BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbicara tentang pendidikan, tentunya tidak dapat dipisahkan dari peran
pendidikan dan pengaruhnya bagi masyarakat luas. Peran pendidikan sangat penting
dalam kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan proses
kehidupan manusia. Dengan kata lain, kebutuhan manusia terhadap pendidikan
bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluaraga dan masyarakat, bangsa dan
negara. Namun, pendidikan sendiri tak terlepas dari berbagai permasalahan yang
menimpanya, hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi permasalahan
yang komplek, dari permasalahan konseptual-teoritis, hingga permasalahan
operasional-praktis. Tidak terselesaikan persoalan ini menjadikan pendidikan Islam
tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua”.
Tidak heran jika kemudian banyak generasi muda yang justru menempuh
pendidikan non Islam.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Problematika Pendidikan Islam di Era Kontemporer?
2. Bagaimana Modernisasi-Pembaruan dalam Pendidikan Islam?
3. Bagaimana Sikap Umat Islam terhadap Era Kontemporer?
4. Bagaimana Solusi Problematika Pendidikan Islam di Era Kontemporer?

1.3 Tujuan Pembahasan

1. Menjelaskan problematika pendidikan Islam di era kontemporer
2. Menjelaskan modernisasi-pembaruan dalam pendidikan Islam

1

3. Kedua.1 Pendidikan Islam diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan yang terbagi menjadi tiga hal. Menjelaskan solusi problematika pendidikan Islam di era kontemporer BAB II PEMBAHASAN 2. umat Islam memiliki kekayaan ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi memasuki abad pertengahan sampai akhir abad ke-19 M. Pertama. Menjelaskan sikap umat Islam terhadap era kontemporer 4.1 Problematika Pendidikan Islam di Era Kontemporer Dalam analisis Fazkur Rahman dinyatakan bahwa semenjak masa klasik (850 M-1200 M). Pendidikan Islam sebagai Mata Pelajaran diakuinya 2 . umat Islam mengalami kemunduran khususnya dalam bidang pendidikan. Pendidikan Islam sebagai lembaga diakuinya keberadaan lembaga pendidikan Islam secraa Eksplisit.

Modernisasi berarti proses untuk menuju modern. 2.2 Modernisasi-pembaruan Pendidikan Islam 1. Ketiga. Pengertian Modernisasi Toto Suharto mengatakan bahwa sesungguhnya Islam dalam perjalanan sejarahnya tidak selalu dapat memainkan peran idealnya bagi umat Islam. ternyata Islam tidak selalu mampu memberikan jawaban yang sesuai dengan yang diharapkan oleh umat Islam. Kenyataan ini mewarnai munculnya gerakan modernisasi dalam Islam3 – termasuk dalam pendidikan Islam. Berkaitan dengan realitas sosial dan kultural yang terjadi dan mungkin menjadi tantangan bagi umat Islam. banyak terkait dengan sifat Ilahiah dan transendensi Islam. akan terjadi pertarungan teologis antara keharusan memegang doktrin yang bersifat normatif di satu sisi dengan keinginan untuk historisitasnya.2 Pertarungan ini pada giliranya memunculkan konflik teologis. Modern itu sendiri suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu era baru (new age) yang berfungsi untuk membedakan dengan masa lalu (the ancient). kata Toto Suharto. Walaupun demikian. intelektual. Pendidikan Islam sebagai nilai (value) yakni ditemukannya nilai-nilai islami dalam sistem pendidikan. 3 . Realitas seperti ini.4 Modernisasi atau pembaruan merupakan terjemahan dari istilah bahasa Arab tajdid. dan sosial di kalangan kaum muslim secara keseluruhan. berupa ketentuan- ketentuan normatif-dogmatif. pendidikan agama sebagai salah satu pelajaran yang wajib diberikan salah satu pelajaran yang wajib diberikan pada tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Dengan ini. Toto Suharto mendiskusikan pemikiran empat tokoh pemikir di Indonesia terkait dengan pembaruan tersebut. pendidikan Islam tidak luput dari problematika yang muncuk di era masa kini. katanya.

untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern. Kemudian puncak keberhasilan pembaruan dalam pengertian ini. Sejak masa pertumbuhan dan perkembangannya.8 4 . yang kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya. dan usaha untuk mengubah paham-paham. dan kemudian para pengikut sahabat (tabi’in). Dengan pengertian ini. dan sebagainya. Harun Nasution. adat-istiadat. gerakan. kata Toto Suharto. kata Toto Suharto.Pertama. instituisi-instituisi lama. dinilai mempunyai implikasi bahwa pembaruan dalam Islam muncul semenjak terjadinya kontak Islamdengan Barat. berpendapat bahwa pembaruan mengandung arti pikiran. di mana Barat pada waktu itu telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang industrialisasi sebagai akibat dari lahirnya Revolusi Industri di Inggris. adalah ketika terjadinya aktualisasi Islam dalam berbagai kehidupan sosila-kultural oleh kaum muslim pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Dinasti Umayyah di Andalusia.6 Kedua. aliran. 7 sebagai pembaru di Indonesia yang banyak diikuti oleh para cendekiawan muslim. para sahabat. upaya aktualisasi ajaran Islam telah dilakukan Rasulullah. Pengertian pembaruan sebagaimana yang dikemukakan oleh Harun Nasution ini. pembaruan dalam Islam berarti telah hadir semenjak masayang paling awal bersamaan dengan kelahiran Islam itu sendiri. sedangkan umat masih sangat tertinggal.5 berpendapat bahwa modernisasi atau pembaruan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan sosial yang terjadi. kata Toto Suharto.Azyumardi Azra.

Nurcholish Madjid. Kemudian sebaliknya modernisasi Islam akan berimbas kepada modernisasi pendidikan.10 sebagaimana yang dirujuk oleh Toto Suharto. Selain itu. Dengan demikian. 9 Ketiga. 5 . sebagai dikutip oleh Toto Suharto. Pendidikan Islam pada dasarnya dapat dijadikan alat yang sangat strategis dalam melaksanakan gerakan modernisasi Islam. Dengan pengertian sebagaimana yang dikemukakan Faisal Ismail ini berarti pembaruan itu dapat memberikan tanda bahwa pembaruan berarti penyesuaian ajaran Islam segala yang baru. maka ada hubungan yang erat antara pembaruan pendidikan dan pembaruan Islam. maka perlu kemudian kita mencoba mengaitkan dengan proses modernisasi atau pembaruan pendidikan Islam. Sesungguhnya ada hubungan timbal balik antara pembaruan Islam dan modernisasi pendidikan Islam. kata Toto Suharto. berarti usaha pembaruan dapat dikatakan selalu ada dalam setiap kurun atau zaman. Faisal Ismail. menyebutkan bahwa modernisasi mempunyai arti usaha secara sadar yang dilakukan oleh suatu bangsa untuk mneyesuaikan diri dengan konstelasi dunia pada suatu kurun tertentu di mana bangsa itu hidup. Batasan pembaruan yang dikemukakan oleh Nurcholish Madjid mengandung pemahaman proses untuk membebaskan diri dari tradisionalisme yang penuh dengan pola pikir dan tata kerja lama yang berarti lawan dari tradisionalisasi. Berdasar batasan ini. Modernisasi Pendidikan Islam Berdasar pemahaman terhadap makna modernisasi atau tajdid. Keempat. sebagaimana didiskusikan di atas. 2. pembaruan pendidikan Islam akan banyak mempengaruhi modernisasi dalam sektor lain. menyatakan bahwa modernisasi merupakan proses perombakan pola pikir dan tata kerja lama yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola pikir dan tata kerja baru yang rasional.

maka tidak ada alasan lain untuk tidak melakukan pembaruan pendidikan Islam itu dilakukan. Oleh karena itu. Dengan ini. diperlukan pembaruan lembaga pendidikan sebagai dasar pendidikan militer yang diperlukan. Pendidikan ini merupakan adopsi sistem pendidikan Eropa. Sultan Ahmad III mengambil tindakan dengan mengirim para dutanya ke Eropa.12 Di samping pembaruan yang dilakukan dibidnag politik. Pembaruan Islam terjadi setelah umat Islam berhubungan dengan Barat pada akhir abad ke-18 M. kemudian Sultan Ahmad III dengan segera mengadakan pembaruan di turki Utsmani. Ternyata dilaporkan bahwa di Eropa telah terjadi perubahan luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembaruan Islam dalam segala bentuk dan coraknya berakibat pada dilaksanakannya pembaruan di bidang pendidikan Islam. Pada 1846 M. Kekalahan demi kekalahan telah membuat Sultan Ahmad III (1703-1731 M. Pembaruan pendidikan ini dilakukan disebabkan karena kekalahan umat Islam dalam berbagai perang melawan Eropa. Oleh karena itu. Dia pun melakukan introspeksi diri dengan meneliti dan menyelidiki keunggulan-keunggulan yang dimiliki Barat. maka kemudian didirikan Sekolah Teknik Militer di Turki Utsmani. Dengan ini. tetapi tetap melakukan pembarun dalam bidang pendidikan. Untuk memperkuat militer di Turki Utsmani.) menjadi amat prihatin. Pendidikan inilah yang dianggap penting untuk dijadikan tempat menyemai pembaruan tersebut.11 Pembaruan pendidikan Islam pada aspek cita-cita telah dimulai oleh Kerajaan Turki Utsmani. Dari sini telah terjadi perubahan persepsi dlaam memandang dunia Barat. kemudian. Sultan Abdul Majid membuat peraturan yang memisahkan sistem pendidikan Islam dari 6 . Sultan Ahmad II ( 1808-1839 M..) kemudian melanjutkan pembaruan pendidikan Islam dengan mendirikan sekolah Rusyidiyyah pada tahun 1838 M.

