You are on page 1of 2

Propofol dan epilepsi

Hubungan antara propofol dengan rentang kejadian eksitasi selama dan setelah anesthesia
telah diketahui dengan baik.1 Secara tipikal, pasien yang mengalami episthotonos atau
kejadian epileptik tidak memiliki riwayat epilepsi sebelumnya, dan pemeriksaan, termasuk
elektroensefalografi dan pencitraan otak, semuanya dalam batas normal. Walaupun aksi
hipnotik dari propofol dipercaya berasal dari modulasi allosterik dari GABA-mengaktivasi
kanal klorida.2 tidak ada mekanisme untuk episode eksitasi tersebut teridentifikasi secara
samar-samar. Kesamaan anatar opisthotonos dan spasme muskular diinduksi oleh antagonis
glisin, styrchnine, mendesak penelitian interaksi antara propofol dan glisin. Antagonisme
glisin oleh propofol telah dilaporkan pada tikus3,4 walaupun propofol pada dosis tinggi telah
dilaporkan sebagai agonis pada rekombinan reseptor glisin pada manusia yang diekspresi
dalam oosit Xenopus laevis.5
Para peneliti klinis telah melaporkan hasil yang bertentangan. Samra dkk6
memberikan infus agen sedatif dengan menggunakan propofol kepada pasien yang menderita
kejang parsial komplek dan merekam dari elektroda intrakranial yang ditanam di hipocampi
dan neokortek temporal. Walaupun efek dari propofol pada frekuensi tajam bervariasi sangat
besar antara pasien dan dengan perbedaan dosis propofol pada pasien yang sama, tidak ada
efek yang signifikan secara statistik dari propofol pada lokasi elektroda dengan berbagai
dosis yang dipelajari.6 Bertentangan dengan hal tesebut, Smith dkk7 melaporkan bahwa dosis
kecil dari propofol mengakibatkan aktivasi dari elektrokortikogram pada 17 dari 20 pasien
teranesthesi selama pembedahan intractable epilepsi.
Pada bahasan jurnal ini, Hewitt dkk8 melaporkan rekaman dari permukaan otak pasien
dengan intractable epilepsi di bawah anesthesi dengan isoflurane dan nitous oxide.
Menggunakan skala pengukuran ordinal, mereka membandingkan efek dari propofol dan
thiopental pada penelitian tipe crossover, dan mendapatkan tidak ada perbedaan signifikan
antara kedua obat. Walaupun metodologinya dikaburkan dengan penggunaan nitorus okside
yang secara bervariasi mengeksitasi EEG9 dan isoflurane yang mendepresinya,10 presentasi
aktivasi dari keluaran bentuk EEG epileptik pada pasien dengan thiopental, antikonvulsan
yang diketahui, memberikan perspektif yang berguna untuk membandingkan dengan
penelitian lain.
Para klinisi mencari pedoman yang dapat dimengerti untuk praktek klinik daripada
membaca elektroda otak dan kita dapat mengidentifikasi beberapa area yang terdefinisi
dengan jelas dari topik ini.

Apakah propofol aman untuk epilepsi?
Inggris mempublikasikan informasi tentang propofol11 yang mendeskripsikan kemungkinan
kejang, mioklonus atau opisthotonos’, biasanya setelah pemberian propofol dihentikan dan
saran ini didukung dengan baik oleh laporan kasus.12 Untuk epileptik individual, pertanyaan
tetap yang paling sering adalah tentang kebugaran untuk mengendarai kendaraan, dan kepada
mereka yang telah memenuhi peraturan pemerintah nasional beresiko kehilangan surat izin
mengemudinya jika mereka memiliki riwayat dari segala tipe epileptik, termasuk yang
dicetus oleh putusnya pengobatan dan pemberian medikasi prokonvulsan.11 Pada situasi ini,
baik pasien dan klinisi mungkin menyadari penggunaan propofol pada pasien epilepsi adalah
tidak dibenarkan, walaupun intelektual menyuarakan untuk memilihnya.
Penelitian dari Hewitt dkk8 tidak mengubah logika ini yaitu laporan kejadian epileptik
setelah pemberian agen anesthesi intravena lainnya lebih jarang terjadi dibandingkan dengan
propofol,1 walaupun kelebihan jumlah kejadian ini mungkin disebabkan oleh bias selama
publikasi. Reddy dkk meneliti eksitasi tiga kali lebih sering terjadi pada pasien yang
mendapatkan propofol daripada mereka yang mendapatkan thiopental.13 Lebih lanjut lagi,
beberapa episode tidak dimasukkan ke dalam publikasi informasi Inggris untuk thiopental.14

