You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

1 LATAR BELAKANG
Penuaan (ageing) merupakan suatu konsekuensi (proses alamiah) yang tidak
dapat dihindarkan dan pasti terjadi pada setiap manusia. Tidak seorangpun yang
dapat menghentikan proses penuaan. Siklus ini ditandai dengan tahap-tahap mulai
menurunnya berbagai fungsi organ tubuh karena setelah mencapai dewasa, secara
alamiah seluruh komponen tubuh tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya justru
terjadi penurunan karena proses penuaan. Penuaan merupakan suatu proses
multidimensional, yang tidak hanya terkait dengan faktor jasmani, tapi juga
psikologis dan sosial. Penuaan itu sendiri adalah suatu proses alamiah kompleks
yang melibatkan setiap molekul, sel dan organ dalam tubuh.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti dan mempertahankan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang diderita.
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau
tahap hidup manusia yaitu: bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang
mati bukan karena lanjut usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu
kecacatan.Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan
tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun
demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering
menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa.
Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan
jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batas
yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap
orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian
puncak maupun menurunnya.

LBM I Page 1
SAKIT APA SUAMIKU
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 SKENARIO

SAKIT APA SUAMIKU?

Seorang wanita Ny. X, mengantarkan suaminya yang berusia 68 tahun


datang ke puskesmas untuk berkonsultasi tentang perubahan yang terjadi pada
dirinya. Sejak pension emosi suaminya jadi tidak stabil dan pelupa. Suaminya juga
sering mengeluh badan dan sendinya terasa sakit dan kaku kalau bergerak. Berat
badan suaminya menurun dan tidak bergairah dalam hubungan suami istri. Dokter
menyarankan agar suami Ny. X melakukan pemeriksaan medis lengkap untuk
kemudian ditindaklanjuti dengan penanganan. Selain dengan pengobatan dokter
juga menjelaskan bahwa keluhan dan fase yang dialami suami Ny. X adalah tanda-
tanda penuaan.

2.2 PERMASALAHAN
2.2.1. Interpretasi pada skenario
Kenapa sejak pensiun emosi pasien tidak stabil dan pelupa?
Mengapa pasien sering mengeluh terasa sakit dan kaku ?
Mengapa berat badan menurun ?
2.2.2. Faktor-faktor penuaan ?
2.2.3. Teori teori penuaan ?
2.2.4. Bagaimana proses penuaan ?
2.2.5. perubahan anatomi dan fisiologi proses penuaan ?
2.2.6. Pemeriksaan
2.2.7. Penatalaksanaan

2.3 PEMBAHASAN PERMASALAHAN


2.3.1. Interpretasi pada skenario
Kenapa sejak pensiun emosi pasien tidak stabil dan pelupa?

LBM I Page 2
SAKIT APA SUAMIKU
Pada setiap sel otak terdapat saluran-saluran yang berfungsi untuk
menyampaikan nutrisi dan informasi. Pada lansia struk pembuluhdarahnya
relatif kaku, sehingga saluran- saluran pembuluhdarah ada otak mengalami
kerusakan dan terurai. Pada akhirnya sel-sel saraf akan mengalami
kematian sehingga komunikasi antar sel saraf terganggu, salah satunya
akan berefek pada sistem limbik, Komponen limbik antara lain
hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik.
Hipokampus merupakan bagian otak, tempat diprosesnya informasi dari
luar dan mengirimnya ke bagian otak yang lain untuk disimpan, termasuk
memori. Inilah sebabnya pada lansia seringkali menanyakan hal yang sama
berulang kali, karena informasi yang ada tidak dapat disimpan di otak atau
pelupa.
Selain hipocampus akan berefek juga pada Amygdala, amiygdala
merupakan komponen utama penghasil emosi. Apa bila terjadi kerusakan
pada daerah ini akan menimbulkan keluhan berupa ketik stabilan
emosional pada penderita, untuk kestabilan emosinal selain kerusakan pada
amyngdala, hal ini disebabkan karena penurunan kadar testosteran, seperti
yang kita tau testosteron juga memiliki peran dalam mengatur emosional.
Mengapa pasien sering mengeluh terasa sakit dan kaku ?
Pada lansia pembentukkan kondrotin sulfat (substansi dasar tulang
rawan) berkurang dan terjadi fibrosis tulang rawan. Dimana tulang rawan
berfungsi untuk menutup permukaan sendi yang berkontak dengan ujung
tulang sehingga pada usia lanjut sering mengeluhkan nyeri sendi dan
badanya terasa kaku saat bergerak.
Mengapa berat badan menurun ?
Perubahan yang terjadi pada lambung adalah atrofi mukosa. Atrofi sel
kelenjar, sel parietal, dan sel chief akan menyebabkan berkurangnya
sekresi asam lambung, pepsin dan faktor instrinsik. Karena sekresi asam
lambung yang berkurang, maka rasa lapar juga berkurang. Selain itu
proses perubahan protein menjadi pepton terganggu.

2.3.2. Etiologi proses penuaan

Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui


proses penuaan. Pada dasarnya berbagai faktor tersebut dapat
dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa

LBM I Page 3
SAKIT APA SUAMIKU
faktor internal adalah radikal bebas, hormon yang menurun kadarnya, proses
glikosilasi, sistem kekebalan tubuh yang menurun dan juga faktor genetik.
Sedangkan faktor eksternal adalah gaya hidup yang tidak sehat, diet yang
tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi lingkungan dan
sinar ultraviolet, stress dan penyebab sosial lain seperti kemiskinan. Kedua
faktor ini saling terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab
proses penuaan.
Tubuh kita membentuk suatu reaksi kimia kompleks yang
membentuk suatu molekul kimia yang tidak stabil yang disebut radikal
bebas. Molekul radikal bebas ini dapat menyebabkan kerusakan pada sel
yang sehat melalui suatu proses yang disebut dengan Oksidasi. Proses ini
sama seperti proses yang kita lihat pada apel hijau yang berubah warna
menjadi coklat atau logam tembaga yang berubah warna dari emas
kemerahan menjadi biru kehijauan. Produksi radikal bebas ini dapat
meningkat jumlahnya apabila kita sering terpapar oleh sinar matahari,
merokok, polusi udara dan mengkonsumsi makanan yang rendah nilai
gizinya. Produksi radikal bebas yang semakin meningkat dalam tubuh kita
memberi kontribusi yang besar terhadap terjadinya proses penuaan berbagai
organ tubuh.
Stress juga berperan besar pada semakin cepatnya proses penuaan
terjadi. Stress dalam hal ini tidak hanya terkait dengan psikologis tetapi juga
jasmani. Apabila tubuh kita mengalami kerusakan, maka tubuh akan
mencoba untuk memulihkan diri sendiri. Pada batas tertentu tubuh dapat
pulih namun tidak seratus persen dan tentu tidak pada semua kasus.
Semakin sering tubuh kita mengalami stress maka makin kecil kemungkinan
tubuh untuk pulih akibatnya tubuh semakin menua dan menjadi rentan
terhadap penyakit. Apa yang menyebabkan tubuh kita tidak bisa sepenuhnya
memulihkan kerusakan tadi, sebagian besar belum diketahui.

2.3.3. Faktor-faktor penuaan ?

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Penuaan

Faktor-faktor perubahan proses menua dipengaruhi oleh faktor


internal dan faktor eksternal pada perubahan proses menua.

LBM I Page 4
SAKIT APA SUAMIKU
1. Faktor internal
Pengaruh faktor-faktor internal seperti terjadinya penurunan
anatomik, fisiologik dan perubahan psikososial pada proses menua
makin besar, penurunan ini akan menyebabkan lebih mudah timbulnya
penyakit dimana batas antara penurunan tersebut dengan penyakit
seringkali tidak begitu nyata.
Penurunan anatomik dan fisiologik dapat meliputi sistem saraf
pusat, kardiovaskuler, pernapasan, metabolisme, ekskresi,
musculoskeletal serta kondisi psikososial. Kondisi psikososial itu sendiri
meliputi perubahan kepribadian yang menjadi faktor predisposisi yaitu
gangguan memori, cemas, gangguan tidur, perasaan kurang percaya diri,
merasa diri menjadi beban orang lain, merasa rendah diri, putus asa dan
dukungan sosial yang kurang. Faktor sosial meliputi perceraian,
kematian, berkabung, kemiskinan, berkurangnya interaksi sosial dalam
kelompok lansia mempengaruhi terjadinya depresi. Respon perilaku
seseorang mempunyai hubungan dengan kontrol sosial yang berkaitan
dengan kesehatan. Frekuensi kontak sosial dan tingginya integrasi dan
keterikatan sosial dapat mengurangi atau memperberat efek stress pada
hipotalamus dan sistim saraf pusat. Hubungan sosial ini dapat
mengurangi kerusakan otak dan efek penuaan. Makin banyaknya jumlah
jaringan sosial pada usia lanjut mempunyai hubungan dengan fungsi
kognitif atau mengurangi rata-rata penurunan kognitif 39%.

2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh pada percepatan proses
menua antara lain gaya hidup, faktor lingkungan dan pekerjaan. Gaya
hidup yang mempercepat proses penuaan adalah jarang beraktifitas fisik,
perokok, kurang tidur dan nutrisi yang tidak teratur. Hal tersebut dapat
diatasi dengan strategi pencegahan yang diterapkan secara individual
pada usia lanjut yaitu dengan menghentikan merokok. Serta faktor
lingkungan, dimana lansia manjalani kehidupannya merupakan faktor
yang secara langsung dapat berpengaruh pada proses menua karena
penurunan kemampuan sel, faktor-faktor ini antara lain zat-zat radikal
bebas seperti asap kendaraan, asap rokok meningkatkan resiko penuaan

LBM I Page 5
SAKIT APA SUAMIKU
dini, sinar ultraviolet mengakibatkan perubahan pigmen dan kolagen
sehingga kulit tampak lebih tua.

Berbagai faktor yang dapat mempercepat proses penuaan (Wibowo,


2003), yaitu :

1. Faktor Lingkungan

b. Pencemaran linkungan yang berwujud bahan-bahan polutan dan


kimia sebagai hasil pembakaran pabrik, otomotif, dan rumah tangga)
akan mempercepat penuaan.

b. Pencemaran lingkungan berwujud suara bising. Dari berbagai


penelitian ternyata suara bising akan mampu meningkatkan kadar
hormon prolaktin dan mampu menyebabkan apoptosis di berbagai
jaringan tubuh.

c. Kondisi lingkungan hidup kumuh serta kurangnya penyediaan air


bersih akan meningkatkan pemakaian energi tubuh untuk
meningkatkan kekebalan.

d. Pemakaian obat-obat/jamu yang tidak terkontrol pemakaiannnya


sehingga menyebabkan turunnya hormon tubuh secara langsung atau
tidak langsung melalui mekanisme umpan balik (hormonal feedback
mechanism).

e. Sinar matahari secara langsung yang dapat mempercepat penuaan


kulit dengan hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit.

2. Faktor Diet/Makanan

Jumlah nutrisi yang cukup, jenis, dan kualitas makanan yang


tidak menggunakan pengawet, pewarna, perasa dari bahan kimia
terlarang. Zat beracun dalam makanan dapat menimbulkan kerusakan
berbagai organ tubuh, antara lain organ hati.

3. Faktor Genetik

LBM I Page 6
SAKIT APA SUAMIKU
Genetik seseorang sangat ditentukan oleh genetik orang tuanya.
Tetapi faktor genetik ternyata dapat berubah karena infeksi virus, radiasi,
dan zat racun dalam makanan/minuman/kulit yang diserap oleh tubuh.

4. Faktor Psikis

Faktor stres ini ternyata mampu memacu proses apoptosis di


berbagai organ/jaringan tubuh.

