You are on page 1of 39

BAB 5

SISTEM PENYUSUNAN PROGRAM

PENDAHULUAN
Tahap ketiga sistem manajemen strategik adalah penyusunan program. Setelah strategi
untuk melaksanakan misi dan untuk mewujudkan visi dirumuskan, langkah berikutnya
adalah menyusun rencana strategik untuk menerjemahkan strategi tersebut. Rencana
strategik berisi sasaran-sasaran strategik dan berbagai inisiatif strategik pilihan untuk
mencapai sasaran yang bersangkutan. Dalam penyusunan program, berbagai inisiatif
strategik tersebut dijabarkan lebih lanjut ke dalam programlangkah-langkah strategik
pilihan untuk mewujudkan sasaran strategik tertentu beserta taksiran sumber daya yang
dikorbankan untuk dan diperoleh dari perwujudan sasaran tersebut. Berbeda dengan dua
tahap sistem manajemen strategik sebelumnya yang menghasilkan keluaran berupa
informasi kualitatif, tahap penyusunan program menghasilkan keluaran, di samping
berupa informasi kualitatif juga informasi kuantitatif, baik informasi kuantitatif
nonkeuangan maupun informasi keuangan.
Dalam penyusunan program ini dipilih program-program yang digunakan untuk
menjabarkan inisiatif strategik yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan strategik.
Kemudian untuk setiap program tersebut diprakirakan investasi yang diperlukan untuk
melaksanakan program. Atas dasar prakiraan investasi ini dapat diprakirakan total laba
yang diharapkan (desired profit). Oleh karena itu, dari setiap program yang dipilih,
kemudian diprakirakan differential revenues dan differential costs-nya untuk menghitung
differential profit yang dihasilkan dari keseluruhan program. Dengan cara demikian, laba
dalam jangka panjang direncanakan melalui proses penyusunan program.
Bab ini membahas sistem penyusunan program. Oleh karena penyusunan program
merupakan salah satu matarantai dalam proses sistem manajemen strategik, uraian dalam
bab ini dimulai dengan penjelasan hubungan penyusunan program dengan perencanaan
strategik dan penyusunan anggaran. Selanjutnya diuraikan sistem penyusunan program
sistem penjabaran inisiatif strategik ke dalam program Oleh karena penyusunan program
merupakan tahap pertama dalam sistem pengelolaan sumber daya (resource management
system), pada akhir bab ini diuraikan perhitungan keuangan projeksian dari program-
program yang dibuat dalam sistem penyusunan program.

POSISI SISTEM PENYUSUNAN PROGRAM DALAM TOTAL
BUSINESS PLANNING
Penyusunan program bukan merupakan tahap yang berdiri sendiri. Penyusunan program
merupakan matarantai yang menghubungkan perencanaan strategik (strategic planning)
dengan penyusunan anggaran (budgeting). Oleh karena itu, sebelum membahas sistem
penyusunan program, lebih dahulu diuraikan posisi strategik sistem penyusunan program
dan hubungan penyusunan program dengan proses sebelumnya (perencanaan strategik)
dan proses sesudahnya (penyusunan anggaran).
Program merupakan rencana langkah-langkah strategik yang digunakan untuk
mewujudkan sasaran strategik. Program ibarat peta perjalanan. Oleh karena itu, program
harus jelas (sasarannya, rationale-nya, deskripsinya, tahapannya, kebutuhan dananya, dan
2

hasil keuangannya). Program digunakan untuk membuktikanmelalui perencanaan


kemampuan perusahaan dalam mewujudkan target pencapaian sasaran strategik.
Pemilihan program sangat dipengaruhi oleh:
a. Kejelasan pernyataan inisiatif strategik pilihan untuk mewujudkan sasaran strategik
b. Rationale yang dibangun di antara keluaran tahap perumusan strategi (hasil trend
watching dan SWOT analysis, misi, visi, keyakinan dasar, nilai dasar, tujuan, dan
strategi) dan tahap perencanaan strategik (sasaran dan inisiatif strategik)

FUNGSI SISTEM PENYUSUNAN PROGRAM DALAM SISTEM
MANAJEMEN STRATEGIK
Dalam sistem manajemen strategik, sistem penyusunan program berfungsi sebagai:
1. Alat untuk menjabarkan inisiatif strategik mission centers dan service centers ke
dalam program
2. Alat untuk mengevaluasi ketercapaian sasaran-sasaran strategik dan efektivitas
inisiatif strategik yang dirumuskan dalam perencanaan strategik
3. Alat untuk membuktikanmelalui perencanaankemampuan perusahaan dalam
melipatgandakan kekayaan dalam jangka panjang.
4. Basis untuk penyusunan anggaran.

Program sebagai Alat untuk Menjabarkan Inisiatif Strategik
Sistem penyusunan program merupakan alat untuk menjabarkan inisiatif strategik
mission centers dan service centers ke dalam programyang merupakan langkah-
langkah jangka panjang, disertai dengan prakiraan sumber daya yang dikorbankan untuk
dan diperoleh dari perwujudan sasaran strategik. Dalam sistem perencanaan strategik,
untuk setiap sasaran strategik dipilihkan inisiatif strategik untuk mewujudkannya.
Inisiatif strategik dirumuskan dalam bentuk pernyataan kualitatif tentang langkah besar
yang dipilih untuk mencapai sasaran strategik. Pernyataan kualitatif ini kemudian perlu
dijabarkan lebih lanjut ke dalam langkah besar berjangka panjang dalam bentuk program.

Contoh 5.1
Sasaran strategik: Terkomunikasikannya Informasi Penyembuhan Terper-
caya
Ukuran hasil: Indeks Kesetiaan Customer
Target: Retention rate 80% mulai tahun 2012
Inisiatif strategik: Menyediakan Layanan Berbasis Teknologi Informasi
Ukuran pemacu kinerja: Persentase Layanan Berbasis Teknologi Informasi


Ada tiga pertanyaan yang timbul:
1. Program pilihan apa yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik
tersebut (Menyediakan Layanan Berbasis Teknologi Informasi)?
2. Bagaimana mengevaluasi ketercapaian sasaran strategik tersebut
(Terkomunikasikannya Informasi Penyembuhan Terpercaya)?
3. Bagaimana mengevaluasi efektivitas inisiatif strategik (Menyediakan
Layanan Berbasis Teknologi Informasi) sebagai langkah besar untuk
3

mewujudkan sasaran strategik tersebut (Terkomunikasikannya Informasi


Penyembuhan Terpercaya)

Untuk menjabarkan inisiatif strategik Menyediakan Layanan Berbasis Teknologi
Informasi dipilih dua program:
1. Komputerisasi rekam medik
2. Pemanfaatan data lab untuk diagnose.

Kedua program tersebut direncanakan mampu mewujudkan terkomunikasikannya
informasi penyembuhan terpercaya yang diukur ketercapaiannya dengan indeks
kesetiaan customer. Gambar 5.5 melukiskan penjabaran inisiatif strategik mission
center Rawat Inap Terkomunikasikannya Informasi Penyembuhan Terpercaya
dalam penyusunan program. Terlihat dalam gambar tersebut, program di samping
berisi informasi kualitatif (berupa nama program dan uraian singkat kegiatan yang
dilakukan dalam program), juga berisi informasi kuantitatif seperti prakiraan
jumlah customer baru yang dapat dihasilkan dari program tersebut.

KEGIATAN DALAM TAHUN


PROGRAM 2010 2011 2012 2013 2014
Program Pendesainan Komputerisasi Pemeliharaan Improvement Improvement
Komputerisasi sistem rekam rekam medik sistem sistem sistem
Rekam Medik medik komputerisasi komputerisasi komputerisasi
rekam medik rekam medik rekam medik
Program Pemutakhiran Desain dan Improvement Improvement Improvement
Pemanfaatan fasilitas dan instalasi atas sistem atas sistem atas sistem
Data Lab sistem lab jejaring diagnosa diagnosa diagnosa
untuk informasi lab
Diagnosa
Prakiraan 100 orang 100 orang 100 orang 100 orang
jumlah
customer baru

Gambar 5.5 Penjabaran Inisiatif Strategik Mission Center Rawat Inap ke Dalam Program

Program sebagai Alat untuk Mengevaluasi Ketercapaian Sasaran


Strategik dan Efektivitas Inisiatif Strategik
Seluruh keluaran yang dihasilkan dari tahap perumusan strategi dan perencanaan
strategik bersifat kualitatif. Untuk membuktikan apakah informasi kualitatif tersebut
dapat diwujudkan, diperlukan alat untuk mengevaluasi ketercapaian visi, tujuan, dan
sasaran strategik. Di samping itu, diperlukan pula alat untuk mengevaluasi efektivitas
misi, strategi, dan inisiatif strategik yang digunakan untuk mewujudkan visi, tujuan, dan
sasaran strategik tersebut. Program dipilih untuk menjabarkan inisiatif strategik guna
mewujudkan sasaran strategik. Program disusun untuk mengevaluasi ketercapaian
sasaran strategik dan efektivitas inisiatif strategik.

4

Dalam proses penyusunan program, setiap inisiatif strategik mission centers dan
service centers dijabarkan ke dalam program. Program merupakan langkah besar yang
memerlukan waktu beberapa tahun untuk melaksanakannya dan memerlukan sumber
daya besar untuk mewujudkannya. Ketercapaian sasaran strategik diukur berdasarkan
ukuran hasil (outcome measure atau lag indicator) yang telah ditetapkan dalam
perencanaan strategik. Melalui penjabaran inisiatif strategik ke dalam program, dapat
dihitung kuantitas ukuran hasil yang dapat dicapai melalui program, sehingga target
pencapaian ukuran hasil yang diharapkan dapat diukur ketercapaiannya. Pada hakikatnya
sistem penyusunan program merupakan alat untuk secara strategik mengalokasikan dana
ke dalam program-program yang menjanjikan ketercapaian sasaran strategik perusahaan.
Sebagai contoh, komputerisasi rekam medik dan pemanfaatan data lab untuk
diagnose merupakan dua program yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik
Menyediakan Layanan Berbasis Teknologi Informasi. Dua program tersebut ditujukan
untuk mewujudkan sasaran strategik Terkomunikasikannya Informasi Penyembuhan
Terpercaya yang diukur ketercapaiannya dengan menggunakan ukuran hasil (outcome
measure) berupa indeks kesetiaan customer dengan target customer retention rate 80%
dalam tahuan 2012. Melalui penyusunan kedua program tersebut dapat dihitung
persentase customer yang dapat dipertahankan, yang dapat dihasilkan oleh dua program
tersebut, sehingga target customer retention rate sebesar 80% dapat diukur
ketercapaiannya. Gambar 5.14 Contoh Kartu Program yang Telah Diisi melukiskan
informasi kualitatif dan kuantitatif yang dihasilkan dalam proses penyusunan program
yang dapat digunakan untuk mengevaluasi ketercapaian sasaran strategik dan efektivitas
inisiatif strategik.

Program sebagai Alat untuk Pengalokasian Dana dalam Usaha
Pelipatgandaan Kekayaan Perusahaan
Dalam lingkungan kompetitif, perusahaan harus bersaing di dua pasar sekaligus: (1) pasar
modal dan (2) pasar komersial. Di pasar modal, perusahaan harus mampu memenangkan
pilihan investor dalam memperoleh modal yang akan diinvestasikan untuk menghasilkan
produk dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan customer. Di pasar komersial, perusahaan
harus mampu memenangkan pilihan customer melalui penyediaan produk dan jasa yang
melampaui harapan customer. Gambar 5.6 melukiskan karakteristik pasar kompetitif dan
syarat yang menentukan keberhasilan jangka panjang perusahaan dalam memasuki setiap
pasar.
5

PASAR KOMERSIAL PASAR MODAL

Karakteristik
Terdapat banyak Terdapat banyak
perusahaan memperebutkan perusahaan memperebutkan
pilihan customer pilihan investor

Syarat Kapabilitas manajemen Kapabilitas manajemen dalam


keberhasilan dalam menyediakan produk mengelola secara profitable dana
jangka panjang dan jasa yang melampaui investor
perusahaan di harapan customer
pasar

Gambar 5.6 Karakteristik Dua Pasar yang Dimasuki oleh Perusahaan dan Syarat yang
Menentukan Keberhasilan Jangka Panjang Perusahaan Di Setiap Pasar

Penciptaan dan ekspansi bisnis membutuhkan dana dari investor. Untuk menarik
investor dalam melakukan investasi, manajemen berkewajiban untuk meyakinkan
investor, bahwa manajemen perusahaan berkemampuan untuk melipatgandakan dana
investor melalui pengelolaan yang baik. Pelipatgandaan dana investor diwujudkan
melalui pengelolaan yang baik, dan pengelolaan yang baik dicerminkan melalui
perencanaan yang baik. Perencanaan yang baik diwujudkan dengan membangun
keterkaitan (linkage) yang erat antara trend perubahan lingkungan bisnis, SWOT
analysis, hasil envisioning, strategi, sasaran strategik, inisiatif strategik, program, dan
anggaran. Perencanaan yang baik menjanjikan hasil baikdilipatgandakannya dana yang
diinvestasikan oleh investor ke dalam perusahaan. Pendapatan yang diterima dari
customer digunakan untuk memenuhi kepentingan berbagai pemangku kepentingan
dengan urutan prioritas sebagai berikut:
1. Pemasok produk dan jasapembayaran oleh perusahaan atas harga barang dan jasa
yang diolah oleh perusahaan menjadi produk dan jasa yang dimanfaatkan oleh
customer.
2. Distributor, agen penjualanpembayaran oleh perusahaan atas biaya distribusi,
komisi keagenan atas produk dan jasa yang dijual melalui distributor dan agen
penjualan.
3. Personelpembayaran oleh perusahaan atas gaji, upah, tunjangan, dan bonus
kepada personel perusahaan.
4. Masyarakat lingkunganpembayaran oleh perusahaan atas manfaat yang dinikmati
oleh masyarakat lingkungan
5. Krediturpembayaran oleh perusahaan atas bunga atas kredit yang digunakan oleh
perusahaan untuk membelanjai operasinya.
6

6. Pemerintahpembayaran oleh perusahaan atas pajak penghasilan atas laba yang


diperoleh perusahaan.
7. Pemegang saham (investor)pembayaran oleh perusahaan atas dividen yang
menjadi hak pemegang saham.

