“A” FOR Abdul

Karya: Shei Abdul terlihat beringsut kehadapan Emaknya, kali ini disertai ancaman akan membunuh anak ayam tetangga kalo permintaan kesekiannya tidak dikabulkan lagi. “Mak…ganti!” “Ogah!” “Ntar Dul bunuh anak ayam Pak Somad lo!” “Patenono…ben dipatheni dewe karo seng dhuwe!” respon Emaknya cuek. Mengingat Otot baja pak Somad senantiasa nongol tanpa diminta, Abdulpun keder dan seketika membatalkan niatnya untuk melakukan aksi pembunuhan. “Dul bunuh diri lo, Mak!” ”Bunuh dirio…pokoe ojo ngentekke Obat Lamukku maneh! Awas kowe!” Emaknya mengancam balik setelah pernah susah tidur semalaman gara-gara obat nyamuk cairnya ditenggak habis oleh si Abdul, trus dimuntahkan kembali gara-gara ga doyan. Abdul garuk-garuk kepala, cara apalagi yang kudu ditempuh supaya Emaknya ini mau mengganti nama si Abdul jadi sekeren ‘Andre’ atau ‘Andy’ gitu..bukan nama jadul kayak gini. “Dul malu, Mak!”protesnya untuk yang kesekian. “Ra ngurus!” Berbagai cara udah dicoba, dari percobaan bunuh diri, Operasi penculikan yang direkayasa sampai minggat dari rumah yang ujung-ujungnya kehabisan ongkos, trus balik lagi. Tapi tak pernah sekalipun dapat simpati dari Emaknya. Yang ada malah badan jadi sakit semua gara-gara melakukan hal-hal yang ga penting. “Wes, ra gurus, aku tak masak wae!” Emaknya pun beranjak ke dapur, hendak memasak Gulai kambing, daripada ngurusin bocah kurang waras macam si Abdul. “Oalaaah Gusthi! Kapan aku dapet nama bagus! Bosen aku mbujuk terus nang konco-koncoku!” desisnya setengah frustasi akan keadaanya. Kakaknya yang kebetulan melihatnya stress pun mendekatinya. “Dul…ada apa? Masih ngotot pengin ganti nama?” tebaknya jitu. Dul mengangguk lemas. “Capek, mbak! Emak ga pernah ngerespon!” “Dul..harusnya kamu bersyukur dong! Kamu tau kahn salah satu Khulafaur Rasyidin yang namanya sama kayak kamu….” “Emang ada?” “Itu lo….Ali bin Abdul tholib!” “Caela! Itu kan Abu tholib, mbak!! Gimana sih!” koreksinya sewot, bocah itu manyun kembali. Kakaknya terbahak, “Iya…iya….becanda…” “Mbak sih enak…namanya Bella..” “Ga enak juga sih, pasaran! Mbak aja sering keki gara-gara salah jawab salam yang ternyata bukan buat mbak!” jelasnya mencoba membesarkan hati adik semata wayangnya itu. “Seenggaknya kan ga kuno kayak ‘Dul’ kali!” Dul tetap sewot. Kakaknya jadi gemes ngeliat tingkah adiknya yang ga penting ini.

