You are on page 1of 12

ANALISIS DIRI

TEORI KEPRIBADIAN CARL ROGER

(MAKARA)

Disusun oleh:

Arif Rosyidin - 1306379416

Fakultas Psikologi, Program Reguler, Kelas C

Desember 2016

Fakultas Psikologi UI, Depok

yaitu dari bayi hingga usia 6-7 tahun dihabiskan di lingkungan petani. Setelah dilahirkan. Pada masa ini. nenek dan kakak perempuan penulis. kecerdasan serta perbuatan-perbuatan yang tidak baik untuk dilakukan. ibu dan ayah penulis harus terpisah karena ditugaskan mengajar di tempat yang berbeda. Ayah penulis tinggal di Kebumen sedangkan ibu penulis tinggal di Purwokerto. Kakek dan nenek penulis banyak pergi ke sawah. sangat suka berlari larian dan melempar-lempar barang. Penulis diajarkan membaca kitab suci agama Islam sejak usia muda oleh ayahnya. penulis adalah anak yang sangat aktif. sungai membentuk penulis menjadi seorang anak yang lincah. Akan tetapi penulis tidak terlalu banyak berinteraksi dengan kakek dan nenek. hingga cerita yang cukup populer seperti si kancil banyak dikisahkan setiap malam. Penulis banyak menghabiskan waktu bersama mereka. ladang. Hal ini menyebabkan pada masa kehamilan penulis. Awal kehidupan penulis. dan pasar. Tugas analisis ini akan memuat riwayat hidup singkat penulis. Penulis senang . penulisan ini ditujukan untuk mengetahui dinamika perkembangan kepribadian penulis. Ayah penulis juga melatih penulis untuk melakukan praktik ibadah (sholat) sejak dini. Selain itu. banyak bergerak dan terbiasa mengalami luka-luka kecil karena bermain di luar. Ia adalah anak kedua dari 4 bersaudara. selain bersama kedua orang tua penulis banyak berinteraksi dengan kakek. Ia dilahirkan dari keluarga pendidik. dengan bukit. terutama ketika ayah dan ibu penulis pergi mengajar. Ayah dan ibu penulis berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Penulis dan kakak penulis belajar membaca Qur’an hampir setiap malam. Ibu penulis sering membacakan dongeng- dongeng sebelum tidur. PENDAHULUAN Penulisan analis diri ini bertujuan untuk pemenuhan tugas mata kuliah Keori Kepribadian Kontemporer. serta analisis kepribadian berdasarkan teori Carl Rogers. sehingga penulis sering bermain bersama mereka. Orang tua penulis tergolong memiliki religiusitas yang tinggi. tanah berbatu. Kisah-kisah legenda lokal. atau menonton kakek meracik rokok. Selain di sekitaran rumah. penulis banyak menghabiskan waktu bermain di sawah. kemudian diberi nama Arif Rosyidin oleh orang tuanya. Biografi Singkat Penulis dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Kebumen. pada tanggal 5 Desember 1995. sungai dan bukit-bukit di dekat rumah kakek dan nenek penulis. Pada masa sebelum masuk Taman Kanak-Kanak (TK). yang menjadi tempat tinggal keluarga penulis saat itu. Lingkungan fisik yang tergolong cukup ekstrim. Penulisan analisis diri ini merekam jejak perkembangan yang dialami oleh penulis selama usia hidup penulis. penulis dibesarkan di Kota Kebumen. seringkali penulis hanya meminta neneknya untuk menggendong dirinya. dengan menyelipkan pesan-pesan moral tentang kebaikan. Ayah dan kakak perempuan penulis juga sering beraktivitas di luar rumah.

