You are on page 1of 12

LAPORAN KASUS IGD

PRIA 48 TAHUN DENGAN CARDIAC ARREST

Disusun oleh :
Laras Shafia Sari

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PERIODE 4 OKTOBER 2016- JUNI 2017
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH TEMANGGUNG
BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit jantung dan pembuluh darah sampai saat ini masih menjadi penyebab
kematian nomor satu di dunia. Diperkirakan semakin banyak orang yang meninggal karena
penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan dengan penyakit lainnya. Komplikasi
penyakit jantung dan pemmbuluh darah yangg paling sering diketahui dan bersifat fatal
adalah henti jantung mendadak. Dari survei yang dilakukan oleh World Health Organization
(WHO) pada tahun 2004, diperkirakan sebanyak 17,1 juta orang, 29,1% dari jumlah kematian
total, meninggal karena penyakit jantung. Dari 17,1 juta orang tersebut, diperkirakan 7,2 juta
kematian disebabkan oleh penyakit jantung koroner. Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar Riskesdas tahun 2007, hanya disebutkan prevalensi nasional penyakit
jantung sebesar 7,2% namun angka kejadian henti jantung mendadak belum didapatkan.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, terutama jika henti jantung mendadak
tersebut disaksikan, maka bantuan hidup dasar harus secepatnya dilakukan dan tindakan ini
akan memberikan hasil paling baik jika dilakukan dalam waktu 5 menit pertama dengan
prosedur yang tepat.
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. S
Usia : 48 tahun
No. CM : 0229398
Alamat : nggembyang kentengsari Candiroto, Temanggung
Status : BPJS

2.2 Primary Survey


Anamnesis singkat : Pasien datang diantar keluarga dengan keluhan tiba-tiba tidak
sadarkan diri sejak 1 jam SMRS. Tidak mual, tidak muntah.
Tidak ada riwayat kejang. Riwayat hipertensi dan jantung
disangkal.
Respon kesadaran : Respon (-) GCS E1M1V1
Circulation : Pulsasi a.carotis (-), akral dingin (-/-) tekanan darah
30/40mmHg.
Airway : monitoring (-), gurgling (-), stridor (-)
Breathing : respiration rate 6 x/menit
inspeksi : pergerakan dada (-/-)
Palpasi : tidak dilakukan
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : suara dasar vesikuler (-/-)
Disabilitas : pupil diameter 5mm/5mm, reflek cahaya (-/-)
GDS : Hi

2.4 Diagnosis
Cardiac arrest

2.3 Tatalaksana
RJP 5 siklus : ventilasi bag-valve-mask 30:2
Pasang EKG monitor asistole
Pasang iv line, loading RL 500 cc
RJP 5 siklus 30:2 + Epinefrin 1 amp iv
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
RJP 5 siklus
Evaluasi monitor EKG : asistole nadi tidak teraba
RJP 5 siklus
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
RJP 5 siklus + Epinefrin 1 amp iv
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
RJP 5 siklus
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
RJP 5 siklus
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
RJP 5 siklus
Evaluasi monitor EKG : asistole, nadi tidak teraba
Evaluasi EKG 12 Lead : asistole
Pupil dilatasi maksimal (+/+)
Reflek cahaya (-/-)
Pasien dinyatakan meninggal dunia dihadapan perawat dan keluarga

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Henti jantung primer (cardiac arrest) adalah ketidaksanggupan curah jantung untuk
memenuhi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan
dapat balik normal jika dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan
kematian dan kerusakan otak menetap jika tindakan tidak adekuat. Sebagian(80-90%)
besar henti jantung disebabkan oleh fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel tanpa
denyutan.

