You are on page 1of 16

MAKALAH

MEKANIKA BATUAN
SIFAT MEKANIK BATUAN

DISUSUN OLEH

ARDI PURNAWAN
1309055026

S1 TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016

Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan dan massa batuan. uji kuat tarik tak langsung menggunakan lima contoh batuan untuk memperoleh kuat tarik rata-rata. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang dominan dalam operasi penambangan. pemboran. kuat tarik batuan (σc ). dengan mengamati bobot dan masa jenisnya dalam beberapa keadaan. uji triaksial dan uji tegangan insitu. kohesi (C). Untuk mengetahui sifat mekanik batuan dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat tekan uniaksial. penggalian. kuat geser. selubung kekuatan batuan (strength envelope). uji kuat tarik. Modulus Young (E). Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut diperoleh dari uji yang berbeda. peledakan dan pekerjaan lainnya. seperti pekerjaan penerowongan. Sama dengan uji kuat tekan uniaksial. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika. Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteristik mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah kuat tekan batuan (σt). dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian triaksial konvensional dan multitahap. Untuk kuat tarik batuan diperoleh dari uji kuat tarik tak langsung (Brazillian test). dan sudut geser dalam (φ). Sedangkan selubung kekuatan batuan. . kuat geser (τ). Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus Young diambil dari nilai rata- rata hasil pengujian lima contoh batuan. Selain mengamati sifat mekanik atau dinamik dari batuan dalam praktikum ini juga akan diamati sifat fisik batuan tersebut. Nisbah Poisson (v). kohesi. Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau secara insitu. Kuat tekan batuan dan Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan uniaksial.

Semakin besar maka kuat tekannya bertambah kecil seperti ditunjukkan oleh persamaaan dibawah ini. Pengujian Sifat Mekanis Batuan a) Uji Kuat Tekan (Unconfined Compressive Strength Test) Uji ini menggunakan mesin tekan (compression machine) untuk menekan sampel batuan yang berbentuk silinder dari satu arah (uniaxial). BAB II PEMBAHASAN Sifat Fisik dan Sifat Mekanik Batuan Batuan merupakan zat padat yang terbentuk dari kumpulan mineral yang berbeda dan mempunyai komposisi kimia yang tetap dan merupakan penyusun kerak bumi. Oleh sebab itulah batuan memiliki sifat fisiki maupun sifat mekanis. Sifat fisik batuan tersebut misalnya porositas. dan derajat kejenuhan.  Sifat Mekanik Batuan Sifat mekanik batuan adalah sifat yang dimiliki batuan karena adanya pengaruh gaya – gaya dari luar yang bekerja pada batuan tersebut. Penyebaran tegangan di dalam sampel batuan secara teoritis adalah searah dengan gaya yang dikenakan pada sampel tersebut. berat jenis. Perbandingan antara tinggi dan diameter sampel (l/d) mempengaruhi nilai kuat tekan batuan. Tetapi dalam kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada sampel tersebut karena ada pengaruh dari plat penekan mesin tekan yang menghimpit sampel.5. permaebilitas. sehingga bentuk pecahan tidak terbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya melainkan berbentuk kerucut cone. Batuan terbentuk melalui proses geologi yang panjang dan selama proses geologi seperti aktivitas magmatisme dan proses sedimentasi sangat berpengaruh terhadap sifat fisik batuan tersebut sedangkan pengaruh struktur geologi akan berpengaruh terhadap sifat mekanis dari batuan tersebut. . absorpsii. Untuk pengujian kuat tekan digunakan yaitu 2 < l/d < 2.  Sifat Fisik Sifat fisik batuan merupakan sifat yang dimiliki oleh batuan tersebut bersamaan saat batuan tersebut terbentuk.

maka kuat tekannya akan bertambah d kecil. Gambar 1 Perubahan Sampel Persamaan umum kuat tekan (tegangan) F   A Keterangan : D = Diameter (m) l = Panjang (m)  = Tegangan (N/m2) F = Besarnya gaya yang bekerja pada percontohan batuan pada saat terjadi keruntuhan (failure) sehingga pada grafik merupakan keadaan yang paling puncak (N).222 0. Makin besar . Menurut ASTM : C (l = d) = C 0. A = Luas penampang percontohan batuan yang diuji (m2)  Batas Elastis Plastisitas adalah karakteristik batuan yang membuat regangan (deformasi) permanen yang besar sebelum batuan tersebut hancur (failure). Perilaku batuan .788 + l/d 8 C  Menurut Proto Diakonov : C (l = 2d) = 2 7 l/d l Dengan C kuat tekan batuan.

