You are on page 1of 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Facebook Addiction

2.1.1 Definisi Addiction

Fortinash dan Worret (2012: 319) mendefinisikan addiction merupakan suatu

keadaan yang mengindikasikan sesorang dalam gangguan, baik gangguan karena

bahan kimia atau penggunaan zat adiktif serta gangguan pada kontrol impuls.

Addiction adalah istilah untuk menggambarkan gangguan perilak. Menurut American

Society of Addiction Medicine (2011: 01) menjelaskan bahwa addiction merupakan suatu

keadaan penyakit kronis atau disfungsi pada saraf yang mengontrol penghargaan,

motivasi, ingatan dan saraf terkait lainya, hal ini menyebabkan perubahan dengan

karakateristik biologis, psikologis, sosial, dan beberapa manifestasi spiritual. Hal ini

tercermin secara patologis pada seseorang yang menginginkan penghargaan dengan

bantuan berdasarkan zat tertentu. Addiction biasanya ditandai dengan

ketidakmampuan secara konsisten untuk menjauhkan diri, mengontrol perilaku

ketidakinginan, keinginan yang berlebihan, menurunnya pengenalan masalah

terhadap orang lain dan hubungan interpersonal, dan disfungsional respon emosi.

Corral dan Echeburua (2010: 91) menyatakan bahwa istilah addiction semakin

berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dalam kehidupan masyarakat,

sehingga istilah addiction tidak selalu melekat pada obat-obatan akan tetapi juga

berlaku untuk kegiatan atau suatu hal tertentu yang dapat membuat seseorang

ketergantungan secara fisik atau psikologis. Addiction biasanya digunakan dalam

konteks klinis dan diperhalus dengan perilaku berlebihan. Konsep addiction dapat

9
10

diterapkan pada perilaku secara luas, termasuk addiction teknologi komunikasi

informasi (ICT).

Griffiths dan Kuss (2011: 3529) menyatakan bahwa addiction merupakan

aspek perilaku yang kompulsif, adanya ketergantungan, dan kurangnya kontrol. Malat,

et al, (2010: 41) menyatakan bahwa addiction merupakan perilaku ketergantungan pada

suatu hal yang disenangi. Individu biasanya secara otomatis akan melakukan hal yang

disenangi pada kesempatan yang ada. Sesorang dikatakan addiction apabila dalam satu

hari melakukan kegiatan yang sama sebanyak lima kali atau lebih. Menurut

Andreassen, et al, (2012: 501), perkembangan media baru yang berpotensi terhadap

perilaku addiction, misalnya video game online, smartphone, seks online, shopping, workhilism

(terlalu mencintai pekerjaan), dan internet.

2.1.2 Jenis Addiction

Menurut Sussman (2012), addiction tidak hanya ketergantungan terhadap zat

adiktif seperti narkoba dan alkohol, namun pada banyak kasus perilaku addiction yang

tidak diakibatkan oleh zat tertentu, secara umum addiction terdiri atas beberapa jenis,

yaitu:

a. Gambling addiction

Gambling adiction merupakan perilaku yang paling menyerupai addiction

terhadap narkoba dan alkohol. American Psychiatric Association (APA)

mengklarifikasi gambling adiction merupakan gangguan terhadap kurangnya

kontrol implusif. Penelitian oleh APA menunjukan bahwa addiction judi

memberikan dampak dan akibat yang sama dari pengguna zat adiktif dan

pengobatan untuk gangguan ini sama seperti pengobatan terhadap

narkoba dan alkohol (Sussman, 2012: 02).


11

b. Sex addiction

Sex addiction merupakan perilaku yang berlebihan terhadap kegiatan sexual

dan gangguan ini ditandai dengan kurangnya kontrol terhadap keinginan

untuk tidak dapat melewatkan hubungan sexual dalam kesehariannya.

Diagnostic and statical manual of mental disorders-v (DSM-5) tidak menjelaskan

bahwa sex addiction sebagai kondisi yang dapat didiagnosis, tapi penelitian

tersebut menunjukan bahwa terdapat prevalensi yang jelas dari perilaku sex

addiction serupa terhadap addiction narkoba (Griffiths, 2012: 76).

c. Shopping addiction

Shopping addiction dikenal dengan compulsive shopping disorder, indikasi yang

menunjukan sesorang shopping addiction adalah ketika sesorang berbelanja

untuk menghindari perasaan sedih dan menganggap menghabiskan uang

saat berbelanja merupakan sebuah kewajiban namun merasa bersalah

setelah melakukan kegiatan tersebut. Addiction berbelanja merupakan

gangguan kesehatan mental dan menyebabkan konsekuensi berat

(Sussman, 2012: 201).

d. Video game addiction

Video game addiction merupakan gangguan fisiologis yang muncul dalam

bentuk ketergantungan yang berlebihan. Video game addiction secara

patologis dan komplusif yang muncul pada orang yang merasa bahwa

bermain game lebih menarik dibandingkan menjalankan kehidupan nyata.

Perilaku yang berbahaya ini merupakan suatu penyakit bio-psiko-sosial

yang mengakibatkan keadaan psikis, fisik, sosial, dan juga kerusakan otak

yang dapat mengakibatakan perilaku kompulsif (Ream, et al, 2011: 176).


12

e. Food addiction

Addiction dalam mengkonsumsi makanan memicu respon otak yang terlihat

seperti respon terhadap alkohol atau obat-obatan. Makanan yang terasa

lezat dilidah memicu zat kimia otak untuk menimbulkan suasana hati yang

baik seperti dopamin. Setelah seseorang mengalami kenikmatan yang

berhubungan dengan transmisi dopamin yang lebih besar dalam jalur reward

otak karena makan makanan tertentu, hal ini akan mendorong seseorang

untuk makan dalam waktu singkat. Pusat kebahagiaan dan kepuasan diotak

diaktifkan oleh makanan, terutama yang sangat lezat dan memiliki

kandungan tinggi lemak, garam dan gula. Terdapat masalah lain bagi

orang-orang yang food addiction, yaitu sinyal reward dari makanan lezat bisa

menghilangkan sinyal rasa puas dan rasa kenyang, yang berarti akan terus

makan, meskipun sudah tidak lapar lagi Pentz, et al, (2011, dalam

Sussman, 2012: 144).

f. Internet addiction

Merupakan gangguan psikofisiologis yang meliputi tolerance (penggunaan

dalam jumlah yang sama akan menimbulkan respon minimal, jumlah harus

ditambah agar dapat membangkitkan kesenangan dalam jumlah yang

sama), withdrawal symptoms (khususnya menimbulkan termor, kecemasan,

dan perubahan mood), gangguan afeksi (depresi, sulit menyesuaikan diri),

dan terganggunya kehidupan sosial (menurun atau hilang sama sekali, baik

dari segi kualitas maupun kuantitas) (Sussman, 2012: 92).

2.1.3 Definisi Facebook Addiction

Menurut Andreassen dan Pallesen (2012, dalam Satici & Uysal, 2015: 185),

facebook merupakan substansi dari social network yang cukup terkenal dengan lebih dari
13

satu miliar diseluruh dunia terdaftar dan 864 juta pengguna aktif menggunakannya

setiap hari. Nadkarni dan Hofmann (2012: 08) menyatakan bahwa facebook diciptakan

untuk membantu mempertahankan hubungan pertemanan, keluarga, dan teman kerja

dengan memanfaatkan berbagai fitur seperti, chating, berbagi foto, group untuk

sebuah kelompok diskusi sehingga diharapkan interaksi yang sama seperti kehidupan

nyata. Selain itu menurut Sheldon (2008: 50) penggunaan facebook di Amerika dan

93% dari mahasiswa mempunyai akun facebook dan beberapa pengguna mempunyai

resiko addiction untuk selalu mengakses akun facebook karena tidak sedikit pengguna

facebook yang menganggap jejaring sosial facebook lebih baik dibandingkan dunia nyata.

