Makalah Kelompok

“ Malpraktek Dalam Praktek Keperawatan”
Untuk memenuhi tugas Blok Legal Ethic Of Nursing

Disusun Oleh:
Anif Lailatul F 145070201111004
Nanda Veir Y 145070201111016
Novia Ecci 145070201131016
Regina Sinaga 145070201111030
Sinta Devi P 145070201131010
Siti Fatmawati 145070201131011
Zidni Taqwim 145070201111018

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017

kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung. keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit. Sebagai salah satu tenaga profesional. kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya. keluarga dan masyarakat. perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan. Dalam melakukan praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya. preventif. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan malpraktek. beserta cara penyelesaianya baik ditinjau dari hukum dan etik keperawatan. Berdasarkan latar belakang diatas maka kelompok membahas tentang kasus permasalahan pelanggaran dalam pelayanan keperawatan. dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja. . guna memberi perlindungan kepada masyarakat. dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif. BAB I PENDAHULUAN A LATAR BELAKANG Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu. Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu. kuratif dan rehabilitasi.

Setelah satu jam panas pasien turun dan naik kembali sampai kejang-kejang dan meninggal. Keluarga pasien menuduh perawat salah memberikan perawatan dan menuntut pertanggungjawaban secara hukum melakukan tindakan malpraktik.B. perawat lupa tidak mendokumentasikan instruksi dokter dan tindakannya pada rekam medis. keluarga pasien melaporkan demam anaknya semakin tinggi. . Saat dinas malam. KASUS Perawat Jo lulusan pendidikan ners dan bekerja di ruangan anak RSUD. Setelah memberikan tindakan. kemudian perawat memberikan kompres dan melaporkan kondisi pasien melalui telepon ke dokter jaga dan diberikan instruksi untuk memberikan obat penurun panas pada pasiennya tanpa meminta persetujuan tindakan kepada keluarga pasien.

D = Define the problem(s) E = Ethical review C = Consider the options I = Investigate outcomes D = Decide on actin E = Evaluate results kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / pemecahan masalah secara ilmiah. Dalam membuat keputusan. Model pemecahan masalah (megan. Pada penyelesaian dilema etik dikenal prinsip DECIDE yaitu.C. Mengevaluasi hasil 2. Mengkaji situasi b. PEMBAHASAN C. antara lain: 1. Kozier et.1989) ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik : a. Keputusan biasanya dibuat dalam hubungannya dengan orang lain (klien.1 MODEL PENYELESAIAN DILEMA ETIK Perawat berada di berbagai situasi sehari-hari yang mengharuskan untuk membuat keputusan-keputusan profesional dan bertindak sesuai keputusan tersebut. Mengidentifikasi konflik . keluarga. bukan keputusan yang paling benar yang akan diambil tapi keputusan mana yang paling baik karena dalam dilema etik tidak ada benar maupun yang salah. dan profesi kesehatan lain). Melaksanakan rencana e. Membuat tujuan dan rencana pemecahan d. Mengembangkan data dasar b. Mendiagnosa masalah etik moral c. al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan dilema etik sebagai berikut : a.

Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat e. Mempertmbangkan bagaimana keputusa tersebuut hingga sesuai dengan falsafah umum perawatan klien i. . Memberi keputusan h. langkah-langkah menurut Thompson & Thompson (1981) a. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan g. Membuat keputusan 3. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya. komponen etis dan petunjuk individual. 4. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut d. Mengidentifikasi masalah kesehatan b. Model murphy dan murphy a. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanankan f. Mengidentifikasi masalah etik c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan d. Mendefinisikan kewajiban perawat f. c. keputusan yang diperlukan. Mengidentifikasi peran perawat e.

Mengidentifikasi dilema c. Menentukan posisi moral pribadi dan profesional e. Melengkapi tindakan 6. . Perawat perlu mendengar kedua sisi dengan menjadi pendengar yang berempati. Apa nilai yang menjadi konflik ? b. Mengidentifikasi issue etik d. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi c. Thomson and Thomson (1985) mendaftarkan 3 (tiga) hal yang sangat spesifik namun terintegrasi dalam perencanaan. yaitu: 1. Pengkajian Hal pertama yang perlu diketahui perawat adalah “adakah saya terlibat langsung dalam dilema?”. Langkah-langkah menurut Purtilo danCassel (1981) Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik a. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada 5. Apa yang menjadi keinginan klien ? 4. Perencanaan Untuk merencanakan dengan tepat dan berhasil. Mengumpulkan data yang relevan b. Tentukan tujuan dari treatment. Apa yang menjadi fakta medik ? 2. b. Langkah penyelesaian dilema etik menurut Tappen (2005) adalah : a. Target tahap ini adalah terkumpulnya data dari seluruh pengambil keputusan. 2. Apa yang menjadi fakta psikososial ? 3. Identifikasi pembuat keputusan 3. Memutuskan apa yang harus dilakukan d. Daftarkan dan beri bobot seluruh opsi / pilihan. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait f. setiap orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus masuk dalam proses. dengan bantuan pertanyaan yaitu : 1.

