You are on page 1of 161

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1 GAMBARAN UMUM


1.1.1 Keadaan Geografi
Kecamatan Kresek merupakan salah satu wilayah di Kabupaten
Tangerang terletak sebelah Barat Kabupaten Tangerang, dengan jarak 27
Km dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Luass wilayah 27.99
Km2, berupa dataran rendah dan berupa lahan pertanian dengan batas
wilayah Kecamatan Kresek sbb :
Sebelah Utara : Kecamatan Kronjo
Sebelah Barat : Kecamatan Serang
Sebelah Selatan : Kecamatan Sukamulya
Sebelah Timur : Kecamatan Gunung Kaler

Kecamatan Kresek memiliki 9 desa binaan/ wilayah kerja diantaranya :


1 Desa Kresek
2 Desa Talok
3 Desa Renged
4 Desa Patrasana
5 Desa Pasirampo
6 Desa Koper
7 Desa Jengkol
8 Desa Kemuning
9 Desa Rancailat

1
Gambar 1.1
PETA WILAYAH KERJA PUSKESMAS KRESEK

1.1.2 Keadaan Penduduk


Jumlah penduduk wilayah Kecamatan Kresek 64.153 jiwa, yang
terdiri dari :
Laki-laki : 32.338 jiwa
Perempuan : 31.815 jiwa
Jumlah Rumah Tangga : 17.363 KK. Dengan rata-rata per KK
3,69 jiwa, tingkat kepadatan penduduk
mencapai 2.292 jiwa per Km2 .

Tabel 1.1
Laporan Registrasi Kependudukan Bulan April 2017

2
Indeks pembangunan Manusia
IPM merupakan kinerja pembangunan wilayah terhadap
pembangunan manusia itu sendiri, dengan upaya peningkatan kualitas
penduduk sumber daya, baik aspek fisik (kesehatan), aspek intelektual
(pendidikan), aspek kesejahteraan ekonomi (daya beli) serta partisipasi
pembangunan akan meningkat.
Dalam penyusunan IPM terkait erat dengan tiga komponen yaitu
angka harapan hidup (AHH), Angka indeks pendidikan (lama sekolah),
dan kemampuan daya beli (PPP).
1.1. 3 Keadaan Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan factor yang paling besar
pengaruhnya terhadap derajat kesehatan. Dengan keadaan lingkungan
yang sehat maka status derjat kesehatan akan terpelihara dan dapat lebih
meningkat, sebaliknya bila keadaan lingkungan kurang sehat dapat
mempengaruhi terhadap status kesehatan masyarakat.
1. Rumah Sehat

3
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan yaitu bangunan yang memiliki jamban, sarana air bersih,
tempat sampah dan sarana pengelolaan air limbah, ventilasi rumah
yang cukup, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah
bersih dan kedap air.
Jumlah rumah yang ada 12.375 rumah dengan jumlah rumah yang
dibina 12.230 (98.83%) sedangkan jumlah yang memenuhi syarat
kesehatan 6.755 (51.06%) dari jumlah rumah yang diperiksa menurut
data PHBS.
2. Akses terhadap air bersih
Dari jumlah penduduk 64.153 Jiwa, yang mendapat akses air bersih
ada 61.542 Jiwa (95.9%), terdiri dari sumur gali terlindung 1.332 jiwa,
sumur bor dengan pompa 36.228 dan pengguna PDAM sebanyak
23.982 jiwa.
3. Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Kepemilikan sarana sanitasi dasar meliputi, jamban, tempat sampah
dan pengelolaan air limbah dari jumlah 12.230 rumah yang diperiksa
jumlah yang memiliki jamban keluarga 6.755 rumah (55.23%).
Tempat-tempat Umum (TTU) dan Tempat Umum Pengelolaan
Makanan (TUPM) merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak
orang dan berpotensi menjadi tempat prsebaran penyakit. TTU
meliputi terminal, pasar, tempat ibadah, stasiun, tempat rekreasi, dll.
Sedangkan TUPM meliputi hotel, restaurant, depot air, dll. TTU dan
TPM yang sehat adalah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu
memiliki sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah (SPAL), ventilasi yang baik dan luas lantai
ruangan yang sesuai dengan jumlah pengunjung dan memiliki
pencahayaan yang cukup.
Jumlah Tempat- tempat Umum yang ada di Kecamatan Kresek 47 unit
sedang yang memenuhi syarat kesehatan 19 unit (40.43%). Untuk
Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) berjumlah 133 unit TPM
semuanya memnuhi syarat kesehatan (100%).

4
1.1.4 Keadaan Perilaku Masyarakat
Perilaku dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa (berfikir, berpendapat,
bersikap) untuk memberikan respon terhadap situasi di luar subyek yang
dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) atau aktif yaitu dengan adanya
tindakan. Komponen perilaku terdiri dari aspek pengetahuan, sikap, dan
tindakan, dari mulai mengetahui lalu menerima atau menolak dan
melakukan tindakan sebagai perwujudan dari fikiran dan jiwa.
Untuk menggambarkan perilaku masyarakat yang berpengaruh
terhadap kesehatan digunakan indicator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) yang terdiri dari 10 indikator.
a. Rumah Tangga Sehat
Jumlah PHBS Rumah Tangga yang dipantau 1.890 rumah, dari
numlah rumah tangga tersebut yang mempunyai Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat hanya 1.188 rumah tangga (62.9%) menunjukkan
bahwa persentase rumah tangga sehat di Kecamatan Kresek masih
kurang jika dibandingkan dengan standar pelayanan minimal (65%).
b. ASI Ekslusif
Air Susu Ibu diyakini dan terbukti merupakan makanan bayi yang
paling tinggi manfaatnya bagi bayi dan semua aspek di Kecamatan
Kresek dari berbagai kegiatan seperti penyuluhan kepada ibu hamil
pembentukan Kelompok Peminat Keshatan Ibu dan Anak (KPKIA)
dari seluruh bayi 0-6 bulan yang ada 774 bayi yang diberi ASI
mencapai 584 bayi (75.5%), cakupan ini sudah melampaui target
pencapaian dibandingkan standar pelayanan minimal yaitu (75%).
c. Desa dengan garam beryodium yang baik
Dari jumlah 9 desa yang ada di Kecamatan Kresek seluruh desa
masyarakat masih ada yang menggunakan garam kasar (krosok) yang
kandungan yodiumnya sangat rendah, ini menunjukkan perilaku
masyarakat belum peduli terhadap manfaat kandungan yodium pada
garam yang digunakan sehari-hari.
d. Posyandu

5
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kepada masyarakat
berbagai upay`a dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang
ada di masyarakat dengan Posyandu merupakan salah satu UKBM
yang sangat popular. Posyandu dikelompokkan menjadi Pratama,
Madya, Purnama, dan Mandiri. Di Kecamatan Kresek jumlah
Posyandu ada 57 pos, terdiri dari Posyandu Pratama berjumlah 0
Posyandu, Madya 55 Posyandu, Purnama 0 Posyandu, dan Mandiri 2
Posyandu. Dari data tersebut Posyandu di wilayah Kecamatan Kresek
masih di dominasi oleh Strata Madya.
e. Polindes dan Poskesdes
Pondok bersalin desa didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan
pelayan kesehatan ibu dan anak khususnya di wilayah pedesaan yang
jauh dari jangkauan pelayanan kesehatan. Selain Polindes dalam
upaya mendukung pelaksanaan desa siaga di wilayah Kecamatan
Kresek terdapat 3 Polindes terdiri dari Desa Pasirampo dan Desa
Jengkol masih berfungsi sedangkan Polindes Desa Renged keadaan
bangunan tidak terawar karena keadaan bangunan sudah rusak.
f. Pelayanan Kesehatan Masyarat Miskin
Dalam rangka meningkatkan jangkauan pelayanan masyarakat yang
jauh Puskesmas Kresek melaksanakan Puskesmas Keliling yang
mengjangkau 9 desa dilaksanakan setiap hari Selasa dengan mobil
Puskesmas Keliling.

6
2.5

1.5

0.5

0
a b c d e f g h i

Grafik 1.1
Jumlah Kematian Bayi Puskesmas Kresek Tahun 2016

Keterangan :
A. Kresek (198)
B. Talok (116)
C. Renged (174)
D. Patrasana (95)
E. Pasirampo (50)
F. Koper (55)
G. Jengkol (36)
H. Kemuning (29)
I. Rancailat (10)

7
33%

Laki-laki Perempuan

67%

Diagram 1.1
Presentase Jumlah Kematian Bayi Menurut Jenis Kelamin Puskesmas
Kresek Tahun 2016

1.2 SITUASI DERAJAT KESEHATAN


1.2.1 Jumlah Kematian
Jumlah Kematian Bayi dan Balita
Jumlah kelahiran hidup di Puskesmas Kecamatan Kresek pada
tahun 2016 adalah 1.366 bayi dengan jumlah kematian bayi sebanyak 9
bayi atau angka kematian bayi (yang dilaporkan) adalah 6.59/1.000
kelahiran hidup. Untuk balita berjumlah 4.260 balita tidak ada kematian
balita yang dilaporkan sedangkan jumlah ibu maternal 237 di Puskesmas
Kecamatan Kresek tahun 2016, tidak ada kematian yang dilaporkan.
Jumlah kematian bayi tahun 2016 di Wilayah Puskesmas
Kecamatan Kresek mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun
2014 yang sebelumnya 2 (dua) kematian.

8
No. Desa Laki-laki Perempuan Jumlah
1 KRESEK 0 0 0
2 TALOK 0 0 0
3 RENGED 1 0 1
4 PATRASANA 1 0 1
5 PASIRAMPO 1 1 2
6 KOPER 1 1 2
7 JENGKOL 1 0 1
8 KEMUNING 1 1 2
9 RANCAILAT 0 0 0
TOTAL 6 3 9

Tabel 1.2
Jumlah Kematian Bayi Puskesmas Kresek Tahun 2016

Adapun kematian balita di Puskesmas Kresek dalam 3 (tiga) tahun


terakhir rentang 2013-2016 tidak ditemukan.
Kejadian kematian bayi dan balita ini dapat dicegah dengan upaya
meningkatkan pengetahuan ibu pasangan usia subur, ibu hamil, keluarga
dan masyarakat terutama pola hidup sehat dan perilaku hidup bersih dan
sehat serta pelayanan kesehatan yang baik.

Jumlah Kematian Ibu


Jumlah kematian ibu (AKI) di Puskesmas Kresek dari tahun 2014-
2016 tidak ada. Hal ini menggambarkan meningkatnya kesadaran
masyarakat dalam berperilaku hidup sehat, dan tingat pelayanan kesehatan
pada ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas.

9
6000

4500

3000
Region 1

1500

0
a b c d e f g h i j
1.2.2
Jumlah Angka Kesakitan
Sepuluh Besar Penyakit
Grafik 1.2
10 Besar Penyakit di Puskesmas Kresek

Keterangan :
a ISPA (5477)
b Gastritis dan Duodenitis (1347)
c Hipertensi dan Duodenitis (1227)
d Faringitis Akut (1074)
e Faringitis (1035)
f Kehamilan dan Persalinan (1010)
g Demam Yang Tidak DIketahui Penyebabnya (979)
h Dermatitis Lainnya (944)
i Gangguan Perkembangan (870)
j Diare dan Gastroenteritis (852)
Dari grafik diatas 10 besar penyakit di Puskesmas Kresek
penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) berada di posisi
teratas yaitu 5477, diikuti gastritis sebanyak 1347 dan hipertensi

10
1227, sedangkan yang ke 10 (sepuluh) yaitu penyakit diare sebanyak
852 kasus.
Selain itu penyakit tidak menular seperti hipertensi dan gastritis
juga banyak terjadi di wilayah Kresek ini, karena jumlah kunjungan yang
berulang-ulang.

1.2.3 Penyakit Menular


Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular terdiri dari :
a. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD dititik beratkan pada
kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) di semua wilayah.

Tabel 1.3

No DESA JUMLAH KASUS MENINGGAL


L P L+P L P L+P
1 KRESEK 2 4 6 0 0 0
2 TALOK 1 1 2 0 0 0
3 RENGED 2 4 6 0 0 0
4 PATRASAN 0 0 0 0 0 0
A
5 PASIRAMP 0 1 1 0 0 0
O
6 KOPER 0 0 0 0 0 0
7 JENGKOL 0 2 2 0 0 0
8 KEMUNIN 0 0 0 0 0 0
G
9 RANCAILA 2 1 3 0 0 0
T
Data Kasus DBD Puskesmas Kresek Tahun 2016

11
7.5

4.5

1.5

0
a b c d e f g h i

Grafik 1.3
Jumlah Penderita DBD Per Desa Puskesmas Kresek Tahun 2016

Keterangan :
a. Kresek (6)
b. Talok (2)
c. Renged (6)
d. Patrasana (0)
e. Pasirampo (1)
f. Koper (0)
g. Jengkol (2)
h. Kemuning (0)
i. Rancailat (3)

b. Malaria
Penyakit malaria adalah penyakit infeksi disebabkan oleh protozoa
parasit golongan Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan Nyamuk
Anopheles. Di wilayah kecamatan Kresek sampai sekarang belum
ditemukan penderita malaria.

c. Filariasis
Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit yang bersifat
kronik (menahun) disebabkan oleh cacing filariasis ditularkan

12
melalui gigitan nyamuk. Penderita filariasis dari 2011 s.d 2014
tidak ditemukan.

1.2.4 Penyakit Menular Langsung


a. Penyakit Diare
Penyakit diare adalah buang air besar lebih dari 3 kali sehari
dengan tinja encer dapat juga disertai darah/lendir.

Tabel 1.4
Kasus Diare Yang Ditangani Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan
Puskesmas Kresek tahun 2016

No DESA DIARE DITANGANI


L P L+P
1 KRESEK 97 101 198
2 TALOK 54 62 116
3 RENGED 87 87 174
4 PATRASANA 38 57 95
5 PASIRAMPO 22 28 50
6 KOPER 29 26 55
7 JENGKOL 19 17 36
8 KEMUNING 14 15 29
9 RANCAILAT 2 8 10
JUMLAH 362 401 763

13
250

200

150

100

50

0
a b c d e f g h i

Grafik 1.4
Jumlah Diare Yang Di Tangani Perdesa di Wilayah Puskesmas Kresek tahun
2016

Keterangan :
a. Kresek (198)
b. Talok (116)
c. Renged (174)
d. Patrasana (95)
e. Pasirampo (50)
f. Koper (55)
g. Jengkol (36)
h. Kemuning (29)
i. Rancailat (10)

14
Dari grafik di atas Desa Kresek menempati urutan pertama sebanyak 198
penderita, diikuti terendah Desa Renged 174 penderita, dan Desa Talok 116
penderita. Adapun daerah terendah penderita diare yang ditangani yaitu Desa
Rancailat sebanyak 10 penderita.

b. Kusta
Penyakit kusta merupakan penyakit kronis yang disebabkan
Mycobacterium leprae dengan masa inkubasi rata-rata 3-5 tahun. Di wilayah
kerja puskesmas Kresek masih ditemukan kasus penyakit kusta baru sebanyak
20 penderita. Penderita Pausi Basiler (PB) / Kusta Kering sebanyak 2 orang
dan kusta Multi Basiler (MB) / Kusta Basah sebanyak 18 orang.

10%

MB PB

90%

Diagram 1.2
DiagramPenderita Kusta Puskesmas Kresek

c. HIV/AIDS/IMS
HIV/AIDS/IMS penyakit ini menular melalui hubungan seksual (vaginal, oral,
anal) dengan pasangan yang sudah tertular. Semakin sering ganti pasangan
semakin besar kemungkinan untuk tertular. Jumlah kasus HIV/AIDS dan Infeksi

15
Menular Seksual (IMS) pada tahun 2016 mennurut data tidak ditemukan kasus
atau zero kasus.

d. Pneumonia
Penyakit Pneumonia adalah penyakit peradangan pada paru yang dapat
disebabkan oleh virus, bakteri, jamur atau parasit juga dapat disebabkan oleh
iritasi kimia/fisik dari paru-paru akibat penyakit lain. Pada tahun 2016 di
Puskesmas Kresek penderita penyakit pneumonia ditemukan dan ditangani
sejumlah 112 kasus.
Diagram 1.3

48%
P 52%L

Kasus
Pneumonia Puskesmas Kresek Tahun 2016

e. TB Paru

16
300

225

150

75

0
L = suspek L = BTA+ P = suspek P = BTA +

Penderita tuberkulosis paru (TB Paru) di puskesmas Kresek tahun 2016


ditemukan suspek 431 kasus sedangkan TB paru BTA + dan diobati sebanyak
58 kasus.

Grafik 1.5
Penderita Kasus Suspek TB Paru BTA +
Puskesmas Kresek Tahun 2016

1.2.5 Status Gizi


Status gizi merupakan ekspresi suatu aspek atau lebih dari nutriture
seorang individu dalam suatu variable atau keadaan tubuh yang merupakan
hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh
dan utilisasinya.
Faktor yang menyebabkan kurangnya gizi baik secara langsung
maupun tidak langsung. Penyebab langsung yaitu makanan anak dan
penyakit infeksi yang mungkin diderita oleh anak dan penyebab tidak
langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta
pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.

Balita Dengan Gizi Buruk

17
Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang
buruk. Dikarenakan akibat kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis
makanan yang tidak tepat atau dikarenakan seperti adanya penyakit infeksi
yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi dari makanan.
Status gizi balita di wilayah Puskesmas Kresek memerlukan
perhatian yang lebih terhadap penanganan gizi buruk dan pada balita
Bawah Garis Merah (BGM) agar tidak menjadi gizi buruk.
Di wilayah kecamatan Kresek jumlah balita di Bawah Garis Merah
(BGM) dari tahun 2016 terdapat 34 balita.

35%

Laki-laki = 12 Perempuan = 22

65%

Jumlah balita gizi buruk


ini kebanyakan karena tingkat ekonomi masyarakat dan juga kesalahan
orang tua dalam mengatur pola asuh serta pola makan anaknya.
Diagram 1.4
Kasus Balita Gizi Buruk Yang Ditemukan dan Di Rawat

1.3 SITUASI UPAYA KESEHATAN


1.3.1 Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4

18
Standar pelayanan antenatal pada ibu hamil minimal empat kali
pada masa kehamilan dari triwulan pertama sampai dengan triwulan
ketiga.
Ibu hamil memiliki banyak faktor resiko terhadap keselamatan ibu
hamil dan janinnya. Pemeriksaan ibu hamil pada trimester 1 di puskesmas
dan di posyandu dilakuakn dengan sistem 10T seperti timbang berat
badan, ukur tekanan darah, imunisasi TT 1, ukur tinggi fundus uteri,
pemberian tablet Fe1, temu wicara, tes laboratorium.
1600

1200

800
Region 1

400

0
K1 K4

Pada tahun 2016 jumlah ibu hamil di puskesmas Kresek terdapat 1.461 ibu
hamil, cakupan kunjungan K1 sebanyak 1.450 orang (99.2%) dan
kunjungan K4 1.191 orang (81.5%).
Grafik 1.6
Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 dan K4

Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan


Pertolongan persalinan yang aman dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang kompeten dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Pencegahan infeksi

b. Metode pertolongan persalinan sesuai standar

19
c. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ke tingkat pelayanan
yang lebih tinggi

d. Melakukan MD

e. Memberikan injeksi Vit K 1 dan salep mata pada bayi baru lahir

0%

Nakes Non Nakes

100%

Dari jumlah 1.394


ibu bersalin, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada
tahun 2016 sebanyak 1.391 orang.
Diagram 1.5
Pertolongan Persalinan di Puskesmas Kresek

Cakupan Kunjungan Neonatus KN 1 dan KN Lengkap


Pada usia kurang dari 1 bulan bayi merupakan golongan yang
beresiko tinggi terhadap kejadian gangguan kesehatan, sehingga berbagai
upaya dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut dengan melakukan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan pada
neonatus dan cara perawatan bayi yang benar.

20
Pelayanan neonatus bayi umur 0-28 hari yang mendapatkan
pelayanan kesehatan minimal 3 kali (KN 3), yaitu 1 kali pada 6-48 jam
(KN 1), 1 kali 3-7 hari dan 1 kali pada umur 21-28 hari.
712.5

700

687.5

675
Laki-laki Perempuan

662.5

650

637.5
Jumlah Bayi 1.366

Pada tahun 2016 cakupan kunjungan neonatus 1 kali (KN 1) sejumlah


1.366 bayi dan kunjungan lengkap (KN 3) sejumlah 1.366 bayi. Semua
neonatus di wilayah puskesmas Kresek mendapatkan pelayanan kesehatan.

Grafik 1.7
Jumlah Kunjungan Neonatal KN1 dan KN Lengkap
Puskesmas Kresek Tahun 2016

Cakupan BBLR

21
44%
Laki-laki Perempuan
56%

Jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) tahun 2016
sebanyak 71 atau mencapai (5.2%).

Diagram 1.6
Jumlah BBLR Berdasarkan Jenis Kelamin Puskesmas Kresek Tahun 2016

1.3.2 Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah Dan Usia Sekolah


Cakupan Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/MI
Dari seluruh jumlah siswa-siswi SD di Puskesmas Kresek terdapat
1.181 siswa dan dalam penjaringan pemeriksaan kesehatan siswa pada
tahun 2016 tingkat SD sejumlah 1.160 siswa terdiri dari 614 siswa dan 546
siswi.

