You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komputer dan internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan

masyarakat. Internet awalnya hanya digunakan sebagai media untuk menambah

pengetahuan dan informasi, namun saat ini internet banyak digunakan sebagai media

untuk berkomunikasi dan media hiburan untuk mendapatkan informasi trend

terbaru. Pengguna internet yang terus meningkat mengindikasikan bahwa komputer

sebagai media komunikasi terutama jejaring sosial menjadi sebuah trend baru. Salah

satu jejaring sosial yang terkenal dengan pengguna terbanyak adalah facebook

(Chasombat, 2014: 1).

Facebook sebagai media komunikasi menjadi fenomena yang menarik dan juga

menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika adanya peningkatan intensitas

penggunaan dan keterlibatan dalam berbagai aktivitas menggunakan facebook untuk

berkomunikasi (Drussell, 2012; Griffiths, 2013). Tang, et al, (2015: 107) menjelaskan

bahwa intensitas penggunaan dan berbagai aktivitas yang berlebihan terhadap facebook

berpengaruh negatif terhadap perubahan kualitas hubungan interpersonal baik secara

offline maupun online dan dukungan sosial. Arqoub (2011, dalam AL-Khadam, 2013:

17) menyatakan tentang komunikasi interpersonal yang merupakan komunikasi tatap

muka yang dilakukan antara pengirim dan penerima untuk saling mempengaruhi dan

meyakinkan. AL-Khadam (2013: 21), hasil penelitian dari hipotesis tentang hubungan

antara intensitas atau lama menggunakan facebook terhadap intensitas komunikasi

interpersonal dengan p < 0.01 memiliki koefesien korelasi sebesar 0.118 untuk

1
2

komunikasi interpersonal dengan keluarga dan 0.230 terhadap komunikasi

interpersonal dengan teman dekat. Hasil penelitian menunjukan hubungan yang

signifikan secara statistik antara intensitas menggunakan facebook dan intensitas

komunikasi interpersonal.

Intensitas penggunaan yang berlebihan dan berbagai aktivitas saat

menggunakan facebook merupakan ciri-ciri dari gejala facebook addiction (Satici & Uysal,

2015: 186). Menurut Cabral (2011: 9), ciri-ciri pengguna telah mengalami gejala

facebook addiction terutama jika intensitas penggunaan facebook > 30 menit. Krasnova,

et al, (2013, dalam Verduyn, et al, 2015: 480) mendefenisikan keterlibatan pengguna

dalam berbagai aktivitas di facebook terbagi atas 2, yaitu pertama sebagai pengguna

aktif contohnya seperti upadate status, berkomentar, menyukai (like), dan menanggapi

atau merespon pesan pribadi (chating), kedua yaitu sebagai pengguna pasif, contohnya

seperti membaca berita atau update status orang lain, penelusuran (searching) foto dan

video teman atau orang lain, dan mengunjungi profil teman atau orang lain. Menurut

Griffiths dan kuss (2011: 3530), perilaku facebook addiction yaitu jenis ketergantungan

pada hubungan interaksi antara individu yang tergabung di jejaring pertemanan dalam

dunia maya (cyber space). Transisi perubahan perilaku normal menjadi bermasalah pada

facebook dapat dilihat melalui prespektif biopsikososial. Sama halnya terhadap

kecanduan suatu zat adiktif, facebook addiction mencangkup beberapa gejala klasik, yaitu

salience (perilaku, kognitif, dan emosional yang menganggap facebook sangat penting),

mood modification (perubahan suasana hati atau perasaan), tolerance (terus menigkatnya

intensitas penggunaan facebook), withdrawal symptoms (menunjukan gejala fisik dan

emosional yang tidak menyenangkan ketika penggunaan facebook dibatasi atau

dihentikan), conflict (terjadi masalah interpersonal dan intrapsikis), dan relaps

(kurangnya kontrol untuk mengurangi penggunaan facebook).


3

Al-Khadam (2013: 22) menyatakan bahwa lama menggunakan dan terlibat

dalam berbagai aktivitas di facebook memiliki dampak negatif terhadap komunikasi

interpersonal terutama hubungan interpersonal pada keluarga, sahabat dan rekan

kerja. Menurut Spitzberg dan Cupach (2011, dalam Saarane, et al, 2014: 01),

komunikasi interpersonal dibentuk oleh aspek kognitif, keterampilan berkomunikasi

dan aspek afektif yang merupakan dasar dari kemampuan dalam komunikasi

interpersonal. Ang, et al, (2013: 217) menjelaskan bahwa pentingnya kemampuan

komunikasi interpersonal dalam interaksi tatap muka untuk menghasilkan

komunikasi yang efektif. Interaksi yang efektif merupakan kemampuan komunikatif

untuk beradapatasi dan lebih fleksibel yang terjadi dalam sebuah percakapan. Puggina

dan Silva (2014: 109) mendefinisikan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal

merupakan penggabungkan unsur-unsur berikut, diantaranya self-disclosure

(keterbukaan diri), empathy (kemampuan mengetahui apa yang dirasakan dan pikiran

orang lain), social relaxation (kemampuan meredakan ketegangan saat komunikasi),

assertiveness (ketegasan), altercentrism (kemampuan mengontrol pembicaraan yang

mendominasi), interaction management (manajemen interaksi), expressiveness (kemampuan

verbal), supportiveness (tanggapan dan respon dukungan), immediacy (kedekatan), dan

environmental control (kontrol lingkungan).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada September dan