di akhir kelas dua SD penulis harus pindah tempat tinggal bersama orang tua dan kakak perempuannya. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan SMA di SMA N 1 Kebumen. Walaupun begitu. Hal ini diperparah dengan teman pertama penulis di SD yang baru ini adalah anak yang nakal juga. Pada usia lima setengah tahun. Di masa ini. yang akhirnya diketahui anak-anak lain dan dilaporkan ke guru. prosotan dan berlari-larian ke SD di samping TK. dan mengikuti lomba ini di Semarang. Penulis sering pergi keluar kelas. Penulis melakukan kejahilan seperti mengkempiskan ban beberapa sepeda di parkiran sekolah. Selain itu. dan memiliki semakin banyak teman. pencak silat. dan dapat lulus dengan nilai yang cukup baik. Penulis bahkan sempat melukai guru TKnya dengan menendang tulang kering gurunya. kecamatan Pejagoan. Di SMP penulis tidak terlalu menonjol. Beberapa temannya sempat meminta tolong penulis untuk membuat sketsa gadis yang disukai. penulis masuk ke SDN 2 Watulawang. penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kutowinangun. Penulis menjadi anak yang penurut. Penulis bahkan berhasil menjadi juara kelas. penulis banyak membuat gambar-gambar sketsa. penulis berhenti berbuat jahil. pembangkang dan banyak sekali bergerak. Kemudian pada usia tujuh setengah tahun. Pada usia ini juga penulis sempat membuat ulah dengan berkelahi dengan seorang teman. dan cukup dikenal dengan karya-karyanya. Penulis juga tidak kesulitan mengikuti pelajaran. Teman-teman SD penulis pun datang menjenguk dan ia dapat merasakan kebaikan hati mereka. Kejadian ini pun terdengar hingga ke telinga guru-guru. Salah satu kompetisi yang dia ikuti yaitu O2SN. kemudian saya mendapatkan teguran. Ia sempat mengikuti berbagai macam kompetisi. Setelah kejadian itu. seorang anak yang sudah 2 kali tinggal kelas. Penulis dikenal memiliki selera humor yang cukup baik. kemudian memberikan bayaran dengan mentraktir makan siang. Kabupaten Kebumen. Di lingkungan baru ini. dia berhasil lolos hingga tahap Provinsi. Kecamatan Kutowinangun. bermain ayunan. Di akhir Sekolah Dasar. teman-teman SD yang lebih tua juga mendengar kabar ini dan membully saya. Penulis bahkan beberapa kali ditegur guru karena tidak memperhatikan pelajaran di kelas.melihat banyak orang dan semakin aktif ketika kondisi ramai. penulis kalah bersaing di berbagai bidang. Penulis juga berpindah SD ke SDN 2 Triwarno. Pada masa remaja. Setelah masuk TK penulis dikenal sebagai anak yang agresif. Akan tetapi selain teguran dari guru. karena dianggap sok jagoan dan membuat penulis terluka hingga tidak masuk sekolah beberapa hari. baik akademis maupun non-akademis. Ia juga terlibat . dia sering membuat tulisan-tulisan mengenai teman-teman sekelasnya di blog yang dia miliki. Kebumen. yang melarang penulis bermain air di dalam kelas. di desa Watulawang. dan menjadi anak yang lebih pendiam. penulis mengenal olahraga bela diri. penulis tetap dapat bergaul dengan teman-teman sebayanya dengan baik. penulis menemukan ketertarikan di bidang seni. Penulis sempat dikeroyok. dia lulus dengan nilai terbaik. penulis masih menjadi seorang anak yang sangat jahil. Kebumen.

