BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Kegiatan belajar di sekolah bertujuan untuk menguasai atau memperoleh respon tingkah laku yang berhubungan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap ranah yang akan dipelajari tersebut disusun dalam pembelajaran yang jelas. Untuk mencapai ketuntasan dalam belajar sebaiknya seorang guru dalam proses pembelajaran dapat menentukan suatu metode mengajar yang mantap sehingga hasil belajar di harapkan dapat tercapai secara efektif. Dalam proses belajar banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan metode mengajar, diantaranya : Tujuan pembelajaran yang akan dihadapi siswa, lingkungan tempat siswa belajar, fasilitas yang tersedia yang dapat digunakan, serta kondisi pribadi guru. Seorang guru harus mampu menyajikan suatu metode mengajar yang tepat sehingga mampu menarik minat, dapat menimbulkan gairah untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat sedangkan faktor internal terdiri dari faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan. (Slameto, 1997: 60 ) Proses belajar mengajar dapat berjalan efektif bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Komponen-komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar antara lain : 1. Siswa 2. Kurikulum 3. Guru 4. Metode 5. Sarana dan prasarana 6. Lingkungan

1

Dari semua komponen yang berpengaruh terhadap hasil belajar tersebut komponen guru menentukan karena ia akan mengelola komponen lainnya. Sehingga dapat meningkatkan hasil yang akan di capai dalam proses belajar mengajar. Suatu kelas di sebut tuntas belajar bila di kelas tersebut jumlah siswa telah mencapai daya serap > 85 % (Depdikbub, 1994 : 39) Untuk itu sebagai seorang guru dituntut untuk menentukan berbagai metode yang tepat sehingga dapat meningkatkan aktifitas dan motivasi siswa dalam menerima materi suatu pelajaran yang akan diberikan, sehingga dapat mencapai tujuan dari pengajaran itu sendiri. Karena itu cara yang terbaik di lakukan guru adalah mengetahui kelebihan dan kelemahan dari metode mengajar. Kurangnya penguasaan terhadap beberapa metode pengajaran adalah kendala dalam pemilihan dan penentuan metode. Seperti metode ceramah yang biasa digunakan oleh guru. Metode ceramah merupakan metode yang berpusat kepada guru, dimana guru lebih aktif menyampaikan informasi sehingga lama kelamaan siswa akan menjadi bosan dan hal ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu metode pengajaran yang dapat digunakan untuk mengaktifkan cara belajar siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat adalah Metode Resitasi. Metode Resitasi adalah Suatu cara pengajaran atau metode yang dicirikan dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru untuk diselesaikan oleh siswa dalam jangka waktu tertentu. Metode ini digunakan terutama untuk merangsang anak untuk tekun dan giat belajar .Dalam memanfaatkan metode dapat dilakukan secara individu atau secara berkelompok. (Roestiyah N.K.2001) Menurut informasi yang peneliti temui, metode yang digunakan guru mata pelajaran Sistem Rem di SMK. Negeri I Indralaya Utara, menggunakan metode ceramah dan dilihat ternyata hasil belajar siswa yang dianggap tuntas belajar mencapai keriteria ketuntasan minimal (KKM.) dengan setandar minimal 70 adalah < 50%. Sehubungan dengan hal itu, maka penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sistem Rem Melalui Metode Resitasi Di Kelas X TKR. I SMK. Negeri 1 Indralaya Utara.

2

1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : Apakah dengan pemberian metode Resitasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sistem Rem di kelas XI TKR. SMK. Negeri I Indralaya Utara? 1.3. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh hasil belajar dengan menggunakan metode Resitasi baik secara berkelompok maupun individu pada mata pelajaran Sistem Rem. 1.4. Batasan Masalah Agar pembahasan dapat fokus dan dapat mencapai apa yang di harapkan, maka pembahasan peneliti hanya pada : 1. Metode Pembelajaran Resitasi 2. Sebagai subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI TKR. I SMK. Negri I Indralaya Utara 3. Mata pelajaran Memperbaiki Sistem Rem pokok bahasan Rem Cakram dan Rem Tromol Pada Kendaraan Ringan (TKR.) Mobil Toyota 1.5. Manfaat Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Peneliti Setelah melakukan penelitian ini dan mengetahui kelebihan dan kekurangan metode resitasi, peneliti dapat menggunakan metode ini pada saat peneliti melaksanakan tugas mengajar dimasa yang akan datang.

3

2.

Guru

Sebagai masukan tentang pentingnya metode Resitasi sehingga dapat di terapkan dalam proses belajar mengajar Sistem Rem guna meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Siswa Metode Resitasi diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa secara aktif sebelum materi pelajaran diajarkan di kelas.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran diantanya, Tipe Team Assisted Individualization (TAI.), dalam penelitan ini di lakukan di SMK. N 2 Palembang sebagai upaya meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Motor Bakar, dan dilihat dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 40 % (Setiawan, Endi :2005). Aptitude Treatment Interaction (ATI.) dilakukan penelitian di SMA. N I Indralaya sebagai upaya peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran Fisika, dan dilihat dari hasil penelitian dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 31 % dan (Muslim : 2002) Dari dua penelitian diatas yang sama-sama menggunakan metode pembelajaran yaitu : Tipe TAI. dan Tipe ATI. Maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan metode pembelajaran yang sejauh ini belum peneliti temui yaitu dengan Metode Resitasi Pada Pelajaran Sistem Rem Di Kelas XI TKR. SMK. N. I Indralaya Utara 2.1. Pengertian Belajar Mengajar 2.1.1. Pengertian Belajar Didalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh anak sebagai peserta didik. Ada beberapa pendapat ahli mengenai definisi belajar, antara lain : 1. Winkel Belajar adalah suatu aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pengalaman,keterampilan dan nilai-nilai. (Dimyati dan Mudjiono 1999)