22
1.4 SITUASI SUMBER DAYA
1.4.1 Sumber Daya
Sarana Prasarana
UPT Puskesmas Kresek memiliki gedung utama dan gedung
tambahan yang diuraikan sebagai berikut:
a. Gedung Utama / Rawat Jalan :
Ruang Loket / Pendaftaran
Ruang Tunggu
Ruang Periksa BPU
Ruang Periksa Kesehatan Anak
Ruang Gigi
Kamar Obat / Apotik
Ruang Periksa Kesehatan Ibu
Ruang Gudang Farmasi
Ruang Administrasi Bidan
Ruang Tata Usaha
Ruang Pelayanan Terbatas 24 jam (UGD)
Ruang Kepala Puskesmas
Ruang Bendahara
Mushala Untuk Pegawai
Ruangan Kamar Rawat Inap dengan 5 tempat tidur
Ruangan Persalinan (PONED)
Ruang Klinik Gizi
Ruang Aula
Ruang Laboratorium
b. Gedung Tambahan yang berada di depan gedung utama terdiri dari:

23
Ruang Periksa TB Paru
Dan Pos Satpam
c. Untuk sarana penunjang kegiatan Puskesmas dilengkapi antara lain:
Mobil Puskesmas Keliling 1 Unit,
Mobil Ambulans Untuk Merujuk Pasien Gawat Darurat 1 Unit,
Sepeda motor dinas 4 Unit.
Ketenagaan

24
Untuk melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan di UPT Puskesmas
Perawatan Kresek mempunyai tenaga 47 orang dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 1.5 Kategori Tenaga (Sumber : Puskesmas Kresek Tahun 2016 )
1.4.2 Fasilitas Penunjang Lainnya

Tabel 1.6 Fasilitas Penunjang (Sumber : Puskesmas Kresek Tahun 2016)

NO KATEGORI STATUS JUMLAH


TENAGA PNS PTT/TKK HONORER
1. Kepala Puskesmas 1 - -- 1
2. Kepala Tata Usaha 1 - - 1
3. Dokter Umum - 2 - 2
4. Dokter Gigi 1 - - 1
5. S2 Kesehatan 1 - - 1
6. SKM 1 - - 1
7. D IV Kebidanan - - 2
8. D III Kebidanan 5 11 3 18
9. D 1 Kebidanan 1 - - 1
10. S 1 Keperawatan 1 - - 1
11. D IV Keperawatan - - - -
12. D III Keperawatan 4 - 3 7
13. Perawat Kesehatan 1 - - 1
14. Sanitarian 1 - - 1
15. Nutrition - - - -
16. Perawat Gigi - - - -
17. Pekarya - - - -
18. Asisten Apoteker - - - -
19. Analis Kesehatan 1 - - 1
20. SMA / Administrasi - - 3 3
21. Petugas Kebersihan - 2 - 2
22. Sopir - 1 - 1
23. Petugas Keamanan - 5 - 5
Jumlah 21 21 9 51

25
Pembiayaan Kesehatan
Selain sumber daya manusia dan sarana dalam suatu kesehatan

No. Fasilitas Kesehatan Jumlah

1. Rumah Sakit Umum 0


2. Rumah Sakit Jiwa 0
3. Rumah Sakit Bersalin 0
4. Rumah Sakit Khusus Lainnya 0
5. Puskesmas 1 ( Unit )
6. Poskesdes 9
7. Puskesmas Keliling 13 ( Pos )
8. Posyandu 57 ( Pos )
9. Polindes 3 ( Unit )
10. Posbindu 9 ( Pos )
11. Rumah Bersalin 0
12. Balai Pengobatan / Klinik 4
13. Apotik 3 ( Unit )
14. Toko Obat 0
15. Praktek Dokter Umum 4 ( Unit )
16. Praktek Dokter Gigi 2
17. Praktek Dokter Spesialis 0
JUMLAH 94

juga memerlukan biaya operasional yang merupakan salah satu factor


pendukung dalam peningkatan pelayanan, baik kegiatan dalam gedung
maupun luar gedung. Adapun sumber biaya yang dipergunakan Puskesmas
Kecamatan Kronjo untuk menunjang pelaksanaan Program Puskesmas
berasal dari APBD Kabupaten, (Operasional), Program Jaminan Kesehatan
Nasional
(JKN) juga terdapat sumber biaya dari Bantuan Operasional
Kesehatan (BOK). Berikut gambaran persentase sumber biaya sebagai
berikut:

26
1.5 Gambaran Keluarga Binaan
Lokasi Keluarga Binaan
Keluarga binaan bertempat di RT 020/RW 001, Kampung Bojong,
Desa Kresek, Kelurahan bojong, Kecamatan Kresek, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten. Diagnosis komunitas, dilaksanakan dari
tanggal 29 maret 2017 sampai dengan 7 april 2017. Adapun lokasi
pemukiman keluarga binaan kami adalah sebagai berikut:

Gambar 1.2 Denah rumah keluarga binaan

1.5.1 Masalah Medis dan Non Medis Pada Keluarga Binaan


1. Keluarga Binaan 1 Tn. Kaji
Lokasi Keluarga Binaan

27
No Nama Status Jenis Usia Pekerjaa Pendidika Penghasila
Keluarga Kelamin n n n
1 Tn. Kaji Kepala Laki-laki 46 th Buruh SD Rp 100.000
Per hari
Keluarga Harian
Lepas
2 Ny. Akilah Istri Perempuan 43 th Ibu SD -
Rumah
Tangga
3 Nn. Anak Perempuan 21 th Buruh SMA Rp 3.000.000
Per Bulan
Fitriyani Pabrik
4 Tn. Ahmad Anak Laki-laki 17 th Tidak SMP -
Roni Bekerja
5 An. M. Anak Laki-laki 13 th Pelajar Belum -
Uham Tamat
Adfirman SMP
6 An. Afrijal Anak Laki-laki 5 th Belum - -
Sekolah
Keluarga binaan bertempat di RT 020/ RW 001 Kampung Bojong, Desa
Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Diagnosis komunitas,
dilaksanakan dari tanggal 31 Maret sampai dengan 01 April 2017. Adapun lokasi
pemukiman keluarga binaan kami adalah sebagai berikut: keluarga Tn. Kaji yang
beranggotakan enam orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah.
Enam anggota tersebut di antaranya :

Tabel 1.7. Anggota Keluarga Tn. Kaji

Keluarga binaan adalah keluarga Tn. Kaji yang tinggal di RT 020 RW 001
Desa Kresek, Kampung Bojong Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Keluarga ini terdiri dari seorang kepala keluarga, istri dan 4 orang anak. Tn.
Kaji bekerja sebaga buruh harian lepas dengan latar belakang pendidikan SD.
Penghasilan Tn. Kaji tidak menentu tergantung pekerjaan yang
dikerjakannya, jika sedang ada kerjaan Tn. Kaji mendapatkan penghasilan
sebesar Rp. 100.000 per hari. Istrinya, Ny. Akilah bekerja sebagai ibu rumah
tangga dan latar belakang pendidikan Ny. Akilah hanya sampai bangku SD.

28
Pernikahan Tn. Kaji dan Ny. Akilah dikaruniai empat orang anak bernama
Nn.Fitriyani yang sekarang berusia 21 tahun, Tn. Ahmad Roni yang sekarang
berusia 17 tahun, An. M.Uham Adifirman yang sekarang berusia 13 tahun dan
An. Afrijal yang sekarang berusia 5 tahun.
i. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Tn. Kaji tinggal disebuah bangunan rumah diatas tanah seluas 8
x 12 m2. Rumah terdiri dari sebuah ruang tamu bercampur dengan ruang tv
dan ruang makan berukuran 2 x 2,5 m2. Ventilasi di rumah tersebut baik.
Kemudian terdapat 3 buah kamar tidur, dengan setiap kamar memiliki ukuran
yang sama 2 x 2,5 m2, terdapat satu buah tempat tidur serta terdapat jendela
yang mengarah keluar rumah. Di bagian tengah terdapat ruang keluarga
dengan ukuran 2,5 x 2 m2. Di bagian belakang terdapat 1 dapur dengan ukuran
2 x 3,5 m2. Rumah ini memiliki kamar mandi dan gudang. Kamar mandi
berukuran 2 x 2,5 m2, lantai kamar mandi menggunakan ubin/keramik,
dinding bak mandi menggunakan semen. Didekat dapur terdapat tong
berwarna biru untuk penampungan air yang akan digunakan untuk memasak.
Rumah ini mempunyai 1 pintu depan dan 1 pintu belakang, 2 jendela di
ruang tamu (bagian depan rumah). Seluruh ruang di rumah ini teralasi dengan
lantai keramik, dinding rumah terbuat dari semen dan bata, kemudian atap
rumah terbuat dari triplex. Di dalam rumah keluarga Tn. Kaji tidak terdapat
tempat sampah, sampah rumah tangga hanya dikumpulkan menggunakan
plastik atau kardus di dekat pintu belakang rumah kemudian dibunag di
samping rumah.
Keluarga Tn. Kaji sering menggunakan air sanyo (air sumur) sebagai
sumber air untuk keperluan mandi, memasak, mencuci baju dan buang air
besar. Jika keperluan untuk minum sehari hari keluarga Tn. Kaji sering
menggunakan air isi ulang.

29
Gambar.1.3. Denah rumah keluarga Tn. Kaji

ii. Lingkungan Pemukiman


Rumah Tn. Kaji terletak di pemukiman yang padat yang tidak ada jarak dari
rumah satu dengan yang lainnya. Di bagian depan terdapat jalan yang bisa
dilewati motor, bagian belakang terdapat tanah kosong. Di bagian kiri terdapat
tanah kosong yang berisi tumpukan sampah. Terdapat selokan untuk mengalirkan
limbah cair.

iii. Pola Makan

30
Keluarga Tn. Kaji memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Menu
yang biasa dimakan adalah tahu, tempe dan terkadang lauk berupa ikan serta
sayur. Keluarga Tn. Kaji sesekali mengkonsumsi buah-buahan pepaya, jika ada
uang lebih.

iv. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak


Ny. Akilah melahirkan anaknya secara normal di bidan Sofi di daerah
tanggerang. Ny. Akilah memberikan ASI ekslusif selama 7 bulan pada anak
pertama sampai keempat. Ny. Akilah rutin membawa anak nya ke posyandu saat
anaknya masih kecil.

v. Kebiasaan Berobat
Menurut Tn. Kaji, Biasanya apabila sakit mereka terbiasa berobat ke klinik,
bidan terdekat atau puskesmas kresek.

vi. Riwayat Penyakit


Gangguan kesehatan yang sering dialami anggota keluarganya antara lain
batuk, pilek, dan diare.

vii. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari


Keluarga Tn. Kaji selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan
sabun, maupun sesudah selesai aktivitas tetapi tidak menggunakan sabun hanya
menggunakan air tampungan dan tidak mengetahui tentang mencuci tangan yang
baik dan benar. Keluarga Tn. Kaji mengaku sama sekali tidak pernah berolahraga.

viii. Perilaku Membuang Sampah


Rumah keluarga Tn. Kaji berada di lingkungan perumahan yang padat
dibagian kiri terdapat tanah kosong yang berisi tumpukan sampah. Tn. Kaji
mengaku bahwa mereka membuang sampah di tanah kosong samping rumah
bersama dengan tetangga-tetangga sekitarnya kemudian sampah-sampah tersebut
didiamkan sampai menumpuk banyak.

31
Tabel 1.8 Faktor Internal Keluarga Tn. Kaji
No Faktor Internal Permasalahan
1 Kebiasaan Merokok Keluarga Tn. Kaji tidak memiliki kebiasaan
merokok
2 Olah raga Keluarga Tn. Kaji tidak ada yang memiliki
kebiasaan berolahraga. Bahkan hampir tidak
pernah melakukan olahraga.
3 Pola Makan Tn. Kaji memasak sendiri untuk makan keluarga,
menu makanan yang sering dimakan adalah tahu
dan tempe, terkadang terdapat lauk berupa ikan.
4 Pola Pencarian Apabila sakit, mereka berobat ke klinik terdekat,
Pengobatan ke bidan didekat rumah Tn. Kaji dan ke
Puskesmas Kresek
5 Menabung Keluarga Tn. Kaji tidak memiliki kebiasaan
menabung
6 Aktivitas sehari-hari a. Aktivitas Tn. Kaji bekerja serabutan jika ada
pekerjaan terkadang.
b. Ny. Akilah tidak bekerja hanya sebagai ibu
rumah tangga
c. Anaknya pertamanya Nn. Fitriyani sudah
bekerja sebagai buruh pabrik.
d. Anak ke duanya Tn. Ahmad Roni sudah tamat
SMP namun belum bekerja.
e. Anak ke tiganya An. M. Uham Adfirman
belum tamat SMP.
f. Anak ke empatnya An. Afrijal belum sekolah.
7 Perilaku mencuci Keluarga Tn, Kaji tidak mengetahui tentang
tangan mencuci tangan yang baik, dan jarang mencuci
tangan

32
Tabel 1.9 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Kaji
No Kriteria Permasalahan
2
1. Luas Luas rumah 8 x 12 m
Bangunan
2. Ruangan Dalam rumah terdapat, satu ruang tamu, tiga kamar tidur ,
dalam rumah satu ruang keluarga, satu kamar mandi, dapur dan gudang.
3. Ventilasi Terdapat 7 ventilasi pada setiap ruangan, empat ventilasi di
ruang tamu, tiga ventilasi di setiap kamar tidur
4. Pencahayaan a. Terdapat 2 jendela pada ruang tamu dan sering dibuka.
b. Terdapat 3 jendela pada kamar.
c. Terdapat 4 buah lampu di dalam rumah, 3 berwarna
putih. Lampu terdapat di ruang tamu, kamar tidur dan
dapur.
5. MCK Terdapat tempat untuk mandi dan cuci piring, terdapat
tempat buang air besar.
6. Sumber Air Dalam kesehariannya seperti mandi, memasak, mencuci
baju keluarga Tn. Kaji menggunakan air sanyo (air sumur).
Air sanyo (air sumur) yang digunakan berwarna keruh,
sedikit berbau, dan terdapat ampas. Keluarga Tn. Kaji
jarang membersihkan bak mandi. Sumber air yang
digunakan untuk minum dengan membeli air galon isi
ulang.
7. Saluran Air Limbah rumah tangga di buang ke saluran yang akan
pembuangan menembus ke tempat khusus pembuangan limbah. Akan
limbah tetapi jarak dari rumah ke tempat pembuangan limbah
sedikit jauh.
8. Tempat Sampah rumah tangga di kumpulkan didalam rumah
pembuangan menggunakan plastik. Jika plastik sampah sudah penuh,
sampah sampah akan dibuang ke tanah kosong di sebelah kiri
rumah & ditumpuk.
9. Lingkungan Di samping kanan rumah terdapat rumah tetangga. Di
sekitar rumah lingkungan sekitar rumah keluarga Tn. Kaji masih banyak
sampah yang berserakan dikarenakan penduduk sekitar

33
kurang peduli dengan lingkungannya, karena jarang
gotong royong.

Masalah Medis
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Riwayat Diare
Masalah Non Medis
Tingkat pendidikan yang kurang.
Membuang sampah di samping rumah.
Kurangnya pencahayaan di dalam rumah.
Ventilasi yang tidak baik.
Kurangnya kesadaran akan kesehatan.
Kurang berolahraga
Penggunaan air bersih
Cuci tangan tidak memakai sabun

2. Keluarga Binaan 2 Tn. Aksan


i. Data Dasar Keluarga Tn. Aksan
Keluarga binaan Tn. aksan terdiri dari 5 anggota keluarga, yaitu
Tn. Aksan sebagai kepala keluarga, istrinya bernama Ny. Ridah
mempunyai seorang anak bernama An. Eka, An. Bagas, An. Fahri.

Tabel 1.10 Data Dasar Keluarga Tn. Aksan

No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan


Keluarga Kelamin

1 Tn. Aksan Suami L 40 SMP Tukang Rp.


Service 500.000/bula
elektronik

2 Ny. Rida Istri P 35 SMP Ibu rumah -

34
tangga

3 An. Eka Anak I P 19 SMA Tidak -


berkerja

4 An Bagas Anak II L 14 SMP Tidak -


berkerja

5 An Fahri Anak III L 8 SD Tidak -


berkerja

i. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. aksan tinggal di RT 020/RW 001 Kampung Bojong,


Desa Kresek. Di Rumah ini Tn. Aksan tinggal bersama istri dan seorang
anaknya. Saat ini Tn. berusia 40 tahun, bekerja sebagai tukan service
elektronik dengan penghasilan sekitar Rp 500.000,00/bulan, dengan latar
belakang pendidikan SMP. Istrinya Ny. Ridah yang berusia 35 tahun, tidak
bekerja. Tn. aksan memiliki seorang anak 3, yang pertama An Eka yang
berusia 19 tahun, yang kedua An Bagas yang berusia 14 tahun, yang
ketiga An Fahri yang berusia 8 tahun.
Keluarga Tn. Aksan tinggal disebuah bangunan rumah berukuran
52 m. Ventilasi di rumah tersebut sangat tidak baik karena hanya terdapat
sebuah ventilasi yang terletak diatas pintu masuk rumah dan itupun tidak
pernah terbuka karena rusak dan tertimpa barang-barang sehonnga tidak
ada cahaya matahari yang dapat masuk lewat ventilasi tersebut. Pada ruang
pertama terdapat teras, di teras terdapat 2 pintu, 1 pintu kanan merupakan
ruang pertama kamar anak pertama, 1 pintu sebelah kiri merupakan
ruangan kedua tempat kamar anak terakhir. masuk kedalam rumah terdapat
ruang ke 3, ruang ke 3 digunakan sebagai ruang tamu. Disamping ruang
tamu terdapat ruangan ke 4, yaitu ruangan kamar tn aksan dan ny ridah.
Disamping kanan terdapat ruangan kelima tempat dapur, yang dibarengi
dengan tempat cucian, WC serta Sumur.
Rumah ini mempunyai 1 pintu depan, 1 daun pintu, 2 jendela di
ruang pertama (bagian depan rumah). Bagian luar rumah lantai terbat dari

35
semen, dan seluruh ruangan memakai ubin, , dinding rumah terbuat dari
bata merah dan sebagan semen, kemudian atap rumah terbuat dari genteng
tanah liat dan bambu. Keluarga Tn.Aksan menggunakan air sumur sebagai
sumber air untuk keperluan mandi dan mencuci dan minum dan memasak.
Keluarga Tn.Aksan mengaku selalu mencuci tangan setelah melakukan
aktivitas dan sebelum makan. Namun jarang memakai sabun.

Gambar 1.4. Denah rumah Tn.Aksan

ii. Lingkungan Pemukiman


Rumah Tn.Aksan terletak di pemukiman yang padat penduduk. Di
bagian depan terdapat jalan setapak, di samping kiri terdapat rumah
lainnya yang hanya berbataskan tembok. Terdapat sebuah tempat

36
penampungan sampah bagi warga kontrakan yang terletak di lahan kosong
sebelah rumah tn aksan. Sampah tersebut menumpuk yang menimbulkan
asap ke sekitar rumah.

iii. Pola Makan


Ny.Ridah memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia sering
memasak makanan dengan sayur-sayuran. Ny. Ridah mengaku makanan
tidak bisa sealu bergonta ganti karna tergantung peghasilan yang didapat.
Sehari-harinya mereka makan besar maksimal 2 kali. Untuk sarapan, Ny.
Rida mengaku tidak setiap hari menyiapkan sarapan pagi. Mereka juga
mengatakan bahwa mereka mencuci tangannya sebelum dan sesudah
makan.

iv. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak


Anak Tn.Aksan lahir di bidan desa daerah desa kresek. Setiap
kehamilan, Ny.Rida mengaku tidak pernah rutin untuk mengontrol
kandungannya ke bidan. Untuk imunisasi, Ny. Rida tidak pernah rutin
membawa anaknya untuk dilakukan imunisasi di Posyandu karna tidak
tahu jadwal imunisasi. Ny.Arna mengaku anaknya diberikan ASI eksklusif
sampai 6 bulan, kemudian setelah itu anaknya diberikan makanan
tambahan selain ASI. Kemudian saat ini Ny. Arna menggunakan KB
implan.

v. Kebiasaan Berobat
Dalam segi kesehatan, keluarga Tn. Aksan berobat ke sebuah
puskesmas kresek atau pun bidan desa dekat dengan rumahnya untuk
berobat jika terdapat salah satu anggota keluarganya yang sakit. Gangguan
kesehatan yang sering dialami anggota keluarganya antara lain batuk,
pilek, diare, demam. Menurut Ny. Rida jika penyakit yang dialami tidak
dapat sembuh cepat, baru datang ke puskesmas.

vi. Riwayat Penyakit


Istri dari Keluarga Tn. Aksan mempunyai riwayat TB paru,
menurut Ny. Ridha istri dari Tn, aksan pengobatan sudah dilakukan selama

37
6 bulan. Dan Anak ke III harus selalu bulak balik puskesmas untuk rutin
transfusi darah, karna mengdap thalasemia

vii. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari


Tn. Aksan, memiliki kebiasaan merokok, dalam satu hari mampu
menghabiskan sebungkus rokok dan sering merokok di dalam rumah.
Keluarga Aksan mengaku mencuci tangan sebelum makan dan jika tangan
tampak kotor. Tn. Aksan beserta istri dan anak tidak memiliki kebiasaan
berolahraga. Tn. Aksan beserta keluarga memiliki kebiasaan mandi dua
kali sehari dan sikat gigi setiap kali mandi. Dan juga Ny. Ridha mengaku
membersihkan rumahnya setiap hari.

viii. Perilaku Membuang Sampah


Rumah keluarga Tn. Aksan berada di lingkungan perumahan
yang padat, di belakang rumah tersebut terdapat tanah kosong tempat
pembuangan sampah. Tn. Aksan mengaku bahwa mereka membuang
sampah di tanah kosong samping rumah bersama dengan tetangga-
tetangga sekitarnya kemudian sampah-sampah tersebut dibakar saat sudah
menumpuk.

Tabel 1.11. Faktor Internal Keluarga Tn. Aksan

38
No Faktor Internal Permasalahan
1 Kebiasaan Merokok Tn.Aksan menghabiskan sebungkus rokok setiap
harinya
2 Olah raga Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan
berolahraga
3 Pola Makan Ny. Ridah mengaku makanan tidak bisa sealu bergonta
ganti karna tergantung peghasilan yang didapat. Sehari-
harinya mereka makan besar maksimal 2 kali. Untuk
sarapan, Ny. Rida mengaku tidak setiap hari
menyiapkan sarapan pagi
4 Pola Pencarian Menurut Ny. Rida jika penyakit yang dialami tidak
Pengobatan dapat sembuh cepat, baru datang ke puskesmas.

5 Menabung Mereka tidak pernah menabung karena merasa pas-


pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
6 Aktivitas sehari-hari a. Bapak bekerja sebagai tukang service elektronk,
bekerja setiap hari dari jam 6 pagi sampai jam 17.00
sore.
b. Ibu sebagai ibu rumah tangga.
c. Anak sekolah

7 Alat kontrasepsi Di keluarga Tn. Aksan menggunakan implan.


8 Riwayat kesehatan Ny, Rida mempunyai riwayat TB paru, menurut Ny.
Ridha istri dari Tn, aksan pengobatan sudah dilakukan
selama 6 bulan. Dan Anak ke III harus selalu bulak balik
puskesmas untuk rutin transfusi darah, karna mengdap
thalasemia

Tabel 1.12. Faktor Eksternal Keluarga Tn. Aksan


No Kriteria Permasalahan
2
1. Luas Bangunan Luas rumah 44m

39
2. Ruangan dalam rumah Ruang pertama berukuran 3x2m, ruang kedua
berukuran 3x2m, ruang ketiga berukuran 3x2m.,
ruang ke empat 3x2m.

3. Jamban Keluarga Tn. Aksan memiliki jamban

4. Ventilasi Tidak ada ventilasi

5. Pencahayaan Terdapat 2 lampu pencahayaan yang kurang baik di


ketiga ruang tersebut.
6. Sumber Air Dalam kesehariannya Tn. Aksan menggunakan air
sumur yang digunakan untuk mandi dan mencuci
baju, serta untuk kebutuhan air minum dan memasak
sehari-hari.
7. Saluran pembuangan Tidak terdapat saluran pembuangan limbah.
limbah
8. Tempat pembuangan Keluarga Tn.Aksan tidak memiliki tempat
sampah pembuangan sampah didepan rumahnya dan
membuang sampahnya di lahan kosong di sekitar
rumahnya.
9. Lingkungan sekitar Di samping kiri rumah terdapat rumah tetangga yang
rumah hanya dibatasi oleh sebuah tembok. Warga
membakar sampahnya yang menimbulkan asap
kelingkungan sekitar kontrakan.

Masalah Medis dan Non Medis Pada Keluarga Binaan


Masalah Medis
ISPA
Riwayat Diare
Riwayat Tb paru

40
Thalasemia

Masalah Non Medis


Terpapar asap pembakaran sampah yang mencemari lingkungan sekitar,
Perilaku Merokok
Ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah didalam rumah maupun dil
uar rumah, sehingga keluarga membuangnya ke lahan kosong dekat rumah
Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah
Tidak adanya ventilasi di dalam rumah
Tidak tersedia jamban sehat
Kebiasaan berolahraga
Letak penampungan sampah yang sangat dekat dengan lingkungan tempat
tinggal.
Penggunaan air bersih
Pemahaman tentang kesehatan
Tidak adanya penyuluhan serta organisasi remaja remaja

3. Keluarga Binaan 3 Tn. Sahab

Keluarga binaan adalah keluarga Tn. Sahab yang beranggotakan tujuh


orang anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Tujuh anggota tersebut di
antaranya:

Tabel 1.13. Keluarga Tn. Sahab


No Nama Status Jenis Usia Pekerjaa Pendidi Penghasilan
Keluarga Kelamin n kan
1 Tn. Sahab Kepala Laki-laki 60 th Kuli SD Rp 4.000.000
Per bulan
Keluarga
2 Ny. Istri Perempuan 45 th Ibu SMP Tidak menentu
Fatimah Rumah
Tangga
3 Ny Ibu dari Perempuan 70 th Ibu SD -
Maisarah Istri Rumah
Tangga

41
4 Tn. Syarif Anak Laki-laki 22 th Pelajar SMA -
Hidayat
5 Tn. Sepupu Laki-laki 22 th Pelajar SMA -
Ramadhan
6 An. Sylvi Anak Perempuan 12 th Pelajar SD -

7 An. Supina Anak Perempuan 9 th Pelajar SD -

Keluarga binaan adalah keluarga Tn. Sahab yang tinggal di RT 20 RW 01


Desa Kresek, Kampung Bojong Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Keluarga ini terdiri dari seorang kepala keluarga, seorang istri, seorang nenek,
seorang sepupu ,dan tiga orang anak. Tn. Sahab kepala keluarga berusia 60
tahun dengan latar belakang pendidikan terakhir SD. Tn. Sahab sebagai
pekerja serabutan dipasar membantu orang lain berjualan di pasar. Untuk
keperluan sehari-hari Tn. Sahab menggunakan uang yang didapat hari itu
juga.

Bangunan Tempat Tinggal


Keluarga Tn. Sahab tinggal disebuah rumah bangunan permanen seluas
80 m2. Seluruh dinding rumah terbuat dari tembok. Sebagian lantainya terbuat
dari semen dan tanah, atap rumah menggunakan langit-langit yang terbuat
dari triplek. Rumah Tn. Sahab terdiri dari sebuah teras, ruang keluarga, kamar
tidur 3 buah, sebuah dapur, dan sebuah kamar mandi. Ruang keluarga
beralaskan ubin, terdapat lemari, selain itu merupakan tempat biasanya
keluarga berkumpul. Menurut Ny. Fatimah keluarganya mandi, dan mencuci
baju di kamar mandi dengan menggunakan air sungai yang dialirkan
menggunakan pompa.

42
Gambar 1.5 Denah Rumah Tn. Sahab
Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn. Sahab terletak di pemukiman yang padat yang antara rumah satu
dengan yang lainnya. Di bagian depan terdapat jalan yang bisa dilewati satu
mobil, bagian belakang terdapat sungai. Tidak ada selokan untuk mengalirkan
limbah cair yang letaknya di belakang rumah dan tidak ada tempat sampah
disekitar pemukiman.

Pola Makan
Keluarga Tn. Sahab memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari.
Menu yang biasa dimakan adalah tahu, tempe dan terkadang sayur. Keluarga Tn.
Sahab sesekali mengkonsumsi daging dan buah-buahan pepaya, jika ada uang
lebih.

43
Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Ny. Fatimah melahirkan anaknya secara normal di bidan daerah Kresek. Ny.
Fatimah memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pada anak-anaknya. Ny.
Fatimah rutin membawa anak nya ke poyandu saat anaknya masih kecil.

Kebiasaan Berobat
Menurut Ny. Fatimah, biasanya apabila sakit mereka terbiasa minum obat
warung.

Riwayat Penyakit
Gangguan kesehatan yang sering dialami anggota keluarganya antara lain
batuk, pilek, dan demam.

Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari


Keluarga Ny. Fatimah jarang mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
dengan sabun, maupun sesudah selesai aktivitas tetapi tidak menggunakan sabun
hanya menggunakan air tampungan dan tidak mengetahui tentang mencuci tangan
yang baik dan benar. Keluarga Ny. Fatmah mengaku sama sekali tidak pernah
berolahraga.

Perilaku Membuang Sampah


Rumah keluarga Ny. Fatimah berada di lingkungan perumahan yang padat,
di belakang rumah tersebut terdapat tanah kosong tempat pembuangan sampah.
Ny. Fatimah mengaku bahwa mereka membuang sampah di tanah kosong dekat
rumah bersama dengan tetangga-tetangga sekitarnya kemudian sampah-sampah
tersebut dibakar saat sudah menumpuk.

44
Tabel 1.14 Faktor Internal Keluarga Tn. Sahab
No Faktor Internal Permasalahan
1 Kebiasaan Merokok Keluarga Tn. Sahab memiliki kebiasaan merokok
2 Olah raga Keluarga Tn. Sahab tidak ada yang memiliki
kebiasaan berolahraga. Bahkan hampir tidak pernah
melakukan olahraga.
3 Pola Makan Ny. Fatimah memasak sendiri untuk makan
keluarga, menu makanan yang sering dimakan
adalah tahu dan tempe.
4 Pola Pencarian Pengobatan Apabila sakit, mereka membeli obat warung.
Apabila tidak sembuh, mereka berobat ke
Puskesmas Kresek.
5 Menabung Keluarga Tn. Sahab tidak memiliki kebiasaan
menabung
6 Aktivitas sehari-hari g. Aktivitas Tn. Sahab bekerja serabutan sebagai
kuli di pasar jika ada pekerjaan terkadang.
h. Aktivitas Ny. Fatimah sebagai ibu rumah tangga
dan sesekali berjualan membantu keuangan
keluarga
i. Anak pertama Tn. Syarif Hidayat sudah lulus
SMA tetapi masih kerja serabutan
7 Perilaku mencuci tangan Keluarga Tn. Sahab tidak mengetahui tentang
mencuci tangan yang baik, dan jarang mencuci
tangan

45
Tabel 1.15 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Sahab
No Kriteria Permasalahan
2
1. Luas Bangunan Luas rumah 13x8m

2. Ruangan dalam Dalam rumah terdapat, satu ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi
rumah dan dapur.
3. Ventilasi Terdapat ventilasi pada seluruh ruangan rumah.

4. Pencahayaan d. Terdapat 3 jendela pada ruang tamu, tetapi jarang dibuka.


e. Terdapat jendela pada kamar.
f. Terdapat 4 buah lampu di dalam rumah, 3 berwarna putih. Lampu
terdapat di ruang tamu, dan kamar tidur

5. MCK Terdapat kamar mandi dan toilet. Lantai yang sudah dikeramik.
6. Sumber Air Dalam kesehariannya keluarga Tn. Sahab menggunakan air yang
berasal dari sungai
7. Saluran Air Limbah rumah tangga di buang ke parit belakang rumah dan air
pembuangan selalu menggenang
limbah
8. Tempat Sampah rumah tangga di buang di tanah kosong dekat rumah dan
pembuangan kemudian di bakar
sampah
9. Lingkungan Tidak terdapat perkarangan untuk menanam tanaman
sekitar rumah

Masalah Medis
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Diare

Masalah Non Medis


Tingkat pendidikan yang kurang.
Membuang sampah tidak pada tempatnya
Kurangnya pencahayaan di dalam rumah.
Ventilasi yang tidak baik.
Menggunakan air sungai sebagai kebutuhan mandi dan mencuci

46
Kurangnya kesadaran akan kesehatan.
Kurang sadarnya akan perilaku olahraga
Kurangnya perilaku hidup bersih sehat
Kurangnya perilaku mencuci tangan dengan baik dan benar

4. Keluarga Binaan 4 Ny. Muflikah

No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan


Keluarga Kelamin

1 Ny. Muflikah Kepala P 52 SMP Wiraswasta Rp.


Keluarga 400.000/bula

2 Tn. Ikhwan Anak L 25 SMA Wiraswasta -


Setiadi

3 Ny. Juminah Orang tua P 72 SD Ibu rumah -


tangga

Tabel 1.16 Data Dasar Keluarga Ny. Muflikah

Data Dasar Keluarga Ny. Muflikah


Keluarga binaan Ny. Muflikah terdiri dari 6 anggota keluarga, yaitu
Ny. Muflikah sebagai kepala keluarga, suaminya Tn. M. Sani telah
meninggal dunia 6 tahun yang lalu. Ny. Muflikah memiliki 3 orang anak,
namun yang tinggal bersamanya hanya anak bungsunya yang bernama Tn.
Ikhwan Setiadi dan orangtuanya bernama Ny. Juminah. 2 anak Ny.
Muflikah yang lain sudah menikah dan tinggal dirumahnya masing-masih.
Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Ny. Muflikah tinggal di RT 020/RW 001 Kampung
Bojong, Kecamatan Kresek. Di Rumah ini Ny. Muflikah tinggal bersama
orangtuanya dan seorang anaknya. Saat ini Ny. Muflikah berusia 52 tahun,
dengan latar belakang pendidikan SMP bekerja sebagai wiraswasta yaitu
berdagang es di rumah dengan penghasilan Rp.400.000,00/bulan.
Orangtua Ny. Muflikah yang berusia 72 tahun, bekerja sebagai ibu rumah
tangga, dengan latar belakang pendidikan SD. Anak bungsu Ny. Muflikah
bernama Tn. Ikhwan hanya bekerja membantu Ny. Muflikah berjualan es.

47
Keluarga Ny. Muflikah tinggal disebuah bangunan rumah
berukuran 10 m x 7 m. Ventilasi di rumah tersebut cukup baik karena
hampir di seluruh ruangan terdapat ventilasi. Ventilasi tersebut setiap hari
dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB dengan
tujuan agar cahaya matahari dapat masuk lewat ventilasi dan agar terjadi
pergantian udara. Pada ruang pertama yaitu ruang tamu, yang berukuran 4
m x 3 m. Ruangan tersebut digunakan sebagai tempat untuk menerima
tamu. Pada ruang kedua, yang berukuran 2 x 3 m digunakan sebagai kamar
tidur Ny. Muflikah. Ruangan ketiga berukuran 2 m x 3 m digunakan
sebagai kamar orang tua Ny. Muflikah. Ruang keempat berukuran 3 m x 6
m yang digunakan sebagai kamar anak bungsu Ny. Muflikah. Rumah ini
mempunyai 1 pintu depan, 1 daun pintu, 2 jendela di ruang pertama
(bagian depan rumah). Bagian luar rumah lantai terbuat dari keramik
begitu juga seluruh ruangan sudah memakai keramik, dinding rumah
terbuat dari bata merah dan semen, kemudian atap rumah terbuat dari
genteng tanah liat dan bambu. Keluarga Ny. Muflikah menggunakan air
sumur sebagai sumber air minum dan untuk memasak namun untuk
keperluan mandi dan mencuci, keluarga Ny. Muflikah menggunakan
sumur satelit. Keluarga Ny. Muflikah mengaku selalu mencuci tangan
dengan sabun setelah melakukan aktivitas dan sebelum makan.

48
Gambar 1.6. Denah rumah Ny. Muflikah

Lingkungan Pemukiman
Rumah Ny. Muflikah terletak di pemukiman yang padat penduduk.
Di bagian depan terdapat jalan setapak, di samping kiri terdapat rumah
lainnya yang namun masih terdapat batas jalan setapak. Terdapat sebuah
tempat penampungan sampah bagi warga yang terletak di lahan kosong
beberapa rumah dari rumah Ny. Muflikah. Sampah tersebut menumpuk
yang menimbulkan asap di sekitar rumah ketika dibakar.

Pola Makan
Ny.Muflikah memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia
terkadang memasak makanan dengan sayur-sayuran. Ny. Muflikah
mengaku makanan tidak bisa sealu bergonta ganti karna tergantung
peghasilan yang didapat. Sehari-harinya mereka makan besar maksimal 3
kali. Ny. Muflikah mengaku sarapan setiap pagi. Mereka juga mengatakan
bahwa mereka mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan dengan
mengunakan sabun.

Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak

49
Anak Ny. Muflikah lahir di dukun Kampung Bojong Kecamatan
Kresek. Setiap kehamilan, Ny.Muflikah mengaku tidak pernah rutin untuk
mengontrol kandungannya ke bidan. Untuk imunisasi, Ny. Muflikah tidak
pernah rutin membawa anaknya untuk dilakukan imunisasi karena jaman
dahulu Posyandu masih jarang diselenggarakan. Ny. Muflikah mengaku
anaknya diberikan ASI eksklusif sampai 2 tahun, dan ia memberikan
anaknya makanan tambahan selain ASI pada usia 6 bulan. Saat ini Ny.
Muflikah tidak menggunakan alat kontrasepsi karena sudah menopause
dan suaminya sudah meninggal dunia.

Kebiasaan Berobat
Dalam segi kesehatan, keluarga Ny. Muflikah berobat ke
puskesmas Kresek atau bidan desa dekat dengan rumahnya jika terdapat
salah satu anggota keluarganya yang sakit, namun jika tidak kunjung
sembuh setelah minum obat warung. Gangguan kesehatan yang sering
dialami anggota keluarganya antara lain batuk, pilek, dan gatal-gatal.

Riwayat Penyakit
Menurut Ny. Muflikah ia telah menderita kencing manis sejak 6
tahun sedangkan ibunya menderita kencing manis sejak 10 tahun yang
lalu. Ny. Muflikah dan ibunya juga merupakan penderita hipertensi. Ny.
Muflikah dan ibunya hamper setiap bulan kontrol rutin ke puskesmas
disamping menggunakan pengobatan alternatif, dan menggunakan obat
baik dari puskesmas maupun alternative secara bersamaan.

Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari


Ny. Muflikah tidak merokok begitu juga dengan anggota keluarga
yang lain. Keluarga Ny. Muflikah mengaku mencuci tangan dengan sabun
sebelum makan dan jika tangan tampak kotor. Ny. Muflikah, ibu, dan anak
bungsunya tidak memiliki kebiasaan berolahraga. Ny. Muflikah beserta
keluarga memiliki kebiasaan mandi dua kali sehari dan sikat gigi setiap
kali mandi. Dan juga Ny. Muflikah mengaku membersihkan rumahnya
setiap hari.

50
Tabel 1.17. Faktor Internal Keluarga Ny. Muflikah
No Faktor Internal Permasalahan
1 Olah raga Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan
berolahraga

51
2 Menu Makan Ny. Ridah mengaku makanan tidak bisa sealu bergonta
ganti karna tergantung peghasilan yang didapat. Sehari-
harinya mereka makan besar maksimal 3 kali.
3 Pola Pencarian Menurut Ny. Muflikah ia dan keluarga baru mencari
Pengobatan pengobatan jika sakitnya tak juga kunjung sembuh.
Untuk diabetes mellitus dan darah tinggi yang ia dan
ibunya derita, ia tidak rutin berobat ke puskesmas dan
mengkonbinasikan obat puskesmas dan juga obat dari
balai pengobatan alternatif yang didatangi olehnya.
4 Menabung Mereka tidak pernah menabung karena merasa pas-
pasan bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
5 Aktivitas sehari-hari a. Ny. Muflikah bekerja menjual es di rumah dengan
penghasilan Rp. 400.000,00/bulan
b. Orang tua Ny. Muflikah sebagai ibu rumah tangga.
c. Anak Ny. Muflikah hanya membantu pekerjaan Ny.
Muflikah.
7 Alat kontrasepsi Di keluarga Ny. Muflikah tidak ada yang menggunakan
alat kontrasepsi.
8 Riwayat kesehatan Ny. Muflikah dan ibunya mempunyai riwayat diabetes
mellitus dan hipertensi yang tidak mendapatan
pengobatan rutin, namun tetap terkadang tetap berobat
ke puskesmas dan balai pengobatan alternative serta
menggunakan obat yang diberikan secara bersamaan.

Tabel 1.18. Faktor Eksternal Keluarga Ny. Muflikah


No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan Luas rumah 10 m x 7 m
2. Ruangan dalam rumah Ruang pertama berukuran 4 m x 3 m, ruang kedua
dan ketiga berukuran 2 m x 3 m, ruang keempat
berukuran 6 m x 3m.

52
3. Jamban Keluarga Ny. Muflikah memiliki jamban

4. Ventilasi Ventilasi yang dimiliki cukup baik.

5. Pencahayaan Terdapat 4 lampu pencahayaan yang kurang baik di


ketiga ruang tersebut.
6. Sumber Air Dalam kesehariannya Ny. Muflikah menggunakan
air sumur untuk minum dan memasak serta
menggunakan sumur satelit untuk mandi dan
mencuci pakaian.
7. Saluran pembuangan Tidak terdapat saluran pembuangan limbah.
limbah
8. Tempat pembuangan Keluarga Ny. Muflikah tidak memiliki tempat
sampah pembuangan sampah didepan rumahnya dan
membuang sampahnya di lahan kosong di sekitar
rumahnya.
9. Lingkungan sekitar Di samping kiri rumah terdapat rumah tetangga yang
rumah dibatasi oleh jalan setapak. Warga membakar
sampahnya yang menimbulkan asap kelingkungan
sekitar kontrakan.

Masalah Medis
ISPA
Diare
Gatal-gatal
Hipertensi
Diabetes Mellitus tipe II

Masalah Non Medis


Terpapar asap pembakaran sampah yang mencemari lingkungan sekitar,

53
Ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah didalam rumah maupun dil
uar rumah, sehingga keluarga membuangnya ke lahan kosong dekat ruma
h,
Tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah,
Tidak tersedia jamban sehat,
Kurangnya kebiasaan berolahraga
Letak penampungan sampah yang sangat dekat dengan lingkungan tempat
tinggal,
Perilaku penggunaan air bersih,
Pemahaman tentang kesehatan,
Tidak adanya penyuluhan serta organisasi remaja remaja,
Tidak adanya posyandu lansia.

5. Keluarga Binaan 5 Ny. Kholila


Tabel 1.19 Data Dasar Keluarga Ny. Kholila

No Nama Status Jenis Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan


Keluarga Kelamin

1 Ny. Kholila Kepala P 43 SMP Pedagang Rp.


Keluarga 1.000.000/bula

2 Ny. Hj. Nenek P 70 SD Tidak -


astariah berkerja

3 An. Anak I P 16 SMP Tidak -


Chairunnisa berkerja

4 An. Norlaela Anak II P 14 SMP Tidak -


berkerja

54
Keluarga binaan Ny kholila yang tinggal di RT 020/ RW 001 Desa
Kresek, Kampung Bojong kabupaten tangerang, Provinsi Banten.
Keluarga ini terdiri dari 4 anggota keluarga, yaitu Ny kholila yang berusia
43 tahun sebagai kepala keluarga dengan latar belakang pendidikan
terakhir SMP, ibunya yang bernama Ny. HJ. Astariah yang berusia 70
tahun lalu mempunyai dua orang anak bernama An. chairunnisa dan An.
Norlaela yang masih duduk dibangku SMP.
i. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga binaan Ny kholila yang tinggal di RT 020/ RW 001 Desa
Kresek, Kampung Bojong kabupaten tangerang, Provinsi Banten. Keluarga
ini terdiri dari 4 anggota keluarga, yaitu Ny kholila yang berusia 43 tahun
sebagai kepala keluarga dengan latar belakang pendidikan terakhir SMP,
Ny kholila berkerja sebagai karyawan dengan penghasilan Rp
3.000.000,-/Bulan, ibunya yang bernama Ny. HJ. Astariah yang berusia 70
tahun tidak memiliki pekerjaan lalu mempunyai dua orang anak, anak
pertama bernama chairunnisa usia 16 tahun dan Norlaela usia 14 tahun
yang masih duduk dibangku SMP.
Keluarga Ny. Kholila tinggal disebuah bangunan permanen rumah
berukuran 6 x 8 m. Dinding rumah tersebut terbuat dari kayu, kemudian
atap rumah tersebut terbuat dari gypsum, lalu lantai rumah tersebut
sebagian menggunakan ubin dan sebagian beralaskan tanah. Kondisi
ventilasi dirumah tersebut cukup baik, terdapat beberapa ventilasi pada
seluruh kamar dan 4 jendela pada ruang tamu (Bagian depan rumah) dan
selalu dibuka setiap hari dari pagi hari hingga siang hari. Didalam rumah
tersebut terdapat 2 kamar tidur, 2 kamar mandi (1 kamar mandi luar, 1
kamar mandi dalam), 1 buah Dapur, Ruang tamu, Ruang tv dan gudang.
Kondisi kamar tidur didalam rumah tersebut cukup mengkhawatirkan
karena tidak adanya jendela, kurangnya pencahayaan dan cukup lembab.
Pada kamar tidur 1 dan kamar tidur 2 dipisahkan dengan tembok yang
terbuat dari kayu. Terdapat 2 kamar mandi, kondisi kedua kamar mandi
sangat mengkhawatirkan terutama pada kamar mandi luar, kamar mandi

55
luar tidak menggunakan ubin. Keluarnya Ny kholila menggunakan air
sumur dan PDAM untuk kegiatan sehari hari. Ny kholila memiliki 5
penampungan air, 2 diantaranya untuk air minum dan memasak, 3 lainnya
untuk mencuci pakaian dan mandi. Keluarga Ny kholila mengaku air di
rumah tersebut kadang terasa asin, berbau dan berwarna keruh. Keluarga
Ny. kholila mengaku selalu mencuci tangan setelah melakukan aktivitas
dan sebelum makan, namun terkadang tidak menggunakan sabun.

Gambar 1.7. Denah rumah Ny. Kholila

ii. Lingkungan Pemukiman


Rumah Ny. kholila terletak di pemukiman yang padat penduduk.
Di bagian depan terdapat jalan setapak, di samping kiri terdapat rumah

56
lainnya yang hanya berbataskan tembok. Terdapat sebuah tempat
penampungan sampah bagi warga yang terletak di lahan kosong sebelah
rumah Ny. kholila. Sampah tersebut menumpuk yang menimbulkan asap
ke sekitar rumah. Terdapat beberapa hewan unggas yang berkeliaran
disekitar area rumah tersebut.

iii. Pola Makan


Ny.kholila memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Ia sering
memasak makanan dengan sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya.
Sehari-harinya mereka makan besar 3 - 4 kali. Untuk sarapan, Ny. kholila
mengaku selalu sarapan setiap pagi. Mereka juga mengatakan bahwa
mereka mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan.

iv. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak

Ny. Kholila melahirkan anaknya secara normal di bidan daerah


Kresek. Ny. kholila memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pada anak-
anaknya. Ny. Kholila rutin membawa anak nya ke poyandu saat anaknya
masih kecil.

v. Kebiasaan Berobat
Dalam segi kesehatan, keluarga Ny. kholila berobat ke sebuah
puskesmas kresek atau pun bidan desa dekat dengan rumahnya untuk
berobat jika terdapat salah satu anggota keluarganya yang sakit. Gangguan
kesehatan yang sering dialami anggota keluarganya antara lain batuk, pilek
dan demam. Menurut Ny. kholila jika penyakit yang dialami tidak dapat
sembuh cepat, baru datang ke puskesmas.

vi. Riwayat Penyakit


Keluarga Ny. kholila mengaku memiliki riwayat penyakit darah
tinggi yaitu pada ibunya yg bernama Ny. Hj, Astariah. Namun mengaku
jarang diperiksakan ke puskesmas.

vii. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari

57
Ny. kholila, tidak memiliki kebiasaan merokok, maupun salah satu
anggota keluarganya didalam rumah.. Keluarga Ny. kholila mengaku
mencuci tangan sebelum makan dan jika tangan tampak kotor. Ny. kholila
memiliki kebiasaan berolahraga yaitu bersepeda kurang lebih 300 menit
setiap harinya. Ny. Kholila beserta keluarga memiliki kebiasaan mandi dua
kali sehari dan sikat gigi setiap kali mandi. Dan juga Ny. kholila mengaku
membersihkan rumahnya setiap hari dan membuka jendela dai pagi hari
hingga siang hari.

viii. Perilaku Membuang Sampah


Rumah keluarga Ny. Kholila berada di lingkungan perumahan yang
padat, di belakang rumah tersebut terdapat tanah kosong tempat
pembuangan sampah. Ny. Kholila mengaku bahwa mereka membuang
sampah di dalam rumah lalu membuangnya di lingkungan rumah yang
terdapat pembuangan sampah, bersama dengan tetangga-tetangga
sekitarnya kemudian sampah-sampah tersebut dibakar saat sudah
menumpuk.

58
Tabel 1.20. Faktor Internal Keluarga Ny. Kholila
No Faktor Internal Permasalahan
1 Kebiasaan Merokok Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan
merokok
2 Olah raga Ny. kholila memiliki kebiasaan bersepeda setiap harinya
30 menit
3 Pola Makan Ny. kholila mengaku makanan biasa bergonta ganti
tergantung dari bahan makanan yang tersedia. Sehari-
harinya mereka makan besar maksimal 3-4 kali. Untuk
sarapan, Ny. kholila mengaku setiap hari sarapan
4 Pola Pencarian Menurut Ny. kholila jika penyakit yang dialami tidak
Pengobatan dapat sembuh cepat, baru datang ke puskesmas.

5 Menabung Mereka tidak memiliki tabungan khusus


6 Aktivitas sehari-hari a. Ny kholila sebagai karyawan
b. Nenek sebagai ibu rumah tangga.
c. Anak - anak sekolah

7 Alat kontrasepsi Di keluarga tidak menggunakan alat kontrasepsi


8 Riwayat kesehatan Keluarga Ny. kholila mengaku memiliki riwayat penyakit
darah tinggi yaitu pada ibunya yg bernama Ny. Hj,
Astariah. Namun mengaku jarang diperiksakan ke
puskesmas.

Tabel 1.21. Faktor Eksternal Keluarga Ny. Kholila


No Kriteria Permasalahan

59
1. Luas Bangunan Luas rumah 6x8 m
2. Ruangan dalam rumah 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, dapur, 1 kamar mandi
dalam, gudang, ruang tv

3. Jamban Keluarga Ny. kholila memiliki jamban

4. Ventilasi ada ventilasi

5. Pencahayaan Terdapat lampu pencahayaan yang kurang baik di


setiap ruang tersebut.
6. Sumber Air Dalam kesehariannya Ny. kholila menggunakan air
sumur dan PDAM yang digunakan untuk mandi dan
mencuci baju, serta untuk kebutuhan air minum dan
memasak sehari-hari.
7. Saluran pembuangan Tidak terdapat saluran pembuangan limbah.
limbah
8. Tempat pembuangan Keluarga Ny. kholila memiliki tempat pembuangan
sampah sampah didalam rumahnya dan membuang
sampahnya di lahan kosong di sekitar rumahnya.
9. Lingkungan sekitar Di samping kiri rumah terdapat rumah tetangga yang
rumah hanya dibatasi oleh sebuah tembok. Warga
membakar sampahnya yang menimbulkan asap
kelingkungan sekitar rumah.

Masalah Medis
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
Hipertensi
Demam Berulang

60
Masalah Non Medis
Tingkat pendidikan yang kurang.
Membuang sampah di samping dan belakang rumah.
Membakar sampah di samping rumah.
Kurangnya pencahayaan di dalam rumah.
Kurangnya kesadaran terdapat membersihkan penampungan air
Kurangnya kesadaran akan kesehatan.
Kurangnya perilaku hidup bersih sehat
Kurangnya perilaku mencuci tangan dengan baik dan benar

1.3.1. Rumusan Area Masalah

1.3.1.1. Area Masalah


Sebagai pendekatan awal untuk mengetahui area masalah yaitu
dengan menganalisis perilaku keluarga binaan terhadap pengunaan air bers
ih di wilayah Kampung Bojong, Desa Kresek.
Setelah mengamati, mewawancarai, dan melakukan observasi
pada keluarga binaan di Kampung Bojong, Desa Kresek terdapat berbagai
area permasalahan medis dan non medis pada keluarga binaan tersebut,
yaitu :
MEDIS
- riwayat diare
- riwayat tb paru
- thalasemia
- ispa
NON MEDIS
Terpapar asap pembakaran sampah yang mencemari lingkungan sekitar,
Kebiasaan Merokok yang masih tinggi terutama pada kaum laki-laki,
Ketidaktersediaan tempat pembuangan sampah didalam rumah maupun dil
uar rumah, sehingga keluarga membuangnya ke lahan kosong dekat ruma
h,
Tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang rendah,
Tidak adanya ventilasi di dalam rumah,
Tidak tersedia jamban sehat,
Kurangnya kebiasaan berolahraga,

61
Letak penampungan sampah yang sangat dekat dengan lingkungan tempat
tinggal.
Penggunaan air bersih
Pemahaman tentang kesehatan
Tidak adanya penyuluhan serta organisasi remaja remaja

1.3.1.2. Metode Delphi

Metode Delphi merupakan suatu teknik membuat keputusan


yang dibuat oleh suatu kelompok orang yang mempunyai keahlian
yang sama. Proses penetapan Metode Delphi dimulai dengan
identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya. (Harold, et all,
1975).

Gambar 1.8 Bagan Proses Metode Delphi

Berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari kunjungan ke


keluarga binaan yang bertempat tinggal di RT 020/RW 001, Kampung
Bojong, Desa Kresek, Kelurahan kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten, maka dilakukanlah diskusi kelompok dan
merumuskan serta menetapkan area masalah yaitu Perilaku

62
Penggunaan Air bersih pada keluarga binaan, Desa Kresek RT
021/RW001, Kp. Bojong, Kelurahan kresek, Kecamatan Kresek,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Metode Delphi dalam
penelitian ini digunakan sebagai penentu area masalah.

1.3.1.3. Presurvey 2
Dari hasil presurvey 2 untuk melihat lingkup permasalahan mengenai
sikap, perilaku, pengetahuan maka didapatkan hasil diantaranya:
Perilaku Merokok
Perilaku Membuang sampah
Perilaku Penggunaan air bersih
Perilaku mencuci tangan
Perilaku tentang kesehatan

1.3.1.4. Alasan pemilihan Area Masalah

Dari hasil presurvey yang kami lakukan, didapatkan data bahwa


kelima keluarga binaan kami memiliki masalah mengenai cara penggunaan
air bersih. Karena berdasarkan data dari keluarga binaan kami, beberapa
warga memiliki pengetahuan dan sikap yang cukup baik namun hamper
seluruh warga binaan kami mempunyai perilaku yang tidak baik
bagaimana cara menggunaakan air yang selama ini mereka miliki, warga
acuh terhadap air kotor yang selama ini mereka dapat. Hampir seluruh
keluarga binaan kami mengetahui bahwa air yang selama ini digunakan
tidak baik bagi kesehatan Namun karena tidak banyak yang dapat mereka
lakukan, maka mereka menampung air tersebut pada sebuah tempat
penampuan air, yang tidak mereka kelola dengan baik, Berdasarkan hasil
kunjungan, presurvey dan observasi pada waktu yang berbeda kami
melihat keluarga binaan kami mempunyai masalah dengan perilaku dalam
penggunaan air bersih.
Kebiasaan perilaku ini dapat menjadi salah satu penyebab
timbulnya berbagai penyakit saluran cerna maupun penyakit lain seperti
demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan data sekunder yang kami

63
dapatkan dari Puskesmas Kresek, diare dan demam berdarah dengue
merupakan 10 penyakit tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Kresek serta
tidak semua kampong dalam keluarga binaan kami mendapatkan akses air
bersih. Dan berdasarkan hasil presurvey kami temukan banyak anggota
keluarga binaan kami yang pernah mengalami riwayat penyakit diare dan
demam berdarah dengue.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diagnosis dan intervensi komunitas


Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk
menentukan adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau
masyarakat dengan cara pengumpulan data di lapangan dan kemudian
melakukan intervensi sesuai dengan permasalahan yang ada. Diagnosis
dan intervensi komunitas merupakan suatu prosedur atau keterampilan dari
ilmu kedokteran komunitas. Dalam melaksanakan kegiatan diagnosis dan
intervensi komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi sasaran adalah
komunitas atau sekelompok orang sehingga dalam melaksanakan
diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh pengetahuan ilmu kesehatan
masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian, manajemen
kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan,
kesehatan kerja dan gizi) (Wawan., et al. 2010).

2.2. Konsep Perilaku

64
2.2.1 Pengertian Perilaku
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang
mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara,
menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari
uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah
semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang
tidak dapat diamati oleh pihak luar (Lawrence, et al. 2005).

Menurut Teori Lawrence Green (1980)


Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat
kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu
faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior
causes) (Lawrence, et.al. 2005).
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh (Lawrence, et.al. 2005):
1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2) Faktor pendorong (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan
fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana
kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan
sebagainya.
3) Faktor pendukung (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok
referensi dari perilaku masyarakat.

2.2.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan


Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap
stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku
kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok (Lawrence, et.al. 2005):
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

65
2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau
sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat
menderita penyakit dan atau kecelakaan.
3. Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik
maupun sosial budaya, dan sebagainya.

2.2.3 Domain Perilaku


Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali diperkenalkan pada tahun
1967, teori ini lebih memperhatikan hubungan antara yang berhubungan dengan
perilaku & norma, sikap, tujuan, dan perilaku. Pada tahun 1967, TRA mengalami
perkembangan (Fishbein) yaitu sebuah usaha untuk mengerti/ memahami
hubungan antara sikap dan perilaku. Banyak studi sebelumnya dari hubungan ini
yang menemukan secara relative korespondensi yang rendah di antara sikap-sikap
dan perilaku, serta beberapa teori yang bertujuan menghapuskan sikap sebagai
sebuah factor yang mendasari perilaku (Lawrence, et.al. 2005).
Theory of Reasoned Action mengambil sebuah rangkaian sebab musabab
yang menghubungkan kepercayaan yang berhubungan dengan perilaku dan
keyakinan norma untuk tujuan yang berhubungan dengan perilaku dan tingkah
laku, melalui sikap dan norma subjektif. Ukuran dari komponen model dan
hubungan sebab musabab di antara komponen yang ditentukan dengan jelas.
Semua tipe ukuran menggunakan 5 atau 7 titik skala (Lawrence, et.al. 2005).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk
kepentingan pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur dari (Lawrence, et.al.
2005):
1. Pengetahuan (knowlegde)
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Tanpa pengetahuan

66
seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan
menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :
a) Faktor Internal
Merupakan faktor dari dalam diri sendiri, misalnya intelegensia, minat
dan kondisi fisik.
b) Faktor Eksternal
Merupakan faktor dari luar diri, misalnya keluarga, masyarakat, atau
sarana.
c) Faktor pendekatan belajar
Merupakan faktor yang berhubungan dengan upaya belajar, misalnya
strategi dan metode dalam pembelajaran.

Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu (Lawrence, et.al. 2005):


1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi
yang telah dipelajari sebelumnya.
2) Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4) Analisis
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi dan ada kaitannya dengan yang lain.
5) Sintesa
Sintesa menunjukan suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
6) Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi / objek.

2. Sikap (attitude)

67
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap
mempunyai tiga komponen pokok :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek).
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu
masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

3. Praktik atau tindakan (practice)


Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah
fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai beberapa
tingkatan :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang
akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
b. Respon terpimpin (guide response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai
dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.
c. Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah
mancapai praktik tingkat tiga.
d. Adopsi (adoption)

68
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik.Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi
kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan
wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari
atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung,
yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden (Lawrence, et.al.
2005).
Menurut penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan
yakni (Lawrence, et.al. 2005):
1. Kesadaran (awareness)
Di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu
terhadap stimulus (objek)
2. Tertarik (interest)
Di mana orang mulai tertarik pada stimulus
3. Evaluasi (evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya.Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Mencoba (trial)
Di mana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Menerima (Adoption)
Di mana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran
dan sikapnya terhadap stimulus.

2.2.4 Asumsi Determinan Perilaku


Menurut Spranger, membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai
kebudayaan. Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang
dominan pada diri orang tersebut.Secara rinci perilaku manusia sebenarnya
merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan,
kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya (Lawrence, et.al.
2005).

69
Namun demikian realitasnya sulit dibedakan atau dideteksi gejala
kejiwaan tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman,
keyakinan, sarana/fasilitas, sosial budaya dan sebagainya. Beberapa teori lain
yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat mempengaruhi
perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain
(Lawrence, et.al. 2005):

1. Teori World Health Organization (WHO) (1984)


WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku
tertentu adalah (Brikk, F., et al. 2003):
1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk
pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang
terhadap objek (objek kesehatan).
a. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman
orang lain.
b. Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau
nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan
dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.
c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap
objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang
lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau
menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap
tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud di dalam suatu
tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh
tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti
atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau
sedikitnya pengalaman seseorang.
2) Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting
untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk
dicontoh.
3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu,
tenaga dan sebagainya.

70
4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber
di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way
of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini
terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat
ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia

2. Theory of Reasoned Action (TRA)


Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1967, teori ini lebih
memperhatikan hubungan antara kepercayaan yang berhubungan dengan
perilaku & norma, sikap, tujuan, dan perilaku. Pada tahun 1967, TRA
mengalami perkembangan (Fishbein) yaitu sebuah usaha untuk mengerti /
memahami hubungan antara sikap dan perilaku. Banyak studi sebelumnya dari
hubungan ini yang menemukan secara relative korespondensi yang rendah di
antara sikap-sikap dan perilaku, serta beberapa teori yang bertujuan
menghapuskan sikap sebagai sebuah factor yang mendasari perilaku
(Lawrence, et.al. 2005).
Theory of Reasoned Action mengambil sebuah rangkaian sebab
musabab yang menghubungkan kepercayaan yang berhubungan dengan
perilaku dan keyakinan norma untuk tujuan yang berhubungan dengan
perilaku dan tingkah laku, melalui sikap dan norma subjektif. Ukuran dari
komponen model dan hubungan sebab musabab di antara komponen yang
ditentukan dengan jelas. Semua tipe ukuran menggunakan 5 atau 7 titik skala
(Lawrence, et.al. 2005).

3. Teori Lawrence Green (1980)


Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat
kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu
faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior
causes).

71
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh (Lawrence, et.al. 2005):
1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2) Faktor pendorong (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan
fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana
kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan
sebagainya.
3) Faktor pendukung (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok
referensi dari perilaku masyarakat.

4. Teori Snehandu B. Kar (1983)


Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa
perilaku merupakan fungsi dari (Lawrence, et.al. 2005):
1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau
perawatan kesehatannya (behavior itention).
2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas
kesehatan (accesebility of information).
4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan
atau keputusan (personal au`tonomy).
5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

2.5 Konsep Air dan penggunaannya.


2.5.1. Definisi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/ menkes/ sk/ xi/ 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan

Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai air bersih

yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya

72
memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum,

didapat beberapa pengertian mengenai (Departemen Kimpraswil. 2001):

a) Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air

baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan

air tanah dan/atau air hujanyangmemenuhi baku mutu tertentu sebagai air

baku untuk air minum.

b) Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses

pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat

kesehatan dan dapat langsung diminum.

c) Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk

tinja manusia dari lingkungan permukiman.

d) Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang

sehat, bersih, dan produktif.

e) Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disebut SPAM

merupakan satu kesatuansistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana

dan sarana air minum.

f) Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun,

memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non

fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peranmasyarakat, dan hukum)

73
dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada

masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.

g) Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan,

melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi,

memantau, dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik

penyediaan air minum.

h) Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya

disebut penyelenggara adalah badan usaha milik negara/ badan usaha

milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok

masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengembangan sistem

penyediaan air minum.

2.5.2. Sumber

Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu

(P3KT) Propinsi Jawa Timur tahap ke II perihal Pedoman Perencanaan dan

Desain Teknis Sektor Air Bersih yang dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan

Umum Cipta Karya PEMDA Tk. I Jawa Timur disebutkan bahwa sumber air

baku yang perlu diolah terlebih dahulu adalah (Masduqi. 2008):

a) Mata air yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya

sulit untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka

beberapa lama.

b) Sumur dangkal (shallow wells) yaitu sumber air hasil penggalian ataupun

pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.

74
c) Sumur dalam (deep wells) yaitu sumber air hasil penggalian ataupun

pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40 meter.

d) Sungai yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di

daerah pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum

air baku yang didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena

kemungkinan untuk tercemar polutan sangat besar.

e) Danau dan Penampung Air (lake and reservoir) yaitu unit penampung air

dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun

tampungan dari air hujan.

Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan air

minum adalah (Bappenas. 2003):

a) Air hujan biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi akan mengalami

pencemaran sehingga tidak memenuhi syarat apabila langsung diminum.

b) Air permukaan tanah (surface water) yaitu rawa, sungai, danau yang

tidak dapat diminum sebelum melalui pengolahan karena mudah

tercemar.

c) Air dalam tanah (ground water) yang terdiri dari air sumur dangkal dan

air sumur dalam. Air sumur dangkal dianggap belum memenuhi syarat

untuk diminum karena mudah tercemar. Di lain pihak sumur dalam yang

sudah mengalami perjalanan panjang adalah air yang jauh lebih murni,

dan pada umumnya dapat langsung diminum, namun memerlukan

pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kualitasnya. Keburukan

dari pemakaian sumur dalam ini adalah apabila diambil terlalu banyak

75
akan menimbulkan intrusi air asin dan air laut yang membuat sumber air

jadi asin, biasanya daerah-daerah sekitar pantai.

d) Mata air (spring water)

Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke

permukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam. Hampir tidak

berpengaruh oleh musim dan kualitas/kuantitasnya sama dengan keadaan

air dalam.

2.5.3. Peran Air Bagi Kehidupan

Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan dan

kelangsungan hidup manusia. Air bukanlah sesuatu yang baru untuk

dikonsumsi, oleh karena sejak ada kehidupan tidak satu pun manusia terlepas

dari penggunaan air secara terusmenerus untuk kelangsungan hidupnya. Air

merupakan bahan yang sangat vital bagikehidupan di atas bumi. fungsi air

bagi kehidupan manusia antara lain adalah sebagai berikut (Achmadi, et al.

2001):

a) Keseimbangan ph

Perubahan asam bisa timbul dari makanan atau minuman yang

dikonsumsi. Hal ini dapat menimbulkan penyakit atau hilangnya

kemampuan tubuh dalammencerna vitamin dan mineral. Maka dari

itu tubuh manusia harus menjagakesimbangan pH sekitar 7,35 7,45

dengan cara mengkonsumsi air, karena kadar pH ini adalah kadar yang

tepat bagi tubuh untuk menyerap oksigen ke dalam tubuh, sehingga

76
energi pada tubuh juga lebih tinggi dan sistem imun jadi lebih baik

dalam menghadapi penyakit.

b) Suhu Tubuh

Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan, dan cairan

inilah yang berperandalam mengatur suhu tubuh manusia. Seperti

yang terlihat saat berkeringat, yaitu tubuh melepaskan keringat saat

panas untuk mengurangi panas berlebih dalam tubuh sehingga

mengurangi suhu tubuh yang tinggi tersebut. Pengaturan suhu tubuh

seperti ini dilakukan dan bergantung pada asupan air yang ada

pada tubuh.

c) Metabolisme

Air berfungsi sebagai penghantar oksigen, nutrisi, hormon, serta

zat lainnya keberbagai bagian tubuh dan menjadi media

dalam menghilangkan racun ringan, sel-sel mati, dan kotoran pada

tubuh. Selain itu, protein dan enzim yang diperlukandalam beberapa

proses penting dalam tubuh juga memerlukan air agar berfungsi

dengan baik.

d) Pernafasan

Dalam pernafasan, air berfungsi untuk mengantarkan oksigen ke

seluruh tubuhsekaligus mengambil karbondioksida untuk

dikumpulkan dan dikeluarkan dalam bentuk uap air.

77
e) Pelindung dan bantalan organ tubuh tertentu

Fungsi mekanis dari air adalah melindungi, seperti pelindung

janin pada kehamilan. Cairan pada persendian akan menjaga pergerakan yang

baik dari sendi yang bersangkutan. Air juga mempunyai fungsi

membersihkan, seperti air mata yang menjaga lensa mata.

f) Mempertahankan struktur molekul

Beberapa molekul besar, baik yang terdapat dalam jaringan

tubuh maupun yang bersirkulasi di darah, seperti protein dan

karbohidrat, dipertahankan strukturnya dengan bantuan air.

Air memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, antara lain (Achmadi, et al.

2001):

a) Konstipasi, rasa panas pada perut, migrain, radang dan infeksi

lambung Penyakit-penyakit ini timbul berkaitan dengan

kurangnya asupan air pada tubuh. Penyakit-penyakit ini dapat

dicegah dengan mengkonsumsi air secara cukup dan teratur.

b) Batu Ginjal

Menurut penelitian Lembaga Internasional Batu Ginjal , untuk

mencegah munculnya batu ginjal diperlukan konsumsi air sebanyak

2 liter atau 10 gelas air setiap harinya. Hal ini dikarenakan air adalah

bahan pelarut terbaik yang tidak akan membiarkan garam dan

mineral lainnya berakumulasi dan membentuk batu ginjal.

Kandungan garam pada ginjal ini akan diurai oleh air dan

dikeluarkan melalui urin.

78
c) Penyakit Kardiovaskuler

Air dapat mencegah berkembangnya penyakit kardiovaskuler

pada tubuh. Karena, air dapat menjaga kekentalan darah dan plasma,

serta melancarkan distribusi fibrinogen dalam tubuh. Oleh karena itu,

hidrasi yang cukup sangat disarankan, sehingga komponen vaskuler

dapat bekerja maksimal.

d) Nyeri Sendi

Tulang sendi pada tubuh manusia sangat rentan terjadi gesekan dan

kerusakan akibat iklim. Hal ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi

air yang cukup. Karena konsumsi air yang tidak cukup dapat menjadi

pemicu timbulnya nyeri sendi pada tubuh.

e) Sakit Punggung

Bagian belakang tubuh manusia tergantung pada urat syaraf

tulang belakang. Sedangkan tulang belakang ini sebagian besar

terdiri air, maka dari itu tidak mengherankan jika konsumsi air yang

tidak cukup dapat memicu sakit punggung.

f) Osteoporosis

Menurut penelitian yang diadakan oleh Lembaga Pauling Linus,

konsumsi air yang cukup dapat mengurangi resiko tubuh terkena

osteoporosis dan patah tulang.

79
g) Perempuan Hamil & Menyusui

Kondisi janin pada ibu hamil sangat bergantung pada sang ibu.

Untuk itu diperlukan asupan cairan yang cukup agar darah dapat bekerja

maksimal dan mengantarkan semua nutrisi yang diperlukan dari ibu ke

janinnya. Selain itu masalah konstipasi, infeksi kandung kemih, dan

anus yang biasa terjadi pada kebanyakan ibu hamil, dapat dihindari

dengan mengkonsumsi air lebih banyak.

h) Fungsi Ginjal

Kotoran tubuh yang berbentuk urea sangat beracun bagi jaringan

tubuh dan harus dicairkan sebelum dikeluarkan dari dalam tubuh.

Untuk itu dibutuhkan air sebagai pelarut universal.

i) Kesehatan Kulit

Air berfungsi mengatur dan meregulasi kesimbangan alami kulit.

Air yang baik bagi kulit adalah air hangat, karena air hangat

memiliki kemampuan untuk menghidrasi, meremajakan,

mendetoksifikasi, memberi oksigen pada kulit, menghilangkan

komedo dan memperkecil pori-pori. Selain itu, mengkonsumsi

air juga dapat menggantikan kelembapan kulit yang hilang karena

aktivitas sehari-hari.

2.4. Syarat Air Bersih

Penggunaan sumber air minum bagi Perusahaan Air Minum (PAM) di

kota-kota besar masih menggantungkan dari sungai-sungai yang telah

dicemari sehingga treatment yang sempurna sangat diperlukan secara mutlak.

80
Sebaiknya bila akan menggunakan badan-badan air sebagai sumber air

minum hendaknya memenuhi syarat-syarat kualitas air minum (BPPSPAM.

2010).

Menurut Sutrisno (2004), dari segi kualitas air minum harus memenuhi

(Effendi. 2003)

2.4.1. Syarat Fisik

Air tidak boleh berwarna

Air tidak boleh berasa

Air tidak boleh berbau

Suhu air hendaknya di bawah udara sejuk ( 25o C)

Air harus jernih

2.4.2. Syarat Kimia

Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau

zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah

ditentukan.

2.4.3. Syarat Bakteriologik

Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit

(patogen) sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri-bakteri

golongan Coli melebihi batasbatas yang telah ditentukannya yaitu 1

Coli/100 ml air.

Bakteri golongan Coli ini berasal dari usus besar dan tanah.

Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air antara lain adalah:

Bakteri Thypsum

81
Vibrio colerae

Bakteri Dysentriae

Entamoeba hystolotica

Bakteri Enteritis (penyakit perut)

Air yang mengandung golongan Coli dianggap telah

berkontaminasi (berhubungan) dengan kotoran manusia. Dengan

demikian dalam pemeriksaan bakteriologik, tidak langsung diperiksa

apakah air itu mengandung bakteri patogen, tetapi diperiksa dengan

indikator bakteri golongan Coli.

Menurut Gabriel (2001), syarat air minum standar Internasional

ditunjukkan dalam tabel (1.1) (Schelwald-van der Kley., et al. 2009)

Tabel. 2.1. Syarat air Minum Standart Internasional

82
2.5. Pengelolaan Air Bersih

Air adalah sumber penghidupan. Air memiliki peran yang sangat penting,

organisme hidup tidak dapat lepas dari air untuk memenuhi kebutuhan hidup

sehari-hari. Demikian pula kebutuhan akan air bersih. Air bersih adalah air

yang digunakan sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dasar.

Ketersediaan air bersih menjadi langka saat ini karena disebabkan oleh

83
tercemarnya sumber-sumber air, penggunaan air sungai dan hujan, serta

sumur-sumur yang dibuat seadanya tanpa pelindung (Bappenas. 2003).

Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat semakin sulit untuk mendapatkan

akses air bersih yang layak dari segi kualitas dan kuantitas. Menurut

Susilastuti (BPPSPAM. 2010) bahwa air bersih adalah air langsung dapat

diminum dengan syarat air tersebut aman (sehat) dan baik untuk diminum,

tidak berwarna, tidak berbau dengan rasa yang segar.

i. Pengelolaan Air Bersih

Akses terhadap air bersih adalah hak asasi manusia (hak

tertinggi dalam hukum), karena air merupakan kebutuhan penting

bagi hidup manusia, sehingga membutuhkan perlindungan kepada

setiap masyarakat atas akses untuk mendapatkan air bersih yang

layak. Pengelolaan air bersih menjadi prioritas untuk meningkatkan

efisensi penggunaan dan pendistribusian air di masyarakat agar

ketersediaan air dapat dinikmati oleh masyarakat guna memenuhi

kebutuhan hidup. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi penggunaan

air perlu mendapatkan prioritas masyarakat dan instansi yang

berkepentingan dalam sistem pengelolaannya (World Bank. 2008).

Menurut Helmi (Masduqi, A., N. 2008) bahwa pengelolaan

sumber daya air bersih yang terpadu mencakup dua variabel yaitu;

keterpaduan pada sistem alam (natural system), dan keterpaduan

pada sistem manusia (human system) termasuk sistem

penyelenggaraan (institution) pengelolaan air. Pada variabel sistem

84
alam terdapat enam aspek keterpaduan yaitu; (1) keterpaduan

berbagai kepentingan yang berkaitan dengan air antara daerah hulu

dan hilir; (2) keterpaduan antara pengelolaan kuantitas dan kualitas;

(3) keterpaduan antara pengelolaan air permukaan dan air tanah; (4)

keterpaduan antara penggunaan lahan (land use) dan pengelolaan air

(berkaitan dengan siklus hidrologi); (5) keterpaduan antara

pengelolaan air yang digunakan untuk evapotranspirasi dan air yang

mengalir; (6) keterpaduan antara pengelolaan air tawar dengan

pengelolaan daerah pantai. Sedangkan komponen sistem manusia

antara lain yaitu: (1) keterpaduan antar sektor dalam pembuatan

kebijakan nasional; (2) keterpaduan semua stake holders dalam

perencanaan dan pengambilan keputusan; (3) keterpaduan diantara

pengelola air bersih dan air bah (Masduqi, A., N. 2008).

Untuk meningkatkan kualitas air bersih dan mengurangi

pencemaran limbah pada air, diperlukan perilaku yang mendukung

terhadap upaya peningkatan kualitas air bersih. Menurut Azwar

(1983), bahwa perilaku sehat (hygien) mengarah pada aktivitas

manusia berperilaku sehat, sedangkan perilaku bersih (sanitation)

menitikberatkan pada pengawasan faktor-faktor lingkungan untuk

membentuk kesehatan lingkungan (Masduqi, A., N. Endah. 2008).

Dengan demikian, perilaku sehat (hygien behavior) tidak dapat

dipisahkan dari perilaku bersih (sanitation behavior) dan perilaku

bersih berkaitan perilaku minum air yang direbus, cuci tangan

85
sebelum makan dan pengelolaan sarana buangan limbah rumah

tangga. Kegiatan-kegiatan yang mencakup upaya dalam mencegah

dan mengendalikan lingkungan agar tidak menggangu kesehatan

disebut sanitasi.

Sanitasi sangat terkait dengan faktor lingkungan yang salah satu

komponennya adalah penyediaan air bersih. Air bersih merupakan

hak dan kebutuhan dasar manusia sehingga apabila air tidak

diperhatikandapat mengganggu kesehatan manusia. Penurunan

kualitas air bersih dapat menyebabkan penurunan kesehatan manusia

baik secara langsung maupun tidak langsung melalui menurunnya

kesehatan lingkungan. Dengan demikian hubungan air bersih dengan

kesehatan adalah komplek karena banyak penyakit yang sumber

utamanya air (water born disease), sehingga untuk mengukur derajat

kesehatan yang berkaitandengan air dilakukan melalui penilaian

terhadap ada tidaknya penyakit diare karena diare yang berkaitan

dengan penyediaan air, perilaku sehat dan perilaku bersih (Masduqi,

A., N. Endah. 2008).

Berkaitan dengan pengelolaan air bersih dan penyediaan sarana

sanitasi di masyarakat maka perlu adanya wadah yang dapat

mengatur kegiatanya dilapangan. Untuk mengatur hal tersebut, maka

pendekatan kelembagaan pada pengelolaan air bersih sangat

dibutuhkan untuk mewadahi kegiatan di tingkat masyarakat. Melalui

kelembagaan yang mengelola air bersih diharapkan masyarakat dapat

86
berpatisipasi di dalamnya melalui bentuk kegiatan yang telah

ditetapkan secara bersama. Oleh karena itu, melihat pentingnya

pengelolaan air bersih di masyarakat, maka pendekatan lebih penting

dalam menangani masalah rendahnya akses air bersih pada penelitian

ini dengan melihat terbentuknya kelembagaan pada pengelolaan air,

mekanisme yang dilakukan dalam pengelolaa air bersihnya, tahapan

pengembangan masyarakat pada kegiatan penyediaan air bersih

sebagai bentuk partisipasi dari masyarakat, dan manfaat yang

diperoleh pada pengelolaa air bersih dengan pendekatan

kelembagaan lokal. Dengan demikian maka keberadaan

kelembagaan lokal dapat menjadi sebuah model pendekatan pada

pengelolaan air bersih dengan berbasikan masyarakat sebagai bentuk

partisipasi langsung di tingkat masyarakat lokal.

II Filter (Penyaringan)

Filter merupakan tempat berlangsungnya proses filtrasi, yaitu proses

penyaringan flok flok sangat kecil dan sangat ringan yang tidak

bertahan (lolos) dari clearator. Sistem penyaringan permukaan (surface

filter), media filter tersebut berjumlah 32 unit yang prosesnya

berlangsung secara paralel, menggunakan jenis saringan cepat (rapid

sand filter) berupa pasir silika dengan menggunakan motor AC nominal

daya 0,75 KW. Filter ini berfungsi untuk menyaring turbidity melalui

pelekatan pada media filter. Dimensi tiap filter yaitu lebar 4,00 m,

panjang 8,25 m, tinggi 6,25 m tinggi permukaan air maksimum 5,05 m

87
serta tebal media filter 114 cm, dengan susunan lapisan sebagi berikut

(Galvis, A. 2003):

1. Pasir kwarsa, diameter 0,50 mm 1,50 mm dengan ketebalan 61

cm

2. Pasir kwarsa, diameter 1,80 mm 2,00 mm dengan ketebalan 15

cm

3. Kerikil halus, diameter 4,75 mm 6,30 mm dengan ketebalan 8

cm

4. Kerikil sedang, diameter 6,30 mm 10,00 mm dengan ketebalan

7,5 cm

5. Kerikil sedang, diameter 10,00 mm 20,00 mm dengan

ketebalan 7,5 cm

6. Kerikil kasar, diameter 20,00 mm 40,00 mm dengan ketebalan

15 cm

Dalam jangka waktu tertentu, permukaan filter akan tersumbat oleh

flok yang masih tersisa dari proses. Pertambahan ketinggian permukaan

air diatas media filter sebanding dengan berlangsungnya penyumbatan

(clogging) media filter oleh flok-flok. Selanjutnya dilakukan proses

backwash, yaitu pencucian media filter dengan menggunakan sistem

aliran balik dengan menggunakan air yang di supply dari pompa

reservoir. Proses ini bertujuan untuk mengoptimalkan kembali fungsi

filter. Banyaknya air yang dibutuhkan untuk backwash untuk satu buah

88
filter adalah 200-300 m dan backwash dilakukan 1 x 24 72 jam,

tergantung pada lancar tidaknya penyaringan (Galvis, A. 2003).

2.6. Indikator Air yang Tercemar

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya

perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi

(Fewtrell, L., et al. 2005):

Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air

berdasarkan tingkatkejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu,

warna dan adanya perubahanwarna, bau dan rasa

Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air

berdasarkan zatkimia yang terlarut, perubahan pH

Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air

berdasarkanmikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada

tidaknya bakteri pathogen.

2.7. Sumber Pencemaran Air

Banyak penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara umum dapat

dikategorikanmenjadi 2 (dua) yaitu sumber kontaminan langsung dan tidak

langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri, TPA

sampah, rumah tangga dan sebagainya. Sumber tak langsung adalah

kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah atau atmosfir

berupa hujan (Fewtrell, L., et al. 2005). Pada dasarnya sumber pencemaran

air berasal dari industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian. Tanah

danair tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian misalnya pupuk dan

89
pestisida.Kontaminan dari atmosfir juga berasal dari aktifitas manusia yaitu

pencemaran udara yangmenghasilkan hujan asam.Pengaruh bahan pencemar

yang berupa gas, bahan terlarut, dan partikulat terhadaplingkungan perairan

dan kesehatan manusia dapat ditunjukkan secara skematik sebagai berikut

(Fewtrell, L., et al. 2005):

Gambar 2.1 Bagan pengaruh beberapa jenis bahan pencemar terhadap lingkungan

perairan

Menurut Wardhana (1995), komponen pencemaran air yang berasal dari

industri, rumah tangga (pemukiman) dan pertanian dapat dikelompokkan

sebagai bahan buangan (Effendi, Hefni. 2003):

a) Padat

90
b) Organik dan olahan bahan makanan

c) Anorganik

d) Cairan berminyak

e) Berupa panas

f) Zat

i. Bahan buangan padat

Yang dimaksud bahan buangan padat adalah adalah bahan buangan yang

berbentuk padat, baik yang kasar atau yang halus, misalnya sampah.

Buangan tersebut bila dibuang ke air menjadi pencemaran dan akan

menimbulkan pelarutan, pengendapan ataupun pembentukan koloidal.

Apabila bahan buangan padat tersebut menimbulkan pelarutan, maka

kepekatan atau berat jenis air akan naik. Kadang-kadang pelarutan ini disertai

pula dengan perubahan warna air. Air yang mengandung larutan pekat dan

berwarna gelap akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air.

Sehingga proses fotosintesa tanaman dalam air akan terganggu. Jumlah

oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang, kehidupan organisme dalam air

juga terganggu. Terjadinya endapan di dasar perairan akan sangat

mengganggu kehidupan organisme dalam air, karena endapan akan menutup

permukaan dasar air yang mungkin mengandung telur ikan sehingga tidak

dapat menetas. Selain itu, endapan juga dapatmenghalangi sumber makanan

ikan dalam air serta menghalangi datangnya sinar matahari. Pembentukan

koloidal terjadi bila buangan tersebut berbentuk halus, sehingga sebagian ada

yang larut dan sebagian lagi ada yang melayang-layang sehingga air menjadi

91
keruh. Kekeruhan ini juga menghalangi penetrasi sinar matahari, sehingga

menghambat fotosintesa dan berkurangnya kadar oksigen dalam air.

ii. Bahan buangan organik dan olahan bahan makanan

Bahan buangan organik umumnya berupa limbah yang dapat membusuk

atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga bila dibuang ke perairan

akan menaikkan populasi mikroorganisme. Kadar BOD dalam hal ini akan

naik. Dengan

bertambahnya mikroorganisme dapat berkembang pula bakteri pathogen yang

berbahaya bagi manusia. Demikian pula untuk buangan olahan bahan

makanan yang sebenarnya adalah juga bahan buangan organic yang baunya

lebih menyengat. Umumnya buangan olahan makanan mengandung protein

dan gugus amin, maka bila didegradasi akan terurai menjadi senyawa yang

mudah menguap dan berbau busuk (misal. NH3)

iii. Bahan buangan anorganik

Bahan buangan anorganik sukar didegradasi oleh mikroorganisme,

umumnyaadalah logam. Apabila masuk ke perairan, maka akan terjadi

peningkatan jumlah ionlogam dalam air. Bahan buangan anorganik ini

biasanya berasal dari limbah industri yang melibatkan penggunaan unsur-

unsur logam seperti timbal (Pb), Arsen (As), Cadmium(Cd), air raksa atau

merkuri (Hg), Nikel (Ni), Calsium (Ca), Magnesium (Mg) dll. Kandungan ion

Mg dan Ca dalam air akan menyebabkan air bersifat sadah. Kesadahan air

yang tinggi dapat merugikan karena dapat merusak peralatan yang terbuatdari

besi melalui proses pengkaratan (korosi). Juga dapat menimbulkan endapan

92
atau kerak pada peralatan. Apabila ion-ion logam berasal dari logam berat

maupun yang bersifat racun seperti Pb, Cd ataupun Hg, maka air yang

mengandung ion-ion logam tersebut sangat berbahaya bagi tubuh manusia, air

tersebut tidak layak minum.

iv. Bahan buangan cairan berminyak

Bahan buangan berminyak yang dibuang ke air lingkungan akan

mengapungmenutupi permukaan air. Jika bahan buangan minyak

mengandung senyawa yang volatile, maka akan terjadi penguapan dan luas

permukaan minyak yang menutupi permukaan air akan menyusut. Penyusutan

minyak ini tergantung pada jenis minyak dan waktu. Lapisan minyak pada

permukaan air dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, tetapi

membutuhkan waktu yang lama. Lapisan minyak di permukaan akan

mengganggu mikroorganisme dalam air. Ini disebabkan lapisan tersebut akan

menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air, sehingga oksigen terlarut

akan berkurang. Juga lapisan tersebut akan menghalangi masuknya sinar

matahari ke dalam air, sehingga fotosintesapun terganggu. Selain

itu, burungpun ikut terganggu, karena bulunya jadi lengket, tidak dapat

mengembang lagi akibat kena minyak.

v. Bahan buangan berupa panas (polusi thermal)

Perubahan kecil pada temperatur air lingkungan bukan saja dapat

menghalau ikan atau spesies lainnya, namun juga akan mempercepat proses

biologis pada tumbuhan dan hewan bahkan akan menurunkan tingkat oksigen

dalam air. Akibatnya akan terjadi kematian pada ikan atau akan terjadi

93
kerusakan ekosistem. Untuk itu, polusi thermal inipun harus

dihindari. Sebaiknya industri-industri jika akan membuang air buangan ke

perairan harus memperhatikan hal ini.

vi. Bahan buangan zat kimia

Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, tetapi dalam bahan

pencemar air ini akan dikelompokkan menjadi :

a. Sabun (deterjen, sampo dan bahan pembersih lainnya),

b. Bahan pemberantas hama (insektisida),

c. Zat warna kimia,

d. Zat radioaktif

a) Sabun

Adanya bahan buangan zat kimia yang berupa sabun (deterjen, sampo

dan bahan pembersih lainnya) yang berlebihan di dalam air ditandai dengan

timbulnya buih-buihsabun pada permukaan air. Sebenarnya ada perbedaan

antara sabun dan deterjen serta bahan pembersih lainnya. Sabun berasal dari

asam lemak (stearat, palmitat atau oleat) yangdireaksikan dengan basa Bahan

pemberantas Hama

Pemakaian bahan pemberantas hama (insektisida) pada lahan pertanian

seringkali mekiputi daerah yang sangat luas, sehingga sisa insektisida pada

daerah pertanian tersebut cukup banyak. Sisa bahan insektisida tersebut dapat

sampai ke air lingkungan melalui pengairan sawah, melalui hujan yang jatuh

pada daerah pertanian kemudian mengalir kesungai atau danau di sekitarnya.

94
Seperti halnya pada pencemaran udara, semua jenis bahan insektisida bersifat

racun apabila sampai kedalam air lingkungan.

Bahan insektisida dalam air sulit untuk dipecah oleh mikroorganisme,

kalaupun biasanya hal itu akan berlangsung dalam waktu yang lama. Waktu

degradasi olehmikroorganisme berselang antara beberapa minggu sampai

dengan beberapa tahun. Bahan insektisida seringkali dicampur dengan

senyawa minyak bumi sehingga air yang terkena bahan buangan pemberantas

hama ini permukaannya akan tertutup lapisan minyak

c) Zat Warna Kimia

Zat warna dipakai hampir pada semua industri. Tanpa memakai zat

warna, hasil atau produk industri tidak menarik. Oleh karena itu hampir

semua produk memanfaatkannya agar produk itu dapat dipasarkan dengan

mudah. Pada dasarnya semua zat warna adalah racun bagi tubuh manusia.

Oleh karena itu pencemaran zat warna ke air lingkungan perlu mendapat

perhatian sunggh-sungguh agar tidak sampai masuk ke dalam tubuh manusia

melalui air minum. Ada zat warna tertentuyang relatif aman bagi manusia,

yaitu zat warna yang digunakan pada industri bahanmakanan dan minuman,

industri farmasi/obat-obatan. Zat warna tersusun dari chromogen dan

auxochrome.

d) Zat radioaktif

Tidak tertutup kemungkanan adanya pembuangan sisa zat radioaktif ke

air lingkungan secara langsung. Ini dimungkinkan karena aplikasi teknologi

95
nuklir yang menggunakan zat radioaktif pada berbagai bidang sudah banyak

dikembangkan, sebagai contoh adalah aplikasi teknologi nuklir pada bidang

pertanian, kedokteran, farmasi dan lain-lain. Adanya zat radioaktif dalam air

lingkungan jelas sangat membahayakan bagi lingkungan dan manusia. Zat

radioaktif dapat menimbulkan kerusakan biologis baik melalui efek langsung

atau efek tertunda.

2.8. Dampak Pencemaran Air

Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni

air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan

ekosistem sungai dandanau, pengrusakan hutan akibat hujan asam dsb. Di

badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat dari kegiatan pertanian

telahmenyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali yang

disebut eutrofikasi(eutrofication). Ledakan pertumbuhan tersebut

menyebabkan oksigen yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh

hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanaman air tersebut mati,

dekomposisinya menyedot lebih banyak oksigen. Akibatnya ikan akan mati

dan aktivitas bakteri akan menurun. Dampak pencemaran air pada umumnya

dibagi dalam 4 kategori (Fewtrell, L., et al. 2005)

dampak terhadap kehidupan biota air

dampak terhadap kualitas air tanah

dampak terhadap kesehatan

dampak terhadap estetika lingkungan

c) Dampak terhadap kehidupan biota air

96
Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan

menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan

mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen

terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itukematian dapat

pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan

kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air.Akibat matinya bakteri-

bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yangseharusnya

terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah menjadi sulit

terurai.Panas dari industri juaga akan membawa dampak bagi kematian

organisme, apabila air limbah tidak didinginkan dahulu.

b) Dampak terhadap kualitas air tanah

Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal

coliform telah terjadi dalam skala yang luas, hal ini telah dibuktikan oleh

suatu survey sumur dangkal di Jakarta. Banyak penelitian yang

mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut.

c) Dampak terhadap kesehatan

Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam

antara lain :

air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen

air sebagai sarang insekta penyebar penyakit

jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia

bersangkutan tak dapat membersihkan diri

air sebagai media untuk hidup vector penyakit

97
Dalam hal memindahkan penyakit, air berperan melalui 4 cara (Fewtrell,

L., et al. 2005) yaitu:

a) Cara Water Borne

Cara water borne merupakan penularan penyakit dimana air

sebagai medianya. Kuman pathogen berada di dalam air minum

untuk manusia dan hewan. Yang termasuk penyakit yang

dihantarkan melalui air ini antara lain penyakit kolera,typhoid,

hepatitis dan disentri basiler.

b) Cara Water Washed

Cara water washed merupakan penularan penyakit berhubungan

dengan air yang digunakan untuk kebersihan. Dengan terjaminnya

kebersihan oleh tersedianya airyang cukup, maka penyakit-

penyakit tertentu dapat dikurangi penularannya pada manusia.

Yang termasuk penyakit karena kurangnya air untuk kebersihan

seseorang ini antara lain ; infeksi kulit dan selaput lendir, infeksi

oleh insektaparasit pada kulit.

c) Cara Water Based

Cara water based merupakan penularan penyakit melalui

pejamu (host) di air. Contoh penyakit yang ditularkan melalui

water based adalah Schistomiasis. Pejamu (host) perantara ini

hidup di air contohnya siput air. Dalam hal ini larva

Schistomiasis hidup dalam siput air hingga berubah bentuk

98
menjadi cercaria dan menembus kulit (kaki) manusia yang

berada dalam air tersebut. Penyakit ini disebut Schistomiasis.

d) Cara Water Related Insecta Vector

Cara water related insecta vector merupakan penularan

penyakit melalui vektor yang menggunakan air sebagai tempat

berkembangbiaknya. Contoh penyakit yang ditularkan melalui

vektor yang hidupnya bergantung pada air ini seperti malaria

oleh vektor nyamuk Anopheles, demam berdarah oleh vektor

nyamuk Aedes Aegypti.

2.9. Menggunakan Air Bersih Menurut Islam

2.9.1. Air dalam Perspektif Islam

Air adalah sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup yang ada

di muka bumi ini. Dalam kehidupan ini manusia secara khusus adalah

makhluk yang yang sangat membutuhkan air utamanyaair bersih yang

digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mulai dari mandi, mencuci,

makan dan minum.

Dalam Islam air merupakan sumber kebersihan bagi setiap muslim,

maka dari itu para fuqaha' (ahli fiqhi) menjadikan pembahasan tentang air

sebagai bab paling pertama dalam setiap mengawali penjelasan mereka

tentang fikih. Hal ini dapat terlihat bagaimana para fuqaha'

menempatkanpembahasan tentang air pada bab pertama sebagai landasan

dalam kitab thahara (bersuci). Sebagai sebuah tesis bahwa air adalah alat

utama untuk mengangkat hadas baik kecil maupun besardan

99
membersihkan najis yang terdapat pada badan, oleh karena itu para

fuqaha' memberikan syarat bahwa air yang dapat digunakan untuk

bersuci adalah air yang tidak berubah salah satu dari sifatutamanya yaitu

dari warnanya, baunya, dan rasanya, jadi apabila salah satu dari ke tiga

sifat ini berubah, maka para ulama menganggapnya air sebagai yang suci

dan tidak mensucikan.

Berdasarkan pemahaman di atas kita dapat mengetahui bahwa air

yang dapat digunakan dalam bersuci adalah air yang suci pula dan air

yang tidak dapat digunakan untuk bersuci adalah air yang tidak

memenuhi syarat-syarat kesucian seperti berubahnya salah satu dari tiga

sifat utamanya,tercampurnya dengan benda najis kalau air yang

tercampur tersebut sedikit dan sebagainya

Empat macam air itu adalah:

a. Air Muthlaq, seperti air hujan, air sungai, air laut; hukumnya

suci dan mensucikan

b. Air Mustamal, yaitu air yang lepas dari anggota tubuh orng

yang sedang berwudhu atau mandi, dan tidak mengenai benda

najis; hukumnya suci seperti yang disepakati para ulama, dan

tidak mensucikan menurut jumhurul ulama

c. Air yang bercampur benda suci, seperti sabun dan cuka, selama

percampuran itu sedikit tidak mengubah nama air, maka

hukumnya masih suci mensucikan, menurut Madzhab Hanafi,

dan tidak mensucikan menurut Imam Syafii dan Malik.

100
d. Air yang terkena najis, jika mengubah rasa, warna, atau

aromanya, maka hukumnya najis tidak boleh dipakai bersuci,

menurut ijma. Sedang jika tidak mengubah salah satu sifatnya,

maka mensucikan, menurut Imam Malik, baik air itu banyak

atau sedikit; tidak mensuciakn menurut Madzhab Hanafi;

mensucikan menurut Madzhab Syafii jika telah mencapai dua

kulah, yang diperkirakan sebanyak volume tempat yang

berukuran 60 cm3.

e. Sur (sisa) yaitu air yang tersisa di tempat minum setelah

diminum:

Sisa anak Adam (manusia) hukumnya suci, meskipun ia

seorang kafir, junub, atau haidh.

Sisa kucing dan hewan yang halal dagingnya, hukumnya

suci.

Sisa keledai dan binatang buas, juga burung, hukumnya suci

menurut madzhab Hanafi.

Sedangkan sisa anjing dan babi, hukumnya najis menurut

seluruh ulama

2.9.2. Kebersihan dan Kesehatan dalam Perspektif Islam

Kebersihan adalah upaya manusia untuk memelihara diri dan

lingkungannya dari segala yang kotor dan keji dalam rangka

mewujudkan dan melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman.

Kebersihan merupakan syarat bagi terwujudnya kesehatan, dan sehat

101
adalah salah satu faktor yang dapatmemberikan kebahagiaan. Sebaliknya

kotor tidak saja merusak keindahan tetapi juga dapat menyebabkan

timbulnya berbagai penyakit, dan sakit merupakan salah satu faktor

yangmengakibatkan penderitaan.

Ungkapan Bersih Pangkal sehat mengandung arti betapa

pentingnya kebersihan bagi kesehatan manusia, baik per-orangan,

keluarga, masyarakat maupun lingkungan. Begitu pentingnya kebersihan

menurut Islam, sehingga orang yang membersihkan diri

ataumengusahakan kebersihan akan dicintai oleh Allah SWT,

sebagaimana firman-Nya :Artinya : Sesungguhnya Allah menyukai

orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang

menyucikan/membersihkan diri. (Al-Baqarah : 222)

Ajaran kebersihan dalam Agama Islam berpangkal atau merupakan

konsekusensi dari pada iman kepada Allah, berupaya menjadikan dirinya

suci/bersih supaya Ia berpeluang mendekat kepada Allah SWT.

Kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman.

Dengan demikian kebersihan dalam Islam mempunyai aspek ibadah dan

aspek moral, dan karena itu sering juga dipakai kata bersuci sebagai

padanan kata membersihkan/melakukan kebersihan. Ajaran kebersihan

tidak hanya merupakan slogan atau teori belaka, tetapi harus dijadikan

pola hidup praktis, yang mendidik manusia hidup bersih sepanjang masa,

bahkan dikembangkan dalam hukumIslam. Dalam rangka inilah dikenal

102
sarana-sarana kebersihan yang termasuk kelompok ibadah, seperti :

wudhlu, tayamum, mandi (ghusl), pembersihan gigi (siwak).

Adanya kewajiban shalat 5 waktu sehari merupakan jaminan

terpeliharanya kebersihan badan secaraterbatas dan minimal, karena

ibadah shalat itu baru sah kalau orang terlebih dahulu membersihkandiri

dengan berwudhlu. Demikian juga ibadah tersebut baru sah jika pakaian

dan tempat dimana kitamelakukannya memang bersih. Jadi jaminan

kebersihan diri, pakaian dan lingkungan mereka yang melaksanakannya.

Disinilah letaknya ibadah itu ikut berperan membina kesehatan jasmani

selain tentunya peran utamanya membina kesehatan jiwa/rohani

manusia.Kebersihan badan/jasmani seorang muslim, tidak

menghilangkan najis, ber-istinja dan berwudhlusaja, tetapi adakalanya

harus melakukan pembersihan badan secara menyeluruh dengan

qhusl(mandi). Membersihkan diri dengan mandi menjadi suatu kewajiban

dalam rangka pelaksanaan ibadah manakala seseorang junub (usai

melakukan hubungan seksual atau seusai haid/nifas (khususnya bagi

wanita)).

Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim,

dengan mencuci benda yang terkena. Macam najis:

a. Air kencing, tinja manusia, dan hewan yang tidak halal

dagingnya, telah disepakati para ulama. Sedangkan kotoran

hewan yang halal dimakan dagingnya, hukumnya najis

103
menurut madzhab Hanafi dan Syafii; dan suci menurut

madzhab Maliki dan Hanbali.

b. Madzyi, yaitu air putih lengket yang keluar ketika seseorang

sedang berpikir tentang seks dan sejenisnya.

c. Wadi, yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.

d. Darah yang mengalir. Sedangkan yang sedikit di-mafu.

Menurut madzhab Syafii darah nyamuk, kutu, dan

sejenisnya dimafu jika secara umum dianggap sedikit.

e. Anjing dan babi

f. Muntahan.

g. Bangkai, kecuali mayat manusia, ikan dan belalang, dan

hewan yang tidak berdarah mengalir.

Jika ada najis yang mengenai badan, pakaian manusia, atau lainnya,

maka wajib dibersihkan. Jika tidak terlihat, maka wajib dibersihkan

tempatnya sehingga dugaan kuat najis telah dibersihkan. Sedangkan

pembersihan bejana yang pernah dijilat anjing, wajib dibasuh dengan

tujuh kali dan salah satunya dengan debu.

Sedangkan sentuhan anjing dengan fisik manusia, tidak

membutuhkan pembersihan melebihi cara pembersihan yang biasa .

Sedang najis sedikit yang tidak memungkinkan dihindari, hukumnya

dimaafkan. Demikianlah hukum sedikit darah dan muntahan.

Diringankan pula hukum air kencing bayi yang belum makan makanan,

hanya cukup dengan diperciki air.

104
Jika seorang muslim hendak buang hajat, maka harus memperhatikan

hal-hal berikut ini:

Tidak membawa apapun yang ada nama Allah, kecuali jika takut

hilang.

Membaca basmalah, istiadzah ketika masuk, dan tidak berbicara

ketika ada di dalamnya.

Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya. Hal ini harus

menjadi perhatian setiap muslim jika membangun kamar mandi.

Jika sedang berada di perjalanan, tidakboleh melakukannya di

jalan, atau di bawah teduhan. Harus menjauhi liang hewan.

Tidak kencing berdiri, kecuali jika aman dari percikan (seperti

kencing di tempat kencing yang tinggi; urinoir)

Wajib membersihkan najis yang ada di organ pembuangan

dengan air atau dengan benda keras lainnya, tidak dengan tangan

kanan. Membersihkan tangan dengan air dan sabun jika ada.

Mendahulukan kaki kiri ketika masuk dengan membaca:

, dan

keluar dengan kaki kanan sambil membaca:

105
Kerangka Teori
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori
perilaku Lawrence Green, yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu (Green, W,
Faktor Lawrence,. et.al. 2005)
Predisposisi

- Pengetahuan
- Sikap
- Kepercayaan
- Keyakinan
- Nilai-nilai

Faktor Pendukung

- Lingkungan
- Sarana dan

Prasarana PERILAKU KESEHATAN

Faktor Pendorong

Sikap dan
Perilaku

Petugas

Kesehatan

Gambar. 2.2. Kerangka Teori

Kerangka Konsep

106
Berdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep yang
berhubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan di RT
020 RW 001 Desa Kresek, Kampung Bojong, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten. Kerangka konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori
yang dihubungkan dengan area permasalahan.

Sikap responden
terhadap pengendalian
lingkungan

Pengetahuan responden
mengenai air bersih Perilaku
Pengelolaan air
bersih Di
Sarana dan Prasarana Keluarga Binaan
Kesehatan Di RT 020/ RW
001 Kampung
Bojong, Desa
Kresek,
Lingkungan responden Kelurahan
terhadap air bersih Renged,
Kecamatan
Kresek,
Sosial dan ekonomi Kabupaten
responden terhadap air Tangerang,
bersih Provinsi Banten

Keyakinan responden
terhadap air bersih

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

Definisi Operasional

107
Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang
diamati atau diteliti, variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional.
Definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang
dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau Mengubah konsep-
konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku
atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya
oleh orang lain.
Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada
pengukuran atau pengamanan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta
mengembangkan instrumen (alat ukur).

Tabel 2.2 Definisi Operasional


No. Variabel Definisi Operasional Alat Cara Hasil ukur Skala
Ukur Ukur Ukur

1. Perilaku Tindakan responden Kuesion Wawan Baik (Skor Nominal


Penggunaan tentang apa saja yang er cara >5)
Air Bersih dilakukan ketika
Buruk (Skor
responden
<5)
menggunakan air
(sumur, hujan , pdam,

108
sungai) sebagai air
untuk diminum,
mencuci bahan
makanan, dan sebagai
tambahan bahan
makanan (dimasak,
ataupun langsung
diminum)

2. Pengetahuan Segala sesuatu yang Kuesion Wawan Baik (Skor Nominal


Air Bersih responden ketahui er cara > 8)
mengenai apa syarat
Cukup (Skor
dari air bersih(jernih,
5 - 7)
tidak berbau dan tidak
berasa.) Buruk (Skor
<4)

3. Sikap Reaksi atau respon Kuesion Wawan Baik (Skor Nominal


responden terhadap er cara >6)
pemakaian air bersih
Buruk (Skor
<6)

4. Keyakinan Sikap yang ditunjukan Kuesion Wawan Baik (Skor Nominal


responden tentang air er cara >2)
bersih yang mereka
Buruk
anggap benar.
(Skor <2)
5. Lingkungan Keadaan sekitar Kuesion Wawan Mempengar Nominal
individu yang er cara uhi (Skor
berpengaruh terhadap >2)
air bersih mulai dari
Tidak
menampung airnya.
Mempeng
aruhi

109
(Skor <2)
6. Sarana dan Segala sesuatu yang Kuesion Wawan Mendukung Nominal
Prasarana dapat digunakan berupa er cara (Skor 2)
alat untuk mencapai air
Tidak
bersih seperti penyaring
Mendukun
air.
g (Skor
<2)

7. Ekonomi Penghasilan yang Kuesion Wawan Tinggi(Rp Ordinal


dicapai berdasarkan er cara >3.000.000)
Upah Minimun
Cukup(Rp
Regional (UMR)
1500000-
2500000)

Rendah (Rp
<1500000)

BAB III
METODE

Pada penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif. Metode


penelitian deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti suatu sekelompok
manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu
kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah
untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan
akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang
diselidiki (Kartono, Kartini. 1996). Tujuan umum dari pengumpulan data adalah
untuk memecahkan masalah, langkah-langkah yang ditempuh harus relevan

110
dengan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam setiap melaksanakan
langkah tersebut harus dilakukan secara objektif dan rasional.

3.1 Populasi Pengumpulan Data


Populasi adalah keseluruhan objek pengumpulan data (Arikunto, 2002).
Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah keluarga di Kampung Bojong RT
020/RW 001, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten.

3.2 Sampel Pengumpulan Data


Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002).
Dalam hal ini yang menjadi sampel adalah kelima keluarga binaan di Kampung
Bojong RT 020/RW 001, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten. Dalam hal ini yang menjadi sampel adalah anggota dari keluarga
binaan yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi mencakup usia >17 tahun,
sehat mental, dan tidak cacat fisik, sudah menikah. Berdasarkan kriteria inklusi
tersebut terdapat sampel yang berjumlah 13 orang, yaitu: keluarga Tn. Kaji
sebanyak tiga orang, Tn. Aksan sebanyak tiga orang, Tn. Sahab sebanyak empat
orang, Ny. Muflikah sebanyak dua orang, dan Ny. Kholila sebanyak satu orang.
3.3 Responden Pengumpulan Data
Responden adalah sebagian sampel yang mau berpartisipasi pada
penelitian ini diambil dari peneliti langsung melakukan observasi ke rumah
keluarga binaan dan pengumpulan data dengan kuesioner. Kriteria eksklusi
mencakup usia <17 tahun atau diatas 65 tahun, tidak sehat mental dan cacat fisik,
dan responden yang tidak bersedia menjadi informan atau terlalu sulit ditemui
dikarenakan waktu kerjanya yang padat.
Responden kuesioner merupakan perwakilan dari setiap anggota keluarga
binaan yang kooperatif, usia diatas 17 tahun, bisa membaca dan menulis, sehat
jasmani dan rohani , serta merupakan kepala keluarga yaitu sebanyak 5 orang,
yaitu: Tn. Kaji, Tn. Aksan, Tn. Sahab, Ny. Muflikah, dan Tn. Kholila.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebagai berikut :

111
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili
dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel yaitu :
- Bersedia untuk menjadi informan
- Merupakan anggota keluarga binaan
- Usia diatas 17 tahun
- Sehat jasmani dan rohani
- Dapat membaca dan menulis
- Sudah menikah
b. Kriteria Ekslusi
Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak
dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel
penelitian, yaitu :
- Tidak bersedia menjadi informan
- Berusia diatas 65 tahun dan atau dibawah 17 tahun
- Anggota keluarga yang terlalu sibuk bekerja hingga sulit ditemui
- Memiliki gangguan mental

3.4 Jenis dan Data Sumber Data


3.4.1 Jenis Data
a. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam
bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik
pengumpulan data misalnya wawancara, analisis, observasi yang telah
dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip).

b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan.
Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis
menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika.

3.4.2 Sumber Data


Sumber data dalam pengumpulan data ini adalah para responden yaitu
lima keluarga binaan di Kampung Bojong, RT 020/ RW 001, Desa Kresek,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
a. Data primer

112
Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari subyek
penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan
data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari
(Azwar S, 2004). Pada penelitian ini, data tersebut merupakan data
yang langsung didapatkan dari hasil pengamatan langsung ke rumah,
melalui hasil wawancara terpimpin, analisis, dan observasi pada
keluarga binaan di Kampung Bojong, RT 020/ RW 001, Desa Kresek,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
b. Data sekunder
Data Sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak
langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya (Azwar S,
2004). Pada penelitian ini, data tersebut merupakan data yang langsung
didapatkan dari data yang sudah ada di Puskesmas Kresek. Berupa
data angka kejadian 10 penyakit terbanyak Puskesmas Kresek tahun
2016.
c. Data tersier
Data yang didapat dari kepustakaan tentang perilaku hidup bersih dan
sehat yang terdapat di BAB II.

3.4.3 Skala Pengukuran


1. Skala Nominal
Data berskala nominal adalah data yang diperoleh dengan cara
kategorisasi atau klasifikasi.
Contoh: Jenis pekerjaan, diklasifikasi sebagai:
Pegawai negeri, diberi tanda 1,
Pegawai swasta, diberi tanda 2,
Wiraswasta, diberi angka 3

Ciri Data Nominal:


Posisi data setara. Dalam contoh tersebut, pegawai negeri tidak
lebih tinggi/lebih rendah dari pegawai swasta.
Tidak bisa dilakukan operasi matematika (X, +, - atau : ). Contoh,
tidak mungkin 3-2=1 (Wiraswasta dikurangi pegawai
swasta=pegawai negeri

2. Skala Ordinal

113
Data berskala ordinal adalah data yang diperoleh dengan cara
kategorisasi atau klasifikasi, tetapi diantara data tersebut terdapat
hubungan.
Contoh:Kepuasan pelanggan, diklasifikasikan sebagai:
Sangat puas, diberi tanda 1,
Puas, diberi tanda 2,
Cukup puas, diberi tanda 3,
Tidak puas diberi tanda 4,
Sangat tidak puas diberi tanda 5

Ciri Skala Ordinal:


Posisi data tidak setara. Dalam kasus di atas, sikap pelanggan yang
sangat puas, lebih tinggi dari yang puas. Sikap pelanggan yang
puas, lebih tinggi dari yang cukup puas, dst. Angka/tanda bisa
dibalik dari 5 hingga 1, tergantung kesepakatan.
Tidak bisa dilakukan operasi matematika. Tidak mungkin 1+2=3
(yang berarti sangat puas ditambah puas = cukup puas)

3.4.4 Penentuan Instrumen Pengumpulan


Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan mudah.
Instrumen sebagai alat bantu dalam metode pengumpulan data
merupakan sarana yang dapat diwujudkan berupa benda atau alat, seperti
cek list, kuesioner, perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman
observasi, skala, kamera foto dan sebagainya. Instrumen yang kami pakai
untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Dengan instrumen akan
diperoleh data yang merupakan bahan penting untuk menjawab
permasalahan, untuk mencapai tujuan dan membuktikan hipotesis.

3.4.5 Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu
langkah-langkah diagnosis komunitas. Untuk mendapatkan data yang
diperlukan, maka digunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan
data.

114
Metode yang kami pakai dalam mengumpulkan data adalah
wawancara dengan menggunakan instrumen kuesioner sebagai alat untuk
mengumpulkan data-data.

Tabel 3.4.5 Jadwal Kegiatan Pengumpulan Data


Tanggal Kegiatan
Selasa, 29 Maret 2017 a. Perkenalan dan sambung rasa dengan keluarga binaan.

Jumat, 31 Maret 2017 a. Observasi rumah keluarga binaan.


b. Pengumpulan data-data dasar masing-masing keluarga
binaan.
c. Pengumpulan data dari Puskesmas Kresek yang
berhubungan dengan beberapa masalah yang ditemukan
keluarga binaan.
d. Diskusi kelompok menentukan area permasalahan
dengan menjabarkan permasalahan pada keluarga binaan
masing-masing

e. Diskusi kelompok menentukan area permasalahan


Perilaku Penggunaan Air Bersih. bersama drg. Truly
selaku Kepala Puskesmas Kresek.

Sabtu, 01 April 2017 a. Diskusi kelompok menentukan area permasalahan


Perilaku penggunaan air bersih pada keluarga binaan
Kampung Bojong, RT 020/ RW 001, Desa Kresek,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang Provinsi
BantenPengumpulan kembali data-data masing-masing
keluarga binaan.
b. Pengumpulan kembali data-data masing-masing keluarga
binaan.
c. Diskusi kelompok :
1. Mengumpulkan referensi literatur yang berkaitan
dengan area masalah.
2. Membuat kerangka teori dan pertanyaan mengenai

115
seputar faktor-faktor yang berkaitan dengan area
masalah.
3. Menentukan teknik dan intrumen pengumpulan data,
disepakati melalui observasi dan wawancara dengan
instrument kuesioner.

Senin, 03 April 2017 a. Diskusi kelompok:


1. Membuat kerangka konsep
2. Membuat definisi operasional
3. Membuat kuesioner

Selasa, 04 April 2017 1. Mengunjungi keluarga binaan untuk pengisian


kuesioner
2. Mengolah data yang diperoleh dari kuesioner
3. Menganalisis data dan menarik kesimpulan dari
kuesioner
4. Merevisi kuesioner
Rabu, 05 April 2017 Diskusi Diagnosis dan Intervensi Komunitas dengan dr.
Dini

Kamis, 06 April 2017 1. Mengunjungi keluarga binaan untuk pengisian


kuesioner
2. Mengolah data yang diperoleh dari kuesioner
3. Menganalisis data dan menarik kesimpulan dari
kuesioner
4. Merevisi kuesioner

Jumat, 07 April 2017 1. Membuat laporan (kerangka konsep, definisi


operasional, dan kuesioner)
2. Mengunjungi keluarga binaan untuk pengisian
kuesioner
3. Mengolah data yang diperoleh dari kuesioner
4. Menganalisis data dan menarik kesimpulan dari
kuesioner

Sabtu, 08 April 2017 Diskusi Diagnosis dan Intervensi Komunitas dengan drg.

116
Truly

Kamis, 13 April 2017 Intervensi keluarga binaan

3.4.6 Pengolahan Data dan Analisa Data


Untuk pengolahan data tentang Perilaku penggunaan air bersih
pada keluarga binaan Kampung Bojong, RT 020/ RW 001, Desa
Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
pada kepaniteraan kedokteran komunitas periode 29 Maret 07 April 2017
digunakan cara manual dan bantuan software pengolahan data
menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel. Untuk menganalisa
data-data yang sudah didapat adalah dengan menggunakan analisa
univariat.
Analisa Univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengenali
setiap variabel dari hasil penelitian. Analisa univariat berfungsi untuk
meringkas kumpulan data sedemikian rupa sehingga kumpulan data
tersebut berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan tersebut
dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik.
Pada diagnosis dan intervensi komunitas ini faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku keluarga binaan terhadap penggunaan air bersih,
variabel independen yang diukur adalah :
1) Perilaku responden tentang bagaimana cara menggunakan air bersih
2) Pengetahuan responden mengenai air bersih
3) Sikap responden terhadap pemakaian air bersih
4) Keyakinan responden setelah tahu mengenai penggunaan air bersih
5) Lingkungan yang berpengaruh terhadap air bersih
6) Sarana dan prasarana yang digunakan berupa alat untuk mencapai
air bersih
7) Ekonomi yang dapat mempengaruhi penggunaan air bersih

117
BAB IV

HASIL ANALISA

a. Karakteristik Responden
Hasil analisis ini ditampilkan melalui bentuk tabel dan diagram yang
diambil dari data karakteristik responden yang terdiri dari 13 orang dalam
lima keluarga binaan di RT 020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek,

118
Kelurahan Renged, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten, yakni: Keluarga Tn Kaji. , Tn. Aksan ,Tn. Sahab dan Ny. Muflikah,
Ny, khalila.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Usia Pada Keluarga Binaan di RT


0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

NO USIA JUMLAH RESPONDEN

1 16 tahun -
2 17 25 tahun 4
3 26 35 tahun 2
4 36 - 45 tahun 4
5 46 55 tahun 2
6 56 64 tahun 1
7 >65 tahun -

Sumber: Depkes, 2009

Berdasarkan tabel 4.1 tentang frekuensi berdasarkan usia responden di


keluarga binaan didapatkan jumlah responden berusia 17-25 (4 orang), 26-35
(2 orang), 36 - 45 tahun (4 orang), 46-55 tahun (2 orang), 56-64 (1 orang)

119
TINGKAT PENDIDIKAN

20%

SD SMP 40%
SMA

40%

Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden di


Keluarga Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek,
Maret 2017.
Berdasarkan dari diagram 4.1 terlihat tingkat pendidikan terbanyak
responden di keluarga binaan adalah sekolah menengah pertama dan sekolah
dasar ( 40%), dan sekolah menengas atas (20%).

120
PEKERJAAN

20%

PEDAGANG BURUH JASA

20% 60%

Diagram 4.2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Keluarga Binaan


di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Dari diagram 4.2 terlihat jenis pekerjaan terbanyak dari keluarga


binaan adalah Pedagang (60%).buruh (20%), jasa (20%)

b. Variabel

121
Hasil analisis data ditampilkan dalam bentuk tabel berdasarkan
variabel variabel dalam kuesioner yang dijawab 13 responden pada bulan
Februari 2017.

Tabel 4.2. Distribusi Responden mengenai perilaku penggunaan air bersih


pada Keluarga Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek,
Maret 2017.

Perilaku Pencggunaan Jumlah Persentase (%)


air bersih Responden
Baik 3 23.1%
10 76.9%
Buruk

Total 13 100%

Berdasarkan tabel 4.2 Didapatkan responden terbanyak memiliki perilaku


penggunaan air bersih pada Keluarga Binaan buruk (76.9%).

Tabel 4.3. Distribusi Responden mengenai pengetahuan tentang perilaku


penggunaan air bersih pada Keluarga Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung
Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Pengetahuan Responden Jumlah Responden Persentase (%)


Baik 3 23.1%
Cukup 9 69.2%

Buruk 1 7.7.%

Total 13 100%

122
Berdasarkan tabel 4.3. Didapatkan responden terbanyak memiliki pengetahuan
perilaku penggunaan air bersih yang cukup 69.2%%, dan baik 23.1%. Dan buruk
7.7%
Tabel 4.4. Distribusi frekuensi responden tentang sikap terhadap perilaku
perilaku penggunaan air bersih pada Keluarga Binaan di RT 0020/RW 001,
Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Sikap Responden Jumlah Responden Persentase (%)


Baik 8 61.5%
Buruk 5 38.5%

Total 13 100%

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan responden memiliki sikap yang baik


terhadap perilaku penggunaan air bersih 61.5%
Tabel 4.5. Distribusi frekuensi responden tentang keyakinan perilaku
penggunaan air bersih pada Keluarga Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung
Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Keyakinan Responden Jumlah Responden Persentase (%)


Baik 5 38.5%
Buruk 8 61.5%

Total 13 100%

Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan responden memiliki keyakinan yang


buruk tentang perilaku pengggunaan air bersih 61.5%.

Tabel 4.6. Distribusi frekuensi responden tentang faktor lingkungan


mempengaruhi perilaku perilaku penggunaan air bersih pada Keluarga
Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Lingkungan Responden Jumlah Responden Persentase %

123
Mempengaruhi 10 76.9%
Tidak Mempengaruhi 3 23.1%

Total 13 100%

Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan bahwa faktor lingkungan responden


mempengaruhi perilaku pengggunaan air bersih 76.9%.

Tabel 4.7. Distribusi frekuensi responden tentang sarana dan prasarana yang
mendukung perilaku perilaku penggunaan air bersih pada Keluarga Binaan
di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Sarana dan Prasarana Jumlah Responden Persentase (%)


Mendukung 12 92.3%
Tidak Mendukung 1 7.7%

Total 13 100%

Berdasarkan Tabel 4.8 didapatkan bahwa sarana dan prasarana mendukung


perilaku penggunaan air bersih 92.3%

Tabel 4.8. Distribusi frekuensi responden tentang ekonomi pada Keluarga


Binaan di RT 0020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek, Maret 2017.

Lingkungan Responden Jumlah Responden Persentase %


Tinggi 2 15.3%
Cukup 2 15.3%

Rendah 9 69.4%

124
Total 13 100 %

Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan bahwa faktor ekonomi responden tinggi


(15.3%), cukup (15.3%), rendah (69.4%)

c. Rencana Intervensi Pemecahan Masalah


Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian, untuk menentukan rencana
intervensi pemecahan masalah digunakan diagram fishbone. Tujuan pembuatan
diagram fishbone yaitu untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar
akar penyebab masalah sehingga dapat ditentukan rencana intervensi pemecahan
masalah dari setiap akar penyebab masalah tersebut. Adapun diagram fishbone
dapat dilihat sebagai berikut:
Sesuai dengan diagram fishbone tersebut, akar-akar penyebab masalah
yang ditemukan dapat dilihat melalui tabel 4.1, kemudian setelah ditemukan akar
penyebab masalah dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah dan rencana
intervensi.

125
FISH BONE
Sikap : tidak ada masalah
Pengetahuan : walaupun air berjentik namun air masih memenuhi gambaran air bersih
sebagian warga masih memakai air berjentik sebagai air minum, mandi, bahan untu
masak dan mencuci bahan untuk dimasak persepsi yang salah mengenai air bersih
Kyakinan : ga perlu rubah
Ekonomi : kebutuhan banyak penghasilan tidak menentu tingkat ekonomi rendah
Lingkungan : wadah penyimpanan air kotor seluruh warga tidak pernah menguras
wadah penampungan air seluruh warga menyaring air dengan menampung air ke
dalam wadah besar maupun kendi akarnya ga perlu dirubah
Sarana dan pasarana : ga perlu dirubah

Yg di bold hijau : akar penyebab mslah

126
Gambar 4.1. Kerangka Fish Bone

127
Tabel 4.9 Tabel Alternatif Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi Pada
Keluarga Binaan di RT 020/RW 001, Kampung Bojong, Desa Kresek,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, April 2017.

No Akar Penyebab Alternatif Rencana Intervensi


. Masalah Pemecahan Masalah
1. Persepsi yang salah Memberikan informasi Memberikan Penyuluhan
mengenai air bersih kepada keluarga binaan kepada keluarga binaan
tentang air bersih tentang air bersih.
Mengadakan lomba
dengan harapan keluarga
binaan dapat
membedakan air bersih
dengan air kosong

2. Tingkat ekonomi rendah ?? masukin ke saran aja ya,


gimana caranya untuk
mengubah perekonomian
dia, misal : menabung atau
apalah terseraaah

134
3. Anggapan warga tidak Memberikan informasi Memberikan penyuluhan
pernah mengeluhkan mengenai dampak penyakit mengenai penyakit yang
gangguan kesehatan yang dtimbulkan melalui ditularkan melalui air
terhaap air yg dipakai air

4. Seluruh warga salah Memberikan informasi Memberikan penyuluhan


cara mengelola wadah mengenai cara mengenai cara menyimpan
penampungan air penyimpanan air yang sumber air di tempat
benar didalam penampungan air yang
penampungan air. benar dan baik.
5. Sebagian warga tidak Memberikan informasi Memberikan keterampilan
memeiliki saringan air mengenai alat-alat yang berupa teknik sederhana
dapat digunakan untuk membuat penyaringan air.
Membeikan perlombaan
memperoleh air yang
dalam pengambian air
bersih
bersih

d. Intervensi Pemecahan Masalah yang Terpilih

Intervensi terpilih yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:


1. Memberikan penyuluhan mengenai air
bersih.
2. Memberikan penyuluhan mengenai cara
mengelola air bersih.
3. Memberikan penyuluhan mengenai cara
menyimpan sumber air di tempat penampungan air yang benar dan
baik.

135
4. Memberikan keterampilan berupa teknik
sederhana membuat penyaringan air.
Terpilihnya intervensi tersebut dikarenakan penyuluhan merupakan
salah satu cara yang cukup efektif dan efisien untuk mengubah persepsi
masyarakat tentang pentingnya air bersih, sumber air bersih, peran air bagi
kehidupan, syarat air bersih, pengelolaan air bersih, sumber pencemaran air
dan dampak pencemaran air. Pemberian poster dan memberikan
keterampilan berupa teknik sederhana membuat penyaringan air tentang
penggunaan air bersih kepada seluruh keluarga binaan berfungsi sebagai alat
bantu untuk memperlancar komunikasi dan penyebar-luasan informasi serta
pemberian bantuan alat berupa ember dan gayung. Selain itu juga
terpilihnya intervensi tersebut dikarenakan keterbatasan kemampuan dari
peneliti untuk melakukan intervensi.

136
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dari data kuesioner, didapatkan adanya Perilaku yang
masih rendah tentang Penggunaan Air Bersih. Dari hasil fish bone didapatkan
berbagai macam akar masalah kurangnya Perilaku hidup sehat, antara lain :
1) Persepsi yang salah mengenai air bersih
2) Anggapan warga tidak pernah mengeluhkan gangguan kesehatan terhaap
air yg dipakai
3) warga salah cara mengelola wadah penampungan air
4) Warga tidak mempunyai alat saringan air
Intervensi yang tepilih yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Memberikan penyuluhan tentang Peggunaan Air Bersih
2) Memberikan perlombaan tentang air bersih
3) Memberikan keterampilan berupa teknik sederhana penyaringan air.
Intervensi berupa memberikan pelatihan serta menyediakan alat dan bahan
untuk membuat penyaringan air sederhana

137
5.2 SARAN
Bagi Masyarakat Kampung Baleman :
1) Diharapkan masyarakat Kampung Bojong, Desa Kresek memiliki kesadaran
tentang pentingnya pendidikan.
2) Menyarankan kepada anggota keluarga binaan untuk menerapkan.
3) Menghimbau masyarakat sekitar untuk sering mengikuti penyuluhan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menambah pengetahuan tentang
kesehatan.
4) Memberikan saran kepada tokoh masyarakat untuk mengajak
masyarakatnya mengikuti penyuluhan tentang Air Bersih.

Bagi Puskesmas Kresek:


1) Menyarankan pihak pelayanan kesehatan untuk dapat memberikan
informasi dan penyuluhan mengenai Air Bersih.
2) Seluruh civitas puskesmas Kresek maupun kader diharapkan dapat bekerja
sama membina warga dalam hal.
3) Pemerintah setempat bersama pihak Puskesmas Kresek mendukung dengan
selalu menghimbau warganya untuk sadar tentang tingginya penggunaan air
yang tidak bersih.

138
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Umar Fachmi, Prof. Dr.MPH, Ph.D, Peranan Air Dalam Peningkatan
Kesehatan Masyarakat, http://www.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/200104/lap-
perananair.pdf., dikunjungi 8/4/2017 pukul 17.15.

Al-Layla, M.A., Ahmad, S dan Middlebrooks, E.J.,. 1978. Water Supply


Engineering Design. USA: Ann Arbor Science Publishers, Michigan.

Bakker, K. and Kooy, M. 2010. Citizens without a City: The Techno-Politics of


Urban Water Governance. Chapter 5 in Beyond Privatization: Governance failure
and the worlds urban water crisis, K. Bakker. Ithaca: Cornell University Press.

Bali Post. 14 Agustus 2003. Penggunaan Pestisida Pengaruhi Air,


http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/8/14/nt1hl.htm. Dikunjungi 7/4/2017
pukul 21:35.

Bappenas. 2003. Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Penyehatan


Lingkungan Berbasis Masyarakat, Bappenas - Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah - Departemen Kesehatan - Departemen Dalam Negeri -
Departemen Keuangan.

Black, R.E., Morris, S.S. and Bryce, J. 2003. Where and why are 10 million
children dying every year?. Lancet 361: 22263- 4.

BPPSPAM. 2010. Performance Evaluation of PDAMs in Indonesia. Jakarta:


Ministry of Public Works. Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyedia Air
Minum (Support Agency for the Development of Drinking Water Supply
Systems).

Brikk, F. dan M. Bredero. 2003. Linking Technology Choice with Operation and
Maintenance in the Context of Community Water Supply and Sanitation, A
Reference Document for Planners and Project Staff, World Health Organization
and IRC Water and Sanitation Centre, Geneva, Switzerland.

Crompton, D.W.T. and Savioli, L. 1993. Intestinal parasitic infections and


urbanization. Bulletin of the World Health Organization. Pp 71 (1): 1-7.

Curtis, V. and Cairncross, S. 2003. Effect of washing hands with soap on


diarrhoea risk in the community: A systematic review. Lancet Infect Dis 2003; 3:
275-281.

Dair, T. 2004. Child Mortality in Indonesias Mega- Urban Regions:


Measurement, Analysis of Differentials, and Policy Implications. 12th Biennial
Conference of the Australian Population Association, 15-17 September 2004.
Canberra.

139
Departemen Kimpraswil. 2001. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana
Wilayah Nomor: 534/KPTS/M/2001 tanggal 18 Desember 2001 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan
Pekerjaan Umum. Jakarta: Departemen Kimpraswil.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Fewtrell, L., Kaufmann, R.B., Kay, D., Enanoria, W., Haller, L. and Colford Jr,
J.M. 2005. Water, sanitation, and hygiene interventions to reduce diarrhoea in
less developed countries: A systematic review and meta- analysis. Lancet Infect
Dis 2005; 5: 4252.

Galvis, A. 2003. Technology selection for water treatment and pollution control.
Universidad del Valle, Instituto Cinara Cali, Colombia, http://www.irc.nl/page/104

Green, W, Lawrence,. et.al. 2005. Helath Education Planing A Diagnostik


Approach, The Johns Hapkins University: Mayfield Publishing Company.

Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: CV. Mandar
Maju.

Masduqi, A., N. Endah, E. S. Soedjono, dan W. Hadi. 2007. Capaian Pelayanan


Air Bersih Perdesaan Sesuai Millennium Development Goals Studi Kasus Di
Wilayah DAS Brantas, Jurnal Purifikasi, Vol. 8, No. 2, Desember 2007: 115
120.

Masduqi, A., N. Endah, dan E.S. Soedjono. 2008. Sistem Penyediaan Air Bersih
Perdesaan Berbasis Masyarakat: Studi Kasus HIPPAM di DAS Brantas Bagian
Hilir, Seminar Nasional Pascasarjana VIII ITS, 13 Agustus 2008, Surabaya.

Schelwald-van der Kley, Lida dan Linda Reijerkerk. 2009. Water: A Way of Life,
Sustainable Water Management in a Cultural Context, CRC Press, Taylor and
Francis Group.

Victora, C.G., Adair, L., Fall, C., Hallal, P.C., Martorell, R., Richter, L. and
Sachdev, H.S. 2008. Maternal and child undernutrition: consequences for adult
health and human capital. Maternal and Child Undernutrition 2, Lancet 371: 3 4 0
3- 5 7.

Wardhana, Wisnu Aria. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta:


Penerbit Andi Offset Jogyakarta.

Wawan., Dewi. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

140
Widoyono. 2012. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.

World Bank. 2008. Economic Impacts of Sanitation in Indonesia: A five-country


study conducted in Cambodia, Indonesia, Lao PDR, the Philippines, and Vietnam
under the Economics of Sanitation Initiative (ESI). Research Report August 2008.
Jakarta: World Bank, Water and Sanitation Program. .

141
Lampiran 1

Kuesioner Perilaku Masyarakat terhadap Perilaku Penggunaan Air Bersih


Pada Keluarga Binaan di RT 020 / RW 001 Kampung Bojong, Desa Kresek,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang

IDENTITAS RESPONDEN
1. Nomor Responden :
2. Nama :
3. Jenis Kelamin :
4. Umur :
5. Pendidikan Terakhir:
6. Pekerjaan :

PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN DIBAWAH INI DENGAN TELITI


A. PENGETAHUAN

1. Menurut bapak/ibu apakah yang dimaksud dengan air bersih?


a. Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan
b. Air yang tidak terdapat sampah didalamnya
c. Air yang diambil dari sumur
d. Air terdapat ikan didalamnya
e. Tidak Tahu

2. Menurut bapak/Ibu apa saja kriteria air bersih?


a. Air yang jernih, tidak berbau, tidak berasa
b. Air yang jernih
c. Air yang tidak berbau
d. Air yang tidak berasa
e. Tidak Tahu

3. Menurut bapak/ibu dari mana sumber air untuk kehidupan sehari-hari,


KECUALI?
a. Air hujan dan air permukaan
b. Air sungai, air danau dan mata air
c. Air sumur
d. Air laut
e. Tidak Tahu

4. Menurut bapak/ibu apakah kegunaaan air bagi tubuh kita?


a. Melarutkan dan membawa sari-sari makanan, oksigen dan
hormone ke seluruh tubuh yang membutuhkan

142
b. Melarutkan sari-sari makanan
c. Hanya untuk menghilangkan haus
d. Untuk menjaga kesegaran tubuh
e. Tidak Tahu

5. Menurut bapak/Ibu apa saja fungsi air bagi kesehatan tubuh,


KECUALI?
a. Memperlancar pencernaan
b. Mencegah terjadinya batu ginjal
c. Menyembuhkan luka
d. Menjaga kelembaban kulit
e. Tidak Tahu

6. Menurut bapak/ibu darimana saja sumber pencemaran air?


a. Sampah rumah tangga
b. Limbah pabrik
c. Limbah rumah sakit
d. Jawaban A,B dan C benar
e. Tidak Tahu

7. Menurut bapak/ibu bagaimana gambaran air yang tercemar,


KECUALI?
a. Bening, tidak berbau, tidak terdapat jentik
b. Bening, berbau, tidak terdapat jentik
c. Bening, berbau, terdapat jentik
d. Keruh, berbau, terdapat jentik
e. Tidak Tahu

8. Menurut bapak/ibu apa saja penyakit yang bersumber dari air?


a. Gatal-gatal, diare, sakit perut
b. TBC
c. Stroke
d. Katarak
e. Tidak tahu

9. Menurut bapak/ibu bagaimana air yang tercemar yang menjadi sumber


penyakit, KECUALI?
a. Masuknya bakteri atau virus ke dalam air yang digunakan
b. Ada ikan yang hidup dalam air
c. Kurangnya kebersihan air
d. Tidak terdapat jentik
e. Tidak tahu

10. Menurut bapak/ibu bagaimana cara anda menjaga tempat


penampungan air tetap bersih, KECUALI?
a. Menutup penampungan air

143
b. Menguras penampungan air minimal 1 minggu sekali
c. Menggunakan penyaring air
d. Membiarkan air didalam penampungan air sampai air terlihat keruh
e. Tidak tahu

11. Menurut bapak/ibu apa saja tahap sumber air yang digunakan agar air
layak untuk diminum?
a. Di masak sampai mendidih
b. Ditampung ditempat tertutup
c. Menggunakan gelas dan dikonsumsi tanpa dimasak
d. Jawaban A dan B benar
e. Tidak tahu

12. Menurut bapak/ibu bagaimana cara mebersihkan penampungan air


yang baik, KECUALI?
a. Membuang air
b. Dibersihkan dan disikat dengan sabun
c. Dibilas sampai bersih
d. Membuang air, tanpa dibersihkan dan disikat dengan sabun
e. Tidak tahu

13. Menurut bapak/ibu seberapa sering seharusnya membersihkan tempat


penyimpanan air?
a. Membersihkan penampungan air 1 minggu sekali
b. Membersihkan penampungan air 2 minggu sekali
c. Membersihkan penampungan air 1 bulan sekali
d. Membersihkan penampungan air jika perlu
e. Tidak pernah dibersihkan

14. Apakah bapak/Ibu mengetahui cara agar air telihat jernih?


a. Air disaring dari sumber air lalu ditampung
b. Air ditampung
c. Langsung mengalirkan dari sumbernya
d. Semua jawaban salah
e. Tidak Tahu

B. EKONOMI

1. Berapa rata rata penghasilan bapak/Ibu dalam satu bulan?


a. <800.000
b. 800.000 1.000.000
c. >1.000.000
d. Tidak menentu

2. Apakah penghasilan bapak/ibu dapat mencukupi kehidupan sehari-


hari?

144
a. Cukup
b. Kurang
c. Tidak Cukup

3. Berapakah pengeluaran rata-rata bapak/Ibu dalam satu bulan?


a. < 1.000.000
b. 1.000.000 2.000.000
c. > 2.000.000
C. KEYAKINAN

1. Apakah bapak/Ibu saat ini sudah dapat membedakan air bersih dengan
air kotor?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

2. Apakah bapak/Ibu sudah yakin jika air yang digunakan sudah


termasuk kriteria air bersih?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak tahu

3. Apakah bapak/Ibu sudah yakin jika air yang berada ditempat


penampungan air termasuk kriteria air bersih?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

4. Apakah bapak/Ibu sudah merasa aman dengan sumber air yang


digunakan untuk minum dan kehidupan sehari-hari?
a. Ya
b. Tidak
c. Ragu-Ragu

5. Apakah bapak/Ibu merasa yakin bahwa tempat yang digunakan untuk


penampungan air sudah bersih?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

D. LINGKUNGAN

1. Apakah bapak/Ibu setuju jika meletakkan tempat penampungan air


didekat WC atau tempat sampah?
a. Setuju, alasan
b. Tidak setuju, alasan

145
2. Apakah bapak/Ibu sudah pernah mendapatkan penyuluhan mengenai
penggunaan air bersih?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

3. Apakah bapak/Ibu sudah yakin bahwa lingkungan disekitar bapak/Ibu


sudah menggunakan sumber air bersih untuk minum dan kehidupan
sehari-hari?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

4. Apakah menurut bapak/Ibu sulit untuk mendapatkan sumber air


bersih?
a. Ya
b. Tidak
c. Tidak Tahu

SARANA DAN PRASARANA

1. Apakah bapak/Ibu memiliki tempat untuk menampung air?


a. Ya, sebutkan
b. Tidak, alasan

2. Apakah bapak/Ibu mempunyai alat penyaring untuk menyalurkan air dari


sumber air ke tempat penampungan?
a. Ya
b. Tidak, alasan

3. Sebutkan alat yang bapak/Ibu gunakan untuk menyalurkan air dari sumber
air ke tempat penampungan air?
a. Sebutkan
b. Tidak Ada

E. SIKAP

NO Peryataan S KS TS
1 Air PDAM/Satelit/Sumur dapat digunakan langsung
sebagai air bersih
2 Air PDAM/Satelit/Sumur merupakan sumber air
minum jika diolah terlebih dahulu
3 Air PDAM/Satelit/Sumur yang kotor dapat digunakan
untuk mandi
4 Air PDAM/Satelit/Sumur yang kotor digunakan

146
untuk menyikat gigi
5 Air PDAM/Satelit/Sumur yang kotor dapat dapat
digunakan untuk mencuci sayuran, ikan,
daging( bahan makanan)
6 Setelah sayuran, ikan, daging dicuci di
PDAM/Satelit/Sumur, tidak perlu dicuci lagi dengan
air bersih
7 Air boleh didiamkan ditempat penyimpanan air
selama lebih dari satu minggu
8 Air PDAM/Satelit/Sumur yang kotor sebaiknya
digunakan untuk mencuci piring dan alat masak
9 Apabila air terdapat sedikit jentik air masih dapat
digunakan
10 Apabila air sedikit keruh dan berbau besi air masih
dapat digunakan
11 Sumber air bersih harus terhindar dari bahan
pencemar
12 Pentingnya penyuluhan air bersih
13 Pentingnya mengetahui bagaimana cara membuat
penyaring air

KETERANGAN

S : Setuju
KS : Kurang Setuju
TS : Tidak Setuju

F. PERILAKU

147
NO Pernyataan YA TIDAK
1 Apakah bapak/Ibu menggunakan air
PDAM/Sumur/Satelit sebagai sumber air?
2 Apakah bapak/ ibu menggunakan air
PDAM/Satelit/Sumur yang terlihat keruh untuk
kehidupan sehari-hari?
3 Apakah bapak/ ibu menampung air sebelum digunakan?
4 Apakah bapak/ ibu menutup penampungan air?
5 Apakah bapak/ ibu menyimpan air didalam
penampunganan air >1 minggu?
6 Apakah bapak/ ibu membersihkan penampungan air
setiap 1 minggu sekali?
7 Apakah bapak/ ibu melakukan penyaringan air agar air
menjadi bersih?
8 Apakah bapak/Ibu memasak terlebih dahulu air sebelum
diminum?
9 Apakah bapak/Ibu mengikuti penyuluhan air bersih?
10 Apakah bapak/Ibu menerapkan cara memperoleh air
bersih?

148
Skoring Kuesioner Survey
1. Indikator Penilaian Pengetahuan
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor >8 : pengetahuan baik
Jika total skor 5 - 7: pengetahuan cukup
Jika total skor <4 : pengetahuan buruk
2. Indikator Penilaian Perilaku
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor >5 : Perilaku baik
Jika total skor <5 : Perilaku buruk
3. Indikator Penilaian Sikap
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor >6 : sikap baik
Jika total skor <6 : sikap buruk
4. Indikator Penilaian Sarana dan Prasarana
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor 2 : tersedia
Jika total skor <2 : tidak tersedia
5. Indikator Penilaian Ekonomi
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor 2 : Mendukung
Jika total skor <2 : Tidak Mendukung
6. Indikator Penilaian Keyakinan
Jika jawaban Benar :1
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor >2 : Keyakinan baik
Jika total skor <2 : Keyakinan buruk
7. . Indikator Penilaian Lingkungan
Jika jawaban Benar : 2,5
Jika jawaban Salah :0
Total :
Jika total skor >2 : Mempengaruhi
Jika total skor <2 : Tidak mempengaruhi

149
Lampiran 2

150
151
152
Lampiran 3
Kegiatan yang dilakukan selama di Kresek

153
154
155
156
157
158
159
160
Lampiran 4

MATERI PENYULUHAN AIR BERSIH

PENYULUHAN
AIR BERSIH

Pengertian Air Bersih


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan
kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.
Syarat Air Bersih dan Sehat
Mengingat betapa pentingnya air bersih dan sehat untuk kebutuhan manusia, maka
kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu :
Syarat fisik, antara lain:
a. Air harus bersih dan tidak keruh.
b. Tidak berwarna
c. Tidak berasa
d. Tidak berbau
e. Suhu antara 10C-25C (sejuk)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan
kualitas, yaitu:

161
1. Aman dan higienis
2. Baik dan layak minum
3. Tersedia dalam jumlah yang cukup
4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.
Sumber Air Bersih
Menurut asalnya air berada pada 3 lokasi:
1. Di angkasa (atmosfir), yaitu air yg berasal dari angkasa
Hujan, hujan es, hujan salju, embun
2. Air di atas permukaan tanah
Air laut, sungai, danau, waduk, dan lain-lain
3. Air di bawah permukaan tanah
Mata air, air sumur
Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu perihal
Pedoman Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih, disebutkan bahwa
sumber air baku yang perlu diolah terlebih dahulu adalah:
1. Mata air
Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya sulit untuk
diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka beberapa lama.
2. Sumur dangkal (shallow wells)
Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran yang kedalamannya
kurang dari 40 meter.
3. Sumur dalam (deep wells)
Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran yang kedalamannya
lebih dari 40 meter.
4. Sungai
Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah
pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum air baku
yang didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan
untuk tercemar polutan sangat besar.
5. Danau dan Penampung Air (lake and reservoir)

162
Yaitu unit penampung air dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran
sungai maupun tampungan dari air hujan.

Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan air minum
adalah (Budi D.Sinulingga, Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal,
1999) :
1. Air hujan.
Biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi akan mengalami pencemaran
sehingga tidak memenuhi syarat apabila langsung diminum.
2. Air permukaan tanah (surface water).
Yaitu rawa, sungai, danau yang tidak dapat diminum sebelum melalui
pengolahan karena mudah tercemar
3. Air dalam tanah (ground water).
Yang terdiri dari air sumur dangkal dan air sumur dalam. Air sumur dangkal
dianggap belum memenuhi syarat untuk diminum karena mudah tercemar.
Sumber air tanah ini dapat dengan mudah dijumpai seperti yang terdapat pada
sumur gali penduduk, sebagai hasil budidaya manusia.
Pemeliharaan Air Bersih dan Sehat
1. Tahap Pengambilan
Dapat memakai pompa, ember, kran, atau selang yang bersih
2. Tahap Pengangkutan Air
Menggunakan wadah yang tertutup agar dalam perjalanan air tidak tumpah
3. Tahap Penyimpanan Air
Air disimpan pada tempat yang bersih, lebih tinggi dari lantai dan jauh dari
tempat sampah, wadah penyimpananan air harus tertutup dan dibersihkan
secara rutin

4. Tahap Pemasakan
Menggunakan tempat yang tidak mudah berkarat dan dimasak sampai
mendidih

163
5. Tahap Penyimpanan Air Masak
Harus selalu ditutup agar tidak mudah dimasuki debu, serangga atau binatang
lainnya
6. Tahap Penyajian
Gelas atau cangkir, teko harus bersih, jauhkan dari benda-benda yang kotor
dan jangan campur dengan air mentah

Penyakit Yang Dapat Timbul Jika Air Tercemar


Jenis Penyakit Cara Penularan
Kolera Manusia-tinja-air-(makanan)-manusia

Typhus Manusia-tinja-lalat-(air)-makanan/minuman-
manusia
Paratyphus Manusia-tinja-lalat-(air)-makanan/minuman-
manusia
Dysentri Manusia-tinja-(lalat)-makanan-(air)-manusia

Hepatitis Manusia-tinja-air-(makanan)-manusia

Diare Manusia-tinja-(lalat)-makanan-manusia-(air)-
manusia
Leptospirosis Tikus-tinja tikus-(air seni tikus)-air-
(makanan)-manusia

Cara Memperoleh Air Minum Yang Sehat dan Bersih


Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan
dapat langsung diminum. Selain memenuhi syarat bebas dari bibit penyakit juga
harus bebas dari zat-zat kimia yang berlebihan.
Cara memperoleh air minum yang bersih dan sehat yaitu:
1. Mengambil air dari sumber air bersih
2. Tangan dan penampungan air harus bersih
3. Wadah penyimpanan air harus tertutup dan dibersihkan secara rutin
4. Gayung pengambilan air harus bersih
5. Sebelum di minum air di masak hingga mendidih

164
6. Gunakan alat minum yang bersih
Cara menyimpan air minum yaitu :
1. Simpan air minum di tempat tertutup rapat dan terpisah dari persediaan air
lainnya
2. Bersihkan tempat air minum sedikitnya seminggu sekali
3. Tuangkan air dari wadahnya ke dalam cangkir. Jangan ambil langsung dengan
cangkir
4. Jangan sekali-kali memasukkan tangan kedalam penyimpanan air minum

MATERI PEMBUATAN SARINGAN AIR SEDERHANA


Tujuan
Pembuatan saringan sederhana ini adalah untuk membuat saringan air secara
sederhana dan melakukan penanganan atau pengolahan air secara fisika,
meningkatkan kualitas air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, pemanfaatan bahan
alami untuk saringan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk membuat saringan sederhana ini yaitu:

a. Ember

b. Bak Penampung

c. Kran Air

d. Gelas ukur

e. Spidol

Bahan yang digunakan yaitu :

a. Kerikil

165
b. Serabut Kelapa

c. Arang

d. Ijuk

e. Pasir

f. Lem pipa

166
167