You are on page 1of 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada era globalisasi saat ini umumnya masih banyak gaya hidup
masyarakat yang masih belum memahami tentang pentingnya kesehatan
yang dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan, diantaranya
adalah Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan
heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau
hiperglikemia (Smeltzer C, Suzanne, 2001).
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi
Diabetes Melitus di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care,
2004). Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,
diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat Diabetes Mellitus pada
kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2
yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, Diabetes Mellitus menduduki ranking
ke-6 yaitu 5,8%. (Depkes.go.id,2012).
Penderita Diabetes Mellitus mempunyai kecenderungan mengalami
stres oksidatif. Peningkatan stres oksidatif ini berkaitan dengan adanya
hiperglikemia. Hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya auto oksidasi
glukosa sehingga terbentuk radikal bebas, glikosilasi auto-oksidatif, dan
meningkatnya jalur poliol yang akan menurunkan antioksidan pada Diabetes
mellitus, hiperglikemia biasanya disebabkan oleh tingkat insulin rendah
(Diabetes mellitus tipe 1) dan atau dengan resistensi terhadap insulin pada
tingkat sel (Diabetes mellitus tipe 2), tergantung pada jenis dan keadaan
penyakit (Foster, 2000).
Di era globalisasi ini menuntut adanya persaingan pelayanan
kesehatan yang semakin tinggi diantara rumah sakit. Rumah sakit dituntut
untuk tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu, prima
namun dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi bangsa Indonesia. Hal ini
tentu akan berdampak pada pelayanan gizi di suatu rumah sakit yang
menuntut ahli gizi untuk memberikan pelayanan gizi dengan kualitas terbaik
(Hartono, 2009).

1

Pelayanan gizi di rumah sakit merupakan salah satu bagian dari sistem
pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mempunyai peranan penting
dalam pemberian asuhan gizi pasien selama dirawat. Proses Asuhan Gizi
Terstandar atau Nutrition Care Process (NCP) adalah suatu model baru dari
asuhan gizi (ADA, 2008). Menurut Soegih (1998), tujuan utama asuhan gizi
adalah mencegah terjadinya penurunan berat badan pasien seminimal
mungkin dengan harapan dapat menurunkan risiko komplikasi, morbiditas
dan mortalitas. Perlu diketahui pula pelayanan gizi adalah salah satu
pelayanan di rumah sakit yang memiliki peranan sederajat dengan
pelayanan kesehatan lain di rumah sakit dalam usaha penyembuhan pasien.
Pelayanan gizi rumah sakit merupakan kegiatan terpadu dalam
pelayanan kesehatan rumah sakit. Salah satu pelayanannya adalah pelayanan
rawat inap, pelayanan gizi ini disesuaikan dengan keadaan individu dan
berdasarkan status gizi, anamnesa dan status metabolisme tubuh. Dengan
memberikan terapi pada makanan dan disesuaikan dengan jenis penyakit
pasien. Keadaan gizi pasien mempunyai peranan penting dalam proses
penyembuhan penyakit, sebaliknya perjalanan penyakit dapat berpengaruh
pada keadaan gizi seseorang.
Asuhan gizi merupakan sarana dalam upaya pemenuhan zat gizi
pasien secara optimal baik berupa pemberian makanan pada pasien yang
dirawat maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan. Upaya peningkatan
status gizi dan kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar rumah
sakit sebagai salah satu upaya mewujudkan Indonesia Sehat, merupakan
tugas dan tanggungjawab tenaga kesehatan, khususnya tenaga yang
bergerak di bidang gizi.
Seorang ahli gizi harus mempunyai keahlian dan potensi dalam
melaksanakan tugasnya, memberikan pelayanan gizi kepada pasien baik
berupa konsultasi maupun pengaturan diet bagi pasien rawat inap. Kegiatan
pelayanan gizi meliputi 4 tahap yaitu : pengkajian gizi, perencanaan gizi
dengan menetapkan tujuan dan strategi, implementasi pelayanan gizi,
monitoring dan evaluasi pelayanan gizi.
Demikian peran besar peran seorang ahli gizi dalam perencanaan
pelaksanaan monitoring evaluasi diet yang diberikan pada pasien sehingga
salah satu program yang dilaksanakan memberikan gambaran dan
2

kesempatan dalam melaksanakan tugas seorang ahli gizi rumah sakit, maka
diselengggarakan kegiatan penerapan Konsep NCP yaitu dengan
diberikannya kasus kepada mahasiswa.
Dalam Konsep NCP, studi kasus merupakan salah satu kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
seorang calon ahli gizi dalam melakukan asuhan gizi pasien rawat inap.
Kasus yang digunakan dalam studi kasus ini adalah pasien penyakit dalam
wanita dengan diagnosis DM Tipe 2 dengan Hipertensi.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan Nutrition Care Process (NCP)
sesuai dengan keadaan pasien
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi identitas pasien secara
lengkap.
b. Mahasiswa dapat melakukan skrining gizi.
c. Mahasiswa dapat menggali riwayat penyakit pasien.
d. Mahasiswa dapat melakukan Asessmen Gizi
e. Mahasiswa dapat melakukan diagnosis gizi.
f. Mahasiswa dapat melakukan nutrition intervention planning.
g. Mahasiswa dapat melakukan perencanaan menu.
h. Mahasiswa dapat melakukan nutrition implementation.
i. Mahasiswa dapat melakukan monitoring dan edukasi.