Ryan, et al, (2014: 135) menyatakan bahwa facebook addiction pada umumnya

mempunyai gejala yang sama seperti internet addiction namun aktivitas dan fitur yang

ada di facebook mendasari perbedaan keduanya. Menurut Andreassen, et al, (2012:

503), hasil penelitian yang dilakukan terhadap 423 siswa menunjukkan enam tanda

seseorang addiction yakni, menghabiskan banyak waktu berpikir tentang facebook atau

rencana menggunakan facebook, merasa harus menggunakan terus menerus, dan

menggunakan facebook untuk melupakan persoalan pribadi. Selain itu merasa gelisah

dan kacau jika dilarang menggunakan facebook, berusaha mengurangi penggunaannya

namun tidak berhasil, dan menggunakan facebook terlalu sering hingga berdampak

negatif pada pekerjaan dan akademik.

Mauri, et al, (2011: 727) menyatakan bahwa facebook dapat lebih

menyebabkan addiction dibandingkan rokok dan minuman keras. Facebook addiction

menunjukan ciri-ciri fisik dan psikofisiologis. Pengamatan pada penelitian ini

menyebutkan adanya reaksi fisik seperti konduktansi kulit, meningkatnya volume

darah dipembuluh darah, electromyography (adanya aliran listrik di kepala), dan


14

membesarnya pupil mata. Kesimpulan dari analisis statistik dari data psikofisiologis

dan pembesaran pupil menunjukan bahwa pengalaman menggunakan facebook

berbeda dengan situasi yang biasanya terjadi dalam situasi di bawah tekanan atau

sedang santai. Kemudian lebih lanjut, sinyal biologis menunjukan facebook dapat

membangkitkan kondisi psikofisiologis dengan ciri-ciri meningkatnya emosi positif

dan membangkitnya gairah.

Menurut Griffiths dan Kuss (2011: 68), facebook addiction merupakan suatu

gangguan mental terhadap kecemasan dan memikirkan sesuatu terlalu berlebihan dan

melakukan kegiatan tersebut secara berulang-ulang. Addiction tersebut ditandai melalui

ciri-ciri fisik dan psikofisiologis dan lebih berbahaya dibandingkan dengan addiction

terhadap merokok dan minuman keras. Jika telah mengalami facebook addiction maka

pikiran sesorang dipenuhi dengan pemikiran yang menetap, kurang dan tidak adanya

kontrol untuk mengulangi kegiatan dalam menggunakan facebook, berorientasi

menggunakan facebook untuk mendapatkan ketenangan dan lebih memilih

berkomunikasi menggunakan facebook dibandingkan bertatap muka sehingga

berkurangnya kualitas hubungan sosial didunia nyata.

2.1.4 Dimensi Facebook Addiction

Griffiths, et al, (2014: 121), terdapat enam dimensi untuk menentukan apakah

individu sudah digolongkan facebook addiction dalam jejaring sosial. Dimensi tersebut

adalah sebagai berikut:

a. Salience

Menurut Griffiths, et al, (2014: 121), penggunaan facebook menjadi aktivitas

yang paling penting dalam kehidupan individu, mendominasi pikiran individu


15

(preokupasi atau gangguan kognitif), perasaan (merasa sangat butuh), dan

tingkah laku (kemunduran dalam perilaku sosial).

b. Mood modification

Griffiths, et al, (2014: 121) menyatakan bahwa keterlibatan yang tinggi saat

menggunakan internet. Dimana terdapat perasaan senang dan tenang (seperti

menghilangkan stress) saat perilaku addiction itu muncul.

c. Tolerance

Merupakan proses dimana terjadinya peningkatan jumlah penggunaan

internet dalam mengakses facebook untuk mendapatkan efek perubahan mood.

Demi mencapai kepuasan, jumlah penggunaan facebook terus ditingkatkan

untuk memperoleh pengaruh yang sama kuatnya seperti sebelumnya, maka

individu secara berkala harus meningkatkan jumlah pemakaian agar tidak

terjadi toleransi, contohnya pemain tidak akan mendapatkan perasaan

kegembiraan yang sama seperti jumlah waktu pertama bermain sebelum

mencapai waktu yang lama (Griffiths, et al, 2014: 121).

d. Withdrawal symptoms

Merupakan perasaan tidak menyenangkan yang terjadi karena penggunaan

facebook dikurangi atau tidak dilanjutkan dan hal ini berpengaruh pada fisik

seseorang, perasaan dan efek antara perasaan dan fisik (seperti, pusing,

insomnia) atau psikologisnya (misalnya, mudah marah atau moodiness)

(Griffiths, et al, 2014: 121).

e. Conflict

Menurut Griffiths, et al, (2014: 121), konflik yang terjadi antara pengguna

facebook dengan lingkungan sekitarnya (konflik interpersonal), konflik dalam

tugas lainnya (pekerjaan, tugas, kehidupan sosial, hobi) atau konflik yang
16

terjadi dalam dirinya sendiri (konflik intrafisik atau merasa kurangnya kontrol)

yang diakibatkan karena terlalu banyak menghabiskan waktu menggunakan

facebook.

f. Relaps

Griffiths, et al, (2014: 121) menyatakan bahwa saat individu berusaha

berhenti atau mengurangi menggunakan facebook secara berlebihan namun

tidak berhasil dan kembali menghabiskan waktu menggunakan facebook

dengan intensitas yang lebih tinggi. Saat individu belum sembuh dari perilaku

addiction dan semakin meningkatkan waktu penggunaanya maka akan

berakibat buruk dan akan sulit untuk diatasi jika tidak dilakukan penanganan

terhadap perilaku addiction.

2.1.5 Dampak Facebook Addiction

Denti, et al, (2012, dalam Satici & Uysal, 2015: 186) menyatakan bahwa

facebook addiction dapat mempengaruhi lower self-esteem (rendahnya keterbukaan diri),

lower subjective well-being (rendahnya kesehatan secara subjektif), depresi berat dan

kecemasan yang berlebihan. Kuss dan Griffiths, (2011, dalam Satici & Uysal, 2015:

186), facebook addiction dapat berdampak pada gangguan kesehatan mental dan

membuat terganggunya fungsi psikologis, kehidupan sosial, dan pekerjaan. Selain itu

menurut pandangan Koc dan Gulyagci (2013, dalam Satici & Uysal, 2015: 186),

penggunaan yang berlebihan terhadap facebook dapat menyebabkan menurunnya

kualitas kebahagiaan soseorang yang berhubungan dengan dampak negatif pada

kehidupan masyarakat terutama interaksi tatap muka dan diskusi kelompok,

mengakibatkan depresi berat, kecemasan dan insomnia.

Permasalahan facebook addiction mempunyai hubungan yang signifikan pada

masalah sosial, penggunaan facebook yang berlebihan memperlihatkan bahwa


17

pengguna aktif bersosial di facebook mempunyai kecendrungan untuk menghindari

interkasi tatap muka dan tidak aktif bersosial didunia nyata dan masalah ini

berhubungan positif dengan tingkat kesepian Golden, et al, (2009, dalam Satici &

Uysal, 2015: 189). Al-Khadam (2013: 22) menyatakan bahwa terlibat dalam berbagi

aktivitas dan lama menggunakan facebook berpengaruh negatif terhadap komunikasi

interpersonal terutama kualitas hubungan interpersonal pada keluarga, sahabat dan

rekan kerja sehingga akan berdampak terhadap kemampuan komunikasi

interpersonal.

Nurmandia, et al, (2013: 111) berpendapat bahwa selain sisi positif terhadap

facebook sebagai media komunikasi dan untuk memperluas pertemanan, facebook

addiction memiliki dampak negatif diantaranya adalah kehilangan banyak waktu yang

bermanfaat, kebingungan antara dunia maya dan dunia nyata, kegagalan akademik,

stress jika tidak menggunakan facebook, selain itu jika tidak dilakukan pengobatan atau

kontrol terhadap penggunaan facebook maka akan mengakibatkan perubahan biologis.

