You are on page 1of 7

TUGAS BIOLOGI PERIKANAN

SEKSUALITAS IKAN

SATRIA GALUH DWITAMA


230110150135

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
2015
i. Istilah-istilah umum dan ciri-ciri seksualitas ikan

1. Istilah-istilah umum
1.1. Seksualitas Ikan
Seksualitas ikan perlu diketahui karena dapat digunakan untuk membedakan antara ikan
jantan dengan ikan betina. Ikan jantan adalah ikan yang dapat menghasilkan spermatozoa,
sedangkan ikan betina adalah ikan yang dapat menghasilkan sel telur atau ovum. Ikan jantan
dapat dibedakan dari ikan betina dengan melihat ciri-ciri seksual primer dan sekunder. Ciri
seksual primer adalah organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-
ciri seksual sekunder adalah dengan melihat warna tubuh (sexual dichromastism), morfologi dan
bentuk tubuh (sexual dimorphism) yang digunakan untuk membedakan jenis kelamin pada ikan.
Testis beserta salurannya merupakan ciri seksual primer ikan jantan, sedangkan ovari beserta
salurannya merupakan ciri seksual primer ikan betina. Nisbah ikan jantan dan ikan betina
diperkirakan mendekati 1:1, berarti jumlah ikan jantan yang tertangkap relatif sama banyaknya
dengan jumlah ikan betina yang tertangkap. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang
lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina (Jayadi, 2011).
Pada dasarnya seksualitas hewan terdiri dari dua jenis yaitu jenis jantan dan betina.
Begitu pula seksualitas pada ikan. Ikan jantan ialah ikan yang mempunyai organ penghasil
sperma dan ikan betina ialah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Apabila dalam suatu
populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi ini disebut populasi
yang heteroseksual. Ada pula populasi yang hanya terdiri dari ikan betina saja dan populasi ini
disebut populasi monoseksual (Effendie 2002)
Dalam menentukan seks ikan dari suatu perairan diperlukan kehati-hatian dan harus
berkali-kali karena secara keseluruhan terdapat macam-macam seksualitas ikan mulai dari
hermaprodit sinkroni, protandi, protogini, hingga gonokhorisme yang berdeferensiasi maupun
yang tidak berdeferensiasi (Wahyuningsih dan Barus 2006).

1.2. Tingkat Kematangan Gonad


Tingkat kematangan gonad merupakan pengelompokan kematangan gonad ikan
berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada gonad. Digunakannya Kesteven dalam
penentuan Tingkat Kematangan Gonad pada ikan dikarenakan isi lebih spesifik. Dimana
maksudnya adalah mewakili keadaan tahap-tahap perkembangan kematangan gonad. Berikut
adalah tingkatan pada ikan jantan, dari Kesteven yang dikutip dari (Marati ,2007), tingkat
kematangan gonad ikan jantan adalah sebagai berikut:
Tingkat1 : Remaja, testis sangat kecil, transparan sampai kelabu
Tingkat 2 : Remaja berkembang, testis jernih berwarna abu-abu sampai kemerahan.
Tingkat 3 : Perkembangan I, testis berbentuk bulat telur berwarna kemerahan karena
lebih banyak pembuluh darah kapiler. Testes mengisi hamper setengah bagian rongga
badan ventral.
Tingkat 4 : Perkembangan II, testis berwarna kemerahan sampai putih, tidak keluar
sperma jika perut di tekan. Testis mengisi kurang lebih dua per tiga rongga badan
bagian bawah.
Tingkat 5 : Dewasa, testis berwarna putih dan keluar cairan sperma jika ditekan
bagian perutnya.
Tingkat 6 : Mijah, sperma keluar jika bagian perut di tekan
Tingkat 7 : Mijah/salin, testes belum kosong sama sekali.
Tingkat 8 : Pulih salin, testes jernih, bewarna abu-abu sampai kemerahan

1.3. Hermaprodit pada Ikan


Hermaprodit (hermaphrodite) adalah sifat seksual ikan yang membawa jaringan jantan
dan betina dalam tubuhnya atau menghasilkan sprematozoa dan ovum secara bersamaan. Spesies
yang demikian disebut juga hermaprodit normal. Ikan dikatakan hermaprodit, apabila gonad
ikan mempunyai jaringan jantan dan betina. Jika seluruhnya atau hampir seluruh individu
tersebut mempunyai jaringan ovarium dan testis, maka spesies tersebut adalah hermaprodit.
Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat
menentukan jenis hermaproditismenya.

1.4. Gonokhorisme pada Ikan


Gonokhorisme adalah kondisi seksual ganda, dimana pada ikan tahap juvenil gonadnya
tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betina (Effendi, 1979).
Sifat gonokhorisme pada ikan terbagi dua, yaitu ada yang berdiferensiasi dan ada yang
tidak berdiferensiasi. Pada spesies pertama, gonad yang berbeda langsung berdiferensiasi
menjadi testis dan ovarium. Pada spesies kedua, gonad yang tidak berbeda mula-mula
berkembang menjadi gonad yang menyerupai ovarium dan kemudian lebih kurang setengahnya
menjadi jantan dan setengahnya yang lain menjadi betina (Effendi, 1979).
Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda yaitu pada ikan bertahap juvenil gonadnya
tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betinanya. Gonad tersebut kemudian
berkembang menjadi semacam ovarium, setelah itu setengah dari individu ikanikan itu gonadnya
menjadi ovarium (menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi menjadi testis (menjadi ikan
jantan). Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang tidak berdiferensiasi:, yaitu
keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Ikan gonokhorisme yang
berdiferensiasi sejak dari mudanya sudah ada perbedaan antara jantan dan betina yang sifatnya
tetap sejak dari kecil sampai dewasa, sehingga tidak terdapat spesies yang interseks (Rahardjo
dkk, 2011).

