You are on page 1of 4

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN

ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI SMA X TAHUN 2017

SKRIPSI

oleh :
RIA PUSPITA
213113002

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S.1)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anemia adalah keadaan dimana terjadinya penurunan massa eritrosit (red
cell mazz) yang ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan
hitung eritrosit (red cell count). Sintesis hemoglobin memerlukan ketersedian zat
besi dan protein yang cukup dalam tubuh. Protein berperan dalam pengangkutan
besi ke sumsum tulang untuk membentuk molekul hemoglobin yang baru (Pratiwi,
2015)
Anemia terjadi akibat satu atau lebih kombinasi dari tiga mekanisme dasar,
yaitu kehilangan darah, penurunan produksi eritrosit, atau peningkatan destruksi
eritrosit (hemolisis). (Kiswari, 2014)
Anemia yaitu suatu keadaan dimana sel darah merah tidak dapat
membawa oksigen yang cukup ke dalam jaringan tubuh (WHO, 2009). Anemia
menyebabkan darah tidak cukup mengikat dan mengangkut oksigen dari paru-
paru ke seluruh tubuh. Bila oksigen tidak cukup , maka akan berakibat pada
sulitnya berkonsentrasi. Sehingga prestasi belajar menurun, daya tahan fisik
rendah sehingga mudah lelah, aktivitas fisik menurun, mudah sakit karenadaya
tahan tubuh rendah, akibatnya jarang masuk sekolah atau bekerja (Rahman,
2008)
Wanita lebih sering menderita anemia dibandingkan laki-laki, hal ini sesuai
dengan kebutuhan fisiologis wanita yang mengalami menstruasi yang terjadi
setiap bulan. Berdasarkan data WHO (2008), prevalensi anemia tahn 1993-2005
pada WUS di Indonesia mencapai 33,1, angka ini lebih tinggi dibandingkan
negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Brunnei (20,4 %), Malaysia (30,1
%0, Vietnam (24,3 %), dan Thailand (17,8 %). Berdasarkan hasil Riskesdas tahun
2007, diketahui bahwa prevalensi anemia pada wanita dewasa sebesar 19,7 %
(Rahman, 2008)
Menurut penelitan sebelumnya yang dilakukan oleh Jackson dan Al Mousa
pada tahun 2000, sampai saat ini di Indonesia masih terdapat 4 masalah gizi
utama, yaitu KKP (Kurang Kalori Protein), GAKI (Gangguan Akibat Kurang
Iodium), KVA (Kurang Vitamin A), dan kurang zat besi yang disebut Anemia Gizi.
Hingga saat ini masalah yang masih sulit ditanggulangi adalah masalah Anemia
Gizi tersebut. Anemia gisi adalah masalah kesehatan masyarakat paling umum
dijumpai terutama di negara-negara berkembang. Anemia gizi pada umumnya
dijumpai pada golongan rawan gizi yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, anak
sekolah, pekerja atau buruh yang berpenghasilan rendah.
Remaja putri lebih rawan terkena anemia karena remaja berada pada
masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi yang lebih tinggi termasuk besi.
Anemia pada remaja khususnya remaja putri masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat bila prevalensinya lebih dari 15%. Secara umum tingginya prevalensi
anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan
darah secara kronis, asupan zat besi tidak cukup, penyerapan yang tidak adekuat
dan peningkatan kebutuhan akan zat besi. Hasil penelitian dari Ayu Anggraeni
(2010) menunjukkan bahwa prevalensi anemia gizi pada remaja putri di 5 wilayah
Jakarta adalah 44,6 %. Angka prevalensi ini tergolong tinggi, karena berdasarkan
Temu Karya Anemia Gizi Tahun 1983 prevalensi di atas 40 % adalah prevalensi
yang tergolong tinggi dan merupakan masalah kesehatan masyarakat (Hasrul,
Hadju, & Kesumasari, 2007).
Remaja putri mrupakan tahapan kritis kehidupan, sehingga periode
tersebut dikategorikan sebagai kelompok rawan, dan mempunyai resiko
kesehatan tinggi (Elizabeth Hurlock, 1980 dalam Novita, 2015). Anemia
merupakan salah satu penyakityang sering dialami oleh remaja putri, remaja putri
dikatakan anemia jika kadar Hb< 12 gr/dl (Handayani & Haribowo, 2008).
Pada saat remaja putri mengalami mestruasi yang pertama kali
membutuhkan lebih banyak besi untuk menggantikan kehilangan akibat
menstruasi tersebut (Hallberg & Rossander-Hulthen, 1991 dalam jurnal Hasrul,
Hadju, & Kesumasari, 2007).jumlah kehilangan besi selama satu siklus menstruasi
(28 hari) kira-kira 0,56 mg per hari. Jumlah tersebut ditambah dengan kehilangan
basal sebesar 0,8 mg per hari. Sehingga jumlah total besi yang hilang sebesar
1,36 mg per hari (Hallberg & Rossander-Hulthen, 1991 dalam jurnal Hasrul, Hadju,
& Kesumasari, 2007).
Selain itu jumlah makanan yang dikonsumsi lebih rendah daripada pria,
karena faktor ingin langsing. Pantang makanan tertentu dan kebiasaan yang
salah juga merupaka penyebab terjadinya anemia pada remaja putri. Anemia pada
remaja putri harus ditangani dengan baik karena memiliki ptensi gangguan fisik
ketika mereka hamil dikemudian hari. Menurut Yip (1997) status besi harus
diperbaiki pada saat sebelum hamil yaitu sejak remaja sehingga keadaan anemia
pada saat kehamilan dapat dikurangi (Hasrul, Hadju, & Kesumasari, 2007)
Remaja putri yang mempunyai status zat besi rendah disebabkan oleh
kualitas konsumsi pangan hewani yang rendah, atau terbiasa melewatkan waktu
makan (skip meal). Selain itu terjadi juga pada kelompok yang kehilangan zat besi
cukup tinggi, yaitu kehilangan darah dalam periode yang lama dan banyak saat
menstruasi, sering melakukan donor darah, dan olahraga yang sangat intensif.
Remaja wanita sering menderita anemia akibat lebih banyakmengkonsumsi
makanan nabati dibandingan hewani, lebih sering melakukan diet karena ingin
langsing dan mengalami haid setiap bulan (Briawan, 2014 dalam Novita, 2015).
World Health Organization (WHO) dalam WorldwidePrevalence of Anemia
melaporkan bahwa total keseluruhan penduduk dunia yang menderita anemia
adalah 1,62 miliar orang dengan prevalensi pada anak sekolah dasar 25,4 % dan
305 juta anak sekolah di seluruh dunia menderita anemia (Anemia, 2008)
Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan
bahwa anemia gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarkat Indonesia
dengan prevalensi pada anak usia 5 12 tahun sebesar 29 % dan di kota
Makassar sebesar 37,6 %. Prevalensi anemia gizi yang tinggi pada anak sekolah
membawa akibat negatif, yaitu rendahnya kekebalan tubuh sehingga
menyebabkan tingginya angka kesakitan. Dengan demikian, konsekuensi
fungsional dari anemia gizi menyebabkan menurunnya kualitas sumber daya
manusia. Khusus pada anak balita, keadaan anemia gizi secara perlahan-lahan
akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan, anak-anaka
akan lebih mudah terserang penyakit karena penurunan daya tahan tubuh, dan hal
lain tentu akan melemahkan keadaan anak sebagai generasi penerus. (Kiswari,
2014)

B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENELITIAN
D. MANFAAT PENELITIAN