Makasih udah mau baca! ada kritik/ saran? email ke onyezshei66@yahoo.com

Memang, nama Bella didapat dari nenek mereka yang hobi banget nonton telenovela, saking ngefans nya sama salah satu aktris yang notabene berperan sebagai si cantik Bella, Nenek pun mewariskan nama bintang idolanya tersebut pada salah satu cucunya. Berhubung yang lahir cewek dulu, ya apa boleh buat, kakak Abdul beruntung menyandang nama warisan sang nenek. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan si Abdul yang harus menyesali terus-menerus nasibnya dengan predikat si’jadul Abdul’. “Kenapa ya waktu itu bukan nenek aja yang ngasih nama……….” Sesalnya. “Kan nenek udah keburu meninggal sewaktu kamu lahir..” kakaknya mengingatkan. Abdul jadi sensi kembali dan mulai menyalahkan Tuhan yang secepat itu mengambil nyawa neneknya. Padahal, seandainya beliau belum meninggal, sapa tau dia dapat nama ‘Fernando’, ‘Anthony’…atau kalau emang apes, seenggaknya dapet nama ‘Leo’ lah! “Hush! Ga boleh gitu! Emang kontraknya udah habis, mau gimana lagi! Dul…kamu tau ga, nama kamu tuh darimana?” Tanya Bella dengan mimik serius. “Tau! Emak bilang waktu belanja dipasar, ada orang cuakep banget terus ditanya namanya sapa, eh, ga taunya ‘Abdul’ saking ngefansnya…Anak cowoknya ini-nih yang jadi korban!” ia menunjuk hidungnya sendiri dengan kesal. Bella tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. “Ini namanya Pak dhe Abdul, penolong kamu, “ kakanya mulai bercerita. “Penolong? Apa maksudnya?” Abdul tak habis pikir. Bella pun menceritakan semuanya, sejak pertama kali Abdul dioperasi gara-gara ada ‘sesuatu’ yang aneh ditubuhnya sewaktu ia masih bayi. Sedangkan keadaaan ekonomi keluarga mereka bisa dibilang cukup buruk. Jangankan ongkos untuk Rumah Sakit, untuk makan seharti-hari aja kudu susah payah. Tiba-tiba, Pak dhe Abdullah yang bertindak sebagai malaikat utusan Allah, mendatangi mereka dan menawarkan bantuan. Mulai biaya Rumah Sakit, Operasi sampai Pengobatan tingkat selanjutnya, beliau yang membiayai. Sampai suatu hari, keluarga Pak dhe menghubungi mereka bahwa Pak dhe meninggal karena tidak pernah cuci darah selama beberapa bulan terakhir, sehingga penyakit diabetes yang dideritanya pun menggerogoti hidupnya. “Sebagai penghormatan, nama kamu yang semula Tio diubah jadi Abdul!” Pungkas Bella dengan memberikan tekanan di akhir penjelasannya, maksudnya supaya Abdul sadar bahwa namanya merupakan berkah tersendiri bagi kehidupannya. “Hiks…..” Abdul terharu mendengar cerita dari kakaknya. Ia pun segera hengkang dari rumah dan meluncur ke tempat lesnya untuk mengadakan perkenalan ulang. Awalnya, Abdul terkenal dengan nama ‘Andre’ Ga hanya di Les, dimanapun ia berada, selalu memperkenalkan diri sebagai Andre, gara-gara ogah dicap Jadul dan sebagainya. Tapi, mulai hari ini ia sadar. Bahwa namanya sebagai cermin titik awal ia dapat bertahan hidup. “Puinter kowe nduk, Emak dadi ra repot maneh..” puji Emaknya salut. Rupa-rupanya, cerita yang disampaikan Bella tadi Cuma rekayasa belaka, supaya adiknya ga terus-terusan bikin rese di rumah gara-gara pengin ganti nama. “Sssst..Emak jangan bilang-bilang kalo saya bohong! Nanti dia rese lagi!” Mereka berdua sepakat menutup rapat rahasia ini. “Yo! Tenang wae…aku yo emoh direpoti!” Emak bergidik.

Makasih udah mau baca! ada kritik/ saran? email ke onyezshei66@yahoo.com

Mereka berdua terkekeh geli menyadari kepolosan bocah SMP yang baru beranjak gede tersebut. *** “Nama ku Abdul…bukan Andre…” Ralatnya lewat siaran radio intern yang disiarkan keseluruh penjuru kampus tempatnya les. “Hah??HAHAHAHAHA!!!!!!!!!” Tawa seluruh penghuni bangunan itupun meledak menyadari betapa konyolnya perubahan nama yang semula ‘Andre’ menjadi ‘Abdul’ “Laura….kamu masih mau jadi pacarku kan…..” Abdul bertanya malu-malu. Laura, cewek jangkung yang lumayan manis itupun langsung mengibaskan rambutnya. “Idiiih…..Emoh! masa Laura punya pacar namanya ‘Abdul’…diliat dari sudut manapun juga ga ada kerennya blas!..Udah! Kita putus!” Ia pun melenggang pergi. “Tuh kahn! Nama Abdul emang jelek!” Abdul menyesal kembali. Kemudian mnyesali nasib lagi begitu teringat cerita kakanya tentang nama awalnya, Tio… “Huweee…kalo gitu, mending Dul mampus aja tapi nisan Dul tertulis ‘Tio’, daripada idup kayak gini! Ujung-ujungnya, kalo mampus juga diukir ‘Abdul’! Naseeeb…..ga idup, ga mati, sama sekali ga keren!”

TAMAT

Makasih udah mau baca! ada kritik/ saran? email ke onyezshei66@yahoo.com