PERCOBAAN VI

STOIKIOMETRI KOMPLEKS AMIN-TEMBAGA

I. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk menentukan

rumus molekul kompleks amin-tembaga (II).

II.Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2016
Waktu : 08.00 – Selesai
Tempat : Laboratorium Kimia Lanjut FKIP UNTAD

III. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah

sebagai berikut:
a. Alat b. Bahan
1. Gelas ukur 25 mL 1. Larutan HCl 0,05 M
2. Gelas kimia 2. Larutan NaOH 0,1 N
3. Erlenmeyer 100 mL 3. Larutan H2C2O4 0,1 M
4. Klem dan statif 4. Larutan Cu2+ 0,1 M
5. Buret 5. Larutan NH3 0,1 M
6. Stopwacth 6. Kloroforn
7. Corong pisah ` 7. Indikator MO
8. Pipet tetes 8. Indikator PP
9. Botol semprot

Larutan berwarna merah muda . 10 mL NH3 1 M + 10 mL aquades + dimasukkan dalam corong .Larutan bening indikator PP b. Standarisasi HCl muda a.Larutan bening b.1 M + .Larutan keruh pisah + dikocok 15 menit b. Perlakuan (a) + indikator PP VHCl = 15.Terbentuk 2 lapisan + dikocok 30 menit lapisan atas : NH3 dan air c.Larutan bening V NH3 = 1 mL 2. Hasil Pengamatan Hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini adalah sebagai berikut: N Perlakuan Hasil pengamatan o 1. 10 mL larutan HCl . Perlakuan (a) + dititrasi dengan larutan NaOH . Perlakuan (a) + 25 mL kloroform . 10 mL larutan H2C2O4 0. Standarisasi NaoH a.6 mL PP b. 10 mL larutan NaOH + indikator VNaOH = 14. Standarisasi NH3 muda a.Larutan berwarna merah larutan HCl 3.Larutan bening a. Standarisasi Larutan 1. Penentuan koefisien distribusi Amonia antara air dan kloroform .2 mL dititrasi dengan larutan NH3 . Perlakuan (a) + dititrasi dengan .IV. Perlakuan (b) + didiamkan lapisan bawah : kloroform .Larutan berwarna merah 2.

Perhitungan a. Perlakuan (c) + dipisahkan ambil . Perlakuan (c) + diambil lapisan dan air bawah (kloroform) + aquades 10 .Larutan berwarna orange tetes VHCl = 1. 10 mL kloroform . Standarisasi larutan  NaOH .Larutan berwarna orange tua f.7 mL f. Perlakuan (d) + 10 mL aquades . Terbentuk 2 lapisan c.1 M dimasukkan lapisan bawah = berwarna ke dalam corong pisah bening b.Kloroform dan air tidak mL menyatu e. Penentuan rumus kompleks Cu- . Perlakuan (a) + 25 mL kloroform . Perlakuan (e) + 2 tetes indikator VHCl = 1.2 mL MO g. Perlakuan (e) + dititrasi dengan larutan HCl 3. d. Perlakuan (b) + dikocok selama Lapisan atas = biru 30 menit Lapisan bawah = bening .Larutan berwarna kuning .05 M V. 10 mL larutan NH3 1 M + 10 mL biru larutan Cu2+ 0. Perlakuan (f) + dititrasi larutan HCl 0.Larutan tidak homogen d.Terbentuk 2 lapisan Amin lapisan atas = berwarna a. Terbentuk 2 lapisan Lapisan atas = biru + kocok selama 5 menit Lapisan bawah = bening .Larutan berwarna kuning 10 mL lapisan bawah e. Perlakuan (d) + indikator MO 2 .

137 M  15.? Penyelesaian: [HCl] x V HCl [NH 3 ] kloroform = V NH3 dalam kloroform 0.... 09M  1 M 2 M 2  0. 2)  14.9 M  NH3 b..0153 M . 2  M 2 M 2  0........9 M Ditanyakan : KD.. V1  M1  V2  M 2 10  (0.09 M  HCl V1  M 1  V2  M 2 10  0.7 mL = 10 mL = 0...137 M V1  M 1  V2  M 2 10  0..... Penentuan koefisien distribusi amonia antara air dan kloroform Diketahui : [HCl] = 0. 6  M 2 M 2  0.09 M V NH3 dalam kloroform = 10 mL V HCl = 1.7 mL [NH3] awal = 0.09 M x 1.......