karena dilema etis seringkali menimbulkan efek emosional seperti rasa bersalah. sedih / berduka. marah. Perawat harus menyadari bahwa dalam dilema etik tak selalu ada 2 (dua) alternatif yang menarik. Mengembangkan data dasar a. Perawat harus ingat “Saya disini untuk melakukan yang terbaik bagi klien”. Sekali tercapai kesepakatan. dan emosi kuat yang lain. dan fakta sosial dapat dipakai untuk mengevaluasi ulang situasi dan akibat treatment perlu untuk dirubah. tetapi kadang terdapat alternatif tak menarik. klien/keluarganya yang menjadi pengambil keputusan beserta anggota tim kesehatan terlibat mencari kesepakatan putusan yang dapat diterima dan saling menguntungkan. Perubahan status klien. Peran perawat selama implementasi adalah menjaga agar komunikasi tak memburuk. bahkan tak mengenakkan. Atau lain waktu. kemungkinan treatment medik. Harus terjadi komunikasi terbuka dan kadang diperlukan bernegosiasi. Kadangkala kesepakatan tak tercapai karena semua pihak tak dapat didamaikan dari konflik sistem dan nilai. pengambil keputusan harus menjalankannya. d. Orang yang terlibat  Pasien  Keluarga  Perawat  Dokter . Implementasi Selama implementasi. Komunikasi diantara para pengambil keputusan masih harus dipelihara. c. Evaluasi Tujuan dari evaluasi adalah terselesaikannya dilema etis seperti yang ditentukan sebagai outcome-nya. Pengaruh perasaan ini dapat menyebabkan kegagalan komunikasi pada para pengambil keputusan. dan di dalam situasi lain permintaan klien dapat dihormati. C. perawat tak dapat menangkap perhatian utama klien.2 PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK 1. Seringkali klien / keluarga mengajukan permintaan yang sulit dipenuhi.

 Perawat : melakukan instruksi dokter tanpa menuliskan tindakanya di rekam medis. pasien akan tetap panas tinggi. 2. Tindakan yang diusulkan  Dokter : menginstruksikan perawat untuk memberikan obat penurun panas pada pasiennya tanpa meminta persetujuan tindakan kepada keluarga pasien.  Keluarga : menuntut perawat yang sudah melakukan intervensi kepada anaknya. maka perawat akan dikenai sanksi. Lakukan analisis terkait situasi/kasus yang terjadi . b. Konsekuensi tindakan yang diusulkan  Keluarga : apabila keluarga sudah memiliki buktidan perawat tidak adarekam medis sebagai pembelaan.  Perawat : apabila tidak dilakukan pemberian obat. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut a. c. d. Maksud dari tindakan tersebut  Dokter : untuk menurunkan panas pasien.  Perawat : melakukan intervensi sesuai instruksi dokter.  Keluarga : tidak terima atas tindakan yang sudah dilakukan oleh perawat yang sudah memberikan intervensi.

Identifikasi berbagai masalah atau konflik yang terjadi dari kasus atau situasi tersebut. Keluarga pasien menuduh perawat salah memberikan perawatan dan menuntut pertanggungjawaban secara hukum melakukan tindakan malpraktik. 3. Keluarga pasien menuduh perawat salah memberikan perawatan dan menuntut pertanggungjawaban secara hukum melakukan tindakan malpraktik. perawat lupa tidak mendokumentasikan instruksi dokter dan tindakannya pada rekam medis.  Mendokumentasikan ulang kondisi pasien pada waktu itu dan semua tindakan yang dilakukan perawat .  Perawat memberikan analgesic atas perintah dokter tanpa persetujuan keluarga. Setelah satu jam panas pasien turun dan naik kembali sampai kejang-kejang dan meninggal. b. Setelah memberikan tindakan.  Perawat berkoordinasi dengan dokter mengenai masalah pasien melalui telepon. Keluarga pasien melaporkan demam anaknya semakin tinggi. Identifikasi alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.  Perawat tidak menuliskan tindakanya dalam rekam medis. Membuat tindakan alternatif a. kemudian perawat memberikan kompres dan melaporkan kondisi pasien melalui telepon ke dokter jaga dan diberikan instruksi untuk memberikan obat penurun panas pada pasiennya tanpa meminta persetujuan tindakan kepada keluarga pasien.

