You are on page 1of 4

ELECTRICAL CONSIDERATIONS - PERTIMBANGAN KELISTRIKAN

Elektron bergerak mengelilingi sebuah sirkuit dengan perbedaan potensial antara 2
titik yang dapat dilihat sebagai tekanan elektrisitas dan diukur dalam Volt (V). Jumlah
electron yang mengalir menunjukkan arus yang analog dengan volume elektrisitas dan diukur
dalam ampere (A) yang dalam pembahasan ini satuan mA lebih relevan dengan aspek
biologis. Jarigan juga memiliki resistensi terhadap aliran listrik. Terdapat hubungan
matematis antara perbedaan potensial arus dan resistensi yang dikenal dengan hukum Ohm,
dimana arus berbanding lurus dengan voltase dan berbanding terbalik dengan resistensi.
Hukum ini memiliki relevansi yang sesuai dengan kerusakan biologis akibat listrik.

Alternating and Direct Current (AC/DC)

Menurut kepercayaan elektrisians, arus bolak balik (AC) lebih berbahaya dari pada
arus langsung (DC). Arus 50-80mA AC dapat berakibat fatal dalam beberapa detik, sementara
orang masih dapat bertahan dengan arus 250mA DC dengan waktu yang sama. AC memiliki
kecenderungan 4-6 kali lebih sering menyebabkan kematian, sebagian besar disebabkan oleh
“hold on effect” yang merupakan hasil dari spasme otot tetanoid dan menghalangi korban
untuk melepaskan konduktor listrik.

AC juga lebih sering menyebabkan aritmia jantung dibandingkan DC. Aliran arus AC
sebesar 100mA dalam seperlima detik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel dan henti
jantung. Arus DC yang tinggi (diatas 4A) dapat mengembalikan aritmia jantung menjadi
irama sinus seperti alat defibrilator.

Arus DC mengalir secara terus menerus ke satu arah, dipakai dalam industri
elektrolisis, misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. Juga digunakan
pada telepon (30-50 volt), dan kereta listrik (600-1500 volt). Sumber misalnya baterai dan
accu. Arus AC mengalir bolak-balik, digunakan di rumah-rumah dan pabrik-pabrik, biasanya
110 volt atau 220 volt.

sehingga hal yang paling penting adalah mengukur arus yang dapat menyebabkan gagal jantung akut. dan waktu aliran arus untuk mengetahui kerusakan jaringan. Voltase Untuk mengasilkan arus yang berpotensi fatal melewati dada. Sebagian besar kejadian fatal terjadi dengan voltase dasar 240V.Arus Derajat kerusakan jaringan berbanding lurus dengan jumlah elektrisitas aktual yang mengalir melewatinya. Voltase yang sangat tinggi. secara umum gerakan sebesar 50—80 mA yang melewati jantung lebih dari beberapa detik dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan hukum Ohm. Jumlah ini ditunjukkan dengan jumlah elektron per unit waktu dan harus diukur dalam satuan ‘coulomb’. meskipun umumnya di sebagian Amerika dan Eropa 110V sudah memberikan efek letal. Kasus ini menyimpulkan pentingnya elemen waktu pada cedera listrik. kematian yang fatal akibat listrik menjadi perhatian karena sebagian besar kematian merupakan akibat dari cardiac dysrithmia. Bisasanya terjadi penurunan kesadaran pada 40 mA dan sebagaimana dinyatakan sebelumnya. hukum Ohm menyatakan bahwa voltase yang sesuai untuk meghasilkan 50 mA atau lebih dibutuhkan untuk dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel (VF). kekuatan arus bergantung pada voltase yang dipakai. Angka ini hampir selalu tidak berbahaya. Terdapat perkiraan ang berbeda-beda antara beberapa penulis. resistensi jaringan. voltasi minimum tertentu harus diaplikasikan pada permukaan kulit. Dalam patologi forensik. seperti yang ditemukan pada sistem penghantar daya dan . Kadar tertinggi yang dapat ditoleransi oleh sebagian besar orang secara volunter adalah 30 mA yang diaplikasikan tangan dan menghasilkan kontraksi otot menyakitkan. arus lebih dari 50—80 mA yang dipertahankan dalam beberapa detik akan meningkatkan risiko kematian. akan tetapi Polson (1963) melaporkan kematian (fatality) seorang laki-laki yang terjebak dibawah kendaraan listrik 24V selama beberapa jam. Sebagai bagian yang memiliki resistensi tinggi. Sangat jarang terjadi kematian pada voltase kurang dari 100V. yang merupakan hasil dari ampere dan detik. karena hanya ada sedikit sumber listrik antara 110V dan 12V atau 24V yang digunakan pada sistem eletronik kendaraan. meskipun ampere biasanya digunakan sebagai satuan untuk aliran arus (current flow).

