun terdapat laserasi luas/ flap/ avulsi.

Pemeriksaan Radiologis Terdapat aturan dalam melakukan foto radiologi. misalnya pada fraktur patologis Pemeriksaan Lokal : a. Pemeriksaan Penunjang 1. yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan. riwayat cedera atau fraktur sebelumnya. krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain. syok. obat-obatan yang dia konsumsi. meliputi persendian diatas dan dibawah cedera. faktor predisposisi. anteroposterior (AP) dan lateral view 2) Two joints Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur 3) Two limbs Memuat gambaran foto dua ekstremitas. b. kekuatan otot. pembengkakan. pengembalian cairan kapler (Capillary refill test). yang terdiri dari : 1) Two view : 2 gambaran. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan awal. anemi atau perdarahan . yaitu ekstremitas yang cedera dan yang tidak terkena cedera (pada anak) . yaitu Rule of Two. kerusakan organ lain . riwayat sosial ekonomi. mencari daerah yang nyeri tekan. dan krepitasi Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi : pulsasi aretri. riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain. dengan memperhatikan adanya: . deformitas.a. faktor pembekuan darah. 2. golongan darah. krepitasi. melakukan pemeriksaan vaskuler distal trauma. Anamnesis Keluhan Utama biasanya berupa nyeri. rotasi atau pemendekan. merokok. warna kulit. sensibilitas Status neurologis dan vaskuler di bagian distalnya perlu diperiksa. Pemeriksaan Laboratorium Meliputi pemeriksaan darah rutin. pekerjaan. Look (inspeksi) : melihat adanya deformitas seperti angulasi. daerah yang mengalami nyeri. Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut. . Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. efusi. Movement (gerakan) : Mengukur Lingkup gerak sendi. mengukur tungkai c. tes sensibilitas c. dan dua kali. gangguan fungsi anggota gerak. Feel (palpasi) : meraba. b.

Alignment Alignment merupakan suatu kondisi miringnya fragmen tulang panjang sehingga arah aksis longitudinalnya berubah. . c) Pemberian anti nyeri untuk mengatasi nyeri akibat luka terbuka. Penanganan awal (emergency) : a) Memperhatikan saluran nafas dan memperbaiki jalan nafas jika ada sumbatan. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat mengancam jiwa. yaitu overlapping (tumpang tindihnya tulang) yang menyebabkan pemendekan (shortening) tulang serta distraksi yang menyebabkan tulang memanjang. yaitu : 1. 3. Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi. Rotasi Rotasi adalah berputarnya fragmen tulang pada aksis longitudinalnya 4. V. Displacement ini dibagi menjadi 4. d) Pembersihan terhadap luka fraktur. Aposisi Aposisi merupakan suatu keadaan dimana fragmen tulang mengalami perubahan letak sehingga terjadi perubahan dalam kontak antara fragmen tulang proksimal dan distal. e) Balut luka untuk menghentikan perdarahan. Lakukan stabilisasi fraktur 5. b) Resusitasi cairan untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik karena perdarahan hebat. Length (panjang) Length dapat dibagi menjadi 2. Pergeseran fragmen Tulang ada 4 : Berpindahnya fragmen tulang dari tempatnya semula disebut displacement. pada fraktur dengan tulang menonjol keluar sedapat mungkin dihindari memasukkan komponen tulang tersebut kembali ke dalam luka. Pasang cairan dan berikan antibiotika intravena yang sesuai dan adekuat misalnya setriakson dan segera rujuk ke layanan sekunder. dengan cara irigasi dengan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. 2. PENATALAKSANAAN Prinsip penanganan fraktur terbuka 1. 3. Lakukan irigasi luka 4. 2.

