You are on page 1of 29

MODUL PEMBELAJARAN PENGAUDITAN 1

MATERIALITAS, RISIKO, DAN STRATEGI AUDIT


PENDAHULUAN

ANNISA ASBABUN NUZUL


A31114026

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016
1 | Page
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga modul Auditing 1 ini yang berjudul Materialitas, Risiko, Dan
Strategi Audit Pendahuluan ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak
lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.

Dan harapan saya semoga modul ini dapat menambah pengetahuan


dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih
baik lagi. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami,
Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu
kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 19 Oktober 2016

Annisa Asbabun Nuzul

2 | Page
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAGIAN 1 TINJAUAN MATA KULIAH 4

BAGIAN 2 PENDAHULUAN
8

BAGIAN 3 MATERI PEMBELAJARAN


9

BAGIAN 4 RANGKUMAN
24

TES FORMATIF

KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

DAFTAR PUSTAKA

3 | Page
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH


Mata kuliah pengauditan I adalah mata kuliah yang
memperkenalkan dasar-dasar pemeriksaan akuntansi (auditing). Materi
yang dibahas pada mata kuliah ini terdiri dari tiga bagian yaitu:
lingkungan pengauditan, perencanaan audit, dan metodologi pengujian
audit. Bagian pertama, Lingkungan Audit membahas tentang
pengauditan dan profesi akuntan publik, audit laporan keuangan dan
tanggung jawab auditor, dan etika profesional. Bagian kedua,
Perencanaan Audit membahas materi: mengenai sasaran, bukti audit,
dan kertas kerja; penerimaan penugasan dan perencanaan audit;
materialitas, risiko, dan strategi audit; serta pemahaman struktur
pengendalian intern. Bagian ketiga, Metodologi Pengujian Audit
membahas tentang penetapan risiko pengendalian dan pengujian
pengendalian; risiko deteksi dan perancangan pengujian substantif;
penggunaan sampling statistik dan sampling nonstatistik; dan terakhir
pengujian substantif.

B. KEGUNAAN MATA KULIAH


Dengan adanya mata kuliah pengauditan 1 ini, mahasiswa
diharapkan mampu untuk melaksanakan proses pengauditan dan
penyusunan laporan auditan suatu entitas secara professional, selain
itu mahasiswa juga diharapkan memiliki kompetensi pendukung seperti
:
1. Mampu membuat prosedur pemeriksaan
2. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
3. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi

Kemampuan untuk bekerja sama, baik sebagai pimpinan maupun


sebagai anggota kelompok (tim audit) juga diharapkan terbentuk
melalui kegiatan selama perkuliahan pengauditan 1.

4 | Page
C. SASARAN BELAJAR
Perkuliahan dilakukan selama 16 kali pertemuan, 2 pertemuan
akan digunakan untuk evaluasi (Mid dan Final) dan 14 pertemuan
didistribusikan sasaran-sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
sebagai berikut :

PERTEMUAN SASARAN PEMBELAJARAN


1 Mampu memahami GBRP dan kerangka
konseptual auditing
Mampu memahami definisi auditing, tipe
2.
audit, dan auditor
Mampu memahami jasa-jasa yang diberikan
oleh KAP
Mampu memahami organisasi yang
berhubungan dengan profesi
Mampu memahami hal-hal yang mendasari
3
audit laporan keuangan
Mampu memahami pihak-pihak yang
berhubungan dengan Auditor Independen
Mampu memahami standar auditing
Mampu memahami laporan auditor dan
tanggung jawabnya
Mampu memahami etika dan moralitas
4 Mampu memahami kode etik AICPA
Mampu memahami kode etik akuntan publik
di Indonesia
Mampu memahami penegakan aturan
Mampu memahami lingkungan yuridis
5 Mampu memahami kewajiban menurut
hukum kebiasaan
Mampu memahami kewajiban menurut
undang-undang pasar modal
Mampu memahami sasaran audit
6. Mampu memahami bukti audit
Mampu memahami prosedur audit
Mampu memahami kertas kerja