Mengingat investor adalah pemangku kepentingan (stakeholder) terakhir yang


menerima pembayaran dari perusahaan setelah pemangku kepentingan lain terpenuhi
kepentingannya, maka jika investor terpenuhi kepentingannya atas modal yang
ditanamkan, maka berarti kepentingan pemangku kepentingan yang lain telah dapat
dipenuhi oleh perusahaan. Itulah sebabnya, sasaran strategik perusahaan difokuskan
untuk menghasilkan shareholder value berjangka panjang (yang diukur dengan economic
value added), karena dengan demikian kepentingan pemangku kepentingan yang lain
telah dapat dipenuhi.
Dalam proses perencanaan, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
shareholder value berjangka panjang dihitung pada tahap penyusunan program. Dalam
proses penyusunan program, dihitung investasi yang diperlukan untuk melaksanakan
program, diperkirakan pendapatan yang akan diperoleh dari program dan biaya yang akan
dikeluarkan untuk program. Dari perhitungan ini dapat diperkirakan kemampuan
perusahaan untuk melipatgandakan kekayaan dalam jangka panjang.

Program sebagai Basis untuk Penyusunan Anggaran
Program dijabarkan lebih lanjut ke dalam anggaran yang merupakan rencana laba jangka
pendek (short-range profit plan) dengan periode waktu umumnya satu tahun atau kurang.
Anggaran berisi bagian berbagai program yang akan dilaksanakan dalam tahun tertentu.
Program menjadi matarantai yang menghubungkan antara strategi perusahaan dengan
anggaran tahunan. Melalui inisiatif strategik dan program, strategi perusahaan
diterjemahkan dan dijabarkan ke dalam anggaran tahunan.

PROGRAM BERJALAN DAN PROGRAM BARU


Program dibagi menjadi dua macam: program baru dan program berjalan. Program baru
adalah rencana kegiatan jangka panjang baru yang dipilih untuk menjabarkan inisiatif
strategik yang ditetapkan dalam perencanaan strategik sekarang. Program berjalan (on-
going program) adalah rencana kegiatan jangka panjang yang masih dilaksanakan untuk
menjabarkan inisiatif strategik yang ditetapkan dalam perencanaan strategik yang lalu.
Program baru memerlukan sistem evaluasi komprehensif mengingat setiap program
memerlukan komitmen dana dalam jumlah besar untuk jangka waktu panjang ke depan.
Program berjalan memerlukan review secara periodik untuk mengevaluasi efektivitas
program dalam mewujudkan sasaran strategik yang ditetapkan dalam perencanaan
strategik di masa lalu. Penyusunan program dilakukan melalui sistem formal penyusunan
programsuatu sistem formal untuk mempertimbangkan dan memilih secara
menyeluruh program-program yang disusun untuk menjabarkan inisiatif strategik yang
ditetapkan dalam perencanaan strategik.
Proses penyusunan program dimulai dari review terhadap program berjalan. Proses
pengambilan keputusan atas program berjalan dilukiskan pada Gambar 5.8. Pada gambar
7

tersebut proses review terhadap program berjalan dilaksanakan dengan menjawab tiga
pertanyaan mendasar berikut ini:
1. Apakah sasaran strategik yang semula dituju oleh program berjalan masih ada dalam
daftar sasaran strategik yang dihasilkan dalam rencana strategik sekarang? Jika
sasaran strategik yang semula dituju oleh program berjalan tersebut sudah tidak ada
lagi dalam daftar sasaran strategik yang dihasilkan dalam tahap perencanaan strategik
sekarang, program tersebut tidak perlu untuk dilanjutkan. Namun jika sasaran
strategik yang semula dituju oleh program tersebut masih terdapat dalam daftar
sasaran strategik yang dihasilkan dari tahap perencanaan strategik sekarang,
pertanyaan kedua berikut ini perlu diajukan atas program berjalan.
2. Apakah program berjalan masih efektif untuk mewujudkan sasaran strategik yang
semula dituju oleh program yang bersangkutan? Jika sasaran strategik yang semula
dituju oleh program berjalan masih terdapat dalam daftar sasaran strategik yang
dihasilkan dalam tahap perencanaan strategik sekarang, pertanyaan selanjutnya
adalah: Apakah program berjalan masih efektif untuk mewujudkan sasaran strategik
yang semula dituju oleh program yang bersangkutan? Jika jawabannya tidak
efektif, program berjalan tersebut tidak layak untuk dilanjutkan. Namun jika
program masih efektif untuk mewujudkan sasaran strategik yang semula dituju oleh
program tersebut, pertanyaan ketiga berikut ini perlu diajukan atas program berjalan.
8

Apakah sasaran strategik


yang semula dituju oleh
program masih ada dalam
daftar sasaran strategik yang Tidak
dihasilkan dalam rencana
strategik sekarang?

Ya

Apakah program berjalan


masih efektif untuk
mewujudkan sasaran
strategik yang semula dituju Tidak
oleh program yang
bersangkutan?

Ya

Apakah program berjalan


dipandang masih efektif untuk
menjabarkan inisiatif strategik
Tidak
yang bersangkutan?

Ya

Program berjalan layak Program berjalan tidak


untuk dilanjutkan layak untuk dilanjutkan


Gambar 5.8 Pertimbangan Keputusan atas Program Berjalan

3. Apakah program berjalan dipandang masih efektif untuk menjabarkan inisiatif


strategik yang bersangkutan? Jika program berjalan masih efektif untuk mewujudkan
9

sasaran strategik yang semula dituju oleh program tersebut, pertanyaan selanjutnya
adalah: Apakah program berjalan dipandang masih efektif untuk menjabarkan
inisiatif strategik yang bersangkutan? Jika jawabannya tidak efektif, program
berjalan tersebut tidak layak untuk dilanjutkan. Namun jika program berjalan masih
efektif untuk menjabarkan inisiatif strategik yang ditetapkan dalam perencanaan
strategik sekarang, program berjalan tersebut masih layak untuk dilanjutkan.

Pengambilan keputusan atas program berjalan sebagaimana yang diuraikan di atas


dan dilukiskan pada Gambar 5.8 tidak selalu berakhir dengan program berjalan layak
untuk dilaksanakan atau program berjalan tidak layak untuk dilaksanakan. Di antara dua
kutub keputusan tersebut masih dimungkinkan untuk memilih keputusan: (1) program
berjalan layak untuk dilanjutkan tanpa modifikasi, (2) program berjalan layak untuk
dilanjutkan dengan modifikasi, (3) program berjalan tidak layak untuk dilanjutkan.

PROGRAM BERMOTIF LABA DAN PROGRAM NIRLABA
Penyusunan program pada dasarnya merupakan proses perencanaan laba jangka
panjangproses perencanaan investasi, pemerolehan pendapatan, dan pengeluaran biaya
dengan tujuan untuk menghasilkan laba dalam jangka panjang dalam jumlah
pengembalian (return) memadai sebanding dengan investasi yang akan dilakukan oleh
perusahaan.
Hampir setiap program yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik
membutuhkan investasi dan memerlukan biaya untuk mengoperasikan program tersebut.
Sebagai contoh, program komputerisasi rekam medik memerlukan investasi dalam
bentuk pembelian perangkat keras dan perangkat lunak komputer serta jejaring
telekomunikasi. Di samping itu, program tersebut juga memerlukan biaya operasi seperti
biaya karyawan, biaya asuransi, biaya pemeliharaan, biaya supplies kantor, biaya
telekomunikasi, dan biaya energi. Pada dasarnya semua investasi harus dapat ditutup
kembali dari pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk dan jasa kepada customer.
Namun tidak semua program ditujukan untuk menghasilkan produk dan jasa yang
mampu mendatangkan pendapatan bagi perusahaan.
Untuk memastikan bahwa dalam jangka panjang perusahaan mampu menghasilkan
laba memadai sebanding dengan investasi yang akan dilakukan, program-program yang
digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik perlu dikelompokkan ke dalam dua
golongan: (1) program bermotif laba (profit-motive program) dan (2) program nirlaba
(non-profit program).
Program bermotif laba adalah program yang direncanakan untuk menghasilkan
pendapatan dari penjualan produk dan jasa kepada customer. Pendapatan yang diperoleh
dari program tersebut dapat digunakan untuk menutup total biaya sehingga program
tersebut mampu menghasilkan laba, dan laba yang dihasilkan dapat digunakan untuk
menutup beban modal (capital charge) dari investasi dalam program tersebut, sehingga
program tersebut mampu menghasilkan economic value added. Program bermotif laba
dapat juga berupa program pengurangan biaya atau peningkatan produktivitas yang
tujuan akhirnya adalah peningkatan laba.
Program bermotif laba dapat berupa program pengurangan biaya dan peningkatan
produktivitas yang biasanya dilaksanakan melalui penggantian (replacement) terhadap
mesin dan ekuipmen atau sistem yang berlaku. Dalam pemakaian mesin dan ekuipmen,
10

pada suatu saat akan terjadi biaya operasi mesin dan ekuipmen menjadi lebih besar
dibandingkan dengan biaya operasi jika mesin tersebut diganti dengan yang baru, atau
produktivitasnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan. Pada saat seperti ini, operasi
dengan menggunakan mesin dan ekuipmen yang ada menjadi tidak ekonomis lagi.
Informasi penting yang perlu dipertimbangkan dalam keputusan penggantian mesin dan
ekuipmen yang ada adalah aktiva diferensial (differential assets) dan biaya diferensial
(differential costs). Penggantian mesin dan ekuipmen biasanya dilakukan atas dasar
pertimbangan adanya penghematan biaya (biaya diferensial) yang akan diperoleh atau
adanya kenaikan produktivitas (pendapatan diferensial) dengan adanya penggantian
tersebut. Jika biaya diferensial yang berupa penghematan biaya yang diperoleh dari
penggantian suatu mesin dan ekuipmen berjumlah pantas bila dibandingkan dengan
aktiva diferensial yang berupa tambahan investasi untuk penggantian tersebut, maka
penggantian tersebut secara ekonomis memang diperlukan. Dengan kata lain, jika aktiva
diferensial berupa investasi dalam penggantian aktiva tetap akan menghasilkan
kembalian investasi (return on investment) yang diharapkan, yang berupa perbandingan
antara penghematan biaya dengan investasi yang akan dilakukan, maka penggantian
mesin dan ekuipmen secara ekonomis layak. Meskipun penghematan biaya merupakan
kriteria yang umum dipakai dalam jenis program ini, namun seringkali pendapatan
diferensial juga perlu dipertimbangkan, yaitu jika kapasitas produksi ekuipmen yang baru
melebihi kapasitas produksi mesin dan ekuipmen yang dimiliki sekarang dan pasar masih
dapat menampung tambahan produk yang akan dijual.
Program bermotif laba dapat juga berupa program perluasan usaha (expansion
program). Program ini berupa pengeluaran untuk menambah kapasitas produksi atau
operasi menjadi lebih besar dari sebelumnya. Tambahan kapasitas akan memerlukan
aktiva diferensial berupa tambahan investasi dan akan menghasilkan pendapatan
diferensial, yang berupa tambahan pendapatan (revenues), serta memerlukan biaya
diferensial, yang berupa tambahan biaya karena tambahan kapasitas. Untuk memutuskan
jenis program ini, yang perlu dipertimbangkan adalah apakah aktiva diferensial yang
diperlukan untuk perluasan usaha diperkirakan akan menghasilkan laba diferensial (yang
merupakan selisih antara pendapatan diferensial dengan biaya diferensial) yang
jumlahnya memadai. Kriteria yang perlu dipertimbangkan adalah prakiraan laba masa
depan (yang merupakan selisih pendapatan dengan biaya) dan kembalian investasi
(return on investment) yang akan diperoleh karena adanya program tersebut. Penting juga
dipertimbangkan faktor risiko yang berbeda-beda untuk tiap-tiap program, pajak
penghasilan, dan nilai waktu uang, karena ketiga faktor tersebut menentukan arus kas
(cash flows) di masa depan.
Program nirlaba adalah program yang tidak menghasilkan pendapatan sehingga tidak
dapat menghasilkan laba. Contoh program nirlaba adalah program pengolahan air limbah,
program reklamasi, program penangkap debu pabrik. Termasuk dalam program nirlaba
adalah program yang tidak dapat diukur labanya (non-measurable profit program)
program yang memberikan kontribusi dalam meningkatkan laba perusahaan, namun
jumlah kontribusinya sulit untuk dihitung. Sebagai contoh program pembangunan tempat
ibadah, program pembangunan fasilitas rekreasi karyawan.
Program nirlaba timbul karena adanya peraturan pemerintah atau karena syarat-
syarat kontrak yang telah disetujui, yang mewajibkan perusahaan untuk melaksanakannya
tanpa mempertimbangkan laba atau rugi. Misalnya karena air limbah yang telah
11