τ d Gambar 2 Kurva Tegangan-Regangan Harga batas elastis dinotasikan dengan C dimana pada grafik diukur pada saat grafik regangan aksial meninggalkan keadaan linier pada suatu titik tertentu. kurva tidak linier lagi dan tidak berapa lama kemudian batuan akan hancur. Pada titik tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu tegangan aksial sehingga didapat nilai batas elastis C. Titik hancur ini menyatakan kekuatan batuan. . Sesudah itu kurva menjadi linier sampai batas tegangan tertentu. Pada tahap awal batuan dikenakan gaya. Sesudah batas elastis dilewati maka perambatan rekahan menjadi tidak stabil. titik ini dapat ditentukan dengan membuat sebuah garis singgung pada daerah linier dengan kelengkungan tertentu hingga mencapai puncak (peak). Kurva berbentuk landai dan tidak linier yang berarti bahwa gaya yang diterima oleh batuan dipergunakan untuk menutup rekahan awal (pre exiting cracks) yang terdapat di dalam batuan.dikatakan elastis (linier maupun non linier) jika tidak terjadi deformasi permanen jika suatu tegangan dibuat nol. Titik ini dapat ditentukan dengan membuat sebuah garis singgung pada daerah linier dengan kelengkungan tertentu hingga mencapai puncak (peak). yang kita kenal dengan batas elastis lalu terbentuk rekahan baru dengan batas elastis perambatan stabil sehingga kurva tetap linier. Harga batas elastis dinotasikan dengan C dimana pada grafik diukur pada saat grafik regangan aksial meninggalkan keadaan linier pada suatu titik tertentu. Pada titik tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu tegangan aksial sehingga didapat nilai batas elastis C.

Sehingga dari nilai-nilai tersebut dapat ditentukan besarnya poisson’s ratio dalam hubungan sebagai berikut : . Melalui titik σi buat garis tegak lurus ke sumbu tegangan aksial.Kemudian masing-masing titik potong tersebut diproyeksikan tegak lurus ke sumbu regangan aksial dan lateral sehingga didapatkan nilai εai dan εli. Modulus Young Harga dari Modulus Young dapat ditentukan sebagai perbandingan antara selisih tegangan aksial (τ) dengan selisih tegangan aksial (o). Harga tegangan sebesar σi yang diukur pada titik singgungantara grafik tegangan volumetrik dengan garis sejajar sumbu tegangan aksial pada saat regangan grafik volumetrik mulai berubah arah. Titik singgung tersebut diproyeksikan tegak lurus sumbu tegangan aksial didapat nilai σi. yangdiambil pada perbandingan tertentu pada grafis regangan aksial dihitung pada rata-rata kemiringan kurva dalam kondisi linier. sehingga memotong kurva regangan aksial dan lateral. atau bagian linier yang terbesar di kurva sehingga didapat nilai Modulus Young rata-rata dalam hubungan sebagai berikut : Gambar 3 Kurva Pengambilan Nilai ? dan a  Possion’s Ratio Harga poisson’s ratio didefinisikan sebagai harga perbandingan antara regangan lateral dan regangan aksial pada kondisi tegangan sebesar σi.

pada tegangan  i  ai Gambar 4 Pengambilan Nilai εai dan εli b) Uji Kuat Tarik Tak Langsung Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tarik (tensile strength) dari percontoh batu berbentuk silinder secara tidak langsung. Alat yang digunakan adalah mesin tekan seperti pada pengujian kuat tekan.  li v . Kuat tarik : ? ?? = ??? Gambar 5 Pengujian Kuat Tarik c) Uji Point Load .

