You are on page 1of 4

Pribumi dan Doktrin Anti Aseng yang Menyesatkan

Oleh: Eko Marhaendy

Pendahuluan
Kata Aseng kelihatannya telah menjadi terminologi baru di Indonesia;
prejudice untuk merujuk saudara-saudara dari kalangan Tionghoa. Jelas
bertendensi negatif; sebab sangat sulitjika bukan tidak satupunditemukan
narasi positif dalam penggunaan terminologi itu.
Kurang begitu jelas sejak kapan istilah itu muncul dan digunakan. Tanpa
maksud menggeneralisir, saya pernah menemukan satu tulisan Hatta Taliwang
yang mengintrodusir penggunaan istilah aseng. Menurutnya, istilah itu pertama
kali digunakan oleh Kwik Kian Gie dan menjadi populer berkat Sri Bintang
Pamungkas.
Bukan kebetulan bahwa Hata Taliwang dan Sri Bintang Pamungkas tengah
tersandung dugaan makar; tapi tulisan ini tidak berpretensi untuk mengungkapkan
dugaan itu. Jika makar diartikan sebagai usaha untuk menjatuhkan pemerintahan
yang sah, sejatinya ada agenda politik yang terselubung di dalamnya.
Lepas dari dugaan makar, semangat anti aseng pada dasarnya hanya
doktrin yang dilemparkan untuk membentuk kesadaran palsu guna
mendapatkan dukungan publik. Sayangnya, doktrin tersebut cukup efektif
digunakan, untuk tujuan makar sekalipun, sebab sikap mendikotomikan pribumi
dan non-pribumi telah menjadi semacam ideologi yang dianut oleh bangsa ini.