luka bakar. h) Pencegahan tetanus: Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. ada keadaan dimana mempertahankan anggota gerak dapat lebih buruk daripada tidak mempunyai anggota gerak sama sekali. dan frost bite. Penyebab lainnya adalah trauma parah. IV fluid RL 20tpm 3. Kombinasi antara deformitaas dan kehilangan sensasi khususnya merupakan masalah yang berat dan pada alat gerak bawah cenderung untuk menyebabkan ulserasi karena tekanan. Alat sederhana yang bisa digunakan dalam g) Pemberian antibiotika: merupakan cara efektif mencegah terjadinya infeksi pada fraktur terbuka. Pada crush injury pelepasan torniquet atau penekanan lain akan berakibat pada kegagalan ginjal (crush syndrome). sepsis yang potensial lethal dan crush injury. Dangerous.f) Fraktur dengan luka yang berat memerlukan suatu traksi skeletal. sepsis berulang atau kehilangan fungsi yang berat. Dead (dying). 3. penyakit pembuluh darah perifer bertanggung jawab terhadap hampir 90% dari seluruh amputasi. Penanganan Fraktur  Prinsip 4R : 1. Fraktur grade II dan III sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna. malformasi berat. Untuk fraktur terbuka antibiotika yang dianjurkan adalah golongan cephalosporin. dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia) atau tetagam. penyakit yang tergolong berbahaya adalah tumor ganas. Bebat tekan 2. Amputasi pada digiti III dan IV pedis dextra Indikasi amputasi (3D) . Ketorolac 3x30mg/iv 6. Ceftriaxone 2x1gr/iv 5. Damn nulsance. Antibiotika yang diberikan sebaiknya dengan dosis yang besar. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum. b. Hal ini mungkin dapat disebabkan oleh nyeri. Metronidazole drip/12 jam 4. i) Medikamentosa : 1. 1. 2. Tetagam 250 IU Tindakan lanjut  Operatif a. Recognition : diagnosis dan penilaian fraktur .

VI. Gips ( plester cast) . trombosis vena dalam (DVT).Fraktur Pelvis f. Komplikasi umum lain dapat berupa emboli lemak. Tidak dapat direposisi kecuali melalui operasi b. koagulopati diffus dan gangguan fungsi pernafasan. tetanus atau gas gangren 2.Fraktur dengan gangguan neurovaskuler d.Fraktur terbuka derajat III b. Rehabilitation : mengembalikan kemampuan fungsional semaksimal mungkin Jenis Fiksasi :  Ekternal / OREF . Fraktur tidak stabil dan cenderung displaced setelah reposisi c. Traksi Indikasi OREF : a. Fraktur yang memiliki waktu penyatuan yang lama dan sulit untuk menyatu Pada kasus ini pasien mengalami fraktur multiple yakni pada digiti II (Close fracture) dan digiti V pedis dextra maka perlu dilakukan tindakan ORIF dengan pemasangan wire. berupa peningkatan katabolisme. Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF g. KOMPLIKASI FRAKTUR 1. Fraktur yang berlawanan posisi dengan gerakan otot d. plating. Komplikasi Lokal a. Non Union Trauma multiple  Internal / ORIF : K-wire. screw Indikasi : a. Komplikasi dini (1 minggu post trauma) . Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam pertama pasca trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi gangguan metabolisme. Retention : memepertahankan hasil reposisi dengan fiksasi (Immobilisasi) 4. Fraktur multiple e. 2. Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas c. Reduction : mengembalikan jaringan atau fragmen ke posisi semula 3. Komplikasi umum Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri. Fraktur Kominutif e.

Delayed union : Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung- ujung fraktur. Dekubitus.. aksonometsis (kerusakan akson). Oleh karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol  Pada Otot Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu.Mal union : Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas. .  Pada saraf Berupa kompresi. Pulseness (denyut nadi hilang) dan Paralisis. kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena edema. infeksi dan penyakit tulang (fraktur patologis) .Non union : Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan. . Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga dapat menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot. distraksi interposisi. Pada Tulang Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup. Beberapa faktor penyebabnya yakni hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen fraktur. Komplikasi lanjut . Apabila iskhemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan dapat menimbulkan kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti dengan jaringan fibrus yang secara periahan-lahan menjadi pendek dan disebut dengan kontraktur volkmann. neurometsis (saraf putus). Pallor (pucat). waktu imobilisasi yang tidak memadai. Fenomena ini disebut Iskhemi Volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P yaitu Pain (nyeri). b. implant atau gips yang tidak memadai. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non union  Pada Jaringan lunak Lepuh . terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips.  Pada pembuluh darah Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen otot pada tungkai atas maupun tungkai bawah sehingga terjadi penekanan neurovaskuler sekitarnya. Pada pemeriksaan radiografi. Parestesia.

PROGNOSIS Dubia ad malam pada digiti III dan IV pedis dextra karena jaringan sudah mengalami nekrosis. VI.Osteomielitis : Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union (infected non union).Kekakuan sendi : Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama. . Dubia ad bonam pada digiti I dan V pedis dextra (perfusi jaringan masih baik). sehingga terjadi perlengketan peri artikuler. perlengketan antara otot dan tendon. . . perlengketan intraartikuler.