5 | Page
Mampu memahami tahap-tahap audit
7
laporan keuangan
Mampu memahami penerimaan penugasan
Mampu memahami perencanaan audit
Mid Semester
8
Mampu memahami materialitas
9 Mampu memahami risiko audit
Mampu memahami startegi audit awal
Mampu memahami definisi pengendalian
10.
intern
Mampu memahami komponen SPT
Mampu memahami tujuan SPT
Mampu memahami risiko pengendalian
11 Mampu memahami uji pengendalian dan
kepatuhan
Mampu memahami pertimbangan lainnya
Mampu memahami risiko deteksi
12 Mampu memahami rancangan uji substansif
Mampu memahami dan mengembangkan
program audit untuk uji substansif
Mampu memahami pertimbangan khusus
dalam rancangan uji substansif
Mampu memahami konsep dasar
13
pengambilan sampel audit
Mampu memahami dan merancang sampel
atribut statistik untuk uji pengendalian
Mampu memahami penyelesaian sampel
atribut statistic dan pengevaluasian hasil
Mampu memahami konsep dasar
14
pengambilan sampel audit
Mampu memahami probabilitas dan
proporsional untuk ukuran pengambilan
sampel
Mampu memahami pengambilan sampel non
statistik dalam uji substansif
Mampu memahami sistem EDP
15 Mampu memahami dampak sistem EDP
terhadap struktur pengendalian intern
Mampu memahami metodologi untuk

6 | Page
menyesuaikan dengan standar pekerjaan
lapangan
Final Test
16

BAGIAN II - PENDAHULUAN
MATERIALITAS, RISIKO, DAN STRATEGI AUDIT
PENDAHULUAN

A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu
untuk :
1. Mampu memahami materialitas
2. Mampu memahami risiko audit
3. Mampu memahami startegi audit awal

B. RUANG LINGKUP BAHAN MODUL

7 | Page
Dibagian awal modul ini akan dijelaskan mengenai apa yang
dimaksud dengan materialitas, menjelaskan risiko audit, dan
mampu menjelaskan tentang strategi-strategi audit awal.

C. MANFAAT MEMPELAJARI MODUL


Manfaat yang akan diperoleh mahasiswa setelah mempelajari modul
ini diantaranya,
1. Mampu menjelaskan materialitas
2. Mampu menjelaskan risiko audit
3. Mampu menjelaskan startegi audit awal

D. URUTAN PEMBAHASAN
1. Materialitas
2. Rosoko audit
3. Strategi audit awal

BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

A. MATERIALITAS

Materialitas mendasari penerapan standar-standar auditing yang


berlaku umum, terutama standar pekerjaan lapangan dan keuangan.
Oleh karena itu, materialitas memiliki dampak yang mendalam pada
audit laporan keuangan. SAS 47, Audit Risk and Materiality in
Conducting an Audit (AU 312.08), menyatalam agar auditor
mempertimbangkan materialitas dalam merencanakan audit dan
mengevaluasi apakah audit laporan keuangan secara keseluruhan
telah disajikan secara wajar dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum.

8 | Page
1. Konsep Materialitas

Financial Accounting Standards Board (FASB) mendefinisikan


materialitas (materiality) sebagai

Besarnya suatu pengabdian atau salah saji informasi


akuntansi yang di luar keadaan di sekitarnya, memungkinkan
bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada
informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh
pengabaian atau salah saji tersebut.

Definisi tersebut mensyaratkan auditor untuk


mempertimbangkan baik situasi yang berkenaan dengan entitas
dan informasi yang dibutuhkan oleh mereka yang akan bergantung
pada laporan keuangan yang diaudit.

2. Pertimbangan Pendahuluan Mengenai Materialitas

Auditor membuat pertimbangan pendahuluan mengenai


tingkat materialitas dalam merencanakan audit. Penilaian ini,
seringkali disebut materialitas perencanaan (planning
materiality) mungkin berbeda dari tingkat materialitas yang
digunakan pada penyelesaian audit dalam mengevaluasi temuan
audit karena situasi yang adal di sekitarnya mungkin akan berubah
dan informasi tambahan mengenai klien akan diperoleh selama
pelaksanaan audit.

Dalam merencanakan suatu audit, auditor harus menilai


materialitas pada dua tingkat berikut:

Tingkat laporan keuangan karena pendapat auditor mengenai


kewajaran meluas sampai laporan keuangan secara
keseluruhan.
Tingkat saldo akun karena auditor menguji saldo akun dalam
memperoleh kesimpulan keseluruhan atas kewajaran laporan
keuangan

3. Materialitas Pada Tingkat Laporan Keuangan


9 | Page
Materialitas laporan keuangan (financial statement
materiality) adalah salah saji agregat minimum dalam suatu laporan
keuangan yang cukup penting untuk mencegah laporan disajikan
secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku
umum. Dalam konteks ini, salah saji mungkin diakibatkan karena
penerapan yang salah dari GAAP, berangkat dari fakta, atau
penghilangan informasi yang diperlukan. Setiap laporan pada
kenyataannya, dapat memiliki beberapa tingkatan. Untuk laporan
laba rugi, materialitas dapat dihubungkan dengan total pendapatan,
laba operasi, laba sebelum pajak, atau laba bersih.