... [NH 3 ] air = [NH 3 ] awal .....9 M Ditanya : rumus kompleks (Cu-NH3).09 M x 1..09 M V NH3 dalam kloroform = 10 mL V HCl = 1..0153 M = 0.0108 M .8847 M = 0.9 M .? Penyelesaian : N NH 3 dalam kloroform x V NH 3 dalam kloroform = V HCl x M HCl M HCl x V HCl N NH 3 dalam kloroform = V NH 3 dalam kloroform 0.0. Penentuan rumus kompleks tembaga ammin(II) Dik : [HCl] = 0.0153 M = 0..2 mL = 10 mL = 0..8847 M [NH 3 ] kloroform KD = [NH 3 ] air 0....N NH 3 kloroform = 0....0173 c.2 mL [NH3] awal = 0..

892 1 : 9 Jadi.0.[NH 3 ] kloroform = 0.9 .8892 M x 10 mL = 8.0122 [NH 3 ] dalam cu 0.0108 M = 0.[NH 3 ] dalam Cu 2+ = [NH 3 ] awal .1 m x 10 mL = 1 mmol mmol Cu2+ : mmol NH3 1 : 8.8892 M [NH 3 ] dalam kloroform 0.892 mmol mmol [Cu 2+ ] = [Cu 2+ ] x V Cu 2+ = 0. rumus kompleks yang diperoleh yaitu [Cu(NH3)9]2+ .0108 M KD = = = 0.8892 M mmol NH3 dalam Cu 2+ = [NH 3 ] dalam CuSO 4 x V NH 3 = 0.

unsur dan –metria. Senyawa- senyawa tembaga(I) diturunkan dari tembaga(I) oksida Cu 2O yang merah. perilakunya mirip senyawa perak(I). Senyawa-senyawa ini tak berwarna. Salah satu keistimewaan dari reaksi kompleks adalah reaksi pergantian ligan melalui efek trans (keenan.VI. Garam-garam tembaga(II) umumnya berwarna biru. dan liat. Karena potensial elektrode standarnya positif (+0. Tembaga adalah logam merah muda. CuO. Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan berimbang dirujuk sebagai stoikiometri (dari kata Yunani: stoicheion. ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer. 1992). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga(II). 1992). kebanyakan garam tembaga(I) tak larut dalam air. ilmu pengukuran). yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida. meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit. Ia melebur pada 1038ºC. dapat ditempa. baik .34 V untuk pasangan Cu/Cu 2+). Suatu rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya dalam suatu molekul atau satuan terkecil suatu senyawa (keenan. Cu+. hitam. Ada dua deret senyawa tembaga. Pembahasan Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu tahapan-tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion- ion logam serta ligan yang berbeda-beda. dan mengandung ion tembaga(I). yang lunak.

namun oksidasi selanjutnya menjadi CuIII adalah sulit. dimana dalam prinsip ini berlaku hukum distribusi yang menyatakan apabila suatu system yang terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu sama lain. padat. 1989). Faktor-faktor ini bertanggung jawab bagi sifat lebih mulia tembaga. 1989). ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut). 2016). dan sejumlah besar garam berbagai anion didapatkan. banyak diantaranya larut dalam air. Ini agak kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikiometri formal dalam tingkat oksidasi +1. seperti tembaga(II) sulfat anhidrat CuSO 4.dalam bentuk hidrat. panas penyubliman dan titik leleh tembaga juga jauh lebih tinggi daripada alkali. Garam-garam tembaga(II) anhidrat. sehingga potensial pengionan pertama Cu lebih tinggi daripada golongan alkali. Dalam larutan air selalu terdapat ion kompleks tetraakuo (shevla. Kulit d yang terisi jauh kurang efektif daripada kulit gas mulia dalam melindungi elektron s dalam muatan inti.1990). Tujuan dari percobaan ini dilakukan sesuai dengan tujuan yaitu untuk menentukan rumus kompleks tembaga amin (Tim Pengajar Kimia Anorganik Fisik. menambah perbendaharaan kompleks (Cotton. Kebanyakan senyawaan CuI cukup mudah teroksidasi menjadi CuII. maupun dalam larutan air. Tembaga memiliki elektron s tunggal di luar kulit 3d yang terisi. Dasarnya stoikiometri kompleks ammin – Tembaga (II) menggunakan prinsip proses ekstraksi pelarut. berwarna putih (atau sedikit kuning). . Karena elektron-elektron pada kulit d juga dilibatkan dalam ikatan logam. Pengaruhnya adalah membuat lebih kovalen dan memberi energi kisi yang lebih tinggi (Cotton. Terdapat kimiawi larutan Cu2+ yang dikenal baik.