Andreassen, et al, (2012: 503) menyatakan bahwa facebook addiction

merupakan bentuk yang lebih spesifik dari internet addiction. Penggunaan facebbok

yang sangat tinggi sehingga dibutuhkan sebuah alat ukur psikometrik untuk menilai

facebook addiction. Berdasarkan permasalahan ini the bergen facebook addiction scale dibuat

sebagai sebuah alat ukur untuk mecerminkan enam dimensi terhadap fecabook

addiction, diantaranya adalah salience, mood modification, tolerance, withdrawal symptoms,

conflict, dan relaps. Menurut Andreassen, et al, (2012: 505), bergen facebook addiction scale

terdiri atas 18 pertanyaan, setiap tiga pertanyaan mewakili dari enam dimensi facebook

addiction. Setiap item pertanyaan memilki 5 pilihan jawaban dengan skor 1 untuk tidak

pernah sampai dengan skor 5 untuk sering, skor yang tinggi menunjukan semakin

tingginya tingkat facebook addiction.


18

Menurut Tang, et al, (2015: 102), dalam penelitiannya terkait personality traits

(karakter kepribadian), interpersonal relationship (hubungan interpersonal), online social

support (dukungan sosial online) dan facebook addiction (kecanduan facebook). Tujuan dari

penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab dari facebook addiction. Jumlah

partisipan dalam penelitian ini adalah 894 mahasiswa dan hanya 1% yang

diklasifikasikan sebagai facebook addiction, 17.8% diklasifikasikan sebagai alert

(peringatan) terhadap facebook addiction. Tang, et al, (2015: 105) menyatakan bahwa

penelitian ini menggunakan instrumen berdasarkan facebook addiction scale dari

Andreassen, et al, (2012) sebagai alat ukur terhadap facebook addiction dan ditambah

dengan 2 item pertanyaan dari obsessive compulsive disorder sehingga jumlah pertanyaan

20 item dan skor akhir dengan rentang 20-100. Pada skor hasil skala facebook addiction

partisipan dibagi menjadi 3 kategori sesuai dengan tingkat addiction terhadap facebook,

yaitu addict jika hasil skor 80, alert 50-79, dan normal jika 50.

2.2 Konsep Komunikasi

2.2.1 Definisi Komunikasi

Manusia sebagai makhluk sosial merupakan salah satu ciri terhadap perilaku

komunikasi antar manusia. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan setiap manusia

membutuhkan orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial akan cenderung untuk

berbicara, saling menukar gagasan, mengirim dan menerima informasi, berbagi

pengalaman serta bekerja sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya

(Suranto, 2011: 1). Sedangkan menurut Nasir dkk (2011: 3), komunikasi merupakan

penyampaian informasi dalam sebuah interaksi tatap muka yang berisi ide, perasaan,

perhatian, makna, serta pikiran yang diberikan pada penerima pesan dengan harapan

penerima pesan menggunakan informasi tersebut untuk mengubah sikap dan

perilaku.
19

Nasir dkk (2011: 4) menyatakan bahwa komunikasi merupakan ilmu

pengertahuan sosial yang bersifat multidisipliner, maka defenisi-definisi mengenai

komunikasi menjadi sangat beragam. Setiap definisi memiliki penekanan arti,

cakupan, dan konteks yang beragam satu sama lain. Terdapat banyak defenisi

komunikasi yang semuanya setelah dirangkum dapat dikategorikan menjadi limabelas

komponen konseptual. Komponen tersebut mengandung arti dan makna yang

memberikan pengertian tersendiri sesuai dengan konteks yang terkandung

didalamnya, yaitu:

a. Simbol atau verbal

Menurut Nasir dkk (2011: 4), komunikasi adalah pertukaran pikiran atau

gagasan secara. Pertukaran ini merupakan bentuk transfer learning antara kedua

belah pihak dlaam rangka mencapai suatu kesepakatan bersama tentang ide,

perasaan, perhatian, makna, dan pikiran.

b. Pengertian atau pemahaman

Nasir dkk (2011: 4) menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang

dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku.

Komunikasi memerlukan tingkat pemahaman yang kuat antara kedua belah

pihak yang terlibat dalam proses komunikasi sehingga komunikasi juga

dipandang sebagai proses dimana individu memahami dan dipahami orang

lain. Perbedaan presepsi antara kedua belah pihak yang terlibat dalam proses

komunikasi tersebut membawa pemaknaan atau pemahaman yang berbeda

pula hingga pada perilaku yang ditampilkan.

c. Interaksi atau hubungan dalam proses sosial

Interaksi adalah perwujudan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan terjadi

interaksi. Dengan komunikasi, sesorang melakukan proses interaksi sosial


20

dimana antarpribadi melakukan kontak sosial dan bertukar pengalaman

antarsesama (Nasir dkk, 2011: 4).

d. Pengurangan rasa ketidakpastian

Komunikasi timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi

ketidakpastian, bertindak secara efektif, serta mempertahankan atau

memperkuat ego Burnland (1964, dalam Nasir, dkk 2011: 4). Menurut Nasir

dkk (2011: 4), pertukaran informasi melalui komunikasi akan mempersempit

anggapan yang salah akibat salah prediksi dan salah pengertian. Dengan

mengurangi ketidakpastian karena belum pernah dikomunikasikan, maka

komunikasi menjadi garis terdepan untuk membina hubungan saling percaya

diantara sesama. Kepastian yang didapatkan dari proses komunikasi akan

membuat proses interaksi menjadi suatu kondisi helping relationship, dimana

terjadi proses saling membantu untuk mendapatakan situasi simbiosis

mutualisme atau kerja sama yang saling menguntungkan

e. Proses

Komuniksi merupakan proses penyampaian informasi, gagasan, emosi,

keahlian, dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata,

gambar, angka, dan lain-lain. Proses ini melibatkan sedikitnya komponen

pengirim pesan, penerima pesan, dan pesan yang akan disampaiakan (Nasir

dkk, 2011: 4).

f. Pengalihan, penyampaian atau pertukaran


21

Penggunaan kata dalam komunikasi menunjuk pada pengalihan dari suatu

benda atau orang ke benda atau orang lainnya menjadi bermakna (Nasir dkk,

2011: 4).

g. Menghubungkan

Komunikasi adalah proses yang menghubungkan satu bagian kehidupan

dengan bagaian lainnya dengan tujuan yang telah ditetapkan (Nasir dkk, 2011:

5).

h. Kebersamaan

Komunikasi adalah proses yang membuat sesuatu yang semula hanya dimiliki

seseorang menjadi milik dua orang atau lebih, dengan harapan terjadi

persamaan presepsi dan pemahaman, serta perilaku (Nasir dkk, 2011: 5).

i. Saluran, jalur atau alat

Komunikasi merupakan sarana untuk mengirim pesan, dimana sumber pesan

dari komunikator diberikan kekomunikan untuk diolah dan interpretasikan.

Misalnya telegraf, telepon, radio, dan lain-lain (Nasir dkk, 2011: 5).

j. Replikasi memori

Menurut Nasir dkk (2011) menyatakan bahwa komunikasi merupakan proses

mengarahkan perhatian dengan mengunggah ingatan. Perbedaan retensi

memori dalam sebuah storage pada individu membuat seseorang mempunyai

perbedaan dalam sebuah memori. Ada yang mempunyai ingatan jangka

panjang (long therm memory) dan ingatan jangka pendek (short therm memory)

(Nasir dkk, 2011: 5).

k. Tanggapan diskriminatif

Komunikasi adalah tanggapan pilihan atau terarah pada suatu stimulus. Hal

ini tidak terlepas dari konsep stimulus-respon dimana akan terjadi reaksi bila
22

seseorang melakukan aksi. Tanggapan tersebut berupa aksi yang primitif dari

seseorang (Nasir dkk, 2011: 5).

l. Stimuli

Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang

berisikan stimuli diskriminatif dari suatu sumber terhadap penerima (Nasir

dkk, 2011: 5).

m. Kesengajaan

Komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian pesan yang yang disengaja

dari sumber terhadap penerima dengan tujuan memengaruhi tingkah laku

penerima (Nasir dkk, 2011: 5).

n. Waktu atau situasi

Komunikasi merupakan situasi transisi dari suatu strukutur keseluruhan

situasi atau waktu sesuai pola yang diinginkan (Nasir dkk, 2011: 5).

o. Kekuasaan atau kekuatan

Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan atau

kekuasaan. Melalui komunikasi, sesorang mampu mengendalikan sesuatu

sehingga dapat mengarahkan seseorang pada suatu hal sesuai dengan yang

diinginkan (Nasir dkk, 2011: 5).