Dalam membuat suatu pertimbangan pendahuluan mengenai


materialitas, auditor mula-mula menentukan tingkat agragate
(keseluruhan) materialitas untuk setiap laporan. Untuk tujuan
perencanaan, auditor harus menggunakann tingkat agregat terkecil
dari salah saji yang dipertimbangkan sebagai material untuk setiap
laporan keuangan. Peraturan keputusan ini tepat karena laporan
keuangan saling berkaitan dan banyak prosedur audit berkaitan
dengan lebih dari satu laporan keuangan.

Pertimbangan pendahuluan auditor mengenai materialitas


seringkali dibuat enam hingga sembilan bulan sebelum tanggal
neraca. Alterrnatif lain, materialitas dapat ditetapkan menurut hasil
keuangan satu tahun yang lalu atau hasil keuangan lebih dari satu
tahun yang lalu yang disesuaikan dengan perubahan-perubahan
pada saat ini, seperti kondisi umum dari ekonomi dan tren industri.

Pertimbangan materialitas melibatkan pertimbangan


kuantitatif dan kualitatif.

4. Materialitas Pada Tingkat Saldo Akun

Materialitas saldo akun (account balance materiality)


adalah salah saji minimum yang dapat muncul dalam saldo akun
hingga dianggap mengandung salah saji material. Konsep
materialitas pada tingkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan

10 | P a g e
dengan istilah saldo akun material. Saldo akun material adalah
besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas
berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi
keputusan pemakai informasi keuangan.

Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan


batas atas lebih saji (overstatement) dalam akun tersebut. Oleh
karena itu, akun dengan saldo yang jauh lebih kecil dibandingkan
materialitas seringkali disebut sebagai tidak material mengenai
risiko lebih saji. Namun, tidak ada batas jumlah kurang saji dalam
suatu akun dengan saldo tercatat yang sangat kecil. Oleh karena itu,
harus disadari oleh auditor, bahwa akun yang kelihatannya bersaldo
tidak material, dapat berisi kurang saji (understatement) yang
melampaui materialitasnya.

5. Mengalokasikan Materialitas Laporan Keuangan Pada


Akun-Akun

Ketika pertimbangan awal auditor tentang materialitas


laporan keuangan dikuantifikasikan, penaksiran awal tentang
materialitas untuk setiap akun dapat diperoleh dengan
mengalokasikan materialitas laporan keuangan kea kun secara
individual.

Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan


kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan
biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

Dalam membuat pertimbangan mengenai materialitas pada


tingkat saldo akun, auditor harus mempertimbangkan hubungan
antara materialitas pada tingkat saldo akun dan materialitas pada
tingkat laporan keuangan, pertimbangan ini harus mengarahkan
auditor untuk merencanakan audit guna mendeteksi salah saji yang
mungkin tidak material secara individual, tetapi apabila diagregasii
dengan salh saji pada saldo akun lainnya, mungkin akan material
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.

11 | P a g e
6. Mengalokasikan Materialitas Laporan Keuangan Pada
Akun-Akun

Ketika pertimbangan pendahuluan auditor mengenai


materialitas laporan keuangan dikuantifikasi, suatu estimasi
pendahuluan mengenai materilaitas setiap akun dapat diperoleh
dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan pada akun-
akun neraca maupun akun-akun laporan laba-rugi. Namun demikian,
karena kebanyakan salah saji pada laporan laba-rugi juga
mempengaruhi neraca, dan karena hanya terdapat sedikit akun
neraca, maka banyak auditor membuat alokasi berdasarkan akun-
akun pada neraca.

7. Hubungan Antara Materialitas dan Bukti Audit

Materialitas adalah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi


pertimbangan auditor mengenai kecukupan (kuantitas yang
diperlukan) bahan bukti. Dalam membuat generalisasi mengenai
hubungan tersebut, perbedaan antara istilah materialitas dan saldo
akun materialitas yang telah disinggung sebelumnya harus tetap
diingat. Sebagai contoh, secara umum adalah benar untuk
mengatakan bahwa semakin rendah tingkat materialitas, semakin
besar jumlah bukti yang diperlukan (hubungan terbalik). Secara
umum juga benar untuk mengatakan bahwa semakin besar atau
semakin signifikan suatu saldo akun, maka semakin besar jumlah
bukti yang diperlukan (hubungan langsung).