Uji ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan dari sampel batuan secara tak langsung di lapangan.05 ? Axial test Gambar 6 Bentuk Sampel Batu Untuk Point Load Test d) Uji Triaksial Salah Pengujian ini adalah salah satu pengujian yang terpenting dalam mekanika batuan untuk menentukan kekuatan batuan di bawah tekanan triaksial.0 − 1. Percontoh yang digunakan berbentuk silinder dengan syarat-syarat sama pada pengujian kuat tekan.1+ 0. Sampel batuan dapat berbentuk silinder atau tidak beraturan. L P L L D D D = 50 P L > ? P = 1.4 ? Diametricaltest Irregular lump D ? P = 1. Gambar 7 Kondisi Tekanan Pada Pengujian Triaksial Dari hasil uji triaksial dapat ditentukan : .

Modulus Young (E). Uji kuat tekan uniaksial dilakukan untuk menentukan kuat tekan batuan (σi).Kekuatan batuan dapat diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran di laboratorium. Nisbah Poisson (v) dan kurva tegangan-regangan. yaitu gaya tahanan internal yang bekerja per satuan luas masa batuan untuk menahan keruntuhan atau kegagalan sepanjang bidang runtuh dalam masa batuan tersebut. Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan silinder merupakan uji sifat mekanik yang paling umum digunakan.  Sudut geser dalam (ϕ). yaitu sudut yang dibentuk dari hubungan antara tegangan normal dan tegangan geser di dalam material tanah atau batuan. Perbandingan antara tinggi dan diameter contoh silinder yang umum digunakan adalah 2 sampai 2. Regangan (deformasi) . yaitu kurva yang menunjukan kekuatan batuan terhadap tahanan batuan yang berada di atasnya dimana terdapat kohesi dan sudut geser dalam sebagai parameter keruntuhan batuan. halus dan paralel tegak lurus terhadap sumbu aksis contoh batuan.  Kuat geser (shear strength). dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas. f) Uji Sudut Geser Langsung Uji ini untuk mengetahui kuat geser batuan pada tegangan normal tertentu. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin besar.5 dengan luas permukaan pembebanan yang datar. yaitu gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan. Sudut geser dalam adalah sudut rekahan yang dibentuk jika suatu material dikenai tegangan atau gaya terhadapnya yang melebihi tegangan gesernya. Dari hasil uji dapat ditentukan:  Garis coulomb`s shear strength  Kuat geser (shear strength)  Sudut geser dalam (ϕ)  Kohesi (C) g) Kuat Tekan (Uniaxial) Kuat tekan (uniaxial) yang diuji dengan suatu silinder atau prisma terhadap titik pecahnya.  Strength envelope (kurva intrinsik). Contoh batuan berbentuk silinder ditekan atau dibebani sampai runtuh.  Kohesi (C). h) Kuat Tarik (Tensile Strength) Kuat tarik (tensile strength) ditentukan dengan uji Brazilian dimana suatu piringan ditekan sepanjang diameter atau dengan uji langsung yang meliputi tarikan sebenarnya atau bengkokan dari prisma batuan.

Kondisi tegangan yang berkembang selama penambangan merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam operasi tambang sebaik dalam perancangan. diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran disekitar setiap lokasi pengukuran. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan batuan dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi. Tegangan sebelum penambangan merupakan kondisi tegangan asli. i) Hammer test Hammer Test adalah suatu metode pemeriksaan mutu batuan tanpa merusak batuan. misalnya keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan. Tegangan tersebut umumnya diperkirakan dan diberi beberapa kuantifikasi dengan memasang sekelompok pengukur tegangan elektrik dalam rosette pada permukaan batuan. yang hasilnya kemudian dirata-ratakan. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan batuan. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman batuan pada struktur. tetapi merupakan parameter desain tambang yang penting. Regangan (deformasi) diukur di area tambang kemudian dihubungkan terhadap tegangan dengan berpedoman pada konstanta elastik dari laboratorium. memindahkan batuan-batuan yang berdekatan. Tegangan sebelum penambangan merupakan kondisi tegangan asli. Karena kesederhanaannya. sulit dihitung. Kekuatan batuan dapat diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran dilaboratorium. pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat. Oleh karena itu. sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. British Standards (BS) mengisyaratkan . Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan batuan dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. tetapi merupakan parameter desain tambang yang penting. Kondisi tegangan yang berkembang selama penambangan merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam operasi tambang sebaik dalam perancangan tambang. dan mengukur respons tegangan sebenarnya yang dilepaskan. dapat memberikan pengujian ini adalah jenis hammer. sulit dihitung. diukur di areatambang kemudian dihubungkan terhadap tegangan dengan berpedoman pada konstanta elastik dari laboratorium. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah. Regangan yang dihasilkan dari pola tegangan baru diukur dari waktu ke waktu atau dimonitor secara menerus selama penambangan berlangsung.

