You are on page 1of 15

ANKYLOSING SPONDYLITIS

Disusun Oleh :
Novelis Triwikarno (2016.04.2.0127)

Pembimbing :
dr. Donny S. Sp.Rad

SMF/BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
RUMAH SAKIT RSAL DR. RAMELAN SURABAYA
2016
PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena Rahmat-Nya saya
diberikan jalan dalam menyelesaikan referat yang berjudul Ankilosis Spondilitis.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada pembimbing
saya dr. Donny S. Sp.Rad yang telah banyak membantu dalam penyusunan referat ini
sekaligus memberikan saran-saran yang tak ternilai harganya. Saya berharap referat ini
dapat bermanfaat khususnya kepada penyusun sendiri dan juga rekan-rekan yang lain.

Surabaya, 25 Februari 2017

Novelis Triwikarno
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI.. ii
PENDAHULUAN.. iii
ISI
DEFINISI. 1
ETIOLOGI... 1
PATHOGENESIS 3
GEJALA KLINIS 3
DIAGNOSIS 5
PENATALAKSANAAN. 8
PROGNOSIS... 10

DAFTAR PUSTAKA. 17
PENDAHULUAN

Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik, bersifat sistemik,


ditandai dengan kekakuan progresif, dan menyerang apophyseal joint vertebrae, sof
tissue di sekitarnya dan jg sacroiliac joint dengan penyebab yang tidak diketahui.
Penyakit ini dapat melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan tulang rawan sendi, serta
terjadi osifikasi tendon dan ligamen yang akan mengakibatkan fibrosis dan ankilosis
tulang. Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini. Ankilosis
vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang
gejalanya ringan. Nama lain Spondilitis ankilosis adalah Marie Strumpell disease atau
Bechterew's disease1-2.

Penyakit ini termasuk jarang. Sekitar 20% donor darah dengan HLA-B27
menderita kelainan sakroilitis. Manifestasi biasanya dimulai pada masa remaja dan
jarang di atas 40 tahun, lebih banyak pada pria daripada wanita (7 : 1). Angka
kekerapan bervariasi antara 1,0--4,7%.4-8.

Dalam referat ini, akan dibahas dari mulai definisi ankilosis itu sendiri sanmpai
dengan penanganan spondilitis ankilosis.
ANKILOSIS SPONDILITIS

Definisi
Spondilitis ankilosa (SA) merupakan penyakit jaringan ikat yang ditandai dengan
peradangan pada tulang belakang dan sendi-sendi yang besar, menyebabkan
kekakuan progresif,nyeri dan dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini dapat
melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan rawan sendi, serta terjadi osifikasi tendon
dan ligamen yang akan mengakibatkan fibrosis dan ankilosis tulang. Terserangnya
sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini. Ankilosis vertebra biasanya terjadi
pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang gejalanya ringan. Nama lain
SA adalah Marie Strumpell disease atau Bechterew's disease.1

Insidens

Ankilosis spondilitis dianggap sebagai penyakit rematik yang relatif jarang terjadi.
Sering terjadi pada laki-laki muda.
pria:wanita = 7:1
Onset dimulainya penyakit dimulai pada usia dewasa muda sampai usia awal
dewasa. Sementara pada usia lebih dari 45 tahun jarang ditemukan
Umur 20-40 tahun
Dapat terjadi dengan riwayat anggota keluarga dengan ankilosis spondilitis