B. RISIKO AUDIT

Membuat keputusan mengenai risiko audit merupakan salah satu


langkah kunci yang terlibat dalam melaksanakan audit. Konsep risiko
audit adalah penting sebagai dasar untuk mengekspresikan konsep
keyakinan yang memadai.

Audit Risk and Materiality in Conducting an Audit (SAS No. 47 dan


82), AU 213.02, mendefinisikan risiko audit sebagai berikut:

12 | P a g e
Risiko audit (risk audit) adalah risiko bahwa auditor mungkin
tanpa sengaja telah gagal untuk memodifikasi pendapat secara
tepat mengenai laporan keuangan yang mengandung salah saji
material.

Konsep keseluruhan mengenai risiko audit merupakan kebalikan


dari konsep keyakinan yang memadai. Semakin tinggi kepastian yang
ingin diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat yang benar,
semakin rendah risiko audit yang akan ia terima. Biasanya
pertimbangan profesional berkenaan dengan keyakinan yang memadai
dan keseluruhan tingkat risiko audit dirancang sebagai satu kebijikan
kantor akuntan publik, dann risiko audit akan dapat dibandingkan
antara satu audit dengan audit lainnya.

1. Model Risiko Audit

Dalam menghubungkan komponen-komponen risiko audit,


auditor dapat mengekspresikan setiap komponen dalam istilah
kuantitatif, seperti persentase, atau dalam istilah kuantitatif seperti
sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau maksimum. Model
risiko audit dapat dinyatakan secara kuantitatif sebagai berikut :

AR = IR CR DR

Di mana :

AR = Risiko audit (Audit Risk)

IR = Risiko bawaan (Inherent Risk)

CR = Risiko pengendalian (Control Risk)

DR = Risko deteksi (Detection Risk)

Untuk menggambarkan penggunaan model tersebut,


asumsikan bahwa auditor membuat pertimbangan professional
untuk asersi tertentu, seperti asersi penilaian atau asersi penilaian
atau alokasi untuk piutang usaha sebagai berikut :

13 | P a g e
AR = 5%, IR = 90%, dan CR = 20%

Risko deteksi dapat ditentukan dengan menyelesaikan model


tersebut sebagai berikut :

DR = (AR)/(IR CR)

= 0,05/(0,9 0,2)

= 0,28

2. Matriks Komponen Audit


Beberapa auditor menggunakan ekspresi nonkuantitatif untuk
risiko menggunakan suatu matriks komponen risiko (risk
components matrix) seperti yang ditampilkan gambar di bawah ini :

3. Menilai Komponen Risiko Audit

Dalam rangka untuk mengimplementasikan model ini auditor


harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian risiko
bawaan, risiko pengendalian, dan risiko prosedur analitis.

Risiko Bawaan

14 | P a g e
Statements on Auditing Standards (AU 312.27)
mendefinisikan risiko bawaan sebagai berikut:

Risiko bawaan (inherent risk) adalah kerentanan suatu


asersi terhadap salah saji material dengan mengasumsikan
tidak terdapat pengendalian.

Penilaian risiko bawaan memerlukan pertimbangan


mengenai hal-hal yang mungkin memiliki dampak yang
mendalam terhadap asersi-asersi untuk semua atau banyak akun
dan hal-hal yang hanya berkaitan dengan asersi spesifik untuk
suatu akun spesifik.

Contoh hal-hal yang mungkin memiliki dampak mendalam


termasuk:

Profitabilitas dari entitas secara relatif terdahap industri


Sensitivitas dari hasil operasi terhadap faktor-faktor
ekonomi
Masalah going concern seperti kurangnya modal kerja
Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui dan
kemungkinan salah saji yang terdeteksi dalam audit
terdahulu
Perputaran manajemen, reputasi manajemen, dan keahlian
akuntansi

Dampak dari pengembangan teknologi pada operasi dan


daya saing perusahaan

Hal-hal yang mungkin hanya berkaitan dengan akun-akun


spesifik termasuk:

Akun-akun atau transaksi-transaksi yang sulit untuk diaudit


Masalah akuntansi yang sulit untuk diperdepatkan
Kerentanan terhadap penyalahgunaan
Kompleksitas perhitungan
Luasnya pertimbangan yang berkaitan dengan asersi
Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui an
salah saji yang terdeteksi dalam audit sebelumnya

15 | P a g e
Sensitivitas dari penilaian faktor-faktor ekonomi

Banyak dari item-item tersebut yang menunjukkan


kompleksitas bawaan dan ketidakpastian yang terlibat dalam
proses akuntansi yang spesifik terhadap saldo akun tertentu atau
siklus transaksi.

