LP DHF 1

LAPORAN PENDAHULUAN
DHF (Dengue Haemoragic Fever)

1. Pengertian

 DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995).

 Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau
tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina (Seoparman , 1990).

 DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegepty
dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat
menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).

 Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus
yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegepty (Seoparman, 1996).
DHF (Dengue Haemoragic Fever) berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis
dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986):
1) Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, uji tourniquet,
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
2) Derajat II
Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain.

3) Derajat III

Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan daerah rendah
(hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).
4) Dejara IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.

2. Anatomi Fisiologi
Struktur nyamuk terdiri atas ; kepala, toraks yang setiap segmenya dilengkapi dengan
sepasang kaki yang beruas-ruas dan abdomen. Daerah kepala terdiri atas mata, antena berbentuk
poliform yang terdiri atas 15 segmen. Antena nyamuk betina disebut pilose dengan bulu-bulu
yang lebih sedikit sedangkan yang jantan memiliki banyak bulu disebut plumose. Seperti halnya
dengan serangga lain nyamuk memiliki sepasang mata majemuk oseli (mata tunggal). Di bagian
dorsal toraks terdapat bentuk bercak yang keras berupa dua garis sejajar pada bagian tengah dan
dua garis lengkung di bagian tepi. Vena sayap meliputi seluruh bagian sayap sampai ke ujung
berukuran 2,5 – 3,0 mm. Di bagian abdomen nyamuk betina berukuran kecil terdapat dua caudal
cerci yang berukuran kecil, sedangkan pada nyamuk jantan terdapat organ seksual yang disebut
hypopygium.
Nyamuk ini bersifat antropofilik ( senang sekali pada manusia), biasanya nyamuk betina
menggit di dalam rumah, kadang-kadang di luar rumah di tempat yang agak gelap. Pada malam
hari nyamuk beristirahat dalam rumah pada benda-benda yang digantung seperti pakaian,
kelambu, pada dinding dan tempat yang dekat dengan tempat peridukannya. Nyamuk A.aegypti
memilliki kebiasaan menggigit berulang-ulang (multiple biters) yakni menggit beberapa orang
secara bergantian dalam waktu singkat. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap peranannya
sebagai vektor penyebab penyakit DBD ke beberapa orang dalam sekali waktu. Nyamuk jantan
juga tertarik terhadap manusia pada saat melakukan perkawinan, tetapi tidak menggigit.
Dalam perkembangan hidupnya nyamuk ini mengalami metamorfosis sempurna
(holometabola) yaitu dari telur menetas menjadi larva (jentik), kemudian menjadi pupa dan
selanjutnya menjadi nyamuk dewasa. Dalam keadaan optimal, perkembangan telur sampai
menjadi nyamuk dewasa berlangsung sekurang-kurangnya selama 9 hari. Nyamuk dewasa baik
jantan maupun betina membutuhkan glukosa sebagai bahan makanan yang dapat diperoleh dari
cairan tumbuhan, sedangkan nyamuk betina membutuhkan protein-protein dari darah untuk
pematangan sel telur setelah perkawinan. yamuk betina dewasa mulai menghisap darah setelah

berumur 3 hari, setelah itu sanggup bertelur sebanyak 100 butir. Nyamuk betina mampu bertahan
hidup 2 minggu lebih di alam, sedangkan nyamuk jantan setelah proses kawin dalam waktu ± 1
minggu akan mati. Nyamuk betina dapat terbang sejauh 20 meter, kemampuan normalnya adalah
± 40 meter.

3. Etiologi
Penyebab utama : – virus dengue tergolong albovirus
Vektor utama :
 Aedes aegypti.
 Aedes albopictus.
Adanya vektor tesebut berhubungan dengan :
1. kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperlauan sehari hari.
2. Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
3. Penyediaan air bersih yang langka.
Daerah yang terjangkit DHF adalah wilayah padat penduduk karena.
1. Antar rumah jaraknya berdekatan yang memungkinkan penularan karena jarak terbang aedes
aegypti 40-100 m.
2. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple biters) yaitu
menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat, (Noer, 1999).

4. Patofisiologi

bradikardi relatif. retroorbita  Suara serak  Batuk  Epistaksis . Tanda dan Gejala Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti : 1) Demam chiku nguya. Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas 40 0C disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot. 4) Purpura trombositopenia idiopati (ITP) Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh. 2) Demam tyfoid Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam. limfositosis relatif. 3) Anemia aplastik Penderita tampak anemis. demam lebih cepat menghilang. tidak terjadi hemokonsentrasi. timbul juga perdarahan pada stadium lanjut.  Meningkatnya suhu tubuh  Nyeri pada otot seluruh tubuh  Nyeri kepala menyeluruh atau berpusat pada supra orbita.5. pemeriksaan darah tepi menunjukkan pansitopenia. adanya leukopenia. demam timbul karena infeksi sekunder.

hematoma dan perdarahan dari lain tempat. 6. Komplikasi a. dingin dan penderita gelisah. Shock atau renjatan. hipotensi dengan kulit yang lembab. c. trombositopeni dan hemokonsentrasi. Effuse pleura d. Derajat IV : Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba. Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki. d. Klasifikasi a. . Perdarahan luas. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan. b. Penurunan kesadaran. Derajat III : Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah. c. uji turniket positi. b. Disuria  Nafsu makan menurun  Muntah  Ptekie  Ekimosis  Perdarahan gusi  Muntah darah  Hematuria massif  Melena 6.

Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut : 1. perdarahan gusi 4. melena. lemah. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai prognosis buruk. seperti anoreksia. Tirah baring atau istirahat baring. . tanpa ikterus. 3) Pembesaran hati yang nyeri tekan. pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nilai hematokrit pada masa konvalesen. ekimosi 3. teh manis. Renjatan biasanya terjadi pada saat demam turun (hari ke-3 dan hari ke-7 sakit ). purpura. 7. yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari kemudian turun secara lisis demam disertai gejala tidak spesifik. 8. 4) Dengan atau tanpa renjatan. 3. nyeri. 5) Kenaikan nilai Hematokrit / Hemokonsentrasi Laboratorium Terjadi trombositopenia (100. Pemeriksaan Diagnostik Patokan WHO (1986) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai berikut : 1) Demam akut. Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnyam limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali. sirup dan beri penderita sedikit oralit. Petekia. Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF dengan tepat. Uji tourniquet positif 2. Hematemesis. 2) Manifestasi perdarahan : 1. 2.5 liter/24 jam) dapat berupa : susu. Diet makan lunak. Minum banyak (2 – 2. Epistaksis.

Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF. 2. hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk. NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan. observasi ketat tiap jam. Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau pengabutan. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi. tensi. Pencegahan Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut : 1. 3. Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat. Tanpa insektisida . 2. Ht dan trombosit setiap hari. Periksa Hb. Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain : 1. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida). pernafasan) jika kondisi pasien memburuk. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah. 1. 7. 4. 5. dosis yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air. nadi. 2. rumah sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya. Menggunakan insektisida. 3. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. perubahan tanda-tanda vital. 6.

ekstremitas dingin. wajah tampak kemerahan.) Nyeri pada otot dan sendi. ekimosis. 7) Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah. lidah kotor. 2. 3) Tampak bintik merah pada kulit (petekia). tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari). Caranya adalah: 1. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas. nafas dangkal. epistaksis. 7. 1995 yaitu : 1. 6.) Pegal-pegal pada seluruh tubuh. menggigil.) Lemah.) Panas atau demam. 5. 3. perdarahan gusi. hematemesis. sianosis perifer. hipotensi. sakit saat menelan. mual. . 8. 6) Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa. hematoma. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat. Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. 2. Pengkajian Keperawatan Data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy. 5) Nyeri tekan pada epigastrik. 4. 9. 4) Hiperemia pada tenggorokan.) Nyeri ulu hati.) Sakit kepala. botol pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang. gelisah. Menguras bak mandi. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain: 1) Suhu tubuh tinggi. 2) Mukosa mulut kering. uji torniquet (+). 3. melena.) Konstipasi (sembelit). haus.) Anoreksia.

Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit 3. monosit. aneosinofilia. 7. 10. muntah. 4) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat). dan basofil 1) SGOT/SGPT mungkin meningkat. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. Pada hari ke-2 dan ke-3 terjadi leukopenia. peningkatan limfosit. 4. 5. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. netropenia. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia) Tujuan dan kriteria hasil: . 3) Hemoglobin meningkat > 20 %. Rencana Asuhan Keperawatan 1. Diagnosa Keperawatan 1. 2. anoreksia. 6. terapi tirah baring. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. hiponatremia. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). hipokloremia. Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai : 1) Ig G dengue positif. 4) Asidosis metabolik. 11. 3) Waktu perdarahan memanjang. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri. 5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia. 5) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan. 2) Ureum dan pH darah mungkin meningkat. 2) Trombositopenia.

. Observasi tanda vital (suhu. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter Rasional: 1. pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi 2. untuk mengidentifikasi pola demam pasien.. 2. nadi.  Suhu 36. x 24 jam diharapkan suhu tubuh pasien dapat berkurang dengan kriteria hasil:  Pasien mengatakan kondisi tubuhnya nyaman. x 24 jam diharapkan nyeri pasien dapat berkurang dan menghilang dengan kriteria hasil:  Pasien mengatakan nyerinya hilang  Nyeri berada pada skala 0-3 . Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal 6. pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh 6. tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Berikan kompres hangat 5. 5.80C-37. 3.50C  Tekanan darah 120/80 mmHg  Respirasi 16-24 x/mnt  Nadi 60-100 x/mnt Intervensi: 1. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. pernafasan) setiap 3 jam 3. 4. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan perawatan . 2. Setelah dilakukan perawatan . Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh. tensi. Kaji saat timbulnya demam.5 liter/24 jam) 4.

 Tekanan darah 120/80 mmHg  Suhu 36. Relaksasi akan memindahkan rasa nyeri ke hal lain. Memfokuskan kembali perhatian. Libatkan keluarga dalam asuhan keperawatan. Observasi tingkat nyeri pasien (skala. Berikan aktifitas hiburan yang tepat 4. Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan/resolusi komplikasi. . 4. anoreksia Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24 jam diharapkan perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria:  Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat  Menunjukkan tingkat energi biasanya  Berat badan stabil atau bertambah Intervensi: 1.50C  Respirasi 16-24 x/mnt  Nadi 60-100 x/mnt Intervensi: 1. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. 5. Keluarga akan membantu proses penyembuhan dengan melatih pasien relaksasi. Lingkungan yang nyaman akan membantu proses relaksasi 3. Observasi keadaan umam pasien dan keluhan pasien. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Memberikan penurunan nyeri. durasi) 2.80C-37. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman dan tindakan kenyamanan 3. Ajarkan pasien teknik relaksasi 6. 3. 6. meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi nyeri. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik Rasional: 1. 5. 2. muntah. frekuensi.

Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan utilisasinya) 4.2. 2. Pemberian obat antimual dapat mengurangi rasa mual sehingga kebutuhan nutrisi pasien tercukupi. Meningkatkan rasa keterlibatannya. 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti mual. Rasional: 1. Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik 3. Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam pencernaan makan. . Mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh pasien. Memberikan informasi kepada keluarga untuk memahami nutrisi pasien 6. Ajarkan pasien dan Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi. kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang 5. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki yang sesuai dengan program diit. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi 4. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien 3. 6. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan perawatan selama … x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan terpenuhi dengan kriteria hasil:  TD 120/80 mmHg  RR 16-24 x/mnt  Nadi 60-100 x/mnt  Turgor kulit baik  Haluaran urin tepat secara individu  Kadar elektrolit dalam batas normal. 5.

Observasi adanya kelelahan yang meningkat. Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa. Kaji suhu warna kulit dan kelembabannya 4. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. Kaji nadi perifer. 8. Pantau tanda-tanda vital. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul 3. Intervensi: 1. nadi tidak teratur 9. catat adanya perubahan tanda vital. memberi perkiraan akan cairan pengganti. 8. demam dengan kulit kemerahan. Pantau masukan dan pengeluaran cairan 6. mempercepat proses penyembuhan untuk memenuhi kebutuhan cairan 5. K) Rasional: 1. pernapasan yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi 3. mempertahankan volume sirkulasi. 7. merupakan indicator dari dehidrasi. hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardi 2. turgor kulit dan membran mukosa 5. pengisian kapiler. terapi tirah baring Tujuan dan kriteria hasil: . kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan muntah sehingga kekurangan cairan dan elektrolit. peningkatan BB. fungsi ginjal. BUN. Na. edema. pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan 9. 4. 2. pantau pemeriksaan laboratorium(Ht. 7. kering menunjukkan dehidrasi. dan program pengobatan. 5. Catat hal-hal seperti mual. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri. 6. muntah dan distensi lambung.

6. Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi 5. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan perawatan . mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien. melatih otot – otot kaki sehingga berfungsi dengan baik 4. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain: dokter (pemberian analgesik) Rasional: 1. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas. dengan kriteria hasil:  Pergerakan pasien bertambah luas  Pasien dpt melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk. berjalan)  Rasa nyeri berkurang  Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan Intervensi: 1. 2. Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Setelah dilakukan perawatan selama … x 24 jam diharapkan pasien dapat mencapai kemampuan aktivitas yang optimal. 4. x 24 jam diharapkan tidak terjadi syok hipovolemik dengan kriteria hasil:  TD 120/80 mmHg  RR 16-24 x/mnt  Nadi 60-100 x/mnt  Turgor kulit baik  Haluaran urin tepat secara individu . berdiri. 3. Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan 3.. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien. 2. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya 5.

tanda vital normal menandakan keadaan umum baik. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis 2. Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik 4. Intervensi: 1. Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang. 2.  Kadar elektrolit dalam batas normal. Monitor tanda perdarahan 4.000-400. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.. Monitor keadaan umum pasien 2. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut . Rasional: 1. 3. memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani. Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin 7. x 24 jam diharapkan tidak terjadi perdarahan dengan kriteria hasil:  Tekanan darah 120/80 mmHg  Trombosit 150. Berikan transfusi sesuai program dokter 6. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia Tujuan dan kriteria hasil: Setelah dilakukan perawatan .000 Intervensi: 1. Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut. hematokrit. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat 3. trombosit 5. 5. Chek haemoglobin. 6. 3.

jilid I.4. (2000). EGC . (1998). Christantie. 4. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh Demam berdarah Dengue adalah Infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthropadborn Virus) dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides albipices dan Aedes Aegypti). Demam Berdarah Pada Anak. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya Rasional: 1. Perawatan Pasien DHF. dkk. Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan 3. Jakarta. Hendarwanto. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan. Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. . Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta LP DHF 2 Laporan Pendahuluan dan Askep Demam Berdarah ( DHF ) Aplikasi Nanda Nic Noc A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1 Defenisi Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia. FKUI . Effendy. Soemarno. Jakarta. edisi ketiga. Marilynn E. 2. (1996). Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah. DAFTAR PUSTAKA Sunaryo. UI . EGC . Doenges. Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin. (1995). Jakarta.

dengue 4. Virus ini tergolong dalam family/suku/grup flaviviridae yang dikenal ada 4 serotipe. tubuh. Sementara pendarahan gastrointestinal masih . sampai epistaksis dan pendarahan gusi. dengue 2. pendarahan kulit dapat terwujud memar atau juga berupa pendarahan spontan mulai dari petekie pada ektremitas. Infeksi dengan salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotype bersangkutan. dan muka. terutama pendarahan kulit. sakit kepala.anoreksia. Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegepty 2 Etiologi Penyebab penyakit dengue hemoragic fever (DHF) atau demam berdarah adalah virus dengue. nyeri perut kanan atas atau seluruh bagian perut dan pendarahan. mual muntah. demam. walaupun hanya berupa uji tourniquet positif. discomfort. yaitu: demam tinggi dan mendadak yang dapat mencapai 400C atau lebih dan terkadang disertai dengan kejang. Tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype lain 3 Manifestasi Klinis Kasus DHF ditandai oleh manifestasi klinik. Selain itu. dengue 1. epigastrik. yang ditularkan melalui vector nyamuk aedes aegypti. dengue 3.

lebih jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi pada kasus dengan syok yang
berkepanjangan atau setelah syok yang tidak dapat teratasi. Pendarahan lain seperti
pendarahan sub konjungtiva terkadang juga ditemukan. Pada masa konvalisen
seringkali ditemukan eritema pada telapak kaki dan hepatomegali. Hepatomegali
biasanya dapat diraba pada permukaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar
dengan beratnya penyakit. Nyeri tekan seringkali ditemukan tanpa ikters maupun
kegagalan pendarahan.

4 Anatomi Fisiologi
Anatomi dan fisiologi yang berhubungan dengan penyakit DHF adalah system sirkulasi.
System
sirkulasi adalah sarana untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari traktus distivus dari
paru-paru ke
sela-sela tubuh. Selain itu, system sirkulasi merupakan sarana untuk membuang sisa-sisa
metabolisme
dari sel- sel ginjal, paru-paru dan kulit yang merupakan tempat ekskresi pembuluh darah,
dan darah.
1. Jantung.
Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung merupakan
jaringan istimewa karena kalau dilihat dari bentuk dan susunannya sama dengan otot
serat lintang, tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan kita.
Bentuk jantung menyerupai jantung pisang, bagian atasnya tumpul (pangkal jantung)
dan disebut juga basis kordis. Disebelah bawah agak runcing yang disebut apeks
cordis. Letak jantung didalam rongga dada sebelah depan, sebelah kiri bawah dari
pertengahan rongga dada, diatas diagfragma dan pangkalnya terdapat dibelakang kiri
antara kosa V dan VI dua jari dibawah papilla mamae. Pada tempat ini teraba adanya
denyut jantung yang disebut iktus kordis. Ukurannya lebih kurang sebesar genggaman
tangan kanan dan beratnya kira-kira 250-300 gram.
2. Pembuluh Darah
Pembuluh darah ada 3 yaitu :
a. arteri
Arteri merupakan pembuluh darah yang keluar dari jantung yang membawa darah
keseluru bagian dan alat tubuh. Pembuluh darah arteri yang paling besar yang keluar
dari ventrikel sinistra disebut aorta. Arteri ini mempunyai dinding yang kuat dan tebal
tetapi sifatnya elastic dan terdiri dari 3 lapisan.

Arteri yang paling besar didalam tubuh yaitu aorta dan arteri pulmonalis, garis
tengahnya kira-kira 1-3 cm. arteri ini mempunyai cabang-cabang keseluruhan tubuh
yang disebut arteriola yang akhirnya akan menjadi pembuluh darah rambut (kapiler).
Arteri mendapat darah dari darah yang mengalir didalamnya tetapi hanya untuk tunika
intima. Sedangkan untuk lapisan lainnya mendapat darah dari pembuluh darah yang
disebut vasa vasorum.
b. Vena
Vena (pembuluh darah balik) merupakan pembuluh darah yang membawa darah dari
bagian/alat-alat tubuh masuk ke dalam jantung. Tentang bentuk susunan dan juga
pernafasan pembuluh darah yang menguasai vena sama dengan pada arteri. Katup-
katup pada vena kebanyakan terdiri dari dua kelompok yang gunanya untuk mencegah
darah agar tidak kembali lagi. Vena-vena yang ukurannya besar diantaranya vena kava
dan vena pulmonalis. Vena ini juga mempunyai cabang tang lebih kecil yang disebut
venolus yang selanjutnya menjadi kapiler.
c. Kapiler
Kapiler (pembuluh darah rambut) merupakan pembuluh darah yang sangat halus.
Diameternya kira-kira 0,008 mm. Dindingnya terdiri dari suatu lapisan endotel. Bagian
tubuh yang tidak terdapat kapiler yaitu; rambut, kuku, dan tulang rawan. Pembuluh
darah rambut/kapiler pada umumnya meliputi sel-sel jaringan. Oleh karen itu dindingnya
sangat tipis maka plasma dan zat makanan mudah merembes ke cairan jaringan antar
sel.
3. Darah
Darah adalah jaringan cair dan terdiri dari dua bagian: bagian cair disebut plasma dan
bagian padat disebut sel darah. Warna merah pada darah keadaannya tidak tetap
bergantung pada banyaknya oksigen dan karbon dioksida didalamnya. Darah yang
banyak mengandung karbon dioksida warnanya merah tua. Adanya oksigen dalam
darah diambil dengan jalan bernafas dan zat ini sangat berguna pada peristiwa
pembakaran/metabolisme didalam tubuh. Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa
terdapat darah seanyak kira-kira 1/3 dari berat badan atau kira-kira 4 sampai 5 liter.
Keadaan jumlah tersebut pada tiap-tiap orang tidak sama, bergantung pada umur,
pekerjaan, keadaan jantung atau pembuluh darah.
Fungsi darah:
a. Sebagai alat pengangkut

b. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun dalam tubuh dengan
perantaraan leukosit dan antibody/zat-zat antiracun.
c. Mengatur panas keselurh tubuh.
Adapun proses pembentukan sel dara terdapat tiga tempat yaitu: sumsung tulang,
hepar, dan limpa
.
5 Patofisiologi
. Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty.
Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-
bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin
terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan
pembesaran limpa (Splenomegali).

Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-
antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan
C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine
dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding
kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang
ekstra seluler.

Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume
plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan
renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit
menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena. Terjadinya trobositopenia,
menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan
fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama
perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum,
pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui
infus. Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan
kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi

Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia. asidosis metabolic dan kematian. hati dan limpa. pegal seluruh badan. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS. Klasifikasi DHF menurut WHO. mual. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan. hemokonsentrasi. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma. yaitu dalam rongga peritoneum. hiperemi ditenggorokan. trombositopenia dan gangguan koagulasi. penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia.kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. nyeri otot. Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan. hipoproteinemia. pleura dan perikard. yaitu : . Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. seperti demam. gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan. sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup. terjadinya hipotensi. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin. terutama pada pasien dengan perdarahan hebat. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa. efusi dan renjatan. sakit kepala. metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler. Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening.

antipiretik f. Pemeriksaan Radiologi Pada foto trorax( pada DHF grade III/ IV dan sebagian besar grade II) di dapatkan efusi pleura 7 Penatalaksanaan a. Monitor TTV h. Minum banyak (2-2. Hematokrit meningkat 20% atau lebih 3. Pemeriksaan Laboratorium : 1. Kadar albumin menurun dan bersifat sementara 5. Tirah baring b. Leukosit menurun pada hari kedua dan ketiga 4.5 liter/24 jam) d. Pemberian obat-obtan. dan trombosit setiap hari . hematemesis. Pemberian makanan lunak c. trombositipenia. Hiponatremia( NA rendah ) b. Monitor tanda-tanda pendarahan lanjut j. antibiotic. tekanan darah menurun. melena. Uji tourniquet positif. berkeringat dan kulit tampak biru. ekimosis. HT. perdarahan gusi. Pemberian cairan melalui infuse e. tekanan darah tidak teatur (denyut jantung ³ 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin. Hipoproteinemia( Protein darah rendah ) 6. Antikonulsi jika terjadi kejang g. 6 Pemeriksaan penunjang a. ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie. Derajat II Sama dengan derajat I. Trombosit menurun 2. Monitor adanya tanda-tanda renjatan i. tanpa perdarahan spontan. dan hemokonsentrasi. Derajat III Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( £ 120 mmHg ). Panas 2-7 hari. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain. (120/80 ® 120/100 ® 120/110 ® 90/70 ® 80/70 ® 80/0 ® 0/0 ) Derajat IV Nadi tidak teaba. Periksa HB.

Riwayat kesehatan dahulu apakah klien pernah menderita penyakit yang diderita sekarang. Pengkajian a. mual. perubahan status kesehatan dalam kurun waktu tertentu v Nutrisi-Metabolik Menggambarkan informasi tentang riwayat pasien mengenai konsumsi makanan dan cairan. tanggal masuk rumah sakit. tipe intake makan dan minum sehari. lapar dan haus berlebihan. e. pendidikan. kenyamanan dan nyeri. kepuasan dan ketidakpuasan dengan peran v Seksual reproduksi .perceptual Meliputi informasi riwayat pasien tentang fungsi sensori. frekwensi BAK. sensasi perabaan. v Kognitif. Identitas klien meliputi nama klien. Riwayat kesehatan sekarang meliputi keluhan utam yang merupakan keluhan klien. penggunaan suplemen. diagnose medis. masalah dengan pengecap dan pembau.B. masalah yang dirasakan saat tidur. jenis kelamin. agama. vitamin makanan. pekerjaan. kondisi lingkungan saat tidur. alamat. d. 11 pola pengkajian Gordon: v Persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan Menggambarkan informasi atau riwayat pasien mengenai status kesehatan dan praktek pencegahan penyakit. penglihatan. umur. status pendengaran. keseimbangan energy. keamanan/proteksi. baal. suku/bangsa. data yang dikaji yang dirasakan klien saat ini. b. tipe dan keteraturan latihan. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS CA PARU 1. fungsi kognitif. penggunaan obat tidur. BAK frekwensi karakter BAB terakhir. riwayat sakit yang lalu. tumbuh kembang. v Aktivitas – Latihan Meliputi informasi riwayat pasien tentang pola latihan. v Istirahat tidur Meliputi informasi riwayat pasien tentang frekwensi dan durasi periode istirahat tidur. kesemutan v Konsep diri-persepsi diri Meliputi riwayat pasien tentang peran dalam keluarga dan peran social. Masalah nafsu makan. v Eliminasi Menggambarkan informasi tentang riwayat pasien mengenai pola BAB. rasa panas diperut. atau tempat sakit. aktivitas yang dilakukan dirumah. Keluhan utama meliputi alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF saat dating ke rumah sakit c. tanggal pengkajian.

Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue b. dan kepercayaan berhubungan dengan pilihan membuat keputusan kepercayaan spiritual 2. c. 3. Diagnosa a. dan Hct § Berikan anti piretik § Selimuti pasien § Berikan cairan intravena § Kompres pasien pada lipat paha dan aksila Temperature regulation § Monitor suhu minimal tiap 2 jam § Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi . tujuan. Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Meliputi informasi tentang focus pasutri terhadap kepuasan atau ketidakpuasan dengan seks. Risiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. orientasi seksual v Koping toleransi stress Meliputi informasi riwayat pasien tentang metode untuk mengatasi atau koping terhadap stress v Nilai kepercayaan Meliputi informasi riwayat pasien tentang nilai. nadi v Tidak ada perubahan dan RR warna kulit dan tidak § Monitor penurunan tingkat ada pusing. Hb. merasa kesadaran nyaman § Monitor WBC. Intervensi N Diagnosa NOC NIC o 1 Hipertermi b/d NOC : NIC : proses infeksi virus Thermoregulation Fever treatment Kriteria Hasil : § Monitor suhu sesering dengue v Suhu tubuh dalam mungkin rentang normal § Monitor IWL v Nadi dan RR dalam § Monitor warna dan suhu kulit rentang normal § Monitor tekanan darah.

dosis. § Tingkatkan intake cairan dan nutrisi § Berikan anti piretik jika perlu Vital sign Monitoring § Monitor TD. dan RR 2 Nyeri berhubungan NOC : NIC : dengan proses v Pain Level. dan frekuensi § Cek riwayat alergi § Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi . v Mampu mengontrol nyeri durasi. dan derajat nyeri sebelum pemberian obat § Cek instruksi dokter tentang jenis obat. kualitas. nadi. Pain Management v Pain control. dan faktor presipitasi Melaporkan bahwa nyeri § Observasi reaksi nonverbal berkurang dengan dari ketidaknyamanan menggunakan § Kurangi faktor presipitasi manajemen nyeri nyeri v Mampu mengenali nyeri § Pilih dan lakukan (skala. § Lakukan pengkajian nyeri patologis penyakit v Comfort level secara komprehensif Kriteria Hasil : termasuk lokasi. penanganan nyeri frekuensi dan tanda (farmakologi. frekuensi. intensitas. karakteristik. karakteristik. kualitas (tahu penyebab nyeri. suhu. non nyeri) farmakologi dan inter v Menyatakan rasa personal) nyaman setelah nyeri § Kaji tipe dan sumber nyeri berkurang untuk menentukan intervensi v Tanda vital dalam rentang § Ajarkan tentang teknik non normal farmakologi § Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri § Evaluasi keefektifan kontrol nyeri § Tingkatkan istirahat Analgesic Administration § Tentukan lokasi.

tanda dan gejala (efek samping) 3 Risiko gangguan NOC : NIC : pemenuhan v Nutritional Status : food Nutrition Management and Fluid Intake § Kaji adanya alergi kebutuhan nutrisi Kriteria Hasil : makanan kurang dari v Adanya peningkatan § Kolaborasi dengan ahli gizi berat badan sesuai untuk menentukan jumlah kebutuhan tubuh dengan tujuan kalori dan nutrisi yang b/d intake nutrisi v Berat badan ideal sesuai dibutuhkan pasien. § Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori § Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan Nutrition Monitoring § BB pasien dalam batas normal § Monitor adanya penurunan berat badan § Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi . dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu § Pilih rute pemberian secara IV. IM untuk pengobatan nyeri secara teratur § Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali § Evaluasi efektivitas analgesik. yang tidak adekuat dengan tinggi badan § Anjurkan pasien untuk v Mampu mengidentifikasi meningkatkan protein dan akibat mual dan kebutuhan nutrisi vitamin C nafsu makan yang v Tidak ada tanda tanda § Yakinkan diet yang menurun malnutrisi dimakan mengandung tinggi v Tidak terjadi penurunan serat untuk mencegah berat badan yang konstipasi berarti § Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.

Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006. dkk. hipertonik papila lidah dan cavitas oral. rambut kusam. § Catat jika lidah berwarna magenta. dan mudah patah § Monitor mual dan muntah § Monitor kadar albumin. Ralph & Rosenberg. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II Jilid I. Philadelphia USA LP 3 LP ASKEP DHF (Dengue Haemoragic Fever) Posted on 6 Agustus 2013 | Tinggalkan komentar BAB I LAPORAN PENDAHULUAN A. 2000.H. Edisi I. Jakarta : Media Aesculopius Pusponegoro. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 419) . kemerahan. 2003. total protein. § Monitor turgor kulit § Monitor kekeringan. hiperemik. yang berpotensial mengakibatkan syok yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer & Suprohaita. dan kadar Ht § Monitor pucat. 2004. PENGERTIAN Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan.D. scarlet C. 2000. dan kekeringan jaringan konjungtiva § Catat adanya edema.. Standar Pelayanan Medis Kesehatan anak. Daftar Pustaka Marsjoer A. Hb.

dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti. Derajat II ( sedang ) Lebih berat dari derajat I oleh karena di temukan pendarahan spontan pada kulit misal di temukan adanya petekie. pendarahan 3. Histamin) terjadinya: peningkatan suhu. Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu dihipotalamus sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin. B. aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan. serotinin. .Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue I. 2006: 61). Selain itu virtemia menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari intravascular ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. melena) 4. dan IV yang ditularkan oleh nyamuk aides aegypti dan aides albopictus (Soegijanto. 2000. II. 2. 3. C. ekimosis. 2. trombin. Klasifikasi DHF berdasarkan kriteria menurut WHO yaitu : 1. PATOFISIOLOGI (pathway) Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. ETIOLOGI Virus dengue serotipe 1. Derajat I ( ringan ) Demam mendadak dan sampai 7 hari di sertai dengan adanya gejala yang tidak khas dan uji turniquet (+). III. nyamuk aedes albopictus. Derajat IV ( DIC ) Gagal sirkulasi yang berat pasien mengalami syok berat tensi nadi tak teraba. Derajat III ( berat ) Adanya gagal sirkulasi di tandai dengan laju cepat lembut kulit dngin gelisah tensi menurun manifestasi pendarahan lebih berat( epistaksis. 420).infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer & Suprohaita.

Perdarahan Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji tocniquet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena. Suzanne C dan Brenda G Bare. ( Smeltzer. terdapat masa laten yang berlangsung 4-5 hari diikuti oleh demam. nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyetainya 3. Hal ini mengakibatkan adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara normal. petekia dan purpura. Pada Pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Bersamaan dengan berlangsung demam. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . D. meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari. Nyeri punggung. 2002 ). gejala-gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jka tidak tertangani maka akan menimbulkan syok . rata-rata 5-8 hari. TANDA DAN GEJALA 1. penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibody melawan virus. Masa Inkubasi Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue ke dalam kulit. 2. 4.Trombositopenia dapat terjadi akibat dari. sakit kepala dan malaise. Demam Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Hepatomegali Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba. nyeri tulang dan persediaan.

6. sakit kepala. Keluhan nyeri perut yang hebat seringkali menunjukkan akan terjadinya perdarahan gastrointestinal dan syok. 2000) Identitas Umur. ruam. 2002 ). malaise. Gejala klinik lain Nyeri epigastrum. nyeri pada efigastrik. diare maupun obstipasi dan kejang-kejang. Suzanne C dan Brenda G Bare. PENGKAJIAN (Doenges. penurunan nafsu makan. E. tempat tinggal bisa menjadi indicator terjadinya DHF Riwayat kesehatan  Keluhan utama Panas  Riwayat kesehatan sekarang Panas tinggi. Pemeriksaan fisik . sakit pada saat menelan. jari tangan. 5. dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. muntah-muntah. ( Smeltzer. dan pegal.perdarahan spontan.  Riwayat kesehatan dahulu Pernah menderita yang sama atau tidak  Riwayat kesehatan keluarga Adanya anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dan adanya penyakit herediter (keturunan). jari kaki serta sianosis disekitar mulut. mual. nyeri otot. Renjatan (Syok) Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita. dingin pada ujung hidung. jenis kelamin. muntah. lemah.

pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit. Selaput mukosa kering. akan mengungkapkan nyeri saat kencing. penurunan nafsu makan. berak darah (melena). uji tourniquet positif. nyeri tekan pada epigastrik. nadi cepat (tachycardia). nyeri saat menelan. Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS  System perkemihan Produksi urine menurun.G dengue positif . trombositipeni.  System integument Terjadi peningkatan suhu tubuh (Demam). terjadi bintik merah seluruh tubuh/ perdarahan dibawah kulit (petikie). PEMERIKSAAN PENUNJANG  Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai 1. muntah. cyanosis sekitar mulut. pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan nyeri tekan tanpa diserta dengan ikterus. hidung dan jari-jari. auskultasi  System cardivaskular Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi. ruam makulopapular. Pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi. Ig. dapat muntah darah (hematemesis). kulit kering. epistaksia.  System neurologi Nyeri pada bagian kepala. abdomen teregang. pergerakan dinding dada. bola mata dan persendian. napas dangkal. kesulitan menelan. pembesarn limpa. mual. kadang kurang dari 30 cc/jam.  System pernapasan Sesak. pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet. kencing berwarna merah  System pencernaan Perdarahan pada gusi. perkusi. Pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. penurunan tekanan darah (hipotensi).

1. Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis metabolik: PCO2 < 35 – 40 mm Hg. aneosinophilia. Pemeriksaan sianosis yang menunjang antara lain foto thorak mungkin di jumpai pleural effusion. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler keekstravaskuler. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue 2. pemeriksaan USG hepatomegali dan splenomegali. peningkatan limposit. Trombositopenia 3. Hemoglobin meningkat 4. SGOT atau SGPT darah mungkin meningkat 2. 1. Waktu pendarahan memanjang 4. HCO3 rendah  Pemeriksaan serologi Pada pemeriksaan ini di lakukan pengukuran literantibodi pasien dengan cara haemaglutination nibitron test (HIT test) atau dengan uji peningkatan komplemen pada pemeriksaan serologi di butuhkan dua bahan pemeriksaan yaitu pada masa akut atau demam dan masa penyembuhan ( 104 minggu setelah awal gejala penyakit ) untuk pemeriksaan serologi ini di ambil darah vena 2 – 5 ml. Ureum dan Ph darah mungkin meningkat 3. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan – hipoproteinemia – hiponatremia dan – hipokalemia Pada hari kedua dan ketiga terjadi lekopenia. netropenia. monosit dan basofil 1. 2. . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Hemokonsentrasi ( hematokrit meningkat) 5.

pindahnya cairan intravaskuler keekstravaskuler. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan.3. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor- faktor pembekuan darah (trombositopeni ). 6. 4. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan hepatomega . Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual muntah dan nafsu makan yang menurun 5.

dengan kriteria: batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.5. engobservasi ku dan tindakan keperawatan keluhan klien. batas normal 3. Hipertermia b/d proses Setelah dilakukan infeksi virus dengue 1. Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi 1. parenteral. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik dan cairan rentan normal 36. 37. klien (derajat dan pola)perhatikan menggigil / menujukan temperatur dalan diaforsis. INTERVENSI KEPERAWATAN No. 2. Berikan kompres hangat kedinginan hindri penggunaan akohol.5C 3. Bebas dari 4. Observasi suhu klien selama 3 x 24 jam. Pantau suhu lingkungan. 1. 1. 2. Suhu tubuh dalam 5. Mukosa bibir lembab .

Kulit tidak teraba panas 2. cairan intravaskuler keekstravaskuler. Capilarry refill < 3detik. 2. Observas vital sign tiap 3 tindakan keperawatan jam / lebih. 4. selama 3 x 24 jam. 3. 4. N: cairan intravena. Tidak ada tanda presyok. 3. Resiko defisit volume Setelah dilakukan cairan b/d pindahnya 1. Pulsasi kuat 3. konsentrasi. atau darah. Observasi capillary. Kolaborasi : Pemberian 100/70mmHg. toleransi). 2. Input dan output 1500-2000 ml /hari (sesuai seimbang. Resiko syok Setelah dilakukan hypovolemik b/d perdarahan yang 1. Kriteria hasil : BJ urine. 4. plasma 80-120x/mnt). 5. Anjurkan untuk minum 1. Catat dapat terpenuhi dengan jumlah. Monitor keadaan umum . Observasi intake Kebutuhan cairan klien dan output.warna. Vital sign dalam batas normal (TD 5. Akral hangat.

Kolaborasi : pemeriksaan : HB. termasuk makanan nutrisi kurang dari jam. N: 80. Resiko gangguan Setelah dilakukan tindakan pemenuhan kebutuhan keperawatan selama 3×24 1. Jelaskan pada klien dan Hipovolemik dengan Kriteria keluarga tanda perdarahan. 4. 5. 120x/mnt). cairan intravena. hasil : dan segera laporkan jika terjadi perdarahan. PCV. kebutuhan tubuh b/d terpenuhi dengan kriteria intake nutrisi yang tidak hasil : 2. 2. muntah dan nafsu 1. pindahnya tindakan keperawatan cairan intravaskuler klien. TTV dalam batas normal (TD 100/70 4. makan. klien tidak terlihat lesu dan lemah. Kaji riwayat nutrisi. 4. 1. Timbang BB tiap hari (bila makan yang menurun separo / satu porsi memungkinkan ). trombo. klien menghabiskan 3. Kolaborasi : Pemberian mmHg. Tidak terjadi syok 3. berlebihan. 3. 5. nafsu makan klien untuk makanan sedikit meningkat namun sering dan ataumakan diantara waktu. Berikan / Anjurkan pada 2. Berikan dan bantu oral . Kebutuhan nutrisi klien yang disukai. Observasi dan catat masuk adekuat akibat mual an makanan pasien. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih. selama 3 x 24 jam. keekstravaskuler.

Tidak terjadi perdarahan tentang bahaya yang dapat factor-faktor pembekuan selama dalam masa timbul akibat dari adanya darah (trombositopeni ). 6. Hindari makanan yang 5. Resiko terjadi Setelah dilakukan tindakan perdarahan berhubungan keperawatan selama 3×24 1. Jelaskan pada klien dan tanda malnutrisi. Sajikan makanan dalam keadaan hangat. unan berat badan. kering 6. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga dengan penurunan jam. mukosa bibir tidak hygiene. 5.Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat. perawatan dengan kriteria perdarahan. 9. keluarga tentang penting nutrisi / makanan bagi 7. dan anjurkan u ntuk segera melaporkan . berat badan dan keluhan klien. mual dan muntah merangsang (pedas / asam) berkurang dan mengandung gas. 8. 7. 10. Observasi porsi makan klien. tidak terjadi penur proses penyembuahan. Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika mual. tidak ada tanda. 4. 11.