3

1.3. Manfaat
1.3.1. Bagi Mahasiswa
Sebagai sarana menerapkan pelajaran yang telah ditetapkan
khususnya dalam bidang Konsep NCP dan sebagai tambahan
pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan gizi
bagi pasien Rumah Sakit.
1.3.2. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan evaluasi dalam memberikan pelayanan gizi pada
pasien rumah sakit.
1.3.3. Bagi Pasien
Meningkatkan motivasi dan pengetahuan pasien beserta keluarga
pasien mengenai terapi gizi atau diet yang harus dijalankan sesuai
kondisi pasien guna mempercepat proses penyembuhan.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pengaruh genetik atau keturunan. f. Kurangnya insulin karena virus atau faktor gizi pada anak-anak tidak memadai. 5 . Apabila hormon yang dihasilkan oleh sel beta pancreas tidak mencukupi untuk mengubah glukosa menjadi sumber energy bagi sel. b. e. Diabetes Mellitus 2. Adanya kehamilan yang membuat kurangnya kadar insulin dalam darah. Dan ini biasanya terjadi karena kandungan lemak yang besar dalam tubuh tidak sempurna karena kurangnya aktivitas setiap hari. c. Tingginya kadar kortikosteroid. d. 2.2 Etiologi Diabetes Melitus Penyebab diabetes biasanya karena hasil insulin tidak cukup untuk mengakomodasi kadar gula dan sel-sel tubuh tidak merespon insulin. maka glukosa tersebut akan tetap berada dalam darah dan kadar glukosa dalam darah akan meningkat sehingga timbullah penyakit yang dinamakan Diabetes Mellitus (DM) atau penyakit gula atau penyakit kencing manis.1.1. Penyebab lainnya biasanya dikarenakan : a.1. Terjadinya obesitas.1 Pengertian Diabetes Melitus Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin yang dapat dilator belakangi oleh kerusakan sel beta pancreas dan resistensi insulin [Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI)]. Tubuh racun yang mempengaruhi kinerja insulin.

Pasien wanita lebih banyak daripada pria. Sekitar 50% wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke status non diabetes setelah kehamilan berakhir.1.3 Klasifikasi Diabetes Melitus Terdapat 3 macam diabetes mellitus .1. resiko mengalami diabetes tipe II pada waktu mendatang lebih besar daripada normal. Diabetes Mellitus tipe III digestasional terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes. maka asupan glukosa (produksi glukosa yang melebihi kebutuhan kalori) akan disimpan sebagai glikogen dalam sel-sel hati dan sel otot. Diabetes Mellitus tipe I adalah penyakit hiperglikemia akibat ketiadaan absolute insulin. maka dahulu bentuk ini disebut sebagai disabetes juvenile. Karena insidens diabetes tipe I memuncak pada usia remaja dini. Pengidap penyakit ini harus mendapatkan insulin pengganti. Namun diabetes tipe I dapat timbul pada segala usia. b. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta pancreas. dengan perbandingan laki-laki sedikit lebih banyak daripada wanita. Namun. 2. Diabetes Mellitus tipe II adalah penyakit hiperglikemia akibat insensitifitas sel terhadap insulin. Proses ini disebut glikogenesis yang dapat mencegah hiperglikemia (kadar glukosa dalam darah >110 mg/dl). Penyakit ini disebut diabetes mellitus dependen insulin (DMD I). dan dahulu disebut sebagai diabetesawitan dewasa. Pasien-pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal normal (konsentrasi glukosa darah sebesar 6 . yaitu : a. Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau berada dalam rentang normal. c.4 Patofisiologi Diabetes Melitus Dalam keadaan normal jika terdapat insulin. Diabetes tipe I biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk berusia <30 tahun. Diabetes mellitus tipe II biasanya timbul pada orang berusia >30 tahun.2. maka diabetes mellitus tipe II dianggap sebagai noninsulin dependent diabetes mellitus (NIDDM).

Ini akan memudahkan terjadinya Ulkus Diabetikum (Ismail. p. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuria disertai kehilangan sodium.6 Faktor Risiko Diabetes Melitus Faktor-faktor risiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 menurut American Diabetes Association (ADA) terdiri atas faktor risiko mayor dan faktor risiko lainnya. mata kabur. gatal. Sekeliling kulit. 2007). Eksudat yang tidak begitu banyak n. Luka biasanya dalam dan berlubang i. Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis. 2012. dan pospat. deformitas kaki c. potassium. Xerosis (keringnya kulit kronik) l. klorida. Berjalan yang kurang seimbang d. Hyperkeratosis pada sekeliling luka dan anhidrosis m. Umumnya pada daerah plantar kaki (telapak kaki) b. Faktor risiko mayor terdiri atas 7 . p. impotensi. 65) a. 2. Tekanan nadi pada area kaki kemungkinan normal g. dapat terjadi selulitis j. Biasanya luka tampak merah 2.1. Pembentukan kalus pada area yang tertekan f. Manifestasi klinis luka diabetik menurut Suriadi (2004. 160/180 mg/100 ml). ABI (ankle brachial index) normal h. Kelainan bentuk pada kaki. sehingga pasien menjadi cepat lelah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. polidipsi. lemas dan berat badan turun. Adanya poliuria menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi.5 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus Timbulnya gejala khas berupa polifagia. maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung menjadi polifagia. Gejala lain yang dikeluhkan adalah kesemutan. peruritas vulva (Kusuma. 153). Adanya fisura dan kering pada kulit e.1. Hilang atau berkurangnya sensasi nyeri k. Akibat yang lain adalah asthenia atau kekurangan energi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine. penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. poliuria. akan timbul glikosuria karena tubulus-tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa.