Desember 2015, peneliti melakukan observasi dan wawancara singkat pada

mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK), pertama peneliti

mengobservasi dengan membandingkan jumlah mahasiswa yang mempunyai akun

facebook dan aktif digroup facebook PSIK 2013, 2014 dan 2015. Kemudian peneliti

membandingkan dengan mahasiswa aktif dari laporan tata usaha. Dari hasil observasi

tersebut didapatkan hasil sebanyak 203 mahasiswa tergabung dalam group facebook
4

PSIK 2013, 173 mahasiswa dalam group facebook PSIK 2014, dan 143 mahasiswa

dalam group facebook PSIK 2015. Sedangkan mahasiswa aktif PSIK 2013, 2014, dan

2015 menurut data tata usaha PSIK masing-masing berjumlah 137 mahasiswa PSIK

2013, 135 mahasiswa PSIK 2014, dan 150 mahasiswa PSIK 2015, perbandingan hasil

jumlah anggota pada group facebook lebih besar di bandingkan jumlah mahasiswa aktif

yang tercatat oleh tata usaha, hal ini diindikasikan bahwa satu mahasiswa dapat

mempunyai lebih dari 2 akun facebook.

Berdasarkan penjelasan hasil perbandingan antara mahasiswa PSIK 2013,

2014 dan 2015 yang tergabung di group facebook dan laporan tata usaha, selanjutnya

peneliti melakukan wawancara pada 10 mahasiswa PSIK masing-masing Angkatan

2013, 2014 dan 2015 tentang keterlibatan, lama menggunakan, alasan menggunakan

facebook dibandingkan komunikasi tatap muka dan perubahan kemampuan

komunikasi akibat menggunakan facebook. Hasil dari wawancara tentang keterlibatan

didapatkan 1 (3%) dan 13 (43%) responden mengatakan selalu dan sering memberi

apresiasi (like), 7 (23%) dan 9 (30%) responden mengatakan kadang-kadang dan

jarang memberi apresiasi (like), 14 (47%) mengatakan sering berkomentar, 1 (3%)

responden mengatakan selalu berkomentar, 7 (23%) responeden mengatakan jarang

berkomentar, 15 (50%) responden mengatakan sering berbagi, 7 (23%) responden

mengatakan jarang berbagi atau update status, 8 (27%) responden mengatakan selalu

dan 7 (23%) responden mengatakan sering melakukan percakapan (chating) saat

menggunakan facebook. Intensitas responden menggunakan facebook dalam 24 jam

terbagi sesuai dengan kebutuhan akan komunikasi dan informasi, 8 (27%) responden

menggunakan facebook <30 menit dalam sehari, 22 (73%) responden menggunakan

facebook >30 menit dalam sehari. Alasan menggunakan facebook, 24 responden

mengatakan menggunakan facebook karena merupakan kebutuhan akan komunikasi,


5

sedangkan 6 mahasiswa lainnya sebagi media informasi dan bermain game.

Perubahan kemampuan komunikasi interpersonal akibat menggunakan facebook, 19

(63%) responden dominan mengarah kepada pengaruh facebook terhadap kemampuan

untuk komunikasi tatap muka dengan temannya. Sedangkan 11 (37%) responden

lainnya mengatakan keaktifan menggunakan facebook tidak berpengaruh terhadap

kemampuan komunikasi dan dapat mengimbangi komunikasi dengan menggunakan

facebook dan tatap muka dengan temanya.

Berdasarkan latar belakang ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian Hubungan antara Facebook Addiction terhadap Kemampuan Komunikasi

Interpersonal studi pada Mahasiswa PSIK FIKES Universitas Muhammadiyah

Malang Angkatan 2013 - 2015 saat ini.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah Adakah Hubungan antara Facebook Addiction terhadap Kemampuan

Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa PSIK FIKES Universitas

Muhammadiyah Malang Angkatan 2013 2015 ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Facebook Addiction

terhadap Kemampuan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa PSIK

FIKES Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2013 - 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:


6

1) Mengidentifikasi facebook addiction pada mahasiswa PSIK FIKES

Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2013 - 2015.

2) Mengidentifikasi dan menggambarkan kemampuan komunikasi

interpersonal mahasiswa PSIK FIKES Universitas Muhammadiyah

Malang Angkatan 2013 - 2015.