digunakan dalam proses produksi jika dialirkan keluar pabrik akan mengakibatkan
timbulnya pencemaran lingkungan, maka pemerintah mewajibkan perusahaan untuk
memasang instalasi pembersih air limbah, sebelum air tersebut dibuang ke luar pabrik.
Karena sifatnya merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan, maka program jenis ini
tidak memerlukan pertimbangan ekonomis sebagai kriteria untuk mengukur perlu atau
tidaknya pengeluaran tersebut.
Program yang tidak dapat diukur labanya dimaksudkan untuk menaikkan laba,
namun laba yang diharapkan akan diperoleh perusahaan dengan adanya program ini sulit
untuk dihitung secara teliti. Sebagai contoh adalah program promosi produk untuk jangka
panjang, program penelitian dan pengembangan, dan program pelatihan dan pendidikan
karyawan. Sulit untuk mengukur tambahan pendapatan (differential revenues) yang dapat
diperoleh dengan adanya program promosi produk, begitu juga sulit untuk mengukur
penghematan biaya (differential costs), karena adanya efisiensi atau kenaikan
produktivitas sebagai akibat adanya program pelatihan dan pendidikan karyawan.
Biasanya yang dipakai sebagai pedoman dalam mempertimbangkan jenis program ini
adalah persentase tertentu dari hasil penjualan (untuk program promosi produk),
persentase tertentu dari laba bersih perusahaan (untuk program penelitian dan
pengembangan), program yang sama yang dilakukan oleh perusahaan pesaing, dan
jumlah dana yang tersedia. Dalam mempertimbangkan program jenis ini, pedoman
persentase tertentu dari pendapatan penjualan seperti disebutkan di atas tidaklah
merupakan kriteria yang memuaskan, dan biasanya manajemen puncak lebih banyak
mendasarkan pada pertimbangannya (judgment) daripada atas dasar analisis data
kuantitatif.
Mengapa program perlu dikelompokkan ke dalam golongan program bermotif laba
dan program nirlaba? Karena dalam proses penyusunan program, harus dapat dipastikan
bahwa program-program bermotif labayang digunakan untuk menjabarkan inisiatif
strategikmampu menghasilkan laba memadai, yang di samping dapat digunakan untuk
menutup investasi yang akan dilakukan dalam program bermotif laba, juga dapat
digunakan untuk menutup investasi dan biaya program-program nirlaba.

Contoh 5.2
Misalnya RS KXT merencanakan investasi untuk membelanjai program-program
bermotif laba sebesar Rp60.000.000.000 dan investasi dalam program-program
nirlaba sebesar Rp30.000.000.000. Discount factor untuk investasi tersebut sebesar
20%.

Gambar 5.9 melukiskan perhitungan kontribusi pendapatan yang diprakirakan akan


diperoleh dari program-program bermotif laba dalam menutup: (a) biaya operasi
program bermotif laba, (b) investasi dalam program nirlaba, dan (c) biaya operasi
program nirlaba.

Perhitungan yang dilukiskan pada Gambar 5.9 digunakan untuk membuktikan


bahwa dalam jangka waktu program (misalnya lima tahun ke depan) perusahaan
mampu menciptakan kekayaan melalui program-program yang direncanakan.
Dalam contoh ini, dari keseluruhan programprogram bermotif laba dan program
nirlabaperusahaan merencanakan dapat menambah kekayaan, yang diukur
12

dengan economic value added, sebesar Rp6.400.000.000 per tahun. Catatan:


dalam perhitungan tersebut belum dimasukkan unsur nilai waktu uang (time value
of money) yang semestinya selalu dipertimbangkan dalam keputusan investasi,
mengingat dalam jangka panjang nilai waktu uang berdampak signifikan terhadap
kelayakan ekonomi suatu investasi.

PROGRAM BERMOTIF LABA


Pendapatan per tahun dari seluruh program bermotif laba Rp50.000.000.000
Dikurangi:
Biaya operasi per tahun seluruh program bermotif laba Rp30.000.000.000
Beban modal per tahun untuk program bermotif laba20%
x Rp60.000.000 12.000.000.000
Jumlah biaya operasi dan beban modal 42.000.000.000
Economic value added dari seluruh program bermotif laba Rp8.000.000.000

PROGRAM NIRLABA
Biaya operasi per tahun program nirlaba Rp1.000.000.000
Beban modal per tahun untuk program nirlaba20% x
Rp3.000.000.000 600.000.000
Economic value added per tahun dari program nirlaba 1.600.000.000
Economic value added per tahun dari seluruh program (laba dan nirlaba) Rp6.400.000.000

Gambar 5.9 Perhitungan Economic Value Added Per Tahun dari Seluruh Program
(Program Bermotif Laba dan Program Nirlaba)

PROSES PENYUSUNAN PROGRAM
Tahap-tahap utama proses penyusunan program adalah sebagai berikut:
1. Penjabaran inisiatif strategik ke dalam program
2. Pengisian kartu program
3. Penyusunan informasi keuangan projeksian
4. Review dan persetujuan program.

Penjabaran Inisiatif Strategik ke Dalam Program
Inisiatif strategik yang dihasilkan dalam sistem perencanaan strategik dijabarkan ke
dalam program melalui sistem penyusunan program. Timbul pertanyaan, inisiatif
strategik yang mana yang dijabarkan ke dalam program?
Di Bab 5 Sistem Perencanaan Strategik dengan Rerangka Balanced Scorecard telah
dibahas proses cascading company scorecard yang bertujuan untuk melibatkan peran
serta mission centers dan service centers, bahkan personel perusahaan secara individual
dalam mewujudkan sasaran-sasaran strategik yang ditetapkan dalam company scorecard.
Dalam proses cascading, company scorecard di cascade ke dalam mission centers
scorecard. Mission center scorecard berisi sasaran dan inisiatif strategik beserta
ukurannya. Mission centers scorecard kemudian di cascade ke dalam service center
scorecard. Service center scorecard berisi sasaran dan inisiatif strategik beserta
ukurannya. Inisiatif strategik yang tercantum dalam mission center dan service center
inilah yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam program.
Setiap inisiatif strategik pilihan untuk mewujudkan sasaran strategik yang tercantum
dalam mission center scorecard dan service center scorecard dijabarkan ke dalam
13

program. Untuk setiap inisiatif strategik paling tidak dijabarkan ke dalam satu program.
Penjabaran inisiatif strategik ke dalam program dilaksanakan melalui proses berikut ini:
1. Memilih program-program yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik.
2. Menjabarkan lebih lanjut setiap program ke dalam kegiatan-kegiatan dan
memprojeksikan sumber daya yang diperoleh dan/atau dikorbankan dalam
pelaksanaan program. Langkah ini dilaksanakan melalui pengisian kartu program
(lihat Gambar 5.13 dan Gambar 5.14).
3. Merinci lebih lanjut informasi dalam kartu program ke dalam workbook.
Gambar 5.10 melukiskan proses penjabaran inisiatif strategik ke dalam program dan
pemerincian program ke dalam kartu program dan workbook.

Contoh pemilihan program-program untuk menjabarkan inisiatif strategik. Untuk


memberikan gambaran tentang penjabaran inisiatif strategik ke dalam program, berikut
ini disajikan contoh dengan memakai asumsi sebagai berikut:

Contoh 5.3
Informasi yang dipakai sebagai contoh adalah company scorecard yang dibuat oleh
RS KXT (lihat Gambar 5.11). Gambar ini merupakan penyajian kembali company
scorecard RS KXT yang disajikan pada Gambar 4.10 Scorecard RS KXT di Bab
4). Untuk menyederhanakan contoh, inisiatif strategik yang akan dijabarkan ke
dalam program bukan inisiatif strategik yang dihasilkan melalui cascading, namun
inisiatif strategik yang tercantum dalam company scorecard sebagaimana
dilukiskan pada Gambar 5.11. Dalam organisasi RS KXT, semestinya sistem
penyusunan program dilaksanakan dengan menjabarkan inisiatif strategik yang
tercantum dalam mission center scorecards dan service center scorecards.


14

Inisiatif Strategik

C P PP

Inisiatif Strategik X Inisiatif Strategik Y Inisiatif Strategik Z

Program A Program B Program C

Workbook Investasi Workbook Pendapatan Workbook Biaya


Projeksian Projeksian Projeksian

Gambar 5.10 Proses Penjabaran Inisiatif Strategik ke Dalam Program

Setiap inisiatif strategik yang tercantum dalam Gambar 5.11 dijabarkan ke dalam
program. Nama-nama program yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif
strategik disajikan pada Gambar 5.12.
15

UKURAN
SASARAN UKURAN INISIATIF PEMACU
STRATEGIK HASIL TARGET STRATEGIK KINERJA
(1) (2) (3) (4) (5)
PERSPEKTIF
KEUANGAN
Kinerja keuangan luar EVA Rp300 milyar mulai
biasa berkesinambungan tahun 2011
Bertumbuhnya pendapatan Revenue 5% per tahun
growth rate
Berkurangnya biaya Penghematan BOPO 40% mulai
biaya tahun 2011
PERSPEKTIF
CUSTOMER
Terkomunikasikannya Indeks Retention rate 80% Menyediakan Persentase layanan
informasi penyembuhan kesetiaan mulai tahun 2012 layanan berbasis berbasis teknologi
terpercaya customer teknologi informasi informasi
Tersedianya program Jumlah Dua program baru Menciptakan Program baru yang
inovatif dengan harga program baru yang dilaksanakan program baru diciptakan
bersaing yang setiap tahun dengan harga
dilaksanakan bersaing
Meningkatnya citra RS Indeks Indeks 4 dari skala Meningkatkan citra Jumlah inisiatif
sebagai institusi peduli persepsi 5 mulai tahun 2012 RS sebagai institusi peningkatan citra yang
hidup sehat masyarakat peduli hidup sehat dilaksanakan
PERSPEKTIF PROSES
Terbangunnya IT-based Cycle CE 70% mulai Membangun IT- Jumlah operation
operation management effectiveness tahun 2012 based operation management process
processes (CE) management berbasis teknologi
processes informasi
Terbangunnya IT-based Cycle CE 70% mulai Membangun Jumlah customer
customer management effectiveness tahun 2012 customer management process
processes (CE) relationship berbasis teknologi
management system informasi
Meningkatnya kualitas Jumlah Pelanggaran nol Menyempurnakan Jumlah penyempurnaan
proses pengelolaan atas pelanggaran mulai tahun 2012 proses pengelolaan sistem yang diciptakan
kepatuhan dan lingkungan atas kepatuhan dan
lingkungan
PERSPEKTIF
PEMBELAJARAN DAN
PERTUMBUHAN
Meningkatnya komitmen EVA per EVA Rp500 juta Meningkatkan Job coverage ratio
modal manusia personel mulai tahun 2012 kapabilitas personel

Membangun Terimplementasikannya
integrated Integrated Performance
performance Management System
management system Sebagaimana yang
Direncanakan

Terbangunnya modal Kesiapan 100% sistem bisnis Membangun Terpasangnya


informasi modal berbasis teknologi infrastruktur Infrastruktur Teknologi
informasi informasi go life teknologi informasi Informasi Sebagaimana
sesuai dengan mulai tahun 2012 yang Direncanakan
rencana
Terbangunnya organisasi Boundaryless Indeks 4 dari skala Membangun struktur Dioperasikannya
nirbatas dan berkapabilitas index 5 mulai tahun 2012 organisasi nirbatas Struktur Organisasi
Nirbatas Sebagaimana
yang Direncanakan