Monitor trombosit setiap hari.suhu dan pernafasan). pulsasi 2. darah (hematemesis).000/uL). N: 80. dalam batas normal 3. hidung normal (epistaksis). Anjurkan pada lengkap). atau muntah (TD 100/60 mmHg. hematemesis Observasi tanda-tanda dan melena). klien untuk banyak istirahat tirah 4. an laboratorium secara berkala (darah 3. perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak. TTV dalam rentan seperti di gusi. 2. berak darah (melena). berikan an tekanan 5-10 menit setiap spontan (gusi. pelihara 1. tidak ada perdarah kebersihan mulut. Antisipasi adanya kuat. 100x/menit) reguler. Monitor tanda-tanda baring penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Kolaborasi dalam pemeriksa (150. Trombosit nadi. . 6.hasil : jika ada tanda perdarahan 1. 5. Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit concentrate). perdarahan serta tanda vital (tekanan darah. hid selesai ambil darah dan ung.

2000. 2002. menarik diri. Jakarta : FKUIM 3.6. DAFTAR PUSTAKA 1. keperawatan selama 3×24 posisi tubuh. bisa menggunakan 3. jam. edisi 2. ekspresi wajah relax 2. 1. dengan kriteria hasil : menangis / meringis. Volume 1. dan intensitasnya. Demam Berdarah Dengue. imajinasi). Suzanne C dan Brenda G Bare. lokasi. Edisi 8. Ilmu Penyakait Dalam. Arif dkk. 4. -tanda nyeri nonverbal. tekanan darah. Surabaya : Aerlangga . Kaji keluhan nyeri. 4. Soegeng. Marilynn E. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. Jilid 2. Teknik relaksasi (nafas teknik relaksasi dalam) dengan baik (nafas dalam. diaphoresis. Jilid 1. 2006. 2004. dkk. Smeltzer. Soegijarto. Evaluasi perilaku nyeri. Mansjoer. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran : EGC 5. Jakarta 4. setelah dilakukan tindakan seperti: ekspresi wajah. gelisah. Hendrayanto. 2000. Observasi adanya tanda hepatomegali. 2. Doenges. Kapita Selekta Kedokteran. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Nyeri b/d Gangguan rasa nyaman : nyeri berkurang / terkontrol 1. Jakarta : EGC 2. 3. skala nyeri perubahan frekuensi berkurang (0-3) jantung/ pernapasan.

Pengendalian Dengue Dan Demam Berdarah. Palupi. Jakarta : EGC . Pencegahan.6. Widyastuti. 2004.

dan tanda tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan ( sindrom renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. yang biasanya memburuk setelah 2 hari pertama. Definisi Dengue haemoragic fever adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthropodborn virus) dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictus dan Aedes aegypti). ruam.nyeri otot dan / atau nyeri sendi yang disertai lekopenia. (Hendarwanto :417) B. Keempat serotipe ditemukan di indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.2005 : 368 ) Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. trombositopenia dan diatesis haemoragic.(ngastiyah. hepatomegali. nyeri otot dan sendi.1995) Demam dengue / DHF dan demam berdarah dengue / DBD ( Dengue haemoragic fever / DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam.Laporan Pendahuluan DHF (Dengue Haemoragic Fever) Pada Anak Dan Dewasa Laporan Pendahuluan DHF pada Anak dan Dewasa Dengue Haemoragic Fever A.dkk.ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam. (Suhendro.2006 : 57 ) Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh 4 tipe serotipe virus dengue dan ditandai dengan 4 gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi. manifestasi perdarahan. keluarga flaviviridae. Etiologi Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue.Effendy.Rita Yuliani. (Christantie. Survei epidemiologi pada .(Abdul Rohim. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 mm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.(Suriadi. yang termasuk dalam genus flavivirus. selanjutnya disingkat DHF ). japanese encehphalitis dan west nille virus.anjing. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1.2002 : 45) Dengue haemoragic fever ( DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti ( betina). DEN-2. DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengue dengan flavivirus lain seperti yellow fever.dkk.DHF terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi penderita. Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus. kelinci. kelelawar. limfadenopati. dan primate.2007 : 1709) Demam berdarah dengue ( dengue haemoragic fever.

• Jarak terbang 50 meter. Biasanya disekitar rumah atau pohon pohon. beberapa strain virus mengakibatkan kasus yang sangat ringan baik pada anak mauun orang dewasa yang sering tidak dikenali sebagai kasus dengue dan menyebar tanpa terlihat di dalam masyarakat. Pola Epidemiologis Interaksi Virus Untuk memahami berbagai situasi epidemiologis yang muncul. pandan. • Jarak terbang 100 meter Aedes albopictus • Tempat habitatnya di tempat air jernih. yang infeksi tersebut : pada beberapa epidemi rasio kesakitan yang tampak hamir mencapai 1. • Biasanya menggigit pada siang hari. Contoh. dimana tertampung air hujan yang bersih yaitu pohon pisang. ( Suhendro. Aspek – aspek tersebut meliputi : • Infeksi dengue tidak jarang menimbulkan kasus ringan pada anak • Infeksi dengue pada orang dewasa sering menimbulkan gejala. tahun 1988 di Taiwan. Siklus Penularan • Vektor : Aedes aegypti. di indonesia dikenal dua jenis nyamuk aedes yaitu : • Aedes aegypti • Aedes albopictus Aedes aegypti • Paling sering ditemukan. terutama pada pagi dan sore hari. • Adalah nyamuk yang hidup di daerah tropis. banyak orang dewasa yang mengalai pedarahan yang berat yang di hubungkan dengan DEN -1 juga mengalami penyakit ulkus peptikum. dll. • Menggigit pada waktu siang hari. • Nyamuk ini sepintas lalu nampak berlurik. terutama di negara asean dan pasific barat. • Infeksi primer maupun sekunder dengue pada orang dewasa mungkin menimbukan perdarahan gastrointestinal yang parahbegitu juga kasus peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Penelitian pada artropoda menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus aedes ( stegomyia ) dan toxorhynchites. Akan tetapi. berbintik bintik putih. spesies Aedes (Stegomyia) lain • Masa inkubasi ekstrinsik berlangsung selama 8 – 10 hari • Infeksi virus dengue pada manusia disebabkan oleh gigitan nyamuk .2007 : 1709 ) C. penting untuk mengenali beberapa aspek dasar interaksi virus. Epidemiologi Penyakit ini terdapat di daerah tropis. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes. sapi dan babi.hewan ternak di dapatkan antibodi terhadap virus dengue pada hewan kuda. terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah yaitu di tempat penampungan air jernih atau tempat penampungan air di sekitar rumah. kaleng bekas.

Derajat III Ditemukan kegagalan sirkulasi.epistaksis. Hasil uji di nyatakan positif jika tampak 10 atau lebih petekia per 2. tetapi tidak dalam siklus epidemi. Manifestasi Klinis • Demam Awalnya akut. uji tersebut biasanya memberikan hasil yang pasti positif bila tampak 20 petekia atau lebih. trombositopenia dan hemokonsentrasi. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain. • Pembesaran hati (hepatomegali) . yang mungkin penting bagi kelangsungan hidup virus. dan hematemesis dan / atau melena. Pada kasus DHF. 2. ekimosis. gelisah. 3. gusi berdarah. Dengue syok sindrom bukan saja merupakan suatu permasalahan kesehatan masyarakat yang menyebar dengan luas atau tiba – tiba. berlangsung lama 2 – 7 hari • Setiap manifestasi perdarahan berikut : petekia. Derajat IV Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. Hasil uji mungkin negatif atau agak positif selama fase syok yang dalam.5 cm2. purpura. bahkan terkadang sangat positif. hidung dan ujung jari.• Masa inkubasi instrinsik sekitar 4 – 13 hari (rata – rata 4 – 7 hari ) • Viraemia tampak sebelum awitan gejala dan berlangsung selama rata – rata lima hari setelah awitan • Penularan vertikan dapat terjadi. sianosis sekitar mulut. tanoa perdarahan spontan uji torniquet (+). Dengue Shock Syndrome ( DSS ) Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) atau demam berdarah dengue. Hasil tersebut kemudian akan menjadi positif. cukup tinggi. jika dilakukan setelah pulih dari syok. 4. tekanan darah rendah (hipotensi). Derajat II Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain. dan kontinu. D. yaitu nadi cepat dan lemah. E. • Uji torniquet positif Uji torniquet dilakukan dengan memompa manset tekanan darah sampai suatu titik tengah antara tekanan sistolik dan diastolik selama 5 menit. Klasifikasi Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO (1999) DBD dibagi menjadi 4 derajat : 1. tetapi juga merupakan suatu permasalahan klinis. karena 30 – 50 % penderita demam berdarah dengue akan mengalami renjatan dan berakhir dengan demam suatu kematian terutama bila tidak ditangani secara dini dan adekuat.

Pada pasien dengan renjatan berat. Patofisiologi Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh. Efusi pleura ( tampak melalui rontgen dada ) dan / atau hipoalbuminemia menjadi bukti penunjang adanya kebocoran plasma. peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih.efusi dan renjatan. ( WHO. sudah cukup untuk menetapkan diagnosis klinis DHF. • Syok Di tandai dengan denyut yang cepat dan lemah di sertai tekanan denyut yang menurun ( 20 mmHg atau kurang ). sedangkan pada autopsi tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif atau akibat radang. asidosis metabolik dan kematian.hipoproteinemia. juga dengan kulit yang lembab. bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoreksia jaringan. Adanya kebocoren plasma ke daerah ekstravaskular dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa.000 / mm3 atau kurang ) . yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak teratasi. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma. pleura dan perikard yang pada autopsi ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infus.seperti demam. yaitu rongga peritoneum. nyeri otot. sakit kepala. mual. Dua kriteria klinis pertama. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF adalah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena penglepasan zat anafilaktosin. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma. Trombositipenia ( 100. menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator farmakologis yang bekerja singkat. jumlah hematokrit yang tinggi dan trombositipenia memperkuat diagnosis terjadinya DHF / DSS. atau hipotensi. timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran – pembesaran kelenjar – kelenjar getah bening. hemokonsentrasi. tetapi di negara lain frekuensinya mungkin bervariasi. Hemokonsentrasi. • Temuan laboratorium .Tampak pada beberapa tahap penyakit yaitu sekitar 90 – 98 % pada anak anak di thailand. dan gelisah. hati dan limfa. Perdarahan pada DHF umumnya dihubungkan . dingin. di tambah dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi atau peningkatan jumlah hematokrit. histamin dan serotonin serta aktivasi sistem kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intra vaskular. Ruam pada DHF disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit. Bukti ini sangat berguna terutama pada pasien yang anemia dan / atau mengalami perdarahan berat. Sebab lain kematian pada DHF adalah pedarahan hebat. Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat permulaan demam dan mencapai puncaknya pada saat renjatan.terjadinya hipotensi. volume plasma dapat menurun sampai lebih dari 30%. pegal seluruh badan. 2005 : 19 ) F. Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastis setelah pemberian plasma / ekspander plasma yang efektif. hiperemia di tenggorok. Pada kasus syok. pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia.