2.2.2 Unsur-unsur dalam Komunikasi

Nasir dkk (2011: 3) menyatakan bahwa pada awalnya komponen komunikasi

hanya terdiri atas tiga unsur yaitu siapa yang bicara, apa yang dibicarakan, dan siapa

yang mendengarkan. Sedangkan menurut Cangara (2004, dalam Nasir dkk, 2011: 32)

berpendapat komponen dalam ilmu komunikasi semakin berkembang dan

bertambah. Komponen tersebut dikenal dengan konsep SMCR yakni source

(pengirim), message (pesan), channel (saluran-media), dan receiver (penerima). Sedangkan


23

menurut Miller & Fleur (dalam Nasir dkk, 2011: 32) menambahkan unsur efek atau

umpan balik sebagai pelangkap dalam komunikasi yang efektif. De Vito (1997, dalam

Nasir dkk, 2011: 32) menambahkan bahwa faktor lingkungan merupakan unsur yang

tidak kalah penitngnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi, sehingga

secara lengkap unsur dalam komunikasi meliputi:

a. Source (pengrim)

Sumber atau komunikator merupakan pemrakarsa atau orang yang pertama

memulai terjadinya proses komunikasi. Hal ini disebabkan karena semua

peristiwa komunikasi akan melibatkan dan tergantung dari sumber pembuat

atau pengirim informasi (Suranto, 2011: 7). Menurut Purwoastuti dan Walyani

(2015: 6) pengirim yang dimaksud adalah orang yang masuk dalam hubungan,

baik interpersonal dengan diri sendiri, interpersonal dengan orang lain dalam

kelompok kecil dan dalam kelompok besar. Nasir, dkk (2011: 32)

mendefinisikan encoder adalah suatu aktifitas internal pada komunikator dalam

menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal dan non verbal,

yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa, serta disesuaikan dengan

karakteristik komunikan.

b. Message (pesan)

Pesan adalah produk utama dalam komunikasi. Pesan berupa lambang-

lambang yang menjalankan ide atau gagasan, sikap, perasaan, praktik, atau

tindakan. Pesan ini dapat berbentuk kata-kata tertulis, lisan, gambar-gambar,

angka-angka, benda, gerak-garik atau tingkah laku, dan berbagai bentuk

tanda-tanda lainnya. Komunikasi dapat terjadi dalam diri seseorang, antara

dua orang, diantara beberapa orang, atau banyak orang (Nasir dkk, 201: 33).

Sedangkan menurut Purwoastuti dan Walyani (2015: 6) menyatakan tentang


24

pesan yang dimaksud adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada

penerima. Agar dapat diterima dengan baik pesan hendaknya dirumuskan

dalam bentuk yang tepat, disesuaikan, dipertimbangkan berdasarakan keadaan

penerima, hubungan pengirim dan penerima, dan situasi waktu komunikasi

dilakukan.

c. Channel (media)

Nasir dkk (2011: 33) menyatakan bahwa media merupakan sarana yang

digunakan oleh komunikator untuk memindahkan pesan dari pihak satu ke

pihak lainnya. Adanya komunikasi antarpribadi, banyak ahli komunikasi

berpendapat bahwa pancaindra merupakan media komunikasi dalam

komunikasi antarpribadi seorang komunikator bertindak sebagai sumber dan

media. Purwoastuti dan Walyani (2015: 6) menyatakan setelah dikemas pesan

dapat disampaiakan melalui channel (media). Media dapat berupa lisan, tertulis

atau elektronik sebagai berikut:

a) Media lisan

Dapat dilakukan dengan menyampaikan sendiri pesan secara lisan, baik

melalui telepon atau media lainnya kepada perorangan, kelompok kecil,

kelompok besar, atau masa. Keuntungannya adalah penerima pesan

mendengar secara langsung tanggapan atau pertanyaan, memungkinkan

disertai nada ata warna suara, gerak-garik tubuh atau raut wajah, dan dapat

dilakukan dengan cepat (Purwoastuti & Walyani, 2015: 6).

b) Media tertulis

Pesan disampaikan secara tertulis melalui surat, memo, handout, gambar

dan lain-lain. Keuntungan adalah terdapat catatan sehingga data dan

informasi tetap utuh tidak berkurang atau bertambah seperti informasi


25

lisan, memberi waktu untuk dipelajari isinya, cara penyusunannya dan

rumusan kata-katanya (Purwoastuti & Walyani, 2015: 6).

c) Media elektronik

Purwoastuti dan Walyani (2015: 7) menjelaskan bahwa media elektronik

disampaiakan melalui faksmail, email, radio dan televisi. Keuntungan

menggunakan media elektronik adalah prosesnya cepat, data dapat

disimpan. Penggunaan media dalam penyampaian pesan tentunya dapat

mengalami gangguan masalah sehingga dapat menghambat komunikasi.

Menurut Suranto (2011: 8), media digunakan saat dalam situasi dan kondisi

tidak memungkinkan dilakukan komunikasi secara tatap muka. Prinsipnya

jika masih dimungkinkan untuk dilaksanakan komunikasi secara tatap

muka, maka akan lebih efektif jika komunikasi dilakukan secara tatap

muka.

d. Receiver (penerima)

Purwoastuti dan Walyani (2015: 7), penerima pesan merupakan pihak yang

menerima pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima pesan dapat disebut

khalayak, sasaran, komunikan atau audi-encer. Penerima pesan adalah

elemen penting karena menjadi sasaran komunikasi. Suranto (2011:8),

komunikan merupakan seseorang yang menerima, memahami, dan

menginterpretasi pesan. Dalam komunikasi interpersonal salain

menginterpretasikan penerima juga memberikan umpan balik sehingga

dapat diketahui kefektifan komunikasi yang dilakukan. Sedangkan menurut

Nasir dkk (2011: 34) menyatakan untuk mencapai keberhasilan dalam

komunikasi, sebaiknya sumber berita (source) harus mengenali penerima,

hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:


26

a) Karakteristik

b) Budaya

c) Teknik atau cara penyampaian

d) Tingkat pemahaman

e) Waktu

f) Lingkungan fisik dan psikologis

g) Tingkat kebutuhan

e. Efek atau pengaruh

Cangara (2004, dalam Nasir dkk, 2011: 35) mendefinisikan bahwa efek

merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan

penerima pesan sebelum dan sesudah menerima pesan. Menurut Nasir dkk

(2011: 35), efek atau pengaruh ini dapat terjadi pada pengetahuan, sikap,

dan tingkah laku seseorang. Pengaruh dapat diartikan sebagai hal yang

diinginkan oleh sumber pesan, yaitu perubahan sikap dan tingkah laku

menjadi lebih baik setelah menerima pesan. Sasaran pengaruh yang

diharapkan adalah tidak hanya penerima pesan tahu dan mengerti, namun

penerima dapat mengaplikasikan dan melaksanakan isi pesan dengan

sungguh-sungguh.

f. Lingkungan

Purwoastuti dan Walyani (2015: 7), lingkungan atau situasi (tempat, waktu,

iklim keadaan alam, cuaca, dan psikologi) merupakan faktor-fajtor yang

dapat mempegaruhi proses komunikasi. Sedangkan menurut Nasir, dkk

(2011, 35) menyatakan bahwa lingkungan merupakan situasi tertentu yang

dapat mempengaruhi proses komunikasi mulai dari sumber yang

menyampaikan pesan sampai efek atau pengaruh pesan terhadap penerima


27

pesan. Dalam penyampaian pesan beberapa faktor-faktor tertentu dapat

menganggu jalannya proses komunikasi, faktor tersebut antara lain sebagai

berikut:

a) Lingkungan sosial budaya

b) Lingkungan fisik

c) Lingkungan psikologis

d) Dimensi waktu

2.2.3 Proses Komunikasi

Nasir dkk (2011: 11) menyatakan bahwa setiap pelaku komunikasi akan

melakukan empat tindakan, yaitu membentuk, menyampaikan, menerima, dan

mengelola pesan. Keempat tindakan tersebut dilakukan secara berurutan sehingga

membentuk pesan yang menciptakan ide atau gagasan. Menurut Purwoastuti dan

Walyani (2015: 10) berpendapat bahwa dalam proses komunikasi terdapat dua

prespektif, pertama yaitu perspektif psikologis dimana komunikator yang akan

menyampaikan pesan akan terjadi proses mengemas dan membungkus pikiran

dengan bahasa (encoding) hasil encoding berupa pesan yang ditransmisikan kepada

komunikan. Kemudian komunikan terlibat dalam proses komunikasi intrapersonal

atau yang disebut decoding. Kedua yaitu perspektif mekanis, pesan yang disampaikan

menggunakan tangan atau lisan. Proses komunikasi ini berlangsung kompleks karena

bergantung pada situasi.