Learning Indeks 4 dari skala Mengembangkan Dioperasikannya


16

capability 5 mulai tahun 2012 learning Learning Organization


index organization Sebagaimana yang
Direncanakan

Gambar 5.11 Company Scorecard RS KXT


PEMILIK
SASARAN STRATEGIK INISIATIF STRATEGIK PROGRAM PROGRAM
PERSPEKTIF
CUSTOMER Menyediakan Layanan Program Komputerisasi Manajer Sistem Rawat
Terkomunikasikannya Berbasis Teknologi Rekam Medik Inap
Informasi Penyembuhan Informasi
Terpercaya Program Pemanfaatan Data Manajer Sistem Rawat
Lab untuk Diagnose Jalan

Tersedianya Program Menciptakan program baru Program Dokter Keluarga Manajer Medik
Inovatif dengan Harga dengan harga bersaing
Bersaing Program Layanan Kesehatan
Kelompok

Meningkatnya Citra RS Meningkatkan citra RS Program Komunikasi Massa Manajer Sistem


Sebagai Institusi Peduli sebagai institusi peduli Pemasaran
Hidup Sehat hidup sehat
PERSPEKTIF PROSES
Terbangunnya IT-Based
Operation Management Membangun IT-based Program Pembangunan IT- Manajer Sistem
Processes operation management Based Supply Chain (Rawat Jalan, Rawat
processes Management System Inap, Rawat Intensif,
dan Rawat Darurat)
Program Pembangunan IT-
Based Internal Processes Manajer Unit
Penunjang
(Diagnostik, Gizi,
Bedah Sentral,
Manajer Keuangan,
Modal Manusia, dan
Logistik)

Terbangunnya IT-Based Membangun IT-Based Program Pengembangan Manajer Sistem


Customer Management Customer Management Sistem Informasi Customer Pemasaran
Processes Processes
Program Pemutakhiran Manajer Medik
Peralatan Medik

Meningkatnya kualitas Menyempurnakan proses Program Kepatuhan RS Manajer Medik


proses pengelolaan atas pengelolaan atas kepatuhan terhadap Peraturan
kepatuhan dan lingkungan dan lingkungan Perundangan
17

Program Pengembangan Manajer Pemasaran


Sistem Pelibatan RS dalam
Kegiatan Sosial

PERSPEKTIF
PEMBELAJARAN &
PERTUMBUHAN
Meningkatnya komitmen Meningkatkan kapabilitas Program Pendidikan dan Manajer Medik
modal manusia personel Pelatihan Personel Berbasis dan
Strategic Job Manajer Keperawatan

Membangun integrated Program Pengembangan Manajer Modal


performance management Sistem Terpadu Pengelolaan Manusia
system Kinerja Personel

Terbangunnya modal Membangun Infrastruktur Program Pembangunan Manajer Akuntansi


informasi Sistem Informasi Infrastruktur Sistem Informasi
Manajer Akuntansi
Program Pemutakhiran
Perangkat Keras dan Lunak
Sistem Informasi

Terbangunnya organisasi Mengembangkan Struktur Program Pengembangan Manajer Modal


nirbatas dan berkapabilitas Organisasi Nirbatas Organisasi Lintas Fungsional Manusia

Mengembangkan Learning Program Pengembangan Pusat Manajer Medik


Organization Pembelajaran



Gambar 5.12 Daftar Program dan Pemilik Program

Siapakah yang bertanggung jawab untuk menjabarkan inisiatif strategik ke dalam
program? Oleh karena program merupakan langkah besar untuk mewujudkan sasaran
strategik, penyusunan program melibatkan kerja sama lintas fungsional. Dalam organisasi
lintas fungsional, program disusun oleh tim lintas fungsional di bawah pimpinan manajer
sistem. Dalam organisasi fungsional, program disusun melalui kerja sama manajer
berbagai fungsi (seperti fungsi pemasaran, fungsi logistik, fungsi teknik, fungsi produksi,
fungsi keuangan, dan fungsi akuntansi).

Penjabaran program ke dalam kegiatan-kegiatan dan perhitungan informasi
keuangan projeksian. Dengan menggunakan kartu program, setiap program kemudian
dijabarkan lebih lanjut ke dalam kegiatan-kegiatan dan perhitungan projeksi sumber daya
yang diperoleh dan/atau dikonsumsi dalam pelaksanaan program. Gambar 5.13 dan 5.14
melukiskan kartu program yang digunakan untuk menjabarkan program ke dalam
kegiatan, investasi projeksian, pendapatan projeksian, biaya projeksian, dan arus kas
projeksian.

Pemerincian lebih lanjut informasi dalam kartu program ke dalam workbook.


Informasi tertentu dalam kartu program perlu didokumentasikan lebih lanjut dalam
workbook, untuk kepentingan penyediaan referensi dalam pelaksanaan program atau
dalam mempertimbangkan revisi program, jika dalam proses penyusunan program terjadi
perubahan strategi, sasaran strategik, atau inisiatif strategik. Biasanya data yang berkaitan
18

dengan informasi kuantitaif nonkeuangan dan kuantitaif keuangan projeksian


memerlukan rincian dalam workbook.

KARTU PROGRAM
NAMA
PROGRAM
INISIATIF UKURAN
STRATEGIK PEMACU
KINERJA
SASARAN PERSPEKTIF UKURAN
STRATEGIK HASIL BASELINE MID STRECH


STRATEGI

TUJUAN (GOAL)

PEMILIK
PROGRAM
RATIONALE
PROGRAM




DESKRIPSI
RINGKAS
PROGRAM



MANFAAT
PROGRAM




ASUMSI
PROGRAM




Gambar 5.13 Formulir Kartu Program (Halaman ke-1)








19


URAIAN SINGKAT KEGIATAN
KETERANGAN 2010 2011 2012 2013 2014

INVESTASI PROJEKSIAN (PROJECTED INVESTMENT)


KETERANGAN TOTAL 2010 2011 2012 2013 2014
Investasi Gedung
Investasi Peralatan
Investasi Modal Kerja
PENDAPATAN PROJEKSIAN (PROJECTED REVENUES)
Pendapatan Jasa Rawat Jalan
Pendapatan Jasa Rawat Inap

BIAYA PROJEKSIAN (PROJECTED COSTS)


Biaya Aktivitas Admisi Pasien
Biaya Aktivitas Penyembuhan Pasien
Biaya Aktivitas Penyediaan Jasa Lab

ARUS KAS PROJEKSIAN (PROJECTED CASH FLOWS)


Laba Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan
Laba Setelah Pajak
Biaya Nonkas
Arus Kas Masuk Bersih
NILAI TUNAI ARUS KAS MASUK BERSIH PROJEKSIAN
(PROJECTED NET CASH INFLOWS)
Discount Factor
Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih


Gambar 5.14 Formulir Kartu Program (Halaman ke-2)

Pengisian Kartu Program
Setelah nama-nama program dipilih sebagai penjabaran inisiatif strategik, langkah
berikutnya dalam proses penyusunan program adalah menjabarkan program tersebut ke
dalam kegiatan-kegiatan dan membuat informasi keuangan projeksian untuk setiap
program. Untuk setiap program, kegiatan yang digunakan untuk menjabarkan program
dikelompokkan ke dalam dua golongan: (1) kegiatan investasi dan (2) kegiatan operasi
program. Untuk program bermotif laba, kegiatan operasi program terdiri dari dua
golongan: (1) kegiatan pemerolehan pendapatan dan (2) kegiatan pembiayaan operasi
program. Untuk program nirlaba, kegiatan operasi program hanya berupa pembiayaan
operasi program.
Setiap manajer yang ditugasi dalam perencanaan program diwajibkan untuk mengisi
kartu program sebagaimana dilukiskan pada Gambar 5.13 dan Gambar 5.14. Dalam kartu
program tersebut, data tentang usulan program didokumentasikan yang mencakup:
1. Nama program
2. Inisiatif strategik yang dijabarkan melalui program yang bersangkutan.
3. Sasaran strategik dan target yang hendak diwujudkan melalui program yang
bersangkutan.
4. Strategi dan tujuan yang berkaitan dengan program.
20

5 Pemilik program yang mengusulkan program.


6. Rationale (alasan) pengusulan program.
7. Deskripsi ringkas program.
8. Manfaat program
9. Asumsi yang melandasi program
10. Informasi keuangan projeksian yang akan dihasilkan dari program ini. Informasi
keuangan projeksian terdiri dari:
a. Investasi projeksian, pendapatan projeksian, biaya projeksian, laba projeksian
(projected investment, projected revenues, projected costs, dan projected profit)
untuk program-program bermotif laba.
b. Investasi projeksian dan biaya projeksian (projected costs) untuk program-
program nirlaba.
c. Arus kas projeksian (projected cash flows) baik untuk program bermotif laba
maupun program nirlaba.

Contoh 5.4
Contoh kartu program yang telah diisi oleh manajer rawat inap dan digunakan
untuk menjabarkan Program Komputerisasi Rekam Medik disajikan pada Gambar
5.15 dan Gambar 5.16.

KARTU PROGRAM
NAMA PROGRAM Program Komputerisasi Rekam Medik
INISIATIF Menyediakan Layanan Berbasis UKURAN Persentase layanan
STRATEGIK Teknologi Informasi PEMACU berbasis teknologi
KINERJA informasi
SASARAN PERSPEKTIF UKURAN
STRATEGIK CUSTOMER HASIL BASELINE MID STRECH
Terkomunikasikannya Indeks Retention Retention Retention
Informasi Kesetiaan rate 70% rate 80% rate 90%
Penyembuhan Customer
Terpercaya
STRATEGI Market Development
TUJUAN (GOAL) State-of-the-art technology
PEMILIK Manajer Sistem Rawat Inap
PROGRAM
RATIONALE Mengapa program ini penting? Rekam medik merupakan sumber informasi penting bagi
PROGRAM dokter untuk memperoleh wawasan mendalam tentang masalah kesehatan yang dihadapi
oleh pasien. Pemanfaatan secara optimum informasi yang diselenggarakan dalam rekam
medik akan meningkatkan efektivitas diagnosa yang dibuat oleh dokter. Komputerisasi
penyelenggaraan rekam medik akan menghasilkan informasi multidimensi tentang pasien
yang akan meningkatkan secara signifikan kecepatan dan kompleksitas layanan dan
efektivitas diagnosa yang diberikan kepada pasien, tanpa terhalang oleh waktu dan jarak.
DESKRIPSI Komputerisasi rekam medik memerlukan: (1) pendesainan sistem rekam medik, (2)
RINGKAS pengembangan piranti lunak, (3) penyediaan piranti keras, (4) instalasi sistem, piranti
PROGRAM lunak, dan piranti keras, (5) pelatihan personel, (6) sustainable execution. Pekerjaan yang
sangat krusial adalah pemindahan data tentang pasien yang terdapat dalam kartu pasien
ke dalam sistem informasi komputer yang baru dan perubahan mindset dokter dan
personel lain yang diperlukan untuk menghadapi perubahan radikal dalam sistem rekam
medik yang terkomputerisasi.
MANFAAT Program kompoterisasi rekam medik bermanfaat untuk: (1) menyediakan data andal dan
PROGRAM cepat tentang riwayat problem yang dihadapi oleh pasien, (2) memungkinkan dokter
melakukan akses ke database rekam medik tanpa hambatan jarak dan waktu sehingga
mempercepat respons dokter dalam menanggapi problem pasien, (3) menyediakan
21

informasi multidimensi tentang pasien sehingga dokter dapat menyediakan personalized


services bagi pasien, (4) menjadikan jasa layanan kesehatan yang disediakan oleh institusi
layanan kesehatan unggul dalam persaingan sehingga diharapkan dapat untuk menarik
customer baru
ASUMSI PROGRAM Program komputerisasi rekam medik disusun berlandaskan asumsi-asumsi berikut ini: (1)
tingkat inflasi diperkirakan 10% per tahun, (2) hurdle rate 20%, (3) pencapaian sasaran
strategik Meningkatnya kepercayaan customer diharapkan akan menyebabkan
pertumbuhan pendapatan sebagai akibat bertambahnya customer baru.