5

2. Gage Barlinger Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme perubahan prilakunya sebagai akibat pengalaman. (Dimyati dan Mudjiono 1999) 3. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. (Slameto 1997 : 2) Dari pengertian belajar diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa Belajar adalah Suatu perubahan tingkah laku akibat pengalaman yang diperoleh secara berangsur-angsur, dimana melibatkan pelajar dan guru. 2.1.2. Pengertian Mengajar Joyce dan Will Mengemukakan mengajar merupakan suatu proses di mana guru dan siswa secara bersama-sama menciptakan suatu lingkungan. (Dimyati dan Mudjiono 1999). Oemar Hamalik Mengemukakan bahwa mengajar adalah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya sehingga menciptakan kesempatan bagi siswa untuk melakukan proses belajar secara efisien. (Dimyati dan Mudjiono 1999) Dari pengertian mengajar di atas maka penulis menyimpulkan bahwa Mengajar adalah : Suatu proses membagi pengetahuan atau pengalaman oleh suatu individu kepada kelompok belajar. 2.2. Metode Mengajar Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menentukan tujuan yang telah di tentukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode : 1. Tujuan yang hendak di capai Peserta didik mengerti dan memahami cara kerja Sistem Rem serta dapat menjelaskannya 2. Materi pelajaran.

6

Materi pelajaran meliputi Sistem Rem pada kendaraan roda empat mobil toyata. Peserta didik 3. Peserta didik sebagai subjek belajar memiliki karakteristik yang berbedabeda,baik minat, bakat, motivasi, situasi keluarga dan harapan terhadap masa depannya. Dalam hal ini adalah siswa Kelas XI TKR. I SMK. N I Indralaya Utara 4. Situasi Situasi kagiatan belajar setting lingkungan dengan pembelajaran yang dinamis. 5. Fasilitas Gambar peraga sebagai alat bantu pengajaran 6. Guru Setiap orang memiliki kepribadian,kebiasaan dan pengalaman mengajar yang berbeda-beda.Dengan memiliki jiwa keprofesionalan dalam menyampaikan pelajaran atau dalam proses pembelajaran itu akan berhasil sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan. (Fathurrohman dan Sutikno 2009 : 61) 2.2.1. Metode Resitasi 2.2.1.1. Pengertian Metode Resitasi Metode Resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, dihalaman sekolah, dilaboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah, atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan. Contoh tugas dalam metode Resitasi antara lain : 1. Menyusun karya tulis 2. Menyusun laporan mengenai bahan bacaan yang berupa buku, menyusun berita yang diamati atau dialami

7

3. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada buku pelajaran Adapun manfaat dan keunggulan metode resitasi antara lain : 1. Pengetahuan siswa akan lebih luas dan sifat verbalismenya akan semakin berkurang 2. Memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa 3. Penghayatan pekerjaan lebih intensif 4. Kreatifitas, usaha, tanggung jawab dan pribadi mandiri siswa akan berkembang apabila tugas yang diberikan sesuai dengan sifat individu mereka. (Roestiyah N.K. 2001 : 133) 2.2.1.2. Langkah-langkah dalam metode resitasi Langkah-langkah dalam metode resitasi terdiri dari 3 fase yaitu : 1. Fase pertama : Pemberian tugas yang menyangkut : Gambar bagian-bagian dari Rem kendaraan roda dua empat. Terangkan cara kerja Sistem Rem Mampu menjelaskan kepada orang lain

2. Fase kedua : Tahap belajar yakni siswa melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan dan petunjuk yang diberikan oleh guru. 3. Fase ke tiga : Yaitu tahap Resitasi dimana siswa bertanggung jawab atas hasil yang dikerjakan, yaitu dalam bentuk prestasi kedepan. Keunggulan Metode Resitasi : 1. Siswa lebih benyak mengalami sendiri sehingga lebih memperkuat daya ingat mereka 2. Sangat berguna untuk mengisi kekosongan waktu agar siswa dapat melakukan hal-hal yang positif 3. Siswa menjadi aktif dan merasa memiliki tanggung jawab

8

Dari penjelasan diatas maka penulis menarik kesimpulan bahwa Metode Resitasi adalah pemberian tugas yang dilakukan oleh guru dan tugas tersebut dikekerjakan oleh siswa untuk mengetahui ketekunan siswa dalam mengerjakan tugas maka siswa dituntut mampu mempertanggung jawabkan tugas yang mereka kerjakan. (Usman 2002 : 48) 2.2.2. Pembelajaran Secara Kelompok Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas guru memembentuk kelompok kecil. Kelompok tersebut umumnya terdiri dari 2-4 orang siswa. Dalam pembelajaran kelompok, guru memberikan bantuan atau bimbingan kepada tiap kelompok secara lebih mendalam. Ciri-ciri menonjol dalam pembelajaran berkelompok dapat ditinjau dari segi 1. Tujuan pengajaran 2. Pembelajaran 3. Guru sebagai pembelajar 4. Program pembelajaran 5. Orientasi dan tekanan utama pelaksanaan pembelajaran . Tujuan Belajar kelompok : 1. Memberikan kesempatan buat siswa untuk mengembangkan pemahaman dan memecahkan masalah secara rasional 2. Mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam kehidupan 3. Mendinamiskan kegiatan kelompok sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian dari kelompok yang bertanggung jawab 4. Mengembangkan kemampuan kepemimpinan keterpimpinan pada setiap kelompok dalam memecahkan masalah kelompok.