Hasil ujian akhir yang didapatkan pun bisa dibilang cukup memuaskan. Palang Merah Remaja menjadi organisasi yang dipilih penulis untuk dia ikuti. yaitu Fakultas Psikologi.dalam permainan futsal yang sering dimainkan bersama teman-teman sekelasnya. Nilai rapot dan ujian SMA dapat menjadi modal penulis untuk bisa lolos ke Universitas Indonesia dengan jalur SNMPTN Undangan. Ia kesulitan mengatur jadwal hariannya. Di tahun kedua. Sejak tahun kedua SMA. pada akhir masa SMA penulis dapat lulus dengan nilai yang cukup baik. dan harus mengandalkan kontrol diri yang tinggi. dan sering terlambat mengumpulkan tugas. Ia mulai serius mengikuti pelajaran. Ia sempat mendapatkan peringkat terbawah di kelas pada tahun pertama di SMA. . Di bidang akademis. Ia mengenal konsep-konsep kemanusiaan melalui sejarah perjalanan organisasi kepalangmerahan internasional. Ia semakin memiliki ketertarikan di bidang olahraga selama masa SMA. Di tahun terakhir SMA. Ia banyak mempertanyaan nilai-nilai yang selama ini secara tidak sadar dia anut. Pada tahap berkuliah ini. Ia dan beberapa teman bahkan rela menginap dan belajar bersama di rumah salah seorang teman. Ia diterima di Fakultas yang memang dia impikan. dan bahkan tergolong buruk. penulis mulai lebih peduli dengan bidang akademisnya. Penulis cukup kesulitan menyesuaikan diri dengan suasana perkuliahan yang cukup bebas. Masa orientasi di kampus sangat signifikan mengubah pola pikir penulis. Berbagai aktivitas dan pembelajaran di kampus memberikan banyak pelajaran kepada penulis. menjadi asrama yang lebih sepi dan jauh dari orang terdekat penulis. penulis bukan seorang jagoan. penulis memilih untuk berlari sendirian. pengalaman sehari-hari yang cukup berbeda dengan budaya di tempat asal penulis juga meberikan penulis sudut pandang baru mengenai kehidupan. penulis mengalami proses adaptasi yang cukup sulit. Ditambah lagi. karena usaha yang cukup giat penulis lakukan bersama teman-teman belajarnya. penulis belajar dengan cukup serius. Ketika tidak ada teman. Terlebih karena ia berusaha mengikuti banyak kegiatan sejak awal masuk universitas. Selain itu. Ia juga belajar mengenai langkah- langkah pertolongan pertama dari materi-materi yang diajarkan di dalam organisasi ini. Ia juga mulai menyukai aktivitas donor darah ketika ia mengenal dan menjadi anggota PMR ini. Akan tetapi. critical thinking dan lain-lain. terutama dengan budaya akademis. ketika dia duduk bangku SMA. kemampuan kognitif penulis dapat dikatakan meningkat. meskipun dia masih tergolong malas belajar dan mengerjakan tugas. mengelilingi alun-alun kota untuk berolahraga. tempat tinggal penulis yang harus berpindah dari rumah yang nyaman. ia memiliki prestasi yang biasa- biasa saja. Di universitas. penulis aktif dalam bidang keorganisasian Palang Merah Remaja di SMAnya. ia mengenal konsep seperti reflective thinking. Ia dikenal sebagai anak yang sering terlambat masuk kelas.

Cara berpikir yang semakin berkembang membuat penulis semakin aktif belajar tentang banyak hal. akan tetapi diwaktu yang bersama penulis juga menjadi pribadi yang lebih tertutup. Penulis bahkan sempat mempertanyakan mengenai konsep Tuhan. budaya malas yang memang ada pada diri penulis sejak lama menjadi terpelihara dengn banyaknya kelonggaran jadwal di kampus. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman yang berasal dari asal daerah yang sama yaitu Kebumen. Ia lebih banyak berpikir dan sibuk dengan pergulatan di kepalanya sendiri. dan bahkan sedikit mengabaikan pelajaran akademis di kampus. penelitian dan presentasi yang diberikan di kampus. atau bahkan hingga drop out. Saat ini. Hal ini berdampak buruk pada prestasi penulis di kampus. seperti keorganisasian walaupun dia beberapa kali mengikuti kepanitian dan sebuah organisasi. Akan tetapi. Penulis tidak banyak terlibat dengan kegiatan di luar kampus. penulis masih mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. namun ia masih taat melakukan ibadah dan tetap meyakini Islam. baik ketika tinggal di asrama maupun setelah ia tinggal di sebuah kontrakan. nilai nilai yang didapatkan di kampus menjadi sangat buruk walaupun dia masih terus bertahan dan tidak mendapatkan peringatan. Ia masih berjuang untuk dapat lulus dari Universitas. dan berharap dapat memiliki pekerjaan yang baik di masa depan. Kemampuan komunikasi penulis meningkat dengan banyaknya tugas-tugas yang melibatkan diskusi. . Penulis mengembangkan empati dengan cukup baik.