Etiologi
Meskipun secara tepatnya penyebab ankilosing spondilitis tidak diketahui
(idiopatik), namun faktor predisposisi genetik memegang peranan penting terjadinya
ankilosis spondilitis. Penyakit ini sering ditemukan pada kelompok keluarga dengan gen
HLA B-27. Menurut penelitian didapatkan 90% pada pasien ankilosis spondilitis memiliki
gen HLA B-27 tersebut. Meskipun demikian tidak setiap orang dengan HLA B-27
1
menderita spondilitis ankilosis sehingga diduga ada faktor pemicu lainnya.
Pathogenesis
Penyakit ini diawali dengan suatu peradangan pada sendi vertebra atau sendi
sakroiliaka yang terjadinya karena idiopatik, lalu terjadi osifikasi pada ligament
sekitarnya. Sehingga terjadi kekakuan dan nyeri. 1,3
Berbeda dengan rheumatoid arthritis yang menyerang membran sinovial,
ankylosing spondylitis menyerang bagian dari insersi tendon, ligamen, fascia dan
jaringan fibrosa kapsul sendi dan dinamakan "entheses". Proses patologisnya adalah
salah satu proses fibrosis progresif dan pengerasan dalam jaringan lunak periarticular:
yang dinamakan proses "enthesopathy".1,3
Entesitis, baik di aksial dan kerangka apendikular, adalah fitur patologis utama
dari spondyloarthritis. Enthesis adalah keadaan di mana tendon atau ligamen melekat
pada tulang. Pada keadaan ini biasanya berkembang edema tulang diikuti oleh erosi,
dilanjutkan osifikasi, akhirnya ankilosis. Peradangan sendi sacroiliaca diikuti oleh
ankilosis. Pada tulang belakang, kita dapat melihat peradangan di persimpangan
fibrosis anulus dari diskus tulang rawan dengan margin tulang vertebra. Pada akhirnya,
ini menyebabkan pembentukan syndesmophytes, dengan bridging yang mengarah ke
penampilan radiografi dari tulang belakang bamboo. Spinal facet joint menunjukkan
sinovitis diikuti oleh ankilosis.1,3
Gejala Klinis
Peradangan ringan sampai menengah biasanya bergantian dengan periode
tanpa gejala. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri punggung, yang
intensitasnya bervariasi dari satu episode ke episode lainnya dan bervariasi pada setiap
penderita. Nyeri sering memburuk di malam hari. 4,5
Kekakuan di pagi hari yang akan hilang jika penderita melakukan aktivitas,juga
sering ditemukan. Nyeri punggung dan kejang otot-ototnya seringkali bisa berkurang
jika penderita membungkukkan badannya ke depan. Karena itu penderita sering
mengambil posisi membungkuk, yang bisa menyebabkan bungkuk menetap bila tidak
diobati. 4,5

Pasien dengan ankylosing spondylitis


mempengaruhi tulang belakang leher
dan dada atas. Tulang punggung pasien
Pada penderita lainnya, tulang belakang
telahdengan
menyatujelas tampak
dalam lurus dan kaku.
posisi tertekuk.
Nyeri punggung bisa disertai dengan hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan,
kelemahan dan anemia. 4,5
Jika sendi yang menghubungkan tulang iga dan tulang belakang meradang, rasa
nyeri akan membatasi kemampuan dada untuk mengembang dan untuk menarik nafas
dalam. Kadang-kadang nyeri dimulai di sendi yang besar, seperti panggul, lutut dan
bahu. 4,5
Sepertiga penderita mengalami serangan berulang dari peradangan mata
(iritisakut),yang biasanya tidak mengganggu penglihatan. Pada penderita lainnya,
peradangan bisa menyerang katup jantung. Jika kerusakan tulang belakang menekan
saraf atau urat saraf tulang belakang, bisa timbul mati rasa, kelemahan atau nyeri di
daerah yang dipersarafinya. 4,5
Sindroma kauda equina (Sindroma Ekor Kuda) merupakan komplikasi yang
jarang, berupa gejala yang timbul jika kolumna tulang belakang yang meradang,
menekan sejumlah saraf yang berjalan dibawah ujung urat saraf tulang belakang.
Gejalanya berupa impotensi, inkontinensia uri di malamhari, sensasi yang berkurang
pada kandung kemih dan rektum dan hilangnya refleks mata kaki. 4,5

Manifestasi pada Tulang.

Keluhan yang umum dan karakteristik awal penyakit ialah nyeri pinggang dan
sering menjalar ke paha. Nyeri biasanya menetap lebih dari 3 bulan, disertai dengan
kaku pinggang pada pagi hari, dan membaik dengan aktivitas fisik atau bila dikompres
air panas. Nyeri pinggang biasanya tumpul dan sukar ditentukan lokasinya, dapat
unilateral atau bilateral. Nyeri bilateral biasanya menetap, beberapa bulan kemudian
daerah pinggang bawah menjadi kaku dan nyeri. Nyeri ini lebih terasa seperti nyeri
bokong dan bertambah hebat bila batuk, bersin, atau pinggang mendadak terpuntir.
Inaktivitas lama akan menambah gejala nyeri dan kaku. Keluhan nyeri dan kaku
pinggang merupakan keluhan dari 75% kasus di klinik. Nyeri tulang juksta-artikular
dapat menjadi keluhan utama, misalnya entesis yang dapat menyebabkan nyeri di
sambungan kostosternal, prosesus spinosus, krista iliaka, trokanter mayor, tuberositas
tibia atau tumit. Keluhan lain dapat berasal dari sendi kostovertebra dan
manubriosternal yang menyebabkan keluhan nyeri dada, sering disalahdiagnosiskan
sebagai angina. 4,5