9

Ciri-ciri kelompok yang menonjol sebagai berikut : 1. Tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok 2. Setiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok 3. Memiliki rasa saling membutuhkan dan rasa saling tergantung 4. Ada interaksi dan komunikasi antar anggota 5. Ada tindakan bersama sebagai tindakan perwujudan tanggung jawab kelompok Peran guru dalam pembelajaran kelompok terdiri dari : 1. Pembentukan kelompok 2. Perencanaan tugas kelompok 3. Pelaksanaan pembelajaran 4. Melakukan evaluasi hasil belajar kelompok (Dimyati dan Mudjiono 1999 : 166) 2.2.3. Pembelajaran Secara Individual Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran secara individu dapat ditinjau dari segi : 1. Tujuan pengajaran 2. Siswa sebagai subjek yang belajar 3. Guru sebagai pengajar 4. Program pembelajaran 5. Orientasi dan inti dari pembelajaran Tujuan Pembelajaran Individual : 1. Pemberian kesempatan dan keleluasaan kepada siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri 2. Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal Siswa dalam pembelajaran secara individu

10

Dalam pembelajaran secara individu siswa memiliki keleluasaan berupa : 1. Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri 2. Siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukan 3. Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan,kecepatan, dan intensitas belajar 4. Peran guru dalam pembelajaran secara individu : 5. Merencanakan kegiatan belajar 6. Pengorganisasi kegiatan belajar 7. Menciptakan rasa keterbukaan antara guru dan siswa 8. Membuat pasilitas yang mempermudah proses belajar (Dimyati dan Mudjiono 1999 :161-162) 2.3. Hasil Belajar Belajar merupakan suatu aktifitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai/sikap. Perubahan itu bersifat secara relatife konstan dan berbekas, semua perubahan itu merupakan hasil dari belajar. (Usman 2002 : 48) Hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan seseorang dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes. Hasil belajar adalah suatu bukti keberhasilan seseorang dalam bentuk nilai yang diperoleh dari hasil belajar yaitu evaluasi. (Dimyati dan Mudjiono 1999 :155) Hasil belajar adalah hasil yang dicapai, dilakukan dan dikerjakan. Hasil belajar merupakan suatu keberhasilan yang diperjuangkan oleh siswa melalui latihan, keterampilan, ketekunan dan pengarahan pada diri siswa tersebut. Adapun hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai mata pelajaran Sistem Rem yang diperoleh siswa pada tes ulangan harian yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam materi Sistem Rem tersebut. (Slameto, 1997: 66 )

11

2.3.1. Evaluasi Untuk mengetahui berapa tinggi tingkat penguasaan bahan ajar yang telah dicapai oleh siswa, maka harus diadakan suatu penilaian tentang hasil belajar yaitu dengan cara mencari informasi tentang seberapa banyak tujuan pengajaran yang telah disusun sebelum proses belajar mengajar dapat dicapai oleh siswa. Untuk mendapat informasi tersebut maka diadakan suatu kegiatan belajar yang di evaluasi. Evaluasi berarti Merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya debandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan (Thoha : 1) Evaluasi hasil belajar merupakan salah satu kegiatan penting dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Untuk mengadakan evaluasi, meliputi dua langkah yaitu Mengukur dan Menilai. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan Menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. 2.3.2. Tes Tes sebagai alat atau prosedur yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dalam rangka pengukuran dan penilaian. Dari penilaian itu maka dapat dipahami dalam dunia evaluasi pendidikan, yang dimaksud dengan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas, atau serangkaian tugas (baik berupa pertanyaanpertanyaan atau perintah yang harus dijawab). Fungsi tes secara umum adalah : Sebagai alat pengukuran terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi untuk mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya, telah dapat tercapai. (Sudijono 2007 : 65)

12

2.4. Pokok Bahasan Yang Ditugaskan Menjelaskan fungsi Rem pada kendaraan kendaraan roda empat (Toyota : 5-53) 1. Cara kerja Rem tromol dan Rem Cakram 2. Komponen Rem Cakram dan Rem Tromol a. Rem Cakram Cara kerja rem cakram :Ketika pedal rem ditarik maka pluida atau minyak akan turun dari selinder master ke kaliper,hal tersebut membuat kanvas rem menjepit piringan cakram akibat dorongan dari piston. Komponen-komponen Rem Cakram Master selinder Boster Caliper Kanvas Rem Piringan cakram :Rem tromol mekanik bekerja dengan perantaraan

b. Rem Tromol Cara kerja rem tromol kawat yang di hubungkan kehendel rem di stang kemudi.jika hendel Rem di tekan maka kanvas rem mengembang sehingga bersinggungan dengan rem tromol begian dalam.pada kendaraan tersebut ikut berputar sehingga terjadi gesekan antara kanpas rem dengan tromol bagian dalam tesebut akibatnya akan terjadi perlambatan kecepatan kendaraan.semakin kuat gesekan semakin besar perlambatannya hingga kendaraan berhenti. Komponen-komponen Rem Tromol Becking plate Selinder roda Sepatu rem Kanvas rem Tromol rem