3.2 Etiologi
Terdapat empat ritme listrik jantung yang menyebabkan terjadinya henti jantung, yaitu
pulseless ventricular tachycardia (VT), ventricular fibrilation (VF), pulseless electric
activity (PEA), dan asystole. Ritme-ritme jantung tersebut menyebabkan jantung tidak
dapat memompa untuk membuat darah mengalir secara signifikan. Penyebab-penyebab
terjadinya henti jantung yang dapat ditangani, dalam istilah bahasa Inggris disebut
sebagai the Hs dan the Ts yaitu H: Hypoxia (hipoksia), hypovolemia (hipovolemik),
hydrogen ion/asidosis (asidosis), hypo-/hyperkalemia, hypothermia; T: Toxins (racun),
tamponade jantung, tension pneumothorax, thrombosis pulmonary, thrombosis
coronary. Meski jantung berhenti, penderita belum lah dikatakan meninggal. Penderita
masih memiliki harapan untuk mendapatkan kembali sirkulasi darah spontan atau yang
disebut sebagai return of spontan circulation (ROSC). Namun, peluang untuk penderita
mengalami ROSC akan semakin berkurang seiring dengan lama terjadinya henti
jantung. Oleh karena itu, pertolongan harus segera dilakukan, yang mana setiap detik
amatlah berharga.

3.3 Tanda Klinis


Henti Jantung ditandai dengan denyut nadi besar tak teraba (a.karotis, femoralis dan
radialis pada dewasa dan a.brakhialis pada bayi), disertai kebiruan (sianosis) atau pucat
sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), terlihat seperti mati (death
like appearance), dilatasi pupil tak bereaksi dengan rangsangan cahaya (45 detik setelah
henti jantung ) dan pasien berada dalam keadaan tidak sadar.2,4
3.4 Tatalaksana
a. Resusitasi Jantung Paru
Siklus RJP dan pemberian ventilasi
Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan tindakan utama yang harus segera
dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung. RJP terdiri dari kompresi
dada dan pemberian ventilasi dengan rasio 30:2. Artinya adalah penolong
melakukan kompresi dada sebanyak 30 kali, kemudian dilanjutkan dengan
memberikan napas buatan sebanyak dua kali tiupan. Di rumah sakit, Jika sudah
dilakukan pemasangan advanced airway, ventilasi tidak lagi hanya diberikan
sebanyak dua kali tiap 30 kompresi dada melainkan menjadi 8-10 kali setiap menit.
Jadi, pemberian ventilasi (dengan bagging) dilakukan setiap 6 hingga 8 detik.
Namun, perlu diperhatikan bahwa ventilasi tidak boleh dilakukan secara
berlebihan. Pada saat RJP, perfusi sistemik dan paru berkurang sehingga hubungan
perfusi-ventilasi yang normal dapat terjaga dengan ventilasi yang jauh lebih rendah
daripada normal. Selain itu, pada saat pemberian ventilasi, tekanan dalam rongga
dada akan meningkat sehingga aliran darah akan cenderung terhambat padahal
yang sedang lebih dibutuhkan adalah terjaganya aliran darah ke organ-organ
penting.
Kecepatan dan Kedalaman Kompresi
Kecepatan kompresi dada yang direkomendasikan adalah setidaknya 100 kali
dalam satu menit. Hindari ventilasi berlebihan, kompresi-ventilasi 30:2, prinsip
lain dalam RJP adalah kedalaman yang cukup saat melakukan kompresi dada
(sekitar 5 cm pada dewasa dan 3 cm pada anak), dan membiarkan dada mengalami
complete recoil atau relaksasi secara sempurna setiap kali kompresi dada. Untuk
kedalaman yang cukup serta efektifitas tenaga, kita tidak mengandalkan kekuatan
lengan melainkan menggunakan berat badan kita dalam melakukan kompresi dada.
Posisi lengan lurus, tidak boleh tertekuk. Telapak tangan kanan diletakan diatas
tangan kiri. Kemudian, kita mendorong dengan badan kita dengan beban dialirkan
melalui lengan kita menuju dada penderita.
Interupsi Minimal
RJP tidak boleh mengalami interupsi. Berhentinya RJP secara sementara hanya
boleh dilakukan saat menilai ritme jantung (dengan EKG atau monitor jantung),
melakukan shock dengan defibrilator pada kasus VT/VF, melakukan pengecekan
pulsasi nadi karotis (dilakukan jika ritme jantung teratur sudah terdeteksi), atau
saat melakukan pemasangan advanced airway (alat untuk membantu
mempertahankan jalan napas tetap terbuka, seperti endotracheal tube atau
supraglotic airway). Saat pergantian penolong (bisa karena kelelahan), interupsi
harus diupayakan seminimal mungkin.
b. Defibrilasi
Pada kasus ventricular fibrilation atau pulseless ventricular tachycardia, selain
menjalankan RJP yang berkualitas, terapi lain yang sudah terbukti meningkatkan
survival adalah defibrilator. Oleh karena itu, pada kedua kasus tersebut, pemberian
defibrilator terintegrasi dalam siklus RJP. Selain itu, meskipun pada awal
pengecekan ritme didapatkan bahwa ritme jantung pasien PEA (terdapat
gelombang selain VT namun pasien tidak sadar denyut nadi tidak teraba) atau
asystole, defibrilator tetap perlu disiapkan karena ritme jantung dapat mengalami
evolusi.