kebiasaan merokok. 2006). Presentase ini mencerminkan rerata kadar gula darah selama rentang usia sel darah merah.1 mmol/L (200mg/dL) 3) Kadar glukosa plasma 2 jam ≥ 11. konsumsi alkohol. obesitas. hemoglobin terglikosilasi merupakan suatu indikasi pengontrolan glikemia keseluruhan dalam periode 2 sampai 3 bulan sebelumnya. menghasilkan molekul insulin aktif. Pengukuran c- peptida dapat membantu menegakkan kemampuan pembuatan insulin pada sel beta. Oleh karena itu. 2. merupakan uji yang dapat membedakan diabetes tipe 1 dari tipe 2. 8 .1 mmol/L selama uji toleransi glukosa oral (OGTT) b. jenis kelamin. kolesterol yang tidak terkontrol. Hemoglobin terglikosilasi (HbA1c) merupakan ukuran presentase molekul hemoglobin yang memiliki molekul glukosa terikat pada strukturnya. riwayat diabetes mellitus pada kehamilan. hipertensi. Soebardi. 159) pemeriksaan diagnostik diabetes melitus yang dilakukan adalah sebagai berikut: a. C-peptida merupakan fragmen tak aktif yang terlepas dari proinsulin. konsumsi kopi dan kafein. sindroma polikistik ovarium. Sedangkan faktor risiko lainnya berupa faktor nutrisi. hemoglobin terglikosilasi di atas 7% dianggap rerata gula darah tidak normal yang sesuai dengan diagnosis diabetes. Individu penderita diabetes tipe 2 umumnya memiliki kadar c-peptida normal atau meningkat. 2006 . riwayat keluarga dengan diabetes mellitus. faktor stress. The Expert Commitee on Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus di Amerika Serikat menyatakan bahwa diabetes dapat ditegakkan dengan adanya salah satu dari tiga kriteria sebagai berikut: 1) Glukosa plasma puasa (FPG) ≥7 mmol/L (126mg/dL) 2) Konsentrasi glukosa plasma sewaktu ≥11. kurang aktivitas fisik. jadi. dan intake zat besi (PERKENI.1. c. ras/etnik. Umumnya.7 Pemeriksaan Diabetes Melitus Menurut Brashers (2008. p.

Kerusakan ginjal d. 2003). pendekatan untuk pencegahan penyakit ini didasarkan pada pengontrolan faktor-faktor yang diketahui telah teridentifikasi dapat membalikkan resistensi insulin dan mencegah obesitas.9 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Menurut Brashers (2008. misalnya : gangguan fungsi seksual.al.1. cerebrovascular disease. biasanya terjadi pada dekade kedua setelah melalui masa asimtomatik (Singgih. gastroparesis. 159-160) penatalaksanaan Diabetes Melitus adalah sebagai berikut: a. neuropati. et. p.8 Komplikasi Diabetes Melitus Komplikasi kronik akibat DM akan meningkatkan angka kematian dan kesakitan. nefropati.3 mmol/L). Koma nonketotik d. Hipoglikemi (reaksi insulin) Hipoglikemia (kadar glukosa darah yang abnormal rendah) terjadi kalau kadar glukosa darah turun di bawah 50 hingga 60 mg/dl (2. Komplikasi vaskular dibagi menjadi komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Fenomena fajar Komplikasi jangka panjang menurut Corwin (2001. Efek somogyi e. Komplikasi akut diabetes Menurut Corwin (2001. 550-553) : a. mempertahankan program olah raga seumur hidup. Komplikasi non vascular. gangguan pembuluh darah perifer. dan gangguan pada kulit. Sistem kardiovaskuler b. 549) adalah sebagai berikut: a. Komplikasi mikrovaskular adalah retinopati.2. b.. Ketoasidosis diabetes c. Sistem saraf perifer 2.1.7 hingga 3. 9 . Pencegahan. Peningkatan risiko terjadinya komplikasi ini berhubungan dengan hiperglikemia jangka lama. p. Gangguan penglihatan c. p. dapat dibagi menjadi 2 yaitu komplikasi vaskular dan non vaskular. Komplikasi makrovaskular adalah penyakit jantung koroner.