Risiko bawaan dapat lebih besar untuk beberapa asersi


daripada untuk asersi-asersi lainnya. Risiko bawaan muncul
secara independent dari audit laporan keuangan. Oleh karena itu,
auditor tidak dapat mengubah tingkat actual dari risiko bawaan.
Akan tetapi, auditor dapat mengubah tingkat risiko bawaan yang
dinilai.

Risiko Pengendalian

Statements on Auditing Standards (AU 312.27)


mendefinisikan risiko pengendalian sebagai berikut:

Risiko pengendalian (control risk) adalah risiko bahwa


salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi
tidak akan dapat dicegah atau dideteksi dengan tepat
waktu oleh pengendalian intern entitas.

Risiko pengendalian adalah suatu fungsi dari efektivitas


pengendalian intern klien. Pengendalian intern yang efektif atas
suatu asersi akan mengurangi risiko pengendalian, sementara
pengendalian intern yang tidak efektif meningkatkan risiko
pengendalian. Risiko pengendalian tidak dapat ditetapkan nol
karena pengendalian intern tidak dapat menyediakan keyakinan
yang lengkap bahwa semua salah saji yang material akan
dicegah atau dideteksi.

Risiko Deteksi

Pernyataan Standar Auditing (AU 312.27) mendefinisikan


risiko audit sebagai berikut:

16 | P a g e
Risiko deteksi (detection risk) adalah risiko bahwa
auditor tidak akan mendeteksi salah saji material yang ada
dalam suatu asersi.

Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi


dari risiko prosedur analitis dan risiko pengujian terinci. Dalam
menentukan risiko deteksi auditor juga harus
mempertimbangkan kemungkinan akan membuat suatu
kekeliruan.

Dalam perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang


direncanakan dapat diterima untuk prosedur analitis dan
pengujian terinci ditentukan untuk setiap asersi yang signifikan
dengan menggunakan model risiko audit.

4. Risiko Audit Pada Tingkat Laporan Keuangan Dan


Tingkat Saldo Akun

Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan


tentang ketepatan informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan
keuangan mengharuskan auditor mempertimbangkan baik
materialitas maupun risiko audit, tanpa disadari, tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya, atau suatu laporan keuangan
yang mengandung salah saji material. Risiko audit, seperti
materialitas, dibagi menjadi dua bagian :

a. Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan


keuangan sebagai keseluruhan.

b. Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo


akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

Risiko Audit Keseluruhan (Overall Audit Risk)

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus


menentukan risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang
merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor

17 | P a g e
dalam menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar,
padahal kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji
material.

Risiko Audit Individual

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun


secara individual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan
kepaada akun-akun yang berkaitan. Risiko audit individual perlu
ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat
penting karena besar saldonya atau frekuensi transaksi perubahan.
Dari pengalaman audit di tahun sebelumnya, auditor dapat
menaksir risiko audit atas akun tertentu.

5. Hubungan Antara Risiko Audit dan Bukti Audit

Seperti materialitas, risiko juga salah satu faktot yang


mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai kecukupan bahan
bukti. Dalam membuat generalisasi mengenai hubungan tersebut,
perhatian perlu diberikan dalam menspesifikasikan istilah risiko di
mana suatu generalisasi sedang dilakukan.

Terdapat suatu hubungan terbalik antara risiko audit dan


jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor
atas laporan keuangan. Untuk klien tertentu, semakin rendah
tingkat risiko audit yang ingin dicapai, semakin besar jumlah bukti
yang diperlukan. Hubungan terbalik ini juga berlaku bagi komponen
risiko deteksi. Untuk asersi tertentu, semakin rendah tingkat yang
dapat diterima dari risiko prosedur analitis atau risiko pengujian
terinci yang ditentukan oleh auditor, maka semakin besar
kecukupan dan kompetensi pengujian substansial yang diperlukan
untuk membatasi risiko deteksi keseluruhan pada tingkat tersebut.