Manifestasi di Luar Tulang

Manifestasi di luar tulang terjadi pada mata, jantung, paru, dan sindroma kauda
ekuina. Manifestasi di luar tulang yang paling sering adalah uveitis anterior akut,
biasanya unilateral, dan ditemukan 25--30% pada penderita SA dengan gejala nyeri,
lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan kabur. Manifestasi pada jantung dapat berupa
aorta insufisiensi, dilatasi pangkal aorta, jantung membesar, dan gangguan konduksi.
Pada paru dapat terjadi fibrosis, umumnya setelah 20 tahun menderita SA, dengan
lokasi pada bagian atas, biasanya bilateral, dan tampak bercak-bercak linier pada
4,5
pemeriksaan radiologis, menyerupai tuberculosis.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pola gejala-gejalanya dan foto rontgen dari
tulang belakang dan sendi yang terkena, dimana bisa dilihat adanya erosi pada
persendian antara tulang belakang dan tulang panggul (sendi sakroiliaka) dan
pembentukan jembatan antara tulang belakang, yang menyebabkan kekakuan pada
tulang belakang. Laju endap darah cenderung meningkat. Pada 90% penderita
ditemukan gen spesifik HLA-B27. 1,6

Roma, 1961
Kriteria klinik
1. Nyeri pinggang dan kekakuan > 3 bulan, yang tidak reda dengan istirahat
2. Nyeri dan kekaknan pada regio thorax
3. Gerak terbatas pada vertebra lumbalis
4. Expansi dada terbatas
5. Riwayat atau adanya bukti dari iritis atau akibatnya

Kriteria Radiologik
Tampak adanya perubahan sacroiliac bilateral merupakan ciri SA
(ini harus disingkirkan OA bilateral dan sendi sacroiliac)

New York 1966


Kriteria klinik
1. Terbatasnya gerak dari vertebra lumbalis, dalam semua tiga bidang flexi.
anterior, flexi-lateral dan extensi
2. Nyeri pada sendi dorsolumbJ atau pada vertebra lumbalis.
3. Terbatasnya expansi dada = 2,5cm, diukur pada ketinggian spatium intercostale
ke 4.
Kualitas (grading) radiologik: Normal = 0; suggestive = 1; minimal saroilitis = 2; moderat
sacroilitis = 3; Ankylosis = 4.

Diagnosis definitif ditegakkan berdasarkan:


1. Gambaran radiografi sakmiliitis bilateral derajat 3-4 ditambah 1 atau lebih kriteria
di atas, atau
2. Gambaran radiografi sakroiliitis unilateral derajat 3-4 atau sakroilitis bilateral
derajat 2 dtambah kriteria 1 atau kriteria 2+3.
Diagnosis kemungkman SA (probable) ditegakkan berdasarkan: Gambaran radiografi
sakroiliitis derajat 3-4, tanpa disertai kriteria tersebut di atas.

Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan laboratorium
Tidak ada uji diagnostik yang spesifik. Terdapat anemia normositik ringan dan
laju endap darah ynag meninggi. Faktor reuma negatif. HLA-B27 pada keadaan
5
tertentu dapat membantu diagnosis.
2.
Pemeriksaan radiologi 1
Lesi awal terjadi pada sacroiliac joint, menyebabkan sacroilitis bilateral. ada 6
tahap:
sendi sacroiliac awalnya melebar sebelum menyempit
subchondral bony erosions pada sisi illiac dari sendi
diikuti o/ subchondral sclerosis dan bony proliferation
bony fusion
thin sacroiliac joint, atau tdk tampak