Kekeliruan Mendikotomikan Pribumi dan Nonpribumi


Saya berusaha melacak definisi Pribumi untuk melahirkan narasi yang
lebih adil. Dalam bahasa Inggris kata itu dekat dengan istilah Indigenous; atau
Bumiputeradalam bahasa Melayu; mengandung makna penduduk asli atau
kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa di sebuah negara. Karenanya,
Non-Pribumi dapat diartikan sebaliknya.
Kuat dugaan dikotomisasi pribumi dan non-pribumi sudah terjadi sejak
zaman penjajahan. Klasifikasi itu digunakan untuk membedakan penduduk Hindia
Belanda yang berasal dari suku asli kepulauan Nusantara dengan kelompok etnis
yang dianggap sebagai pendatang. Konon, para pendiri bangsa ini pernah
berusaha meretas dikotomi tersebut untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan;
ironis jika belakangan dikotomi itu dimunculkan kembali.
Tanpa maksud mengerdilkan perjuangan para pendiri bangsa untuk
memerdekakan Negeri ini, saya punya pandangan lain. Lagipula sudah saatnya
sejarah Indonesia dibaca secara kritis, lepas dari doktrin nasionalisme untuk
mendapatkan narasi yang lebih objektif. Dari sanalah saya ingin berangkat
menjelaskan dikotomi pribumi dan non-pribumi pada tulisan ini.
Mungkin saya perlu mengajukan antitesa sejarah, bahwa Indonesia belum
dianggap ada hingga Sukarno memaksakan kemerdekaan pada 17 Agustus
1945.
Asumsi ini tidak bertujuan menggugurkan pendapat seorang etnolog
berkebangsaan Inggris, George Earl, sebagai yang ditengarai orang pertama
mengajukan istilah Indunesia dan Melayunesia untuk merujuk penduduk
kepulauan India dan Melayu; tapi yang saya maksud di sini adalah Indonesia
dalam artian politik dan pemerintahan.
Orang-orang terdahulu bahkan lebih mengenali istilah Hindia Belanda
dibanding Indonesia untuk merujuk wilayah kepulauan Nusantara. Istilah
Indonesia baru populer pada tahun 1900-an karena banyak digunakan oleh
kelompok nasionalis sebagai ekspresi politik; termasuk lingkungan akademik di
luar Belanda
Soal penggunaan istilah atau penamaan agaknya terlalu gamblang
diperdebatkan; tapi fakta yang sulit dibantah, Kepulauan Nusantara masih
merupakan wilayah yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecilbahkan mungkin
saling bermusuhanhingga Belanda berhasil menyatukannya dalam wilayah
pemerintahan Hindia Belanda. Jika menggunakan logika terbalik, kolonialisme
lah yang justeru berjasa menyatukan Kepulauan Nusantara.
Tapi doktrin mengenai penjajahan pada kenyataannya cukup berhasil
ditanamkan lewat buku pelajaran sekolah; cerita yang beredar di tengah
masyarakat; pemberitaan media; hingga pidato kenegaraan. Dari sanalah dikotomi
pribumi dan non-pribumi itu dibentuk sebagai alat mamantik semangat
nasionalisme untuk mengusir penjajah; kelompok non-pribumi yang dianggap
telah menguasai hak-hak kaum pribumi.
Lagi-lagi saya ingin menggunakan logika terbalik. Kekayaan alam yang
diyakini melimpahruah di bumi Nusantara yang katanya Tanah Surga, pada
kenyataannya tidak berbanding lurus dengan sumber daya manusia yang mampu
mengelolanya. Seandainya bangsa-bangsa yang lebih maju tidak datang dengan
cara menjajah sekalipun; apa yang bisa dikembangkan dari kekayaan alam itu?.
Tidak kurang dari 38 perusahaan perkebunan tembakau, disusul 205
perusahaan pertanian dan perkebunan lainnya yang berhasil dinasionalisasi
pemerintah dari perusahaan Belanda pada tahun 1957. Dalam sektor perdagangan,
The Big Five yang terdiri dari: Boorsumij, Internatio, Jacobson van den Berg,
Lindeteves Stokvis, dan Geowehry; berhasil dilebur menjadi Badan Usaha Milik
Negara (BUMN).
Dalam logika yang sangat umum boleh saja dimaklumi bahwa
nasionalisasi perusahaan-perusahaan itu merupakan konsekuensi dari upaya kaum
pribumi mengambil hak-hak yang pernah dirampas oleh non-pribumi. Tapi, coba
berpikir lagi dengan logika terbalik; hak-hak pribumi mana yang akan diambil
jika anak bangsa tidak memiliki kemampuan mengelolanya?. Alih-alih hak itu
baru disadari ketika sekelompok manusia yang disebut non-pribumi datang
melakukan eksploitasi.
Tulisan ini tentu sangat terbatas untuk mengupas lebih mendalam tentang
apa yang saya maksud dengan antitesa sejarah itu, tapi paling tidak saya bisa
menegaskan tiga hal. Pertama, jika yang dimaksud dengan Indonesia dulunya
adalah wilayah yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil; bahkan mungkin saling
bermusuhan satu sama lain; maka siapa yang berhak disebut sebagai pribumi di
Negeri ini?.
Kedua, anggaplah pribumi sebagai kelompok etnis asli yang berhak atas
wilayah tertentu; dengan logika di atas, bukankah istilah pribumi menjadi semakin
bias?. Orang Jawa yang hidup di Sumatera Utara jelas bukan pribumi; uniknya
mereka justeru menjadi etnis mayoritas jika Batak dihitung berdasarkan
klasifikasi sub etnisnya. Sebab jangankan Karo, Mandailing pun tidak ingin
dikelompokkan sebagai Batak.
Ketiga, pada gilirannya harus disimpulkan bahwa istilah non-pribumi
hanya berfungsi sebagai kata ganti untuk menyebut kaum penjajah. Bagi para
pendiri bangsa ini, mendikotomikan keduanya merupakan konsekuensi untuk
merebut kembali apa yang dianggap mereka sebagai hak pribumi. Faktanya,
sampai hari ini, disadari maupun tidak, kesan penjajahan kerap mengiringi
penggunaan istilah non-pribumi.