1. pasien harus memulai regimen olah raga individual dengan penekanan pada olah raga aerobik minimal 3 hari per minggu selama 30 menit. 5) Konsumsi alkohol harus dibatasi sampai setara dengan 4 ons anggur per hari. dan umur. Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 / 90 mmHg. 2. Strategi pencegahan kedua adalah deteksi dini sehingga mencegah komplikasi diabetes tipe 2. b. lemak binatang harus diganti dengan lemak tak jenuh tunggal atau tak jenuh ganda. 4) Asupan kolesterol dibatasi hanya 300 mg per hari. Olahraga dalam batasan yang berdasarkan kemampuan kardiovaskuler. c.7 Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection. serta untuk memperoleh dan mempertahankan berat badan optimal dan keseimbangan antara asupan kalori dengan pemakaian kalori. Hipertensi 2. Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang. Diet diabetik bertujuan menormalkan kadar glukosa dan lipid darah. Rekomendasi diet terkini menganjurkan: 1) Karbohidrat harus dalam bentuk kompleks dan kaya serat dan menyusun 55% sampai 60% total asupan energi. d. Faktor yang dapat 10 . Dimulai bertahap dan ditingkatkan seiring dengan peningkatan kemampuan olahraga. jenis kelamin.2. Faktor pemicu hipertensi dibedakan menjadi yang tidak dapat dikontrol seperti riwayat keluarga.2. 2) Lemak total harus dikurangi menjadi 30% sampai 35% dari asupan energi total. Olahraga mengurangi resistensi insulin. Pemantauan glukosa darah sendiri adalah untuk meyakinkan pengontrolan glikemia yang paling optimal. Pengertian Hipertensi Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). 3) Protein harus dikurangi menjadi 10% dari asupan kalori total.

Hipertensi campuran merupakan peningkatan pada tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi atau yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardiovascular). Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya. Penyebab Hipertensi Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan. Terdapat sekitar 95 % kasus. 2. perilaku merokok. Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara dua denyutan. Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke. gangguan ginjal dan lain-lain yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak. yaitu : a. dikontrol seperti obesitas. ginjal dan jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut. biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. kelemahan jantung. dan hipertensi campuran. sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya.2. penyakit jantung koroner (PJK).3.2. Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkontraksi (denyut jantung). hipertensi diastolik. Klasifikasi Hipertensi Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal. disebut juga hipertensi idiopatik. 2.2. Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik. kurangnya aktivitas fisik. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik. pola konsumsi makanan yang mengandung natrium dan lemak jenuh. 11 .

Detection. merokok. sistem renin- angiotensin. hiperaldosteronisme primer. feokromositoma. and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII). defek dalam ekskresi Na. b. prehipertensi. Evaluation. Terdapat sekitar 5% kasus. seperti obesitas. dan sindrom Cushing. hiperaktivitas susunan saraf simpatis. hipertensi vaskular renal. hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan. penyakit ginjal. dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. hipertensi derajat I dan derajat II. Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention. Penyebab spesifiknya diketahui. peningkatan Na dan Ca intraselular. seperti penggunaan estrogen. koartasio aorta. klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal.) Tabel 2. dan lain-lain. serta polisitemia. lingkungan. (Tabel 2. alkohol. Klasifikasi tekanan darah menurut WHO / ISH30 Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Hipertensi berat ≥ 180 ≥ 110 Hipertensi sedang 160 – 179 100 – 109 Hipertensi ringan 140 – 159 90 – 99 Hipertensi perbatasan 120 – 149 90 – 94 Hipertensi sistolik 120 – 149 < 90 perbatasan Hipertensi sistolik > 140 < 90 terisolasi Normotensi < 140 < 90 Optimal < 120 < 80 Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah 12 . Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII29 Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Normal < 120 < 80 Prehipertensi 120 – 139 80 – 89 Hipertensi derajat I 140 – 159 90 – 99 Hipertensi derajat II ≥ 160 ≥ 100 Tabel 3.

Pertumbuhan ini disebut plak.2. kolesterol. Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam pengontrolan pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi sejumlah vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium. Aterosklerosis merupakan proses multifaktorial. Terjadi inflamasi pada dinding pembuluh darah dan terbentuk depositsubstansi lemak. Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer. Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Hipertensi berat ≥ 180 ≥ 110 2. Pertumbuhan plak di bawah lapisan tunika intima akan memperkecil lumen pembuluh darah. kelainan aliran darah. a. yang berusaha untuk mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek kardiovaskular melalui sistem saraf termasuk sistem kontrol yang bereaksi segera. Perubahan anatomi dan fisiologi pembuluh darah Aterosklerosis adalah kelainan pada pembuluh darah yang ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas arteri. obstruksi luminal. kalsium dan berbagai substansi lainnya dalam lapisan pembuluh darah. b. produk sampah seluler.4. Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang mengatur jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ terutama ginjal. pengurangan suplai oksigen pada organ atau bagian tubuh tertentu. Sistem renin-angiotensin Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting 13 . Patofisiologi Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi.