5. Faktor Organik

Secara umum, faktor organik adalah : rendahnya kebugaran/


fitness, pola makan kurang sehat, penurunan GH dan IGF-I, penurunan
testosteron, penurunan melatonin secara konstan setelah usia 30 tahun
dan menyebabkan gangguan circandian clock (ritme harian) selanjutnya
kulit dan rambut akan berkurang pigmentasinya dan terjadi pula
gangguan tidur, peningkatan prolaktin yang sejalan dengan perubahan
emosi dan stress, perubahan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan
Luteinizing Hormone (LH).

2.3.4. Bagaimana proses penuaan ?

Menua atau proses menua/menjadi tua (aging) adalah suatu proses


menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi)
dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menua merupakan proses yang
mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail (rapuh)
dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan
meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian
(Gambar 1).
Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi berbagai perubahan
fisiologis yang tidak hanya berpengaruh terhadap penampilan fisik, namun
juga terhadap fungsi dan tanggapannya pada kehidupan sehari-hari. Selain
itu, akan terjadi kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menumpuk
makin banyak distorsi metabolik dan struktural yang disebut penyakit
degeneratif (hipertensi, aterosklerosis, diabetes melitus dan kanker).

LBM I Page 7
SAKIT APA SUAMIKU
Terdapat beberapa istilah dalam gerontologi (ilmu yang mempelajari
proses menua dan semua aspek biologi, sosiologi, dan sejarah yang terkait
dengan penuaan), yaitu:
1. Aging; menunjukkan efek waktu, suatu proses perubahan, biasanya
bertahap dan spontan.
2. Senescence; hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan
berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan kematian) atau
turunnya fungsi efisiensi organisme sejalan dengan penuaan dan
meningkatnya kemungkinan kematian.
3. Homeostenosis; penyempitan/berkurangnya cadangan homeostasis yang
terjadi selama penuaan pada setiap sistem organ.
4. Geriatri; cabang ilmu kedokteran yang mengobati kondisi dan penyakit
yang dikaitkan dengan proses menua dan usia lanjut
(multipatologi/penyakit ganda), yang merujuk pada pemberian
pelayanan kesehatan untuk usia lanjut.
5. Longevity; merujuk pada lama hidup seseorang individu.
6. Mean longevity; lam hidup rata-rata suatu populasi atau usia harapan
hidup (life expectancy), yang dirumuskan dengan penjumlahan umur
semua anggota populasi saat meninggal dibagi jumlah anggota populasi
tersebut.
7. Maximum longevity; usia saat meninggal dari anggota populasi yang
hidup paling lama (sekitar 110-120 tahun).

Batas-batas lanjut usia, yaitu:


1) Batasan usia menurut WHO meliputi:
- Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-59 tahun.
- Lanjut usia (elderly), antara 60-74 tahun.
- Lanjut usia tua (old), antara 75-90 tahun.
- Usia sangat tua (very old), di atas 90 tahun.
2) Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan bahwa, seorang dapat
dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang
bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak
berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari
dan menerima nafkah dari orang lain.

LBM I Page 8
SAKIT APA SUAMIKU
3) Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia yang
berbunyi, lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas.

Gambar 1. Penuaan (Aging)


Tiga Fase Proses Penuaan
Fase 1
Pada saat mencapai usia 25-35 tahun. Pada masa ini produksi
hormon mulai berkurang (mulai mengalami penurunan produksi).
Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres merupakan serangan radikal
bebas yang dapat merusak sel-sel tubuh. Di fase ini mulai terjadi
kerusakan sel tapi tidak memberi pengaruh pada kesehatan. Tubuh pun
masih bugar terus. Penurunan ini mencapai 14 % ketika seseorang
berusia 35 tahun.
Fase 2
Kedua transisi, yakni pada usia 35-45 tahun. Produksi hormon
sudah menurun sebanyak 25%, sehingga tubuh pun mulai mengalami
penuaan. Biasanya pada masa ini, ditandai dengan lemahnya
penglihatan (mata mulai mengalami rabun dekat) sehingga perlu
menggunakan kacamata berlensa plus, rambut mulai beruban, stamina
dan energi tubuh pun berkurang. Bila pada masa ini dan sebelumnya
atau bila pada usia muda, kita melakukan gaya hidup yang tidak sehat
bisa berisiko terkena kanker.
Fase 3
Puncaknya pada tahap fase klinikal, yakni pada usia 45 tahun ke
atas. Pada masa ini produksi hormon sudah berkurang hingga akhirnya

LBM I Page 9
SAKIT APA SUAMIKU
berhenti sama sekali.perempuan mengalami masa yang disebut
menopause sedangkan kaum pria mengalami masa andropause. Pada
masa ini kulit pun menjadi kering karena mengalami dehidrasi/kulit
menjadi keriput, terutama di bagian samping dan di bawah mata kita,
juga kulit tangan kita yang tidak sekencang dulu, tubuh juga menjadi
cepat lelah.
2.3.5. Teori teori penuaan?

Teori-teori proses menua


1. Teori Genetic Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu. Tiap spesies mempunyai suatu jam genetik
yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu di dalam inti sel.
Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila
tidak diputar, sehingga bila jam ini berhenti maka seseorang akan
meninggal dunia.
Konsep genetik clock didukung oleh kenyataan bahwa adanya
perbedaan harapan hidup pada beberapa spesies, sebagai contoh pada
manusia rekor rentang hidupnya 116 tahun (usia maksimal) sedangkan
pada gorila rekor rentang hidupnya 48 tahun. Sedangkan usia harapan
hidup tertinggi terdapat di Jepang yaitu pria 76 tahun dan wanita 82
tahun.