Gambar 5.15 Contoh Kartu Program yang Telah Diisi (Halaman ke-1)

Uraian Ringkas Program Komputerisasi Rekam Medik memerlukan investasi di tiga bidang: (1) 2010:
Program Pengembangan sistem rekam medik dan Pengembangan software, (3) 2011: Pengadaan
dan instalasi hardware serta Pendidikan dan pelatihan personel.
Investasi Keterangan Total 2010 2011 2012 2013 2014
Projeksian Jasa konsultan sistem 100 100
(Dalam Jutaan Pengembangan software 300 300
Rp) Pengadaan dan instalasi hardtware 100 100
Pendidikan dan pelatihan personel 150 150
Total 650 650
Pendapatan Program Komputerisasi Rekam Medik ditujukan untuk meningkatkan kualitas layanan
Projeksian kepada customer. Peningkatan kualitas layanan ini diharapkan akan menarik customer
(Dalam Jutaan baru yang memanfaatkan layanan kesehatan dari institusi layanan kesehatan kita.
Rp) Tambahan Customer Baru (orang) 50 50 100 100
Pendapatan Diferensial 500 550 600 700
Biaya Projeksian
(Dalam Jutaan
Rp) Aktivitas Pengoperasian Sistem
Employee Resource 70 60 50 70
Expense Resource 50 40 40 45

Aktivitas Improvement
Employee Resource 34 30 30 40
Expense Resource 30 25 30 15

Aktivitas Pemeliharaan Sistem
Employee Resource 20 23 15 20
Expense Resource 10 15 6 10
Total Biaya Total Biaya 214 193 171 200
Projeksian Laba Sebelum Pajak 286 357 429 500
Pajak Penghasilan (PPh) 86 107 129 150
Laba Setelah PPh 200 250 300 350
Biaya Nonkas (depresiasi) 50 50 50 50
Arus Kas Masuk Bersih Projeksian 250 300 350 400
Discount Factor 20% 0,833 0,695 0,578 0,483
Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih 812 208 209 202 193
Projeksian
Nilai Investasi pada Akhir tahun 780
2011
Jumlah Nilai Tunai Arus Kas Masuk 32
Bersih Di Atas Investasi

Gambar 5.16 Contoh Kartu Program yang Telah Diisi (Halaman ke-2)

Contoh kartu program yang menonjolkan pentingnya rationale program disajikan
pada Gambar 5.17. Rationale yang melandasi rogram pengembangan sistem penghargaan
22

berbasis kinerja diuraikan secara lengkap. Kuatnya rationale yang melandasi pemilihan
program akan menjadi dasar yang kuat dalam pemilihan program yang bersangkutan.

KARTU PROGRAM
NAMA PROGRAM Program Pengembangan Sistem Penghargaan Berbasis Kinerja
INISIATIF Meningkatkan dan UKURAN Personnel Satisfaction
STRATEGIK Mempertahankan Komitmen PEMACU Index
Personel KINERJA
SASARAN PERSPEKTIF UKURAN
STRATEGIK CUSTOMER HASIL BASELINE MID STRECH
Meningkatnya Turnover 15% 10% 5%
Komitmen Personel Rate
STRATEGI Differentiation Strategy
TUJUAN (GOAL) Modal Manusia Berkomitmen
PEMILIK Manajer Divisi Modal Manusia
PROGRAM
RATIONALE Pengukuran kinerja adalah alat efektif untuk membentuk peran personel.
PROGRAM Peran adalah tanggung jawab, perilaku, atau kinerja yang diharapkan dari
seseorang yang menjalankan fungsi tertentu. Pengukuran kinerja personel akan
memotivasi personel untuk mewujudkan peran yang diharapkan oleh organisasi
(bukan peran sebagaimana yang disukai oleh individu personel) dengan perilaku
yang diharapkan oleh organisasi (bukan perilaku yang disukai oleh individu
personel). Jika perusahaan mengharapkan personelnya menempatkan customer
pada urutan pertama dalam skala prioritas layanan yang dihasilkan, pengukuran
kinerja personel dalam memberikan layanan kepada customer akan memotivasi
personel dalam menempatkan customer sebagai fokus layanan.

Kinerja, bukan posisi yang menghasilkan nilai bagi customer. Customer


mengharapkan nilai dari hubungan yang dilakukan dengan perusahaan, dan nilai
ditentukan oleh manfaat lebih yang diperoleh customer daripada pengorbanan
yang dilakukan oleh customer dalam memperoleh manfaat dari perusahaan.
Nilai bagi customer dihasilkan dari kinerja personel bukan dari posisi yang
dipegang oleh personel. Oleh karena itu, penghargaan semestinya tidak
didasarkan pada posisi yang dipegang oleh personel, namun didasarkan pada
kinerja personel dalam menghasilkan nilai bagi customer.

Manusia pada dasarnya memiliki motivasi untuk menghasilkan karya


bermakna dalam hidupnya. Setiap orang mempunyai keinginan untuk
menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam hidupnya. Organisasi memberikan
fasilitas untuk menyalurkan keinginan personelnya dalam menghasilkan karya
bermakna dalam kehidupan kerja mereka melalui sistem penghargaan berbasis
kinerja.

Pekerjaan bergeser ke knowledge-based works. Semakin meningkatnya


pemanfaatan teknologi informasi ke hampir semua aspek bisnis layanan akan
mengubah pekerjaan menjadi knowledge-based works. Pekerjaan seperti ini
memerlukan knowledge workers sehingga akan menyebabkan knowledge
workers menjadi dominan dalam penyediaan layanan di masa depan.
Penghargaan berbasis kinerja digunakan untuk memotivasi knowledge workers
dalam menjalankan peran sebagaimana yang dituntut oleh organisasi dengan
perilaku sebagaimana yang diharapkan oleh organisasi.
DESKRIPSI Program pengembangan sistem penghargaan berbasis kinerja terdiri dari (1) sistem
RINGKAS perencanaan kinerja perusahaan secara keseluruhan, (2) sistem cascading company
scorecard ke mission centers, service centers, sampai ke team and personal scorecards,
23

PROGRAM (3) sistem penetapan penghargaan berbasis kinerja, (4) sistem pengukuran dan penilaian
kinerja, dan (5) sistem distribusi penghargaan.
MANFAAT Program ini menjanjikan (1) peningkatan akuntabilitas personel, (2) peningkatan
PROGRAM produktivitas personel, dan (3) penurunan turnover rate personel
ASUMSI PROGRAM Peningkatan komitmen personel menyebabkan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan sarat
dengan kandungan pengetahuan. Jasa yang sarat dengan kandungan pengetahuan
menyebabkan daya saing jasa di pasar akan meningkat sehingga perusahaan mampu
menyediakan the best value bagi customer.

Gambar 5.17 Contoh 2 Kartu Program yang Telah Diisi (Sebagian Halaman 1)

Pengisian kartu program tersebut dapat dilakukan oleh manajer yang memiliki ide
atau yang akan bertanggung jawab untuk melaksanakan program atau oleh staf fungsi
perencanaan.

Investasi projeksian. Setiap program akan mengonsumsi dana dalam jumlah besar dan
dana tersebut akan terikat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, investasi dalam
program memerlukan pertimbangan masak, sebelum investasi dilaksanakan. Manajer
yang bertanggung jawab atas program dituntut untuk memprojeksikan jumlah dana yang
akan diinvestasikan untuk melaksanakan program dan jadwal waktu pengeluarannya.
Informasi tentang investasi projeksian yang diperlukan untuk running program akan
bermanfaat untuk mengevaluasi kelayakan ekonomis program yang diusulkan. Informasi
tentang keseluruhan investasi projeksian yang diperlukan untuk running berbagai
program akan bermanfaat untuk memutuskan metode pembelanjaan yang dipilih oleh
perusahaan.
Pada dasarnya semua investasi yang dilakukan oleh perusahaan harus dapat ditutup
dari pendapatan (revenues) yang diperoleh dari penjualan produk dan jasa kepada
customer dalam jangka waktu tertentu. Namun oleh karena tidak semua program
dirancang untuk menghasilkan pendapatan, pada tahap penyusunan program ini, investasi
yang akan dilaksanakan untuk program nirlaba harus dipastikan dapat ditutup dari
pendapatan yang akan diperoleh dari program bermotif laba.
Pada Gambar 5.16 (halaman ke-2) dicantumkan investasi projeksian (projected
investment) yang direncanakan untuk melaksanakan program komputerisasi rekam medik
yang terdiri dari investasi dalam:

1. Jasa konsultan sistem Rp100.000.000
2. Pengembangan software 300.000.000
3. Pengadaan dan instalasi hardware 100.000.000
4. Pendidikan dan pelatihan personel 150.000.000

Total investasi Rp650.000.000



Pendapatan projeksian (projected revenues). Sebagaimana telah disebutkan di muka,
program yang diusulkan dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori: (1) program
bermotif laba (profit-motive program). dan (2) program nirlaba (non-profit program).
Pada Gambar 5.16 (halaman ke-2) dilukiskan pendapatan projeksian yang dibuat
oleh manajer yang bertanggung jawab atas program komputerisasi rekam medik.
Menurut manajer tersebut, setelah program komputerisasi rekam medik selesai
24

dilaksanakan instalasinya, mulai tahun 2010 diprakirakan jumlah customer baru akan
meningkat dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp550.000.000 (tahun 2011),
Rp550.000.000 (tahun 2012) dan Rp600.000.000 (tahun 2013), dan Rp700.000.000
(2014). Untuk mendukung perhitungan pendapatan projeksian tersebut, manajer yang
bertanggung jawab atas program dapat membuat workbook untuk merinci lebih lanjut
kegiatan perhitungan yang diperlukan. Workbook kemudian dilampirkan pada formulir
usulan program tersebut. Pendapatan tersebut merupakan arus kas masuk yang
diharapkan dari program komputerisasi rekam medik.

Biaya projeksian (projected costs). Setiap program memerlukan investasi dan investasi
ini akan menimbulkan biaya untuk mengoperasikan program berupa: (1) employee
resourcebiaya yang dikeluarkan untuk gaji personel, tunjangan kesejahteraan personel,
dan insentif personel (2) expense resourcebiaya-biaya selain biaya personel (contoh:
biaya bahan baku, biaya energi, biaya telekomunikasi, biaya asuransi, biaya sewa kantor,
biaya depresiasi aktiva tetap) .
Program penambahan kapasitas produksi misalnya, memerlukan investasi dalam
mesin baru. Kos mesin baru ini akan mengakibatkan bertambahnya biaya berupa biaya
depresiasi mesin selama umur ekonomisnya di masa depan. Di samping itu, tambahan
mesin baru ini akan mengakibatkan tambahan biaya berupa biaya operasi mesin baru
yang terdiri dari employee resource (seperti gaji, upah, tunjangan kesejahteraan, insentif)
dan expense resource (seperti biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya energi,
biaya asuransi). Program promosi produk misalnya, memerlukan kos yang besar sehingga
perlu ditunda pembebanannya sebagai deferred charges. Beban ini kemudian
mengakibatkan timbulnya biaya tambahan berupa amortisasi biaya promosi selama
taksiran jangka waktu manfaat promosi tersebut di masa depan.
Pada Gambar 5.16 (halaman ke-2) dilukiskan biaya yang diprojeksikan oleh manajer
yang bertanggung jawab atas program komputerisasi rekam medik. Menurut manajer
tersebut, setelah program komputerisasi rekam medik selesai dilaksanakan instalasinya,
mulai tahun 2010 diprojeksikan ada tiga tipe aktivitas yang memerlukan biaya: (1)
aktivitas pengoperasian sistem, (2) aktivitas improvement sistem, dan (3) aktivitas
pemeliharaan sistem. Total biaya projeksian untuk mengoperasikan ketiga aktivitas
tersebut diprakirakan sebesar Rp214.000.000 (tahun 2011), Rp193.000.000 (tahun 2012),
Rp171.000.000 (tahun 2013), dan (3) Rp200.000.000 (tahun 2014). Untuk mendukung
perhitungan prakiraan differential costs tersebut, manajer yang bertanggung jawab atas
program dapat menambahkan workbook pada formulir usulan program tersebut. Biaya-
biaya tersebut mencakup biaya kas (cash costs) dan biaya nonkas (non-cash costs) seperti
biaya depresiasi. Dalam contoh ini, biaya depresiasi setiap tahun mulai tahun 2010
sampai dengan tahun 2011 adalah sebesar Rp50.000.000.

Laba projeksian (projected profit). Untuk program bermotif laba, penyusun program
perlu memprojeksikan laba yang dapat dihasilkan dari program tersebut. Laba dihitung
dengan cara:
1. Menghitung selisih pendapatan dengan biaya (baik biaya kas maupun biaya nonkas).
2. Menghitung penghematan biaya atau peningkatan pendapatan dari peningkatan
produktivitas yang diperoleh dari program penggantian.
25

Pada Gambar 5.16 (halaman ke-2) dilukiskan laba yang diprojeksikan oleh manajer
yang bertanggung jawab atas program komputerisasi rekam medik. Menurut manajer
tersebut, setelah program komputerisasi rekam medik selesai dilaksanakan instalasinya,
mulai tahun 2010 diprakirakan laba yang dihasilkan program tersebut sebesar
Rp286.000.000 (tahun 2011), Rp367.000.000 (tahun 2012), (3) Rp429.000.000 (2013),
dan (4) Rp500.000.000 (tahun 2014). Perhitungan laba projeksian ini dimaksudkan untuk
menghitung pajak penghasilan (yang merupakan arus kas keluar), yang dihitung dengan
mengalikan tarif pajak penghasilan dengan laba yang diprojeksikan. Dalam contoh ini,
tarif pajak penghasilan yang digunakan adalah 30%.

