You are on page 1of 9

RISET

GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN


Volume 24 No. 2, 2014 ISSN 0125-9849
e-ISSN 2354-6638
Terakreditasi sebagai Jurnal Berkala Ilmiah Nomor : 525/AU2/P2MI-LIPI/04/2013

Riset Geologi dan Pertambangan merupakan Jurnal berkala ilmiah terakreditasi LIPI
bidang geologi, geofisika, pertambangan dan bidang ilmu kebumian lainnya yang terkait.
Jurnal ini terbit dua nomor dalam satu tahun pada bulan Juni dan Desember.

Dewan Redaksi

PenanggungJawab Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI

Dewan Redaksi
Ketua Dewan Redaksi Prof. Dr. Robert M. Delinom (Hidrogeologi)
Anggota Prof. Dr. Hery Harjono ( Geofisika/Seismologi)
Dr. Anggoro Tri Mursito (Sumberdaya Mineral)
Prof.Dr. Suharsono (Oseanografi)
Prof. Dr. Jun Shimada (Isotop Hidrologi)
Prof. Tadashi Tanaka (Hidrologi dan Ilmu Tanah)
Prof. Sin. Ichi Onodera (Kimia Air)
Ketua Redaksi Pelaksana Ir.Sudaryanto, MT, APU
Anggota Dr. Lina Handayani
Dwi Sarah, M.Sc

Sekretaris Dedi Mulyadi, MT

Penata Letak Eti Kartika, A.Md


Alfi Ramdani, A.Md

Alamat sekertariat dan pengiriman naskah


Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Kampus LIPI Gd. 70.
Jl. Sangkuriang Bandung 40135
Telp: (022) 2503654 ; Fax: (022) 2504593
Email : riset.geotek@gmail.com
Website: http://www.geotek.lipi.go.id/riset/index.php/jurnal
Mitra Bestari Edisi Ini

Prof. Dr. Hendarmawan (Hidrologist)


Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo, DEA. (Geofisika)
Dr. Doddy Yudianto (Teknik Sipil)
Dr. Rahmatullah ( Geografi)
Dr. Ir Ildrem Syafri, DEA (Petrologi)
Dr. Ir. Augy Syahailatua M.Sc.

Gambar Atas : Urat-kalsit-dolomit/ Ve-Ks-Do


Gambar Bawah : Ore bearing calcareous sandstone (batupasir gampingan mengandung bijih
Kata Pengantar

Pembaca yang terhormat,

Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan edisi Desember tahun 2014 ini menyajikan dua karya tulis ilmiah
dalam bidang hidrologi, dua dalam bidang geologi teknik gerakan tanah dan dua dalam bidang geologi
dasar. Geometri sistem airtanah di pesisir Bungus (Sumatera Barat) di pelajari berdasarkan resistivitas
batuan yang diperoleh dari survey geolistrik. Dan sebuah studi di Jawa Barat menunjukkan bahwa
penggunaan lahan ternyata berkaitan langsung dengan penurunan fungsi konservasi pada Sub-DAS
Cikapundung. Dua artikel mengenai gerakan tanah terdiri dari pengkelasan kerentanan tanah dan
perekayasaan kestabilan lereng. Pengkelasan kerentanan tanah dilakukan dengan menggunakan Metode
Storie dengan studi kasus di daerah Sumedang Selatan. Sedangkan rekayasa kestabilan lereng dilakukan
dengan menggunakan sistem siphon yang diuji cobakan di Kampus UPT BIKK Karangsambung, Jawa
Tengah. Penelitian geologi dasar dilakukan di Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah dan Pulau Simeulue,
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Artikel yang berdasarkan studi di Gumelar menguraikan masalah
mineralisasi pada batuan pembawa emas. Di Pulau Simeulue, penulis dan kelompoknya melakukan studi
tektonik yang membuktikan adanya kaitan antara kubah lumpur dan backthrust yang muncul akibat
proses subduksi Busur Sunda.

Harapan kami, makalah-makalah yang disajikan akan memberikan tambahan pengetahuan pembaca
semua.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Dewan Redaksi
PENGARUH PEMANFAATAN RUANG TERHADAP FUNGSI
KONSERVASI AIRTANAH DI SUB DAS CIKAPUNDUNG

Space Utilization for Groundwater Conservation Function


In Cikapundung Sub-Watershed

Rizka Maria dan Hilda Lestiana

ABSTRAK
Sub DAS Cikapundung merupakan kawasan potensial yang berfungsi sebagai drainase utama dan
penyedia air baku untuk kebutuhan penduduk di kota Bandung. Peningkatan lahan terbangun di wilayah
ini mengakibatkan banyaknya konversi lahan yang memperluas permukaan kedap air yang menyebabkan
berkurangnya infiltrasi, menurunnya pasokan airtanah dan meningkatnya limpasan permukaan. Untuk
mengetahui pengaruh pemanfaatan ruang terhadap fungsi konservasi airtanah maka dilakukan analisis
indeks konservasi. Metode yang dilakukan adalah memberikan bobot pada parameter jenis batuan, jenis
tanah, morfologi, curah hujan dan penggunaan lahan yang masing-masing telah di nilai sesuai
pengaruhnya pada kemampuan untuk menyerap air hujan. Dari analisis tersebut diketahui bahwa
perubahan penggunaan lahan pada kurun waktu 2001 - 2008 telah menurunkan fungsi konservasi secara
keseluruhan pada Sub DAS Cikapundung. Nilai fungsi konservasi mulai menurun ditunjukkan oleh
pengurangan kelas yang bernilai konservasi baik seluas 5080,5 ha. Namun kondisi ini juga diikuti dengan
kenaikan kelas konservasi normal seluas 5093,3 ha dan penurunan kelas konservasi kritis seluas 12,9 ha.
Upaya yang telah dilakukan untuk mempertahankan fungsi kawasan konservasi adalah dengan rekayasa
teknologi dan metode vegetatif.
Kata Kunci : pemanfaatan ruang, perubahan penggunaan lahan, fungsi konservasi

PENGKELASAN TINGKAT KERENTANAN GERAKAN TANAH


DAERAH SUMEDANG SELATAN
MENGGUNAKAN METODE STORIE

Classification of Ground Movement Vulnerability of South Sumedang Area


using Storie Method

Khori Sugianti, Dedi Mulyadi dan Dwi Sarah

ABSTRAK
Kabupaten Sumedang khususnya Sumedang bagian selatan seringmengalamibencana gerakan tanah yang
dapat menimbulkan berbagai kerugian fisik dan ekonomi. Pengetahuan mendetail mengenai tingkat
kerentanan gerakan tanah diperlukan untuk mendukung upaya mitigasi gerakan tanah di daerah ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi tingkat kerentanan gerakan tanah daerah Sumedang Selatan
dengan mengggunakan metode Storie. Parameter karakteristik fisik wilayah berupa tataguna lahan,
kelerengan, geologi dan curah hujan digunakan sebagai masukan perhitungan Indeks Storie. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa daerah Sumedang Selatan memiliki lima tingkat kerentanan gerakan
tanah, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Sebagian besar lokasi longsor berada
pada daerah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah sedang hingga sangat tinggi seperti di Kecamatan
Sumedang Selatan, Rancakalong, Situraja, dan Darmaraja. Analisis hasil klasifikasi menunjukkan bahwa
tingkat kerentanandipengaruhin oleh tataguna lahan, kemiringan, jenis tanah penyusunan, dan curah hujan
sebagai faktor pemicu. Gerakan tanah terjadi pada daerah dengan tataguna lahan dengan vegetasi sedikit,
lereng agak curam hingga curam, dan pada litologi batuan penyusun berupa produk gunungapi muda
dengan curah hujan sedang/lembab.
Kata kunci: gerakan tanah, Sumedang Selatan, kerentanan, metode Storie

REKAYASA HIDRAULIKA KESTABILAN LERENG DENGAN


APLIKASI SISTEM SIPHON
Studi Kasus: Upt Bikk Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

Slope Stability Hydraulics Engineering Using Siphon System.


Case Study: UPT BIKK Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah

Arifan Jaya S, Adrin Tohari, Khori Sugianti, Nugroho Aji S, Sunaryo Wibowo,
dan Sueno Winduhutomo

ABSTRAK
Perekayasaan kestabilan lereng dengan karakteristik muka airtanah dangkal telah banyak dikembangkan,
walaupun cenderung memerlukan nilai operasional yang tinggi. Salah satu metode metode perekayasaan
drainase bawah permukaan yang telah dikembangkan negara maju di Eropa namun belum diaplikasikan
di Indonesia adalah metode siphon. Metode ini merupakan sistem rekayasa hidraulika yang bertujuan
untuk menurunkan muka airtanah sehingga kestabilan lereng meningkat. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui parameter/faktor apa yang berubah sehingga mempengaruhi nilai debit Siphon, dengan
menggunakan pendekatan matematis. Pemasangan sistem Siphon telah dilakukan dengan cara membuat
lubang bor sedalam 4 m sebanyak 3 titik dan sumur pemantauan pada tiap titik yang berfungsi sebagai
pengecekan muka air tanah. Sistem Siphon dipasang sampai pada kaki lereng yang berujung pada outlet.
Perbandingan debit hitungan matematis dan debit terukur dilakukan sehingga didapatkan verifikasi
parameter yang digunakan. Pada penelitian ini diperoleh kesimpulan dengan pendekatan matematis bisa
dilakukan analisis balik mengenai parameter apa yang mengubah nilai debit. Parameter yang berubah
pada penelitian ini ialah nilai kekasaran dan koefisien debit. Perubahan nilai kekasaran Siphon 1, Siphon
2, dan Siphon 3 menjadi masing-masing 0,018, 0,017, dan 0,018 dan koefisien debitnya masing-masing
0,0589, 0,0193, dan 0,0348. Perubahan nilai kekasaran yang lebih besar mengindikasikan adanya
material sumbatan yaitu tanah butiran halus yang berada pada sumur Siphon dan masuk ke sistem Siphon.
Untuk mengatasinya, filter yang ada dan sumur Siphon perlu dibersihkan sehingga material sumbatan
tidak masuk ke dalam sistem dan menempel pada dinding selang.
Kata kunci: muka airtanah, Siphon, stabilitas lereng
BATUAN PEMBAWA EMAS PADA MINERALISASI SULFIDA
BERDASARKAN DATA PETROGRAFI DAN KIMIA DAERAH
CIHONJE, GUMELAR, BANYUMAS, JAWA TENGAH

The gold bearing rocks on the sulphide mineralization based on petrographical


and chemical data, in Cihonje Area, Gumelar, Banyumas, Central Java

Sri Indarto, Sudarsono, Iwan Setiawan, Haryadi Permana, Andrie Al Kausar, Anita
Yuliyanti, Mutia Dewi Yuniati
ABSTRAK
Batuan pembawa maupun jebakan logam dasar dan emas di Indonesia umumnya terjadi pada
batuan volkanik berumur Tersier. Namun batuan di daerah Cihonje, Gumelar, Banyumas yang
berpotensi sebagai jebakan logam dasar dan emas adalah batuan sedimen Tersier, sehingga
batuan tersebut perlu diteliti. Untuk mengetahui karakter batuan jebakan dan batuan pembawa
emas di daerah Cihonje dilakukan analisa petrografi dan kimia terhadap sampel batuan terpilih.
Batuan yang terlibat di dalam proses mineralisasi tersebut adalah batupasir gampingan, breksi
tersilisifikasi dan terargilitisasi serta termineralisasi dari anggota Formasi Rambatan, batupasir
anggota Formasi Halang terpropilitisasi lemah serta sedikit termineralisasi, andesit basaltik
Formasi Kumbang dan urat-urat kalsit-adularia-kuarsa-logam. Alterasi dan mineralisasi
hidrotermal yang terjadi disebabkan oleh intrusi andesit basaltik Formasi Kumbang berbentuk
sill atau dyke, dan urat-urat kalsit-adularia-kuarsa-logam yang pengaruhnya lebih besar. Sampel
batuan volkanik Formasi Kumbang dari kandungan SiO2 vs K2O dan FeO*/MgO vs SiO2
menunjukkan komposisi basalt dan andesit basaltik yang sebagian termasuk seri toleitik dan
umumnya kapur-alkali. Batuan anggota Formasi Rambatan dan Formasi Halang bawah
diinterpretasikan sebagai jebakan (perangkap), batuan Formasi Kumbang sebagai jebakan dan
pembawa logam, urat kalsit-adularia-kuarsa-logam adalah pembawa logam. Mineral-mineral
sulfida terdiri dari pirit, khalkopirit, sfalerit, galena. Mineralisasi emas dan logam dasar dapat
terjadi pada zona epitermal-mesotermal bersulfida rendah.
Kata kunci: Pembawa logam, jebakan, mineralisasi, hidrotermal, sulfida rendah.

DEFORMASI KOMPLEKS DI PULAU SIMEULUE, SUMATRA:


INTERAKSI ANTARA STRUKTUR DAN DIAPIRISME

Complex Deformation In Simeulue Island, Sumatra:


Interplay Between Structure And Diapirism

Sonny Aribowo, Lina Handayani, Nugroho D. Hananto, Karit L. Gaol, Syuhada,


dan Titi Anggono

ABSTRAK.
Kompleks prisma akresi memiliki karakteristik morfologi yang unik sebagai hasil dari proses deformasi
dan sedimentasi yang berkembang di daerah tersebut. Pulau Simeulue merupakan salah satu contoh pulau
yang terbentuk pada prisma akresi. Studi geologi dilakukan untuk menggambarkan keadaan struktur
geologi yang terbentuk di Pulau Simeulue yang berhubungan dengan mekanisme pembentukan sesar-
sesar anjak pada prisma akresi, pembentukan kompleks batuan bancuh dan mekanisme kubah lumpur.
Morfologi dan struktur geologi Pulau Simeulue dipetakan melalui interpretasi citra dan survey lapangan.
Citra yang digunakan dalam studi ini adalah citra Landsat TM5, Landsat 8 dan Aster-GDEM. Tumbukan
di bagian muka deformasi mengakibatkan berkembangnya struktur berupa sesar-sesar naik dan anjak
dimana di bagian utara-timurlaut cenderung lebih naik daripada bagian selatan-baratdaya. Berdasarkan
hasil interpretasi citra, sesar-sesar yang berkembang tersebut umumnya merupakan sesar-sesar anjak
berarah palung (trenchward-vergence thrusts). Berdasarkan hasil pengukuran fitur struktur di lapangan
dan rekonstruksi lipatan di Pulau Simeulue, perkembangan struktur anjak juga terjadi secara out-of-
sequence yang mengakibatkan teraktifkannya sesar anjak berarah busur (arcward-vergence thrusts). Sesar
anjak berarah palung dapat diinterpretasikan sebagai backthrust fault dari sebuah mekanisme backstop di
bagian belakang prisma akresi. Sesar-sesar anjak ini dapat dikaitkan dengan keberadaan kubah lumpur
(mud diapir) yang jejaknya juga ditemukan di beberapa lokasi di Pulau Simeulue. Hal-hal tersebut
mendukung teori bahwa kompleks batuan mlange di Pulau Simeulue terbentuk melalui proses mud
diapirism yang muncul melalui sesar-sesar anjak.
Kata kunci: Pulau Simeulue, kompleks mlange, prisma akresi, sesar anjak, mud diapir, kompleks
subduksi.

VARIASI TAHUNAN KECEPATAN KALSIFIKASI KORAL


PORITES BERDASARKAN ANALISIS COMPUTED-
TOMOGRAPHY SCAN (CT SCAN) DAN KAITANNYA
DENGAN SUHU PERMUKAAN LAUT: WILAYAH STUDI
PERAIRAN BIAK, PAPUA
Annual Variation Of Calcification Rate Of Porites Coral Based On CT-Scan
Analysis And Its Relation To The Sea Surface Temperature: Study Area Biak
Waters, Papua
Sri Yudawati Cahyarini dan Suharsono

ABSTRAK
Kemampuan koral mengendapkan kalsium karbonat (CaCO3) dikenal sebagai kalsifikasi.
Kecepatan kalsifikasi merupakan perkalian densitas dan pertumbuhan linear koral tersebut.
Kecepatan kalsifikasi koral dipengaruhi oleh kondisi perairan terumbu karang salah satunya
adalah suhu permukaan laut (SPL). Untuk memahami bagaimana pengaruh SPL terhadap
kalsifikasi koral diperlukan data historis (data urut-urutan waktu) SPL dan kalsifikasi koral dari
masa kini sampai masa lalu. Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui sejarah
pengaruh SPL terhadap pertumbuhan koral yaitu kalsifikasi dari koral Porites perairan Biak.
Dalam studi ini dihitung kecepatan kalsifikasi dengan menggunakan pendekatan tomografi koral
dengan menggunakan perangkat lunak Osirix. Hasil scanning computer tomografi (CT-Scan)
koral merupakan data inputing Osirix. Empat contoh koral dari perairan Biak dilakukan analisis
kecepatan kalsifikasi. Hasil rata-rata kecepatan kalsifikasi dari ke empat contoh koral Porites
Biak menunjukkan kenaikan kecepatan kalsifikasi koral yang selaras dengan kenaikan SPL
selama periode 1905-2011.
Kata kunci: kecepatan kalsifikasi, suhu permukaan laut, koral,
RISET
GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN
Volume 24 No. 2, 2014 ISSN 0125-9849
e-ISSN 2354-6638

Daftar Isi

PENGARUH PEMANFAATAN RUANG TERHADAP FUNGSI KONSERVASI


AIRTANAH DI SUB DAS CIKAPUNDUNG
Space Utilization for Groundwater Conservation Function In Cikapundung Sub-
Watershed
Rizka Maria dan Hilda Lestiana ............................................................................................. 77-91

PENGKELASAN TINGKAT KERENTANAN GERAKAN TANAH DAERAH


SUMEDANG SELATAN MENGGUNAKAN METODE STORIE
Classification of Ground Movement Vulnerability of South Sumedang Area using Storie
Method
Khori Sugianti, Dedi Mulyadi dan Dwi Sarah ........................................................................ 93 - 104

REKAYASA HIDRAULIKA KESTABILAN LERENG DENGAN APLIKASI


SISTEM SIPHON
Studi Kasus: Upt Bikk Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah
Slope Stability Hydraulics Engineering Using Siphon System.Case Study: UPT BIKK
Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah
Arifan Jaya S, Adrin Tohari, Khori Sugianti, Nugroho Aji S, Sunarya Wibowo, dan
Sueno Winduhutomo................................................................................................................. 105-116

BATUAN PEMBAWA EMAS PADA MINERALISASI SULFIDA


BERDASARKAN DATA PETROGRAFI DAN KIMIA DAERAH CIHONJE,
GUMELAR, BANYUMAS, JAWA TENGAH The gold bearing rocks on the sulphide
mineralization based on petrographical and chemical data, in Cihonje Area, Gumelar,
Banyumas, Central Java
Sri Indarto, Sudarsono, Iwan Setiawan, Haryadi Permana, Andrie Al Kausar,
Anita Yuliyanti, dan Mutia Dewi Yuniati .............................................................................. 117-130

DEFORMASI KOMPLEKS DI PULAU SIMEULUE, SUMATRA: INTERAKSI


ANTARA STRUKTUR DAN DIAPIRISME
Complex Deformation In Simeulue Island, Sumatra: Interplay Between Structure And
Diapirism
Sonny Aribowo, Lina Handayani, Nugroho D. Hananto, Karit L. Gaol, Syuhada,
dan Titi Anggono ...................................................................................................................... 131-144

VARIASI TAHUNAN KECEPATAN KALSIFIKASI KORAL PORITES


BERDASARKAN ANALISIS COMPUTED-TOMOGRAPHY SCAN (CT SCAN)
DAN KAITANNYA DENGAN SUHU PERMUKAAN LAUT: WILAYAH STUDI
PERAIRAN BIAK, PAPUA
Annual Variation Of Calcification Rate Of Porites Coral Based On CT-Scan Analysis
And Its Relation To The Sea Surface Temperature: Study Area Biak Waters,
Papuagunardi
Sri Yudawati Cahyarini dan Suharsono ..................................................................................... 145-158