Gelombang ultrasonik digunakan untuk mendeteksi objek jauh lebih detail terutama pada benda – benda yang padat. antara lain :  Tegangan gravitasi. Ty dan Txy yang bekerja pada bidang-bidang yang tegak lurus terhadap sumbu x dan y. yaitu tegangan yang masih tersisa walaupun penyebab terjadinya tegangan tersebut sudah hilang.  Tegangan sisa. pada bidang miring dimana normalnya membuat sudut θ terhadap sumbu x bekerja tegangan normal Tn dan tegangan geser tnt yang nilainya merupakan fungsi dari Tx. Periode rapatan dan rengangan benda tersebutlah yang akan diamati untuk mengetahui sejauh mana sifat elastisitas batuan. modulus geser. dan rigiditas suatu batuan. Hubungan Tegangan dan Rengangan a) Tegangan Tegangan adalah suatu reaksi akibat adanya beban atau gaya. . density. D. j) Uji Sifat Fisik Batuan Dengan Gelombang Ultrasonik Uji sifat fisik batuan dengan gelombang ultrasonik ini yaitu menggunakan alat sonic viewer sx 5251. gelombang ultrasonik tersebut dipantulkan melalui permukaan benda yang akan diamati. pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2. yaitu tegangan yang terjadi akibat aktivitas tektonik pada kulit bumi. Perrambatan gelombang tersebut menyebabkan getaran partikel dengan medium amplitudo sejajar dengan arah rambat secara longitudinal sehingga menyebabkan partikel maedium membentuk rapatan dan tegangan. melalui korelasi data nilai kecepatan rambat gelombang S dan P. yaitu tegangan yang terjadi karena berat dari batuan yang berada di atas massa batuan. Ada 3 macam tegangan sebelum massa batuan mengalami gangguan. Alat ini mampu memancarkan gelombang ultrasonik yang memiliki frekuensi 20 KHz. dan possion ratio. Gelombang ultrasonik tersebut merambay karena merupakan rambatan energi dan momentum mekanika sehingga merambat sebagai interaksi dengan molekul dan inersia medium yang dilaluinya. Pada gambar di bawah memeperlihatkan diagram tegangan yang berkerja pada sebuah benda berbentuk segi empat dalam dua dimensi (bidang) dengan sumbu x dan y.  Tegangan tektonik.

sehingga pada sampel batuan secara langsung mengalami pula perubahan bentuk secara volumetrik. maka kondisi sampel batuan cenderung mengalami perubahan bentuk. . Pada saat sampel batuan yang di uji menerima beban yang meningkat secara teratur. y θ T Tn Txy A Tx θ x θ A Tn Tx Tx Txy Ay Tx Txyθ T Ty Gambar 8 Diagram Tegangan pada Bidang Ax = An cos θ Ay = An sin θ Dimana : Ax = Luas penampang bidang yang tegak lurus sumbu x Ay = Luas penampang bidang yang tegak lurus sumbu y An = Luas penampang bidang miring Dalam keadaan setimbang : Tx  Ty Tx  Ty Tn =  cos 2 θ + Txy sin 2 θ 2 2 b) Regangan Regangan adalah perubahan bentuk atau volume akibat adanya tegangan. Perubahan bentuk ini akan terjadi dalam arah lateral (Δd) dan aksial (Δ1). Berdasarkan keadaan tersbut dapatlah didefinisikan bahwa perubahan bentuk arah lateral terhadap diameter disebut ”regangan lateral” (εl) dan perubahan bentuk arah aksial terhadap tinggi disebut ”regangan aksial” (εa) serta perubahan bentuk secara volumetrik disebut ”regangan volumetrik” (εv).