maka akan ada discrepancy. maka actualization tendencynya akan mendekati identik. Seperti anak bayi yang sudah dapat merangkak. . Hal ini termasuk makhluk hidup. kebutuhan akan rasa aman. berkeinginan untuk dapat berjalan dengan merambat. Self Actualization adalah sub dari actualizing tendency. untuk seluruh alam semesta. dan penolakan akan perubahan. mereka juga memiliki keinginan untuk belajar dan berubah. The Self and Self-Actualization Konsep self berkembang ketika seseorang sudah memiliki pengalaman yang personal dan terdifirensiasi dari lingkungannya. TEORI Dasar teori yang menjadi dasar analisis ini yaitu Humanistic/Existensial theory. Kesadaran manusia berkembangan dari ketidaksadaran primitif menjadi awareness yang terorganisir. baik organik maupun non organik. untuk berubah dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. person-centered therapy milik Carl Rogers. ketika kondisi seseorang dengan kesadaraan yang dipersepsikannya tidak harmonis. Enhancement yaitu kebutuhan untuk menjadi lebih baik. Enhancement Walaupun manusia memili keinginan kuat untuk mempertahankan status quo. berkembang dan mencapai pertumbuhan. pengertiannya yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri (self) sesuai dengan percieved awareness. Ketika kondisi seseorang dengan kesadaran yang dipersepsikannya seiring (harmonis). Akan tetapi. sebagai pengalaman “i” atau “me”.yaitu pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisiologis. atau jarak anara actualization tendency dan self-actualization tendency. Maintenance Di dalam actualizing tendency nya terdapat kebutuhan akan maintenance. Acualizing Tendency Actualizing tendency yaitu kecenderungan pada manusia dan hewan untuk bergerak menuju kompleksitas atau menuju pemenuhan potensi-potensi yang dimiliki. dan benda mati. Berikut adalah konsep-konsep miliki Rogers yang akan digunakan: Formative Tendency Carl Rogers percaya bahwa ada kecenderungan (tendency) pada setiap materi.

Adanya jarak anatara self-concept dan ideal self menyebabkan incongurency atau kepribadian yang tidak sehat. Hal ini disebabkan oleh. perasaan bahwa dirinya merasa tidak layak mendapatkan pujian atau tidak percaya kepada orang yang memberikan pujian. Ideal Self Idel Self adalah sub kedua dari self. Awareness Tanpa adanya awareness.The Self-Concept Self concept adalah sub dari the self. dan ada positive self-regard (yaitu pengalaman memuji diri sendiri). dan terakhir dengan adanya positive self-regard kebutuan akan positive regard menjadi lebih autonomus dan self perpetuating. yaitu pandangan seseorang terhadap bagaimana dirinya seharusnya. self-concept dan ideal self tidak akan ada. Rogers menyebutkan awareness sebagai representasi simbolik (tidak harus verbal) dari beberapa porsi dari pengalaman seseorang. yaitu semua aspek dari pengalaman dan kondisi diri seseorang yang dipersipkan oleh kesadarannya (yang tidak selalu akurat). Level of Awareness Ada beberapa tingkatan kesadaran: Ignored or Denied : pengalaman yang tidak diacuhkan. atau dianggap tidak benar. liked or accepted). ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi. diantaranya memiliki kontak dengan orang lain. atau dibantah Accurately Symbolized: pengalaman yang disimbolkan dengan tepat dan diterima oleh self Distorted: pengalaman yang dipersepsikan oleh ke dalam self. namun terdistorsi Denial of Positive Experince Denial of Positive Experience yaitu pengalaman positif seperti pujian yang diabaikan. memiliki positve regard (need to be loved. Becoming A Person Untuk dapat menjadi seseorang. .