2. Teori mutasi somatik (Erros Catastrophe)


Faktor-faktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor
lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik, di mana bila
terpapar radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur sedangkan
jika menghindari paparan radiasi atau zat kimia yang bersifat
karsinogenik atau toksik maka dapat memperpanjang umur. Menurut
teori ini, terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan
menyebabkan terjadinya penurunan kemapuan fungsional sel tersebut.
Teori mutasi somatik berhubungan dengan hipotesis Error
Catastrophe, di mana menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan
yang beruntun sepanjang kehidupan. Setelah berlangsung dalam waktu

LBM I Page 10
SAKIT APA SUAMIKU
yang lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA menjadi
RNA), maupun proses translansi (RNA menjadi protein/enzim) yang
akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah, sebagai reaksi dan
kesalahan-kesalahan lain yang berkembang secara eksponensial dan
akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah, sehingga
akan mengurangi fungsional sel. Walaupun dalam batas-batas tertentu
kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun
kemampuan memperbaiki diri sendiri bersifat terbatas pada kesalahan
dalam proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tentu akan
menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, sehingga dapat
menimbulkan metabolit yang berbahaya. Apalagi jika terjadi pula
kesalahan dalam proses translasi (pembentukan protein), maka akan
terjadi kesalahan yang semakin banyak, sehingga terjadi katastrop
(bencana).
3. Teori rusaknya sistem imum tubuh
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pascatranslasi
dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh
mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik
menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka ini
dapat mengakibatkan sistem imun tubuh menanggap sel yang
mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan
menghancurkannya.
Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa
autoimun. Hasilnya dapat berupa reaksi antigen/antibodi uang luas
mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam, efek menua akan
menyebabkan reaksi histoinkomtabilitas pada banyak jaringan. Teori ini
dibuktikan dengan bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-
macam pada orang lanjut usia.
Di pihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya
mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel
kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah diri
yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kanker sesuai dengan
meningkatnya umur. Semua sel somatik akan mengalami proses menua,

LBM I Page 11
SAKIT APA SUAMIKU
kecuali sel bibit (gurma sel telur) dan sel yang mengalami mutasi
menjadi kanker.
4. Teori menua akibat metabolisme (teori glikosilasi)
Teori glikosilasi menyatakan bahwa proses glikosilasi
nonenzematik yang menghasilkan pertautan glukosa-protein yang
disebut advanced glycation end products (AGEs) dapat menyebabkan
penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi
sehingga menyebabkan disfungsi pada hewan atau manusia yang
menua (Gambar 2). Protein glikasi menunjukkan perubahan fungsional,
meliputi menurunnya aktivitas enzim dan menurunnya degradasi
protein abnormal. Sehingga sewaktu manusia menua, AGEs
berakumulasi di berbagai jaringan termasuk kolagen, hemoglobin, lensa
mata. Akibat muatan kolagen tinggi maka jaringan ikat menjadi kurang
elastis dan mengkaku, dan AGEs diduga juga berinteraksi dengan DNA
dan karenanya mungkin menggangu kemampuan sel untuk
memperbaiki perubahan pada DNA. Teori glikosilasi juga dikenal
sebagai teori menua akibat metabolisme.
Teori glikosilasi didasarkan pada penelitian tikus-tikus yang
dibatasi kalorinya mempunyai gula darah yang rendah dan
menyebabkan perlambatan penumpukan produk glikosilasi. Dalam
teori ini dijelaskan bahwa pengurangan intake kalori akan menghambat
pertumbuhan dan memperpanjang umur, yang dibukti dengan hewan
yang terhambat pertumbuhannya dapat mencapai umur 2 kali lebih
panjang umur kontrolnya. Perpanjangan umur karena penurunan jumlah
kalori ini juga disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa
metabolisme, di mana terjadinya penurunan pengeluaran hormon yang
merangsang proliferasi sel (insulin, hormon pertumbuhan) sehingga
akan terjadi penundaan proses degenerasi.
Teori metabolisme ini juga didukung oleh penelitian Balin dan
Allen, di mana perkembangan lalat (Drosophila Melanogaster) lebih
cepat dan umurnya lebih pendek pada temperatur 30oC, jika
dibandingkan dengan lalat yang dipelihara pada temperatur 10oC.
Selain itu, mamalia yang dirangsang untuk hibernasi selama musim
dingin umurnya lebih panjang daripada kontrolnya, sebaliknya jika

LBM I Page 12
SAKIT APA SUAMIKU
mamalia ditempatnya temperatur yang rendah tanpa dirangsang
hibernasi maka metabolismenya meningkat dan berumur lebih pendek.
Walaupun umurnya berbeda, namun jumlah kalori yang dikeluarkan
untuk metabolisme selama hidup adalah sama. Pada penelitian lain,
dijelaskan modifikasi cara hidup yang kurang bergerak menjadi lebih
banyak bergerak mungkin juga dapat meningkatkan umur panjang. Hal
ini menyerupai hewan yang hidup di alam bebas yang banyak bergerak
dibandingkan hewan yang hidup di laboratorium yang kurang bergerak
dan banyak makan. Hewan di alam bebas lebih panjang umurnya
daripada hewan yang berada di laboratorium.

Gambar 2. Teori Glikosilasi

5. Teori akibat radikal bebas


Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektron tidak
berpasangan (Gambar 3), di mana radikal bebas terbentuk sebagai hasil
sampingan berbagai proses selular atau metabolisme normal yang
melibatkan oksigen. Radikal bebas (RB) dapat terbentuk di alam bebas