13

2.5. Penelitian Tindakan Kelas Pengertian penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga kata yaitu : 1. Penelitian adalah :Menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodelogi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti 2. Tindakan adalah :Menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja di lakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus untuk siswa 3. Kelas adalah : Sekelompok peserta didik yang sedang belajar Jadi penelitian tindakan kelas adalah Suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan,yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. (Arikunto 2009 : 2) Pelaksanaan kegiatan dalam PTK Dalam pelaksanaan PTK ada tiga hal yang harus di lakukan antara lain : 1. PTK merupakan penelitian yang mengikut seratakan secara aktif kegiatan guru dan siswa dalam berbagai tindakan. 2. Kegiatan refleksi (pereningan, pemikiran, dan evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) guna melakukan perbaikan dalam upaya mencagah masalah yang terjadi. 3. Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilaksanakan dengan praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran). (Arikunto 2009 : 72) 2.6. Hipotesis Hipotesis tindakan yang ditemukan penulis adalah metode resistasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Sistem Rem di Kelas XI TKR I SMK Negri 1 Indralaya Utara.

14

BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1. Variabel Penilitian Dalam penelitian ini terdapat dua jenis Variabel yaitu Variabel bebas dan Variabel terikat yang dirumuskan sebagai berikut 1. Variabel bebas metode resitasi . 2. Variabel terikat : Hasil belajar yang diperoleh siswa pada mata pelajaran Sistem Rem setelah menggunakan metode Resitasi dikelas XI TKR. I SMK. Negri 1 Indralaya Utara 3.2. Definisi Operasional Variabel Metode Resitasi adalah cara pengajaran yang dicirikan dengan adanya persoalan yang di berikan dalam jangka waktu tertentu. Pembelajaran Secara Individual adalah Kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Pembelajaran Secara Kelompok adalah Suatu cara mengajar dimana siswa didalam kelas di pandang dalam suatu kelompok atau di bagi dalam beberapa kelompok. 3.2.2. Definisi Operasional Variabel Terikat : Hasil belajar adalah Hasil yang di peroleh oleh siswa setelah menjalani proses pembelajaran melalui tes khusus di laksanakan untuk keperluan tersebut. 3.3. Persiapan Pelaksanaan Penelitian. : : Pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan

3.2.1. Definisi Operasional Variabel Bebes :

Ada 3 hal yang perlu di persiapkan dalam pelaksanaan penelitian dengan menerapkan metode Resitasi 1. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI TKR I 2. Tempat pelaksanaan penelitian ini diadakan di SMK Negri 1 Indralaya Utara

15

3. Waktu penelitian ini diadakan pada Semester Genap tahun ajaran2009/2010

3.4.

Prosedur Pelaksanaan Penelitian Prosedur pelaksanaan penelitian dengan menerapkan metode Resitasi dibagi

menjadi 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari: 1. Persiapan atau rencana 2. Pelaksanaan 3. Observasi 4. Refleksi Siklus 1 1. Rencana/ persiapan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi a. Mempersiapkan Silabus b. Mempersiapkan Rencana Program Pembelajaran (RPP) c. Mempersiapkan soal-soal yang akan di tugaskan d. Membagi siswa kelas XI TKR I menjadi 6 kelompok e. Menyiapkan soal-soal tes hasil belajar 2. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi a. Pokok Bahasan b. Tindakan : REM CAKRAM :

Mempersiapkan tugas yang harus dikerjakan siswa Tugas diperiksa dengan menyuruh siswa kedepan kelas dan dibahas secara kelompok Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan program yang telah disusun Setelah melaksanakan dan menyelesaikan satu satuan pelajaran diadakan evaluasi hasil belajar sebagai hasil siklus I. Soal yang deberikan dalam bentuk essay sebanyak 5 soal.

16

3.

Observasi

Observasi dilakukan untuk mengamati tindakan yang dilakukan siswa Hal-hal yang di observasi selama penelitian keseluruhan meliputi : a. Kerjasama antar sesama kelompok b. Keaktifan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan c. Perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan d. Keterlibatan siswa dalam diskusi 4. Refleksi Menyusun rencana untuk siklus II sebagai usaha menyempurnakan dari tindakan pertama mengacu pada kendala yang di hadapi pada siklus I Siklus II 1. Rencana /persiapan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi a. Mempersiapkan Silabus b. Mempersiapkan rencana program pembelajaran ( RPP. ) c. Mempersiapkan soal-soal yang akan di tugaskan d. Membagi siswa kelas XI TKR. I menjadi 8 kelompok e. Menyiapkan soal-soal yang akan tes hasil belajar 2. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Resitasi a. Pokok bahasan b. Tindakan : REM TEROMOL :

Memberikan tugas yang harus di kerjakan siswa Siswa mengerjakan tugas dan memeriksa hasil pekerjaan dengan berkeliling dari kelompok satu kekelompok lainnya khususnya nilai yang rata-rata kelompoknya < 70