14 . c. Dengan meningkatnya ADH. Pada titik ini. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di toraks dan abdomen.  Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Akibatnya. yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. volume darah meningkat. Sistem saraf simpatis Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor. enzyme (ACE). yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. neuron preganglion melepaskan asetilkolin. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler.  Meningkatkan sekresi Anti-Diuretic Hormone (ADH) dan rasa haus. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke ganglia simpatis. dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis). Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. pada medula di otak. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah. volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Untuk mengencerkannya. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

Usia Tekanan darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. dan merokok. biasa sering muncul pada etnik Afrika Amerika dewasa daripada Kaukasia atau Amerika Hispanik. 15 . Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah 2. c. Bagaimanapun. Pada laki-laki meningkat pada usia lebih dari 45 tahun sedangkan pada wanita meningkat pada usia lebih dari 55 tahun. b. Faktor-faktor Resiko Hipertensi Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain: a.2. d. Gambar 1. Kebiasaan Gaya Hidup tidak Sehat Gaya hidup tidak sehat yang dapat meningkatkan hipertensi. Ras/etnik Hipertensi bisa mengenai siapa saja. Jenis Kelamin Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi daripada wanita. kurang berolahraga. antara lain minum minuman beralkohol.5.

Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya. makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding arteri sehingga meningkatkan 16 . Menghisap rokok menyebabkan nikotin terserap oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga ke otak. Kandungan bahan kimia dalam tembakau juga dapat merusak dinding pembuluh darah. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa memompa untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan tubuh lainnya.  Kurangnya aktifitas fisik Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. sebab rokok mengandung nikotin. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa darah. Di otak. Karbon monoksida dalam asap rokok akan menggantikan ikatan oksigen dalam darah. nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi. Hal tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada setiap kontraksi. Tembakau memiliki efek cukup besar dalam peningkatan tekanan darah karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Merokok Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi.

Pasien diharapkan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang dapat mempengaruhi tekanan darah misalnya kopi. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Diagnosis Hipertensi Diagnosis hipertensi dengan pemeriksaan fisik paling akurat menggunakan sphygmomanometer air raksa.6. Kurangnya aktifitas fisik juga dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan yang akan menyebabkan risiko hipertensi meningkat. soda.lain. apakah hipertensinya ganas atau tidak. Mengisolasi penyebabnya Tujuan kedua dari program diagnosis adalah mengisolasi penyebab spesifiknya. apakah arteri dan organ- organ internal terpengaruh. Pengukuran dilakukan dalam keadaan tenang. b. Pasien yang terdiagnosa hipertensi dapat dilakukan tindakan lebih lanjut yakni : a. Sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali pengukuran dalam posisi duduk dengan siku lengan menekuk di atas meja dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas dan posisi lengan sebaiknya setinggi jantung. karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. dan lain. 2. tahanan perifer yang menyebabkan kenaikkan tekanan darah. Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi.2. makanan tinggi kolesterol. 17 . Menentukan sejauh mana penyakit hipertansi yang diderita Tujuan pertama program diagnosis adalah menentukan dengan tepat sejauh mana penyakit ini telah berkembang. Studi epidemiologi membuktikan bahwa olahraga secara teratur memiliki efek antihipertensi dengan menurunkan tekanan darah sekitar 6-15 mmHg pada penderita hipertensi. alkohol dan sebagainya.

c. mata. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ.44 Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh. kualitas hidup penderita menjadi rendah dan kemungkinan terburuknya adalah terjadinya kematian pada penderita akibat komplikasi hipertensi yang dimilikinya. 2. Komplikasi tersebut dapat menyerang berbagai target organ tubuh yaitu otak. 18 d. jantung. dan lain-lain. renal dan adrenal. baik secara langsung maupun tidak langsung. antara lain adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II. 2) Memeriksa saraf sensoris dan perifer dengan suatu alat electroencefalografi (EEG). serta ginjal. pembuluh darah arteri. Pencarian faktor risiko tambahan Aspek lain yang penting dalam pemeriksaan. radiologis. Sebagai dampak terjadinya komplikasi hipertensi. stress oksidatif. yaitu pencarian faktor-faktor risiko tambahan yang tidak boleh diabaikan.2. Tes khusus Tes yang dilakukan antara lain adalah : 1) X. tes laboratorium.ray khusus (angiografi) yang mencakup penyuntikan suatu zat warna yang digunakan untuk memvisualisasi jaringan arteri aorta. Komplikasi Hipertensi Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya sehingga menimbulkan komplikasi.7. seperti kardiologis. alat ini menyerupai electrocardiography (ECG atau EKG). atau karena efek tidak langsung. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan 18 . EKG (electrocardiography) dan rontgen. e. Pemeriksaan dasar Setelah terdiagnosis hipertensi maka akan dilakukan pemeriksaan dasar. down regulation.