LBM I Page 13
SAKIT APA SUAMIKU
dan di dalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan
di dalam rantai pernapasan di dalam mitokondria. Untuk organisme
aerobik, radikal bebas terutama terbentuk pada waktu respirasi di dalam
mitokondria karena 90% oksigen yang diambil tubuh masuk ke dalam
mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut oksigen dilibatkan
dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui enzim-enzim
respirasi di dalam mitokondria, maka radikal bebas akan dihasilkan
sebagai zat antara. Radikal bebas yang terbentuk tersebut adalah
superoksida (O2), radikal hidroksil (OH), dan juga peroksida hidrogen
(H2O2). Radikal bebas ini bersifat merusak karena sangat reaktif,
sehingga dapat beraksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh,
seperti membran sel dan dengan gugus SH, yang selanjutnya menjadi
molekul-molekul yang tidak berfungsi namun bertahan lama dan
mengganggu fungsi sel lainnya.
Selain itu, terdapat pula reactive ocygen species (ROS) dan
reactive nitrogen species (RNS) yang dihasilkan selama metabolisme
normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara kimiawi radikal
bebas akan mencari pasangan elektron lain dengan bereaksi dengan
substansi lain terutama protein dan lemak tidak jenuh. Melalui proses
oksidasi, radikal bebas yang dihasilkan selama fosforilasi oksidatif
dapat menghasilkan berbagai modifikasi makromolekul. Akibatnya,
karena membran sel mengandung sejumlah lemak maka membran ini
dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran menjadi
perubahan. Akibat perubahan pada struktur membran ini maka
membran sel menjadi lebih permeabel terhadap beberapa substansi dan
kemungkinan substansi tersebut melewati membran secara bebas.
Struktur di dalam sel seperti mitokondria dan lisosom juga
diselimuti oleh membran yang mengandung lemak sehingga mudah
diganggu oleh radikal bebas, dan radikal bebas juga dapat bereaksi
dengan DNA yang menyebabkan mutasi kromosom dan dapat merusak
mesin genetik normal dari sel (Gambar 4).

LBM I Page 14
SAKIT APA SUAMIKU
Gambar 3. Radikal Bebas

Gambar 4. Kerusakan DNA Oleh Radikal Bebas pada Mitokondria

Tubuh sendiri sendiri sebenarnya mempunyai kemampuan untuk


menangkal radikal bebas dalam bentuk enzim (Tabel 1), seperti:
1. Superoxide dismutase (SOD) yang berunsur Zn, Cu, dan juga Mn.
Enzim ini dapat mengubah superoksida menjadi 2O2, dalam reaksi:

SOD
2O2- + 2H+ H2O2 + O2

LBM I Page 15
SAKIT APA SUAMIKU
2. Enzim kalatase yang berunsur Fe dalam bentuk heme, dapat
menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen, dalam
reaksi:

Katalase
2H2O2 2H2O + O2
3. Enzim glutation peroksidase berunsur selenium (Se) juga menguraikan
hidrogen peroksida, melalui reaksi:
H2O2 + GSH GSSH + H2O
Di samping itu, radikal bebas dapat juga dinetralkan
menggunakan senyawa nonenzimatik, seperti vitamin C (asam
askorbat), provitamin A (beta karoten), dan vitamin E (tocopherol).
Walaupun telah ada sistem penangkal, namun sebagian radikal bebas
tetap lolos bahkan makin lanjut usia makin banyak radikal bebas
terbentuk sehingga proses pengrusakan terus terjadi. Kerusakan organel
sel makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati. Jadi teori radikal
bebas menyatakan bahwa terdapatnya akumulasi radikal bebas secara
bertahap di dalam sel sejalan dengan waktu, dan bila kadarnya melebihi
konsentrasi ambang maka radikal bebas mungkin berkontribusi pada
perubahan-perubahan yang seringkali dikaitkan dengan penuaan.

Tabel 1. Pertahanan Selular Alami terhadap Radikal Bebas dan


Distribusinya

6. Teori DNA repair

LBM I Page 16
SAKIT APA SUAMIKU
Teori ini menjelaskan bahwa adanya perbedaan pola laju repair
kerusakan DNA yang diinduksi sinar UV pada berbagai fibroblas yang
dikultur. Fibroblas pada spesies yang mempunyai umur maksimum
terpanjang menunjukkan laju DNA repair terbesar, dan kolerasi ini
dapat ditunjukkan pada berbagai mamalia dan primata
.

2.3.6. perubahan fisiologis apa saja yang terjadi pada proses penuaan ?

Homeostenosis merupakan karakteristik fisiologi penuaan, di mana


terjadi penyempitan (berkurangnya) cadangan homeostasis yang terjadi
seiring meningkatnya usia pada setiap sistem organ. Dengan bertambahnya
usia maka jumlah cadangan fisiologis untuk menghadapai berbagai
perubahan (challenge) berkurang. Setiap challenge terhadap homeostasis
merupakan pergerakkan menjauhi keadaan dasar (baseline), dan semakin
besar challenge yang terjadi maka semakin besar cadangan fisiologis yang
diperlukan untuk kembali ke homeostasis. Di sisi lain, dengan makin
berkurangnya cadangan fisiologis maka seorang lansia lebih mudah untuk
mencapai suatu ambang (precipice), yang dapat berupa keadaan sakit atau
kematian akibat challenge tersebut. Konsep homeostenosis dapat
menjelaskan perubahan fisiologis yang terjadi selama proses menua dan
efek yang ditimbulkannya. Walaupun merupakan suatu proses fisiologis,
perubahan dan efek penuaan terjadi sangat bervariasi dan variabilitas ini
makin meningkat seiring peningkatan usia. Variasi ini terjadi antara satu
individu dengan individu lain pada umur yang sama, antara satu sistem
organ dengan organ lain, bahkan dari satu sel terhadap sel lain pada
individu yang sama.
Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadi
kehilangan atau penurunan anatomik dan fungsional atas organ-organnya
makin besar. Kehilangan atau penurunan ini ditunjukkan dengan adanya
hukum 1% (Andres dan Tobin), yang menyatakan bahwa fungsi organ akan
menurun sebanyak 1% setiap tahunnya setelah berusia 30 tahun. Namun,
pada penelitian cros sectional (Svanborg) didapatkan bahwa perubahan