Mengapa Cina?
Mengapa Cina?, ini pertanyaan yang tidak kalah menarik dalam isu non-
pribumi di Indonesia. Kalau meminjam penegasan saya yang terakhir, ada upaya
untuk menggiring opini penjajahan dengan menyebut orang-orang Tionghoa
yang berarti Cina sebagai kelompok non-pribumi. Saya perlu mengingatkan fakta
sejarah lebih dulu sebelum mengajukan analisis tentang pertanyaan di atas.
Sebagai bangsa tua, melihat keturunan Cina menyebar di seluruh penjuru
dunia, masuk menjadi bagian dari etnis yang diakui di tanah tinggal mereka,
adalah fenomena yang sangat dimaklumi. Di Amerika misalnya, Cina diakui
sebagai etnis dengan populasi 3,5 juta jiwa (sensus 2007); demikian halnya di
negara-negara Eropa dengan total populasi sekira 2 jutaan jiwa.
Indonesia punya sejarah sendiri tentang orang-orang keturunan Cina,
migrasinya sudah lebih dulu dilakukan dibanding Amerika yang baru terjadi pada
tahun 1820-an. Bahkan, penyebutan Tionghoa sendiri diyakini sebagai bentuk
penghargaan atas kontribusi nasionalisme orang-orang keturunan Cina terhadap
perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1932 pernah berdiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI) sebagai
wujud eksistensi politik orang-orang keturunan Cina. Selain itu, terdapat 4 orang
Cina sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI); dan satu orang dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI).
Konon, satu dari anggota BPUPKI keturunan Cina bernama Liem Koen
Hian, ikut merumuskan UUD 1945. Ia justeru wafat sebagai orang asing karena
persoalan politik. Pada tahun 1951 ia ditangkap dengan tuduhan menjadi
simpatisan kiri sebelum akhirnya memutuskan untuk menanggalkan
kewarganegaraan Indonesianya; negeri yang pernah ia perjuangkan.
Sejarah di atas penting ditegaskan untuk mengingatkan kembali kontribusi
orang-orang keturunan Cina terhadap kemerdekaan Negeri ini. Sebab, dalam
sejarah-sejarah konvensional yang dinukilkan lewat buku pelajaran sekolah,
hampir tidak ditemukan narasi yang menonjolkan fakta-fakta itu; hal yang
menurut hemat saya semakin mengokohkan stereotipe tentang Tionghoa sebagai
non-pribumi.
Selanjutnya, mari menjawab pertanyaan: mengapa Cina? Dalam isu
pribumi dan non-pribumi, semangat anti asing dan aseng seringkali
dimunculkan. Kata asing mungkin dengan mudah bisa dipahami, tapi apa yang
dimaksud dengan aseng? Sulit ditampik bahwa sosok berkulit putih dengan
mata sipit akan segera terbayang ketika kata itu disebutkan.
Penggunaan istilah aseng yang kerap mengiri kata asing tidak bisa
dianggap bermakna kosong; istilah itu jelas menyasar pada orang-orang Tionghoa.
Jika Tionghoayang nasionalismenya sudah terukur sekalipunbelum bisa
diterima sebagai pribumi, mengapa tidak mencukupkannya dengan istilah asing
saja?; tentu karena sasaran utamanya adalah Cina.
Dalam konstruksi isu pribumi dan non-pribumi di Indonesia, ada semacam
kecenderungan Cina dijadikan sebagai sasaran prasangka. Sebenarnya bukan hal
baru, karena embrionya sudah dimulai sejak tahun 1740 dalam peristiwa
kekerasan rasial yang dikenal dengan Geger Pacinan. Beberapa sumber
menyebutkan, tidak kurang dari sepuluh ribu keturunan Tionghoa dibunuh dalam
peristiwa tersebut.
Ada banyak kasus rasialisme yang mendiskriminasikan etnis Tionghoa
pasca peristiwa Geger Pacinan; tapi semangat anti Cina yang paling kentara
karena didukung dengan berbagai regulasi sebenarnya mulai dihembuskan pada
tahun 1956. Pidato Asat Datuk Mudo tahun 1956 ditengarai memicu gerakan
pribumisasi yang belakangan menelurkan PP No. 10 Tahun 1959.
PP No. 10 Tahun 1959 dikeluarkan dalam rangka melarang pedagang kecil
atau eceran asing (non-pribumi) beroperasi dengan dalih Indonesianisasi.
Sasarannya jelas pedagang Tionghoa yang disadari mulai menguasai
perekonomian dalam sektor perdagangan; sementara orang-orang pribumi tidak
mampu bersaing.
Akeses perekonomian orang-orang Tionghoa sedikit dibuka pada
pemerintahan Orde Baru; tapi masih dalam batasan yang ketat. Situasi itu tidak
menandai sentiment anti Cina segera berakhir; karena pada kenyataannya isu itu
pula yang diangkat untuk menggulingkan pemerintahan Suharto sehingga
melahirkan kekerasan rasial terhadap etnis Tionghoa pada tahun 1998.
Tragedi 1998 boleh saja dianggap sebagai skenario politik; karena dalam
faktanya ada elit tertentu dari kalangan Tionghoa yang yang selamatkalau
bukan diselematkan. Tapi yang harus diingat, sejarah itu telah membuktikan
betapa isu pribumi dan non-pribumi dengan orang-orang Tionghoa sebagai objek
prasangka; sangat efektif dimanfaatkan untuk kepentingan makar.

Penutup
Akhirnya, terjawab sudah pertanyaan: mengapa Cina?. Karena
merekalah yang dianggap menguasai akses-akses perekonomian. Sebenarnya
bukan hal buruk, karena orang-orang pribumilah yang tidak memiliki kualitas
bersaing. Ego pribumi kemudian dijadikan senjata ampuh untuk melawan
saudara sebangsa yang tampil sebagai pemenang persaingan.
Lagipula, istilah pribumi dan non-pribumi sejak awal disadari sangat
menyesatkan. Istilah itu hanya mengesankan keadaan mental bangsa yang
kalah. Sebagaimana lazim dipertontonkan, yang kalah kerap diposisikankalau
bukan memosisikan dirisebagai korban.