Yang pertama yakni Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform dan Penentuan Rumus Kompleks Cu-Ammin (Khopkar. 1. 1990). dimana dilakukan 3 tahapan. Ada beberapa tahap untuk penentuan rumus senyawa kompleks ammin-tembaga (II) tersebut. HCl dan H2C2O4. Prinsip dasar dari percobaan ini layaknya dalam proses ekstraksi pelarut dimana berlaku hokum distribusi yang menyatakan apabila suatu system terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu sama lain. maka senyawa itu akan terdistribusi (terpartisi) kedalam kedua lapisan tersebut seperti yang telah dijelaskan oleh Nerst (Svehla. dan yang ketiga yaitu penentuan rumus kompleks tembaga ammin. Pada percobaan percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan rumus molekul kompleks ammin tembaga (II). H2C2O4 distandarisasi dengan NaOH karena H2C2O4 merupakan larutan asam. Standarisasi ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi larutan yang sebenarnya. akan ditentukan rumus senyawa ammin-tembaga (II). disosiasi atau reaksi dengan pelarut Pada percobaan ini. dan ketika ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut). dengan syarat Nerst bila zat terlarut nya tidak menghasilkan perubahan pada kedua pelarut (solvent) atau zat yang terlarut yang terbagi (terpartisi) dalam dua pelarut tidak mengalami asosiasi. 1990). Yang pertama yaitu standarisasi beberapa larutan. Yang kedua adalah penentuan koefisien distribusi amoniak antara air dan Kloroform. Indikator yang digunakan adalah indikator PP dimana indikator PP yang akan menentukan titik akhir titrasi yang .maka senyawa itu akan terdistribusi (terpartisi) kedalam dua lapisan tersebut. Standarisasi Larutan Pada standarisasi larutan H2C2O4 digunakan larutan standar primer NaOH. dalam hal ini larutan NH3.

dan menambahkan 10 mL aquades kemudian di simpan ke dalam corong pisah. Setelah itu larutan tersebut didiamkan. Prinsip kerja dari percobaan ini yaitu sejumlah tertentu ammonia dalam pelarut air diekstraksi dengan pelarut kloroform. 1999). metode yang digunakan yaitu metode ekstraksi cair-cair. Menurut hukum Nernst. Kemudian pada keadaan setimbang dianalisa kandungan ammonianya baik dalam pelarut air maupun dalam kloroform (Penanggung jawab mata kuliah. Setelah itu menambahakn 25 mL larutan kloroform kedalam corong pisah tersebut. dan prinsip dari metode ini yaitu distribusi zat terlarut yang merupakan zat cair ke dalam dua pelarut cair yang tidak daling bercampur. Perlakuan selanjutnya mengocok campuran larutan tersebut dalam corong pisah selama kurang lebih 30 menit dengan tujuan agar campuran tersebut dapat homogen.ditandai dengan perubahan warna menjadi merah muda. kloroform dan air disebut sebagai zat pelarut. Dalam hal ini NH3 disebut zat terlarut yang akan terdistribusi. suatu zat terlarut akan membagi dirinya antara dua cairan yang tak dapat campur sedemikian rupa sehingga angka banding konsentrasi pada keseimbangan adalah kosntanta pada temperatur tertentu (Underwood. dengan mengetahui perbandingan konsentrai zat terlarut tersebut ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur tersebut. Dalam perlakuan ini. 2016). Perlakuan pertama yang dilakukan yaitu mengambil 10 mL larutan NH3 1 M.9 M. hal ini bertujuan agar proses didtribusi .09 M dan 0. Dan konsentrasi yang diperoleh yaitu 0. Penentuan koefisien distribusi NH3 dalam larutan koroform Koefisien distribusi merupakan perbandingan konsentrasi zat terlarut didalam dua fasa yaitu fasa organik dan fasa air. Untuk larutan HCl dan NH 3 konsentrasi yang diperoleh adalah 0. 2.137 M.