Identifikasi konsekuensi dari masing-masing alternattif tindakan tersebut. dan menjelaskan kepada keluarga mengenai kondisi pasien. b.  Konsekuensi dari tindakan alternatif pertama : menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan perawat benar saat memberikan analgesic dan kesalahanya hanya tidak menuliskanya di rekam medis yang akan bisa dijadikan sebagai bukti tindakan waktu itu. sebagai tenaga medis yang bekerja disana.  Berusaha meyakinkan pihak rumah sakit terlebih dahulu untuk mendapat perlindungan.  Konsekuensi dari tindakan alternatif kedua : dokter akan menjelaskan mengenai instruksi apa yang sudah dijelaskan kepada perawat. Hal yang seharusnya dilakukan oleh perawat :  Sebelum melakukan segala tindakan harus melakukan consent terlebih dahulu dengan membuat informed consent.  Mengkonfirmasikan kepada dokter pada saat tindakan tentang apa yang diinstruksikan kepada perawat.  Memastikan saksi-saksi saat perawat melakukan intervensi.  Konsekuensi dari tindakan alternatif ketiga : saksi akan menjelaskan tentang apa yang sudah dilakukan oleh perawat Jo. 4. SIP dan SIK diperlukan agar perawat .  Konsekuensi dari tindakan alternatif keempat : rumah sakit akan melindungi perawat Jo.Hal ini sangat penting karena sebagai bukti persetujuan klien atas tindakan yang akan dilakukan pada dirinya.  Perawat yang sudah menyelesaikan pendidikan profesinya harus mempunyai surat ijin perawat dan surat ijin kerja.

seperti tekanan darah. dan mempunyai legalitas dalam melaksanakan segala pekerjaannya.  Pada kasus di atas Perawat harus senantiasa memantau perkembangan kondisi pasien dan senantiasa mengecek tanda – tanda vital pasien. dapat diakui memang mempunyai kompetensi di bidangnya. Sebagai tim kesehatan yang senantiasa peduli terhadap perkembangan status kesehatan pasien.hal ini penting agar dapat diketahui sedini mungkin apabila ada hal – hal yang sudah menyimpang dari keadaan pasien. karena keluarga merupakan bagian yang paling penting. agar dapat sebagai bukti legal apabila ada tuntutan – tuntutan hukum dikemudian hari.  Perawat harus melaporkan pada dokter jaga atau dokter yang menangani pasien yang bersangkutan apabila ada kejanggalan pada tanda – tanda vital pasien. denyut nadi. agar dapat segera dilakukan tindakan. apabila pasien tidak sadar dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri atas keadaan dirinya. Hal ini untuk mencegah penyimpangan – penyimpangan tindakan perawat dari prosedur – prosedur tindakan yang sudah disepakati. temperatur tubuh pasien dan pernafasan.  Perawat seyogyanya memahami tentang pekerjaannya dan bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang berlaku.  Perawat harus mendokumentasikan segala tindakan yang telah dilakukan pada pasien dalam kartu pencatatan perkembangan penyakit pasien.  Selalu melibatkan anggota keluarga sebagai pembuat keputusan apabila terjadi hal – hal yang tidak kita inginkan. Membuat keputusan Pada kasus ini juga perawat Jo tidak memberikan informed consent kepada pihak keluarga sebelum pemberian obat kepada klien yang seharusnya disepakati . hal ini sebagai bukti bahwa perawat sudah mengerjakan segala tindakan yang seharusnya dilakukan. menjadi sangat penting untuk selalu mengkomunikasikan keadaan pasien. 5.

nonmalefence. Kelalaian yang dilakukan oleh perawat akan memberikan dampak yang luas. Perawat Jo juga tidak mendokumentasikan instruksi dokter dan tindakannya pada rekam medis. pasal 45.36/2009. pasal 56 dan UU No 29/2004. bahwa kelalaian merupakan bentuk pelanggaran dasar moral praktik keperawatan baik bersifat pelanggaran autonomy. . 360 dan 361 KUHP). Sedangkan dari segi hukum pelanggaran ini dapat ditunjukan bagi pelaku baik secara individu dan profesi dan juga istitusi penyelenggara pelayanan praktik keperawatan. 1991) dan penyelesaiannya dengan menggunakan dilema etik. juga kepada pihak Rumah Sakit. Selain gugatan pidana. dan lainnya (Kozier. justice. individu perawat pelaku kelalaian dan terhadap profesi. Bila dilihat dari segi etika praktik keperawatan. Perawat Jo telah melanggar perbuatan hukum dan melanggar hak klien maupun keluarga yang diatur oleh UU No. 2005). juga dapat berupa gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi (Sampurna. tidak saja kepada pasien dan keluarganya. dan bila ini terjadi kelalaian dapat digolongkan perbuatan pidana dan perdata (pasal 339.diawal pada saat informed consent. Informed consent diatur oleh dasar hukum perjanjian pasak 1320 KUH Perdata.

Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar. keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasien. 2. maka kita harus memanfaatkan nilai-nilai dalam menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran profesionalnya. masyarakat atau profesi lain. Kode etik keperawatan yang harus selalu ditegggakkan agar kita terhindar dari masalah-masalah yang memungkinan kita terjerumus dalam ggugatan malpraktik 3. KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa.D. Perlu adanya pemahaman yang lebih bagi perawat tentan masalah moral. akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan. penghormatan terhadap hak-hak pasien. etika beserta prinsip-prinsipnya. SARAN 1. dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara etis profesional. melaksanakan advokasi. dalam upaya mendorong profesi keperawatan agar dapat diterima dan dihargai oleh pasien. . Dengan demikian perawat yang menerima tanggung jawab. Pentingnya perawat sebagai tenaga kerja professional untuk memahami prinsip etika yang menjadi pedoman mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan. Sehingga diharapkan perawat mampu memegang teguh prinsip etik tersebut.