perasaan diterima karena kondisi kondisi tertentu. Barriers to Psychological Health Menurut Roger. Incongreunce Incongruence yaitu kesenjangan anatar ideal self dan self concept. Dapat menyebabkan vulnerability (kerentanan) dan Anxiety (kecemasan). Seseorang yang memiliki external evaluation (persepsi seseorang mengenai persepsi orang lain terhadap dirinya) buruk. akan sulit terbuka terhadap pengalamannya sendiri. sepeti prestasi atau pencapaian yang harus didapatkan. yang menyababkan ketidakakuratan. yaitu: Conditional positive regard. . terdapat beberapa hambatan yang memnyebabkan seseorang tidak memiliki kesehatan psikologis. Unconditional Positive Regards: perasaan penerimaan yang didapatkan tanpa syarat apapun.Terdapat dua positive regard. Dapat berupa denial (menolak kesadaran) atau distortion (mendistorsi pengalaman) Disorganization Disorganization yaitu tingkah laku tidak terorganisasi yang dapat muncul akbiat kesenjangan antara self dan organismenya. diterima sepenuhnya sebagai manusia. Condition of Worth Kondisi diamana kriteria penilaian penerimaan (positive regard) akan didapatkan apabila seseorang memenuhi ekpektasi orang lain. Defensiveness Defensiveness yaitu usaha untuk melindungi self concept terhadap ancaman.

.

meskipun dia tidak memilki seorang temanpun di sana. Seperti ketika dia mendapat berbagai positive regards ketika ia lulus SD. penulis juga merasa bahwa kemampuan berpikir penulis berkembang akibat paparan informasi dan perkuliahan yang dia dapat. serta berkat dorongan orang- orang disekitarnya seperti orang tua dan keluarga penulis. hingga dapat meraih prestasi yang cukup baik. sehingga ia tetap bisa mendapatkan pujian dari teman-temannya atas kemampuan milikinya. Akan tetapi. konsep dirinya sedikit terganggu. ketika masa-masa Ujian Nasional. Selain itu. namun dia juga mempersepsikan dirinya sebagai seseorang yang kurang disiplin dan pemalas. Terkadang dia memaksakan diri untuk menjadi seorang yang disiplin. penulis mampu mendisiplinkan diri untuk belajar dengan tekun selama beberapa bulan persiapannya. dan tempat dimana teman- temannya SDnya melanjutkan pendidikan. Dia mempertanyakan kembali keyakinan bahwa dirinya adalah seserang yang memilki kapasitas untuk bisa berkembang dan menjadi seseorang yang lebih baik. Hal ini sering kali menyebabkan incongruency. Dia juga sadar akan perkembangan dirinya. Penulis merasa bahwa kemampuan bela dirinya semakin hari semakin membaik. namun tidak bertahan lama. Formative Tendency dirasakan penulis ketika dirinya mempelajari bela diri. karena pertanyaan apakah konsep diri dan ideal self penulis sudah sesuai. incongruency terus terjadi. penulis bisa memiliki dispiplin yang tinggi. Hingga saat ini. Ketika di bangku kuliah. ketika dia menilik catatan-atau tulisan-tulisan yang dia buat. Enhancement yang dia miliki untuk mendapatkan pencapaian yang lebih tinggi saat itu. seperti di bidang olahraga. Dia berkeinginan untuk memilih SMP yang lebih dekat. ANALISIS Self-Concept penulis mengenai dirinya adalah seseorang yang cukup religius dan memiliki kemauan keras untuk belajar. Ketika dia pertama kali mendapatkan peringkat terbawah di kelas satu SMA. dia mampu berlatih dengan disiplin. konsep dirinya melihat bahwa dibidang-bidang tertentu. atau masih jauh dari kesesuaian. Meskipun begitu. hasil karya yang dia buat semakin hari semakin baik. dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMP yang lebih baik kualitasnya. dan kesenian. Konsep ini bertahan dan sedikit banyak berubah seiring perjalanan yang dilakukan penulis dari ia menduduki SD hingga kini di bangku perkuliahan. ia merasa bahwa dirinya perlu menjadi seorang yang sangat displin untuk dapat berhasil di seluruh aspek kehidupannya. dia merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang gagal. terlebih lagi manusia yang memiliki kesadaran akan kebutuhan untuk berkembang. Pengalaman-pengalaman positi dan negatif yang dialami penulis menjadi sebab berubah-ubahnya self-concept yang dimiliki penulis. karena dia sadar bahwa dirinya adalah seorang yang sangat pemalas. . karena dia dikenal sebagai anak yang cukup pandai. Maintenance dilakukan penulis pada beberapa tahap kehidupannya. dia berkeinginan untuk terus bertahan dengan teman-temannya saat itu. bahwa semua hal di dunia ini terus berkembang. Penulis memiliki Ideal Self sebagai seorang yang memiliki kedisiplinan tinggi.

