PENGAWETAN BAMBU

Apa yang dimaksud dengan pengawetan bambu?
Untuk meningkatkan daya tahan dan performanya bambu dan produk dari
bambu perlu diawetkan, baik dengan bahan pengawet yang bersifat
kimiawi atau pun tanpa bahan kimia, dengan cara tradisional ataupun
yang lebih moderen. Adapun tujuan dari pengawetan bambu adalah:

 Meningkatkan daya tahan dan waktu pemanfaatan bambu.
 Menahan dan menunda kerusakan.
 Mempertahankan stabilitas struktur bambu dan kekuatannya.
 Menambah ketahanan lain misalnya lebih tahan terhadap api.
 Meningkatkan mutu bambu secara estetika.

Mengapa bambu harus diawetkan?

Bambu adalah bahan alami yang besifat organic. Tanpa perlakuan tertentu
untuk melindunginya, daya tahan bambu akan kurang dari tiga tahun.
Tidak seperti kayu keras lainnya misalnya jati atau meranti, struktur
batang bambu tidak memiliki unsur toksik atau racun. Ditambah lagi
dengan hadirnya unsur zat gula yang banyak terkandung dalam bambu
yang mengundang mikroorganisme. Krusakan bologis bambu dapat
mempengaruhi kegunaan, kekuatan dan nilai bambu atau produk bambu.
Kerusakan dapat mengakibatkan:

 Pelapukan.
 Retakan atau pecah.
 Timbulnya noda dan lobang.

Dengan demikian pengawetan sangat penting jika bambu dimaksudkan
untuk keperluan struktur bangunan dimana keselamatan menjadi
pertimbangan yang utama. Selain itu penggantian komponen rusak akibat
tidak diawetkan akan membutuhkan waktu dan biaya. Peningkatan usia
bambu karena pengawetan akan lebih menguntungkan dalam jangka
panjang.
Sedangkan dari sisi cara pengawetan, pilihan metode pangawetan sendiri
sebenarnya sangat tergantung pada beberapa faktor. Cara dan bahan
tertentu mungkin kurang cocok atau kurang tepat untuk diterapkan .
Namun banyaknya pilihan teknik dan metode pengawetan dapat
mengcover hampir semua kebutuhan dan pemanfaatan bambu. Berikut ini
adalah berberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum
menentukan pilihan metoda dan bahan pengawet:

 Kondisi bambu yang ada (kering atau basah).
 Bentuk bambu ketika akan diawetkan apakah utuh, bambu belah
atau sudah dalam bentuk produk kerajinan.
 Tujuan penggunaan, apakah untuk struktur atau non struktur.
 Skala pengawetan atau jumlah kebutuhan bambunya sendiri.