Kerusakan organ-organ yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah: 1) Jantung  Hipertrofi ventrikel kiri  Angina atau infark miokardium  Gagal jantung 2) Otak  Stroke atau transient ishemic attack 3) Penyakit ginjal kronis 4) Penyakit arteri perifer 5) Retinopati 19 . organ target. baik secara langsung maupun tidak langsung. Umumnya. misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor-β (TGF-β). hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh.

hasil pemeriksaan laboratorium. plastik. Data sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain.2 Cara pengumpulan data a. 3.1.3 Waktu studi kasus Waktu pelaksanaan studi kasus pada tanggal 13 April 2017. b.2. hasil pemeriksaan fisik dan klinis. Formscreening pasien RSUD Ulin Banjarmasin b. Sendok. Data primer ini meliputi data antropometri. piring. 3. 3.1 Jenis data Jenis data studi kasus ini meliputi : a. Data antropometri diperoleh melalui pengukuran secara langsung terhadap pasien.1 Tempat dan Waktu 3. BAB III METODE PENGAMBILAN DATA 3. data riwayat gizi. keluhan atau perkembangan fisik serta data kebiasaan makan dan asupan makan pasien. Dalam studi kasus ini data sekunder diperoleh dari data rekam medik.B-19 RSUD Ulin Banjarmasin. Data primer Data primer merupakan data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti. Data asupan makan dan kebiasaan makan pasien diperoleh melalui wawancara dan observasi langsung terhadap pasien. d.1. meliputi data identitas pasien. Data status/keadaan pasien didapat dari catatan rekam medik. Data riwayat gizi diperoleh melalui wawancara terhadap pasien dan keluarga. c. Alat makan (plato) f. Siklus menu 10 hari RSUD Ulin Banjarmasin 20 . b.3 Instrumen Studi Kasus Instrument studi kasus instrument studi kasus meliputi : a.2 Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.1. 3.1 Tempat studi kasus 3. Timbangan bahan makanan d. mangkuk e.2. keluhan utama. data riwayat penyakit dan diagnosa medik. Software Nutri Survey c.2 Studi kasus dilaksanakan di Ruang Penyakit Dalam Wanita Tulip No.

4 Analisis Data Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif dengan memberikan gambaran dalam bentuk tabel dan teks. Kalkulator h. Buku status pasien 3. 21 . g.

RM : 1-34-67-00 Bangsal/Kamar : Tulip No. Skrining Akhir Penyakit berat (=peningkatan kebutuhan) Absen skor 0 Kebutuhan gizi normal Ringan 1 Fraktur pinggang pasien kronis dengan komplikasi akut : 22 .2 Skrining Tabel 1. BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Identitas Pasien Nama : Ny. ada penurunan BB sebanyak : 1-5 kg 1 6-10 kg 2 11-15 kg 3 >15 k 4 Tidak tahu berapa kg penurunannya 2 2 Apakah asupan makan pasien berkurang karena penurunan . nafsu makan / kesulitan menerima  Tidak 0  Ya 1 Total Skor 3 Tabel 2.B-19 / III Agama : Islam Pendidikan Terakhir : - Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Suku : - BB : 65 Kg TB : 160 cm Tanggal MRS : 8 April 2017 Tanggal Kasus : 13 April 2017 Aktivitas Bedrest (Ringan) : Diagnosis medis : Diabetes Mellitus tipe 2 dan Hipertensi 4. Skrining Awal Parameter Skor 1 Apakah pasien mengalami penurunan berat badan yang tidak . direncanakan?  Tidak 0  Tidak yakin (ada tanda : baju longgar) 2  Ya. H Umur : 62 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan No.

Riwayat penyakit keluarga : Diabetes Mellitus d. Riwayat penyakit dahulu : Sejak tahun 2011 menderita Diabetes Melitus tipe 2. merasa lemah. b.6)2 = 25. pasien dalam perawatan intensif (APACHE≥10)f Umur : 62 thn (Jika ≥ 70 tahun tambah 1 skor) Koreksi umur: - Skor = 3 + 0 = 3 Total skor : 3 Keterangan : Skor ≥ 3 : resiko malnutrisi. sirosis. perlu perencanaan gizi secara dini Skor < 3 : tidak beresiko malnutrisi atau bisa dilakukan skrining seminggu kemudian Kesimpulan : resiko malnutrisi Tanggal pengambilan data :13 April 2017 4. CPOD. Antropometri : BB = 65 Kg = 160 cm TB = (TB – 100) x 10% (TB – 100) BBI = (160 – 100 ) x 10% (160 – 100) = 60 – 6 = 54 kg = BB/TB2 = 65/(1. Riwayat penyakit sekarang : Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi 4. Keluhan utama : Penurunan berat badan 8 kg dalam waktu satu bulan terakhir.39 (Normal) IMT b. hemodalisa kronik. mual. Biokimia Nilai Normal Hasil pemeriksaan (mg/dl) Pemeriksaan (mg/dl) (13/04/17) GDP 80 – 110 273 GD2JPP 110 – 160 193 23 .4 Nutrition Assesment a. muntah dan sulit BAB. paru-paru berat. stroke.transplantasi sum-sum tulang.3 Riwayat Penyakit a. hipertensi dan stroke c. kanker darah Berat skor 3 Luka kepala. Sedang skor 2 Bedah mayor abdomen.