Nasir dkk (2011: 11) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi

proses komunikasi, yaitu perkembangan, persepsi, nilai, latar belakang sosial budaya,

emosi, jenis kelamin, pengetahuan, peran dan hubungan, serta lingkungan dan jarak.

Sedangakan menurut Potte dan Perry (1993, dalam Purwoastuti & Walyani, 2015: 11)
28

menjelaskan lebih detail terkait faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu sebagai

berikut:

a. Perkembangan

Purwoastuti dan Walyani (2015: 11) menyatakan agar dapat berkomunikasi

secara efektif dengan seseorang, tenaga kesehatan sebaiknya mengerti

pengaruh perkembangan usia, baik dari sisi bahasa maupun proses berpikir

orang tersebut. Ketika tenaga kesehatan berkomunikasi dengan remaja,

tenaga kesehatan tersebut mungkin perlu belajar bahasa keseharian mereka

sehingga diharapkan lancarnya proses komunikasi.

b. Persepsi

Persepsi adalah pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau

peristiwa. Persepsi dibentuk oleh pengharapan atau pengalaman. Perbedaan

persepsi dapat mengakibatkan terhambatnya komunikasi (Purwoastuti &

Walyani, 2015: 11).

c. Nilai

Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi

tenaga kesehatan untuk menyadari nilai seseorang. Tenaga kesehatan

sebaiknya berusaha untuk mengetahui dan mengklarifikasi nilai sehingga

dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat. Dalam hubungan

professional, tenaga kesehatan diharapkan tidak terpengaruh oleh nilai pribadi

(Purwoastuti & Walyani, 2015: 11).

d. Latar belakang sosial budaya

Bahasa dan cara komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh faktor budaya.

Budaya membatasi cara bertindak dan berkomunikasi dengan seseorang. Hal

ini tercerminkan dalam berbagi contoh mislanya, budaya dan logat seseorang
29

yang keras dapat menimbulkan salah persepsi ketika berkomunikasi dengan

seseorang yang latar belakang budayanya berbeda (Purwoastuti & Walyani,

2015: 11).

e. Emosi

Emosi merupakan perasaan subjektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti

marah, sedih, senang, akan dapat mempengaruhi tenaga kesehatan dalam

berkomunikasi dengan orang lain. Tenaga kesehatan perlu mengkaji dan

mengevaluasi emosi dirinya sendiri agar dalam melakukan asuhan tidak

terpengaruh oleh emosi alam bawah sadar (Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).

f. Jenis kelamin

Setiap jenis kelamin mempunyai gaya komunikasi yang berbeda. Tanned

(1990, dalam Purwoastuti & Walyani, 2015: 12) menyebutkan bahwa wanita

dan laki-laki mempunyai perbedaan gaya komunikasi. Dari usia tiga tahun,

wanita bermain dengan teman baiknya atau dalam group kecil, menggunakan

bahasa untuk mencari kejelasan dan menimalkan perbedaan, serta

membangun dan mendukung keintiman. Sedangkan laki-laki, menggunakan

bahasa untuk mendapatkan kemandirian aktivitas dalam group yang lebih

besar, dan jika ingin berteman, mereka melakukan dengan bermain

(Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).

g. Pengetahuan

Tingkat pengetahuan mempengaruhi komunikasi. Sesorang yang tingkat

pengetahuannya rendah akan sulit merespons pertanyaan yang mengandung

bahasa verbal dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tenaga

kesehatan sebaiknya mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga dapat


30

berinteraksi dengan baik dan akhirnya dapat memberi asuhan yang tepat

(Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).

h. Peran dan hubungan

Gaya dan komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan antarorang yang

berkomunikasi. Cara komunikasi tenaga kesehatan dengan koleganya akan

berbeda jika tenaga kesehatan beromunikasi dengan klien, tergantung pada

peran. Demikian juga antara orang tua dan anak (Purwoastuti & Walyani,

2015: 12).

i. Lingkungan

Lingkungan interaksi mempengaruhi komunikasi yang efektif. Suasana yang

bising, tidak ada privasi, dapat menimbulkan ketegangan dan

ketidaknyamanan. Begitu juga lingkungan fisik, tingkah laku manusia berbeda

dari satu tempat ke tempat lainnya (Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).

j. Jarak

Jarak dapat mempengaruhi komunikasi. Jarak tertentu akan memberi rasa

aman dan kontrol. Dalam dunia kesehatan tenaga kesehatan perlu

memperhitungkan jarak yang tepat untuk berinteraksi dengan klien saat

melakukan komunikasi (Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).

k. Citra diri

Manusia mempunyai gambaran tertentu mengenai dirinya, status sosial,

kelebihan dan kekurangannya. Citra diri dapat terungkap dalam komunikasi

(Purwoastuti & Walyani, 2015: 12).


31

l. Kondisi fisik

Kondisi fisik mempunyai pengaruh terhadap komunikasi. Kelancaran dalam

komunikasi dapat dipengaruhi oleh pancaindra pembicaraan (Purwoastuti &

Walyani, 2015: 12).

2.2.4 Tipe Komunikasi

Darmawan (2007, dalam Purwoastuti & Walyani, 2015: 13) menyatakan

bahwa komunikasi terjadi dalam beberapa bentuk, diantaranya bentuk komunikasi

personal (personal communication) dan komunikasi kelompok (group communication).

Menurut Cangara (2004, dalam Nasir dkk, 2011: 36) berpendapat bahwa terdapat

beberapa tipe komunikasi yang digunakan oleh komunikan dalam berkomunikasi.

Klasifikasi tipe komunikasi didasarkan atas sudut pandang dan bidang studi masing-

masing, akan tetapi beberapa macam tipe atau bentuk komunikasi yang sering

digunakan terdiri atas empat macam antara lain komunikasi dengan diri sendiri

(intrapersonal communication), komunikasi antarpribadi (interpersonal communication),

komunikasi publik (public communication), dan komunikasi massa (mass communication).

a. Intrapersonal communication

Rahmad (1996, dalam Nasir dkk, 2011: 36) mendefinsikan intrapersonal

communication merupakan komunikasi yang dilakukan pada diri sendiri yang

terdiri atas sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Menururt Nasir dkk (2011:

36), komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif

dari individu dalam pemerosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu

menjadi pengirim sekaligus penerima pesan dan memberikan umpan balik

bagi dirinya sendiri dalam proses internal.


32

b. Interpersonal communication

Menurut Liliweri (1994, dalam Nasir dkk, 2011: 37), interpersonal communication

merupakan suatu proses interaksi dan pembagian makna yang terkandung

dalam gagasan-gagasan dan perasaan. Sedangkan menurut Sendjaya (1994,

dalam Nasir dkk, 2011: 37) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal

merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau

sekelompok kecil orang dengan berbagai efek dan umpan balik. Komunikasi

interpersonal merupakan suatu pertukaran yaitu tindakan menyampaikan dan

menerima pesan secara timbal balik. Makna merupakan yang ditukarkan

dalam proses tersebut. Kesamaan pemahaman diantara individu yang

berkomunikasi terhadap pesan-pesan digunakan merupakan sebuah makna

dalam proses komunikasi (Nasir dkk, 2011: 37).

c. Public communication

Cangara (2004, dalam Nasir 2011: 43) menyatakan bahwa public communication

merupakan suatu proses komunikasi dimana pesan-pesan yang disampaikan

oleh pembicara dalam situasi tatap muka didepan khalayak yang lebih besar

dengan tujuan memberikan informasi, mendidik, serta memengaruhi orang

lain dalam upaya menumbuhkan semangat. Dalam public communication, pihak

yang terlibat berusaha untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut dan

menamkan diri sebagai identitas kelompok. Nasir dkk (2011: 43)

menggambarkan tentang public communication yang mempunyai ciri komunikasi

interpersonal kerena berlangsung secara tatap muka, namun terdapat

perbedaan antara komunikasi interpersonal dan komunikasi publik.