1. Pengawetan Tradisional
Tentang Pengawetan Tradisional
Yang dimaksud dengan pengawetan tradisional di sini adalah praktik
dan perlakuan terhadap yang dilakukan olah masyakat secara turun
temurun yang bertujuan untuk meningkatkan masa pakai bambu.
Berbagai cara pengawetan tersebut diantaranya berupa:
a. Pengendalian waktu tebang. Adalah pengawturan waktu
penebangan bambu pada saat-saat tertentu yang menurut
kepercayaan atau kebiasaan masyarakat dapat meningkakan daya
tahan bambu dibandingkan dengan penebangan pada sembarang
waktu. Pengendalian waktu tebang di Indonesia ada banyak versi,
diantaranya:
 penebangan pada bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa
jawa/sunda, umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap
sebagai waktu yang paling tepat untuk memotong bambu.
 penebangan pada jam tertentu, misalnya penebangan dilakukan
pada waktu menjelang subuh dipercaya dapat meningkatkan
ketahanan bambu.
 Penebangan pada waktu tertentu, misalnya penebangan pada
waktu bulan purnama dibeberapa daerah dipercaya dapat
mengurangi serangan hama pada bambu.
b. Perendaman bambu, bambu yang telah ditebang direndam
selama berbulan-bulan bahkan tahunan agar bambu tesebut tahan
terhadap pelapukan dan serangan hama. Perendaman dilakukan baik
di kolam, sawah, parit, sungai atau di laut.penebangan waktu pada
bulan tertentu (mongso/mangsa) dalam bahasa jawa/sunda,
umumnya pada mongso 9 (bulan maret) dianggap sebagai waktu
yang paling tepat untuk memotong bambu. Kelemahan dari sistem
ini adalah, bambu yang direndam dalam waktu lama, ketika diangkat
akan mengeluarkan lumpur dan bau yang tidak sedap, akan butuh
waktu yang cukup lama setelah perendaman untuk mengeringkan
hingga bau berkurang dan dapat dipakai sebagai bahan bangunan.
c. Pengasapan bambu, selain pengendalian waktu penebangan dan
perendaman, secara tradisional bambu juga kadangkala diasap
untuk meingkatkan daya tahannya. Secara tradisional bambu
diletakkan di tempat yang berasap (dapur atau tempat pembakaran
lainnya), secara bertahap kelembaban bambu berkurang sehingga
kerusakan secara biologis dapat dihindari. Saat ini sebenarnya cara
pengasapan sudah mulai dimodernisasi, beberapa produsen bambu
di Jepang dan Amerika Latin telah menggunakan sistem pengasapan
yang lebih maju untuk mengawetkan bambu dalam skala besar
untuk kebutuhan komersil.
d. Pencelupan dengan kapur. Bambu dalam bentuk belah atau
iratan dicelup dalam larutan kapur (CaOH2) yang kemudian berubah
menjadi kalsium karbonat yang dapat menghalangi penyerapan air
hingga bambu terhindar dari serangan jamur.
e. Pemanggangan/pembakaran. Biasanya dilakukan untuk
meluruskan bambu yang bengkok atau sebaliknya. Proses ini dapat
merusak struktur gla yang ada dalam bambu membentuk karbon ,
sehingga tidak disenangi oleh kumbang atau jamur.
2. Pengawetan Moderen
Cara Pengawetan Moderen
Yang dimaksud dengan cara pengawetan moderen di sini adalah
pengawetan yang memanfaatkan input barupa bahan kimia. Efisiensi
pengawetan kimia terhadap peningkatan umur bambu dipengaruhi oleh
struktur anatomi bambu itu sendiri. Pengawetan bambu lebih sulit
dilakukan dibandingkan dengan pengawetan kayu karena kondisi
berikut ini:
 Tidak ada jalur serapan radial (horizontal ketika bambu dalam
posisi tegak) sebagaimana yang dimiliki kayu, sehingga
perpindahan larutan dari sel ke sel tergantung pada proses difusi
secara perlahan.
 Sel batang bambu yang berperan dalam proses transportasi
bahan pengawet hanya 8% dibandingkan dengan kayu lunak
yang mencapai 70%, karu keras 20% atau rotan 30%, ini
menyebabkan proses pengawetan bambu membutuhkan waktu
yang lebih lama.
 Penyerapan radial dari bahan penawet melalui bagian kulit luar
bambu terhalang oleh lapisan keras kulit bambu (cortex),
sedangkan dari bagian dalam dihalangi oleh struktur lignin yang
tebal.
 Meski poros vertical yang ada memungkinkan larutan mudah
melewati sel bambu, namun keberadaan buku-buku diantara ruas
bambu mengisolasi dan memperlambat penyerapan ke bagian
lainnya.
 Ketika bambu dipotong, cairan bambu beraksi menutupi “luka”
yang ada sehingga membatasi akses bahan pengawet. Sehingga
bambu harus segera diawetkan ketika kondisinya masih basah.
 Dalam kondisi kering cairan bambu yang mongering di dalam
batang bambu menghalangi proses difusi antar sel, sehingga
memperlambat proses penyerapan pengawet.
Bahan Pengawet

Bahan pengawet yang dimaksud di sini adalah bahan tambahan baik yang
bersifat alami maupun bahan kimia. Dalam praktiknya, pengawetan
secara tradisional seringkali menggunakan bahan-bahan alami seperti
daun nimba yang banyak diaplikasikan di India, terutama untuk
pengawetan bambu belah atau untuk keperluan anyaman.Sedangkan
untuk saat ini praktik pengawetan bambu lebih banyak menggunakan
bahan kimia. Masing-masing bahan pengawet tersebut memiliki kelebihan
dan kelemahan sendiri.