- Sariawan .  Makanan selingan Pasien selalu makan selingan berupa buah – buahan dengan jumlah yang tidak ditentukan dan sering mengonsumsi kue manis pada waktu – waktu senggang. muntah. lemah dan sulit BAB. - Ulkus .  Asupan Makan 24 . Riwayat Makan/Dietary History  Makan utama Pola makan pasien sebelum masuk rumah sakit adalah rutin 3x sehari dengan makanan pokok lauk hewani. - Penurunan pendengaran . Frekuensi makan snack (diluar jam makan utama) lebih dari 3kali/hari  Pantangan /alergi Pasien tidak memiliki pantangan ataupun alergi terhadap makanan tertentu. sayuran dan buah. Bumbu dalam masakan selalu ditambahkan gula sebagai penambah cita rasa manis. Fisik /Klinis  Fisik : Data Fisik 13/04/17 Keterangan Compos Mentis + - Mual + - Muntah + - Lemah + - Batuk . kadang-kadang lauk nabati.  Klinis : Pemeriksaan Normal 13/04/2017 Keterangan Tekanan Darah 120/80 mmHg 170/70 mmHg Tinggi Suhu 36oC -37oC 36. - Pusing . - Sumber Rekam Medik Pada tanggal 13 April 2017 Kesimpulan : Tekanan darah pasien tinggi d. - Kesimpulan : Pasien mengalami gangguan gastrointestinal ditandai dengan mual. - Susah tidur .5oC Normal Nadi 60-100x/menit .c.

48 55.78 5.936 99.61 Kategori Kurang Kurang Kurang Kurang 25 . Jumlah asupan berdasarkan kebutuhan pasien (individu) pada tanggal 12 April 2017 : Energi(kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Asupan 663.22 298.Berdasarkan hasil recall 24 jam terhadap asupan makan pasien yang diberikan diet DM 1700 kkal/ hari sebelum dilakukan pengambilan kasus : Pagi  Bubur Nasi : 45 gram  Daging : 0 gram  Tempe : 0 gram  Sayur : 125 gram  Minyak : 5 gram Siang  Nasi : 65 gram  Daging : 0 gram  Sayuran : 0 gram  Minyak : 7.7 2.989.49 % asupan 33.35 11.7 11.4 166 Kebutuhan 1.49 44.5 gram *Mengonsumsi makanan luar rumah sakit berupa buah pir sebanyak 1 buah dan pisang kukus sebanyak 2 buah dalam sehari.5 gram Sore  Nasi : 65 gram  Daging : 0 gram  Sayuran : 150 gram  Minyak : 7.

04 21. Klien History  Riwayat Penyakit Sekarang : Diabetes Melitus tipe 2 dan hipertensi  Riwayat Penyakit Dahulu : Sejak tahun 2011 menderita Diabetes Melitus tipe 2.7 11.5 275 %asupan 39. Treatment / Pengobatan Pasien juga diberikan obat – obat oral berupa : Pengobatan 12 April 2017 Fungsi Obat : Amlodipine adalah obat penghambat saluran kalsium (calcium Diberikan  Amlodipine channel blocker) yang 2x/hari melebarkan pembuluh darah dan melancarkan peredaran darah. hipertensi dan stroke  Riwayat Penyakit Keluarga : Diabetes Mellitus f.36 Kategori Kurang Kurang Kurang Kurang Kategori menurut WNPG (2004) :  Kurang : < 80%  Normal : 80-110%  Lebih : > 110% Kesimpulan : Asupan makan pasien selama di RS masih kurang karena pasien mengalam gangguan gastrointestinal berupa mual. muntah dan tidak nafsu makan. e.  Metformin Diberikan Metformin adalah obat 2x/hari untuk mengontrol gula 26 .7 2. Jumlah asupan berdasarkan standar kebutuhan menurut rumah sakit (1700kkal) pada tanggal 12 April 2017 : Energi (kkal) Protein (g) Lemak (g) KH (g) Asupan 663.5 36.08 6.57 60.4 166 Kebutuhan 1700 55.

1 Asupan oral tidak adekuat berkaitan dengan kondisi pasien lemah.2 Perilaku dan kepercayaan yang tidak mendukung terkait dengan makanan dan zat gizi berkaitan dengan kebiasaan makan pasien seperti mengkonsumsi makanan manis dan bergula.5 Diagnosis Gizi  NI. Metmorfin bekerja dengan membantu mengembalikan respon tubuh yang tepat terhadap insulin yang diproduksi secara natural.1. ditandai dengan asupan energy kurang (58. 4. gagal jantung.2.3. Cara Pemberian : Oral d. serangan  Micardis jantung. darah tinggi.79%)  NC.2 Penurunan berat badan yang tidak diharapkan berkaitan dengan penyakit DM Tipe II ditandai dengan berat badan turun 8 kg dalam satu bulan  NB. Terapi Diet : Diet DM 1700 kkal RG b.6 Nutrition Intervention Planning a. dan kondisi lainnya. Obat ini juga menurunkan jumlah gula yang diproduksi hati dan yang diserap perut/usus Micardis diindikasikan untuk perawatan tekanan darah tinggi. Bentuk Makanan : Lunak c. 4. gagal ginjal pada pasien dengan diabetes. Tujuan Diet : 27 .

