APENDISITIS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit inflamasi pada system pencernaan sangat banyak, diantaranya appendisitis dan
divertikular disease. Appendisitis adalah suatu penyakit inflamasi pada apendiks diakibanya
terbuntunya lumen apendiks. Divertikular disease merupakan penyakit inflamasi pada saluran
cerna terutama kolon. Keduanya merupakan penyakit inflamasi tetapi penyebabnya berbeda.
Appendisitis disebabkan terbuntunya lumen apendiks. dengan fecalit, benda asing atau karena
terjepitnya apendiks, sedang diverticular disebabkan karena massa feces yang terlalu keras dan
membuat tekanan dalam lumen usus besar sehingga membentuk tonjolan-tonjolan divertikula
dan divertikula ini yang kemudian bila sampai terjepit atau terbuntu akan mengakibatkan
diverticulitis.
Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara berkembang,
namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus
tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan
perubahan pola makan, yaitu Negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat.
Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas,
dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada
menjelang dewasa. Sedangkan insiden diverticulitis lebih umum terjadi pada sebagian besar
Negara barat dengan diet rendah serat. Lazimnya di Amerika Serikat sekitar 10%. Dan lebih dari
50% pada pemeriksaan fisik orang dewasa pada umur lebih dari 60 tahun menderita penyakit ini.
Apendisitis termasuk penyakit yang dapat dicegah apabila kita mengetahui dan mengerti
ilmu tentang penyakit ini. Seorang perawat memiliki peran tidak hanya sebagai care giver yang
nantinya hanya akan bisa memberikan perawatan pada pasien yang sedang sakit saja. Tetapi,
perawat harus mampu menjadi promotor, promosi kesehatan yang tepat akan menurunkan
tingkat kejadian penyakit ini.
Sehingga makalah ini di susun agar memberi pengetahuan tentang penyakit apendisitis
sehingga mahasiswa calon perawat dapat lebih mudah memahami tentang pengertian, etiologi,
patofisiologi, tanda dan gejala, asuhan keperawatan, penatalaksanaan medis pada pasien dengan
apendisitis.

1.2 Rumusan Masalah
1 Bagaimanakah konsep apendisitis ?
2 Bagaimanakah proses asuhan keperawatan pada apendisitis ?

1.3 Tujuan
1.3.2 Tujuan umum
Menjelaskan konsep dan proses asuhan keperawatan pada apendisitis.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi definisi dari apendisitis

2. Mengidentifikasi etiologi dari apendisitis

3. Mengidentifikasi patofisiologi dari apendisitis

4. Mengidentifikasi manifestasi klinis dari apendisitis

5. Mengidentifikasi proses keperawatan dari apendisitis

1.4 Pembatasan Masalah
Pada penyusunan makalah ini penulis hanya melakukan studi perpustakaan dan asuhan
keperawatan berdasarkan teori mengenai apendisitis secara umum. Apendisitis yang dibahas
hanya mengenai definisi, penyebab, pathway, terapi medis dan asuhan keperawatan yang
berdasarkan analisa NANDA, intervensi (NIC) dan Tujuan (NOC) terhadap apendisitis.

1.5 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusa masalah
1.3 Tujaun
1.3.1 Tujuan Umum
1.3.2 Tujuan Khusus
1.4 Pembatasan Masalah
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
2.2 Penyebab
2.3 Pathway
2.4 Manifestasi Klinis
2.5 Klasifikasi Apendisitis
2.6 Terapi Medis
BAB III : PENGKAJIAN
3.1 Anamnesa
3.2 Pemeriksaan Fisik
3.3 Pemeriksaan Penunjang
3.4 Analisa Data
3.5 Diagnosa Keperawatan Menurut NANDA
3.6 Tujuan Keperawatan Menurut NOC
3.7 Intervensi Keperwatan Menurut NIC
3.8 Evaluasi
BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Rencana Tindak Lanjut

BAB II
TUJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan
dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan
penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi,
dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim,
Apendisitis, 2007)
Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi
dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston,1995) .
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi
terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah
abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa
menyebabkan inflamasi(Wilson&Goldman,1989).
Apendisitis adalah inflamasi vermiformis (umbai cacing) paling sering pada penyakit
bedah abdomen mayor dan fatal bila tidak ditangani akan timbul gangren dan perforasi dalam 36
jam (kimberly,2007)

2.2 Penyebab
Beberapa yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan pada
apendisitis diantaranya:
1. Benda asing
2. neuplasma
3. Ulserasi mukosa
4. Massa feses
5. Striktur
6. Barium mealinfeksi virus.