a. Berdasarkan bahan dasar pelarutnya, pengawet kimiawi
dapat dibedakan menjadi dua jenis:
 Pengawet berbahan dasar air. Prinsip utama pengawet
dengan bahan dasar air adalah, bahan pengawet diserap oleh
bambu ketika basah, lalu setelah kering air menguap dan
meninggalkan bahan pengawet di batang bambu. Pengawet
dengan bahan dasar air terdiri atas dua jenis yakni yang bersifat
non-permanen dan permanen. Non permanen artinya bahan
pengawet dapat larut ketika bersentuhan dengan air (contohnya
boric acid), sedangkan permanen artinya campuran dari bahan
kimia tersebut memiliki komponen pengikat yang mengikat bahan
pengawet pada bambu (contohnya Copper Chrome Boron atau
CCB).
 Pengawet berbahan dasar minyak. Tar atau ter tersedia
dalam bentuk larutan berwarna hitam, aplikasinya dilakukan
dengan proses tekanan atau pemanasan, karena berbahan dasar
minyak, bambu yang diawetkan akan tahan terhadap kelembaban
dan air serta tidak disenangi oleh jamur dan serangga.
Penggunaan ter untuk bambu umumnya terbatas pada aplikasi
untuk luar ruangan, karena bau dan tekstrunya yang lengket.
b. Berikut ini adalah bahan pengawet kimia yang paling umum
digunakan untuk pengawetan bambu:
 Senyawa Boron. Merupakan kombinasi antara borax dan boric
acid dengan perbandingan 1:1.4, juga tersedia dalam bentuk
Disodium Octaborate. Senyawa boron efektif melawan serangga
pemakan bambu seperti kumbang bubuk, rayap dan jamur. Kadar
garamnya memiliki sifat anti api. Tidak beracun dan dapat dipakai
untuk mengawetkan keranjang, atau kerajinan lainnya yang dapat
kontak langsung dengan produk makanan. Campuran borax &
boric acid. Merupakan bahan pengawet yang paling banyak
diaplikasikan untuk bambu saat ini dan paling banyak diterima di
berbagai tempat. Kelemahannya adalah bambu yang diawetkan
dengan bahan ini hanya cocok untuk bambu yang terlindung dari
paparan air secara langsung (cocok untuk dalam ruanganan).
Catatan Tentang Borax & Boric Acid sebagai bahan pengawet
bambu. Borax dan boric acid adalah garam mineral alami yang
digunakan secara luas di dunia. Senyawa ini dapat ditemukan
pada berbagai perlengkapan rumah tangga seperti detergen,
bahan tahan api, bahkan obat tetes mata. Kebanyakan kelompok
pencinta lingkungan, arsitek dan pengembang merasa aman
menggunakan bahan ini untuk pengawet kayu dan bambu
dibandingkan dengan bahan kimiaberacun.Yang perlu selalu
diingat adalah, hampir semua hal di dunia memiliki sifat aman
pada dosis tertentu tapi dapat menjadi berbahaya pada dosis
yang salah. Misalkan saja yang paling sering kita jumpai sehari
hari, gula dan garam yang merupakan penyedap makanan dan
minuman , dalam dosis yang salah dapat menimbulkan penyakit,
demikian pula dengan sabun cuci yang bermanfaat
membersihkan pakaian kita, namun pada dosis tertentu dapat
menimbulkan iritasi atau jika termakan menyebabkan keracunan.
Masih banyak lagi lagi contoh lainnya. Kesimpulannya adalah
segala sesuatu dapat menjadi “aman” dan “tidak aman”
tergantung dosisnya. Dengan dosis antara 5-10% larutan boron
yang direkomendasikan untuk mengawetkan bambu masih
digolongkan pada tahap yang sangat aman, bahkan jika anak
anda sampai menggigit bambu yang telah diawetkan, maka
bahan pengawetnya tidak akan meracuni atau menggangu
kesehatannya. Menyentuh atau memegang bahan bambu yang
telah diawetkan dengan boron juga tidak membahayakan.
 Zinc Chloride/Copper Sulphate. Jenis ini memiliki kadar asam
sangat tinggi dan dapat menyebabkan korosi pada baja.
 Sodium Penta Chloro Phenate (NaPCP). Adalah fungisida
yang biasanya dikombinasikan dengan borax dan boric acid untuk
melindungi bambu yang masih basah saat dikirim dalam
container. Namun bahan ini telah dilarang dibanyak Negara
karena sifatnya yang beracun.
 Copper Chrome Arsenic (CCA) dan Ammoniacal Copper
Arsenate (ACA. Merupakan pengawet yang bersifat permanen
dan terbukti ampuh mengawetkan bambu hingga lebih dari 50
tahun, bahkan untuk aplikasi luar ruangan. Tapi karena sifat
toksisitasnya yang sangat tinggi bahan ini banyak dihindari dan
dilarang.
 CCB (Copper Cromium Boron). CCB dikenal efektif melindungi
bambu, selain itu bambu yang diawetkan dengan CCB dapat
bertahan cukup lama sekalipun diaplikasikan diluar ruangan yang.
Namun bahan CCB juga sangat sulit ditemukan, selain itu
aplikasinya harus menggunakan sistem tekanan agar bisa efektif.
 Karosete / Ter, merupakan bahan pengawet berbasis minyak,
dapat diaplikasikan untuk penggunaan luar ruangan,
kelemahannya adalah bambu yang diaplikasi dengan bahan ini
tidak cocok untuk furniture atau komponen bangunan yang
bersentuhan langsung dengan manusia karena ada unsur minyak,
berbau dan lengket. Cocok untuk aplikasi luar ruangan seperti
pagar.
Metode Pengawetan
Berdasarkan jangka waktu dan tujuan pemakaian bambu, metode
pengawetan dapat dibagi menjadi dua jenis yakni pengawetan untuk
keperluan jangka pendek dan pengawetan untuk keperluan jangka
panjang. Di sini kita hanya akan membahas pengawetan untuk keperluan
jangka panjang.