Arus kas projeksian. Program membutuhkan investasi besar yang harus dapat ditutup
dari arus kas masuk bersih (net cash inflows) yang diperoleh dari program yang
bersangkutan. Oleh karena itu, untuk program bermotif laba diperlukan perhitungan
kelayakan ekonomis program secara individual dengan membandingkan total investasi
yang diperlukan untuk melaksanakan program yang bersangkutan dengan arus kas masuk
bersih yang diperkirakan akan diperoleh selama umur ekonomis program. Oleh karena
uang memiliki nilai waktu (time value of money), maka arus kas masuk bersih yang
diterima di masa depan memiliki nilai waktu uang yang lebih rendah bila dibandingkan
dengan arus kas masuk bersih yang diterima sekarang. Oleh karena itu, biasanya metode
nilai tunai (present value method) atau metode internal rate return (IRR method) dipakai
untuk menilai kelayakan ekonomis program bermotif laba.
Arus kas keluar terdiri dari biaya tunai (cash costs) dan pajak penghasilan. Biaya
tunai adalah biaya berupa kas atau dalam jangka pendek akan dibayar dalam bentuk
tunai. Biaya nonkas adalah biaya yang pengeluaran kasnya telah dilakukan berupa
investasi, sehingga selama masa umur ekonomis investasi, biaya tersebut berupa sunk
costs, seperti biaya depresiasi.
Untuk menghitung kas keluar untuk pajak penghasilan, diperlukan perhitungan laba
bersih. Laba bersih dihitung sebagaimana disajikan pada Gambar 5.18.

a Pendapatan Rpxx
b Biaya:
c Biaya Tunai (Cash Costs) Rpxx
d Biaya Nonkas (Non-cash Costs) xx
e Total Biaya xx (c + d)
f Laba Bersih Sebelum Pajak Rpxx (a e)
g Pajak Penghasilan (Misal Tarif Pph = 30%) xx (30% x f)
h Laba Bersih Setelah Pajak Rpxx (f g)

Gambar 5.18 Perhitungan Kas Keluar untuk Pajak Penghasilan

Dengan demikian, untuk menghitung arus kas masuk bersih (net cash inflows) dari
suatu investasi, prosedur perhitungan berikut ini diperlukan:
1. Menghitung arus kas masuk dari pendapatan penjualan produk dan jasa kepada
customer.
2. Menghitung biaya tunai dengan mengurangkan biaya nonkas (misalnya biaya
depresiasi) dari total biaya.
26

3. Menghitung kas keluar untuk pajak penghasilan dengan cara sebagaimana yang
dilukiskan pada Gambar 5.16.
4. Menghitung arus kas keluar dengan cara menjumlahkan biaya tunai dengan kas
keluar untuk pajak penghasilan.
5. Menghitung arus kas masuk bersih dengan cara mengurangkan arus kas masuk
dengan arus kas keluar.
Gambar 5.19 melukiskan contoh prosedur perhitungan arus kas masuk bersih dari
program bermotif laba.

KETERANGAN TOTAL FORMULA NONKAS KAS FORMULA


a Pendapatan (arus kas masuk) Rp500.000 - Rp500.000
b Biaya:
c. Biaya kas (biaya tunai) 200.000 - Rp200.000
d. Biaya nonkas (biaya depresiasi) 100.000 Rp100.000 -
e Total biaya Rp300.000 (c + d) Rp100.000 Rp200.000 (c + d)
f Laba akuntansi Rp200.000 (a c)
g Pajak penghasilan* 60.000 (30% x f) 60.000
h Laba bersih setelah pajak Rp140.000 (f g)
i Biaya nonkas (biaya depresiasi)
j Arus kas keluar 100.000 Rp260.000 (e + g)
k Arus kas masuk bersih Rp240.000 (h + i) Rp240.000 (a j)
*Pajak penghasilan dihitung dengan mengalikan tarif pajak penghasilan
yang berlaku dengan laba kena pajak. Laba kena pajak adalah laba akuntansi
setelah disesuaikan dengan aturan pajak penghasilan yang berlaku. Dalam
contoh ini, tarif pajak penghasilan yang berlaku diasumsikan 30% dari laba
kena pajak, dan laba kena pajak diasumsikan sama dengan laba akuntansi.

Gambar 5.19 Perhitungan Arus Kas Masuk, Arus Kas Keluar, dan Arus Kas Masuk
Bersih

Pada Gambar 5.20, arus kas masuk bersih dihitung dengan dua cara: (1)
menambahkan biaya nonkas ke laba bersih setelah pajak, atau (2) mengurangi pendapatan
(arus kas masuk) dengan arus kas keluar.

1. Arus kas masuk bersih dihitung dengan formula berikut ini:

Laba bersih setelah pajak Rp140.000
Ditambah: Biaya nonkas (misalnya biaya depresiasi aktiva tetap) 100.000

Arus kas masuk bersih Rp240.000

Laba bersih setelah pajak dihitung sebagai berikut:

Pendapatan (arus kas masuk) Rp500.000


Dikurangi: Biaya
Biaya kas Rp200.000
Biaya nonkas 100.000
Total biaya 300.000

Laba bersih sebelum pajak Rp200.000


27

Dikurangi: pajak penghasilan 30% x Rp200.000 60.000

Laba bersih setelah pajak Rp140.000



2. Arus kas masuk (pendapatan) Rp500.000
Dikurangi: arus kas keluar
Biaya kas Rp200.000
Pajak Penghasilan 60.000
Jumlah arus kas keluar 260.000

Arus kas masuk bersih Rp240.000


Gambar 5.20 Dua Cara Perhitungan Arus Kas Masuk Bersih (Net Cash Inflows)

Nilai waktu uang (time value of money). Investasi pada hakikatnya penanaman sekarang
dana dalam suatu usaha dengan harapan akan diperoleh arus kas masuk bersih di masa
depan. Perbedaan waktu sekarang pada saat investasi dilakukan dengan masa yang akan
datang pada waktu arus kas masuk dan arus kas keluar terjadi mempunyai nilai waktu
uang (time value of money). Oleh karena itu, dalam mempertimbangkan penutupan
kembali investasi, harus dipertimbangkan nilai waktu uang dan arus kas.

Investasi = arus kas keluar sekarang
Pendapatan = arus kas masuk masa depan
Biaya kas (cash costs)= arus kas keluar masa depan
Pajak penghasilan= arus kas keluar masa depan

Di dalam pengambilan keputusan jangka panjang, nilai waktu uang memegang peran
penting. Uang Rp100.000.000 sekarang berbeda nilainya dengan Rp100.000.000 yang
akan diterima satu tahun kemudian. Jika seseorang diminta untuk memilih apakah uang
Rp100.000.000 lebih baik diterima sekarang atau setahun kemudian, maka ia tentu akan
memilih menerima uang tersebut sekarang. Jika ia menerima uang tersebut sekarang, ia
akan dapat menginvestasikan uang tersebut untuk memperoleh pendapatan bunga selama
setahun. Dengan demikian setahun kemudian ia akan menerima uang Rp100.000.000
ditambah pendapatan bunga setahun atas investasinya tersebut. Jika tingkat bunga
majemuk 12% setahun, investasi Rp100.000.000 sekarang akan menjadi Rp112.000.000
setahun kemudian. Jadi uang sebesar Rp100.000.000 sekarang sama dalam nilai waktu
dengan Rp112.000.000 setahun kemudian pada tingkat bunga 12%. Begitu juga
Rp112.000.000 setahun kemudian adalah sama dengan Rp100.000.000 (Rp112.000.000
1,12) sekarang, karena Rp100.000.000 ditambah bunga 12% sama dengan
Rp112.000.000. Ini merupakan inti nilai waktu uang (time value of money) Oleh karena
itu, seorang akan lebih menyukai menerima uang segera daripada ditunda kemudian dan
ia akan mau menukarkan sejumlah uangnya sekarang dengan jumlah yang sama pada
masa yang akan datang. Ia akan memegang prinsip bahwa jumlah uang yang akan datang
harus lebih daripada jumlahnya sekarang.
28

Nilai investasi pada tahun ke-n, dengan tingkat bunga sebesar i dihitung dengan
rumus:

In = I0 (1 + i)n

In = Investasi pada tahun ke-n.


I0 = Investasi pada tahun ke-0
i = Tingkat bunga
n = Jangka waktu

Nilai Rp100.000.000 yang diinvestasikan sekarang pada tingkat bunga majemuk
12% per tahun, akan bertambah pada akhir setiap tahun selama 5 tahun disajikan pada
Gambar 5.21.
Untuk pengambilan keputusan investasi semua arus kas yang diprakirakan akan
diterima dan dikeluarkan selama umur investasi harus dinyatakan nilainya pada nilai
tahun ke-0, dengan kata lain harus dihitung nilai tunainya (present value) agar dapat
diperbandingkan dengan nilai investasi yang dilakukan pada tahun ke-0 tersebut. Rumus
perhitungan nilai tunai sebagai berikut:

1
NT = AK x
(1 + i) n


NT = Nilai Tunai i = Tingkat Bunga
AK = Arus Kas n = Jangka Waktu

PENDAPATAN INVESTASI AKHIR
INVESTASI AWAL BUNGA TAHUN
TAHUN (Jutaan Rupiah) (Jutaan Rupiah)
TAHUN (Jutaan Rupiah) (2) x 12% (2) + (3)
(1) (2) (3) (4)

2010 100 100 x 12% = 12 112


2011 112 112 x 12% = 13 125
2012 125 125 x 12% = 15 140
2013 140 140 x 12% = 17 157
2014 157 157 x 12% = 19 176

Gambar 5.21 Nilai Investasi Setiap Akhir Tahun Selama Lima Tahun dengan Bunga
Majemuk 12% Per Tahun

Pada Gambar 5.16 (halaman ke-2), program komputerisasi rekam medik
memerlukan investasi sebesar Rp650.000.000 dalam tahun 2010. Dari program ini
direncanakan akan diperoleh arus kas masuk bersih Rp250.000.000 (2011), Rp300.000
(2012), Rp350.000.000 (2013), dan Rp400.000 (2014). Untuk mengevaluasi apakah
jumlah nilai tunai arus kas masuk dari program komputerisasi rekam medik sepadan
dengan investasi sebesar Rp650.000.000 yang akan dilaksanakan dalam tahun 2010, baik
investasi maupun arus kas masuk bersih dibawa ke nilai pada akhir tahun 2010. Gambar
29

5.22 melukiskan perhitungan nilai tunai arus kas masuk bersih (selisih antara arus kas
masuk dan arus kas keluar) dengan discount factor1 sebesar 20%.

NILAI
ARUS KAS TUNAI ARUS
MASUK KAS MASUK
ARUS KAS BERSIH BERSIH
KELUAR (Dalam (Dalam
ARUS KAS MASUK (Dalam Jutaan DISCOUNT Jutaan
(Dalam Jutaan Jutaan Rupiah) FACTOR Rupiah)
TAHUN Rupiah) Rupiah) (2) (3) PADA 20% (4) x (5)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

2010 500 250 250 0,833* 208,25


2011 550 250 300 0,694** 208,20
2012 600 250 350 0,579*** 202,65
2013 700 300 400 0,482*** 192,80
Total Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih 805,90

* 1 1,201, ** 1 1,202, ***1 1,203, ****1 1,204

Gambar 5.22 Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih dengan Discount Factor 20% Program
Komputerisasi Rekam Medik

Gambar 5.16 (halaman ke-2) melukiskan perhitungan nilai investasi pada akhir tahun
2010 dan perhitungan nilai tunai arus kas masuk dan arus kas keluar pada akhir tahun
2010. Pada gambar tersebut terlihat nilai akhir investasi pada tahun 2010 sebesar Rp780
juta (Rp650 juta x 1,20).
Untuk menilai kelayakan ekonomi program komputerisasi rekam medik, perlu
dilakukan evaluasi tentang profitabilitas program sebagaimana disajikan pada Gambar
5.23. Hasil evaluasi kelayakan ekonomi program komputerisasi rekam medik yang
disajikan pada Gambar 5.23 tersebut menunjukkan bahwa program tersebut secara
ekonomik layak untuk dilaksanakan, karena total nilai tunai arus kas masuk bersih
melebihi Rp25.900.000 di atas arus kas keluar (investasi) pada tarif discount factor 20%.
Jika misalnya dari hasil evaluasi tersebut, total nilai tunai arus kas masuk bersih lebih
rendah dari arus kas keluar (investasi), maka program bermotif laba tersebut secara
ekonomik tidak layak untuk dilaksanakan. Sebagai akibatnya, dalam proses penyusunan
program ini, manajer yang bertanggung jawab untuk menjabarkan program tersebut harus
melakukan revisi terhadap program seperti: memilih investasi yang lebih rendah
kebutuhan dananya, memikirkan peningkatan pendapatan dari program ini, mencari
alternatif biaya operasi yang lebih efisien, atau mendapatkan sumber investasi dengan
cost of capital yang lebih rendah.