IX. terutama pada pasien dengan perdarahan hebat. Trombositopenia yang dihubungkan dengan meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya destruksi trombosit. yaitu : 1. • Serologi Uji serulogi untuk infeksi dengue dapat dikategorikan atas dua kelompok besar. dan X. VII. Pada uji ini yang dicari adalah kenaikan antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali. sedangkan reserve alkali merendah. tetapi bila penyakit memburuk dengan terjadinya asidosis dan renjatan. kemudian menjadi hiperselular pada hari ke – 5 dengan gangguan maturasi sedangkan pada hari ke – 10 biasanya sudah kembali normal untuk semua sistem. Dikatakan pada masa dini DHF. sejak lama telah menjadi bahan perdebatan. ureum dan pH darahmungkin meningkat. yaitu serum yang diambil pada masa akut dan masa konvalesen. tetapi masa perdarahan biasanya memanjang. peran DIC tidak menonjol dibandingkan dengan perembesan plasma. Telah terbukti bahwa DIC secara potensial dapat terjadi juga pada pasien DHF tanpa renjatan. Masakah tidaknya DIC pada DHF / DSS. SGOT. • Sumsum Tulang Pada awal sakit biasanya hiposelular. . Penyidikan dengan radioisotop membuktikan bahwa penghancuran trombosit terjadinya dalam sistem retikuloendotelial. Termasuk dalam uji ini pengikatan komplemen ( PK ).dengan trombositopenia. Kelainan sistem koagulasi disebabkan di antaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktivitas sistem koagulasi.( Hendarwanto : 420 ) G. Uji tourniquetyang positif merupakan pemeriksaan penting. Pemeriksaan Laboratorium • Darah Pada DHF umumnya dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. SGPT. maka renjatan akan memperberat DIC sehingga perannya akan menonjol. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. • Air Seni Mungkin ditemukan albuminuria ringan. Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia. Uji serulogi memakai serum ganda. V. uji neutralisasi ( NT ) dan uji dengue blot. serta hipokloremia. Masa pembekuan masih dalam batas normal. gangguan fungsi trombosit dan kelainan sistem koagulasi. hiponatremia. Pada analisis kuantitatif ditemukan penurunan faktor II.

suhu dan pernapasan . yaitu : 1. sebaiknya pada kamar yang bebas nyamuk ( berkelambu ). Tirah baring 2. Keadaan umum memburuk 2. Pasien dengan perdarahan yang membahayakan ( hematemesis dan melena ) 2. Hati semakin membesar 3. kecepatan tetesan dikurangi menjadi 10 ml / kg BB / jam. di usahakan pemberian plasma atau ekspander plasma atau dekstran atau preparat hemasel dengan jumlah 15 – 29 ml / kg BB. 3. cairan diberikan dengan diguyur. .5 – 2 liter dalam 24 jam ( susu. menunjukkan penurunan kadar Hb dan Ht. Hematokrit meninggi pada pemeriksan berkala Dalam hal ini ditemukan tanda – tanda dini tersebut. Antipiretik sebaiknya dari golongan asiminofen. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. I. Terapi untuk DSS bertujuan utama untuk mengembalikan volume cairan intravaskuler dengan pemberian segera cairan intravena. Jumlah cairan dan kecepatan pemberian cairan disesuaikan dengan perkembangan klinis. Dalam hal ini perlu diperhatikan keadaan asidosis yang harus dikoreksi dengan Na – bikarbonas. Penatalaksanaan pada DHF ialah : 1. Observasi meliputi pemeriksaan tiap jam terhadap keadaan umum.2. dan bila tak tampak perbaikan. Pada uji ini yang dicari ada tidaknya atau titer tertentu antibodi antidengue. air gula atau sirop ) atau air tawar ditambah dengan garam saja. dan inguinal. infus harus disiapkan dan terpasang pada pasien. Penatalaksanaan Setiap pasien tersangka DHF sebaiknya dirawat di tempat terpisah dengan pasien penyakit lain. Jenis cairan dapat berupa NaCl faali. Pada kasus dengan renjatan berat.ketiak. 1. pemberian cairan intravena baik dalam bentuk elektrolit maupun plasma dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. 4. Pada umumnya untuk menjaga keseimbangan volume intravaskuler. selanjutnya setiap 24 jam. Termasuk dalam golongan ini adalah uji dengue blot yang mengukur antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya . Antibiotik diberikan apabila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. uji IgM antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas IgM. eukinin atau dipiron. Pasien DSS yang pada pemeriksaan berkala. tekanan darah. Hindari pemakaian asetosal karena bahaya perdarahan. serta Hb dan Ht setiap 4 – 6 jam pada hari – hari pertama pengamatan. Pasien DHF perlu diobservasi telititerhadap penemuan dini tanda renjatan. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es di kepala. Makanan lunak Bila belum ada nafsu makan dianjurkan untuk minum banyak 1. Uji serulogi memakai serum tunggal. laktat Ringer atau bila terdapat renjatan yang berat dapat dipakai plasma atau ekspander plasma. Masa perdarahan memanjang karena trombositopenia 4. dan bila renjatan telah diatasi. Kecepatan tetesan permulaan ialah 20 ml / kg BB. nadi.

Gangguan aktivitas sehari – hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang . KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN a. dan demam. muntah. Data Penunjang * Hematokrit * Trombositopenia * Masa perdarahan memanjang DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. persendian. 3. muntah. dapat disertai tanda kesakitan • Nadi cepat • Selaput mukosa mulut kering • Ruam dikulit lengan dan kaki • Epistaksis • Nyeri tekan pada epigastrik • Hematomesis • Melena • Gusi berdarah • Hipotensi c. Pada pasien dengan renjatan yang lama ( prolonget shock ). DIC diperkirakan merupakan penyebab utama perdarahan. punggung dan kepala • Haus b.7 hari • Kulit terasa panas • Wajah tampak merah . Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peninhkatan permeabilitas kapiler. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Data Obyektif • Suhu tinggi selama 2 . Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak 5. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit 6. Bila dengan pemeriksaan hematemesis terbukti adanya DIC. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus 4. Data Subyektif • Panas • Lemah • Nyeri ulu hati • Mual dan tidak nafsu makan • Sakit menelan • Pegal seluruh tubuh • Nyeri otot. tidak ada nafsu makan. 2. heparin perlu diberikan. perdarahan.Pemberian kortikolsteroid dilakukan setelah terbukti tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara terapi tanpa atau dengan kortikosteroid.

Observasi tanda – tanda vital setiap 2 – 3 jam 3. Anjurkan anak untuk banyak minum 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. nafsu makan membaik Intervensi : 1. Perhatikan tanda – tanda syok 4.lemah INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Libatkan keluarga dan ajarilah cara melakukan kompres yang benar serta evaluasi perubahan suhu . mual 2. Monitor adanya perubahan berat badan. Kaji perubahan produksi urine ( produksi urine < 25 ml / jam atau 600 ml / hari ) 2. perdarahan. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi Kriteria hasil : tidak adanya tanda – tanda kekurangan nutrisi. tidak ada nafsu makan. Berikan alternatif nutrisi yang dapat meningkatkan kadar trombosit 3. Berikan kompres dingin 3. Gunakan pakaian yang tipis untuk membantu penguapan 4. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam suhu tubuh kembali normal Kriteria hasil : suhu tubuh normal. muntah. Berikan obat anti emesis sesuai dengan program / ketentuan bila perlu 5. muntah. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peninhkatan permeabilitas kapiler. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam volume cairan tubuh terpenuhi Kriteria Hasil : kebutuhan cairan pasien terpenuhi Intervensi : 1. Monitor tanda – tanda vital pasien 2. Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan 5. pasien tidak demam Intervensi : 1. Berikan porsi makanan sedikit tapi sering hingga terpenuhi jumlah asupannya 4. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur dan hidangkan dalam keadaan hangat 3. muntah. dan demam. Monitor keadaan umum pasien 2. Berikan cairan intravena dan pertahankan tetesan sesuai dengan ketentuan 5.

4. Berikan kesempatan pada pasien untuk berkomunikasi dengan teman – temannya 5. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam rasa nyeri berkurang Kriteria hasil : rasa nyaman terpenuhi. Gangguan aktivitas sehari – hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam aktivitas pasien tidak terganggu Kriteria hasil : aktivitas pasien membaik. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keluarga mengerti tentang kondisi anak Kriteria hasil : keadaan keluarga baik. alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri ( libatkan keluarga ) 4. Tanyakan kepada keluarga apa yang dapat dilalakukan untuk membuat anak / keluarga menjadi lebih baik 5. dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga 3. nyeri berkurang atau hilang Intervensi : 1. Memenuhi kebutuhan dasar anak : jika anak sangat bergantung dalam melakukan aktivitas sehari – hari 5. tidak ada cemas dalam keluarga Intervensi : 1. Mengkaji persepsi dan perasaan orang tua atau anggota keluarga terhadap kondisi yang penih stres 2. Berikan obat – obatan analgetik ( kolaborasi dengan dokter ) 6. Ijinkan orang tua dan keluarga memberikan respon secara panjang lebar. libatkan juga keluarga 2. Berikan posisi yang nyaman dan usahakan situasi yang tenang 3. Identifikasi koping yang biasa digunakan keluarga dan seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan 4. pasien dapat beraktivitas kembali dengan baik Intervensi : 1. Kajilah tingkat nyeri yang dialami pasien ( PQRST ) 2. Berikan suasana yang gembira pada pasien. Berikan penjelasan mengenai hal – hal yang dapat membantu dan . Bantulah pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari – hari.