di permainan sepak bola yang selalu membuatnya dikucilkan karena kemampuannya yang sangat buruk. Akan tetapi. Ketika dia berhasil membuat sketsa yang baik. Self concept dan Ideal self penulis masih terus berubah ubah. Hal ini terjadi karena penulis merasa bahwa hal ini bukan hal yang penting untuk kebahagiaan atau psychological well being penulis. karena dia merasa bahwa menjadi seorang psikolog yang mampu menolong orang lain yang memiliki kesulitan adalah hal yang luar biasa. ketika dimintai tolong oleh teman-temanya. penulis hanya mementingkan keyakinan akan Tuhan. memberikan kepercayaan bahwa penulis bisa berusaha lebih baik lagi. Selainitu. Hal ini tentu terdistori karena. dia mendapatkan peringkat yang baik. orang tuanya bersedih tetapi selalu memberikan dukungan. pengaruh nilai-nilai moral yang ditanamkan orang tuanya. karena IPK tidak dapat menjadi bukti sebagai seorang pelajar yang baik juga. Padahal hal ini. praktik ibadah yang tidak taat dipersepsikan penulis sebagai hal yang kurang penting. Ia dulu berkeinginan menjadi seorang psikolog yang sukses. dengan segala pengalaman dan pembelajaran yang telah ia alami. penulis selau yakin bahwa dirinya dapat mencapai Self Actualization dan menjadi person of tomorrow. seperti kritik atau nasihat dari teman mengenai kuliah penulis. seperti bermain atau bahkan bermalas-malasan. Distortion terhadap pengalaman penulis juga banyak terjadi. Ketika dirinya berbuat nakal. Dia merasa bahwa hal itu sesuai dengan konsep dirinya bahwa dia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. dilaporkan oleh guru TKnya. Kritik mengenai keyakinan dan ibadah penulis. . Pengalaman akan Positive Regards dia dapatkan ketika dia bisa diterima di lingkungan SDnya. rasa kemanusiaan yang dia dapatkan dari pengaruh organisasi kepalangmeraahan. Unconditional Positive regards dikenal oleh penulis ketika dia berhasil maupun gagal dari kedua orang tuanya. Denial sering penulis lakukan akan pengalaman- pengalaman yang menurut penulis menyakitkan. Penulis menyadari bahwa orang tua penulis dapat menerima penulis sebagai seorang manusia. terjadi karna kemalasan yang penulis rasakan. Self penulis masih belum sepenuhnya mencapai awareness yang baik. IPK jelas merupukana indikator yang jelas sebagai pengukur hasil belajar. serta pengalaman lain yang membentuk dirinya. Ia menyadari penerimaan orang lain dapat muncul ketika dia memiliki sebuah karya yang menurut orang lain adalah hal yang luar biasa. dan penulis hanya berasalan dan mencari pembenaran. Actualizing tendency disadari penulis saat ia memiliki cita-cita yang besar. hingga mendapat teguran dari guru di SD nya. hingga saat ini. Penulis lebih fokus kepada hal-hal yang menyenangkan menurut penulis. karena mereka membesarkan penulis dengan baik dari penulis kecil. Ketika dia mendapat prestasi yang sangat buruk di SMAnya. Ketika dia akhirnya bisa mencetak sebuah gol. IPK yang buruk penulis persepsikan bukan sebuah masalah. Seiring dengan berkembangnya waktu. kedua orang tua penulis menasehati dengan sabar. Terdapat berbagai hambatan yang masih penulis alami dalam perjalanannya menuju seseorang yang sehat secara psikologis.

. J. DAFTAR PUSTAKA Feist. (2013) Theories of Personalit fifth edition.. G J. & Roberts. Feist. New York: The MCGraw Hill Companies. . T..