Akan tetapi, harus diakui bahwa, menurut GAAS adalah tidak


tepat bagi auditor untuk menyimpulkan bahwa risiko bawaan dan

18 | P a g e
risiko pengendalian sangat rendah sehingga tidak perlu untuk
melaksanakan pengujia substantif atas semua asersi yang
berhubungan dengan akun. Beberapa bukti harus selalu diperoleh
melalui pengujian substantif untuk setiap saldo akun yang
signifikan, walaupun tidak perlu untuk setiap asersi yang berkaitan
dengan akun.

6. Hubungan Timbal Balik Antara Materialitas, Risiko


Audit, dan Bukti Audit

Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti


audit, dan risiko audit digambarkan sebagai berikut :

a. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat


meterialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti
audit yang dikumpulkan.
b. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan
mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit
menjadi meningkat.
c. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit,
auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
Menambah tingkat meterialiras, sementara itu
mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan,
sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan
dan tingkat materialitas secara bersama-sama.
7. Peringatan Akan Adanya Risiko Audit
Secara periodik, staf AICPA dalam berkonsultasi dengan
Auditing Standards Board, menerbitkan peringatan akan adanya
risiko audit (audit risk alerts). Tujuan mereka adalah memberikan
suatu tinjauan mengenai perkembangan ekonomi baru-baru ini
kepada auditor, perkembangan profesional dan perkembangan
peraturan yang mungkin akan mempengaruhi audit untuk klien
dalam banyak industri. Selain peringatan akan adanya risiko audit
umum, baru-baru ini diterbitkan peringatan berkenaan dengan
perkembangan yang berhubungan dengan industri tertentu.

19 | P a g e
C. STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN

Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan proses


audit adalah mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah
untuk mendukung pendapatnya, apakah dalam semua hal yang
material, laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan
prinsip akuntansi nberterima umum. Tujuan ini dicapai dengan
mengumpulkan bukti audit tentang asersi yang terdapat dalam laporan
keuangan yang disajikan oleh manajemen.

Strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi


individual atau sekelompok asersi. Strategi audit awal dibagi menjadi
dua macam: pendekatan terutama substantif (primarily substantive
approach), dan pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah
(lower assessed level of control risk approach).

1. Komponen Strategi Audit Pendahuluan


Komponen Strategi Audit Pendahuluan

Dalam mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk


asersi-asersi, auditor menspesifikasikan komponen sebagai
berikut :

a. Tingkat risiko bawaan yang dinilai


b. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai
dengan mempertimbangkan :
Luas pemahaman mengenai pengendalian intern yang
diperoleh
Pengujian pengendalian yang dilaksanakan dalam
mengukur risiko pengendalian
c. Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk
dinilai dengan mempertimbangkan:
Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yang
diperoleh
Prosedur analitis yang akan dilaksanakan yang
menyediakan bukti mengenai penyajian wajar dari suatu
asersi

20 | P a g e
2. Suatu Pendekatan Substantif Utama dengan Penekanan
terhadap Pengujian Terinci

Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan


pada pengujian terinci, auditor menspesifikasikan komponen-
komponen strategi audit sebagai berikut:

Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan


untuk diniai pada tingkat yang tinggi.
Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan utnuk
dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat
maksimum).
Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum
mengenai bagian-bagian yang relevan dari pengendalian
intern.
Rencakan sedikit, jika ada, pengujuan pengendalian.

Rencakan pengujian substantif yang luas atas transaksi dan


saldo berdasarkan pada tingkat risiko deteksi yang
direncanakan dapat diterima yang rendah.

3. Suatu Tingkat Risiko Pengendalian yang Dinilai Lebih


Rendah

Menurut pendekatan tingkat risiko pengendalian yang dinilai


lebih rendah, auditor menspesifikasikan komponen-komponen dari
strategi audit sebagai berikut:

Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan


untuk dinilai pada tingkat yang tinggi.
Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk
dinilai pada tingkat sedang atau rendah.
Rencanakan pengujian pengendalian, mungkin pengujuan
pengendalian komputer yang berada dalam sistem klien.

21 | P a g e
Rencakan pengujian substantif atas transaksi atau saldo yang
terbatas berdasarkan tingkat risiko deteksi yang direncanakan
untuk diterima pada tingkat sedang atau tinggi.