LBM I Page 17
SAKIT APA SUAMIKU
yang terjadi pada organ yang sama diikuti secara longitudinal ternyata tidak
selalu dramitis dan baru dimulai setelah berusia 70 tahun.
Sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa penurunan anatomik
dan fungsi organ tersebut tidak dikaitkan dengan umur kronologik akan
tetapi dengan umur biologiknya. Sebagai contoh, mungkin seseorang
dengan usia kronologik baru 55 tahun, tetapi sudah menunjukkan berbagai
penurunan anatomik dan fungsional yang nyata akibat umur biologiknya
yang sudah lanjut sebagai akibat tidak biaknya faktor nutrisi, pemeliharaan
kesehatan dan berkurangnya aktivitas. Penurunan anatomik dan fungsional
ini akan menyebabkan mudahnya timbul penyakit pada organ (predileksi),
hal ini sangat bergantung pada derajat kecepatan terjadinya perburukan
atau deteriorisasi (laju penurunan fungsi) dan tingkat tampilan organ yang
dibutuhkan (tingkat kinerja yang dibutuhkan). Jadi petanda penuaan adalah
bukan pada tampilan organ atau organisme saat istirahat namun pada saat
bagaimana organ atau organisme tersebut dapat beradaptasi terhadap stres
dari luar. Contohnya pada orang tua mungkin memiliki denyut nadi yang
normal pada saat istirahat, tetapi tidak mampu meningkatkan curah jantung
pada waktu melakukan aktivitas. Kadang-kadang berbagai perubahan
akibat proses menua berkeja sama dan saling mempengaruhi sehingga
menghasilkan nilai-nilai normal pada keadaan isitirahat. Contohnya pada
filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal yang menurun sejalan dengan
meningkatnya usia, namun kadar kreatinin tetap tidak meningkat. Hal ini
disebabkan berkurangnya massa otot (lean body mass) yang menyebabkan
produksi kreatinin menurun.

Perubahan-perubahan Fisik
1) Sel
- Lebih sedikit jumlahnya.
- Lebih besar ukurannya.
- Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.
- Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.
- Jumlah sel otak menurun.
- Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
- Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.

LBM I Page 18
SAKIT APA SUAMIKU
2) Sistem Persarafan
- Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya
dalam setiap harinya).
- Cepatnya menurun hubungan persarafan.
- Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres.
- Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif terhadap
perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
- Kurang sensitif terhadap sentuhan.
3) Sistem Pendengaran
- Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya kemampuan
pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-
nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%
terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
- Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .
- Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya
keratin.
- Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa/stres.
4) Sistem Penglihatan
- Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
- Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
- Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.
- Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.
- Hilangnya daya akomodasi.
- Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.
- Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.
5) Sistem Kardiovaskuler
- Elastisitas dinding aorta menurun.
- Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
- Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan
menurunnya kontraksi dan volumenya.

LBM I Page 19
SAKIT APA SUAMIKU
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh
darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk atau
dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun,
mengakibatkan pusing mendadak.
- Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah
perifer.

6) Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh


- Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis akibat
metabolisme yang menurun.
- Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas
akibatnya aktivitas otot menurun.
7) Sistem Respirasi
- Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.
- Menurunnya aktivitas dari silia.
- Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas
pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.
- Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
- Kemampuan untuk batuk berkurang.
- Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan
pertambahan usia.
8) Sistem Gastrointestinal
- Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang buruk dan
gizi yang buruk.
- Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecapm di lidah
terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.
- Eosephagus melebar.
- Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
- Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
- Daya absorbsi melemah.
9) Sistem Reproduksi
- Menciutnya ovari dan uterus.
- Atrofi payudara.

LBM I Page 20
SAKIT APA SUAMIKU
- Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun
adanya penurunan secara berangsur-angsur.
- Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi
kesehatan baik.
- Selaput lendir vagina menurun.
10) Sistem Perkemihan
- Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh melalui
urin, darah yang masuk ke ginjal disaring di glomerulus (nefron). Nefron
menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%.
- Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil
meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.
11) Sistem Endokrin
- Produksi semua hormon menurun.
- Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate),
dan menurunnya daya pertukaran zat.
- Menurunnya produksi aldosteron.
- Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen, dan
testosteron.
12) Sistem Kulit (Sistem Integumen)
- Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
- Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses keratinisasi,
serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.
- Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
- Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
- Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan vaskularisasi.
- Pertumbuhan kuku lebih lambat.
- Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.
- Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
13) Sistem Muskuloskletal
- Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh.
- Kifosis
- Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.
- Persendiaan membesar dan menjadi kaku.
- Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.

LBM I Page 21
SAKIT APA SUAMIKU
- Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil). Otot-otot serabut mengecil
sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram dan menjadi
tremor.
- Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

Perubahan-perubahan Mental
1) Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
- Perubahan fisik, khususnya organ perasa.
- Kesehatan umum
- Tingkat pendidikan
- Keturunan (Hereditas)
- Lingkungan
2) Kenangan (Memory)
- Kenangan jangka panjang: Berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu
mencakup beberapa perubahan.
- Kenangan jangka pendek atau seketika: 0-10 menit, kenangan buruk.
3) IQ (Inteligentia Quantion)
- Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal.
- Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan psikomotor, terjadi
perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan dari faktor
waktu.

Perubahan-perubahan Psikososial
1) Pensiun: nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas
dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna
tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain :
- Kehilangan finansial (income berkurang).
- Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi,
lengkap dengan segala fasilitasnya).
- Kehilangan teman/kenalan atau relasi.
- Kehilangan pekerjaan/kegiatan.
2) Merasakan atau sadar akan kematian (sense of awareness of mortality)
3) Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan bergerak
lebih sempit.

LBM I Page 22
SAKIT APA SUAMIKU
4) Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation).
5) Meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya
biaya pengobatan.
6) Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
7) Gangguan saraf pancaindra, timbul kebutaan dan ketulian.
8) Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan.
9) Rangkaian dari kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman-
teman dan famili.
10) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik: perubahan terhadap gambaran
diri, perubahan konsep diri.

Perkembangan Spritual
- Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupan.
- Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat dalam
berfikir dan bertindak dalam sehari-hari.
- Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer (1978),
Universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah
berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai
keadilan.