Siapkan bet didekat pasieN LP+ASKEP DHF BAB I PENDAHULUAN A. 2002). . hal ini di karenakan bahwa propinsi jawa tengah termasuk daerah iklim tropis dan juga di sebabkan karena area lingkungannya kotor yaitu aliran airnya menggenang tidak bisa mengalir sehingga sangat potensial untuk daur hidup vector aides aigepty ( Dinkes RI. sedangkan pada anak – anak balita daya tahan tubuhnya belum sempurna sehingga sangat resiko tinggi terkena penyakit DHF ( FKUI. Berdasarkan dinas kesehatan Indonesia bahwa angka kejadian penyakit DHF sangat besar yaitu 53000.meningkatkan kekuatan fisik pasien 3. Latar Belakang Penyakit Dengue Hemoragic Fever ( DHF ) merupakan penyakit yang di sebabkan oleh virus dengue yang di tularkan melalui gigitan vektor aides aigepty. Berdasarkan Dinas kesehatan propinsi Jawa Tengah (2005) angka kejadian penyakit DHF adalah 5000 balita. 2000). Dari jumlah data tersebut paling banyak di daerah jawa. 2005). hal ini di sebabkan karena penyakit DHF ini merupakan penyakit virus yang pada dasarnya belum bisa di sembuhkan tapi hanya bisa di lemahkan dan menyerang pada sistem kekebalan tubuh. Penyakit DHF ini sering di alami oleh semua umur pada masyarakat terutama pada anak – anak balita. Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2002 dari sejumlah negara melaporkan bahwa angka kejadian ( prevalensi ) penyakit DHF paling banyak di derita di negara tropis termasuk di Indonesia (WHO. Dari data tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit DHF sangat besar.

3. . B. 2. Untuk meningkatkan kemampuan mengobservasi perawat terhadap pengelolaan terhadap penyakit DHF. Tujuan 1. Untuk meningkatkan kemampuan asuhan keperawatan terhadap penyakit DHF. Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap penyakit DHF.

Pengertian Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah suatu penyakit infeksi akut yang di sebabkan oleh virus. Virus dengue serotipe 1. III. II. melena) (DIC) : Gagal sirkulasi yang berat pasien mengalami syok berat tensi nadi tak teraba. 2003) Klasifikasi DHF berdasarkan kriteria menurut WHO yaitu : ngan) : Demam mendadak dan sampai 7 hari di sertai dengan adanya gejala yang tidak khas dan uji turniquet (+). Etiologi Demam berdarah merupakan suatu penyakit demam berat yang di sebabkan oleh virus sekurang – kurangnya ada 4 tipe virus dengue yang berbeda yaitu tipe I. pendarahan berat ) : Adanya gagal sirkulasi di tandai dengan laju cepat lembut kulit dngin gelisah tensi menurun manifestasi pendarahan lebih berat( epistaksis. B. BAB II KONSEP PENYAKIT A.3 dan 4 di tularkan melalui perantara nyamuk aides aigepty dan aides albopiktuc ( Whalley dan Wong. C. sedang ) : Lebih berat dari derajat I oleh karena di temukan pendarahan spontan pada kulit misal di temukan adanya petekie. IV.2. yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty (Whalley dan Wong. ekimosis. Patofsiologi . 2003).

nyeri otot. sering disertai menggigil . Perubahan vaskuler 2. hemokonsentrasi dan hipoprotinemia serta efusi dan renjatan ( syok) Jika renjatan ( syok) hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoreksia jaringan metabolik asidosis dan kematian apabila tidak di atasi dengan segera. Pendarahan lain seperti : epitaksis.15 hari. terjadinya hipotensi. Hiperemi tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi. hematemesis. hematuri. Pendarahan pada kulit ( petekie. Manifestasi klinis Manifestasi klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi 13 . seperti pembesaran kelenjar getah bening. pegal pegal seluruh tubuh ruam atau bintik – bintik merah ( petekie ). sakit kepala. Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma. saat pasien komposmetis. 1995). pembesaran hati dan pembesaran limpa (Price. Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui pembuluh darah ( viremia) sehingga tubuh membentuk antigen antibody. pendarahan yang terjadi dapat berupa: 1. Penderita biasanya mengalami demam akut. ekimosis ) 2. Gangguan koagulasi D. mual. Gangguan hemostatis pada DHF menyangkut tiga faktor yaitu : 1. Trombositopenia 3. sehingga dapat meningkatkan permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya trombosit plasma keruang eksra seluler Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh penderita adalah pirexia yang mengakibatkan penderita mengalami demam. melena . Gejala klinis yang timbul dan sangat menonjol adalah terjadinya pendarahan pada saat demam.

Ig. Hemokonsentrasi ( hematokrit meningkat) e. nadi cepat dan lemah (FKUI. Hemoglobin meningkat d. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia. aneosinophilia. hiponatremia dan hipokalemia Pada hari kedua dan ketiga terjadi lekopenia. pembengkakan sekitar mata lakrimasi otot.otot sekitar mata sakit bila di sentuh. Trombositopenia c.G dengue positif b. kemerahan pada muka. Pada penderita yang menalami renjatan akan mengalami sianosis perifer ( terutama tampak pada ujung ujung jari dan bibir ) kulit terasa lembab dan dingin. Keluhan system tubuh yang lain seperti : nyeri atau sakit kepala. kemerahan pada kulit. gejala klinis bisa dijumpai pada penderita DHF adaslah 1. E. Pemeriksaan penunjang 1. Keluhan pada saluran pernafasan seperti : pilek dan sakit waktu menelan 2. dan pergerakan pada bola mata terasa pegal Pada penderia DHF sering juga di jumpai pembesaran hati dan limpa dan kelenjar getah bening yang akan kembali normal pada masa penyembuhan. mual muntah tidak nafsu makan. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai a. Selain demam dan pendarahan . Keluhan pada saluran pencernaan seperti . tekanan darah menurun. peningkatan limposit. monosit dan basofil . 2000). diare atau konstipasi 3. pegal – pegal pada seluruh tubuh. nyeri pada otot abdomen. netropenia.

SGOT atau SGPT darah mungkin meningkat b. Pada pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis metabolik: PCO 2 < 35 – 40 mm Hg. Pemeriksaan sianosis yang menunjang antara lain foto thorak mungkin di jumpai pleural effusion. HCO3 rendah 2. Pemeriksaan serologi Pada pemeriksaan ini di lakukan pengukuran literantibodi pasien dengan cara haemaglutination nibitron test (HIT test) atau dengan uji peningkatan komplemen pada pemeriksaan serologi di butuhkan dua bahan pemeriksaan yaitu pada masa akut atau demam dan masa penyembuhan ( 104 minggu setelah awal gejala penyakit ) untuk pemeriksaan serologi ini di ambil darah vena 2 – 5 ml 3. Waktu pendarahan memanjang d.a. Ureum dan Ph darah mungkin meningkat c. pemeriksaan USG hepatomegali dan splenomegali KONSEP KEBUTUHAN DASAR CAIRAN DAN ELEKTROLIT .

Keseimbangan ini di atur oleh banyak mekanisme fisiologis yg terdapat dalam tubuh sehubungan dengan keseimbangan cairan dan elektrolit perlu diketahui (Guyton. A. Cairan tubuh Prosentase yang besar dari BB terdiri dari air yg mengandung partikel – partikel bahan organis dan anorganis yang vital untuk hidup. Pengertian Cairan adalah larutan yang terdiri dari air dan zat yang terlarut (Tarwoto dan Wartonah. 2003). Karena cairan dan elektrolit yg menciptakan cairan lingkungan intra seluler dan extra seluler bagi semua sel dan jaringan dalam tubuh maka keseimbangan cairan dan elektrolit dapat terjadi pada semua golongan penyakit. Review Anatomi dan Fisiologi Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Ganguan cairan dan elektrolit di hubungkan baik dengan penyakit sistemik mayor maupun minor. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya. 1) Aspek fisiolagis a. B. Dalam tubuh faal sel tergantung pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Jumlah air dalam tubuh harus di pertahankan dalam batas-batas tertentu untuk berlangsungnya metabolisme tubuh dengan baik b. 2000). Komposisi cairan . Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. minuman dan cairan intravena dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh keseimbangan cairan elektrolit berarti adanya distribusi yg normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. jika salah satu terganggu maka demikian pula yang lainnya.

kelainan ginjal dan jantung. C. Jumlah cairan dan elektrolit e. f. Stres Stres dapat meningkatkan peningkatan metabolisme sel. Sakit Keadaan pembedahan. 5. gangguan hormon akan menggangu keseimbangan cairan (Tarwoto dan Wartonah.c. trauma. 2. Temperatur Lingkungan Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat sehingga dapat kehilangan cairan dan elektrolit NaCl 3. Cara memperthankan PH cairan tubuh. Homeostabis tubuh seseorang berusaha mempertahankan susunannya dalam batas-batas normal. Usia Variasi usia berkaitan dengan luias permukaan tubuh metabolisme. Faktor – faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit 1. konsentrasi darah dan glikolisis otot. . Diet Pada saat kekurangan nutrisi. tubuh memecah cadangan energi proses ini akan menimbulkan pergerakan cairan dari intersisial ke ekxtra vaskuler 4. Kandungan normal elektrolit d. 2003).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN DASAR CAIRAN DAN ELEKTROLIT A. Pengkajian 1. pola nutrisi dan metabolic 1. makanan yang di sukai b. eliminasi urine 3. pengukuran masukan cairan d. keluhan utama b. keadaan umum c. riwayat penyakit sekarang c. pola makan 2. Riwayat kesehatan a. ukur keseimbangan cairan 4. Pengukuran klinik a. Pola kesehatan fungsional a. pola elimnasi 1. riwayat penyakit dahulu 2. Pemeriksaan fisik . pengukuran keluaran cairan e. berat badan b. keadaan sakit terhadap pola makan dan minum 3. eliminasi feses 2.

kardiovaskuler c. urine dan feses c. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan darah. gastrointestinal 5. intake dan out put cairan b. Intervensi dan rasional 1. hemotakrit dan hemoglobin g. Setatus mental h. Ukur dan catat setiap 4 jam a. B. neurology e. elektrolit. BJ urin. Diagnosa keperawatan Devisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kekurangan cairan atau dehidrasi C. warna muntahan. integumen b. mata d. tanda vital e. CVP f. Berikan makanan dan cairan . Berat badan Rasional : menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan 2. Elektrolit. dan AGD. monitor turgor kulit d.a. BUN.