Dari dua lapisan tersebut dapat diketahui lapisan atas yaitu NH3 dalam air sedangkan lapisan bawah yaitu NH3 dalam kloroform.4.47 kg/L. Setelah diketahui konsentrasi NH3 dalam kloroform dan NH3 dalam air dapat ditentukan nilai koefisien distribusi (KD) NH 3 yaitu dengan perbandingan konsentrasi NH3 dalam kloroform dan konsentrasi NH3 dalam air sehingga didapatkan nilai KD nya yaitu 0.1 – 4. hal ini dikarenakan densitas larutan kloroform lebih besar dibandingkan air. sehingga yang berada pada lapisan bawah yaitu NH3 dalam kloroform. Jika nilai KD yang didapatkan kurang dari 1 hal ini berarti konsentrasi zat terlarut lebih besar dalam pelarut air.larutan NH3 dalam air dan kloroform berjalan maksimal atau sempurna sehingga terbentuk 2 lapisan yaitu NH3 dalam air dan NH3 dalam kloroform. Dari konsentrasi NH3 dalam kloroform didapatkan konsentrasi NH3 dalam air yaitu 0. Dari hasil yang didapatkan larutan berwarna oranye dan volume HCl yang digunakan yaitu 1. dan jika lebih .0173. hal ini dapat dilihat bahwa konsentrasi NH3 lebih besar yaitu pada air dibandingkan dengan kloroform.8847 M. Dari nilai KD tersebut dapat dikatakan proses distribusi NH3 dalam air terjadi dengan lebih baik dibandingkan pada kloroform.0153 M.20173. Fungsi dari indikator metil orange yaitu sebagai penanda bahwa larutan tersebut berada pada suasana asam karena trayek pH indikator metil orange yaitu 3. dari volume ini didapatkan konsentrasi NH3 dalam kloroform yaitu 0. sedangkan air yaitu 1 kg/L. Setelah itu memasukkan 10 mL larutan NH 3 dalam kloroform (lapisan bawah) ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 ml air kemudian menetesi dengan indikator metil orange dan kemudian menitrasi dengan larutan HCl. yaitu 1.7 mL. hal ini dapat disebabkan oleh proses pengocokan yang kurang sempurna sehingga didapatkan nilai KD nya 0. selain itu metil orange digunakan karena pada proses titrasi digunakan larutan HCl dimana larutan HCl bersifat asam.

Penentuan rumus kompleks Cu-Amin Prinsip dari perlakuan ini yaitu sejumlah tertentu ion tembaga (II) dicampur dengan larutan ammonia berlebihan dalam pelarut air. Banyaknya ammonia bebas dalam pelarut air dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan diatas sehingga jumlah ammonia yang terkomplekskan juga dapat ditentukan dan rumus molekul dapat ditentukan (Penanggung jawab mata kuliah. 3. Kemudian sisa ammonia diekstraksi ddengan pelarut kloroform.1 M. Ketika NH3 ditambahkan CuSO4 warna larutan menjadi biru. 2011). Selain itu juga bertujuan agar proses distribusi .dari 1 maka konsentrasi zat terlarut lebih banyak pada pelarut organik. selain itu telah terbentuk suatu ion kompleks [Cu(NH3)x]2+. Perlakuan selanjutnya yaitu menambahkan 25 mL larutan kloroform. kemudian menambahkan dengan 10 mL larutan CuSO4 0. Setelah itu mengocok kedua campuran tersebut selama 5 menit. 2016). Hal ini disebabkan karena warna biru dari ion heksaaquatembaga(II) digantikan dengan warna biru gelap dari ion segiempat planar tetraammoniatembaga(II). hal ini bertujuan agar larutan homogen. dan jika nilai KD yang didapatkan sama sdengan 1 maka zat terlarut terdistribusi sempurna artinya konsentrasi zat terlarut pada pelarut air sama dengan konsentrasi zat terlarut dalam perlarut organik (Hanifah. Setelah dikocok kemudian di diamkan sejenak hingga nampak jelas terbentuknya 2 lapisan. Perlakuan pertama yang dilakukan yaitu memasukkan 10 mL larutan NH3 1 M hasil standarisasi ke dalam corong pisah. kemudian mengocok larutan tersebut selama 30 menit. Tujuan dari pendiaman ini yaitu agar dapat terlihat jelas pemisahan dari ekstraksi yang dilakukan. Pengocokan selama 30 menit ini di lakukan agar zat terlarut (solut) dapat terdistribusi secara sempurna dalam kedua pelarut yaitu pelarut air dan pelarut organik.

