KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena Panduan Pelayanan
Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat
terwujud. Panduan ini merupakan revisi pertama dari buku sebelumnya yang
menjadi acuan bagi seluruh pegawai khususnya yang berhubungan langsung
dengan pasien dalam memberikan pelayanan komunikasi, informasi, dan edukasi.

Panduan komunikasi, informasi, dan edukasi Rumah Sakit Pusat Otak ini
memiliki isi yang lengkap dan komprehensif. Panduan ini meliputi komunikasi antar
pemberi pelayanan; komunikasi antar pemberi pelayanan dengan pasien dan
keluarga; komunikasi internal dan eksternal di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional;
komunikasi dengan pihak luar rumah sakit; dan edukasi kepada pasien dan
keluarga. Diharapkan panduan ini dapat menjadi panduan bukan hanya bagi
pegawai Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh
instansi lain dalam berkomunikasi, memberikan informasi dan memberikan edukasi.

Kami menyampaikan terima kasih pada seluruh unit kerja yang telah
berkontribusi dalam memberikan masukan dalam penyusunan panduan ini. Akhir
kata, semoga panduan pelayanan komunikasi, informasi, dan edukasi ini dapat
berkontribusi dalam pemberian pelayanan kepada pasien di Rumah Sakit Pusat
Otak Nasional

Jakarta, Januari 2016

Direktur Utama
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional

dr. Mursyid Bustami Sp. S (K), KIC, MARS

BAB I
DEFINISI

Komunikasi

Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari
seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain
tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampaian pikiran-pikiran atau
informasi. (Komaruddin, 1994: Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994: Koontz &
Weihrich, 1988).

Dalam interaksi antara dokter dan pasien,komunikasi diartikan tercapainya
pengertian dan kesepakatan yang dibangun dokter bersama pasien pada setiap
langkah penyelesaian masalah pasien.

Informasi

Keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai,
makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat,
didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai
dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik
ataupun non elektronik (UU RI No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik)

Edukasi

Penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik
belajar atau instruksi, dengan tujuan untuk meningkatkan fakta atau kondisi nyata,
dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (selfdirection ), aktif
memberikan informasi-informasi atau ide baru.

Pasien

Setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang di[perlukan baik secara langsung maupun
tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.

Dokter dan Dokter Gigi

Dokter dan dokter gigi sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran adalah dokter, dokter spesialis,
dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran
gigi, baik didalam maupun di luar negeri yang diakui pemerintah Republik Indonesia
sesuai dengan peraturan perundang-undangan

mencari solusi atau alternatif pemecahan masalah dan menyimpulkan hasilnya. Komunikasi yang dilakukan secara verbal dan non-verbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan kesehatannya. membuka dialog. Komunikasi Efektif Komunikasi yang dilakukan secara akurat. dimengerti.Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. rumah sakit. tidak duplikasi. peluang dan kendalanya sehingga dapat bersama-sama dokter mencari alternatif untuk mengatasi permasalahannya. lengkap. poliklinik. Definisi komunikasi dalam interaksi antara dokter dan pasien di tempat praktik diartikan tercapainya pengertian dan kesepakatan yang dibangun dokter bersama pasien pada setiap langkah penyelesaian masalah pasien Anamnesis Progress penggalian riwayat penyakit pasien oleh dokter. Komunikasi Dokter-Pasien Hubungan yang berlangsung antara dokter/dokter gigi dengan pasiennya selama proses pemeriksaan/ pengobatan/perawatan yang terjadoi di ruang praktik perorangan. Komunikasi Efektif Dokter-Pasien Komunikasi efektif dokter-pasien merupakan pengembangan hubungan dokter pasien secara efektif yang berlangsung secara efisien dengan tujuan utama untuk menyampaikan informasi atau memberikan penjelasan yang diperlukan dalam rangka membangun kerja sama antara dokter dengan pasien. . Anamnesis merupakan bagian dari komunikasi dokter-pasien Cara/Teknik Komunikasi Pengetahuan dan keterampilan mengenai komunikasi yang mengikuti langkah- langkah komunikasi yaitu memberikan perhatian. dan tepat kepada penerima informasi untuk mengurangi kesalahan dan untuk meningkatkan keselamatan pasien. dan puskesmas dalam rangka membantu penyelesaikan masalah kesehatan pasien.

. elektronik dan peraga yang bias berupa model atau contoh nyata untuk kesamaan persepsi yang menghasilkan pemahaman yang sama dalam komunikasi. Edukasi Pasien dan Keluarga Edukasi pasien dan keluarga adalah proses pemberian pengetahuan yang diperlukan oleh pasien dan keluarga selama proses asuhan maupun pengetahuan yang dibutuhkan setelah pasien dipulangkan ke pelayanan kesehatan lain atau ke rumah.Media Pendukung Komunikasi Media pendukung komunikasi dapat berbentuk media cetak.