Pebandingan Dua Strategi Audit Tersebut

Pendekatan Terutama Pendekatan Risiko


Substantif Pengendalian Rendah
Auditor merencanakan
Auditor merencanakan
taksiran resiko pengendalian
taksiran resiko pengendalian
pada tingkat maksimum atau
pada tingkat rendah
mendekati maksimum
Auditor merencanakan Auditor merencanakan
prosedur yang kurang ekstentif prosedur yang lebih ekstentif
untuk memperoleh untuk memperoleh
pemahaman atas pemahaman atas
pengendalian intern pengendalian intern
Auditor merencanakan sedikit, Auditor merencanakan
jika ada, pengujian pengujian pengendalaian
pengendalaian. secara luas
Auditor merencanakan akan Auditor merencanakan akan
melakukan pengujian membatasi penggunaan
substantif secara luas pengujian substantif

4. Strategi Audit Tambahan

Tantangan dalam merencanakan strategi audit adalah bahwa


model risiko audit bukan model yang memiliki dua dimensi. Pilihan
auditor tidak hanya bergantung pada pengendalian intern atau
untuk melakukan pengujian secara substantif. Komponen model
risiko audit yang penting lainnya melibatkan prosedur analitis.

a. Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan Pada Prosedur


Analitis

Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan


pada prosedur analitis, auditor menspesifikasikan komponen-
komponen strategi audit berikut:

22 | P a g e
Memperoleh pengetahuan yang luas mengenai proses bisnis
klien yang releven dengan asersi.
Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti
kompeten dari prosedur analitis untuk mendukung suatu
penilaian risiko sedang atau rendah dari bukti tersebut.
Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan
untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat
maksimum)
Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum
mengenai bagian relevan dari pengendalian intern.
Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum
mengenai bagian relevan dari pengendalian intern.
Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.

Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo


yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko
yang diberikan dari pengurangan risiko yang diberikan
prosedur analitis.

b. Penekanan pada Risiko Bawaan dan Prosedur Analitis

Penekanan pada risiko bawaan dan prosedur analitis juga


mengasumsikan bahwa prosedur analitis lebih murah daripada
prosedur audit lainnya. Oleh karena itu, menurut pendekatan
audit ini auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi
audit sebagai berikut:

Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.


Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan
untuk dinilai serendah mungkin.
Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan
untuk dinilai pada tingkat yang tinggi (atau pada tingkat
maksimum).
Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum
mengenai bagian yang relevan dari pengendalian intern.
Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.

23 | P a g e
Rencanakan pengujian substantive atas transaksi dan saldo
yang lebih sempit sebagai akibat dari pengurangan risiko
yang diberikan dari pengurangan risiko bawaan dan
prosedur analitis yang lebih rendah.

5. Hubungan Antara Strategi Dan Siklus Transaksi

Seringkali suatu strategi yang serupa diterapkan pada


sekelompok asersi yang dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam
suatu siklus transaksi. Logikanya adalah bahwa banyak
pengendalian intern berfokus pada pemrosesan satu jenis transaksi
dalam satu siklus. Meskipun, kantor akuntan menggunakan nama
yang berbeda untuk golongan transaksi, dan dalam beberapa kasus
bahkan berbeda dalam menspesifikasikan golongan transaksi mana
yang masuk dalam siklus tertentu.

Siklus Golongan transaksi


Pendapatan Penjualan,penerimaan kas, penyesuaian
penjualan
Pengeluaran Pembelian dan pengeluaran kas
Jasa personil Penggajian
Produksi Memproses persediaan
investasi Investasi dalam aktiva tetap jangka panjang
atau investasi moneter dari kelebihan
Pembiayaan Pembiayaan dari hutang lancar dan hutang
jangka panjang, serta modal saham

24 | P a g e
BAGIAN IV
RANGKUMAN

Materialitas merupakan pertimbangan utama dalam penerimaan


jenis laporan audit yang tepat untuk diterbitkan. Tanggung jawab auditor
adalahmenentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan
penyajian yangmaterial. Alasan penetapan suatu pertimbangan awal
tentang tingkat materialitas adalah untuk membantu auditor
merencanakan bukti-bukti audit yang memadaiyang harus
dikumpulkan.Materialitas dibagi menjadi dua golongan yaitu materialitas
padatingkat laporan keuangan dan materialitas pada tingkat saldo akun.
SedangkanRisiko audit juga digolongkan menjadi dua yakni risiko audit
keseluruhan danrisiko audit individual.

Dalam hal ini risiko audit terdiri dari tiga unsur (1) risiko bawaan,
yakni kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap
suatusalah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan
dan prosedurstruktur pengendalian intern yang terkait, (2) risiko
pengendalian, yakni risikoterjadinya salah saji material dalam suatu asersi
yang tidak dapat dicegah ataudideteksi secara tepat waktu oleh struktur
pengendalian intern entitas dan (3)risiko deteksiadalah risiko sebagai
akibat auditor tidak dapat mandeteksi salah sajimaterial yang terdapat
dalam suatu asersi.Adanya hubungan antara tingkat materialitas, risiko
audit dan buktiaudit, auditor dapat memilih strategi audit awal dalam
perencanaan audit atasasersi individual atau kelompok asersi.