1. Perendaman Pangkal Bambu. Prinsip utama metode ini adalah
penyerapan bahan pengawet oleh bambu melalui kapiler bambu.
Bambu yang baru dipoting diletakkan vertical dalam larutan
pengawet yang ditempatkan dalam drum atau tangki, hanya
sebagian dari bambu yang terendam. Waktu perendama tergantung
pada panjang bambu dan kelembabannya, umumnya antara 7
hingga 14 hari. Panjang bambu yang cocok untuk pengawetan jenis
ini adalah maksimal 2 meter. Metode ini cocok untuk mengawetkan
bambu dalam jumlah kecil dan bisa diaplikasikan pada bambu utuh
maupun belah.
2. Perendaman Difusi. Cocok digunakan untuk bambu utuh dan
belah. Prinsip utamanya adalah proses difusi, dimana bahan
penawet masuk ke dalam bambu akibat adanya perbedaan
konsentrasi larutan dan keluarnya cairan bambu akibat tekanan
osmosis. Percepatan proses perendaman difusi dapat terjadi dengan
peningkatan kadar larutan dan pemecahan penyekat bagian dalam
(buku) bambu. Karena melalui bagian yang dipecahkan tersebut
larutan pengawet akan cepat masuk ke dalam ruas-ruas bambu
yang berbeda. Pengawetan jenis ini cocok untuk skala besar,
minimal 100 batang bambu sekali proses. Dibutuhkan kolam atau
wadah yang besar untuk mengawetkan bambu dalam jumlah
banyak. Pengembangan dan alternative lain sistem ini dapat
berupa:
a. Perendaman dengan Pemanasan. Bambu direndam dalam
larutan pengawet sambil dipanaskan untuk mempercepat proses
penetrasi obatnya.
b. Perendaman vertical. Bambu dilobangi, ditegakkan lalu diisi
larutan pengawet. Tekanan air akan mempercepat proses
penyerapan larutan pengawet. Pengawetan cara ini cocok
diaplikasikan untuk bambu utuh dan panjang.
c. Penggantian cairan bambu dengan bahan pengawet.
Metode ini dikenal dengan proses Boucherie yang dimodifikasi.
Caranya adalah dengan memberikan tekanan untuk
mengeluarkan cairan yang ada pada bambu yang masih basah
dan pada saat bersamaan menggantikannya dengan larutan
pengawet. Metode ini membutuhkan alat seperti pompa atau
tangki tekanan, pipa-pipa atau selang karet yang di tempatkan di
salah satu ujung bambu. Cocok untuk pengawetan bambu utuh
dan masih basah. Karena jika bambu sudah kering proses
penggantian cairan tidak akan terjadi.
3. Pengawetan Dengan Tangki Bertekanan. Pengawetan dengan
tangki bertekanan cocok untuk bambu yang sudah kering dan dapat
memastikan penyerapan yang cepat dan sempurna. Prinsipnya
adalah memaksa bahan pengawet masuk ke dalam bambu. Bahan
pengawet yang dapat digunakan denga sistem ini adalah
BoraxBoric, CCB, CCA dan Ter. Prosedur pengawetan dengan tangki
bertekanan meliputi:
 Proses vakum, bambu yang ditempatkan didalam tangki
divakum untuk mengeluarkan udara yang ada.
 Proses pengisian tangki dengan bahan pengawet sekaligus
memberikan tekanan pada larutan agar masuk ke dalam
bambu. Proses pengisian ini juga biasaya dikombinasi dengan
sistem fluktuasi tekanan, dimana tekanan dinaik-turunkan
agar dapat mempercepat dan menjamin penyerapan secara
sempurna.
 Kelebihan metode ini adalah pada waktu pengawetan bambu
yang lebih cepat. Sedangkan kelemahannya adalah
dibutuhkan banyak peralatan yang cukup mahal.
Pengeringan Bambu