Komunikasi publik mempunyai ciri sebagai berikut:


33

a) Cara penyampaian pesan berlangsung secara kontinu.

b) Dapat diidentifikasi antara pengirim pesan dan penerima

c) Interaksi antara sumber pesan dan penerima terbatas

d) Umpan balik terbatas

e) Sumber tidak dapat mengidentifikasi satu-persatu pendengar atau

penerimanya.

f) Pesan sudah dipersiapkan.

g) Pesan yang disampaikan terbatas pada segemen tertentu

d. Mass communication

Menurut Berlo (1960, dalam Nasir dkk, 2011: 44), mass diartikan sebagai

semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-

orang yang berada diujung saluran. Menurut Cangara (2004, dalam Nasir,

2011: 44), komunikasi massa didefinisikan sebagai komunikasi yang

berlangsung dimana pesan yang dikirim dari sumber yang melembaga kepada

khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis. Unsur

penyebaran melalaui media massa terkandung unsur menyiarkan informasi,

mendidik, dan menghibur.

2.3 Konsep Kemampuan Komunikasi Interpersonal

2.3.1 Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal merupakan proses pengiriman pesan antara dua

orang atau lebih dengan efek dan feedback langsung. Komunikasi interpersonal

merupakan suatu pertukaran yaitu tindakan menyampaikan dan menerima pesan

secara timbal balik (Nasir dkk, 2011: 37). Pace (197, dalam Purwoastuti & Walyani,

2015: 19) berpendapat bahwa komunikasi interpersonal yang merupakan komunikasi

terjadi antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Komunikasi interpersonal
34

bersifat dua arah yang berarti melibatkan dua orang dalam situasi interaksi, terdapat

unsur dialogis dan ditujukan kepada sasaran terbatas dan dikenal. Mulyana (2008,

dalam Suranto, 2011: 3) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal merupakan

komunikasi antarpribadi yang dilakukan secara tatap muka, yang memungkinkan

setiap pelaku komunikasi menangkan reaksi reaksi pelaku komunikasi lain secara

langsung, baik secara verbal maupun nonverbal.

Person (1983, dalam Nasir dkk, 2011: 38) berpendapat bahwa komunikasi

interpersonal memeiliki karakteristik tertentu. Komunikasi interpersonal bersifat

transaksional yaitu tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara bersamaan

menyampaikan dan menerima pesan. Komunikasi interpersonal merupakan

rangakaian tindakan, kejadian, dan kegiatan yang terjadi terus-menerus. Komunikasi

interpersonal bukan sesuatu yang statis tetapi bersifat dinamis, sehingga segala yang

tercakup dalam komunikasi interpersonal selalu dalam keadaan berubah baik pelaku,

pesan, situasi, maupun lingkugannya.

Menurut Nasir dkk (2011: 38), dalam komunikasi interpersonal, terjadi

komunikasi konvergen. Komunikasi konvergen merupakan proses saling memahami dan

berbagi informasi mengenai realita diantara dua partisipan komunikasi atau lebih agar

tercapai saling pengertian dan kesepakatan makna (meaning). Komunikasi melibatkan

realitas fisik maupun psikologis dalam menanggapi sebuah informasi. Baik pengirim

pesan atau penerima pesan akan mempersepsikan (perceiving), lalu menginterpretasikan

informasi tersebut sehingga terjadi pemahaman (understanding) dan selanjutnya timbul

keyakinan (believing) yang menimbulkan tindakan (action).

Trenholm dan Jensen (1995, dalam Suranto, 2011: 3) mendefinisikan bahwa

komunikasi interpersonal sebagai komunikasi antar dua orang yang berlangsung

secara tatap muka (dyadic communication). Sifat dyadic communication yaitu: spontan dan
35

informal, saling menerima feedback secara maksimal, serta partisipan berperan

fleksibel. Sedangkan menurut Cangara (2004, dalam Nasir, 2011: 38) menggambarkan

tentang komunikasi interpersonal yang dibedakan menjadi dua macam, yaitu dyadic

communication dan small group communication sebagai berikut.

a. Dyadic communication

Dyadic communication merupakan komunikasi yang berlangsung antara dua

orang secara tatap muka yang berbentuk percakapan, dialog, dan wawancara.

Percakapan berlangsung dalam keadaan bersahabat dan non-formal,

sedangkan dialog berlangsung dalam keadaan lebih dalam, dan lebih personal,

sedangkan wawancara sifatnya lebih serius dengan pihak dominan pada posisi

bertanya dan pihak lain pada posisi menjawab. Perawat melakukan pengkajian

dalam mendapatkan data yang akurat dengan menggunakan komunikasi

terapeutik serta melakukan asuhan keperawatan dengan konsep humanistik

yang merupakan aplikasi dari dyadic communication (Nasir dkk, 2011: 39).

b. Small group communication

Menurut Nasir dkk (2011: 39), small group communication merupakan

komunikasi dengan kelompok kecil antara tiga atau lebih yang dilakukan

dengan cara tatap muka. Dasar dalam small group communication adalah setiap

anggota yang terlibat dalam komunikasi dengan tatap muka dapat berbicara

dalam kedudukan yang sama sehingga tidak ada pembicara tunggal yang

mendominasi seperti komunikasi dyadic.

Suranto (2011: 4) mengidentifikasi bahwa terdapat berbagi definisi tentang

komunikasi interpersonal, sehinggan dapat disumpulkan bahwa komunikasi

interpersonal adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan antar pengirim

pesan dan penerima pesan baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi
36

dikatakan secara langsung (primer) apabila pelaku komunikasi melakukan proses

komunikasi tanpa menggunakan media. Sedangkan komunikasi tidak langsung

(sekunder) proses komunikasi menggunakan media.

2.3.2 Kemampuan Komunikasi Interpersonal

Menurut Suranto (2011: 92) menyatakan bahwa kemampuan komunikasi

interpersonal merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting bagi siapapun.

Setiap orang perlu untuk menjalin hubungan harmonis dan kerjasama dengan orang

lain untuk mencapai tujuan terntentu. Kemampuan komunikasi interpersonal dalam

keadaan apapun sangat diperlukan sebagai upaya menjaga kualitas hubungan antar

manusia, baik secara internal maupun eksternal. Siamian (2014: 324) berpendapat

bahwa kemampuan komunikasi yang baik merupakan dasar keterampilan dalam

kehidupan sosial dan beberapa penelitian menyatakan peran penting komunikasi bagi

kehidupan manusia, terutama dampak psikologis pada individu dan perkembangan

pengetahuan manusia dalam komunikasi. Kemampuan komunikasi dapat membantu

emosi individu untuk mengekspresikan kebutuhan mereka dalam mencapai tujuan

komunikasi interpersonal yang lebih baik. Pandangan tentang pentingnya

kemampuan komunikasi interpersonal juga diungkapkan oleh Ross, et al, (2014: 01),

komunikasi interpersonal dipandang sebagai keterampilan yang penting untuk semua

praktisi kesehatan. Pentingnya penilaian terhadap kemampuan komunikasi

interpersonal mengarah karena pergeresaran kerangkan pendidikan. Banyak terdapat

definisi tentang komunikasi interpersonal, kemampuan interpersonal mengacu pada

teknik yang digunakan dalam menyampaikan dan menerima pesan antara dua orang

atau lebih. Dehaghani, et al, (2012: 294) mengungkapkan bahwa praktisi kesehatan

terutama perawat memiliki keterampilan dan pola komunikasi komunikasi yang masih

rendah. Kurangnya keterampilan komunikasi interpersonal disebabkan karena kurang


37

tepatnya penggunaan bahasa (verbal) baik tertulis maupun lisan dan gerak isyarat atau

bahasa tubuh. Pola komunikasi tersebut berpengaruh terhadap cara dan keterampilan

komunikasi perawat terhadap rekan kerja dan pasien. Pola komunikasi yang tidak

tepat dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam memahami sehingga terjadi

pengulangan dan ketidakpuasan perawat sehingga mengakibatkan penurunan

keselamatan pasien. Ketepatan dalam berkomunikasi terutama komunikasi

interpersonal sangat dibutuhkan untuk meciptakan interaksi sosial dalam hubungan

saling percaya.