2.4 Manifestasi Klinis

1. Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah

2. Anoreksia

3. Mual dan Muntah,(tanda awal yang umum, kuramg umum pada anak yang lebih besar).

4. Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis.

5. Nyeri lepas.

6. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.

7. Konstipasi.

8. Diare.
9. Disuria.

10. Iritabilitas.

11. Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah
munculnya gejala pertama.

2.5 Klasifikasi Apendisitis
2.5.1 Apendisitis akut

Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya
adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
1. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
2. Fekalit
3. Benda asing
4. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar
dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan
tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga
terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks.
Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain
yang kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks.

2.5.2 Apendicitis Purulenta (Supurative Appendicitis)

Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya
aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat
iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam
dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi
eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam
lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti
nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan
pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum.
2.5.3 Apendisitis kronik

Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat
nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan
mikroskopik, dan keluhan menghilang setelah apendektomi.

Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks,
sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan
infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.

2.5.4 Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut
kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan
akut. Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun,
apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut.
Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya
dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita datang
dalam serangan akut.

2.6 Terapi Medis
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer :
2.6.1 Sebelum operasi
1. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
2. Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
3. Rehidrasi
4. Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
5. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk
membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi
tercapai.
6. Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
2.6.2 Operasi
1. Apendiktomi.
2. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen dicuci dengan
garam fisiologis dan antibiotika.
3. Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau abses mungkin
memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses
dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
2.6.3 Pasca operasi
1. Observasi TTV.
2. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
3. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
4. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien dipuasakan.
5. Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus
kembali normal.
6. Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. Keesokan
harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak.
7. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit.
8. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
9. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan :
1. Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
2. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda
peritonitis
3. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri.
Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena
dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan harus
dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada
apendisitis sederhana tanpa perforasi .
Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan :
1. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi lagi.
2. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa
dengan jelas dan nyeri tekan ringan.
3. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di
tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-
lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit
perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa
peritonitis umum.

BAB III
PENGKAJIAN
3.1 Anamnesa
Dari data demografi kita akan mengetahui mengenai Nama, Umur : sering terjadi
pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun, Jenis kelamin, Status perkawinan, Agama,
Suku/bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Pendapatan, Alamat, Nomor register.

Wawancara dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai
Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan
bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri
di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan
terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai
biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.

Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan
klien sekarang. Diet, kebiasaan makan makanan rendah serat, Kebiasaan eliminasi.

3.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik klien apendisitis akan menemukan:
1. Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/ berat.
2. Sirkulasi : Takikardia.
3. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
4. Aktivitas/istirahat : Malaise.
5. Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
6. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada
bising usus.
7. Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena
berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah
karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
8. Demam lebih dari 38oC.
9. Data psikologis klien nampak gelisah.
10. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
11. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri
pada daerah prolitotomi.
12. Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
3.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat di berikan pada klien apendisitis:
1. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal
atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum).
2. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat.
3. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
4. Peningkatan leukosit, neutrofilia, tanpa eosinofil.
5. Pada enema barium apendiks tidak terisi.
6. Ultrasound: fekalit nonkalsifikasi, apendiks nonperforasi, abses apendiks.

3.4 Analisa Data

Data Subyektif Data Obyektif
1. Rasa sakit di epigastrium atau daerah 1. Nyeri tekan titik MC.Burne
2. Bising usus meningkat, perut kembung
periumbilikus kemudian menjalar ke bagian
3. Suhu meningkat, nadi cepat
perut bawa 4. Hasil leukosit meningkat 10.000 – 12.000
2. Rasa sakit hilang timbul
/ui dan 13.000/ui bila sudah terjadi perforasi
3. Mual, muntah
4. Diare atau konstipasi
5. Tungkai kanan tidak dapat diluruskan
6. Rewel dan menangis
7. Lemah dan lesu
8. Suhu tubuh meningkat

3.5 Diagnosa Keperawatan Menurut NANDA
Berdasarkan data-data hasil pengkajian, diagnose keperawatan yang biasanya muncul pada
klien dengan appendicitis adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya continuitas jaringan/insisi bedah ; Trauma
jaringan ; Dstensi jaringan usus oleh inflamasi.
2. Aktual / Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah ; Kehilangan
volume cairan secara aktif ; Kegagalan mekanisme pengaturan ; Pembatasan pasca
operasi (puasa).
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan
Ingesti ; Digesti ; Absorbsi.
4. Cemas berhubungan dengan Perubahan status kesehatan ; Kemungkinan dilakukannya
operasi.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak adekuatnya pertahanan tubuh ; Prosedur
invasive (insisi bedah).
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpaparnya informasi ; Keterbatasan
kognitif.
3.6 Tujuan Keperawatan Menurut NOC
1 Mengurangi/penegndalian nyeri
2 Mempertahankan keseimbangan cairan
3 Memenuhi kebutuhan nutrisi
4 Mengurangi kecemasan
5 Menghindari infeksi
6 Memberikan pendidikan kesehatan