7 Pendekatan praktek lebih lanjut akan mengetahui bahwa propofol tidak memodifikasi aktifitas epileptik secara besar dan aktivasi beta yang disebabkan oleh propofol15 tidak mengganggu interpretasi elektrokortikogram bila infusi ditunda selama 15 menit sebelum pencatatan dimulai. Klinisi memerlukan pencatatan elektrofisiologikal yang mana secara beralasan mewakili kondisi klinis pasien yang tidak dapat dimodifikasi dan penelitian bahwa keluaran dari fokus epileptik mungkin meningkat atau menurun dengan propofol6 telah mengarahkan beberapa orang berpikir untuk menghindarinya dalam prosedur ini.Kemudian walaupun penelitian para ahli klinisi mengatakan bahwa ada sedikit bukti dari efek epileptogenik yang nyata dari propofol. orang yang memiliki tipe kejang yang biasa dan tidak mampu mendapat surat izin mengemudi. Depresi hemodinamik dan penumpukan thiopental adalah tidak menguntungkan yang mana hal ini dipikir dapat diperlukan untuk menilai kembali status neurologikal. sebagai contoh pada ensefalopati hipoksia. penggunaannya secara mudah dapat dibenarkan. Untuk saat ini. Untuk epilepsi.16 Pada penelitian bandingan. para klinisi yang pragmatis lebih memilih untuk menghindarinya. persyaratan klinis adalah untuk sedasi yang dapat diatur yang mana dapat diberikan atau dihentikan selama kemajuan dari prosedur. Apakah Propofol adalah agen sedatif yang cocok untuk kraniotomi pada pasien yang sadar? Pada prosedur ini. propofol mungkin disarankan. tidak ada penelitian yang dilakukan yang menyebutkan penggunaan relatif propofol dan thiopental untuk kondisi ini dan jarang-jarang terjadi yang mana terlihat pada pusat individu yang berarti bahwa ada prospek kecil dari seseorang untuk menjalaninya.21.17 Kegunaan propofol sebagai sedatif dan agen anesthesi memberikan keuntungan secara praktis yang jelas pada tipe prosedur ini. Kesimpulan Efek dari propofol pada otak dengan epileptik adalah komplek dan penggunaan kita terhadap agen ini ke epilepsi dapat secara beralasan berpedoman pada pragmatisme sebagai tambahan pengetahuan. Status epileptikus adalah kegawatan medis23 dan dokter sebaiknya tidak ragu untuk menggunakan intervensi apapun yang mereka yakini dapat efektif.19 Laporan anekdot dan laporan terpublikasi pada pasien individual menyarankan bahwa propofol mungkin merupakan terapi yang memuaskan untuk status epileptikus20 dan telah dijelaskan efektif pada keadaan di mana agen lain telah gagal. Pada pasien epilepsi lain dan pada status epileptikus.22 Saat ini. 7 dari 17 pasien yang menerima teknik sedatif neuroleptik untuk kraniotomi secara sadar mengalami kejang intraoperatif sedangkan seluruh 20 pasien yang menerima propofol bebas dari kejang. propofol sebaiknya mungkin dihindari pada pasien epilepsi yang memegang surat izin mengemudi atau memiliki prospek yang beralasan untuk melakukannya. . sepertinya tidak ada kontraindikasi penggunaan propofol sebagai sedasi atau induksi dan pemeliharaan pada anesthesi. Apakah propofol adalah pengobatan yang tepat untuk status epileptikus? Penelitian tentang kejang yang diinduksi pada tikus dengan elektro syok atau konvulsan pentylenetetrazol berespon terhadap propofol18 dan kejang yang diinduksi pada manusia untuk terapi elektrokonvulsif dilemahkan dengan penggunaan propofol sebagai agen anesthesi.