1
Discount factor ini dibahas secara rinci dalam Bab 6 Pengelolaan Secara Strategik Pengeluaran Modal.
30


1 Perhitungan nilai investasi pada akhir tahun 2010 Rp650.000 x 1,20 Rp780.000.000
2 Perhitungan nilai tunai arus kas masuk bersih:
0,833 x Rp250.000.000 (1/1,201 x 250.000.000) Rp208.250.000
0,694 x Rp300.000.000 (1/1,202 x 300.000.000) 28.200.000
3
0,579 x Rp350.000.000 (1/1,20 x 350.000.000) 202.650.000
0,482 x Rp400.000.000 (1/1,204 x 400.000.000) 192.800.000
Total nilai tunai arus kas masuk bersih 805.900.000
3 Total nilai tunai arus kas masuk bersih lebih besar dari nilai
investasi (arus kas keluar) Rp25.900.000

Gambar 5.23 Perhitungan Nilai Investasi Pada Akhir Tahun 2010 dan Perhitungan Nilai
Tunai Arus Kas Masuk dan Arus Kas Keluar Pada Akhir Tahun 2010 Program
Komputerisasi Rekam Medik

Perencanaan laba jangka panjang (long-range profit planning). Di muka telah
disebutkan bahwa penyusunan program (programming) pada hakikatnya merupakan
perencanaan laba jangka panjang (long-range profit planning)suatu proses untuk
merumuskan langkah-langkah strategik yang direncanakan mampu menghasilkan laba
tertentu yang diharapkan, sebanding dengan investasi yang akan dilakukan selama
periode program. Projeksi keuangan yang dibuat dalam penyusunan program harus
berangkat dari perhitungan laba yang diharapkan (desired profit) dari seluruh program
yang digunakan untuk menjabarkan inisiatif strategik. Perhitungan laba yang diharapkan
ditentukan oleh total investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan dan cost of capital
yang ditanggung oleh perusahaan dari penggunaan investasi tersebut untuk menghasilkan
pendapatan. Dengan demikian informasi tentang total investasi yang direncanakan akan
dilakukan selama periode program menjadi kunci untuk perencanaan laba jangka panjang
ini.
Di antara berbagai program yang akan dilaksanakan oleh perusahaan, ada program
bermotif laba dan program nirlaba. Investasi dalam program nirlaba tidak dapat
menghasilkan arus kas masuk yang dapat digunakan untuk menutup investasi dan biaya
operasi program tersebut. Oleh karena itu, penutupan investasi dan biaya operasi program
nirlaba dibebankan ke program-program bermotif laba. Dengan demikian pada waktu
menentukan desired rate of return yang diharapkan dari program bermotif laba,
perencana program harus memperhitungkan beban penutupan investasi dan biaya operasi
program nirlaba.
Setelah program bermotif laba dinilai kelayakan ekonomisnya secara individual,
akuntan manajemen kemudian membuat rekapitulasi arus kas masuk bersih keseluruhan
program, yang mencakup program bermotif laba dan program nirlaba. Rekapitulasi total
arus kas masuk bersih ini terdiri dari total investasi, arus kas masuk, arus kas keluar, dan
arus kas masuk bersih (selisih antara arus kas masuk dengan arus kas keluar) untuk setiap
program. Dari rekapitulasi total arus kas masuk bersih keseluruhan program ini dapat
dinilai kelayakan ekonomis program-program secara keseluruhan, dengan
31

membandingkan antara total investasi dengan total arus kas masuk bersih keseluruhan
program, setelah mempertimbangkan nilai waktu uang. Metode nilai tunai (present value
method) dan metode internal rate of return dapat digunakan untuk menilai kelayakan
ekonomis keseluruhan program ini.

Contoh 5.5
Untuk menyederhanakan contoh, misalnya institusi layanan kesehatan dalam
contoh dalam buku ini menjabarkan inisiatif strategik hanya ke dalam empat
program: tiga program bermotif laba dan satu program nirlaba.

Program bermotif laba:
Program Komputerisasi Rekam Medik
Program Rekayasa Ulang Proses Operasi
Program Pemutakhiran Peralatan Medik

Program Nirlaba:
Program Manajemen Ide Baru

Misalnya investasi yang diperlukan untuk program-program tersebut di atas adalah
sebagai berikut:
a. Program Komputerisasi Rekam Medik Rp650.000.000
b. Program Pemutakhiran Peralatan Medik 550.000.000
c. Program Rekayasa Ulang Proses Operasi 400.000.000
d. Program Manajemen Ide Baru 100.000.000

Total Rp1.700.000.000

Tiap-tiap program bermotif laba dihitung kemampuannya dalam menghasilkan
laba. Perhitungan arus kas masuk, arus kas keluar, arus kas masuk bersih dan nilai
tunai arus kas masuk bersih untuk Program Komputerisasi Rekam Medik disajikan
pada Gambar 5.24; untuk Program Pemutakhiran Peralatan Medik disajikan pada
Gambar 5.25; dan untuk Program Rekayasa Ulang Proses Operasi disajikan pada
Gambar 5.26.

NILAI
ARUS KAS TUNAI ARUS
MASUK DISCOUNT KAS MASUK
ARUS KAS ARUS KAS BERSIH FACTOR BERSIH
TAHUN MASUK KELUAR (2) (3) 20% (4) x (5)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

2010 415 200 215 0,833 179., 0


2011 485 230 255 0,694 176,97
2012 550 250 300 0,579 173,70
2013 605 275 330 0,482 159,06
Total Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih 688,83
32

Gambar 5.24 Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih Program Pemutakhiran Peralatan
Medik

NILAI
ARUS KAS TUNAI ARUS
MASUK DISCOUNT KAS MASUK
ARUS KAS ARUS KAS BERSIH FACTOR BERSIH
TAHUN MASUK KELUAR (2) (3) 20% (4) x (5)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

2010 305 150 155 0,833 129,12


2011 335 150 185 0,694 128,39
2012 340 125 215 0,579 124,49
2013 370 125 245 0,482 118,09
Total Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih 499,09
Gambar 5.25 Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih Program Rekayasa Ulang Proses
Operasi

NILAI
ARUS KAS TUNAI ARUS
MASUK DISCOUNT KAS MASUK
ARUS KAS ARUS KAS BERSIH FACTOR BERSIH
TAHUN MASUK KELUAR (2) (3) 20% (4) x (5)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

2010 1.220 820 400 0,833 333,2


2011 1.370 770 600 0,694 347,0
2012 1.490 790 700 0,579 405,3
2013 1.675 875 800 0,482 385,6
Total Nilai Tunai Arus Kas Masuk Bersih 1,471,1
Gambar 5.26 Perhitungan Nilai Tunai Total Arus Kas Bersih Keseluruhan Program
(Program Bermotif Laba dan Program Nirlaba)

Arus kas keluar untuk Program Manajemen Ide Baru diprakirakan sebesar
Rp220.000.000 (tahun 2010), Rp140.000.000 (tahun 2011), Rp166.000.000 (tahun
2012), Rp175.000.000 (tahun 2013).

Oleh karena program nirlaba tidak ditujukan untuk memperoleh pendapatan, maka
arus kas keluar untuk investasi dan biaya operasi program harus ditutup dari
pendapatan yang diperoleh dari program-program nirlaba. Oleh karena itu, proses
penyusunan program harus mengevaluasi apakah profitabilitas investasi dalam
program-program bermotif laba mampu menutup investasi dan biaya operasi
program-program nirlaba.

Pada Gambar 5.27 disajikan informasi investasi, arus kas masuk, arus kas keluar,
arus kas masuk bersih, keseluruhan program bermotif laba dan program nirlaba
untuk dasar evaluasi profitabilitas keseluruhan program yang akan dilaksanakan
oleh institusi layanan kesehatan dalam contoh ini.
33

2010 2011 2012 2013 2014


INVESTASI
Program Komputerisasi Rekam Medik Rp650
Program Rekayasa Ulang Proses Operasi 550
Program Pemutakhiran Peralatan Medik 400
Program Manajemen Ide Baru 100
Total Investasi Rp1.700
ARUS KAS MASUK
Program Komputerisasi Rekam Medik Rp500 Rp550 Rp600 Rp700
Program Rekayasa Ulang Proses Operasi 415 485 550 605
Program Pemutakhiran Peralatan Medik 305 335 340 370
Total Arus Kas Masuk Rp1.220 Rp1.370 Rp1.490 Rp1.675
ARUS KAS KELUAR
Program Komputerisasi Rekam Medik Rp250 Rp250 Rp250 Rp300
Program Rekayasa Ulang Proses Operasi 200 230 250 275
Program Pemutakhiran Peralatan Medik 150 150 125 125
Program Manajemen Ide Baru 220 140 165 175
Total Arus Kas Keluar Rp820 Rp770 Rp790 Rp875
Total Arus Kas Masuk Bersih Rp400 Rp600 Rp700 Rp800

Gambar 5.27 Perhitungan Total Arus Kas Masuk, Total Arus Kas Keluar, dan Total Arus
Kas Bersih Keseluruhan Program (Program Bermotif Laba dan Program Nirlaba)

Hasil perhitungan nilai tunai arus kas masuk bersih keseluruhan program (bermotif
laba dan nirlaba) yang disajikan pada Gambar 5.27 menunjukkan bahwa total nilai
arus kas masuk bersih lebih rendah daripada nilai akhir total investasi ke dalam
keseluruhan program pada akhir tahun 2010. Berdasarkan hasil evaluasi ini dapat
diketahui bahwa keseluruhan program yang telah disusun tidak akan dapat
menjadikan institusi layanan kesehatan ini sebagai wealth-multiplying institution.
Oleh karena itu, tim penyusun program perlu mencari peluang lain untuk mencari
inisiatif strategik baru, mencari program baru untuk melaksanakan inisiatif
strategik tertentu, mengurangi investasi yang direncanakan, mencari cara untuk
meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya, dan mengurangi program
berjalan yang tidak lagi menghasilkan manfaat. Projeksi keuangan yang dibuat
dalam proses penyusunan program menjadi alat penting untuk mengevaluasi
ketercapaian sasaran strategik dan efektivitas inisiatif strategik yang telah
ditetapkan dalam perencanaan strategik.

1 Perhitungan nilai investasi pada akhir tahun 2010 Rp1.700.000 x 1,20 Rp2.010.000.000
2 Perhitungan nilai tunai arus kas masuk bersih:
0,833 x Rp400.000.000 (1/1,201 x 400.000.000) Rp333.200.000
0,694 x Rp600.000.000 (1/1,202 x 600.000.000) 347.000.000
0,579 x Rp700.000.000 (1/1,203 x 700.000.000) 405.300.000
4 385.600.000
0,482 x Rp800.000.000 (1/1,20 x 800.000.000)
Total nilai tunai arus kas masuk bersih 1.471.100
3 Total nilai tunai arus kas masuk bersih lebih rendah daripada nilai investasi Rp538.900.000

Gambar 5.27 Perhitungan Nilai Investasi Pada Akhir Tahun 2010 dan Perhitungan
Nilai Tunai Arus Kas Masuk dan Arus Kas Keluar pada Akhir Tahun 2010 Keseluruhan
Program (Program Bermotif Laba dan Program Nirlaba)
34

Penyusunan Informasi Keuangan Projeksian


Setelah semua kartu program diisi secara lengkap oleh pemilik program, dampak
keseluruhan program terhadap hasil usaha jangka panjang dan posisi keuangan
perusahaan perlu dihitung. Tujuan perhitungan informasi keuangan projeksian ini adalah:
(1) untuk menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kekayaan, yang
ditunjukkan dengan laba jangka panjang yang dihasilkan, (2) untuk menjelaskan posisi
keuangan perusahaan pada akhir jangka waktu tertentu, (3) untuk menggambarkan arus
kas perusahaan dalam jangka panjang. Itulah sebabnya, akuntan manajemen kemudian
menyusun informasi keuangan projeksian berdasarkan seluruh kartu program yang telah
dibuat. Tiga tipe informasi keuangan projeksian yang dibuat:
1. Perhitungan laba-rugi projeksianberisi perhitungan hasil usaha perusahaan dalam
jangka panjang.
2. Neraca projeksianberisi informasi saldo asset, kewajiban, dan modal perusahaan
pada akhir tahun program.
3. Perhitungan arus kas projeksian berisi arus kas dalam jangka waktu program.

Perhitungan laba-rugi projeksian. Gambar 5.28 merupakan template perhitungan laba


rugi projeksian.