Muhammad Ali mendirikan Sekolah Apoteker tahun 1829. Kehadiran Napoleon Bonaparte pada tahun 1789 M. Sekolah Pertanian tahun 1836. dan Sekolah Penerjemahan pada tahun 1836 M.sistem pendidikan umum. Telah membuka mata umat Islam. Ketetapan ini dibuat atas dasar pemikiran perlunya memperluas dan mempercepat perkembangan sistem pendidikan umum model Eropa. pada tahun 1924 M. Hitti. semua lembaga pendidikan yang ada di Turki seharusnya dibuat sebagaimana pendidikan di dunia Barat.16 mengatakan bahwa bukan hanya corak dan model pendidikan Barat yang diterapkan Muhammad Ali. sehingga kemudian Pemerintah Turki mengeluarkan ketetapan “Ma’arif Umumiyi Ni-zamnamesi” pada tahun 1869 M. Guru-gurunya juga didatangakan dari Barat. Pembaruan juga dilakukan di Mesir. Berdasar kenyataan itu. dia juga memandang perlunya integrasi 7 .14 Penghapusan lembaga pendidikan Islam ini dilakukannya karena dia mempunyai anggapan bahwa untuk melakukan pembaruan pendidikan Islam.15 Philip K. Muhammad Ali Pasya mulai memikirkan dan melakukan pembaruan dalam bidang pendidikan. bahwa Islam sedang berada dalam kelemahan dan keterbelakangan. Sekolah Pertambangan tahun 1839. menghapus semua lembaga pendidikan Islam menjadi lembaga pendidikan umum yang mengikuti sistem pendidikan Eropa.. Kebijakan ini ternyata tidak berhasil memberi harapan yang baik.13 Mustafa Kemal Ataturk. Selain itu. tetapi juga mempercayakan pengawasan sekolah-sekolahnya kepada orang-orang Barat. khususnya Mesir.

baik di Turki maupun Mesir.19 Pembaruan pendidikan Islam dalam perspektif filosofis dengan penekanan pada aspek cita-cita dan kelembagaannya telah dilakukan oleh umat Islam. Pada tahap yang paling awal. Sedangkan yang lain beranggapan bahwa kaum muslim harus memperoleh pengetahuan teknologi dan intelektual Barat sekaligus. Menurut Azra.pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Dengan cita-cita ini.17 Pembaruan di Turki dna Mesir cukup memadai untuk menggambarkan bagaimana proses pembaruan pendidikan terjadi di dunia Islam. sebab tidak ada ilmu pengetahuan yang merugikan bagi umat Islam. Muhammad Abduh menganggap perlu diajarkannya ilmu pengetahuan modern di lembaga pendidikan Islam seperti Universitas al-Azhar di Mesir di samping juga perlu memperkuat ilmu- ilmu agama. proses pembaruan pendidikan Islam. 8 . Pernyataan Azra ini dapat dilihat adanya penerjemahan literatur yang menggunakan bahasa Eropa ke dalam bahasa Arab dan pengiriman sejumlah duta yang ditugaskan untuk mengamati perubahan sistem pendidikan di Eropa. Sedangkan pembaruan pada kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan secara utuh. Sementara ada yang berpendapat bahwa pembaruan pendidikan dengan jalan transformasi pengetahuan modern semestinya dibatasi hanya pada bidang teknologi saja.18 pembaruan yang dimaksud dalam berbagai literatur tentang pembaruan dalam bidang pemikiran dan cita-cita dengan perspektif intelektual. Pembaruan dalam bidang pendidikan Islam senantiasa menimbulkan persoalan bagi para tokoh pemikir Islam. sebagian besar tidak diarahkan kepada pembaruan lembaga-lembaga pendidikan.

