You are on page 1of 3

I.

Klarifikasi Istilah
1. Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin
atau keduanya, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal,
saraf dan pembuluh darah (Perkeni, 2011).
II. Analisis Masalah
1. Patofisiologi Dalam diabetes
Hipoglikemia terjadi akibat kelebihan insulin relative ataupun absolute dan juga
gangguan pertahanan fisiologis yaitu penurunan plasma glukosa. Mekanisme
pertahanan fisiologis dapat menjaga keseimbangan kadar glukosa darah, baik pada
penderita diabetes tipe I ataupun pada penderita diabetes tipe II. Glukosa sendiri
merupakan bahan bakar metabolisme yang harus ada untuk otak. Efek
hipoglikemia terutama berkaitan dengan sistem saraf pusat, sistem pencernaan dan
sistem peredaran darah (Kedia, 2011).
Glukosa merupakan bahan bakar metabolisme yang utama untuk otak. Selain itu
otak tidak dapat mensintesis glukosa dan hanya menyimpan cadangan glukosa
(dalam bentuk glikogen) dalam jumlah yang sangat sedikit. Oleh karena itu,
fungsi otak yang normal sangat tergantung pada konsentrasi asupan glukosa dan
sirkulasi. Gangguan pasokan glukosa dapat menimbulkan disfungsi sistem saraf
pusat sehingga terjadi penurunan suplay glukosa ke otak. Karena terjadi
penurunan suplay glukosa ke otak dapat menyebabkan terjadinya penurunan
suplay oksigen ke otak sehingga akan menyebabkan pusing, bingung, lemah
(Kedia, 2011).
Konsentrasi glukosa darah normal, sekitar 70-110 mg/dL. Penurunan kosentrasi
glukosa darah akan memicu respon tubuh, yaitu penurunan kosentrasi insulin
secara fisiologis seiring dengan turunnya kosentrasi glukosa darah, peningkatan
kosentrasi glucagon dan epineprin sebagai respon neuroendokrin pada kosentrasi
glukosa darah di bawah batas normal, dan timbulnya gejala gejala neurologic
(autonom) dan penurunan kesadaran pada kosentrasi glukosa darah di bawah batas
normal (Setyohadi, 2012).
Penurunan kesadaran akan mengakibatkan depresi pada pusat pernapasan
sehingga akan mengakibatkan pola nafas tidak efektif. Batas kosentrasi glukosa
darah berkaitan erat dengan system hormonal, persyarafan dan pengaturan
produksi glukosa endogen serta penggunaan glukosa oleh organ perifer.
2. Kriteria Gawat Darurat
Menurut BPJS (2014), kriteria kegawatan sesuai indikasi medis, yaitu:
1. Kecelakaan/Ruda Paksa yang bukan kecelakaan kerja, contoh kasus: Trauma
kepala, patah tulang terbuka/tertutup, luka robekan/sayatan pada kulit/otot
2. Serangan jantung, contoh kasus: henti irama jantung, irama jantung yang
abnormal, nyeri dada akibat penyempitan/penutupan pembuluh darah jantung
3. Panas tinggi diatas 39 derajat Celsius atau disertai kejang demam, contoh
kasus: kejang demam
4. Perdarahan hebat, contoh diagnosis: Trauma dengan perdarahan hebat,
muntah/berak darah, abortus (keguguran) , Demam Berdarah Dengue Grade
dengan komplikasi perdarahan
5. Muntaber disertai Dehidrasi sedang s/d berat, contoh kasus: Kholera,
Gastroenteritis akut dengan dehidrasi sedang/berat, mual dan muntah pada ibu
hamil disertai dehidrasi sedang/berat
6. Sesak Napas, contoh kasus: Asma sedang/berat dalam serangan, infeksi paru
berat
7. Kehilangan kesadaran, contoh kasus: Ayan/epilepsy, Syok/pingsan akibat
kekurangan cairan, gangguan fungsi jantung, alergi berat, infeksi berat
8. Nyeri kolik, contoh kasus: kolik abdomen, kolik renal, kolik ureter, kolik
uretra
9. Keadaan gelisah pada penderita gangguan jiwa
3. Hubungan Informed consent, medikolegal dan etik pada kasus kegawatan
Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik, pengaturan
mengenai informed consent pada kegawatdaruratan lebih tegas dan lugas.
Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1) dijelaskan bahwa
Dalam keadaan darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
Seperti yang telah dijelaskan pada Permenkes No
209/Menkes/Per/III/2008 pada pasal 4 ayat (1) bahwa tidak diperlukan informed
consent pada keadaan gawat darurat. Namun pada ayat (3) lebih di tekankan
bahwa dokter wajib memberikan penjelasan setelah pasien sadar atau pada
keluarga terdekat. Berikut pasal 4 ayat (3) Dalam hal dilakukannya tindakan
kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dokter atau dokter gigi wajib
memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau
kepada keluarga terdekat. Hal ini berarti, apabila sudah dilakukan tindakan untuk
penyelamatan pada keadaan gawat darurat, maka dokter berkewajiban sesudahnya
untuk memberikan penjelasan kepada pasien atau kelurga terdekat.

Daftar Pustaka
PERKENI. 2011. Konsensus pengelolaan diabetes melitus tipe 2 di indonesia
2011. Semarang: PB PERKENI.
Konsil Kedokteran Indonesia. 2007. MIMS edisi Bahasa Indonesia, volume 8, 51-
56, CMP Medika, Jakarta.
Setyohadi, Bambang. 2011. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.
Kedia, Nitil. 2011. Treatment of Severe Diabetic Hypoglycemia With Glucagon:
an Underutilized Therapeutic Approach. Dove Press Journal
BPJS Ketenagakerjaan. 2014. Emergensi.
http://www.jamsostek.co.id/info/subcontent.php?id=16&subid=26