dari perhitungan maka diperoleh 1 mmol dan konsentrasi NH3 dalam Cu2+ adalah 8. artinya zat terlarut lebih banyak terdistribusi kedalam fasa air. Dari perlakuan ini diperoleh larutan berwarna oranye tua dengan volume HCl yang digunakan yaitu 1. Dimana berat jenis kloroform lebih besar dari berat jenis NH 3. sehingga kloroform berada di lapisan bawah (Hanifah.berjalan dengan baik dan sempurna.0122.8892 M. Dimana lapisan atas berwarna biru yang merupakan NH3 dalam CuSO4 dan bagian bawah NH3 dalam kloroform yang berwarna bening.0108 M dan konsentrasi NH3 dalam CuSO4 yaitu 0.2 mL. Pengocokan yang kurang sempurna dan kurang lama menyebabkan analit yang akan diekstraksi tidak maksimal berpindah kefasa organik (Hanifah. Selanjutnya ditambahkan dengan 10 mL aquades dan 2 tetes indikator methyl orange. Perlakuan berikutnya yaitu memindahkan 10 mL larutan NH 3 dalam kloroform ke dalam Erlenmeyer. 2011). dengan cara mengeluarkannya dari mulut corong pisah. Hal tersebut menandakan bahwa proses pengocokan tidak berlangsung dengan baik. Sehingga perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 9. Dari data tersebut diperoleh konsentrasi NH3 dalam kloroform yaitu 0. 2011). kemudian dititrasi dengan larutan standar HCl hingga mencapai titik ekivalen. Terbentuknya dua lapisan ini karena adanya perbedaan berat jenis antara kloroform dan ammonia. Sedangkan pada literatur Cu2+ mempunyai bilangan koordinasi 3. Perlakuan selanjutnya untuk menentukan rumus kompleks Cu- Ammin yaitu diketahui konsentrasi Cu 2+ 0. Penambahan aquades berfungsi untuk mempercepat berlangsungnya proses titrasi. Bilangan koordinasi adalah bilangan yang menyatakan banyaknya .1 M. Dari data tersebut maka diperoleh koefisien distribusi ammonia yaitu 0. Sehingga diperoleh rumus kompleksnya yaitu [Cu(NH 3)9]2+.892 mmol.

Jika ligan hanya dapat menyumbangkan sepasang elektron disebut ligan unidentat sedangkan atom pusat merupakan logam yang bersifat sebagai asam lewis. ligan merupakan basa lewis dan ion logam adalah asam lewis. 2011). Ligan adalah spesies yang memiliki atom-atom yang dapat menyumbangkan sepasang elektron pada ion pusat pada tempat tertentu dalam lengkung koordinasi. VII. Kesimpulan . Dalam percobaan ini menunjukkan bahwa atom Cu sebagai atom pusat dan NH3 sebagai ligannya. Pada percobaan ini NH 3 merupakan ligan monodentat yaitu ligan yang hanya mendonorkan satu pasang elektron (Hanifah. Sehingga. jumlah pasangan elektron ligan yang digunakan dalam membentuk ikatan dengan atom pusatnya (Hanifah. 2011).

Clifford. Daftar Pustaka Basset. John Willey & Sons. J. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. (1996). Cotton and Wilkinson. UIPress Cresswell. (1994). Analisis Spektrum Senyawa Organik. Kesimpulan yang diperoleh pada percobaan ini adalah rumus molekul amin-tembaga(II) adalah [Cu(NH3)9]2+. Jakarta. Bandung: ITB . Kimia Anorganik Dasar. Beran. J.A.J. Chemistry in The Laboratory. 1989.(2005). EGC.

(1981). Erlangga.files. [Online]. (2007). Jakarta. Khopkar S. Hikmah . Rohman. J.Day dan Underwood. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Tim Pengajar Kimia Anorgani Fisik.C. Diakses tanggal 12 Desember 2016. (2000). Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Penuntun praktikum kimia anorgani fisik. P. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid .com/2011/05/stoikiome tri-reaksi-kompleks-aminn. (2011). Stoikiometri Reaksi Kompleks Amin. Tersedia:https://1stmujahidah. Bandung: Erlangga.pdf/. Prentice Hall : Harlow. Statistics and Chemometrics for Analytical Chemistry. J. Kimia Farmasi Analisis. Tipler.N and Miller. Konsep Dasar kimia Analitik. (2016). (1984). (1991). LAPORAN LENGKAP KIMIA ANORGANIK FISIK . Miller.wordpress. Hanifa. 4th ed. Jakarta : UI Press. Palu : UNTAD-Press.

MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO 2016 . PERCOBAAN II STOIKIOMETRI TEMBAGA AMINA OLEH : NAMA : SASKIA PUTRI STAMBUK : A 251 14 037 KELAS :C KELOMPOK :4 ASISTEN : WAYAN ADI KRESNANDA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN P.