Kedua.23 9 .pola pembaruan pendidikan Islam yang berorientasi pada model pendidikan modern di Eropa. Pertama. 22 Selain meniru Barat dalam sistem pendidikannya perlu juga pengiriman para mahasiswa ke dunia Barat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern.20 3. Kemajuan di Barat tidak lain adalah merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam. Pemikiran pembaruan sistem pendidikan Islam akan dilanjutkan pembaruan pada lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian. maka sumber kekuatan dan kesejahteraan tersebut harus dikuasai kembali. Pola seperti ini dipelopori oleh Sultan Mahmud II yang memerintah di Turki Utsmani pada tahun 1807-1839 M. Pola Pembaruan yang Berorientasi ke Barat Pola ini didasarkan atas pandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang dialami oleh Barat adalah sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) modern yang mereka peroleh. pola pembaruan yang berorientasi dan bertujuan unutk pemurnian kembali ajaran Islam. Pola Modernisasi Pendidikan Islam Pola modernisasi pendidikan Islam di dunia Islam dapat dipetakan menjadi tiga pola yang berbeda.21 a.tetapi keduanya harus berjalan bersama. Ketiga. pola pembaruan yang berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan bersifat nasionalisme. Pengembangan kejayaan Islam di masa lalu dapat diperoleh kembali dengan cara memperbarui pendidikan sebagaimana yang dipraktikan oleh Barat. jika ingin maju seperti barat.

Pola Pembaruan yang Berorientasi pada Sumber Islam Murni Pola ini didasarkan pada pandangan bahwa Islam sendiri merupakan sumber dari kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Nasionalisme atau rasa kebangsaan ini. Pola Pembaruan yang Berorientasi pada Nasionalisme Rasa Nasionalisme timbul bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya pola kehidupan modern yang konon dimulai dari Barat. Realitas ini antara lain berwujud stagnasi (kemandengan) perkembangan filsafat Islam dan ditinggalkan pola pemikiran rasional. pada tahap perkembangan berikutnya mendorong timbulnya usaha-usaha untuk merebut kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan sendiri di kalangan bangsa-bangsa pemeluk Islam. umat Islam yang telah membentuk pemerintahan nasional tersebut mengembangkan sistem dan pola pendidikan nasionalnya sendiri-sendiri.24 c. Dalam pendidikan. Argumen yang dijadikan dasar adalah Islam telah membuktikannya pada masa kejayaannya di masa lampau. b. 10 . Pola pembaruan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab lalu diteruskan oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh pada akhir abas ke-19 di Mesir. Islam sendiri sesungguhnya mengandung ajaran-ajaran yang membawa kemajuan dan kesejahteraan serta kekuatan bagi umat manusia. Bangsa-bangsa Barat mengalami kekuatan-kekuatan politik yang berdiri sendiri. pintu ijtihad telah dianggap tertutup sehingga fiqh juga tidak berkembang lagi. Umat Islam menjadi mundur dan lemah. Keadaan tersebut mendorong bangsa- bangsa Timur pada umumnya dan bangsa-bangsa terjajah pada khususnya untuk mengembangkan rasa nasionalisme masing-masing. karena mereka tidak lagi melaksanakan ajaran Islam secara sempurna yang menjadi sumber kemajuan dan kekuatan bagi mereka. Hal itu telah didasari oleh para pemikir Islam dan sebagian mereka telah melakukan pembaruan dengan berorientasi pada ajaran murni Islam.

umat Islam terbagi ke dalam tiga kelompok. yakni menyikapinya secara proporsional. Demikian usaha-usaha pembaruan pendidikan Islam yang telah dilakukan oleh para elite muslim yang sampai sekarang telah dapat dilihat hasilnya diberbagai negara Islam dan di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kelompok pertama. Meski hasil dari usaha pembaruan pendidikan Islam itu belum optimal. dan pendidikan Islam relatif masih tertinggal oleh pendidikan Barat. menolak sama sekali. dan pertengahan. yakni orang-orang yang menerima secara mutlak. adalah orang yang disebutkan oleh Rasulullah daam hadistnya bahwa mereka adalah 11 . namun setidaknya telah membawa inspirasi besar bagi usaha-usaha selanjutnya dalam memajukan pendidikan Islam demi mengejar ketertinggalannya dari dunia Barat dan demi meraih kejayaannya kembali sebagaimana masa klasik Islam. yaitu yang menerima secara mutlak. Sikap Umat Islam terhadap Era Kontemporer Dalam menyikapi isu kontemporer. 3.