Menurut Spitzberg dan Cupach (2011, dalam Saarane, et al, 2014: 08),

komunikasi interpersonal terjadi karena adanya kerjasama antara individu dengan

pihak lain yang saling berhubungan. Spitzberg dan Cupach (2011, dalam Saarane, et

al, 2014: 08) menyatakan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal dibentuk oleh

aspek kognitif, keterampilan berkomunikasi atau terkait lainnya dan aspek afektif.

Aspek kognitif merupakan gagasan komunikator yang mengetahui dan memahami

kebutuhan komunikasi interpersonal yang efektif dan harapan dari komunikasi

tersebut. Aspek keterampilan berkomunikasi menunjuk pada perilaku yang sesuai,

efektif dan fungsional dalam situasi tertentu dan hubungan lainnya dalam komunikasi

interpersonal. Aspek afektif meliputi motivasi, perasaan, dan sikap atau perilaku

individu. Kemampuan komunikasi interpersonal dikontruksikan berdasarkan

kerjasama dari pelaku komunikasi yang berbeda dalam interaksi dan erat kaitannya

dengan sikap saling menghormati, toleransi dalam perbedaan dan siap untuk

pengembangan kepribadian.

Kemampuan interpersonal sebagai keterampilan seseorang secara efektif

untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan rekan kerja, seperti sebagai

pendengar yang baik, menyampaikan pendapat secara jelas dan dapat bekerja dalam
38

satu tim, baik antara guru dan mahasiswa, profesi kesehatan dan pasien (Puggina &

Silva, 2014: 111). Ross, et al,(2014: 02) menyatakan bahwa kemampuan komunikasi

interpersonal adalah keterampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam hubungannya

dengan orang lain, keterampilan untuk berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.

Efektivitas dalam komunikasi interpersonal oleh De Vito (1997, dalam Suranto, 2011:

82) menyatakan terdapat lima kualitas umum yang dipertimbangkan dengan

pendekatan humanistik, diantaranya opennes (keterbukaan), empathy (empati), positiveness

(perilaku positif), supportiveness (sikap mendukung), dan equality (kesetaraan).

Spitzberg (2003, dalam Hald, 2015: 1106) mendefinisikan bahwa kemampuan

komunikasi interpersonal sebagai kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain,

dengan merujuk pada kualitas terhadap keakuratan, kejelasan, keefektifan, dapat

dipahami, koherensi, keahlian dan kesesuain dalam berkomunikasi. Dari pengertian

tersebut, Rubin dan martin (1994, dalam Ang, 2013: 221) mengembangkan skala

kemampuan komunikasi interpersonal untuk mencapai komunikasi yang efektif.

Kemampuan komunikasi interpersonal tersebut terbagi dalam sepuluh dimensi antara

lain: self-disclosure, empathy, social relaxation, assertiveness, interaction management, altercentrism,

expressiveness, supportiveness, immediacy, and environmental control, penjelasan dari setiap

dimensi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Self-disclosure

Self-disclosure didefenisikan sebagai kemampuan untuk membuka atau

mengucapkan unsur-unsur kepribadian melalui komunikasi. Self-disclosure

adalah sengaja mengungkapkan informasi yang signifikan tentang dirinya yang

biasanya tidak diketahui oleh orang lain (Adler, 2014: 58).


39

b. Empathy

Empathy adalah proses identifikasi dan merasa seperti yang lain dengan

menjadikan orang lain sebagai acuan dan bukan berdasarkan refrensi

pengalaman pribadi. Empathy adalah untuk mengambil sudut pandang lain

dalam upaya untuk mengalami pikiran dan perasaan orang lain (Adler, 2014:

100).

c. Social relaxation

Social relaxation adalah dimensi ketiga dari kemampuan komunikasi

interpersonal dan digambarkan sebagai minimnya atau kurangnya kecemasan

atau ketakutan dalam menjalani kehidupan sosial sehari-hari. Social relaxation

terdiri dari perasaan nyaman, ketakutan sosial yang rendah, dan kemampuan

untuk menangani reaksi negatif atau kritik orang lain tanpa stress (Susilowati,

2012: 27).

d. Assertiveness

Assertiveness yaitu perilaku untuk memperjuangkan hak pribadi seseorang

dengan mempertimbangkan hak-hak orang lain. Komunikator yang asertif

mengungkapkan kebutuhan, tidak menyerang atau menegasikan kebutuhan

pribadi melainkan menghubungkan peristiwa dalam kehidupan (Puggina &

Silva, 2014: 111).

e. Interaction management

Interaction management merupakan kemampuan seseorang untuk menangani

proses komunikasi dalam kehidupan sehari-hari seperti membahas topik yang

akan dibicarakan, melakukan percakapan secara bergantian, memulai dan

mengakhiri percakapan, dan mengembangkan topik percakapan (Susilowati,

2012: 27). Sedangkan menurut Puggina dan Silva (2014: 111), ineteraction
40

management melibatkan umpan balik dua arah yang menunjukan segi saling

kesepemahaman dan dalam kaitannya dengan memahami apa yang orang lain

rasakan melalui komunikasi non-verbal.

f. Altercentrism

Dalam dimensi altercentirsm, hal ini mengacu terhadap ketertarikan terhadap

topik yang dimulai, perhatian penuh pada apa yang dikatakan dan bagaimana

cara mengatakan oleh komunikator. Ketertarikan ini tidak hanya dari segi

ketanggapan saja tetapi juga responsif terhadap apa yang komunikator

pikirkan dan mampu beradaptasi selama percakapan (Susilowati, 2012: 27).

g. Expressiveness

Expressiveness merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan

melalui perilaku non-verbal dan verbal dari pikiran dan perasaan. Termasuk

didalamnya perilaku non-verbal seperti ekspresi wajah, gerak tubuh (gesture),

penggunaan kata-kata yang tepat dalam mengekspresikan diri seseorang

(Susilowati, 2012: 28).

h. Supportiveness

Supportiveness adalah kemampuan dalam memberikan tanggapan yang

menunjukan dukungan dalam suatu kondisi. Tujuan memberi dukungan

adalah agar perasaan yang dimiliki antra kedua orang yang berkomunikasi

sama sehingga proses komunikasi menjadi lebih mudah dan efektif (Adler,

2014: 322).

i. Immediacy

Immediacy merupakan kesediaan untuk saling terbuka dalam komunikasi

interpersonal. Tujuannya adalah untuk memperdalam hubungan komunikasi,


41

menyamakan persepsi dan perhatian dalam komunikasi interpersonal

(Puggina dan Silva (2014: 111).

j. Environmental control

Environmental control menunjukan kemampuan sesorang untuk mencapai

tujuan yang ditetakan dan dapat memenuhi kebutuhan pribadi. Kemampuan

untuk menangani konflik dan memecahkan masalah dalam suasana kooperatif

(Susilowati, 2012: 28).

Suranto (2011: 79), komunikasi interpersonal dianggap efektif, jika orang lain

memahami pesan yang disampaikan dengan benar, dan memberikan respon sesuai

dengan yang diinginkan. Komunikasi ini dapat membantu seseorang terhadap

tercapainya tujuan tertentu. Sebaliknya, jika komunikasi interpersonal tidak berhasil,

maka dapat berakibat fatal dari sekedar membuang waktu, sampai akibat buruk yang

tragis.