Gambar 1. Normal Synus Rhytm

Gambar 2. Ventrikel Takikardi

Gambar 3. Ventrikel Fibrilasi


Gambar 4. Asistol

3.5 Algoritma Tatalaksana Cardiac Arrest


Jika henti jantung terjadi di rumah sakit, segera setelah memulai RJP, korban diberikan
oksigen dan dipasang monitor. Defibrilator segera disiapkan. Setelah monitor siap,
lakukan pemeriksaan ritme jantung untuk memastikan apakah dapat dilakukan shock
dengan defibrilator atau tidak. Jika tidak dapat dishock, yaitu ritme listrik jantung PEA
atau asistol, RJP dilanjutkan kembali selama dua menit. Sembari melakukan RJP, jika
belum dipasang, akses intravena dipasang. Pertimbangkan juga untuk melakukan
pemasangan advanced airway (endotracheal tube atau supraglotic airway). Setelah dua
menit RJP, lakukan kembali pengecekan ritme yang ditampilkan pada monitor. Jika
tidak dapat dishock, RJP dilanjutkan.
Suntik epinefrin diberikan setiap 3-5 menit. Dosis pemberian epinefrin adalah 1 mg.
Namun, untuk mempermudahnya, pemberian epinefrin dapat diberikan setiap 4 menit,
yaitu tiap kali dua sesi RJP dilakukan. Tatalaksana pada kasus yang tidak dapat dishock
memang hanya RJP yang berkualitas ditambah dengan pemberian epinefrin. Jadi, siklus
itu terus dilanjutkan sampai pasien ROSC atau memenuhi kriteria untuk tidak
melanjutkan resusitasi. Jika tidak ada, epinefrin dapat diganti dengan vasopresin 40
unit. Sembari melakukan upaya resusitasi, penyebab dari henti jantung juga perlu dicari
dan ditangani.
Pada kondisi ritme yang dapat dishock, yaitu VT atau VF, segera lakukan shock dengan
defibrilator. Alat defibrilator memiliki dua macam jenis, yaitu bifasik dan monofasik.
Pada bifasik, dosis energi yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pembuat
alat,misalnya dosis inisial 120-200 J. Jika tidak diketahui, gunakan energi maksimal
yang mungkin. Jika alat monofasik, dosis yang digunakan adalah 360 J.
Setelah melakukan shock dengan defibrilator, RJP dilanjutkan selama dua menit,
sembari melakukan pemasangan akses intravena. Setelah dua menit, lakukan kembali
pemeriksaan ritme jantung. Jika masih VT/VF, shock dengan defibrilator kembali
dilakukan. Epinefrin 1 mg diberikan setiap 3-5 menit sebagaimana pada kasus PEA atau
asistol. Tiap kali shock dengan defibrilator selesai dilakukan, RJP dilanjutkan selama
dua menit. Setelah tiga kali shock dengan defibrilator dilakukan korban belum ROSC,
pemberian amiodarone dapat dilakukan dengan dosis 300 mg, bolus. Siklus tetap
dilanjutkan sampai pasien ROSC. Setelah 2 kali shock lagi setelah pemberian
amiodarone pertama, amiodarone dosis kedua dapat diberikan sebesar 150 mg, bolus.
Pemberian amiodarone hanya dilakukan sebanyak dua kali itu saja. Jika tidak ada
amiodarone, lidokain dapat menjadi penggantinya. Dosis inisial adalah 1-1,5 mg/kgBB
IV. Jika masih VF atau pulseless VT, dapat ditambahkan dosis 0.5-0.75 mg/kgBB IV
dengan interval pemberian 5-10 menit hingga dosis maksimal 3 mg/kgBB.
Shock hanya dilakukan tiap kali monitor menunjukan gambaran VT atau VF. Jika ritme
berubah menjadi PEA atau asistol, hanya RJP dan pemberian epinefrin saja yang