yakni tidak berlebihan dalam menolak dan menerimanya. orang yang menolak sama sekaliadalah yang menjauhi setiap hal-hal baru. sehingga andai umat lain itu masuk ke jalan yang benar. paham tentang risalahnya. Kelompok kedua. adalah kelompok pertengahan yakni yang menyikapi secara proporsional. dan sejenisnya. 12 . Inilah sikap para penyeru weternisasi yang berlebihan di dunia Arab dan islam. ekonomi.mengikuti cara-cara dan ajaran umat lain sejengkal. Menurut Yusuf Qordowi inilah sikap yang baik sebagai cermin. Inilah sikaporang beriman yang mempunyai wawasan luas dan terbuka yang bangga dengan identitasnya. politik. Ia tidak menghindar dari hal-hal yang baru dan tidak menerima secara berlebihan.25 Selain kelompok ini juga terdapat kelompok lain yang sering disebut dengan sebagai kelompok fundamentalis. tidak peduli dengan dunia pemikiran. Kelompok ketiga. tetapi malah mengambil posisi berhadapan dengan mereka tentang atau tolak. Kita tentu dapat memilah-milah dan memilih mana yang dianggap baik dan sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang tidak terima dan bahkan jika memungkinkan mengembangkannya untuk mendapat manfaat yang lebih baik. dan memegang teguh orisinalitasnya. Mereaka menganggap bahwa era baru akan merusak sendi-sendi budaya Islam yang telah mereka jaga selama bertahun-tahun. Bedanya mereka tidak mengasingkandiri. sebagai manhaj Islam pertengahan. mereka akan mengikutinya. Kekhawatiran mereka terletak pada “weternisasi” dan “pembaratan” pada budaya setempat melalui arus masa kini.26 Di antara sikap yang paling tepat menanggapi era baru sebagaimana tersebut di atas adalah sikap proporsional. Mereka berusaha dan menyingkir.

4. Sedangkan solusi pokok menurut Rahman adalah pengembangan wawasan 13 . dan fleksibel. Selain itu. dibangun kembali atau dimodernisasi sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan penddikan yang berwawasan global. pendidikan harus dirancangkan sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif. Untuk itu. dan tanggung jawab. program pendidikan harus diperbaharui. Disamping itu. kebersamaan. Solusi Problematika Pendidikan Islam di Era Kontemporer Dalam menuju era baru. pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan.

terutama lembaga pendidikan Islam untuk melakukan nazhar atau perenungan atau penelitian kembali apa yang harus diperbuat dalam mengantisipasi tantangan tersebut. Berbagai macam tantangan tersebut menuntun para pengelola lembaga pendidikan. Melakukan nazhar dapat berarti at-taammul wa al’fahsh. model-model pendidikan Islam seperti apa yang perlu ditawarkan di masa depan. yang sekiranya mampu mencegah dan atau mengatasi tantang tersebut. Sementara itu.intelektual yang kreatif dan dinamis dalam sinaran dan terintegrasi dengan Islam harus segera dipercepat prosesnya. yaitu industrialisasi sebuah masyarakat yang berarti diferensiasi fungsional dari struktur sosial dan sistem keagamaannya. yakni melakukan perenungan atau menguji dan memeriksanya secara cermat dan mendalam. termasuk di dalamnya adalah berpikir dan berpandangan alternatif serta mengkaji ide-ide dan rencana kerja yang telah dibuat dari berbagai perspektif guna mengantisipasi masa depan yang lebih baik.27 14 . dan melakukan perubahan pandangan (cara pandang) dan cara penalaran (kerangka pikir) untuk menangkap dan melihat sesuatu. menurut Tibim solusi pokoknya adalah secularization.

Kesimpulan Pendidikan Islam sebagai lembaga diakuinya keberadaan lembaga pendidikan Islam dan sebagai salah satu pelajaran yang wajib diberikan salah satu pelajaran yang wajib diberikan pada tingkat dasar sampai perguruan tinggi serta sebagai nilai (value) yakni ditemukannya nilai-nilai islami dalam sistem pendidikan. Sikap umat islam terhadap era kontemporer yaitu yang menerima secara mutlak yaitu ia tidak menghindar dari hal-hal yang baru dan tidak menerima secara berlebihan. Pendidikan juga harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala 15 . BAB III PENUTUP 3.1. yakni menyikapinya secara proporsional (seimbang). kebersamaan. Solusi problematika dalam era kontemporer yakni pendidikan harus dirancangkan sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. kata Toto Suharto. Walaupun demikian. pendidikan Islam tidak luput dari problematika yang muncuk di era masa kini. pembaruan dalam Islam berarti telah hadir semenjak masa yang paling awal bersamaan dengan kelahiran Islam itu sendiri.a Modernisasi sendiri suatu untuk mengaktualisasikan ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan sosial yang terjadi. Dengan pengertian ini. dan tanggung jawab.

16 . Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan penddikan yang berwawasan global.faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat.