You are on page 1of 49

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA


BAKAR (COMBUSTIO) DI RUANG BURN UNIT
RSUP SANGLAH DENPASAR BALI

disusun guna memenuhi tugas pada Program Profesi Ners (P2N)


Stase Keperawatan Gadar dan Kritis

Oleh:
Fakhrun Nisa Fiddaroini, S.Kep.
NIM 122311101064

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada klien dengan Luka Bakar


(Combustio) di Ruang Burn Unit RSUP Sanglah Denpasar Bali telah disetujui dan
disahkan pada:
Hari, tanggal : April 2017
Tempat: Ruang Burn Unit RSUP Sanglah Denpasar, Bali

Denpasar, April 2017

Mahasiswa

(................................................)
NIM
Mengetahui,

Kepala Ruang/ CI Pembimbing Akademik ,


Ruang ICCU RSUP Sanglah PSIK Universitas Jember

(...........................................................) (........................................................)
NIP. NIP
LAPORAN PENDAHULUAN: LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

A. Konsep Dasar Sistem Integumen


1. Anatomi Fisiologi Sistem Integuman
Kulit adalah organ yang terletak paling luar dan
membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang
dewasa sekitar 2 m2 dengan berat kira-kira 16% berat badan.
Kulit merupakan organ yang esensial, vital dan merupakan
cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks,
elastis dan sensitive, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis
kelamin, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh (Tortora &
Derrickson, 2009). Kulit mempunyai berbagai fungsi seperti
sebagai perlindung, pengantar raba, penyerap, indera perasa,
dan fungsi pergetahan (Setiabudi, 2008).
Warna kulit berbeda-beda, dari kulit yang berwarna terang,
pirang dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan
tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang
dewasa (Djuanda, 2003). Demikian pula kulit bervariasi
mengenai lembut, tipis dan tebalnya. Kulit yang elastis dan
longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium, kulit yang
tebal dan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan dewasa.
Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang berambut kasar
terdapat pada kepala (Djuanda, 2003). Pembagian kulit secara
garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu lapisan
epidermis atau kutikel, lapisan dermis, dan lapisan subkutis.
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis,
subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan
adanya sel dan jaringan lemak (Tortora & Derrickson, 2009).
1. Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum
basale.
a) Stratum korneum: lapisan kulit yang paling luar dan terdiri
atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak
berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin
(zat tanduk).
b) Stratum lusidum: terdapat langsung di bawah lapisan
korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti
dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang
disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di
telapak tangan dan kaki (Djuanda, 2003).
c) Stratum granulosum: merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel
gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti
di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin.
d) Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang
berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena
adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena
banyak mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-
tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin
gepeng bentuknya. Di antara sel-sel stratum spinosun
terdapat jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas
protoplasma dan tonofibril atau keratin. Pelekatan antar
jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil
yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spinosum
terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum
mengandung banyak glikogen (Djuanda, 2003).
e) Stratum germinativum: terdiri atas sel-sel berbentuk kubus
yang tersusun vertical pada perbatasan dermo-epidermal
berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini
mrngalami mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini
terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang berbentuk
kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan
besar, dihubungkan satu dengan lain oleh jembatang antar
sel, dan sel pembentuk melanin atau clear cell yang
merupakan sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma
basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen
(melanosomes) (Djuanda, 2003).
2. Lapisan Dermis
Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah
lapisan dermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan
ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemen-
elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi
menjadi 2 bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang menonjol
ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah,
dan pars retikulare yaitu bagian bawahnya yang menonjol kearah
subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini
terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, di
bagian ini terdapat pula fibroblast, membentuk ikatan yang
mengandung hidrksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda
bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut
sehingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut
elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah
mengembang serta lebih elastis (Djuanda, 2003).
3. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas
jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel
lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke
pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel ini
membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain
oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut
panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di
lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan
getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama
bergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai
ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis sangat
sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan (Djuanda,
2003). Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus
yang terletak di bagian atas dermis (pleksus superficial) dan
yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di
dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis,
pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan
anastomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih
besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran
getah bening (Djuanda, 2003).
4. Adneksa Kulit
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan
kuku. Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas
kelenjar keringat dan kelenjar palit. Ada 2 macam kelenjar
keringat, yaitu kelenjar ekrin yang kecil-kecil, terletak dangkal di
dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin yang
lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental
(Djuanda, 2003).
Kelenjar enkrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu
kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kehamilan. Saluran
kelenjar ini berbentuk spiral dan bermuara langsung di
permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan
terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksila. Sekresi
bergantung pada beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf
kolinergik, faktor panas, dan emosional (Djuanda, 2003). Kelenjar
apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila,
areola mame, pubis, labia minora, dan saluran telinga luar.
Fungsi apokrin pada manusia belum jelas, pada waktu lahir kecil,
tetapi pada pubertas mulai besar dan mengeluarkan sekret.
Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa,
biasanya pH sekitar 4-6,8 (Djuanda, 2003). Kelenjar palit
terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak
tangan dan kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin
karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini berasala dari
dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat di
samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar
rambut (folikel rambut). Sebum mengandungi trigliserida, asam
lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi
dipengaruhi hormone androgen, pada anak-anak jumlah kelenjar
palit sedikit, pada pubertas menjadi lebih besar dan banyak serta
mulai berfungsi secara aktif (Djuanda, 2003).
Kuku, adalah bagian terminal stratum korneum yang
menebal. Bagian kuku yang terbenam dalam kulit jari disebut
akar kuku, bagian yang terbuka di atas dasar jaringan lunak kulit
pada ujung jari dikenali sebagai badan kuku, dan yang paling
ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku tumbuh dari akar
kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm per
minggu. Sisi kuku agak mencekung membentuk alur kuku. Kulit
tipis yang yang menutupi kuku di bagian proksimal disebut
eponikium sedang kulit yang ditutupki bagian kuku bebas disebut
hiponikium (Djuanda, 2003).
Rambut, terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit dan
bagian yang berada di luar kulit. Ada 2 macam tipe rambut, yaitu
lanugo yang merupakan rambut halus, tidak mengandung
pigmen dan terdapat pada sbayi, dan rambut terminal yaitu
rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai
medula, dan terdapat pada orang dewasa. Pada orang dewasa
selain rambut di kepala, juga terdapat bulu mata, rambut ketiak,
rambut kemaluan, kumis, dan janggut yang pertumbuhannya
dipengaruhi hormone androgen. Rambut halus di dahi dan badan
lain disebut rambut velus. Rambut tumbuh secara siklik, fase
anagen berlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh kira-
kira 0.35 mm per hari. Fase telogen berlangsung beberapa bulan.
Di antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen. Komposisi
rambut terdiri atas karbon 50,60%, hydrogen 6,36%,, nitrogen
17,14%, sulfur 5% dan oksigen 20,80% (Djuanda, 2003).

Gb. 1 Anatomi kulit

2. Vaskularisasi Kulit
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara
lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan
subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis,
tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada
epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis
melalui membran epidermis
3. Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh
diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan,
sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan
metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari
elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi
mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi
kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada
daerah bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan
keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus.
Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat, insessible
loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan
dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi
vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur
dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat
meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh
darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas.

4. Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka adalah suatu bentuk proses usaha untuk memperbaiki
kerusakan yang terjadi. Komponen utama dalam proses penyembuhan luka adalah
kolagen disamping sel epitel. Fibroblas adalah sel yang bertanggung jawab untuk
sintesis kolagen. Fisiologi penyembuhan luka secara alami akan mengalami fase-
fase seperti dibawah ini :
a. Fase inflamasi
Fase ini dimulai sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Segera setelah
terjadinya luka, pembuluh darah yang putus mengalami konstriksi dan retraksi
disertai reaksi hemostasis karena agregasi trombosit yang bersama jala fibrin
membekukan darah. Komponen hemostasis ini akan melepaskan dan
mengaktifkan sitokin yang meliputi Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like
Growth Factor (IGF), Plateled-derived Growth Factor (PDGF) dan Transforming
Growth Factor beta (TGF-) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis netrofil,
makrofag, mast sel, sel endotelial dan fibroblas. Keadaan ini disebut fase
inflamasi. Pada fase ini kemudian terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit
Polymorphonuclear (PMN). Agregat trombosit akan mengeluarkan mediator
inflamasi Transforming Growth Factor beta 1 (TGF -1) yang juga dikeluarkan
oleh makrofag. Adanya TGF 1 akan mengaktivasi fibroblas untuk mensintesis
kolagen.
b. Fase proliferasi atau fibroplasi
Fase ini disebut fibroplasi karena pada masa ini fibroblas sangat menonjol
perannya. Fibroblas mengalami proliferasi dan mensintesis kolagen. Serat kolagen
yang terbentuk menyebabkan adanya kekuatan untuk bertautnya tepi luka. Pada
fase ini mulai terjadi granulasi, kontraksi luka dan epitelialisasi
c. Fase remodeling atau maturasi
Fase ini merupakan fase yang terakhir dan terpanjang pada proses
penyembuhan luka. Terjadi proses yang dinamis berupa remodelling kolagen,
kontraksi luka dan pematangan parut. Aktivitas sintesis dan degradasi kolagen
berada dalam keseimbangan. Fase ini berlangsung mulai 3 minggu sampai 2 tahun
. Akhir dari penyembuhan ini didapatkan parut luka yang matang yang
mempunyai kekuatan 80% dari kulit normal Tiga fase tersebut diatas berjalan
normal selama tidak ada gangguan baik faktor luar maupun dalam.

5. Jenis-jenis Luka
Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara
mendapatkan luka itu dan menunjukan derajat luka
(Taylor,1997):
a. Luka bersih: luka yang tidak terdapat inflamasi dan infeksi,
yang merupakan luka sayat elektif dan steril dimana luka
tersebut berpotensi untuk terinfeksi. Luka tidak ada kontak
dengan orofaring,traktus respiratorius maupun traktus
genitourinarius. Dengan demikian kondisi luka tetap dalam
Universitas Universitas Sumatera Sumatera Utara keadaan
bersih. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% - 5%.
b. Luka bersih terkontaminasi: luka pembedahan dimana
saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran
perkemihan dalam kondisi terkontrol. Proses penyembuhan
luka akan lebih lama namun luka tidak menunjukkan tanda
infeksi. Kemungkinan timbulnya infeksi luka sekitar 3% - 11%.
c. Luka terkontaminasi: luka yang berpotensi terinfeksi spillage
saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran kemih.
Luka menunjukan tanda infeksi. Luka ini dapat ditemukan
pada luka terbuka karena trauma atau kecelakaan (luka
laserasi), fraktur terbuka maupun luka penetrasi.
Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%.
d. Luka kotor: luka lama, luka kecelakaan yang mengandung
jaringan mati dan luka dengan tanda infeksi seperti cairan
purulen. Luka ini bisa sebagai akibat pembedahan yang
sangat terkontaminasi. Bentuk luka seperti perforasi visera,
abses dan trauma lama.

B. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Luka bakar/ combustio merupakan kerusakan kulit yang dapat disertai
dengan kerusakan jaringan dibawahnya yang dapat terjadi karena kontak
langsung dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, maupun arus
listrik (Grace & Borley, 2006). Luka bakar adalah suatu bentuk
kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak
dengan sumber yang memiliki suhu yang sangat tinggi (misalnya
api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi) atau suhu yang
sangat rendah (Moenadjat, 2009). Luka bakar adalah rusaknya struktur
dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal
maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. (Lazarus, 1994 dalam Potter &
Perry, 2006). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa luka bakar adalah suatu kondisi kerusakan kulit (anatomis maupun
fisiologis) yang disebabkan akibat kontak dengan sumber suhu tinggi.

2. Epidemiologi
Berdasarkan WHO Global Burden Disease, pada tahun 2004
diperkirakan 310.000 orang meninggal akibat luka bakar, dan
30% pasien berusia kurang dari 20 tahun. Luka bakar karena api
merupakan penyebab kematian ke-11 pada anak berusia 1 9
tahun. Anak anak beresiko tinggi terhadap kematian akibat luka
bakar, dengan prevalensi 3,9 kematian per 100.000 populasi.
Luka bakar dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup (WHO,
2008). Di Amerika Serikat, luka bakar menyebabkan 5000
kematian per tahun dan mengakibatkan lebih dari 50.000 pasien
di rawat inap (Kumar et al., 2007). Secara global, 96.000 anak
anak yang berusia di bawah usia 20 tahun mengalami kematian
akibat luka bakar pada tahun 2004.
Frekuensi kematian lebih tinggi sebelas kali di negara
dengan pendapatan rendah dan menengah dibandingkan dengan
negara dengan pendapatan tinggi sebesar 4,3 per 100.000 orang
dan 0,4 per 100.000 orang. Kebanyakan kematian terjadi pada
daerah yang miskin, seperti Afrika, Asia Tenggara, dan daerah
Timur Tengah. Frekuensi kematian terendah terjadi pada daerah
dengan pendapatan tinggi, seperti Eropa dan Pasifik Barat (WHO,
2008). Di Indonesia, prevalensi luka bakar sebesar 0,7%
(RISKESDAS, 2013).

3. Etiologi
Menurut Wong (2003), luka bakar dapat disebabkan oleh
beberapa sumber diantaranya:
a) Panas : basah (air panas, minyak) kering (uap, metal, api)
Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh terpapar atau kontak dengan api,
cairan panas, atau bahan-bahan panas lainnya
b) Kimia : Asam kuat seperti Asam Sulfat, Basa kuat seperti
Natrium Hidroksida
Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan
asam atau basa kuat diantaranya asam hidrokloride atau alkali. Luka bakar
kimia juga dapat terjadi karena kontak dengan zat-zat pembersih yang sering
dipergunakan untuk keperluan rumah tangga seperti pembersih cat dan
desinfekta
c) Listrik : Voltage tinggi, petir
Luka bakar elektrik (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakkan dari
energy listrik yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka
dipengaruhi oleh lamanya kontak, tingginya voltage, dan cara gelombang
elektrik sampai mengenai tubuh
d) Radiasi : termasuk X-ray dan sinar UV
Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe
injury ini seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industry
atau dari sumber radiasi untuk keperluan terapeutik. Terbakar oleh sinar
matahari akibat terpapar terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar
radiasi.

4. Klasifikasi
a) Berdasarkan penyebab
- Luka bakar karena api
- Luka bakar karena air panas
- Luka bakar karena bahan kimia
- Luka bakar karena listrik
- Luka bakar karena radiasi
- Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)
b) Berdasarkan kedalaman jaringan yang rusak
Derajat luka bakar berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan
menurut Moenadjat (2009) adalah sebagai berikut:
1) Luka bakar derajat I: kerusakan jaringan terbatas pada
lapisan epidermis (superficial), kulit kering, hiperemik
memberikan floresensi berupa eritema, tidak dijumpai bulae.
Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-7 hari.
Karena derajat kerusakan yang ditimbulkannya tidak
merupakan masalah klinik yang berarti dalam kajian
terapetik, luka bakar derajat satu tidak dicantumkan dalam
perhitungan luas luka bakar.

Gb 2. Luka bakar grade 1


2) Luka bakar derajat II (partial thickness burn): kerusakan
meliputi seluruh ketebalan epidermis dan sebagian
superfisial dermis. Respon yang timbul berupa reaksi
inflamasi akut disertai proses eksudasi. Nyeri karena ujung-
ujung saraf sensorik teriritasi. Luka bakar derajat II dapat
dibedakan menjadi dua:
- Derajat II dangkal (Superficial partial thickness burn):
kerusakan mengenai epidermis dan sepertiga bagian
superfisial dermis. Dermal-epidermal junction
mengalami kerusakan sehingga terjadi epidermolisis
yang diikuti terbentuknya lepuh (bulae). Lepuh ini
merupakan karakteristik luka bakar derajat II dangkal.
Bila epidermis terlepas, terlihat dasar luka berwarna
kemerahan, kadang pucat-edematus dan eksudatif.
Apendises kulit (integumen, adneksa kulit) seperti folikel
rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
Penyembuhan terjadi secara spontan umumnya
memerlukan waktu antara 10-14 hari.
- Derajat II dalam (Deep partial thickness burn):
kerusakan mengenai hampir seluruh (2/3 bagian
superficial) dermis. Apendises kulit seperti folikel
rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian
masih utuh. Sering dijumpai eskar tipis di permukaan.
Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung apendises
kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan memerlukan
waktu lebih dari dua minggu.

Gb 3. Luka bakar grade 2


3) Luka bakar derajat III (Full thickness burn): Kerusakan
meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih
dalam. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar
keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan. Tidak
dijumpai bulae. Kulit yang terbakar berwarna pucat atau
lebih putih. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan
dermis yang dikenal sebagai eskar. Secara teoritis tidak
dijumpai rasa nyeri bahkan hilang sensasi karena ujung-
ujung serabut saraf sensorik mengalami kerusakan.
Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses
epithelialisasi spontan baik dari tepi luka (membrane
basalis), maupun dari apendises kulit yang memiliki
potensial epithelialisasi.

Gb 4. Luka bakar grade 3


Kedalaman dan Bagian
Penampilan Perjalanan
Penyebab Luka Kulit yang Gejala
Luka Kesembuhan
bakar terkena
Derajat Satu Epidermis Kesemutan Memerah; Kesembuhan
(Superfisial) Hiperestesia menjadi putih lengkap dalam
Tersengat matahari (supersensitivitas) ketika ditekan waktu satu
Terkena api dengan Rasa nyeri mereda minimal atau minggu
intensitas rendah jika didinginkan tanpa edema, Pengelupasan kulit
tidak dijumpai
bullae
Gambar 1: Luka bakar derajat I
Derajat Dua Epidermis Nyeri Melepuh; dasar Kesembuhan
(Partial Thickness) dan bagian Hiperestesia luka berbintik- dalam waktu dua
Tersiram air dermis Sensitif terhadap bintik merah; hingga tiga
mendidih udara yang dingin epidermis minggu
Terbakar oleh nyala retak; Pembentuka parut
api permukaan dan depigmentasi
luka basah Infeksi dapat
Edema, mengubahnya
dijumpai bullae menjadi derajat
tiga

Gambar 2: Luka bakar derajat II


Derajat IIa Organ- Gejala luka bakar Penampilan Penyembuhan
(superficial) organ kulit derajat II luka bakar terjadi secara
seperti derajat II spontan dalam
folikel waktu 10-14 hari,
rambut, tanpa operasi
kelenjar penambalan kulit
keringat, (skin graft).
kelenjar
sebasea
masih utuh.
Gambar 3. Luka bakar derajat Iisuperficial

Derajat IIb (deep) Kerusakan Gejala luka bakar Penampilan Penyembuhan


mengenai derajat II luka bakar terjadi lebih lama,
hampir derajat II tergantung biji
seluruh epitel yang tersisa.
bagian Biasanya
dermis. penyembuhan
Organ- terjadi dalam
organ kulit waktu lebih dari
sebagian satu bulan.
besar masih Bahkan perlu
utuh. dengan operasi
penambalan kulit
(skin graft).

Gambar 4. Luka bakar derajat Iidalam

Derajat tiga (Full Epidermis, Tidak terasa nyeri, Kering, luka Pembentukan
Thickness) keseluruhan syok, hematuria bakar berwarna eskar, diperlukan
Terbakar nyala api dermis dan dan kemungkinan putih seperti pencangkokan,
Terkena cairan kadang- hemolisis, bahan kulit pembentukan
mendidih dalam kadang kemungkinan atau gosong, parut dan
waktu yang lama jaringan terdapat luka kulit retak hilangnya kontour
Tersengat arus subkutan masuk dan keluar dengan bagian serta fungsi kulit,
listrik (pada luka bakar lemak yang hilangnya satu jari
listrik) tampak, edema tangan atau
ekstremitas bisa
terjadi
Gambar 5: Luka bakar derajat III
Sumber : Smeltzer (2001), Keperawatan Medikal Bedah

c) Berdasarkan Penderita
Menurut Moenadjat (2009), luka bakar dapat dikategorikan
berdasarkan berat dan ringan luka bakar adalah:
1) Luka bakar ringan: kriteria luka bakar derajat II, derajat
III<10% pada kelompok usia <10 th/ >50th, luka bakar
derajat II dan derajat III <15% pada kelompok usia lain; luka
bakar derajat 320% pada kelompok usia50th, luka bakar
derajat II dan derajat III<10% pada semua kelompok usia,
tanpa cedera pada tangan, kaki dan perineum
2) Luka bakar sedang atau moderat dengan kriteria luka bakar
derajat II dan derajat III 10-20% pada kelompok usia<10 th/
>50th; luka bakar derajat II dan derajat III 15-25% pada
kelompok usia lain; luka bakar derajat III<10% pada semua
kelompok usia tanpa cedera pada tangan, kaki, dan perineum
3) Luka bakar kritis atau luka bakar berat dengan kriteria luka
bakar derajat II dan derajat III>20% pada kelompok usia50th,
luka bakar derajat II dan derajat III>25% pada kelompok usia
lain, terjadi trauma inhalasi serta luka bakar akibat tegangan
tinggi, luka bakar pada populasi resiko tinggi, luka bakar pada
tangan, kaki, dan perineum
d) Berdasarkan tingkat keseriusan luka
American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori,
yaitu:
Luka bakar mayor
- LPTT (Luas Permukaan Tubuh Total) lebih dari 25% dengan derajat partial
thickness pada orang dewasa dan lebih dari 20%dengan derajat partial
thickness pada anak-anak.
- LPTT 10% dengan derajat fullthickness tanpa disertai komplikasi lain.
- Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
- Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat
dan luasnya luka.
- Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.
- Luka bakar yang berkaitan dengan masalah-maslah ringan, seperti cedera pada
jaringan lunak, fraktur, trauma lainnya, atau masalah-masalah kesehatan lain
yang sudah ada sebelumnya.
Luka bakar moderat
- LPTT 15-25% dengan derajat partial thickness pada orang dewasa
- LPTT 10% - 20% dengan derajat partial thickness pada anak-anak
- LPTT 10% dengan derajat fullthicknesstanpa komplikasi lain.

Luka bakar minor


Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak
(1992) adalah :
- LPTT kurang dari 15% pada orang dewasaderajat partial thickness dan LPTT
kurang dari 10 %dengan derajat partial thickness pada anak-anak.
- LPTT dengan derajat fullthickness kurang dari 2% pada segala usia, tidak
mengenai wajah, tangan, dan perenium.
Sumber :Smeltzer (2001)

5. Patofisiologi/ Patologi
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari
sumber panas ke tubuh. Panas dapat dipindahkan melalui
konduksi atau radiasi elektromagnetik. Kulit akan mengalami
kerusakan pada epidermis, dermis, maupun jaringan subkutan
tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan
sumber panas (Smeltzer & Bare, 2002). Kedalaman luka bakar
mempengaruhi kerusakan integritas kulit dan kematian sel.
Semakin dalam dan luas jaringan yang rusak, semakin berat
kondisi luka bakar dan semakin jelek prognosisnya (Moenadjat,
2009).
Agen cedera akan menyebabkan denaturasi protein sel.
Sebagian sel akan mengalami nekrosis traumatik. Kehilangan
ikatan kolagen juga terjadi bersama proses denaturasi sehingga
timbul gradien tekanan osmotik dan hidrostatik yang abnormal.
Hal ini akan menyebabkan perpindahan cairan intravaskuler ke
unit intersitisial. Cedera sel memicu pelepasan mediator
inflamasi yang turut menimbulkan peningkatan permeabilitas
kapiler secara lokal. Namun pada luka bakar yang berat,
mediator inflamasi akan menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler secara sistemik (Kowalak, 2011).
Hipovolemia yang timbul berbeda dengan hipovolemia yang
disebabkan oleh perdarahan. Sel darah merah dan sel lainnya
tetap di dalam intravaskuler. Hanya cairan yang meninggalkan
unit intravaskuler sehingga terjadi hemokonsentrasi.
Hemokonsentrasi dan hipovolemia menyebabkan sirkulasi
terganggu. Perfusi sel tidak terselenggara dengan baik. Kondisi
ini dikenal dengan syok hipovolemia (Moenadjat, 2009).
Respon tubuh akibat gangguan perfusi meliputi respon
sistemik. Respon kardiovaskuler, curah jantung akan menurun
sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terjadi.
Curah jantung menurun maka tekanan darah menurun. Sebagai
respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin
yang meningkatkan resistensi perifer dan frekuensi denyut nadi.
Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan
curah jantung. Resusitasi cairan yang segera dilakukan
memungkinkan dipertahankannya tekanan darah dalam kisaran
normal yang rendah sehingga curah jantung membaik (Smeltzer
& Bare, 2002).
Respon pulmonal, paru yang merupakan organ sistem
pernafasan yang menyelenggarakan pertukaran karbondioksida
dengan oksigen mengadakan kompensasi dengan peningkatan
frekuensi pernafasan. Dengan mekanisme kompensasi ini, timbul
hiperventilasi yang memiliki dampak terhadap keseimbangan
asam-basa dan metabolisme secara keseluruhan (Moenadjat,
2009). Sedangkan respon renalis ditandai dengan penurunan
sirkulasi renal menyebabkan iskemia ginjal. Manifestasi awal
yang tampak akibat kondisi iskemia ini adalah penurunan
ekskresi urin mulai dari oliguria sampai dengan anuria. Hipoksia
parenkim ginjal merupakan stimulasi dilepaskannya renin dan
angiotensin oleh sel-sel juxtaglomerulusrenalis yang merangsang
Anti Diuretic Hormone (ADH) dan kelenjar anak ginjal
memproduksi hormon kortisol dan glukagon. Rangkaian
selanjutnya adalah rangsangan pada hipofisis posterior untuk
melepaskan Adeno Cortico Tropic Hormone (ACTH) yang
merupakan stimulan bagi sistem saraf parasimpatik dan
ortosimpatik dalam teori berkembangnya stres metabolisme. Bila
tidak segera ditangani, terjadi akut tubular nekrosis dan berlanjut
dengan acute renal failure (Moenadjat, 2009)
Respon gastrointestinal, terganggunya sirkulasi
splangnikus, terjadi perubahan degeneratif bersifat akut pada
organ-organ yang diperdarahi antara lain saluran cerna bagian
atas. Gangguan perfusi menyebabkan terjadinya iskemia mukosa
saluran cerna yang mengakibatkan integritasnya terganggu
(disrupsimukosa). Dengan terjadinya disrupsi mukosa, lamina
muskularis mukosa dan kapiler submukosa terpapar pada lumen.
Kerapuhan dinding pembuluh kapiler menyebabkan pecahnya
kapiler lambung. Perdarahan dapat terjadi sedemikian masif dan
menyebabkan penderita jatuh kedalam syok (Moenadjat, 2009).
Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar.
Semua tingkat respon imun akan dipengaruhi secara merugikan.
Kehilangan integritas kulit diperburuk dengan pelepasan faktor-
faktor inflamasi yang abnormal. Perubahan kadar imunoglobulin
serta komplemen serum, gangguan fungsi neutrofil, dan
penurunan jumlah limfosit (limfositopenia). Imunosupresi
membuat pasien luka bakar berisiko tinggi untuk mengalami
sepsis (Smeltzer & Bare, 2002)
Hilangnya kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh
untuk mengatur suhu. Karena itu pasien-pasien luka bakar dapat
memperlihatkan suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam
pertama pasca luka bakar. Namun setelah keadaan
hipermetabolisme akan mengatur kembali suhu tubuh. Pasien
luka bakar akan mengalami hipertermi selama sebagian besar
periode pasca luka bakar meskipun tidak terdapat infeksi
(Smeltzer & Bare, 2002)
Catatan:
Perbedaan tekanan onkotik dan hidrstatik
a. Tekanan osmotik adalah tekanan untuk mencegah aliran
osmotic cairan
b. Tekanan onkotik adalah gaya tarik sifat atau system koloid
agar air tetap berada dalam plasma darah di intravaskuler.
Arti lain dari tekanan onkotik adalah tekanan osmotic yang
dihasilkan oleh protein (albumin)
c. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang dihasilkan oleh
cairan pada dinding pembuluh darah
Tekanan osmotic koloid plasma berfungsi untuk mempertahankan
cairan agar tidak mengalir ke dalam rongga interstitial. Hal ni
terutama fungsi albumin. Albumin dihasilkan oleh hati apabila
terdapat kerusakan hati, maka dapat terjadi keadaan
hipoalbumin

6. Manifestasi Klinis
a) Superficial burn (derajat I), dengan ciri-ciri:
- Luka hanya mengenai lapisan epidermis.
- Luka tampak pink cerah sampai merah (eritema ringan sampai berat).
- Kulit memucat bila ditekan.
- Edema minimal.
- Tidak ada blister/bula
- Kulit hangat/kering.
- Sangat nyeri dan berkurang dengan pendinginan.
- Discomfort berakhir kira-kira dalam waktu 48 jam.
- Dapat sembuh spontan dalam 3-7 hari.
b) Partial thickness (derajat II), dengan ciri.:
- Dikelompokan menjadi 2, yaitu superpicial partial thickness dan deep
partial thickness.
- Luka tampak mengenai epidermis dan dermis.
- Luka tampak merah sampai pink.
- Luka tampak basah dan mengkilat
- Terbentuk blister/bula
- Edema
- Sangat nyeri
- Sensitif terhadap udara dingin
- Penyembuhan luka : pada superficial partial thickness penyembuhannya14
-21 hari, pada deep partial thickness penyembuhannya 21-28 hari
(penyembuhan bervariasi tergantung dari kedalaman luka dan ada tidaknya
infeksi).
c) Full thickness (derajat III)
- Luka tampak mengenai semua lapisan kulit, lemak subkutan dan dapat
juga mengenai permukaan otot, dan persarafan, dan pembuluh darah.
- Luka tampak bervariasi dari berwarna putih, merah sampai dengan coklat
atau hitam.
- Tanpa ada blister/bula
- Permukaan luka kering dengan tektur kasar/keras.
- Edema
- Sedikit nyeri atau bahkan tidak ada rasa nyeri.
- Tidak mungkin terjadi penyembuhan luka secara spontan.
- Dapat terjadi scar hipertropik dan kontraktur jika tidak dilakukan tindakan
preventif
- Memerlukan skin graft karena lapisan yang rusak tidak dapat sembuh
secara spontan

7. Komplikasi

Komplikasi luka bakar dapat berasal dari luka itu sendiri


atau dari ketidakmampuan tubuh saat proses penyembuhan luka
(Burninjury, 2013):
a) Infeksi luka bakar
Infeksi pada luka bakar merupakan komplikasi yang paling
sering terjadi. Sistem integumen memiliki peranan sebagai
pelindung utama dalam melawan infeksi. Kulit yang rusak
atau nekrosis menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap
patogen di udara seperti bakteri dan jamur.
b) Terganggunya suplai darah atau sirkulasi
Penderita dengan kerusakan pembuluh darah yang berat
dapat menyebabkan kondisi hipovolemik atau rendahnya
volume darah. Selain itu, trauma luka bakar berat lebih
rentan mengalami sumbatan darah (blood clot) pada
ekstremitas. Hal ini terjadi akibat lamanya waktu tirah baring
pada pasien luka bakar. Tirah baring mampu menganggu
sirkulasi darah normal, sehingga mengakibatkan akumulasi
darah di vena yang kemudian akan membentuk sumbatan
darah (Burninjury, 2013).
c) Komplikasi jangka panjang
Komplikasi jangka panjang terdiri dari komplikasi fisik dan
psikologis. Pada luka bakar derajat III, pembentukan jaringan
sikatriks terjadi secara berat dan menetap seumur hidup.
Pada kasus dimana luka bakar terjadi di area sendi, pasien
mungkin akan mengalami gangguan pergerakan sendi. Hal ini
terjadi ketika kulit yang mengalami penyembuhan
berkontraksi atau tertarik bersama. Akibatnya, pasien
memiliki gerak terbatas pada area luka. Selain itu, pasien
dengan trauma luka bakar berat dapat mengalami tekanan
stress pasca trauma atau post traumatic stress disorder
(PTSD). Depresi dan ansietas merupakan gejala yang sering
ditemukan pada penderita (Burninjury, 2013).

8. Pemeriksaan Penunjang

a) Sel darah merah (RBC) : Dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood
Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan
oleh menurunnya produksi sel darah merah karena depresi sumsum tulang.

b) Sel darah putih (WBC): Dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah
putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri.

c) Gas darah arteri (AGD): Terjadi asidosis metabolic (pH turun, tekanan parsial
karbon dioksida [Pco2] naik, dan tekanan parsial oksigen [PO2] menurun.)

d) Karboksihemoglobin (COHbg): Kadar COHbg (karboksihemoglobin) dapat


meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan keracunan karbon
monoksida.

a. Serum elektrolit: umumnya menurun karena menghilang ke daerah trauma dan


ruang interstisial.
- Potasium pada permukaan akan meningkat karena injuri jaringan atau
kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal

- Hipokalemiadapat terjadi ketika diuresis dimulai

- Magnesium mungkin mengalami penurunan

- Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari
tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia.

e) Sodium urine: Jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan


resusitasi cairan, sedangkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak
adekuatnya resusitasi cairan.

f) Alkaline pospatase: Meningkat akibat berpindahnya cairan


interstitial/kerusakan pompa sodium.

g) Glukosa serum: Meningkat sebagai refleksi glikoneogenesis atau pemecahan


glikogen sebagai respon terhadap stres.

h) BUN/Creatinin: Meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi


renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan.

i) Kadar protein serum : menurun disebabkan oleh pemecahan protein karena


kebutuhan energi yang meningkat.

j) Urin: Adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan


kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna
urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin

k) Rontgen dada: Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi

l) ECG: Untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka


bakarkarena elektrik.
m) Morfologi: pada pemeriksaan makroskopik luka bakar full-thickness tampak
putih atau gosong, kering dan anestetik (karena rusaknya ujung-ujung saraf).
Luka partial-thickness tampak merah muda atau bercak disertai lepuh serta
nyeri, bergantung pada kedalamannya.

n) Histology: pada pemeriksaan histology jaringan yang mati memperlihatkan


nekrosis koagulasi. Jaringan hidup di dekatnya cepat mengalami peradangan
disertai akumulasi sel radang dan eksudasi hebat.

9. Penatalaksanaan (farmakologi dan nonfarmakologi)

Penatalaksanaan Secara Umum


Secara sistematik dapat dilakukan 6c: clothing, cooling, cleaning,
chemoprophylaxis, covering, dan comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk
pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru
selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan
- Clothing/ singkirkan pakaian: singkirkan semua pakaian yang panas atau
terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka
dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.

- Cooling/ dinginkan luka bakar: Dinginkan daerah yang terkena luka


bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari
hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan
orang tua). Cara ini efektif sampai dengan 3 jam setelah kejadian luka
bakar. Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap
memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk
luka yang terlokalisasi. Jangan pergunakan es karena es menyebabkan
pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan
memperberat derajat luka dan risiko hipotermia. Untuk luka bakar karena
zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang
banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa
bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang
mengalir.

- Cleaning/ pembersihan luka bakar: Pembersihan dilakukan dengan zat


anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang
sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi
berkurang.

- Chemoprophylaxis: Pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka


yang lebih dalam dari superficial partial thickness. Pemberian krim silver
sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka
bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa,
perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyusui dengan bayi kurang dari 2
bulan

- Covering: Penutupan luka bakar dengan kasa. Dilakukan sesuai dengan


derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa
atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan)
bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat
hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak,
oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan
risiko infeksi.

- Comforting: Dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri, berupa


Paracetamol dan codein (PO-per oral)20-30mg/kg
Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus
Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg
(Rosfanty, 2009)
Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari
ABC yaitu
Airway and breathing
Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga
(black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah.
Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana
intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok)
untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di
fasilitas kesehatan yang lengkap.

Circulation
Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka
bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena
(melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila kurang dari itu
dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairanmerupakan komponen penting
karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan
karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak danmekanisme
dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar
pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema).
Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka
volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan
kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ
tubuh.Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl
0,9%/normal Saline). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya
dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Jumlah cairan
yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : 3-4 cc/kgBB/%TBSA +
cairan rumatan (maintenance per 24 jam). Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB
dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB
untuk tiap kg diatas 20 kg. Cairan formula parkland (3-4cc/kgBB/%TBSA)
diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16
jam berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat
dari produksi urin yaitu 1cc/kgBB/jam (Rosfanty, 2009).
Kebutuhan cairan yang diproyeksikan dalan 24 jam pertama dihitung
berdasarkan luas luka bakar. Resusitasi cairan yang adekuat menghasilkan
sedikit penurunan volume darah selama 24 jam pertama pasca luka bakar dan
mengembalikan kadar plasma pada nilai yang normal pada akhir periode 48
jam. Beberapa rumus telah dikembangkan untuk memperbaiki kehilangan
cairan berdasarkan estimasi persentase luas permukaan tubuh yang terbakar
dan berat badan pasien.

Cara penghitungan resusitasi cairan pada pasien dewasa:


Rumus Konsesus
Lartutan ringer laktat (atau larutan saline seimbang lainnya): 2-4 ml x
kg berat badan x % luas luka bakar. Separuh diberikan dalam 8 jam
pertama: sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Rumus Evans
1. Koloid : 1ml x kg berat badan x % luas luka bakar
2. Elektrolit (Salin) : 1ml x kg berat badan x % luas luka bakar
3. Glukosa (5%dalam air) : 2000 ml untuk kehilangan insensible
Hari 1 : separuh diberikan dalam 8 jam pertama, separuh sisanya dalam
16 jam berikutnya
Hari 2 : separuh dari cairan elektrolit dan kolid yang diberikan pada hari
sebelumnya: seluruh penggantian cairan insesibel
Maksimum 10.000 ml selama 24 jam.Luka bakar derajat dua dan tiga yang
melebihi 50% luas permukaan tubuh dhitung berdasarkan 50% luas
permukaan tubuh.
Rumus Brooke Army
1. Koliod : 0,5ml x kg berat badan x % luas luka bakar
2. Elektrolit (RL) : 1,5 ml x kg berat badan x % luas luka bakar
3. Glukosa (5%dalam air): 2000 ml untuk kehilangan insensible
Hari 1 : separuh diberikan dalam 8 jam pertama: separuh sisanya dalam 16
jam berikutnya
Hari 2 : separuh dari cairan kolid: separuh dari cairan elektrolit: seluruh
penggantian cairan insesibel
Luka bakar derajat dua dan tiga yang melebihi 50% luas permukaan tubuh
dihitungberdasarkan 50% luas permukaan tubuh
Rumus Parkland/Baxter
Larutan Ringer Laktat: 4 ml xBB (Kg) x % luas luka bakar
Hari 1 : Separuh diberikan dalam 8 jam pertama: separuh sisanya dalam 16
jam berikutnya
Hari 2 : Bervariasi. Ditambahkan koloid
Cara penghitungan resusitasi cairan pada anak

Larutan Salin Hipertonik


Larutan pekat natrium klorida (NaCl) dan laktat dengan konsentrasi 250-
300mEq natrium perliter yang diberikan pada kecepatan yang cukup untuk
mempertahankan volume keluaran urine yang diinginkan. Jangan
meningkatkan kecepatan intfus selama 8 jam pertama pasca luka bakar. Kadar
natrium serum harus dipantau ketat.
Tujuan: meningkatkan kadar natrium serum dan osmolalitas untuk
mengurangi edema dan mencegah komplikasi paru.
Tatalaksana Luka Bakar Minor
Pemberian pengurang rasa nyeri harus adekuat. Pada anak-anak dapat
membutuhkan morfin sebelum penilaian luka bakar dan pembalutan awal.
Pada luka bakar mengenai anggota gerak atas disarankan imobilisasi denga
balut dan bidai
Pemeriksaan status tetanus pasien
Pembalutan tertutup disarankan untuk luka bakar partial thickness. Cairan
yang keluar dari luka bakar menentukan frekuensi penggantian balutan.
Gelembung cairan (blister) memiliki fungsi untuk proteksi dan mengurangi rasa
sakit bila tetap dibiarkan utuh selama beberapa hari. Jika gelembung cairan kecil,
tidak berada di dekat sendi dan tidak menghalangi pembalutan maka dapat tidak
perlu dipecahkan. Gelembung cairan yang besar dan yang meliputi daerah
persendian harus dipecah dan dibersihkan. Gelembung cairan yang berubah
menjadi opak/keruh setelah beberapa hari menandakan proses infeksi sehingga
perlu untuk dibuka dan dibalut.
- Luka bakar superfisial/dangkal dapat dibiarkan terbuka. Pada bayi yang
menunjukakan kecenderungan terbentuknya gelembung cairan atau
penggarukan dapat ditutup perban untuk proteksi.
- Luka bakar sebagian (partial thicknes): dilakukan pembersihan luka
dan sekelilingnya dengan salin (larutan yang mengandung garam-steril).
Jika luka kotor dapat dibersihkan dengan clorhexidine 0,1% lalu dengan
salin. Luka bakar superfisial partial thickness dapat ditutup dengan kasa
yang tidak menempel lalu dibalut atau di plester. Luka bakar deep partial
thickness dilakukan penutupan dengan kasa yang tidak lengket dan
diberikan antimikroba krim silverdiazin.
Follow upbila luka bakar dangkal tidak menyembuh dalam 7-10 hari, atau
menunjukkan tanda-tanda terinfeksi atau ternyata lebih dalam maka rujukan
sebaiknya dilakukan. Kemungkinan timbulnya jaringan parut yang berlebihan
(scar hipertrofik) harus dipikirkan apabila dalam waktu 3 minggu luka bakar
belum juga menyembuh.
Tatalaksana Luka bakar mayor
Airway and breathing (jalan napas dan pernapasan) Apabila ada tanda-
tanda luka bakar pada saluran napas atau cedera pada paru-paru maka
intubasi dilakukan secepatnya sebelum pembengkakan pada jalan napas
terjadi.
- Cairan
Jika luas area luka bakar >10% maka lakukan resusitasi cairan dan
lakukan penghitungan cairan dari saat waktu kejadian luka bakar.Pasang
kateter urin jika luka bakar>15% atau luka bakar daerah perineum NGT-
pipa nasogastrik dipasang jika luka bakar>10% berupa deep partial
thickness atau full thickness, dan mulai untuk pemberian makanan antara
6-18 jam.
- Pemberian anti tetanus diperlukan pada luka-luka sebagai berikut :
1) Disertai patah tulang
2) Luka yang menembus ke dalam
3) Luka dengan kontaminasi benda asing (terutama serpihan kayu)
4) Luka dengan komplikasi infeksi
5) Luka dengan kerusakan jaringan yang besar (contoh luka bakar)
6) Luka dengan kontaminasi tanah, debu atau produk cairan atau kotoran
kuda
7) Implantasi ulang dari gigi yang tanggal.
- Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan pada luka bakar mayor.Hal ini
untuk menunjang tatalaksana, mengingat luka bakar mayor dapat
menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan gangguan keseimbangan
metabolisme tubuh yang berat.Hal ini harus dikenali sehingga bisa diatasi
secepat mungkin.Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu Hemoglobin,
hematokrit, elektrolit, gula darah, golongan darah, kadar COHb dan kadar
sianida (pada luka bakar akiibat kebakaran di ruangan).
Pemindahan ke Unit Luka Bakar
Luka bakar derajat 3 yang melebihi 5% luas permukaan tubuh pada segala
kelompok usia
Luka bakar derajat 2 dan 3 yang melebihi 10% luas permukaan tubuh pada
pasien < 10 tahun atau > 50 tahun
Luka bakar derajat 2 dan 3 yang melebihi 20% luas permukaan tubuh pada
segala kelompok usia yang lain.
Luka bakar derajat 2 dan 3 yang mengenai muka, tangan, kaki, genetalia,
perineum, serta persendian yang besar.
Luka bakar listrik yang mencakup luka bakar tersambar petir
Luka bakar kimia dengan ancaman ganguan fungsional atau kosmetik
yang serius
Cedera inhalasi dengan luka bakar
Luka bakar yang melingkar pada ektremitas dan dada
Luka bakar pada pasien yang sebelumnya sudah menderita sakit dapat
memperumit penanganan
Luka bakar dengan trauma dimana luka bakar tersebut menghadapi risiko
yang terbesar.
Etiologi :
Thermal, Kimiawi, Radiasi, Listrik

Perpindahan panas dari sumber


10. Clinical Pathway
ke tubuh

LUKA BAKAR

Daerah kepala, Kejadian di ruang Kerusakan lapisan kulit


wajah, dan leher tertutup

Peningkatan
Risiko kerusakan Keracunan Hemolisis evaporasi Subkutaneos Barrier kulit Metabolisme Spasme otot,
mukosa saluran nafas karbonmonoksida SDM akibat rusak rusak meningkat iritasi pembuluh
efek panas (LB>40 %) darah dan saraf
Denatutasi
protein &
Oedema mukosa dan Ikatan CO kuat Adanya SDM hilangnya Penurunan Kerusakan Katabolisme Sirkulasi
hilangnya kerja silia dengan HB terperangkap kolagen deposit integritas protein, lemak transmitter nyeri
dlm kapiler yg jaringan lemak
membengkak Korteks serebri
Tek.Onkotik turun Port de Entry
Obstruksi O2 tidak dapat masuk Tek. Hidrostatik kuman
trakeobronkial ke sel naik Ketidakefektif Nyeri Akut
PK Anemia an
Meningkatnya Risiko Infeksi Penurunan Metab.
Ketidakefektifan permeabilitas Hipotermia
Hipoksia sel Ketidakefek BB Anaerob
bersihanjalan nafas kapiler
tifan perfusi
jar. perifer Asam laktat
Ekstravasasi cairan (air, Edema Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari Keb. meningkat
elektrolit, protein)

Syok hipovolemi Hemokonsentrasi Hipovolemi Penurunan Hambatan


kekuatan dan Mobilitas
ketahanan otot Fisik
Kekurangan
Gangguan perfusi Gangguan Sirkulasi Makro
Volume Cairan Defisit Perawatan Diri
jaringan perifer dan Sel ADL dibantu
Respon sistemik

Kardiovaskular Pulmonar Renal Gastrointestinal

Penurunan COP Peningkatan Penurunan Penurunan


frekuensi napas sirkulasi renal sirkulasi GIT
Penurunan TD Hipoksia Iskemia mukosa
Hiperventilasi parenkim ginjal GIT

Pelepasan Disrupsi mukosa


katekolamin Peningkatan Iskemia ginjal
frekuensi napas
Kerapuhan dinding
Peningkatan Stimulasi ADH pembuluh kapiler
resistensi perifer Asidosis metabolik dan kelenjar
& HR anak ginjal
produksi kortisol Perdarahan GIT
dan glukagon
Risiko
penurunan Hipofisis
COP melepaskan

Stres
metabolisme

Acute renal
failure
11. Proses Keperawatan Berdasarkan Tinjauan Teori
a. Assessment/ pengkajian terkait penyakit berserta
pemeriksaan penunjang
1. Identitas: kaji meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, dan
lain-lain
2. Pengkajian Spesifik
Inspeksi
- Mukosa bibir kering
- Tanda-tanda inflamasi
- Luas luka bakar: untuk menentukan luas luka bakar dapat digunakan salah
satu metode yang ada. Berikut adalah beberapa metode yang dapat
digunakan untuk menentukan luas luka bakar:
b) Rule of nine: cara yang tepat untuk menghitung luas daerah yang
terbakar. Sistem ini mengguanakan presentase kelipatan sembilan
terhadap luas permukaan tubuh.
- Kepala dan leher : 9%
- Dada depan dan belakang : 18%
- Abdomen depan dan belakang : 18%
- Tangan kanan dan kiri : 18%
- Paha kanan dan kiri : 18%
- Kaki kanan dan kiri : 18%
- Genital : 1%

Gambar 5. Skema pembagian luas luka bakar dengan Rule Of Nine


Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan
penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak-anak dipakai
modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada
umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.
c) Diagram Lund dan Browder: metode ini lebih tepat dalam memperkirakan
luas permukaan tubuh yang terbakar. Menyatakan bahwa prosentase luka
bakar pada berbagai bagian anatomi, khususnya kepala dan tungkai, akan
berubah menurut pertumbuhan. Penentuan luas luka bakar secara lebih
lengkap dijelaskan dengan diagram sebagai berikut:
LOKASI USIA (Tahun)
0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA
KEPALA 19 17 13 10 7
LEHER 2 2 2 2 2
DADA & PERUT 13 13 13 13 13
PUNGGUNG 13 13 13 13 13
PANTAT KIRI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PANTAT KANAN 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
KELAMIN 1 1 1 1 1
LENGAN ATAS KA. 4 4 4 4 4
LENGAN ATAS KI. 4 4 4 4 4
LENGAN BAWAH KA 3 3 3 3 3
LENGAN BAWAH KI. 3 3 3 3 3
TANGAN KA 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
TANGAN KI 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
PAHA KA. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
PAHA KI. 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
TUNGKAI BAWAH 5 5 5,5 6 7
KA
TUNGKAI BAWAH KI 5 5 5,5 6 7
KAKI KANAN 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
KAKI KIRI 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

d) Metode Telapak Tangan: pada banyak pasien dengan luka bakar yang
menyebar, metode yang dipakai memperkirakan prosentase luka bakar
adalah metode telapak tangan (palm methode). Lebar telapak tangan
pesien kurang lebih sebesar 1 % LPTT.
- Kedalaman luka bakar: kedalaman luka bakar dapat dikelompokan menjadi
4 macam, yaitu luka bakar derajat I, derajat II, derajat III dan IV, dengan
ciri-ciri seperti telah diuraikan dimuka
- Lokasi/area luka: luka bakar yang mengenai tempat-tempat tertentu
memerlukan perhatian khusus, oleh karena akibatnya yang dapat
menimbulkan berbagai masalah. Seperti, jika luka bakar mengenai daerah
wajah, leher dan dada dapat mengganggu jalan nafas dan ekspansi dada
yang diantaranya disebabkan karena edema pada laring. Sedangkan jika
mengenai ekstremitas maka dapat menyebabkan penurunan sirkulasi ke
daerah ekstremitas karena terbentuknya edema dan jaringan scar. Oleh
karena itu pengkajian terhadap jalan nafas (airway) dan
pernafasan (breathing) serta sirkulasi (circulation) sangat diperlukan. Luka
bakar yang mengenai mata dapat menyebabkan terjadinya laserasi kornea,
kerusakan retina dan menurunnya tajam penglihatan.
- Ada tidaknya cedera inhalasi: letak luka bakar juga dapat menyadarkan staf
pada kemungkinan cedera inhalasi. Perawat harus mengkaji temuan-temuan
berikut ini sebagai tanda kecurigaan terhadap cedera inhalasi:
1) Bulu hidung hangus terbakar
2) Luka bakar pada oral atau membran mukosa faring
3) Luka bakar pada area perioral atau leher
4) Batuk serak atau perubahan suara
5) Riwayat pernah terbakar pada area yang terkurung
Palpasi:
- Denyut nadi (frekuensi, kuat lemahnya)
- Suhu pada luka
Auskultasi:
- Auskultasi bunyi nafas pada paru
Auskultasi bising usus
3. Pemeriksaan fisik per sistem
a. Pernafasan (B1/ Breathing)
Gejala: terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama
(kemungkinan cedera inhalasi).
Tanda: serak, batuk/ mengi, partikel karbon dalam
sputum, ketidakmampuan menelan sekresi oral dan
sianosisindikasi cedera inhalasi. Pengembangan torak
mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada,
jalan nafas stridor/mengiobstruksi sehubungan dengan
laringospasme, oedema laryngeal. Jika bunyi napas
(gemericik oedema paru, stridor oedema laryngeal,
ronkhi sekret jalan nafas dalam ).
b. Kardiovaskuler (B2/ Blood)
Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT):
hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada
ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum
dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok
listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok
listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka
bakar).
c. Persyarafan ( B3/ Brain)
Gejala : area batas; kesemutan.
Tanda : perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan
refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas;
aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan
retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik);
ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera
listrik pada aliran saraf).
d. Perkemihan (B4/ Bladder)
Haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat;
warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin,
mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah
kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam
sirkulasi)
e. Pencernaan (B5/ Bowel)
Klien biasanya mual, muntah, anorexia, penurunan bising
usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih
besar dari 20% sebagai stres penurunan
motilitas/peristaltik gastrik.
f. Tulang, otot dan integumen (B6/ Bone)
Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang
gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot,
perubahan tonus.
Kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak
terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses
trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. Area kulit tak
terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian
kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung
sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.
Adapaun penampilan luka berdasarkan kemungkinan
penyebab luka bakar adalah sebagai berikut:
- Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam
sehubungan dengan variase intensitas panas yang
dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong;
mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada
faring posterior; oedema lingkar mulut dan atau lingkar
nasal.
- Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen
penyebab. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan
tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis;
atau jarinagn parut tebal. Cedera secara umum lebih
dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan
jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.
- Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih
sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi
dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka
bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup
dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian
terbakar.
- Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda
motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok
listrik).

12. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obtruksi
trakeabronkial, edema mukosa dan hilangnya kerja silia, luka bakar daerah
leher, kompresi jalan nafas thorak dan dada atau keterbatasan
pengembangan dada.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui
rute abnormal, peningkatan kebutuhan : status hypermetabolik,
ketidakcukupan pemasukan, kehilangan perdarahan
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan suhu ekstrem (air panas)
ditandai dengan kerusakan pada lapisan kulit, gangguan pada permukaan
kulit
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan klien
mengatakan nyeri pada area luka bakarklien terlihat meringis
5. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat;
kerusakan perlindungan kulit; jaringan traumatik, pertahanan sekunder
tidak adekuat; penurunan Hb, penekanan respons inflamasi
6.
7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan status hipermetabolik (sebanyak 50 % - 60% lebih besar dari
proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein.
8. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan (mengalami
luka bakar) ditandai dengan pasien mengeluh khawatir dengan kondisinya
9. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri ditandai dengan
keterbatasan dalam ROM dan ambulasi
10. Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan kelemahan ditandai
dengan ketidakmampuan dalam membasuh, mengeringkan, dan
mengambil peralatan mandi
11. Defisit perawatan diri: eliminasi berhubungan dengan kelemahan ditandai
dengan ketidakmampuan dalam menuju toileting, dan membersihkan
perineum secara mandiri
12. Defisit perawatan diri: berpakaian berhubungan dengan kelemahan
ditandai dengan mengenakan, mengambil pakaian secara mandiri
13. PK Syok hipovolemik
14. PK Anemia
15. PK Hiponatremia
16.
17.
13. Intervensi keperawatan sesuai dengan pendekatan
NANDA NOC-NIC dan evaluasi keperawatan

18. 19. Diagnosa 20. Tujuan (Outcome/NOC) 21.


N

22. 23.Ketidakefektifan 25.Setelah diberikan asuhan 31.Airwa


1 bersihan jalan nafas keperawatan selama x24 jam, 1. Auskulta
berhubungan dengan diharapkan jalan napas pasien penurun
obtruksi efektif dengan kriteria hasil: adanya
trakeabronkial, 26.a. Respiratory Status: Airway 2. Monitor
edema mukosa dan patency yang ses
hilangnya kerja silia, 27.b. Vital Signs 3. Posisikan
luka bakar daerah 28.c. Respiratory status : Ventilation potensia
leher, kompresi jalan 29.dengan criteria hasil: 32.Resp
nafas thorak dan 1) Tidak tampak penggunaan otot bantu 1. Monitor
dada atau napas dan usah
keterbatasan 2) Menunjukkan jalan nafas yang paten 2. Catat pe
pengembangan dada. (klien tidak merasa tercekik, irama nafas tidak, m
24. reguler, frekuensi pernafasan dalam pernapa
rentang normal, tidak ada suara nafas 3. Monitor
abnormal) tachypn
3) Frekuensi napas normal (16 20 x/ kussmau
menit) 33. Oxyg
4) Tidak ada sianosis dan dyspnea 1. Bersihka
30. diperluka
2. Pertahan
3. Monitor j
4. Monitor e
34.
35.
36.
37. 38.Kekurangan volume 40.Setelah diberikan asuhan 59.Fluid
2 cairan berhubungan keperawatan selama ... x jam 1. Monitor
dengan kehilangan diharapkan volume cairan seimbang elektroli
cairan melalui rute dengan outcome: 2. Monitor
abnormal, 41. a. Fluid Balance laborato
peningkatan 42. b. Burn recovery cairan a
kebutuhan: status 43. c. Hydration 3. Berikan
hypermetabolik, 44. d. Elektrolit balance 4. Berikan
ketidakcukupan 45. dengan criteria hasil: 5. Monitor
pemasukan, 46. 1) Tekanan darah dalam batas 6. Kaji mem
kehilangan normal (sistolic 100-130 dan diastolic mengind
perdarahan 70-90) keseimb
39. 47. 2) HR dalam batas normal (60- 7. Monitor
100 x/menit) 60.
48. 3) Granulasi Jaringan baik 61.
49. 4) Persen dari luas luka bakar
berkurang
50. 5) Suhu tubuh stabil
51. 6) Urin output 0,5-1 cc/kgBB
52. 7) Mukosa membran lembab
53. 8) RR dalam batas normal (16
20 x/menit)
54. 9) Hematokrit dalam batas normal
55. 10) BUN dan Kreatinin dalam
batas normal
56. 11) Elektrolit Serum dalam batas
normal
57. 12) Albumin serum dalam batas
normal
58.
62. 63.Kerusakan integritas 64. Setelah diberikan asuhan 68. Woun
3 kulit berhubungan keperawatan selama ... x ...jam diharapkan 1. Lakuka
dengan suhu ekstrem integritas kulit klien mengalami karakte
(air panas) ditandai peningkatan dengan kriteria hasil : warna,
dengan kerusakan 65. a. Wound Healing : Secondary 2. Bersihk
pada lapisan kulit, Intention secara
gangguan pada 1) Ukuran lesi pada kulit klien 3. Lakuka
permukaan kulit berkurang. luka
2) Inflamasi pada luka berkurang. 4. Pertaha
3) Granulasi dalam jaringan subkutan melaku
klien meningkat. tepat
4) Eritema kulit sekitarnya berkurang 5. Lakuka
5) Tidak ada blister pada daerah luka tepat
bakar 6. Jelaskan
66.b. Tissue Integrity : Skin & Mucous tentang
Membranes 69.Skin
1) Suhu kulit normal 1. Beri ant
2) Jaringan parut tidak ada terkena
3) Integritas kulit normal 2. Beri an
4) Lesi kulit tidak ada yang ter
5) Eritema tidak ada 3. Memerik
67. berisiko
4. Catat de
70.Skin
1. Periksa
terkait
edema,
2. Pantau w
3. Catat p
membra
71.

72. 73.Nyeri akut 74.Setelah diberikan asuhan 80.Pain


4 berhubungan dengan keperawatan selama ..x . jam 1. Lakukan
agen cedera fisik diharapkan nyeri klien berkurang nyeri te
ditandai dengan klien dengan kriteria hasil : onset/du
mengatakan nyeri 75.Vital Sign intensita
pada area luka bakar 1) Suhu tubuh klien dalam batas normal faktor y
klien terlihat meringis 36,5 0C- 37,5 0C (skala 5) 2. Observa
2) Respiratory rate dalam batas normal 16- nyeri
20 x/menit (skala 5) 3. Pastikan
3) Denyut nadi radial dalam batas normal mengen
60-100 x/menit (skala 5) 4. Gunakan
76.Pain Level terapeu
1) Klien melaporkan adanya rasa nyeri terhada
yang ringan (skala 4) pasien m
2) Klien tidak mengerang atau menangis 5. Gali pen
terhadap rasa sakitnya (skala 5) klien me
3) Klien tidak menunjukkan rasa sakit 6. Tanyaka
akibat nyerinya (skala 5) menjadi
77.Pain Control dilakuka
1) Klien menyadari onset terjadinya nyeri 7. Ajarkan
dengan baik (skala 5) 8. Ajari pas
2) Klien dapat menjelaskan faktor medikas
penyebab timbulnya nyeri dengan sering 81.Analg
(skala 4) 1. Ketahui
3) Klien sering menggunakan tindakan dan dera
pencegahan ( skala 4) pasien m
4) Sering menggunakan pengobatan non 2. Lakukan
farmakologis untuk meredakan rasa alergi
sakit (skala 4) 3. Pilih ana
5) Kadang-kadang menggunakan analgesic kombina
jika dianjurkan (skala 3) resepkan
78.Discomfort Level 4. Monitor
79. Nyeri dalam skala ringan (skala 4) setelah
satu kali
biasa dic
5. Evaluasi
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.

89.

90.

91.

92.

93. DAFTAR PUSTAKA

94. Burninjury. 2013. Burn complications. [Serial Online].


Diakses tanggal 11
95. November 2016 melalui
http://burninjuryguide.com/burn-
recovery/burncomplications/.
96.
97. Dochterman, Joanne M., Gloria N. Bulecheck. 2004. Nursing Interventions
Classifications (NIC) Fourth Edition. Missouri: Mosby Elsevier
98.
99. Moenadjat Y. 2009. Luka Bakar Masalah Dan Tata
Laksana. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
100.
101. Moorhead, Sue, Marion Jhonson, Meridean L. Mass, dan Elizabeth
Swanson. 2008. Nursing Outcomes Classifications (NOC) Fourth Edition.
Missouri: Mosby Elsevier.

102. NANDA International. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2015-2017. Jakarta: EGC.

103. Rosfanty. 2009. Luka Bakar. [online]. Diakes tanggal 11 November 2016
melalui http://dokterrosfanty.blogspot.com/2009/03/luka-bakar.html.

104. Smeltzer, S.C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8.
Jakarta: EGC
105.