17

-

Tugas diperiksa dengan cara menyuruh siswa kedepan kelas dan dibahas secara bersama Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan program yang telah di susun Setelah melaksanakan dan menyelesaikan satu satuan pelajaran diadakan evaluasi hasil belajar sebagai hasil dari siklus II. Soal yang diberikan dalam bentuk essay sebanyak 5 soal

3. Observasi Hal-hal yang di observasi selama kegiatan penelitian keseluruhan meliputi : a. Kerjasama antar sesama kelompok b. Keaktifan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan c. Perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan d. Keterlibatan siswa dalam berdiskusi 4. Refleksi Menyusun rencana untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya sebagai usaha melanjutkan siklus I dan II. 3.5. Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapat data yang di perlukan dalam penelitian ini ada beberapa teknik yang digunakan : 1.Tes Tes diperlukan untuk mengumpul data tentang hasil belajar siswa sedang alat yang digunakan mengumpul datanya adalah soal dalam bentuk essay, Selama penelitian tes dilaksanakan sebanyak dua kali, yaitu : a. Tes pertama yaitu tes yang di lakukan pada akhir Siklus I.Di ambil dengan data TI TI = Ketuntasan belajar siswa secara klasikal siklus I

18

b. Tes kedua yaitu tes yang di laksanakan pada akhir siklus II. Diambil dengan data T2 T2 = Ketuntasan belajar siswa secara klasikal Siklus II Sebelum tindakan penulis mengambil data awal ( To ) yang diperoleh dari ketuntasan klasikal pokok bahasan Sistem Rem semester genap tahun lalu, ajaran 2008/2009 di kelas XI TKR. I SMK. Negeri I Indralaya Utara. 2. Observasi Observasi digunakan untuk mengetahui persiapan siswa terhadap pelajaran yang akan diberikan. Observasi yang diberikan meliputi : a. Kerjasama antar sesama kelompok Deskriptor 1. Siswa bertukar pendapat dengan siswa lain 2. Membantu siswa lain yang memerlukan pertolongan 3. Siswa dapat berinteraksi secara baik dengan memperhatikan karakter masingmasing. b. Keaktifan siswa dengan menyelesaikan soal-soal yang diberikan Deskriptor 1. Segera menyiapkan diri untuk mengerjakan soal 2. Terpacu berlomba untuk menjawab soal yang diberikan oleh guru 3. Menunjukan kesungguhan dalam mengerjakan soal c. Perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan Deskriptor 1. Siswa mendengarkan penjelasan guru atau pengarahan guru dengan seksama 2. Siswa mencatat penjelasan/saran yang diberikan dari guru atau dari siswa 3. Siswa berani menanyakan penjelasan guru yang belum dimengerti. d. Keterlibatan siswa dalam berdiskusi Deskriptor 1. Siswa berani mengungkapkan pendapat dengan siswa lain

19

2. Siswa berani mengerjakan soal di depan kelas 3. Berlomba-lomba ingin bertanya/menjawab pertanyaan. 3.6. Teknik Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah membandingkan data T0, TI dan T2. Jika di peroleh T2 > T1 > T0 maka penelitian dikatakan berhasil . To = Ketuntasan siswa secara klasikal sebelum tindakan T1 = Ketuntasan belajar siswa secara klasikal siklus 1. T2 = Ketuntasan belajar siswa secara klasikal siklus 11 • Untuk mencari nilai rata-rata hasil belajar siswa di gunakan rumus :

Mx =

∑x
n

Mx adalah nilai rata-rata = Jumlah nilai yang diperoleh seluruh siswa Jumlah siswa seluruh kelas (Sudjiono 2006 : 81) • Untuk mengetahui kemampuan siswa secara Individu : Dengan melihat hasil jawaban siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan disetiap akhir siklus. • Untuk mengetahui keaktifan siswa dalam belajar kelompok : Dengan menghitung jumlah diskriptor yang diperoleh siswa dan dipersen(%) dengan jumlah diskriptor secara keseluruhan.Dalam penelitian ini terdapat 4 Indikator dan 12 Diskriptor

20

Tabel 1. Tabel penilaian keaktifan Aktifitas 80 - 100% 60 – 79% 40 – 59% 20 – 39% 0 - 19% Kategori Sangat aktif Aktif Cukup aktif Kurang aktif Gagal (Arikunto)

Syarat ketuntasan balajar siswa dinyatakan bahwa setiap siswa telah tuntas belajar bila mencapai nilai 70 dan suatu kelas di nyatakan tuntas belajar bila kelas tersebut terdapat 85 % siswa yang mendapat nilai > 70. Hasil perhitungan di atas dinyatakan dengan table dibawah ini : Tabel 2. Nilai 85 - 100 75 65 55 < - 84 - 74 - 64 54 Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal (Arikunto)

DAFTAR PUSTAKA

21

Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, Supardi.2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara : Jakarta. Dimyati Dan Mudjiono.1999. Belajar Dan Pembelajaran.Renika Cipta : Jakarta. Fathurrohman pupuh & sobri sutikno. 2009. Strategi Belajar-Mengajar. Refika aditama : Bandung Purwanto,Abdul.2008.hppt://abdulpurwanto.blogspot.com/2009/06/alquran-itu penting-bgt1000x.html Roestiyah N.K.2001. Strategi Belajar Mengajar. Renika Cipta : Jakarta Slameto.1997. Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Renika Cipta : Jakarta. Sudjiono, Anas. 2007. Pengantar Evaluasi Pendidikan.RajaGrapindo Persada : Jakarta Selatan. -------------------. 2006. Persada:Jakarta. Pengantar Statistik Pendidikan. Raja Grapindo

Thoha, chabib. 2001. Teknik Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada : Jakarta Toyota.New Step 1 Training Manual.PT. Toyota Astra Motor Training Center. Usman Basyruddin.2002. Metodelogi Pembelajaran Agama Islam. Ciputat Pers : Jakarta.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Data

22

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI TKR. I semester genap SMK.N I Indralaya Utara tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 24 orang yang semuanya terdiri dari siswa laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI di semester genap. Sebelum di berikan tindakan terdapat 15 orang siswa dari 24 orang siswa yang nilainya kurang dari 70. Data yang diperoleh penelitian ini adalah data nilai ulangan harian sebelum diberi tindakan pada mata pelajaran produktif kompetensi sistem rem kendaraan roda empat sebelum di berikan tindakan sebagai data To, data ulangan harian pada siklus 1 sebagai data T1 dan data ulangan pada siklus II sebagai data T2 data To secara rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3. Nilai 85 - 100 75 - 84 65 - 74 55 - 64 < 54 Jumlah Frekuensi 9 15 24 Prosentase 37.5 62.5 100 Kategori Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Sebelum Tindakan ( To ) Dari tabel di atas terdapat 15 orang siswa yang tidak mencapai nilai < 70 dan terdapat 9 orang siswa yang mendapat nilai > 70 yang menjadi KKM pada mata pelajaran sistem rem dengan, ini berarti secara klasikal kelas tersebut belum mencapai ketuntasan belajar karena baru mencapai 37.5 % siswa yang dianggap tuntas belajar mampu menyerap pelajaran dengan baik. Sedangkan suatu kelas dikatakan tuntas belajar apabila didalam kelas tersebut telah terdapat 85% siswa yang mencapai setandar nilai KKM yaitu dengan niali 70. Dari data yang dianalisis diperoleh hasil perhitungan nilai rata-rata dalam kelas tersebut

23

4.2. Hasil dan pembahasan siklus I Dari hasil ulangan harian siswa sebelum tindakan terdapat 37,5 % atau 15 orang siswa dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan siswa belajar. Untuk mengatasi siswa yang belum tuntas belajar tersebut, maka penulis melaksanakan penelitian dengan cara memberikan tugas pada setiap pokok bahasan. Pada siklus I ini peneliti memberikan pembelajaran pada pokok bahasan Rem cakram. Pada awal kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan soal-soal mengenai Rem cakram dan siswa menyelesaikan soal tersebut secara berkelompok. Pada siklus ini ada 2 hal yang diperhatikan, yaitu : Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran Hasil ulangan harian 4.2.1. Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran dapat diamati melalui diskriptor yang telah ditentukan sebagai berikut : Kerjasama antar kelompok Keaktipan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan 1. Perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan 2. Keterlibatan siswa dalam diskusi Data hasil pengamatan keaktifan kelompok pada siklus I

Tabel 4. Kelompok A SKOR B C D Jumlah Kategori

24

I II III IV V VI

2 2 2 4 4 2

4 3 3 4 3 3

4 3 4 2 4 4

1 1 1 2 1 0

11 9 10 12 10 9

Aktif Cukup aktif Aktif Aktif Aktif Cukup aktif

Pembahasan dan hasil belajar Adapun hasil yang diperoleh dari siklus I secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Data hasil rara-rata kelompok pada siklus I Tabel 5. Kelopok I II III IV V VI Jumlah Rata-rata Hasil 71 75 56 73 77 73 425 70,84 Kategori Cukup Baik Kurang Baik Baik Cukup

Dari tabel di atas ada 5 kelompok yang hasil rata-rata kelompoknya > 70 Yaitu kelompok I, II, IV,V dan kelompok VI sedangkan kelompok lainnya hasil ratarata kelompok < 70. Untuk melihat hasil perorangan dapat dilihat dari tabel berikut ini : Distibusi frekuensi hasil belajar siswa pada siklus I ( TI ) Tabel 6.

25

Rentangan nilai 85 - 100 75 - 84 65 - 74 55 - 64 < 54

Frekuensi 5 10 7 2

Prosentase 19,5 43 31 6,5

Kategori penilaian Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal

Dari hasil penelitian siklus I ( TI ) terdapat 62,5 % siswa yang mendapat nilai >70. ini berarti ada 15 orang siswa yang mencapai tarap ketuntasan belajar dari 24 orang siswa yang ada dalam satu kelas. Namun secara klasikal, kelas tersebut mencapai tarap ketuntasan belajar karena siswa yang mencapai nilai > 70 kurang dari 85 % keseluruhan siswa yang ada dalam kelas tersebut. Tetapi dari hasil penelitian siklus I terdapat peningkatan jika dibandingkan dengan hasil belajar sebelum diberikan tindakan yaitu sebesar 62,5 % - 37,5 % = 25 % dengan nilai rata-rata sebelum tindakan menjadi setelah diberikan tindakan. Refleksi Dari hasil yang diperoleh belum tercapai nilai yang dikehendaki, karena banyak siswa yang belum mengerti cara kerja sistem rem dengan alasan belum pernah melihat secara langsung bagaimana cara kerja sistem rem cakram, sebagian besar siswa juga tidak memiliki kendaraan sendiri itu yang menjadikan alasan mereka tidak dapat mengerjakan, ini terlihat dari jawaban pada butir soal No.1. Selain itu ada penyebab lain yang menyebabkan siswa belum mencapai hasil yang diharapkan selama tindakan berlangsung, antara lain : Siswa merasa gugup ketika mereka disuruh maju kedepan kelas karena merasa aktifitas siswa diawasi dan dinilai. Ini dapat dilihat pada lembar observasi dimana keterlibatan siswa dalam berdiskusi masih sangat kurang.

26

Sebagian siswa belum dapat menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan khususnya bada soal No.1. Soal-soal dirasakan terlalu sulit bagi mereka. Hal lain yang dilakukan adalah memberikan pekerjaan rumah yang berhubungan dengan materi yang dipelajari . 4.3. Hasil penelitian siklus II Dari hasil penelitian siklus I terdapat 15 atau 62,5 % dari 24 siswa yang mencapai nilai 70 dengan rata-rata kelas 6,78 sedangkan ada 9 orang siswa atau 37,5 % dari 24 orang siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan pada siklus II maka terdapat peningkatan hasil belajar siswa yaitu sebesar 22,4 % dengan rata-rata 7,57. Pada siklus II ini peneliti melaksanakan proses pembelajaran pada pokok bahasan Rem tromol. Setelah memberikan tugas diawal pembelajaran, tugas tersebut didiskusikan secara berkelompok. Untuk melihat hasil pekerjaan mereka peneliti memeriksa dengan cara berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lain terutama kelompok yang mendapat nilai rata-rata < 70 kemudian menulis jawaban mereka yang mereka jawab secara berkelompok. Kemudian mengambil jawaban yang benar sambil menjelaskan materi yang berhubungan dengan sistem rem yang menggunakan mekanik atau peneumatik. Pada hal ini dua hal yang diperhatikan Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran Hasil belajar siswa. 4.3.1. Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran Keterlibatan siswa secara aktif terhadap proses pembelajaran dapat diamati melalui diskriptor yang telah ditntukan sebagai berikut : Kerjasama antar sesama kelompok Keaktifan siswa dalam mengerjakan soal-soal yang ditugaskan

27

Perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan Keterlibatan siswa dalam berdiskusi Data hasil pengamatan keaktifan kelompok pada siklus II Tabel 7. Kelompok I II III IV V VI A 3 2 2 4 4 2 SKOR B 3 4 3 4 4 4 C 4 4 4 2 3 4 D 1 3 2 4 2 1 Jumlah 11 13 11 14 13 11 Kategori Aktif Sangat aktif Aktif Sangat aktif Sangat aktif Aktif

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada siklus II ini keaktifan siswa meningkat. Jika pada siklus I hanya ada 2 kelompok yang katagoti keaktifan tinggi menjadi 6 kelompok pada siklus II. Hasil belajar pada siklus II Pada akhir siklus II peneliti mengadakan ulangan harian dengan soal berbentuk essay sebanyak 5 soal. Adapun hasil penelitian pada siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Data hasil rara-rata kelompok pada siklus II

Tabel 8. Kelopok Hasil Kategori

28

I II III IV V VI

77 79 62 77 79 75

Baik Baik Cukup Baik Baik Baik

Jumlah 449 Rata-rata 74,84 Ada 3 kelompok yang memperoleh nilai diatas standar KKM atau > 70 yaitu kelompok I, II, IV,V dan kelompok VI sedangkan yang memperoleh nilai < 70 adalah kelompok III Untuk melihat hasil belajar siswa secara perorangan pada siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Distibusi frekuensi hasil belajar siswa pada siklus II ( T2 ) Tabel 9. Rentangan nilai 85 - 100 75 - 84 65 - 74 55 - 64 < 54 Frekuensi 8 13 2 1 Prosentase 31,5 56 6,5 6 Kategori penilaian Sangat Baik Baik Cukup Kurang Gagal

Tabel diatas menunjukan siswa yang mempeoleh nilai > 70 sebanyak 21 orang siswa dari 24 orang siswa. Ini berarti siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 87,5 % dari keseluruhan jumlah siswa yang ada. Jadi jika ada peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan tindakan pada siklus I terhadap tindakan pada siklus II sebesar 87,5 % - 62,5 % = 25 % dan dinilai rata-rata kelas mencapai 7,57. Refleksi

29

Setelah melihat hasil yang dipeoleh dari siklus I maupun siklus II masih terdapat 3 orang siswa yang mendapat nilai < 70 ini berarti siswa tersebut belum mencapai nilai ketuntasan belajar. Dari hasil observasi dan hasil belajar siswa diambil keputusan untuk tidak melanjutkan kegiatan karena sudah dianggap sudah berhasil. 4.4. Perbandingan hasil belajar siswa sebelum tindakan, siklus I dan siklus II Dari tabel 2, 5 dan 7 dapat dibuat suatu tabel seperti tabel di bawah ini Tabel 10. Rentangan Nilai 85 - 100 75 - 84 65 - 74 55 - 64 < 54 Hasil Penelitian To TI T2 F % F % F % 2 6,5 5 19, 8 31, 7 13 2 31 56 6,5 10 7 2 5 43 31 13 2 1 5 56 6,5 Peningkatan TI T2 13 12 -25 0 12 13 -24,5 0,5