intake dan output cairan c. Berikan support verbal dalam pemberian cairan Rasional : meningkatkan konsumsi yang lebih 5. Berikan pengobatan seperti anti muntah Rasional :menurunkan pergerakan usus dan muntah 4. tanda dan gejala dehidrasi b. Lakukan kebersihan mulut sebelum makan Rasional : meningkatkan nafsu makan 6. 2003) BAB III RESUME KASUS A. Rasional : memenuhi kebutuhan makan dan minum 3. Berikan pendidikan kesehatan tentang: a. PENGKAJIAN 1. Data personal tanggal pengkajian : 11 Juli 2006 . Ubah posisi pasien setiap 4 jam Rasional : meningkatkan sirkulasi 7. therapi Rasional : meningkatkan inforamasi dan kerja sama (Tarwoto dan Wartonah.

sayur. panas 3). pasien muntah 5 kali sehari c. keluhan utama 1). mual. makan 3 kali sehari. mutah 2). jenis makana yang biasa di makan : a). nafsu makan menurun b. pada saat sakit pasien mengalami pengurangan nafsu makan. riwayat penyakit dahulu 3. rewel dan mual muntah . pola nutrisi dan metabolic 1. pola kesehatan fungsional a. riwayat penyakit sekarang 1). Riwayat kesehatan a. nasi. lauk pauk b). setengah porsi 2. 5 hari yang lalu pasien panas dengan suhu 38 o C dan panasnya tidak turun – turun 2).nama pasien : An D tanggal lahir / umur : 5 tahun alamat : Purwosari barat RT 02 / 2 agama : Islam suku / bangsa : Indonesia diagnosa medis : DHF 2. gelisah 4).

pemeriksaan fisik a. anak sulit untuk minum karena efek hospitalisasi dan pasien terpasang infus 16 tetes / menit b. integumen : turgor kulit jelek b. pola eliminasi 1.7 c. berat badan : 15 Kg b. kardiovaskuler : TD 90 / 60 Hb :10. pengukuran klinik a. tingkat kesadaran : comphos methis d. keadaan umum TTV : S : 36 TD : 90/60 N : 96 X / menit RR : 32 X /menit c. pasien BAB 1x sehari dengan konsistensi lembek. warna kuning 2. pasien BAB 4-6 x sehari dengan warna kuning pucat. mata : cekung . pengukuran keluaran urine : 4 – 5 kali sehari feses : 1 kali sehari muntah : 5 kali sehari berkeringat 5. 4. 3.

mukosa kering B.7 Ht : 31. DIAGNOSA KEPERAWATAN .270 Trombosit : 83000 (N :200000 – 500000 cm) Analisis data DS : Pasien mengeluh mual muntah. pemeriksaan penunjang pemeriksaan darah : Hb : 10. mata cekung. neurology :compos metis. TD 90/60 DO : Pasien tampak gelisah.2 Leukosit : 7.000. tidak bisa minum. DS : Pasien mengeluh lemah dan lemas DS : Pasien mengatakan bahwa kepalanya terasa pusing DO : TTV : suhu 380 C. gastrointestinal o keadaan mukosa mulut kering o muntah – muntah 6. .d. kurang aktif e. RR : 32 x/mnt TD 90/60 DO : Trombosit nya 83. Nadi : 96x/menit.

Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh C. Berikan makanan dan cairan 3. Berikan pengobatan anti muntah 4. INTERVENSI 1. Berikan support verbal dalam pemberian cairan 5. urine dan feses Monitor turgor kulit Tanda vital CVP Elektrolit. 1. BUN. hematokrit dan hemoglobin Status mental Berat badan 2. Ubah posisi pasien setiap 4 jam 7. Ukur dan catat setiap 4 jam Intake dan output cairan Warna muntahan. Resiko Perdarahan berhubungan dengan trombositopeni 3. Lakukan kebersihan mulut sebelum makan 6. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat dan out put yang berlebihan 2. Berikan pendidikan kesehatan tentang  tanda dan gejala dehidrasi  intake dan out put cairan  therapy .

8. Kolaborasi : berikan Infus RL BAB IV .

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengaplikasikan ilmu keperawatan yang diperoleh selama mengikuti pendidikan S1 keperawatan khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan klien DHF di ruang melati RSUD Tugu rejo Semarang dengan secara langsung dengan mengidentifikasi permasalahan. PEMBAHASAN Pada bab IV ini akan di bahas perbandingan antara teori yang terdapat dalam tinjauan pustaka dengan kenyataan yang di jumpai di lapangan. tim kesehatan lain yang mengetahui keadaan pasien serta . diagnosa. Pengkajian yang di peroleh dari wawancara bisa dengan perawat ruangan. Untuk mempermudah dalam pembahasan ini di bagi menjadi 5 tahap yaitu pengkajian. membuat perencanaan untuk mengatasi masalah. Dari perbandingan antara teori dan kenyataan yang dapat di ketahui kesenjangan yang ada. hambatan dan kendala yang ada.pada saat pemberian asuhan keperawatan penyakit DHF pada anak D di ruang Melati RSUD Tugu Rejo Semarang.dan adanya perdarahan seperti epistaksis dan hematemesis. 1. Pengkajian pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data kemudian di analisis sehingga dapat di ketahui masalah atau kebutuhan perawatan pasien baik secara bio-psiko-sosial-kultur dan spiritual. melaksanakan perencanaan tersebut untuk mengatasi masalah yang ada. dokter. Proses keperawatan adalah suatu tindakan yang berurutan yang dilakukan secara sistematis untuk menetukan masalah pasien. pelaksanaan dan evaluasi yang masing – masing tahap saling berkesinambungan. adanya Petekcy. perencanaan. kemusian di tentukan cara penyelasaiannya. keluarga pasien. Dalam tinjuan teoritis di nyatakan bahwa indikasi penyakit DHF adalah demam berkepanjangan di sertai gigilan. Data di peroleh langsung dari pasien melalui wawancara atau anamnesadan observasi langsung terhadap pasien.

dari catatan medis. sedangkan pada teori perencanaan terdiri dari prioritas masalah. Dalam pengkajian pada anak D penulis menemukan masalah yaitu dalam melakukan pengkajian tidak di kaji pada seluruh aspek yaitu bio-psiko-sosial- spiritual dan kultural sehingga kebutuhan pada anak D tidak terpenuhi sehingga sangat merugikan pada anak D tersebut. Dalam menentukan prioritas masalah di susun berdasarkan konsep Gordon. Perencanaan Asuhan keperawatan pasien pada anak DHF tidak sesuai dengan perencanaan yang terdapat dalam teori karena hanya terdiri dari masalah yang ada dan intervensinya. 4. 2. Penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan diagnosa yang muncul satu sama lain yang saling berkesinambungan. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik. tujuan. Menurut Gordon dalam menentukan priritas masalah harus berdasarkan 11 kebutuhan dasar kebutuhan dasar manusia. Implementasi . Pengkajian pada pasien DHF pada anak D di lakukan hanya pada salah satu aspek saja yaitu hanya pada aspek biologis sedangkan pada aspek yang lain tidak dilakukan pengkajian pada anak Dhanya disertai oleh pemeriksaan fisik yangberupa TTV dan pemeriksaan penunjang yang berasal dari laboratorium. Diagnosa Dari pengkajian pada anak D di peroleh data fokus kemudian di analisis penulis dan di rumuskan dalam diagnosa keperawatan. Tahap akhir dari tahap perencanaan adalah menentukan rencana tindakan keperawatan yang di sesuaikan dengan kondisi pasien. catatan keperawatan. 3. Pada anak D dengan penyakitDHF di dapatkan diagnosa keperawatan aktual yaitu defisit volume cairan dan elektrolit. sarana dan prasarana dan peraturan rumah sakit. rencana tindakan keperawatan yang di susun harus sesuai dengan teori yang ada. kriteria hasil dan intervensi.

misalnya perawat tidak melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan sehingga pasien mempunyai resiko tinggi infeksi. 5. tapi ada salah satu tahap – tahap dalam prosedur tidak di laksanakan. Pada dasarnya rencana keperawatan yang dilaksanakan sudah mendekati dengan prosedur yang ada pada teori. Pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah di susun kemudian di laksanakan sesuai dengan tahap – tahap yang ada di teori. Dalam mengevaluasi di bagi dalam dua tahap yaitu evaluasi proses yang merupakan respon langsung pasien dan evaluasi hasil yang di lakukan sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan dalam perencanaan keperawatan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan harus bekerja sama dengan perawat ruangan. pasien. Pada dasarnya rencana tindakan keperawatan yang di laksanakan hanya tertuju pada diagnosa aktual saja sehingga diagnosa – diagnosa yang lain yang mempunyai resiko tinggi tidak di laksanakan sehingga pasien mempunyai resiko tinggi terjadinya komplikasi. Pada dasarnya diagnosa keperawatan yang di tulis pada anak D di ruang melati hanya terdiri dari satu diagnosa aktual saja yaitu devisitvolume cairan dan elektrolit. . Evaluasi Evaluasi merupakan langkah akhirdari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak. hal ini di karenakan bahwa perawat mencari kepraktisannya dan mudah untuk di laksanakan tapi tindakan tersaebut sangat merugikan pasien. sedangkan diagnosa – diagnosa yang lain ( potensial atau resiko tinggi ) tidak di tulis sehngga penangan permasalahan pada anak D tidak bisa teratasi semua sehingga merugikan anak D dan cenderung untuk terjadinya komplikasi. dan keluarga pasien.

Kesimpulan 1. DHF adalah penyakit nfeksi akut yang di sebabkan oleh virus. asuhan keperawatan hanya di isi jika perawat memiliki weaktu luanmg saja sehingga dalam hal ini kebutuhan dasar pasien tidak terpenuhi semua sehingga sangat merugikan pasien B. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Saran . yang di tularkan melalui gigitan vektor aides aigepti 2. asuhan keperawatan yang di laksanakan di ruang melati RSUD Tugu Rejo semarang tidak di lakukan dengan sungguh – sungguh.

namun kenyataanya asuhan keperawatan di ruang melat tidak di laksanakan dsehingga sangat merugikan pasien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Untuk itu kami menyarankan asuhan keperawatan di seluruh ruangan RSUD tgurejo semarang khususnya di ruang melati di laksanakan dengan sungguh – sungguh tidak hanya di isi sembarangan saja. Dalam hal ini untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar yang sesuai di inginkan pasieN . Bahwa asuhan keperawatan sangat penting untuk di lakukan daslam memenuhi kebutuhan pasien.