Sehingga regangan lateral seringkali dinyatakan dalam minus. c) Hubungan Tegangan-Regangan Bila ada sebuah batang yang mengalami gaya tekan maka batang tersebut akan mengalamai perpendekan dan regangan yang terjadi disebut regangan tekan. Dari teori kekuatan bahan tegangan tarik dapat ditentukan dengan membagi beban dengan luas penampang. Grafik tersebut dapat digunakan untuk menentukan sifat mekanik batuan. d Δl1 l Δl2 Δd1 Δd2 Δd = Δd1 – Δd2 Gambar 9 Kondisi Batuan Yang Menerima Beban Sehingga didapat :  Regangan lateral :εl = Δd / d  Regangan aksial : εa = Δl / l  Regangan volumetrik : εv = ε a + 2 εl Perubahan yang terjadi dari gambar di atas adalah bertambahnya diameter dan berkurangnya tinggi dari benda uji. Dengan nilai-nilai regangan tersebut oleh Bieniawski ditentukan sebagai dasar untuk menyatakan gambaran tahap utama dari kelakukan batuan. yang digambarkan dalam suatu grafik hubungan antara tegangan aksial dengan regangan aksial. serta regangan volumetrik. regangan lateral. Hubungan tegangan (σ) dan regangan (∈) yang berbanding lurus di dapat dengan rumus : ?=Ex∈ ? = Tegangan (N/m2) E = Modulus Elastis (N/m3) ∈ = Regangan (m) .

 Sudut geser dalam diperoleh dari besarnya sudut yang dibentuk garis singgung tersebut.13.  Nilai kohesi didapatkan dari perpotongan antara garis singgung dan sumbu tegak. menunjukan adanya hubungan antara kuat tekan uniaksial.  Setelah diplot tarik garis singgung menyinggung lingkaran kuat tekan dan kuat tarik. triaksial dan kuat tarik batuan utuh dalam mohr coloumn. Langkah- langkah dalam pembuatan mohr coloumn dan cara mendapatkan nilai kohesi dan sudut geser dalam. .  Plotkan nilai kuat tekan dan nilai kuat tarik dari data yang telah diketahui membentuk setengah lingkaran.  Nilai dari kuat tekan berada disebelah kanan sumbu vertikal sedangkan nilai kuat tarik berada disebelah kiri sumbu vertikal. sebagai berikut :  Buat sumbu vertikal untuk tegangan geser dan sumbu horisontal untuk kuat tekan dan kuat tarik dengan skala yang sama. Gambar 10 Hubungan Tegangan-Regangan d) Mohr Coloumn Pemecahan geometri untuk tegangan-tegangan dengan arah yang berbeda didapat dengan mohr coloumn. Dari gambar 2.

Gambar 2. Lingkaran Mohr dan Kurva Intrinsik Hasil Pengujian Triaksial Tabel 1 Tabel Kuat tekan uniaksial dan kuat tarik dari beberapa jenis batuan Jenis Batuan Kuat Tekan (MPa) Kuat Tarik (MPa) Batuan Intrusif Granit 1000-2800 40-250 Diorit 1800-3000 150-300 Gabro 1500-3000 50-300 Dolerit 2000-3500 150-350 Batuan Ekstrusif Riolit 800-1600 50-90 Dasit 800-1600 30-80 Andesit 400-3200 50-110 Basal 800-4200 60-300 Tufa Vulkanik 50-600 5-45 Batuan Sedimen Batupasir 200-1700 40-250 Batugamping 300-2500 50-250 Dolomit 800-2500 150-250 Serpih 100-1000 20-100 Batubara 50-500 20-50 Batuan Metamorfik Kuarsit 1500-3000 100-300 Gneiss 500-2500 40-200 Marmer 1000-2500 70-200 Sabak 1000-2000 70-200 .13.

“Diktat Penuntun Praktikum Geomekanika”. 1979. Ir Made Rai & Kramadibrata. Bandung. Universitas Gajah Mada. . Dr. “Mekanika Batuan”. Dr. Anonim. Laboratorium Tambang Universitas Islam Bandung. Astawa. Laboratorium Mekanika Batuan Bagian Teknik Sipil Fakultas Teknik. ITB. 2005. Yogyakarta. Februari 2014. “Buku Panduan Mekanika Batuan”. Suseno. DAFTAR PUSTAKA Tim Asisten Laboratorium Tambang. Bandung. Ir.