3.7 Intervensi Menurut NIC
1. Mengurangi/pengendalian nyeri
 Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif meliputi lokasi, keparahan.
 Observasi ketidaknyamanan non verbal
 Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat pasien untuk memenuhi
kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak
terburu-buru.
 Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan.
 Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai saat nyeri.
 Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic.
2. Mempertahankan keseimbangan cairan
 Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
 Monitor vital sign dan status hidrasi.
 Monitor status nutrisi
 Awasi nilai laboratorium, seperti Hb/Ht, Na+ albumin dan waktu pembekuan.
 Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi.
 Atur kemungkinan transfusi darah.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
 Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
 Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
 Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
 Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah.
 pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan.
4. Mengurangi kecemasan
 Memberikan informasi kepada klien mengenai prosedur dan tujuan dilakukan tindakan
pembedahan.
 Brbincang dengan klien mengenai apa yang akan dikerjakan.
 Menggunakan pendekatan yang tenang untuk meyakinkan klien.
 Memotivasi keluarga untuk selalu menemani klien.
5. Menghindari infeksi
 Melakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic.
 Mengobservasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi.
 Memberikan antibiotic sesuai indikasi.
6. Memberikan pendidikan kesehatan
 Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya.
 Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang tindakan dan perkembangan kondisi
klien.
3.8 Evaluasi
1. Melaporkan berkurangnya nyeri
 Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
 Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat
2. Cairan tubuh seimbang
 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal.
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
 Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab.
 Tidak ada rasa haus yang berlebihan
3. Nutrisi terpenuhi
 Mempertahankan berat badan.
 Toleransi terhadap diet yang dianjurkan.
 Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi.
 Turgor kulit baik.
4. Kecemasan berkurang
 Klien tampak tenang
 Klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
5. Menunjukan tidak ada tanda infeksi
 Luka sembuh tanpa tanda infeksi
 Cairan yang keluar dari luka tidak purulen
6. Menyatakan pemahaman tentang penyakit dan prosedur tindakan yang akan dilakukan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
(apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu
itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari
bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan
terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak
mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain:
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya continuitas jaringan/insisi bedah.
2. Aktual / Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah , Kehilangan volume
cairan secara aktif
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan Ingesti
; Digesti ; Absorbsi
4. Cemas berhubungan dengan Perubahan status kesehatan.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan Kurang terpaparnya informasi.

4.2 Rencana Tindak Lanjut
Berikan pasien dan orang terdekat informasi verbal dan tertulis mengenai hal berikut :
1. Obat-obatan, termasuk nama obat, tujuan, dosis, jadwal, kewaspadaan, interaksi obat-obatan dan
makanan/obat dan potensial efek samping
2. Perawatan insisi, termasuk penggantian balutan dan pembatasan mandi bila tepat
3. Indikator-indikator infeksi : demam, mengigil, nyeri insisi, kemerahan, bengkak dan keluar
drainase purulent
4. Kewaspadaan pasca bedah : menghindari mengangkat objek berat (.>4,5 kg) selama 6 minggu
pertama.
5. Menghindari enema untuk beberapa minggu pascaoprasi. Waspadakan pasien tentang perlunya
memeriksa pada dokter sebelum melakukan enema.

DAFTAR PUSTAKA

Kowalaka,dkk.2012.Buku Ajar Patofisiologi.Jakarta:Penerbit EGC
Kimberty.A.J.2012.Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperwatan.
Jakarta:Penerbit EGC
Smeitzer,suzanne.c.brenda.2006.Buku Ajar Keperwatan Medikal Bedah Edisi 8.Jakarta: Penerbit EGC
Gleadle,Jonathan.2007.At a Gleance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta :Penerbit Erlangga
Wilkinson,Judith M.2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta :Penerbit EGC
Doenges,Marilynn E.2005.Rencana Asuhan Keperwatan.Jakarta:Penerbit EGC
Perry & Potter. 2006. Fundamental Keperawatan volume 2. Jakarta :Penerbit EGC.
Herdman.T.Heather.2012.Nanda Internasional Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-
2014.Jakarta: Penerbit EGC
Welsby P.D.2010.Pemeriksaan Fisik dan Anamnesa Klinis.Jakarta: Penerbit EGC