6,5 6 Keterangan : Tanda ( - ) menunjukan adanya penurunan prosentase jumlah siswa yang mendapatkan nialai < 70 Berdasarkan tabel 9 terlihat bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I maupun pada siklus II. Jumlah siswa yang memperoleh nilai > 8 pada siklus I sebanyak 5 orang siswa sedangkan pada sebelum tindakan 2 orang siswa. Ini berarti ada peningkatan sebesar 12,5 %. Pada siklus II jumlah ini bertambah menjadi 8 orang siswa, artinya terdapat peningkatan sebesar 25 % siswa yang mendapat nilai > 8 jika dibandingkan pada siklus I Siswa yang mendapat nilai 70 – 85 sebelum tindakan berjumlah 9 orang siswa, pada akhir siklus I jumlah ini bertambah menjadi 15 orang siswa artinya peningkatan sebesar 25 % jika dibandingkan dengan hasil belajar pada sebelum

30

tindakan. Pada siklus II jumlah ini meningkat menjadi 21 orang siswa, artinya ada peningkatan sebesar 25% jika dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I. Siswa yang mendapatkan nilai 56 – 70 sebelum tindakan berjumlah 15 orang siswa sedangkan pada siklus I berjumlah 9 orang siswa. Artinya ada penurunan sebesar 25 % jika dibandingkan dengan sebelum tindakan. Sedang pada siklus II jumlah ini meningkat menjadi 3 orang, artinya terjadi penurunan 25% jika dibandingkan dengan siklus I. Siswa mendapat nilai 40 – 55 sebelum tindakan berjumlah 13 orang, sedang pada siklus I sebanyak 7 orang siswa. Artinya ada penurunan sebesar 25 % jika dibandingkan dengan sebelum tindakan . Sedang pada siklus II jumlah ini menurun lagi sebesar 18,30 % atau menjadi 1 orang jika dibandingkan dengan siklus I, begitupula dengan siswa yang mendapatkan nilai dengan rentang 30 – 39 pada siklus I orang siswa sedang sebelum tindakan ada 3 orang siswa. Artinya mengalami penurunan sebesar 6,25 % .Pada siklus II jumlah ini menurun lagi sebesar 4,4 % dibandingkan dengan siklus I Dilihat dari rata-ratanya juga mengalami peningkatan dimana rata-rata untuk sebelum tindakan sebesar 5,73. Pada siklus I nilai rata-rata untuk kompetensi sistem rem naik menjadi 6,78 dan pada siklus II naik lagi menjadi 7,57. Perbandingan meningkat nilai rata-rata yaitu : T2 > T1 > To atau 7,57 > 6,78 > 5,73. Setelah melihat hasil belajar yang diperoleh siswa selama siklus I dan siklus II terdapat 21 orang siswa yang memperoleh nilai > 70. Ini berarti bahwa ada 87,5 % siswa kelas XI TKR I semester genap di SMK. N I Indralaya Utara yang telah mencapai tarap ketuntasan belajar baik secara individu maupun klasikal, sehingga tidak perlu dilakukan tindakan siklus III. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Setelah melakukan tindakan di kelas XI TKR I SMK. N I Indralaya Utara diperoleh kesimpilan bahwa pelaksanaan metode resitasi di sekolah ini dapat berjalan

31

dengan baik dan memperoleh hasil yang positif karena dapat meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada standar kompetensi sistem rem. Jika kita lihat dari pembahasan diatas metode resitasi dapat menumbuhkan minat belajar siswa, dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran tentunya selain dari pada itu peran guru juga merupakan faktor penting menentukan hasil belajar siswa, karena dengan adanya guru dapat membantu siswa dalam mengarahkan proses pembelajaran. Dengan demikian siswa merasa penting untuk belajar dan mengetahui tujuan pembelajaran yang harus dicapai, ketika siswa mengalami masalah dalam proses belajar guru juga dapat membantu mengatasi masalah itu sehingga siswa merasa semangat dalam belajar tanpa merasa dibebani dengan adanya pemberian tugas dari guru. Sebelum diberikan tindakan terlihat sekali hasil belajar siswa masih sangat rendah yaitu tingkat keberhasilan dalam pembelajaran secara klasikal adalah 37,5 % setelah dilakukan tindakan siklus I 62,5 % dan setelah dilakukan siklus II hasilnya 87,5 siswa yang tuntas belajar secara klasikal. Dengan demikian berarti perlu sekali memilih dan menerapkan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar sehingga siswa bisa merasa lebih terpacu untuk melaksanakan pembelajaran secara aktif. Metode resitasi memberikan tugas kepada siswa diawal tatap muka dapat memotivasi siswa untuk belajar secara aktif, tugas guru adalah memperjelas tujuan pembelajaran sehingga siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.

5.2.

Saran

Setelah melaksanakan penelitian ini saran dari penulis adalah : 1. Ketika melaksanakan pembelajaran perlu sekali pemilihan metode yang tepat sehingga siswa tidak merasa bosan.

32

2. Guru disarankan memberikan tugas di awal pembelajaran setelah itu tugas dibahas bersama yang bertujuan untuk mengetahui siswa yang aktif belajar dengan demikian siswa akan merasa lebih termotivasi untuk belajar sehingga dapat memperoleh hasil yang sempurna.

33

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.