TOTAL 2010 2011 2012 2013 2014


Pendapatan Penjualan
Dikurangi:
Biaya Results Producing Activities
Biaya Results Contributing Activities
Biaya Support Activities
Biaya Hygiene and House Keeping Activities
Laba bersih sebelum pajak
Taksiran Pajak Penghasilan
Laba bersih setelah pajak
Gambar 5.28 Template Perhitungan laba Rugi Projeksian

Neraca projeksian
Neraca projeskisn berisi aset projeksian, liabilitas dan modal projeksian pada akhir masa
jangka waktu rencana laba jangka panjang. Informasi ini digunakan untuk mengukur
hasil pelipatgandaan kekayaan dengan menyajiikan posisi keuangan pada akhir masa
jangka waktu frencana laba jangka panjang.

Perhitungan arus kas projeksian.


Arus kas projeksian menggambarkan arus kas masuk dan arus kas keluaar sepanajnga
masa jangka waktu rencana laba jangka panjang.

Review dan Persetujuan atas Program


Usulan program yang dicantumkan dalam kartu program (Gambar 5.14) yang dihasilkan
oleh case manager dan manajer fungsional kemudian diserahkan kepada komite
penyediaan modal (capital appropriation committee) untuk di-review dan disahkan.
Review awal atas kartu program biasanya dilakukan oleh staf dan mencakup apakah
program disusun berdasarkan asumsi dan kebijakan yang telah ditetapkan dalam panduan
35

penyusunan program, dan apakah terdapat konsistensi dalam program yang terdapat
dalam dokumen tersebut.
Review atas kartu program dilakukan melalui diskusi antara manajemen puncak
dengan manajer penyusun program. Diskusi ini mencakup cukup atau tidaknya program
yang disusun untuk menjabarkan inisiatif strategik yang ditetapkan dalam perencanaan
strategik. Program yang diusulkan dalam kartu program dinilai berdasarkan apakah
program tersebut diprakirakan dapat mewujudkan sasaran strategik, baik dari perspektif
keuangan maupun perspektif nonkeuangan. Revisi terhadap program yang diusulkan
merupakan hasil dari proses review ini. Dapat terjadi dari diskusi atas program yang
diusulkan ini mengakibatkan perubahan sasaran strategik, target, dan inisiatif strategik..

ANGGARAN TAHUNAN DISUSUN BERDASARKAN PROGRAM
Program yang telah disetujui kemudian dipakai sebagai dasar untuk menyusun anggaran
tahunan. Anggaran pada dasarnya merupakan perencanaan jangka pendek yang berisi
rencana pengimplementasian program yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran
tertentu. Dalam Gambar 5.28 diberi contoh anggaran tahun 2010, 2011, dan 2012 yang
disusun berdasarkan rincian satu program masing-masing dari perspektif customer dan
perspektif proses serta beberapa program dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Dalam contoh tersebut program-program lain dalam perspektif customer, perspektif
proses, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan tidak diperlihatkan dalam
gambar, untuk menyederhanakan contoh.

PENJABARAN PROGRAM KE KEGIATAN


NAMA PROGRAM 2010 2011 2012
PERSPEKTIF
CUSTOMER
Program Komputerisasi Pendesainan Sistem Uji Coba Sistem Rekam Pemeliharaan Sistem
Rekam Medik Rekam Medik Berbasis Medik Berbasis Rekam Medik
Teknologi Informasi Teknologi Informasi Berbasis Teknologi
Informasi
Pengadaan dan Migrasi Data Rekam
Pemasangan Komputer Medik ke Sistem Baru Perluasan Pemanfaatan
(Hardware dan Sistem Rekam Medik
Software) Sistem Rekam Medik Berbasis Teknologi
Berbasis Teknologi Informasi
Pelatihan Personel Informasi Go Life
Pelatihan Personel
Pelatihan Personel
PERSPEKTIF PROSES
Program Pembangunan Pendesainan Sistem Uji Coba Sistem Pemeliharaan Sistem
IT-Based Supply Chain Pengelolaan Bisnis Pengelolaan Bisnis Pengelolaan Bisnis
Management System dengan Pemasok dengan Pemasok dengan Pemasok
Berbasis Teknologi Berbasis Teknologi Berbasis Teknologi
Informasi Informasi Informasi

Pengadaan dan Migrasi Data ke Sistem Perluasan Pemanfaatan


Pemasangan Komputer Baru Sistem Pengelolaan
(Hardware dan Bisnis dengan
Software) Sistem Pengelolaan Pemasok Berbasis
Bisnis dengan Pemasok Teknologi Informasi
Pelatihan Personel Berbasis Teknologi
36

Informasi Go Life Pelatihan Personel

Pelatihan Personel
Program Pembangunan Pendesainan Sistem Uji Coba Sistem Proses Pemeliharaan Sistem
IT-Based Internal Proses Bisnis Internal Bisnis Internal Berbasis Proses Bisnis Internal
Business Processes Berbasis Teknologi Teknologi Informasi Berbasis Teknologi
Informasi Informasi
Migrasi Data ke Sistem
Pengadaan dan Baru Perluasan Pemanfaatan
Pemasangan Komputer Sistem Proses Bisnis
(Hardware dan Sistem Proses Bisnis Internal Berbasis
Software) Internal Berbasis Teknologi Informasi
Teknologi Informasi
Pelatihan Personel Go Life Pelatihan Personel

Pelatihan Personel
PERSPKTIF
PEMBELAJARAN
DAN PERTUMBUHAN
Program Pendidikan 5 orang Overseas 5 orang Overseas 5 orang Overseas
dan Pelatihan Personel Degree Program Degree Program Degree Program
Berbasis Strategic Job
25 orang Domestic 30 orang Domestic 50 orang Domestic
Internship Program Internship Program Internship Program

3 Orang Dokter Spesialis 10 Orang Dokter 15 Orang Dokter


25 Orang Paramedik Spesialis 25 Orang Spesialis 25 Orang
Bersertifikat Paramedik Bersertifikat Paramedik
Bersertifikat

Program Pengembangan Pengembangan Sistem Sistem Terpadu Improvement atas


Sistem Terpadu Terpadu Pengelolaan Pengelolaan Kinerja Sistem Terpadu
Pengelolaan Kinerja Kinerja Personel Personel Pengelolaan Kinerja
Personel Go Life Personel

Pengembangan Sofware
untuk Pengelolaan
Kinerja

Uji Coba Sistem


Terpadu Pengelolaan
Kinerja Personel

ANGGARAN
TAHUNAN Anggaran tahun 2011 Anggaran tahun 2012 Anggaran tahun 2013
disusun berdasarkan disusun berdasarkan disusun berdasarkan
penggalan-penggalan penggalan-penggalan penggalan-penggalan
berbagai program yang berbagai program berbagai program
direncanakan akan yang direncanakan yang direncanakan
dilaksanakan dalam akan dilaksanakan akan dilaksanakan
tahun 2011 dalam tahun 2012 dalam tahun 2013
Gambar 5.28 Anggaran Tahunan yang Disusun Berdasarkan Program
37

ISI RENCANA LABA JANGKA PANJANG


BERBASIS BALANCED SCORECARD
Dengan menggunakan rerangka Balanced Scorecard proses penyusunan rencana laba
jangka panjang dilaksanakan melalui tiga sistem: (1) sistem perumusan strategi, (2)
sistem perencanaan strategik, dan (3) sistem penyusunan program. Secara rinci setiap
tahap proses penyusunan rencana laba jangka panjang tersebut telah dibahas dalam Bab 3
Sistem Perumusan Strategi, Bab 4 Sistem Perencanaan Strategik dengan Rerangka
Balanced Scorecard, dan Bab 5 Sistem Penyusunan Program. Timbul pertanyaan
bagaimana isi rencana laba jangka panjang yang dihasilkan dengan menggunakan
Balanced Scorecard sebagai rerangka? Untuk menggambarkan isi rencana laba jangka
panjang yang dihasilkan dengan Balanced Scorecard sebagai rerangka, pada Gambar 5.29
dilukiskan keluaran yang dihasilkan oleh sistem perumusan strategi, sistem perencanaan
strategik, dan sistem penyusunan program.

SISTEM KEGIATAN UTAMA DAN KELUARANNYA


Sistem Perumusan Strategi Trendwatching:
Trend perubahan lingkungan makro, miro, dan
persaingan
SWOT Analysis
Peluang dan ancaman dari lingkungan luar organisasi
serta kekuatan dan kelemahan dalam lingkungan
internal organisasi
Envisioning
Misi, visi, tujuan, keyakinan dasar, dan nilai dasar
organisasi

Rationale yang mendasari pemilihan misi, visi,


keyakinan dasar, dan nilai dasar organisasi
Strategy crafting
Strategi pilihan
Rationale yang mendasari pemilihan strategi
Sistem Perencanaan Penerjemahan Misi, Visi, Tujuan, Keyakinan Dasar,
Strategik Nilai Dasar, dan Strategi Organisasi
Company scorecard
Cascading Company Scorecard
Mission center scorecards
Service center scorecards
Team and personal scorecard
Sistem Penyusunan Pemilihan Program dan Penunjukan Pemilik
Program Program
Daftar program dan pemilik program
Pengisian Kartu Program
Kartu program usulan
Review dan Persetujuan Program
Kartu program yang disetujui
Penyusunan Informasi Keuangan Projeksian
38

Perhitungan laba-rugi projeksian


Neraca projeksian
Laporan arus kas projeksian

Gambar 5.29 Keluaran yang Dihasilkan oleh Sistem Perumusan Strategi, Sistem
Perencanaan Strategik, dan Sistem Penyusunan Program

AKUNTANSI MANAJEMEN DALAM PROSES PENYUSUNAN


PROGRAM
Informasi akuntansi manajemen dalam proses penyusunan program berupa informasi
kualitatif, informasi kuantitif nonkeuangan, dan informasi kuantitif keuangan. Informasi
kauntansi manajemen digunakan sebagai basis pemilihan program berdasarkan
pertimbangan kelayakan dari berbagai aspek yang komprehensif: teknis, sosial, politik,
budaya, damak lingkungan, dan ekonomi.

RANGKUMAN
Penyusunan program tidak dapat dilepaskan dari proses sebelumnya. Program pada
dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut berbagai inisiatif strategik yang ditetapkan
dalam perencanaan strategik. Penyusunan program juga berdampak terhadap proses
berikutnya. Penyusunan anggaran, yang merupakan tahap akhir dalam total business
planning, merupakan penjabaran lebih lanjut bagian program yang akan dilaksanakan
dalam tahun anggaran tertentu. Dengan demikian penyusunan program merupakan
matarantai yang menghubungkan perencanaan strategik dengan penyusunan anggaran.
Dalam sistem manajemen strategik, penyusunan program mempunyai tiga fungsi
sebagai: (1) alat untuk menjabarkan inisiatif strategik ke dalam program, (2) alat untuk
mengevaluasi ketercapaian sasaran strategik dan efektivitas inisiatif strategik yang
dirumuskan dalam perencanaan strategik, dan (3) basis untuk penyusunan anggaran.
Sebagai alat pengevaluasi ketercapaian sasaran strategik dan efektivitas inisiatif strategik
yang dirumuskan dalam perencanaan strategik, sistem penyusunan program menjadi mata
rantai yang sangat penting dalam total business planning. Program menjadi penguji
apakah informasi kualitatif yang dirumuskan dalam tahap perencanaan sebelumnya
(perumusan strategi dan perencanaan strategik) dapat diwujudkan oleh perusahaan.
Program juga menjadi penguji apakah dalam jangka panjang perusahaan mampu menjadi
pelipatganda kekayaan. Program digunakan untuk membuktikan apakah di atas kertas,
dalam jangka panjang perusahaan mampu melipatgandakan kekayaan. Setelah personel
mendapatkan keyakinan bahwa di atas kertas perusahaan mampu melipatgandakan
kekayaan, program baru dijabarkan lebih lanjut ke dalam perencanaan yang lebih rinci
dan berjangka pendek, yaitu dalam bentuk anggaran tahunan.
Penyusunan program dilandasi oleh opportunity mindset. Berdasarkan mindset ini,
program-program yang dipilih untuk menjabarkan inisiatif strategik akan bermasa depan
dan menjanjikan terwujudnya sasaran strategik yang dipilih dalam perencanaan strategik.
Penyusunan program pada hakikatnya merupakan proses perencanaan laba jangka
panjang (long-range profit planning). Oleh karena itu, setelah proses kreatif penjabaran
inisiatif strategik ke dalam program dilaksanakan, kemudian dilakukan prakiraan berapa
laba yang dapat dihasilkan dari program baru dan program berjalan yang akan
39

dilaksanakan oleh perusahaan dalam jangka panjang. Jika laba yang dihasilkan dari
berbagai program yang dipilih tidak mampu memenuhi laba yang diharapkan, penyusun
program perlu mencari peluang lain untuk mencari inisiatif strategik baru, mencari
program baru untuk melaksanakan inisiatif strategik tertentu, mengurangi investasi yang
direncanakan, mencari cara untuk meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya, dan
mengurangi program berjalan yang tidak lagi menghasilkan manfaat. Laporan keuangan
projeksian merupakan keluaran penting dari pelaksanaan perencanaan laba jangka
panjang ini.