25 | P a g e
TES FORMATIF

1. Apa yang dimaksud dengan materialitas?


2. Mengapa auditor harus memiliki pengetahuan tentang materialitas?
3. Apa dasar-dasar pertimbangan untuk evaluasi tingkat materialitas?
4. Dalam merencanakan suatu audit, auditor harus menilai dua tingkat
materialitas, sebutkan!
5. Jelaskan hubungan materialitas dengan bukti audit !
6. Jelaskan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit !
7. Jelaskan hubungan Antara Strategi Dan Siklus Transaksi!

KUNCI TES FORMATIF

26 | P a g e
1. Materialitas adalah Besarnya suatu pengabdian atau salah saji
informasi akuntansi yang di luar keadaan di sekitarnya, memungkinkan
bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung pada informasi
tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah
saji tersebut.
2. Karena hal itu berhubungan dengan tanggung jawab pekerjaan auditor.
Tanggung jawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan
mengandung kesalahan penyajian yang material. Jika auditor
memutuskan bahwa terdapat suatu salah saji yang material, maka ia
akan menunjukkannya kepada sang klien sehingga suatu koreksi atas
kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan, maka suatu
pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar harus
diterbitkan.
3. Laba bersih sebelum pajak umumnya merupakan dasar pertimbangan
utama yang dipergunakan untuk menentukan tingkat materialitas
karena item ini dianggap sebagai item penting dalam penyediaan
informasi kepada para pengguna laporan. Sebagai tambahan dalam
membangun suatu dasar pertimbangan, merupakan hal yang penting
pula untuk memutuskan apakah kesalah saji yang ada secara material
dan dapat mempengaruhi kewajaran dari berbagai dasar pertimbangan
lainnya yang mungkin dipilih seperti aktiva lancar, total aktiva,
kewajiban lancar dan modal pemegang saham.
4. Dalam merencanakan suatu audit, auditor harus menilai materialitas
pada dua tingkat berikut:
Tingkat laporan keuangan karena pendapat auditor mengenai
kewajaran meluas sampai laporan keuangan secara
keseluruhan.
Tingkat saldo akun karena auditor menguji saldo akun dalam
memperoleh kesimpulan keseluruhan atas kewajaran laporan
keuangan
5. Materialitas adalah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi
pertimbangan auditor mengenai kecukupan (kuantitas yang
diperlukan) bahan bukti. Dalam membuat generalisasi mengenai
hubungan tersebut, perbedaan antara istilah materialitas dan saldo
akun materialitas yang telah disinggung sebelumnya harus tetap

27 | P a g e
diingat. Sebagai contoh, secara umum adalah benar untuk mengatakan
bahwa semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah
bukti yang diperlukan (hubungan terbalik). Secara umum juga benar
untuk mengatakan bahwa semakin besar atau semakin signifikan suatu
saldo akun, maka semakin besar jumlah bukti yang diperlukan
(hubungan langsung).
6. Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan
risiko audit digambarkan sebagai berikut :
a. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat
meterialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti
audit yang dikumpulkan.
b. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan
mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit
menjadi meningkat.
c. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit,
auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :
Menambah tingkat meterialiras, sementara itu
mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan.
Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan,
sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan.
Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan
dan tingkat materialitas secara bersama-sama.
7. Hubungan Antara Strategi Dan Siklus Transaksi : Seringkali suatu
strategi yang serupa diterapkan pada sekelompok asersi yang
dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam suatu siklus
transaksi. Logikanya adalah bahwa banyak pengendalian intern
berfokus pada pemrosesan satu jenis transaksi dalam satu siklus.
Meskipun, kantor akuntan menggunakan nama yang berbeda
untuk golongan transaksi, dan dalam beberapa kasus bahkan
berbeda dalam menspesifikasikan golongan transaksi mana yang
masuk dalam siklus tertentu.

28 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Rajoe Paul A, Gania Gina, Sumiharti Yati (Penerjemah). 2002. Modern


Auditing edisi ketujuh. Jakarta : PT. Erlangga

http://rudiirawantofeuh.blogspot.com/2014/04/materialitas-risiko-audit-
strategi.html

29 | P a g e