2. Ciri-ciri seksualitas
2.1. Sifat Seksual Primer
Sifat seksual primer pada ikan di tandai dengan adanya organ yang secara langsung
berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan
testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Ciri seksual primer yaitu alat/organ yang
berhubungan langsung dengan proses reproduksi
Contoh:
Testes dan salurannya pada ikan jantan
Ovarium dan salurannya pada ikan betina

2.2. Sifat Seksualitas Sekunder


Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan
jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai
untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme.
Namun, apabila satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna,
maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme.
Ciri seksual sekunder terdiri dari 2 jenis:
2.2.1. Tidak berhubungan dengan kegiatan reproduksi
Contoh:
Bentuk tubuh (betina lebih besar).
Buncak pemijahan pada ikan jantan minnow (Osmerus).
Sirip ekor lebih panjang pada jantan cinggir putri (Xiphophorus
helleri).
Warna tubuh lebih cemerlang pada jantan, misal pada (Lepomis humilis).
2.2.2. Alat bantu pemijahan
Contoh:
Gonopodium pada jantan ikan seribu (Lebistes reticulatus).
Modifikasi sirip dada heteorchir pada jantan Xenodexia untuk
memegang gonopodium pada kedudukannya sehingga memudahkan
masuk ke oviduct betina.
Sirip perut yang termodifikasi menjadi myxopterygium (clasper)
pada Elasmobranchii jantan menjamin fertilisasi internal.
Tenaculum (semacam clasper yang terdapat pada bagian atas
kepala) pada ikan Chimera jantan.
Ovipositor pada ikan Rhodes amarus dan Careproctus betina.
Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan
jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder
menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda
bulatan hitan pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan,
bila ovariumnya dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan
oleh testis mempunyai peranan pada tanda seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan
Amia menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang
timbulnya tanda bulatan hitam.

ii. Jenis seksualitas ikan

1. Ikan Jantan
Ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma

2. Ikan Betina
ikan betina ialah ikan mempunyai organ penghasil telur.

3. Hermaprodit (hermaphrodite)
Berdasarkan sifat perubahannya, hermaprodit dibagi menjadi 3, yaitu hermaprodit
sinkroni, hermaprodit protogini, dan hermaprodit protandri.

3.1. Hermaproditisme Sinkroni


Hermaprodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel seks betina dan
sel seks jantan yang dapat masak bersama-sama. Ikan-ikan dari famili Serranidae dan testisnya
yang mengandung sperma, dimana telur dan spermanya dapat masak bersama-sama dan masing-
masing siap untuk dikeluarkan. Ikan hermaprodit ini dapat mengadakan pembuahan sendiri dan
dapat pula tidak. Ikan yang mengadakan pembuahan sendiri mengeluarkan telur terlebih dahulu
kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama. Ikan yang tidak mengadakan
pembuahan sendiri, dalam satu kali pemijahan ia dapat berlaku sebagai ikan jantan dan dapat
pula sebagai ikan betina (Effendie 2002).
3.2. Hermaprodit Protandri
Hermaprodit protandri yaitu ikan yang di dalam tubuhnya mempunyai gonad yang
mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Ketika ikan ini masih muda
gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan testis tadi mengisi
sebagian besar gonad pada bagian lateroventral. Setelah jaringan testisnya berfungsi dan dapat
mengeluarkan sperma, kemudian akan terjadi masa transisi di mana selama itu jaringan
ovariumnya membesar dan testisnya mengkerut. Pada ikan yang sudah tua umumnya testis tadi
sudah tereduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad tadi diisi oleh jaringan ovarium yang
berfungsi. Lama waktu untuk tiap fase yaitu jantan, transisi dan fase berina belum diketahui
dengan pasti.

3.3. Hermaprodit Protogini


Hermaprodit protogini merupakan keadaan sebaliknya dengan hermaprodit protandri.
Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada beberapa ikan yang
termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan, jaringan ovariumnya
mengekerut kemudian jaringan testisnya berkembang. Salah satu spesies ikan di Indonesia yang
sudah dikenal termasuk ke dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah
(Monopterus albus) dan ikan kerapu lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus
reproduksinya sebagai ikan betina yang berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang
berfungsi. Pada ikan-ikan yang termasuk ke dalam famili Labridae, misalnya Halichieres sp.
terdapat dua macam jantan yang berbeda. Ikan jantan pertama terlihatnya seperti betina tetapi
tetap jantan selama hidupnya. Sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal dari
perubahan ikan betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai fase dalam satu siklus hidupnya, pada
tiap-tiap fasenya seiring didapatkan ada perbedaan baik dalam morfologi maupun warnanya.
Keadaan demikian menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mendeterminasi ikan itu menjadi
dua nama. Padahal sebenarnya spesies ikan itu sama.

iii. Daftar Pustaka

Effendie, I. M, 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara


Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan.Bogor: Yayasan Pustaka Nusatama.
Jayadi, M. H. 2011. Aspek Biologi Reproduksi Ikan Pari (Dasyatis Kuhlii Mller & Henle, 1841)
yang Didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan Paotere Makassar. [SKRIPSI] Fakultas Ilmu
Kelautan Dan Perikanan. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Rahardjo.M.F dkk, 2011. Ikhtiology, Lubuk Agung, Jakarta.
Wahyuningsih, H dan Barus. 2006. Buku Ajar Ikhtiologi. Universitas Sumatera Utara : Medan