2.3.7. Pemeriksaan

a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital (seperti
pada golongan umur lain), walaupun rinciannya mungkin terdapat
beberapa perbedaan, antara lain :
1) Pemeriksaan tekanan darah, harus dilaksanakan dalam keadaan tidur,
duduk, dan berdiri, masing-masing dengan selang 1-2 menit, untuk
melihat kemungkinan terdapatnya hipotensi ortostatik.
2) Pemeriksaan fisik untuk menilai seistem. Pemeriksaan organ dan
system ini perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan
pemeriksa/dokter.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah
a) Pemeriksaan syaraf kepala

LBM I Page 23
SAKIT APA SUAMIKU
b) Pemeriksaan pasca indra, saluran nafas atas, gigi-mulut
c) Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis
d) Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung, dan seterusnya sampai pada
pemeriksaan ekstremitas, reflex-reflexs, kulit-integumen
b. Pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan tambahan meliputi pemeriksaan rutin usia lanjut yaitu :
1) Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiografi pada sendi yang terkena sudah cukup untuk
memberikan suatu gambaran diagnostik. Gambaran Radiografi sendi
yang menyokong diagnosis:

a) Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris ( lebih berat


pada bagian yang menanggung beban seperti lutut ).

b) Peningkatan densitas tulang subkondral ( sklerosis ).

c) Kista pada tulang.

d) Osteofit pada pinggir sendi.

e) Perubahan struktur anatomi sendi.

2) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi :
a) Pemeriksaan Darah, Urin, Feses Rutin
b) Pemeriksaan Gula darah, Lipid, fungsi hati, Fungsi ginjal
c) Pemeriksaan Fungsi tiroid (T3, T4, TSH)
d) Pemeriksaan Kadar serum
c. Pemeriksaan fungsi
Mini-Mental State Exam(MMSE)
Nilai Maksimum pasien

1) Orientasi: 5 = (tahun) (musim) (tanggal) (bulan atau sekarang?), 5 = di


mana kita: (Negara bagian) (wilayah) (kota) (rumah sakit) (lantai).

2) Regristasi: 3 nama 3 objek: 1 detik untuk mengatakan masing-


masing. Kemudian tanyakan klien ketiga onjek setelah anda
mangatakan. Beri satu poin untuk setiap jawaban yang benar.

LBM I Page 24
SAKIT APA SUAMIKU
Kemudian ulangi sampai ia, mempelajari ketiganya. Jumlahkan
ketiganya dan catat.

3) Percobaan Perhatian dan kalkulasi: 5 seri 7. 1 poin untuk setiap


kebenaran. Berhenti setelah 5 jawaban. Bergantian eja kata ke
belakang.

4) Mengingat: 3 = minta untuk mengulangi ketiga objek diatas berikan


satu poin untuk setiap kebenaran.

5) Bahasa: 9 nama pensil dan melihat (2 poin) , mengulang hal berikut:


tak ada jika, dan , atau tetapi (1 poin). Ikuti perintah 3-langkah:
ambil kertas ditangan kanan anda, lipat dua, dan taruh dilantai
(3poin). Baca dan turuti hal berikut: tutup mata anda
1poin).

6) Tulis satu kalimat (1poin).

7) Menyalin gambar (1poin).

Nilai total Kaji Tingkat kesadaran sepanjang kontinum: sadar,


mengantuk, stupor, koma

8) Instruksi Untuk Pemberian Mini-Mental State Examination.

9) Orientasi:

a) Tanyakan tanggal. Kemudian tanyakan secara khusus bagian-


bagian yang terabaikan, mis. dapatkan anda juga mengatakan
pada saya musim apa sekarang ini?.

b) Tanyakan kembali, dapatkan anda mengatakan pada saya nama


rumah sakit ini? (kota,wilayah). Satu poin untuk setiap jawaban
yang benar.

10) Registrasi: Tanyakan klien jika anda menguji memorinya. Kemudian


sebutkan nama tiga objek yang tak berhubungan, dengan jelas dan
lambat, sediakan satu detik untuk masing-masing. Setelah anda
mengatakan ketiganya, minta klien untuk mengulanginya. Pengulangan

LBM I Page 25
SAKIT APA SUAMIKU
pertama ini menentukan nilai (0-3) tetapi tetap mengatakan sampai ia
dapat mengulang ketiganya, sampai 6 percobaan. Jika ia akhirnya
tidak mempelajari ketiganya, ingatan tidak dapat diuji secara berarti.

11) Perhatian dan kalkulasi klien Minta untuk mulai dengan 100 dan hitung
mundur dikurangi dengan 7. Hentikan setelah lima pengurangan
(93,86,79,72,65). Nilai jumlah total pada jawaban yang benar.

Jika klien tidak dapat atau tidak akan melakukan tugas ini, minta
padanya untuk mengeja kata dunia dengan mundur. Nilai adalah
jumlah huruf dalam susunan yang benar, mis: ainud = 5, ainud = 3.

12) Mengingat: Tanyakan klien jika ia dapat mengingat tiga kata yang
sebelumnya anda tanyakan padanya. Nilai 0-3.

13) Bahasa Penamaan: tunjukan pada klien jam tangan dan tanyakan
padanya apakah ini. Ulangi untuk pensil. Nilai 0-2.

14) Pengulangan: tanyakan pada klien untuk mengulangi kalimat yang


anda sebutkan. Mungkinkan hanya satu kali percobaan. Perintah tiga
langkah: berikan klien secarik kertas kosong dan ulangi perintah.

Nilai 1 poin untuk setiap bagian yan dikerjakan dengan benar.


Inventaris Depresi Beck, berisi 13 hal yang menggambarkan berbagai
gejala dan sikap yang berhubungan dengan depresi (Beck dan Deck,
1972). Setiap hal direntang dengan menggunakan skala 4 -poin untuk
menandakan intensitas gejala. Alat dengan mudah dinilai dan dapat
dilakukan sendiri atau diberikan oleh perawat dalam kira-kira 5 menit.
Penilaian nilai-nilai dengan cepat membantu dalam memperkirakan
beratnya depresi.