Jellinek (1932) menemukan bahwa kulit dengan lapisan tanduk yang lebih tebal seperti pada tukang. . seperti pada sumber utama 240V. Ketika melibatkan arus bolak balik (AC).500 ohm. yang pada telapak kaki dan bantalan jari lebih tebal dari pada kulit tipis di bagian lain. resultan arus akan jauh lebih besar jika kulit basah karena berkeringat atau kelembaban eksternal. sehingga menurunkan waktu kontak di bawah ambang kerusakan jantung. terjadi penurunan resistensi yang jelas sebagai akibat dari perubahan elektrolit di kulit yang dapat mencapai 380 ohm.peralatan eletronik dapat secara paradoksal menjadi lebih aman pada beberapa keadaan. resistensi digantikan dnegan ‘impedansi’. Resistensi Hambatan utama bagi arus listrik adalah kulit yang memiliki resistensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan jaringan internal. Faktor potensial lainnya adalah keadaan kering atau lembabnya kulit yang akan sangat mempengaruhi resistensinya. Hal ini menyimpulkan bahaya penggunaan peralatan elektronik di kamar mandi dan tempat-tempat lembab. seiring resistivitas menyebabkan tranfer energi dari elektron mengalir ke kulit. untuk voltase tetap. Telapak tangan yang kering dapat memiliki resistensi sebesar 1 juta ohm. Resistensi kulit bervariasi berdasarkan ketebalan keratin pada epidermis. Jadi. Setelah berada dalam dermis. misalnya kejutan yang dihasilkan dapat melemparkan subjek menjauh dari konduktor. seperti dalam kasus-kasus forensik. tetapi ketika basah dapat turun hingga 1. Saat arus mulai melewatinya. tetapi hal ini tidak relevan dengan aspek patologis. sitoplasma semi-fluid dan sistem vaskuler yang terisi cairan penuh elektrolit akan menghantarkan arus ke seluruh tubuh dengan mudah.000 ohm pada area selain telapak tangan dan telapak kaki yang pada kondisi kering dapat memberikan resistensi sebesar 1 juta ohm. Resistensi rata-rata kulit adalah antara 500 —10. Jaffe (1928) menyatakan bahwa berkeringat dapat menurunkan resistensi kulit sebesar 30.200 ohm. memiliki resistensi sekitar 1 hingga 2 juta ohm dalam keadaan kering.000 hingga 2. Inilah yang menyebabkan terjadinya luka bakar listrik di kulit.

henti jantung. . Ketika tangan menjadi jalur masuk (entry point). otot fleksor yang lebih kuat di lengan akan mengalami spasme dan menyebabkan efek ‘menunggu’. Inilah yang meningkatkan nilai elemen waktu dan secara progresif memperburuk risiko luka bakar listrik. seperti pada kebanyakan kasus. Hal ini menunjukkan bahwa setiap objek yang dipegang di tangan secara involunter akan terkepal (kemungkinan berupa kawat atau peralatan listrik yang risak). sehingga alat tersebut tidak dapat dilepaskan dan menyebabkan hantaran arus terus menerus. dan henti napas.Efek pada otot Salah satu efek elektrisitas yang memiliki implikasi praktik adalah spasme yang terjadi apda otot rangka jika arus mencapai 10 dan 40 mA pada 50 cps.