Pengeringan bambu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
dengan pengeringan kayu yang memiliki kepadatan struktur yang sama.
Ini disebabkan bambu memiliki komponen yang sangat mudah menyerap
kelembaban.

Saat bambu mulai mengering, batang bambu akan berkontraksi dan
mengkerut. Proses pengkerutan ini dimulai sejak bambu ditebang, dan
dapat mengurangi diameter bambu hingga 16% dan mengurangi
ketebalannya hingga 17%. Bambu muda sebaiknya tidak digunakan untuk
keperluan konstruksi, karena tingkat pengerutannya sangat tinggi, selain
itu bambu muda juga sangat rentan terhadap serangan serangga dan
organisme lain.

Bagaimana cara mengeringkan bambu?

Cara yang paling umum dilakukan untuk kebutuhan komersil adalah
pengeringan alami dengan di angin-anginkan. Ketika bambu diangkat dari
tempat pengawetan, bambu tersebut haruslah disusun dengan baik dan
disimpan di tempat yang terlindung.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan ketika mengeringkan
bambu:

 Hindari bambu kontak langsung dengan tanah untuk menghindari
jamur dan serangga, serta menghindari kelembaban.
 Disarankan hanya menggunakan bambu yang cukup tua, yakni yang
berumur sekitar 3 tahun untuk mencegah pengerutan bambu.
 Singkirkan bambu yang terserang hama atau bubuk supaya tidak
menjangkiti bambu lain.
Upayakan ada ventilasi yang baik untuk sirkulasi udara.
 Hindari perubahan kelembaban yang drastis, misalnya dengan
menjemur bambu pada sinar matahari secara langsung, karena ini
akan dapat membuat bambu retak dan bahkan pecah terutama
pada bambu utuh. Pengeringan dengan matahari dapat dilakukan
pada bambu belah.
 Penyimpanan secara vertical adakn dapat mengeringkan bambu
lebih cepat dan menghindari kemungkinan terserang jamur. Namun
bambu yang dikeringkan secara tegak terlalu lama dapat membuat
bambu menjadi kurang lurus dan bengkok.
 Pengeringan secara horizontal dapat dilakukan untuk bambu dalam
jumlah besar. Bambu harus diletakkan diatas struktur umpak atau
alas agar tidak kontak langsung dengan tanah. Ini berguna untuk
menghindari kelembaban. Disaranakn diantara tumpukan bambu
diberi alas agar ada sirkulasi yang baik antara batang bambu.
 Bolak-balik bambu agar pengeringannya merata.
Waktu yang disarankan untuk pengeringan bambu secara alami
dengan diangin-angin adalah sekitar 1-2 bulan. Hal-hal yang dapat
mempengaruhi proses pengeringan adalah:
 Kelembaban bambu
 Ketebalan bambu
 Kelembaban udara sekitar
 Tingkat radiasi matahari
 Musim hujan/kering
 Sirkulasi dan udara