3) Mengidentifikasi hubungan facebook addiction terhadap kemampuan

komunikasi interpersonal pada mahasiswa keperawatan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait

dalam pengembangan kemampuan komunikasi interpersonal keperawatan.

1.4.1 Manfaat Bagi Institusi

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan

sebagai bahan pertimbangan dalam refresnsi, menambah wawasan dan

pengatahuan tentang kecanduan menggunakan facebook terhadap

kemampuan komunikasi interpersonal keperawatan.

1.4.2 Manfaat Bagi Keperawatan

Sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi

interpersonal oleh calon perawat dari dampak facebook addiction.

1.4.3Manfaat Bagi Peneliti Lain

Sebagai bahan kajian atau rujukan untuk melakukan rujukan lebih lanjut

yang berkesinambungan mengenai facebook addiction terhadap kemampuan

komunikasi interpersonal.

1.5 Keaslian Penelitian

1) Penelitian Yayan Herdianto (2011), meneliti tentang Pengaruh Jejaring Sosial

Facebook terhadap Pola Komunikasi Interpersonal MAN 2 Serang. Perbedaan


7

penelitian yang dilakukan oleh Yayan Herdianto adalah Yayan bertujuan

untuk mengetahui pengaruh jejaring sosial facebook terhadap pola komunikasi

antarpribadi pada siswa MAN 2 Serang. Terdapat dua variable dalam

penelitian ini yaitu variable X adalah pengaruh situs jejaring sosial facebook

yang mempunyai indikator kesepahaman dan kepuasan antara komunikator

dan komunikan. Sedangkan variable Y yaitu pola komunikasi yang

mempunyai arus transformasi informasi menjadi lebih cepat, menggunakan

media untuk komunikasi, menggunakan bahasa tulisan untuk komunikasi.

Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan pendekatan kuantitaif.

Sedangkan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan facebook

addiction terhadap kemampuan komunikasi interpersonal pada mahasiswa

keperawatan.

2) Penelitian Abadi, Sukmawan dan Utari (2013), meneliti tentang Media Sosial

dan Pengembangan Hubungan Interpersonal Remaja di Sidoarjo dengan sampel

remaja SMU. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan menjelaskan

penggunaan media sosial, pengembangan hubungan interpersonal, dan

pengaruh media sosial terhadap hubungan interpersonal remaja terutama

SMU di Sidoarjo. Variable dalam penelitian ini adalah tempat, akses media,

motif, intensitas dan waktu sebagai predictor, sedangkan variable dependen

adalah hubungan interpersonal. Metode penelitian menggunakan pendekatan

eksplanatif melalui pengumpulan data secara random sampling, data dianalisis

dengan menggunakan teknik penganalisisan statistik deskriptif dan regresi

berganda. Sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah

untuk mengetahui hubungan antara facebook addiction terhadap kemampuan


8

komunikasi interpersonal mahasiswa PSIK Angkatan 2013 Universitas

Muhammadiyah Malang.

3) Penelitian Hamza Khalil AL-Khadam (2013) meneliti tentang Impact of Social

Networks on Interpersonal Communication of the Students University Collage Irbid Girls:

Facebook as a model. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari

jejaring sosial terhadap komunikasi interpersonal pada mahasiswa perempuan

di Universitas Nasional Irbid. Metode penelitian ini menggunakan metode

analisis deskriptif yang menggambarkan fenomena penelitian yang diteliti

secara kuantitatif dan kualitatif, dengan kuesioner sebagai alat ukur yang

terdiri atas 2 bagian, yaitu variable independen meliputi, usia, tempat tinggal,

dan pendapatan. Kedua meliputi efek atau dampak dari jejaring sosial.

Sedangkan penilitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat

hubungan antara facebook addiction terhadap kemampuan komunikasi

interpersonal mahasiswa PSIK Angkatan 2013 Universitas Muhammadiyah

Malang.

4) Penelitian Raditya A, Chamil (2012). Hubungan Intensitas Penggunaan Situs

Jejaring Sosial Twitter dengan Intensitas Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Program

Studi Ilmu Komunikasi UPN FISIP Veteran Yogyakarta. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan intensitas pengguna situs

jejaring sosial twitter yang sebagai variabel independen dengan intensitas

komunikasi tatap muka atau interpersonal sebgai variable dependen pada

mahasiswa program studi ilmu komunikasi UPN FISIP Veteran

Yogyakarta. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitaif,

variable dijelaskan dengan dikuantifikasikan atau diangkakan dengan

menyebarkan kuesioner sebagai alat mengumpulkan data penelitian.


9

Sedangkan penilitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat

hubungan hubungan antara facebook addiction terhadap kemampuan

komunikasi interpersonal mahasiswa PSIK Angkatan 2013 Universitas

Muhammadiyah Malang.