dan proses untuk mendapatkan pelayanan. . termasuk tentang Informed consent:  Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis:  Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat pemeriksaan):  Rencana pelayanan dan pengobatan. jam operasional serta proses untuk mendapatkan pelayanan. jenis atau tipe  Prognosis  Dukungan (support) yang tersedia  Sumber alternatif bagi asuhan dan pelayanan diberikan bila rumah sakit tidak bisa menyediakan asuhan dan pelayanan  Prakiraan pulang  Biaya  Hasil pelayanan yang diharapkan  Instruksi mengenai kapan kembali untuk kontrol atau pelayanan tindak lanjut  Instruksi mengenai kapan pelayanan mendesak harus didapatkan  Instruksi untuk pelayanan yang diperlukan berkenaan dengan kondisi pasien c. termasuk manfaat. website Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. jam operasional. dan telepon. yaitu:  Hak dan kewajiban pasien:  Cara berpartisipasi dalam keputusan pelayanan. Pada saat pasien masuk. berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan diagnosis. Materi yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam proses dan pengambilan keputusan asuhan pasien. risiko serta kemungkinan efek samping/ komplikasi. b. Materi Materi yang disampaikan dalam pelayanan komunikasi informasi dan edukasi meliputi: a. dan lokasi penyampaian. BAB II RUANG LINGKUP Ruang lingkup pelayanan komunikasi informasi edukasi dapat ditinjau berdasarkan materi. Informasi mengenai pelayanan. Informasi tentang mutu pelayanan rumah sakit. Selain itu petugas juga memberitahukan bahwa informasi tersebut dapat diakses melalui leaflet. penerima informasi luas/jumlah informasi yang diberikan. Direktur Utama bertanggungjawab terhadap informasi mutu yang dipublikasikan untuk menjamin reliabilitas data tersebut. pemberi informasi. 1.  Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan  Diagnosis. Informasi tentang mutu merupakan hasil validasi dari komite mutu rumah sakit. petugas informasi menjelaskan tentang pelayanan yang ada di rumah sakit.

hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.d. termasuk tentang informed consent:  Informasi mengenai informed consent meliputi: a) Definisi informed consent / persetujuan tindakan kedokteran Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/Menkes/PER/III/2008. persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang doiberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. e. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi .  Keamanaan penggunaan alat medis. b) Penjelasan yang harus diterima sebelum memberikan informed consent Penjelasan sekurang-kurangnya mencakup: diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran. . keuntungan tindakan kedokteran yang dilakukan . Informasi sesuai kebutuhan manajemen guna mendukung integrasi pelayanan.  Manajemen nyeri dan  Teknik rehabilitasi.  Nutrisi. alternatif tindakan lain dan risikonya. Setelah perluasan tindakan kedokteran dilakukan. Informasi antar pemberi pelayanan kesehatan dalam memberikan asuhan kepada pasien g. yaitu:  Keamanan penggunaan obat. persetujuan tindakan kedokteran adalah pernyataan sepihak pasien atau yang sah mewakilinya yang isinya berupa persetujuan atas rencana tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang diajukan oleh dokter atau dokter gigi.  Potensi interaksi obat dan makanan.tingkat keberhasilan tindakan kedokteran. Menurut manual persetujuan tindakan kedokteran tahun 2006. masalah yang mungkin terjadi selama masa pemulihan. setelah menerima informasi yang cukup untuk dapat membuat persetujun atau penolakan. dokter atau dokter gigi akan memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat. Topik yang berhubungan dengan perawatan pasien. tujuan tindakan yang akan dilakukan. c) Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya.  Cara berpartisipasi dalam kepuasan pelayanan. topic ini bisa didapat pada masa perawatan dan juga melalui klub stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Informasi dan edukasi untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan berkelanjutan f. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. perkiraan pembiayaan. serta akibat yang terjadi apabila tindakan kedokteran tidak dilakukan.

d) Pihak yang dapat memberikan persetujuan tindakan kedokteran setelah mendapat informasi adalah: 1. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental. persetujuan (informed consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan-urutan hak sebagai berikut:  Ayah/ibu kandung  Wali yang sah  Saudara-saudara kandung 5. . Bagi pasien dibawah umur 18 tahun persetujuan (informed consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut :  Ayah/ibu kandung  Saudara-saudara kandung 3. yaitu apabila telah berumur 18 tahun atau telah menikah. persetujuan (informed consent) atau penolakan tindakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut:  Suami/istri  Ayah/ibu kandung  Anak-anak kandung  Saudara-saudara kandung e) Tanggung jawab:  Pelaksanaan tindakan kedokteran yang telah mendapat persetujuan menjadi tanggung jawab dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan kedokteran.  Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak menghapuskan tanggung gugat hukum jika terbukti ada kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien. Bagi pasien dibawah 18 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan hadir. persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan menurut hal tersebut:  Wali  Kurator 6. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle). Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua. persetujuan (informed consent) atau penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut:  Ayah/ibu adopsi  Saudara-saudara kandung  Induk semang 4. 2. Sarana pelayanan kesehatan bertanggungjawab atas pelaksanaan persetujuan tindakan kedokteran. Pasien sendiri.

apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan b. belum dewasa adalah belum berumur 21 tahun dan belum menikah.  Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan. 3. Pasien yang sakit jiwa dengan tingkat gangguan yang sudah tidak memungkinkan untuk berkomunikasi. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sebagai rumah sakit khusus sistem saraf tentunya memiliki komunitas dan populasi yang menjadi perhatiannya yaitu komunitas dan populasi dengan gangguan pada sistem saraf. misalnya karena kondisinya tidak memungkinkan untuk mendengarkan informasi yang dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatannya.  Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan. Penerima informasi a. Seseorang yang dikatakan cakap hukum apabila ia pria atau wanita telah berumur 21 tahun. Pasien yang yang diberi pengobatan dengan placebo yaitu merupakan senyawa farmakologis tidak aktif yang digunakan sebagai obat untuk pembanding atau sugesti. Strategi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Pusat Otak Nasional adalah dengan membentuk klub stroke yang beranggotakan insan pasca stroke (masyarakat sekitar dan pasien yang pernah dirawat). 4. atau bagi pria apabila belum berumur 21 tahun tetapi telah menikah. Meskipun demikian. Menurut KUH Perdata Pasal 1330. Pasien yang akan dirugikan jika mendengar informasi tersebut. Pasien yang belum dewasa. Pasien. menyatakan bahwa seseorang yang tidak cakap untuk membuat persetujuan adalah orang yang belum dewasa. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan bertanggung jawab atas pasien kalau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berkomunikasi sediri secara langsung d. terdapat 4 kelompok pasien yang tidak perlu mendapat informasi secara langsung yaitu : 1. Seluruh pegawai rumah sakit e. fasilitas pelayanan kesehatan lain. 2. Sebelum melakukan komunikasi dengan masyarakat. f) Dalam keadaan gawat darurat yang memerlukan tindakan kedokteran segera untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. Identifikasi komunitas dan populasi dapat dilakukan melalui pendataan pasien yang menerima pelayanan di rumah sakit. Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien c. Oleh karena perjanjian medis mempunyai sifat khusus maka tidak semua ketentuan .  Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan. 2. Pihak luar rumah sakit seperti masyarakat. dan institusi pemerintah terkait. Pasal 1330 KUH Perdata. rumah sakit telah mengidentifikasi komunitas dan populasi yang menjadi perhatiannya.

admisi. Background berisi latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan situasi. kasir. Komunikasi antar pemberi pelayanan terdiri dari teknik SBAR dan TBAK. instalasi rawat inap. instalasi neurorestorasi. Assessment berisi berbagai hasil penilaian klinis perawat. petugas admisi. 1998). Background. 3. Diharapkan dengan melaksanakan langkah-langkah yang akan dijelaskan pada bab ini. instalasi rawat jalan. instalasi radiologi. Lokasi Penyampaian Pemberian informasi dan edukasi dilakukan di area rumah sakit seperti di pojok informasi. farmasi. Jumlah Informasi yang Diberikan a. komunikasi antar pemberi pelayanan terkait informasi kondisi pasien. Komunikasi dengan Teknik SBAR dan TBaK Komunikasi antar pemberi pelayanan kesehatan pada saat melaporkan keadaan pasien dan serah terima pasien menggunakan teknik SBAR ( Situation. Pemberi Informasi Dokter. 5. Untuk pasien : sebanyak yang pasien kehendaki. Komunikasi Antar Pemberi Pelayanan Komunikasi antar pemberi pelayanan bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan asuhan yang diberikan sehingga dapat menghasilkan proses asuhan yang efisien. Assessment. 4. 1. hukum perdata diatas dapat diterapakan maka dokter tidak mungkin menolak mengobati pasien yang belum berusia 21 tahun yang datang sendirian ke tempat praktiknya. instalasi farmasi. Recommendation). a. . b. petugas rekam medic. dan komunikasi antar dokter pemberi pelayanan. lebih memberikan dukungan pada pasien. semua petugas kesehatan dapat mencapai tujuan dari komunikasi efektif. BAB III TATA LAKSANA Komunikasi efektif bertujuan untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk petugas kesehatan. Situation berisi bagaimana situasi pasien yang akan dibicarakan atau dilaporkan. yang dokter merasa perlu untuk disampaikan. sehingga lebih efektif dan efisien bagi kedua pihak (Kurtz. Untuk keluarga : sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan sebanyak yang dokter perlukan agar dapat menentukan tindakan selanjutnya. petugas informasi atau customer service dan petugas unit lain di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sesuai kompetensi bidangnya dan kebutuhan pasien. dan laboratorium. komunikasi saat serah terima dalam pergantian shift. perawat. instalasi gawat darurat. komunikasi pelaporan hasil kritis. serta menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya lain secara lebih efektif. dengan memperhatikan kesiapan mental pasien. Pemberian penjelasan tentang edukasi pasien dan keluarga juga dilakukan oleh konselor dan penyuluh yang telah tersertifikasi dan disahkan oleh Direktur Utama.

dan memo tertulis. Teknik komunikasi yang digunakan meliputi: komunikasi tertulis. kelangkah berikutnya. Instruksi verbal/per telepon tidak diperkenankan pada: 1. dalam berkomunikasi. kelangkah berikutnya. dokter. Proses pelaporan ini ditulis didalam rekam medis (from catatan perkembangan terintegrasi) dan laporan hasil kritis tersebut segera dilaporkan ke DP JP dengan menggunakan metode SBAR. baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi tersebut hanya diperbolehkan untuk melaporkan pasien monitoring. Komunikasi verbal digunakan oleh tenaga kesehatan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional saat melaporkan/menerima instruksi per telepon/instruksi lisan/hasil tes laboratorium yang kritis (hasil kritis pemeriksaan lab terlampir). Komunikasi dalam Pelaporan Hasil Kritis Pelaporan hasil kritis adalah proses penyampaian nilai hasil pemeriksaan yang memerlukan penanganan segera dan harus dilaporkan ke DP JP dalam waktu kurang dari 1 jam. bila belum berhasil menghubungi. 15 menit kedua: harus melaporkan pada DP JP. bila belum berhasil menghubungi.enghubungi kepala instalasi terkait. Dokter atau perawat ruangan yang menerima hasil kritis menggunakan teknik komunikasi verbal TBaK. serta hasil nilai kritis melalui sms atau aplikasi pesan smartphone. Bila diluar jam kerja/hari libur menghubungi DP JP jaga yang bertugas. Tenaga kesehatan yang dapat melaporkan dan menerima pesan verbal/per telepon adalah perawat. bila belum berhasil menghubungi. dan tenaga kesehatan lain. 2. Pada saat menerima instruksi verbal/pesan verbal harus menerapkan teknik TBaK yaitu Tulis. 3. DP JP yang memberikan instruksi tertulis melalui sms atau aplikasi pesan smartphone harus mengkonfirmasi kepada petugas penerima instruksi bahwa pesan telah diterima dan petugas kesehatan yang menerima instruksi tersebut harus menuliskan kembali ke catatan pasien terintegrasi. Mekanisme dalam pelaporan hasil kritis sebagai berikut: 1. b. Recommendation berisi rekomendasi dari perawat yang diperlukan untuk memperbaiki masalah ( sesuai SPO komunikasi verbal teknik SBAR). Baca. Pemberian obat-obatan epidural 2. 15 menit pertama: harus segera melaporkan ke DP JP. 4. kelangkah berikutnya. elektronik (telepon).harus menggunakan singkatan yang terstandar di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan menuliskan kata dengan lengkap bila tidak ada dalam Buku Standar Singkatan dan Simbol Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Pemberian obat kemoterapi Pada komunikasi efektif tidak diperbolehkan melaporkan pasien kritis/perburukan. lisan. Selain itu. Konfirmasi (Sesuai SPO komunikasi verbal teknik TBaK). 15 menit keempat: menghubungi urutan pimpinan sebagai berikut: . Tidak diperkenankan menyampaikan pesan melalui voice mail. 15 menit ketiga: bila hari kerja dapat m. Tenaga kesehatan yang dapat memberikan instruksi tertulis melalui sms atau aplikasi pesan smartphone adalah DP JP.

Kondisi sarana dan prasarana di ruangan 4. serta rencana tindakan yang akan dilakukan di shift tersebut. Kondisi alat kesehatan yang digunakan di ruangan. Direktur pelayanan 3. Semua catatan terintegrasi dari pemberi pelayanan ini bertujuan untuk kesinambungan pelayanan yang diberikan kepada pasien. dan . Komunikasi Saat Serah Terima dalam Pergantian Shift Informasi yang disampaikan saat serah terima dalam pergantian shift terdiri atas dua bagian. . dan seberapa sering informasi tersebut dikomunikasikan dari satu praktisi kesehatan kepada sesamanya. Status kesehatan pasien. Kepala Bidang Medik 2. Respon pasien terhadap asuhan Komunikasi antar pemberi pelayanan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional secara tertulis difasilitasi dalam formulir catatan perkembangan pasien terintegrasi. kondisi klinis. Ringkasan asuhan yang diberikan. Komunikasi antar pemberi pelayanan terkait informasi kondisi pasien Komunikasi dan pertukaran informasi diantara dan antara professional kesehatan adalah penting untuk mulusnya proses asuhan. pasien yang akan dirawat. Semua pemberi pelayanan kepada pasien dapat menuliskan hasil pemeriksaan yang dilakukan. Jumlah pasien ruangan saat ini termasuk pasien baru. tertulis atau elektronik. dan pasien meninggal. 3. . Trolley emergency dilakukan pengecekan setiap shiftnya dan diinformasikan pada saat pergantian shift mengenai nomor barkode kunci trolley emergency terbaru. dilakukan pengecekan fungsi setiap shift. Kondisi pasien yang perlu perhatian khusus. meliputi: . Direktur utama c. Diawali dengan serah terima ruangan. pasien pulang. dengan cara apa. Untuk defibrilator. yaitu informasi manajemen ruangan (jumlah perawat yang dinas. diagnosa. Serah terima (operan) pada saat pergantian shift jaga merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien dan manajemen ruangan pada saat pergantian shift jaga. Setiap rumah sakit menentukan informasi apa yang dikomunikasikan. dan rencana asuhan yang selanjutnya akan diberikan kepada pasien. prosedur atau tindakan yang telah dilakukan. Informasi penting dapat dikomunikasikan dengan cara lisan. monitoring kelengkapan alat) dan informasi tentang pasien meliputi: identitas pasien. obat yang diberikan. termasuk defibrilator dan trolley emergency. Hal yang disampaikan antara lain: 1. 1. Pengecekan alat kesehatan dilakukan setiap shift. d. DPJP pasien. tindakan atau asuhan yang diberikan. 2. respon pasien terhadap asuhan.

persiapan untuk konsultasi atau prosedur yang tidak rutin dijalankan. ronde besar. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam serah terima: a) Identitas klien dan diagnosa medis b) Status kesehatan pasien c) Masalah keperawatan yang masih muncul d) Tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (secara umum) e) Respon pasien terhadap tindakan f) Intervensi kolaboratif yang telah dilaksanakan g) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan operatif. luka. akan difasilitasi oleh: 1) Bagian pendidikan dan pelatihan untuk menyiapkan rencana kegiatan dan laporan. Peserta kegiatan kajian ilmiah di bidang kesehatan otak dan persarafan terdiri dari semua tenaga medis: 1) Dokter spesialis. 4) IPSRS untuk menyiapkan ruang pertemuan. Rapat diadakan 3 hari sekali dan dihadiri oleh DPJP. Selanjutnya serah terima pasien berdasarkan catatan perkembangan terintegrasi dan informasi lain terkait kondisi pasien terkini. Jika dianggap perlu peserta lain. Lalu perawat keliling ruangan untuk melihat kondisi pasien. journal reading. penjajakan. serta kebersihan dan kerapihan ruang rawat (SPO serah terima saat pergantiaan shift). meja dan kursi. Hasil rapat akan didokumentasikan di dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi. posisi pasien. e. 2) Bagian penelitian dan pengembangan untuk menyiapkan materi ilmiah yang akan dibahas dan notulen. Untuk kasus pada pasien yang dikelola oleh 4 dokter (1 DPJP) dan 3 dokter rawat bersama) atau lebih. memperhatikan kondisi pasien meliputi keadaan umum. Komunikasi Antara Pemberi Pelayanan dengan Pasien dan Keluarga Secara garis besar. alat invasive yang terpasang. perawat yang mengelola pasien. yang mempunyai kompetensi sesuai dengan bidangnya. Komunikasi antar dokter pemberi pelayanan Komunikasi yang dilakukan antar dokter pemberi pelayanan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dalam bentuk kegiatan kajian ilmiah di bidang kesehatan otak dan persarafan. dokter rawat bersama. 2) Dokter umum. dan tenaga kesehatan lain yang mengelola pasien tersebut. mengenalkan diri kepada pasien akan perawat yang berjaga dan bertanggung jawab pada shift tersebut. pemeriksaan laboratorium/ pemeriksaan penunjang lain. 3) Dokter gigi. infus. 3) Bidang medik menentukan topik kasus sulit yang akan dipresentasaikan serta presentan topik tersebut. pemberian pelayanan informasi dan . Bentuk kajian ilmiah di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional antara lain diskusi kasus. oral hygiene. keluhan. serta sound system. dan presentasi. komunikasi yang dilakukan antar dokter adalah dalam bentuk rapat. 4) Unsur manajemen dan profesional lainnya. proses pelayanan komunikasi informasi dan edukasi terdiri dari fase persiapan. undangan serta absensi. 2.

tidak langsung. dan promosi kesehatan dalam suatu penyuluhan kesehatan dengan cara advokasi. dan konseling. leaflet. informasi dan edukasi dikomunikasikan secara langsung.  Penjajakan meliputi pengkajian pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan. Pemberian edukasi dapat diberikan secara massal seperti seminar. dokter. tidak terganggu orang lalu lalang. .Metode penyampaian dapat dilakukan secara langsung. Pemberian informasi juga diberikan secara situasional. diskusi kelompok. evaluasi. ceramah. Pastikan penerima informasi dan edukasi mampu mengerti bahasa yang digunakan oleh pemberi informasi. Apabila penerima informasi dan edukasi tidak mampu berbahasa Indonesia maka rumah sakit menyediakan tenaga penerjemah untuk mengatasi atau mengurangi dampak dari hambatan dalam memberikan pelayanan (Daftar penerjemah terlampir). perawat. termasuk pengkajian nilai dan budaya pasien yang mungkin mempengaruhi proses asuhan maupun proses pemberian informasi dan edukasi.Materi yang akan disampaikan (bila diagnosis. prognosis sudah disepakati oleh tim) berdasarkan hasil pengkajian kebutuhan edukasi pasien. suara gaduh dari tv / radio. sms. maupun media elektronik ataupun peraga. apabila terjadi keterlambatan hasil penatalaksanaan. bila hanya kelurga yang hadir sebaiknya lebih dari satu orang. . sementara pasien/keluarga harus berkonsentrasi agar pesan diterima dengan baik dan memberikan umpan balik kepada pengirim.Mengetahui orang yang akan hadir (sebaiknya pasien ditemani oleh keluarga atau orang yang ditunjuk. poster. pemberi informasi dan edukasi perlu memastikan bahwa pesan diterima dengan baik menggunakan format dan cara penyampaian yang mudah dimengerti termasuk bahasanya. Informasi dan edukasi diberikan dengan segera jika kondisi dan situasinya memungkinkan. juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos. bulletin.Media penyampaian informasi dan edukasi baik berupa brosur. tindakan dan penerimaan hasil pemeriksaan penunjang. pasien dan keluarga harus diberikan informasi mengenai alas an penundaan dan informasi mengenai alternative yang tersedia sesuai kebutuhan pasien yang akan didokumentasikan di dalam rekam medis. Selain itu edukasi dapat diberikan secara personal oleh petugas informasi atau customer service. serta menanyakan kesediaan pasien untuk menerima informasi dan edukasi yang diberikan. internet. Selama proses ini. . rencana tindak lanjut.  Penyampaian informasi dan edukasi sesuai kebutuhan pasien. facsimile. dan dokumentasi. tindakan medis.Waktu yang cukup . Apabila terjadi penundaan. Umpan balik penting sebagai proses klarifikasi untuk memastikan tidak terjadi salah interpretasi. standing banner. Untuk informasi penting. bina suasana atau gerakan pemberdayaan. memperhatikan privasi. tidak melalui telepon. spanduk.  Persiapan meliputi : .edukasi.telepon .Memfasilitasi penyediaan ruangan yang nyaman. secara massal maupun individu. Pemberi informasi dan edukasi juga harus memperhatikan setiap pernyataan pasien/keluarga dan . dan petugas unit lain di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sesuai dengan kompetensi bidangnya dengan metode Tanya jawab.

Misalnya dalam menginterpretasikan kata “panas’’ Dokter menginformasikan untuk memberikan obat jika pasien panas. 3. 2. jangan bicara sendiri. antara kelompok profesional kesehatan dengan manajemen. pikiran dan perasaannya. unit struktural. antara kelompok profesional dan non profesional. Sebagai pemberi informasi. terapi atau apapun secara jelas dan detil.luruskan persepsi yang keliru. serta dengan pihak luar rumah sakit. dengan cara: . mengklarifikasi maksud pernyataan pasien. yaitu pencatatan hasil dari pelayanan komunikasi informasi dan edukasi yang diberikan 3. yang ingin diketahuinya dan yang akan dijalani/ dihadapanya agar pasien tidak terjebak oleh pikirannya sendiri. Motivasi pasien untuk mengemukakan pendapat. Berikut adalah langkah-langkah dalam penyampaian informasi dan edukasi: 1. Selain itu. yakin bahwa pesan tidak ada terlewat serta lakukan koreksi bila ada salah informasi  Rencana tindak lanjut Jika dari hasil evaluasi didapat bahwa pasien/keluarga tidak memahami edukasi yang diberikan. tunjukkanlah anda menghargai pendapatnya. pemberi edukasi harus proaktif untuk memastikan bahwa pasien/keluarga memahami pesan yang disampaikan. serta mengerti perasaannya. Salam Memberi salam. antara profesional kesehatan dan keluarga.  Evaluasi. maupun klarifikasi terhadap hal- hal yang masih belum jelas serta mengulang kembali akan pesan- pesan kesehatan yang penting. Berikan penjelasan mengenai penyakit. dapat memahami kecemasannya. 4. Gunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam upaya menggali informasi. Jelaskan Berikan penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya. petugas mengajarkan pasien/keluarga menggunakan termometer dan menjelaskan batasan “panas’’ berdasarkan hasil pengukuran suhu dengan termometer. dan antara kelompok profesi. Maka. Petugas perlu mencari cara untuk memastikan bahwa pasien/keluarga memiliki pemahaman akan “panas’’ sama dengan yang dimaksud oleh petugas. Ingatkan Pada bagian akhir percakapan ingatkan pasien untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi yang keliru. .  Dokumentasi.menyapa dan menunjukan bahwa anda bersedia untuk meluangkan waktu berbicara dengan pasien. Pimpinan rumah sakit memahami dinamika komunikasi antar anggota kelompok profesional. Komunikasi Internal dan Eksternal di Rumah Sakit Komunikasi yang efektif di dalam rumah sakit adalah merupakan suatu issue/persoalan kepemimpinan. Lakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar. buat rencana edukasi ulang. Lakukan verifikasi dengan meminta pasien untuk mengulang instruksi. karena kesenjangan informasi dan pengetahuan antara pemberi edukasi dengan pasien/keluarga. Ajak bicara Lakukan komunikasi dua arah.

rencana. 4. Kemampuan menangkap dan memberikan informasi memerlukan perencanaan yang efektif. Komunikasi internal manajemen atau antar program di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dalam bentuk rapat koordinasi yang terdiri dari 2 jenis. komite keperawatan. Undangan. b. Undangan rapat rutin dan non rutin di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Penetapan notulen rapat non rutin berdasarkan kesepakatan rapat. para pimpinan dan manajer rumah sakit. berkesinambungan dan sesuai dengan jadwal rapat koordinasi. Tatacara rapat koordinasi dan komunikasi internal manajemen di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional diatur sebagai berikut: a. Untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan asuhan pasien. c. Perencanaan rumah sakit menggabungkan masukan dari berbagai sumber. termasuk para praktisi kesehatan. Direksi dapat mengadakan rapat sewaktu-waktu diluar jadwal sesuai kebutuhan. b. Rapat rutin yaitu rapat yang dilakukan secara rutin. tim PKRS. Proses manajemen informasi memungkinkan untuk menggabungkan informasi dari unit kerja di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak guna mendukung pengambilan keputusan. Adanya rapat ini dapat menjamin terjadinya proses untuk mengkomunikasikan informasi yang relevan diseluruh rumah sakit secara tepat waktu. Komunikasi dengan Pihak Luar Rumah Sakit . Komunikasi eksternal manajemen juga dilaksanakan dalam bentuk rapat. Penetapan agenda rapat non rutin sesuai dengan kebutuhan. Pimpinan dapat mengkomunikasikan misi dan kebijakan penting. dan tujuan rumah sakit kepada semua staf dalam rapat internal. Rapat Non Rutin yaitu rapat yang dilakukan diluar rapat rutin. sebagai mana tercantum dalam lampiran 7. g. e. Pada setiap rapat harus dibuat daftar hadir dan notulen dan selanjutnya notulen rapat dibagikan kepada semua peserta rapat. Rapat tersebut membicarakan masalah yang berkaitan dengan tujuan/pekerjaan di rumah sakit yang harus dirundingkan/ didiskusikan secara musyawarah antara Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dengan institusi terkait. tim K3 dan lain-lain). f. d. dan notulen rapat rutin dan non rutin disimpan oleh Sub Bagian Tata Usaha dan Pelaporan. Rapat juga digunakan sebagi media komunikasi dalam proses perencanaan rumah sakit informasi dikumpulkan dan digunakan selama asuhan pasien dan untuk mengelola sebuah rumah sakit yang aman dan efektif. yaitu: a. Alur penyelenggaraan rapat eksternal di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sesuai dengan SOP Penyelenggaraan Rapat Eksternal. daftar hadir. pimpinan mengembangkan suatu budaya yang menekankan kerjasama dan komunikasi. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menerapkan metode formal berupa pembentukan komite dan tim (komite medic. dan pihak luar rumah sakit yang membutuhkan data atau informasi tentang operasional dan pelayanan rumah sakit. dibuat tertulis oleh Sub Bagian Tata Usaha dan Pelaporan atas usulan dari unit kerja. sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional guna mendukung integrasi pelayanan dengan mengendalikan manajemen informasi terpadu. Penyediaan fasilitas oleh Sub bagian Tata Usaha berupa konsumsi dan ruangan rapat.

Rumah Sakit harus disesuaikan dengan jenis jaminan pembayaran yang digunakan oleh pasien. b. berapa lama waktu pemeriksaan. sewa lahan. Edukasi kepada pasien dan keluarga Rumah sakit mendidik pasien dan keluarganya sehingga mereka mendapat pengetahuan dan keterampilan untuk berpartisipasi dalam proses dan pengambilan keputusan asuhan pasien. c. Humas Komunikasi yang dilakukan oleh petugas HUMAS di pojok informasi kepada pasien. berpartisipasi dalam asuhan dan mendapatkan asuhan berkelanjutan di rumah. keluarga pasien dan Petugas HUMAS di Bagian Administrasi Umum ke instansi luar yang ingin bekerjasama dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional petugas HUMAS di pojok informasi menangani komplain keluarga pasien dan pasien yang berkaitan dengan jadwal dokter. pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap. obat yang diberikan. Petugas HUMAS di Bagian Administrasi Umum mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan tentang pemasaran. Pada saat melakukan rujukan kerumah sakit luar. Rumah sakit rujukan mengkomunikasikan tentang ketersediaan ruangan. prosedur atau tindakan yang telah dilakukan. hasil laboratorium dan hasil penunjang lainnya. Rumah Sakit Rujukan Komunikasi yang dilakukan pada saat melakukan rujukan kerumah sakit luar antara lain melakukan serah terima pasien dengan menginformasikan identitas pasien. terapi yang diberikan. rumah sakit tujuan rujukan harus disesuaikan dengan jenis jaminan pembayaran yang digunakan oleh pasien. sewa kantin. resume medis. Pendidikan berfokus pada pengetahuan dan keterampilan spesifik yang dibutuhkan pasien dan keluarga dalam mengambil keputusan. dan identitas pemberi informasi. Informasi hasil dikirim melalui internet dan kurir yang langsung mengantarkan ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Laboratorium Luar Komunikasi yang dilakukan oleh laboratorium Rumah Sakit Pusat Otak Nasional ke laboratorium luar melalui telepon dan internet. kondisi klinis. 5. Pasien dan keluarga dimotivasi dan diberi kesempatan untuk memberi pendapat dan mengajukan pertanyaan kepada staf untuk meyakinkan pemahaman yang benar dan meningkatkan partisipasi. Pada saat akan dilakukan proses rujukan. mempertahankan . Laboratorium Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengkomunikasikan jenis sample yang akan dilakukan pemeriksaan di laboratorium terkait. Laboratorium luar menginformasikan hasil. resume keperawatan. Tujuan edukasi adalah untuk meningkatkan status kesehatan. a. berkas yang disertakan antara lain formulir rujukan. parker dan lain sebagainya. pemeriksaan fisik. mencegah timbulnya penyakit dan bertambahnya masalah kesehatan. alas an raawat inap. ketersediaan pelayanan yang akan diakses. dan kebutuhan lebih lanjut. rencana/alasan rujukan. dan apabila ada sampel yang harus diulang. hasil pemeriksaan penunjang.

tingkat pendidikan dan bahasa mereka 3. . Untuk melakukan edikasi RS Pusat Otak Nasional membentuk Tim Pendidikan Pasien dan Keluarga yang bertanggung jawab kepada Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional. Adapun jejaring di Rumah Sakit yang tersedia adalah klub Stroke. Edukasi pasien dan keluarga mencakup topic-topik yang berhubungan dengan pelayanan pasien: kondisi kesehatan dan diagnosa penyakit. keamanan penggunaan obat. manajemen nyeri dan teknik rehabilitasi. Metode edukasi mencakup nilai-nilai yang dipercaya pasien dan keluarga serta pilihan dan memungkinkan adanya interaksi yang cukup diantara pasien. e. 4. d. perawat. Kebutuhan edukasi pasien diperoleh melalui penilaian / asesmen serta analisa kebutuhan yang diperlukan untuk edukasi pasien dan keluarga. Dengan banyaknya staf yang terlibat dalam pemberian edukasi sehingga perlu dikoordinasikan kegiatannya dan fokus pada kebutuhan pembelajaran pasien. Kecakapan baca tulis. 5. c. Proses ini didokumentasikan didalam rekam medis. serta tim kesehatan lainnya. Analisa dan pencatatan setiap kebutuhan pasien akan edukasi dalam rekam medis pasien. pilihan pembelajaran yang tepat. Tim ini terdiri dari dokter. 2. Kemauan pasien untuk menerima informasi. Penyediaan edukasi yang mendukung partisipasi pasien dan keluarga dalam mengambil keputusan dan proses perawatan. Oleh karena itu rumah sakit menfasilitasi kebutuhan pasien dengan mengadakan pendidikan dan pengarahan agar pasien terlibat dalam klub maupun jejaring rumah sakit. Edukasi dan pelatihan yang berkesinambungan untuk membantu memenuhi kebutuhan perawatan pasien. rehabilitasi atau persiapan pasien pulang dan asuhan pasien berkelanjutan. Hal ini akan lebih efektif ketika disesuaikan dengan keyakinan. potensi interaksi obat dan makanan. Hambatan emosional dan kognitif. diantaranya terapi diet. memaksimalkan fungsi peran pasien selama sakit serta mewmbantu pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan. agama. keamanan dan efektifitas penggunaan alat medis. Pasien sering membutuhkan pelayanan tindak lanjut untuk memenuhi kebutuhan kesehatan berkelanjutan. tetapi juga bagaimana pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik. nutrisi. Dapun ruang lingkup dalam pelaksanaan edukasi a. Edukasi diberikan ketika pasien berinteraksi dengan dokter atau perawatnya. Kepercayaan dan nilai-nilai agama yang dianut pasien dan keluarganya. Adapun hal-hal yang mesti dikaji meliputi: 1.derajat kesehatan yang sudah ada. keluarga dan staf untuk menumbuhkan pembelajaran yang dapat dilaksanakan. b. nilai budaya dan kemampuan membaca serta bahasa. Asesmen ini menjelaskan bukan hanya kebutuhan akan pembelajaran. Keterbatasan fisik dan kognitif. begitu juga petugas kesehatan lainnya yang memberikan pendidikan secara spesifik.

dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga dilakukan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu. alat peraga pendidikan. Formulir general consent . Formulir edukasi tindakan bedah . perlu dilakukan verifikasi untuk memastikan pasien dan keluarga menerima dan memahami pendidikan yang diberikan. Formulir penolakan tindakan kedokteran . sound system dan lain- lain. notebook. Formulir persetujuan tindakan kedokteran . BAB IV DOKUMENTASI Semua pelayanan komunikasi informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien terkait pelayanan di rumah sakit harus didokumentasikan. Untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan yang komprehensif. Formulir discharge planning Sedangkan edukasi yang disampaikan terkait keputusan pasien atas pengobatan atau perawatan didokumentasikan di formulir terkait. yaitu: . Setelah edukasi pasien dan keluarga dilakukan. Ditetapkan di : Jakarta . Terdapat formulir khusus untuk mendokumentasikan edukasi topic tertentu yaitu: . LCD. Formulir edukasi tindakan anastesi/sedasi . Pembelajaran akan terlaksana apabila memperhatikan metode yang digunakan untuk mendidik pasien dan keluarga. Verifikasi ini dimuat didalam SAP (Satuan Acara Pembelajaran) dan didokumentasikan di formulir edukasi terintegrasi. Formulir pulang atas permintaan sendiri Selain topic informasi dan edukasi di atas. f. didokumentasikan di formulir edukasi terintegrasi (Terlampir). Rumah sakit menyediakan media sebagai pembelajaran pasien dan keluarga seperti leaflet. Tenaga kesehatan profesional yang memberi pelayanan pasien berkolaborasi dalam memberikan pendidikan.

00 WIB s.30 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lantai 5. Kepala Bidang. Kepala Instalasi dan Kepala Sub Bagian Hari : Rabu Pukul : 09.Para Direktur 2.Para Kepala Bagian/Kepala Bidang 4. Pendidikan dan Penelitian Hari : Selasa Pukul : 08.00 WIB s. Ruang Rapat I Peserta Rapat : 1.00 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Rapat Direksi Hari : Senin Pukul : 09. Jajaran Direktorat SDM.d 10.d 09. Direktur utama 2. Lantai 5.Para Kepala Instalasi 5.d 11. Rapat Koordinasi Direktorat A. 19620913198803100 JADWAL RAPAT INTERNAL DAN EKSTERNAL 1.Pada tanggal : 3 Desember 2014 DIREKTUR UTAMA MURSYID BUSTAMI NIP. Rapat Direksi – Kepala Bagian.00 WIB s.30 WIB .Direktur Utama 2. Ruang Rapat II Peserta Rapat : 1.Para Direktur 3.Para Kepala Subbagian 3.

Kepala SPI 5. Direktur SDM.d 14.Dokter RS (staf Medik Fungsional) . Rapat Direksi – Dokter Hari : Kamis (Minggu III pada I bulan sekali) Pukul : 13.00 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.Para Kepala Instalasi di Direktorat 3. Lantai 5.Para Kepala Bagian/Kepala Bidang 7.Para Ketua Staf Medik Fungsional 8.00 WIB s.Para Kepala Bagian di Direktorat 4. Ruang Rapat II Peserta Rapat : 1.00 WIB s.Direktur Pelayanan 2. Rapat Gabungan Hari : Kamis (Minggu IV pada 3 bulan sekali/sangat diperlukan ) Pukul : 13.Direktur Utama 2. Jajaran Direktorat Pelayanan Hari : Senin Pukul : 13. Ruang Rapat I Peserta Rapat : 1.30 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.Para Kepala Instalasi di Direktorat 3.30 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lantai 5.00 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.d 14.Para Kepala Instalasi di Direktorat 3.Para Direktur 3. Lantai 5.d 15.00 WIB s. Direktur Keuangan dan Admitrasi Umum 2.Para Kepala Bagian di Direktorat B.Para Kepala Sub Bagian di Direktorat 4. Pendidikan dan Penelitian 2.Para Direktur 3. Jajaran Direktorat Keuangan dan Administrasi Umum Hari : Senin Pukul : 13. Ruang Rapat 1 Peserta Rapat : 1. Lantai 5.Direktur Utama 2.Para Kepala Instalasi 6. Lantai 5.Para Ketua Komite 4.00 WIB s. Para Kepala Bidang di Direktorat C.d 15.Para Kepala Sub Bagian 5. Ruang Rapat I Peserta Rapat : 1. Ruang Rapat II Peserta Rapat : 1.

Lantai 5.00 WIB s. Ruang Rapat I Peserta Rapat : 1. Rapat Eksternal : dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan .00 WIB Tempat : Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.d 15.Perawat 7.Direktur Utama 2.6. Rapat Direksi – Perawat Hari : Kamis (Minggu II pada I bulan sekali) Pukul : 13.Para Direktur 3.