Pada vertebrae, awalnya terjadi terjadi erosi pada ujung superior dan inferior
corpus vertebrae aspek anterior (romanus sign),
Kemudian akan terjadi osseos proliferation dan reactive sclerosis (shiny
corner sign).
osifikasi dari lig. longitudinal anterior (squarring vertebrae).
Pembentukan syndesmophyte sehingga menjembatani corpus2 vertebrae
dan osifikasi dr ligamen2 paravertebral (bamboo spine).
Osifikasi dari lig. supra dan interspinosus (dagger sign).
Pada tahap advance, dapat terjadi question mark posture (vertebrae cervical
hiperextensi, kiphosis pd vertebrae thorax, loss of lumbal lordosis
Pengobatan
Tujuan perawatan untuk ankilosis spondilitis hampir sama dengan rheumatoid arthritis:
1. Pertimbangan psikologis
Perlu diinformasikan bahwa kurang dari sepertiga orang dewasa muda
akan berkembang ankilosis spondilitis (gambaran ankilosis spondilitis).mereka
juga membutuhkan dukungan psikologis dalam menerima pentingnya
perkembangan bentuk tubuh yang lebih baik dan harus melakukan exercise
setiap hari.
2. Terapi obat-obatan
Meskipun salisilat adalah obat paling aman dari golongan anti inflamasi non-
steroid (AINS), tetapi biasanya tidak begitu efektif pada ankilosis spondilitis. Dari banyak
NSAID yang tersedia, indometasin lebih tepat. Meskipun demikian pada masa yang
akan datang, dapat digantikan oleh obat yang lebih baru. Pada pasien dimana
indometasin tidak dapat ditolelir dengan baik, phenylbutazone dapat digunakan. Perlu
diwaspadai karena toksisitas jangka panjang menyebabkan depresi sumsung tulang
dan ulkus peptikum. Kortikosteroid efektif pada penyakit ini.
3. Terapi radiasi
Terapi radiasi dapat mengurangi rasa sakit. Terapi terapi radiasi tidak lagi
direkomendasikan sejak terbukti berpotensial menginduksi anemia aplastik atau
leukemia.
4. Peralatan ortopedi
Contohnya : spinal braces untuk mencegah fleksi deformitas pada tulang belakang.

5. Terapi fisik
Terapi fisik penting untuk melatih mengurangi rasa nyeri. Terapi ini dilakukan selama
hidupnya. berenang dapat bermanfaat sebagai terapi fisik.
6. Operasi bedah ortopedi
Tujuan utama terapi bedah adalah untuk mencegah deformitas tulang belakang yang
lebih berat.

Prognosis
Prognosis dari SA sangat bervariasi dan susah diprediksi. Secara umum,
penderita lebih cenderung dengan pergerakan yang normal daripada timbulnya restriksi
berat. Keterlibatan ekstraspinal yang progresif merupakan determinan penting dalam
menentukan prognosis. Beberapa survei epidemiologis menunjukkan bahwa apabila
penyakitnya ringan, berkurangnya pergerakan spinal yang ringan, dan berlangsung
dalam 10 tahun pertama maka perkembangan penyakitnya tidak akan memberat.
Keterlibatan sendi-sendi perifer yang berat menunjukkan prognosis buruk. Sebagian
besar penderita dengan SA memperlihatkan keluhan serta perlangsungan yang ringan
dan dapat dikontrol sehingga dapat menjalankan tugas dan kehidupan sosial dengan
baik. 6,7
Secara umum, wanita lebih ringan dan jarang progresif serta lebih banyak
memperlihatkan keterlibatan sendi-sendi perifer. Sebaliknya, bamboo spine lebih sering
terlihat pada pria. Terdapat dua gambaran yang secara langsung berpengaruh terhadap
morbiditas, mortalitas, dan prognosis. Keduanya dianggap sebagai akibat dari trauma,
baik yang tidak disadari maupun trauma berat. Awalnya, terjadi lesi destruksi pada
salah satu diskovertebra, biasa terjadi pada segmen spinal yang bisa dilokalisir, dan
ditandai dengan nyeri akut atau berkurangnya tinggi badan yang mendadak. Skintigrafi
dan tomografi tulang memperlihatkan kelainan, baik elemen anterior maupun posterior.
Imobilisasi yang tepat dan diperpanjang dapat memberikan penyembuhan pada
sebagian besar kasus. Komplikasi kedua yang menyusul trauma berat maupun yang
6,7
ringan berupa fraktur yang dapat menyebabkan koropresi komplit atau inkomplit.
DAFTAR PUSTAKA

1. Greenspan A, orthopedic Imaging a practical approach. 5 th ed. London : wolters


kluwer.

2. Apley A Graham, Solomon Louis. Apleys System of Orthopaedics and Fractures.


6th ed. London: English Book Society/Butterworths, 41-43

3. http://www.medicinenet.com/ankylosing_spondylitis/article.htm
4. http://www.kesimpulan.com/2009/05/spondilitis-ankilosa-sa.html
5. http://medicafarma.blogspot.com/2009/04/spondilitis-ankilosa.html
6. http://emedicine.medscape.com/article/1263287-overview
7. http://www.thirdage.com/health-wellness/ankylosing-spondylitis-marie-strumpell-
disease