2.3.8. Penatalaksanaan

Farmakodinamik Dan Farmakokinetik Pada Usia Lanjut


a. Farmakokinesis
Terdiri dari abrsorpsi, distribusi, metablisme dan eksresi obat. Sesudah
diabsorbsi obat melewati hati dan mengalami metabolism tahap awal. Bila
tahap ini turun sisa dosis obat yang masuk dalam darah dapat melebihi

LBM I Page 26
SAKIT APA SUAMIKU
perkiraan dan mungkin menmabah efek obat, bahkan sampai efek
yangmerugikan yaitu (ADR, adverse drug reaction).
Pada obat dengan metabolism pintas awal tinggi ada beda besar antara
dosis intravena (rendah) dengan dosis oral (tinggi).Makanan dan obat lain
dapat memepengaruhi absorbs obat yang diberikan oral.
Distribusi obat dipengaruhi oleh berat badan dan komposisi tubuh, yaitu
cairan tubuh, massa otot, fungsi dan peredaran darah berbagai organ , juga
organ yang mengatur eksresi obat.
Kadar albumin plasma memastikan kadar obat bebas dalam sirkulasi.
Hal ini memerlukan pedoman yang menyesuaikan dosis obat dengan berat
badan untuk meningkatkan rasio resiko/kegunaan pada pasien tua yang kurus.
Metabolism di hati dipengaruhi oleh umur, genotip, gaya hidup, curah
jantung, penyakit, dan interaksi antara berbagai obat. Obat dapat mengalami
biotransformasi dihati dengan cara oksidasi (mengaktifkan obat) dan
konjunggasi (obat jadi inaktif). Mengecilnya massa hati dan proses menua
dapat mempengaruhi metabolism obat.
Untuk obat yang eksresinya terutama lewat ginjal pedoman kebersihan
kreatinin 24 jam penting diperhatikan, yaitu untuk memperkirakan dosis
awal.
Kadar kreatinin serum tidak menggambarkan penurunan fungsi ginjal
karena massa otot berkurang pada proses menua. GFR (glomerolus filter rate)
lebih penting dan jika turun sampai 10-50 ml/menit, dosis obat harus
disesuaikan.
b. Farmakodinamik
Ada perubahan lain pada usia lanjut, yaitu perubahan reaksi pada
reseptor seperti penurunan kegiatan reseptor adrenergic a atau perubahan
dijaringan dan organ, berakiakibat kesadaran seakin menurun. Sebagai
contoh : hilang ingatan dengan pemberian benzidiazepin.
Perubahan mekanisme homeostasis tidak mampung mengurangi denyut
jantung dan menurunkan curah jantung waktu tekanan darah naik akibat obat
pada pasien mudah. Hipotensi postural akibat obat tertentu pada pasien tua
disebabkan kurang tanggapnya pengendalian lewat pembuluh darah tepi yang
menghasilkan tekanan darah.

LBM I Page 27
SAKIT APA SUAMIKU
Perubahan farmakodinamis dan farmakokinesis obat harus diperhatikan
oleh dokter yang meresepkan obat kepada pasien tua.
Factor lain yang berperan pada pemberian ialah multipatologi (adanya
lebih dari satu penyakit) pada psien geriyatri.
c. Multipatologi dan pengobatannya
Walaupun cara nonfarmakologi juga merupakan pilihan dalam
penanganan berbagai masalah, obat tetap menjai pilihan utama sehingga
macam dan jumlah obat menjadi banyak.
Prinsip pemberian pengobatan pada lansia:
Riwayat pengobatan lengkap. Pasien harus membawa semua obat,
termasuk obat resep, vitamin dan bahan dari took bahan kesehatan.
Tanya tentang alergi, efek yang merugikan (ADE), merokok, alcohol,
kopi, obat waktu santai dan siapa pemberi obat.
Jangan member obat sebelum waktunya. Hindari pemberian resep
sebeum diagnosis ditentukan, bila keluhan ringan atau tidak khas, atau
jika manfaat pengobatan meragukan.
Jangan menggunakan obat terlalu lama. Hentikan obat yang tidak perlu
lagi, nilai penggunaan obat sesuai kebutuhan, juga tanpa resep.
Kenali obat ang digunakan. Ketahui sifat farmakologi obat yang
diberikan. Efek merugikan dan keracunan yang mungkin terjadi. Nilai
dengan teliti tanda-tanda kemunduran segi fungsi dan mental yang
mungkin disebabkan oleh obat.
Mulai dengan dosis rendah naikkan perlahan-lahan. Pakai selalu dosis
terendah untuk mendapatkan hasil. Gunakan kadar obat dalam darah
bila ada dan tepat untuk masalah ini.
Obati sesuai patokan. Guakan dosis cukup untuk mencapai tujuan
terapi, yang sesuai toleransi. Jangan mengurungkan terapi untuk
penyakit yang dapat ditangani.
Beri dorongan supaya patuh berobat. Jelaskan kepada pasien tujuan
pengobatan dan cara mencapainya. Buat intstruktur tertulis.
Pertimbangkan sulit tidaknya jadwal pemberian obat, biaya dan
kemungkinan efek merugikan bila memilih obat.

LBM I Page 28
SAKIT APA SUAMIKU
Hati-hati menggunakan obat baru. Obat baru belum dinilai tuntas
untuk kelompok usia lanjut, dan rasio resiko/kegunaan sering tidak
diketahui.

BAB III

PENUTUP

1.1. KESIMPULAN
Berdasarkan diskusi kelompok kami pasien pada skenario lbm 1
kemungkinan mengalami proses penuaan yang normal dimana terjadi penurunan

LBM I Page 29
SAKIT APA SUAMIKU
kemampuan fisik, seksual, dan psikologi pada pria. Penuaan (ageing) merupakan
suatu konsekuensi (proses alamiah) yang tidak dapat dihindarkan dan pasti terjadi
pada setiap manusia. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua sudah mulai
berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya
kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati
sedikit demi sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

Aru W. Sudoyo, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid 3. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006.

LBM I Page 30
SAKIT APA SUAMIKU
Boedhi, darmojo, R. 2015. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).
Edisi. 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
H. Hadi Martono, dkk. Buku Ajar Boedhi-Darmojo: Geriatri (Ilmu Kesehatan
Usia Lanjut), Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2009.
Ismayadi. Proses Menua (Aging Process). Medan: USU Digital Library, 2004.

LBM I Page 31
SAKIT APA SUAMIKU