dilakukan. Jika epinefrin, vasopresin dan lidokain tidak dapat diberikan secara
intravena karena aksesnya tidak bisa didapatkan, pemberian dapat dilakukan melalui
endotracheal tube. Dosis optimal pemberian obat melalui ETT belum diketahui secara
pasti, tetapi dosis yang diberikan biasanya adalah 2-2,5 kali pemberian melalui IV. Obat
terlebih dahulu dilarutkan dalam air steril atau normal saline 5-10 cc.
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien Tn. M.B datang pukul 14.30 tidak sadar. Pada primary survey, pada
pemeriksaan kesadaran tidak terdapat respon, denyut nadi carotis tidak teraba, tidak
didapatkan hembusan nafasmaupun pergerakan dada, akral tidak dingin. Suara dasar
vesikuler tidak ditemukan. Pasien rujukan bidan dengan keluhan nyeri dada disertai sesak
menjalar ke bahu sejak pukul 13.00 WIB, menurut keterangan keluarga 15 menit sebelum
masuk rumah sakit pasien mulai tidak sadar.Kemungkinan penyebab henti jantung pada kasus
ini adalah terdapatnya sindroma koroner akut. Hal ini diketahui dari riwayat nyeri dada yang
menjalar ke bahu disertai sesak nafas meski nyeri dada pada kasus ini tidak digambarkan
secara detail.
Pasien segera dilakukan resusitasi jantung paru dan ventilasi menggunakan bag-valve
mask dengan aliran oksigen liter/menit. Dilakukan RJP:ventilasi 30:2. Pasien diberikan
epinefrin 1 mg setiap 15 menit. EKG pasien ventrikel fibrilasi. Dilanjutkan RJP dan
defibrilasi 360 Joule dan gelombang EKG menjadi asistol. RJ dilanjutkan kembali hingga 3
siklus dan RJ dihentikan. Pupil dilatasi maksimal, evaluasi denyut karotis dan pernafasan
tetap tidak ada, akral dingin. Pasien dinyatakan meninggal.
Pada kasus ini terapi sudah sesuai dengan algoritma cardiac arrest. Ketidakberhasilan
resusitasi tersebut berhubungan dengan adanya jeda yang cukup lama antara awitan cardiac
arrest dengan dimulainya resusitasi.
Aliran darah normal yang melalui jaringan otak pada orang dewasa rata-rata sekitar
50 sampai 60 mililiter per 100 gram otak per menit. Penghentian aliran darah ke otak secara
total akan menyebabkan hilangnya kesadaran dalam waktu 5 sampai 10 detik. Hal ini dapat
terjadi karena tidak ada pengiriman oksigen ke sel-sel otak yang kemudian langsung
menghentikan sebagian metabolismenya. Aliran darah ke otak yang terhenti untuk 3 menit
dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang bersifat irreversibel.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada kasus ini penanganan henti jantung telah dilaksanakan sesuai prosedur sedangkan
kegagalan tindaka dikarenakan keterlambatan dimulainya resusitasi.

5.2 Saran
Diperlukan sosialisasi mengenai resusitasi jantung paru pada masyarakat awam yang
menjangkau di daerah, terutama dalam kasus ini di wilayah Kabupaten Temanggung.
DAFTAR PUSTAKA

1. Neumar RW, Otto CW, Link MS, Kronick SL, Shuster M, Callaway CW, dkk. Adult
Advanced Cardiovascular Life Support: 2010 American Heart Association Guidelines
for Cardiopulmonary Resucitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation.
2010; 122:S729-S767