Ang, et al, (2013: 216) menyatakan tentang pentingnya komunikasi yang

berdampak langsung terhadap kesehatan, seperti status kesehatan, kepatuhan, dan

kepuasaan pasien. Penelitian ini melakukan tinjauan sistematis dalam 4 database yang

memuat artikel, diantaranya pubmed, medline, embase, dan psycoinfo. Ang, et al, (2013:

218), pencarian awal mengahasilkan 9 instrument untuk mengkur tingkat kemampuan

komunikasi, diantaranya communicative adaptability scale, communicative clexibility scale,

communicator style measure, conversation skill rating scale, interaction involvement scale,

interpersonal communication competence scale, interpersonal, communication inventory, interpersonal

communication satisfaction inventory, dan self- Perceived communication competence scale. Dari 9

instrument tersebut dilakukan tinjauan literatur secara sistematis berdasarakan

konten, readability dan sifat psikometrinya. Hasil yang paling sesuai berdasarkan
42

konten, readability dan sifat psikometri adalah the communication adaptability scale dan the

interpersonal communication competence scale.

The interpersonal communication competence scale yang dibuat oleh Rubin dan Martin

(1994) juga digunakan oleh Ros, et al, (2014: 01) dalam penelitiannya yang bertujuan

untuk mengidentifikasi kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa kesehatan

yang menyatakan bahwa kemampuan komunikasi interpersonal sangat penting untuk

praktisi kesehatan dalam membantu meningkatkan kualitas, efektifitas, dan keamanan

klinis. Instrument penelitian ini berupa kuesioner dengan 10 dimensi dan terdiri 3

item pertanyaan yang mewakili 10 dimensi tersebut, sehingga terdapat 30 item jumlah

pertanyaan dengan menggunakan skala likert, mulai dari 1 untuk tidak pernah sampai

5 untuk selalu. Masing-masing dimensi tentang interpersonal communication competence

scale, yaitu self-disclosure, social relaxation, supportiveness, expressiveness, empathy, assertiveness,

environmental control, interaction management, altercentrism dan immediacy. Ros, et al, (2014:

03) hasil dari penelitian ini, hanya 56 mahasiswa yang berpartisipasi terdiri dari 41

(73.2%) dari sarjana kesehatan darurat dan 15 (26,8%) mahasiswa dari sarjana

keperawatan. Hasil dari interpersonal communication competence scale menunjukan bahwa

mahasiswa mempunyai kemampuan komunikasi yang tinggi dan rendah berdasarkan

hasil mean dan standard deviation (SD) pada setiap item pertanyaan. Mahasiswa yang

menunjukan tingginya kemampuan komunikasi interpersonal contohnya, yaitu mean

= 4.0, SD= 0.63 yang mewakili dimensi empathy, mean =4.05, SD= 0.80 mewakili

dimensi social relaxation, mean = 4.29, SD= 0.65 mewakili immediacy, dan mean = 4.39,

SD= 0.70 mewakili supportiveness. Sedangkan mahasiswa yang menunjukan rendahnya

kemampuan komunikasi interpersonal contohnya, yaitu mean= 2.73, SD= 0.80

mewakili dimensi interaction management dan mean=2.95, SD=0.75 yang mewakili


43

dimensi self-disclosure. Pada skor hasil untuk mengidentifikasi kemampuan komunikasi

interpersonal mahasiswa kesehatan dikatakan tinggi jika mean 4.0, SD 0.60 dan

dikatakan rendah jika mean 2.73, SD 0.80.

2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal

Nasir dkk (2011: 39) menyatakan komunikasi interpersonal dianalogikan

seperti fenomena gunung es (the communication iceberg), fenomena gunung es ini

menggambarkan bahwa komunikasi interpersonal selalu mengedepankan siapa yang

terlibat dalam komunikasi, menggunakan bahasa apa, dan menggunakan media apa,

dengan berdasarkan hal tersebut seakan-akan telah diketahui seberapa besar tingkatan

atau kualitas komunikasinya. Analogi ini menjelaskan berbagai hal yang

mempengaruhi atau memberi kontribusi pada bagaimana bentuk setiap tampilan

komunikasi. Gunung es yang tampak dianalogikan sebagai bentuk yang teramati atau

terlihat (visible atau observable aspect) sebagai berikut:

a. Interactant

Interactant merupakan orang yang terlibat dalam interaksi seperti pembicara,

penulis, pendengar, dan pembaca dengan berbagai situasi yang berbeda (Nasir

dkk, 2011: 39).

b. Simbol

Simbol terdiri atas huruf, angka, kata-kata, tindakan dan bahasa simbol seperti

bahasa Indonesia, bahasia Inggris, dan lain-lain (Nasir dkk, 2011: 39).

c. Media

Media merupakan saluran yang digunakan dalam situasi komunikasi (Nasir

dkk, 2011: 39).

Nasir dkk (2011: 40) menyatakan invisible atau unobservable aspect yang

merupakan bagian bawah gunung es yang menjadi penyangga tidak tampak atau tidak
44

teramati. Bagian penyangga ini merupakan bagian terpenting dalam komunikasi,

dimana tampilan komuniaksi yang teramati atau tampak di pengaruhi oleh berbagai

faktor yang tidak terlihat, namun sangat terasa pengaruhnya, yaitu sebagai barikut:

a. Pengertian

Untuk mengerti sebuah makna saat berkomunikasi, maka akan ada berbagai

simbol dan cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata,

gambar, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan simbol yang mewakili suatu

makna, misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan marah, kata pohon

mewakili tumbuhan, tatapan mata tajam mewakili keseriusan terhadap isi

pesan dan sebagainya (Nasir dkk, 2011: 40).

b. Belajar

Intepretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi

yang diasosiasikan pengalaman, intepretasi muncul dari belajar yang di

peroleh dari pengalaman. Intepretasi yang muncul sebagai tindakan mengikuti

aturan yang di peroleh dari pengalaman. Pengalaman merupakan proses

memahami pesan berdasarkan yang individu pelajari. Jadi makna yang

individu lakukan merupakan hasil belajar, pola-pola atau perilaku. Membaca,

menulis, dan menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal dan

kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil belajar dari lingkungan

(Nasir dkk, 2011: 40).

c. Subjektivitas

Pengalaman setiap individu sangat berbeda, sehingga saat individu meng-

encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan

mengartikan pesan tidak ada yang sama. Interpretasi dari dua orang yang

berbeda akan terhadap objek yang sama (Nasir dkk, 2011: 40).
45

d. Negosiasi

Komunikasi merupakan pertukaran simbol. Semua pihak yang terlibat dalam

interaksi komunikasi memiliki tujuan untuk saling mempengaruhi. Dalam

upaya tersebut terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga

tercapai saling pengertian. Sehingga negosisasi merupakan pertukaran simbol

yang sama dengan proses pertukaran makna, masing-masing pihak

menyesuaikan makna satu sama lain (Nasir dkk, 2011: 40).

e. Budaya

Setiap individu adalah hasil belalar dari dan dengan orang lain, individu adalah

pertisipan dari kelompok, organisasi, dan anggota masyarakat melalui

partisipasi berbagai simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan

masyarakat. Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang

kita terima dan kita adaptasi melalui komunikasi budaya diciptakan,

dipertahankan, dan diubah, sedangkan budaya menciptakan cara pandang

(point of view) (Nasir dkk, 2011: 40).

f. Interacting levels and context

Komunikasi manusia berlangsung dalam berbagai konteks dan tingkatan.

Lingkup komunikasi setiap individu sangat beragam mulai dari komunikasi

antarpribadi, kelompok, organisasi, dan massa (Nasir dkk, 2011: 40).

g. Self reference

Perilaku dan simbol yang digunakan individu untuk mencerminkan

pengalaman yang dimilikinya, yang artinya setiap kata yang kita gunakan dan

lakukan serta cara menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah

refleksi makna, pengalaman, kebutuhan, dan harapan-harapan setiap individu

dalam komunikasi (Nasir dkk, 2011: 40).


46

h. Self reflexivity

Kesadaran diri (self-consciousnes) merupakan keadaan dimana seseorang

memandang dirinya sendiri sebagai bagian dari lingkungan. Inti dalam

komunikasi adalah bagaiman pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian

dari lingkungannya dan hal tersebut berpengaruh pada komunikasi (Nasir

dkk, 2011).

i. Inevitability

Manusia tidak mungkin untuk tidak berkomunikasi. Walaupun manusia tidak

melakukan apapun, tindakan diam akan tercermin dari nonverbal yang terlihat

dan itu mengungkapkan suatu makna komunikasi (Nasir dkk, 2011: 40).