Cara penyimpanan dan pengeringan lainnya:

a. Secara tradisional bambu yang dipotong dibiarkan tetap tegak
dirumpunnya dan dialas dengan batu atau kayu, bambu dibiarkan
hingga daunnya megering selama 3-4 minggu. Dengan cara ini
pengeringan terjadi akibat transpirasi alami melalui daun.
b. Menyimpan bambu di dalam air dilakukan untuk meenjaga bambu
tetap basah dan hijau. Penyimpanan dalam air dapat mengeluarkan
zat gula yang ada sehingga cara ini juga merupakan metode
pengawetan bambu secara tradisional
c. Oven Kiln Dry merupakan cara yang dapat dilakukan untuk
mengeringkan bambu belah atau bilah bambu. Namun cara
pengeringan oven tidak dianjurkan untuk bambu utuh atau bambu
bulat, karena perubahan suhu yang cepat dapat menyebabkan
bambu retak dan pecah.
TIPS MEMBELI BAMBU

Sebelum anda membeli bambu, ada baiknya terlebih dulu mengetahui
tips dan trik berikut agar anda memperolah bambu bermutu dan sesuai
dengan kebutuhan anda, dan tidak jera atau kapok menggunakan bahan
bambu. Berikut ini beberapa pertimbangan ketika anda akan membeli
bambu:

1. Cari info penjual/supplier bambu. Bisa dari situs web (mislanya
dengan kata kunci pengawetan bambu atau bambu awet), atau
minta rekomendasi kontraktor dan perajin bambu yang anda kenal,
dll.
2. Jika memungkinkan, sebaiknya anda datang langsung ke tempat
penjual bambu tersebut agar dapat melihat langsung kondisi bambu
yang akan anda beli, serta melihat fasilitas pengawetan, cara
perlakuan terhadap bambu dan tentu saja anda akan dapat lebih
detail menanyakan tentang kebutuhan bambu anda.
3. Tanyakan teknis pengawetan bambu yang digunakan. Misalnya,
metode pengawetannya, berapa konsentrasi larutannya, berapa
perbandingan masing-masing bahan yang digunakan, berapa lama
waktu pengawetan dsb.
4. Tanyakan bahan pengawet apa yang digunakan. Penggunaan bahan
pengawet yang tepat sangat penting dalam menjamin keawetan
bambu dalam jangka panjang. Pengawet yang paling umum dan
banyak direkomendasi untuk bambu adalah campruan garam
boraks dan asam boric. Pengawetan pada bambu harus bersifat
“racun perut”, yakni pengawetan yang meresap ke dalam batang
bambu, tidak bisa dimakan oleh bubuk. Hindari membeli bambu
yang diawetkan dengan “racun kontak”, karena sifat racun kontak
hanya sementara, khusus dirancang untuk mengeliminasi hama
ketika hama tersebut bersentuhan dengan bahan pengawetnya,
selain itu dengan pertimbangan keamanan, oleh produsennya racun
kontak sengaja dibuat segera menguap setelah dioles atau
diaplikasikan ke produk kayu dengan tujuan agar tidak
membahayakan.
5. Tanyakan garansi keawetan yang diberikan. Jika bambu yang dijual
diawetkan dengan benar, produsen akan berani memberikan
jaminan penggantian jika bambu terserang hama (misalnya
kumbang bubuk). Setidaknya minta jaminan penggantian selama
tiga tahun. Meski sebenarnya bambu yang diawetkan (dengan borax
dan boric misalnya) dapat tahan hingga puluhan tahun, tapi tentu
saja penjual tidak akan mungkin memberikan jaminan seumur hidup
terhadap produk organik seperti bambu.
6. Pastikan waktu pengiriman bambu (tetapkan tanggal pengiriman).
Pengawetan bambu biasanya membutuhkan waktu sekitar dua
minggu (dengan perendaman), jika produsen/penjual tidak memiliki
ready stock, dan anda membutuhkan bambu dalam jumlah besar
untuk proyek konstruksi, umumnya dibutuhkan waktu antara 4-6
minggu untuk delivery pesanan.
7. Minta saran perlakuan dan cara penyimpanan bambu yang ada beli
agar keawetan bambu yang anda beli tidak berkurang karena salah
perlakuan. Bambu awet yang berbahan dasar air harus disimpan di
tempat terlindung dari hujan, juga terlindung dari panas agar tidak
pecah.
8. Jika sudah mantap dengan jawaban dan informasi yang diberikan
anda bisa langsung membuat kesepakatan pembelian.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.