yaitu 275 gram sebagai sumber energi utama agar protein tidak digunakan sebagai sumber energi utama. mineral cukup. Gula alternatif adalah bahan pemanis selain sakarosa. 9) Penggunaan gula murni (karbohidrat sederhana) tidak diperbolehkan dalam makanan dan minumankecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu karena pasien mengalami gangguan utilisasi karbohidrat sederhana. B6. 5) Jumlah natrium diberikan sesuai anjuran diet RG II yaitu 600-800 mg Na ( 2 gr garam dapur). terutama vitamin A. Asam Folat. malam (25%) serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan (masing-masing 10- 15%). untuk membantu mencegah konstipasi. 8) Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering. siang (30%). Prinsip Diet : 1) Makan 3 J (Tepat Jumlah. mengutamakan serat larut air dalam sayur dan buah 11) Vitamin dan Mineral cukup f. 3) Lemak diberikan cukup. B12. terutama kalsium. yaitu 36. agar sesuai dengan salah satu prinsip 3 J yaitu tepat jumlah. 7) Serat cukup. vitamin C dan vitamin E. Ada dua jenis gula 28 . diutamakan protein yang nilai biologi tinggi untukmemperbaiki dan memulihkan struktur dan fungsi integritas dari jaringan yang rusak. magnesium dan kalium. 4) Karbohidrat diberikan cukup. yaitu 55.5 gram sebagai cadangan energi. 2) Protein diberikan cukup. 10) Penggunaan gula alternatif dalam jumlah yang terbatas. yaitu 1700 kkal untuk memenuhi kebutuhan energi pasien. Riboflavin. 6) Vitamin cukup. 1) Memeberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien 2) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Menormalkan tekanan darah e.Makanan dibagi menjadi 3 porsi besar yaitu pagi (20%). Syarat Diet : 1) Energi diberikan cukup. Jadwal dan jenis) 2) Rendah Natrium 3) Diberikan 3 kali makan utama dan 2-3 kali makanan selingan 4) Energi cukup 5) Protein cukup 6) Lemak sedang 7) KH cukup 8) Tidak menggunakan gula murni 9) Gula alternatif dalam jumlah terbatas 10) Serat 25 gr/hari.5 gram.

29 . sedangkan gula alkohol dalam jumlah berlebihan mempunyai pengaruh laktasif. jeruk. dendeng. Fruktosa dalam jumlah 20% dari kebutuhan energi total dapat meningkatkan kolesterol dan LDL. melon. terong dan lain- lain Buah-buahan Buah-buahan yang tinggi Buah-buahan rendah kalium. - Sayuran wortel. ayam tanpa kulit. duku. sarden dan hasilnya corned beef Semua jenis kacang. tahu. 11) Asupan serat dianjurkan 25g/hari dengan mengutamakan serat larut air yang terdapat dalam sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan serat harian. kentang. kalium. jambu biji. seperti: ikan Sumber protein hewani sapi. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan : Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan Beras. Gula alternatif bergizi adalah fruktosa. roti. mangga. belimbing. alternatif yaitu yang bergizi dan yang tidak bergizi. crakers dan singkong. tepung singkong sederhana dan sagu Ikan. diawetkan. mie. sawi. ubu. biscuit. Daging dan ikan yang susu skim. kangkung. arbei. 13) Makanan mudah cerna dan tidak merangsang saluran cerna. seperti: jambu. dan silitol. g. Sedangkan gula alternatif tak bergizi adalah aspartame dan sakarin. Cake. tempe. tepung semua jenis karbohidrat Sumber karbohidrat terigu. telur. gula alkohol berupa sorbitol. kedondong. manitol. seperti: anggur. 12) Meningkatkan asupan bahan makanan sumber Kalium dari sayuran dan buah-buahan karena pasien mengalami Hipokalemia. papaya markisa. susu dan asin.Semua jenis kacang- kacangan dan hasilnya kacangan dan hasilnya Sumber protein nabati yang merupakan sumber yang merupakan sumber protein bernilai biologis protein bernilai biologis tinggi rendah Caisim.

98 kkal / 4 = 99.936 kkal = 397. seperti: makanan Lemak siap saji.96 kkal / 4 = 298.989.98 kkal / 9 = 44.291. salak.2 x 1.49 gram 4.989.22 gram Karbohidrat = 60% x 1. dan pisang semangka.936 kkal = 1. dan goreng-gorengan Minuman dengan kadar Berbagai minuman Minuman glukosa rendah bersoda dan beralkohol Semua jenis bumbu Semua jenis gula dan Bumbu selain gula madu 4.989.275.8 Perencanaan Menu Waktu Menu Berat (gr) Nasi Tim 90 Ikan Gabus Asam manis 25 Pagi Setup wortel dan buncis 125 Tempe Goreng 25 Pisang 150 Nasi Tim 130 Bistik Telur 60 Siang Sup Sayur 150 Tempe Goreng 25 Snack Semangka 175 Nasi tim 130 Semur daging 25 Malam Tumis Tempe 50 Capcay (wortel+kol+sawi) 150 Pisang Kukus 150 30 .8 x 160) – (4.4 = 1. nangka.6 x BB) + (1. sawo Semua jenis makanan Mengandung banyak dengan sedikit lemak lemak. pir.936 kkal Protein = 20% x 1. cake.3 = 1.275.6 x 65) + (1.6 x 1.193.7 Perhitungan Kebutuhan Energi TEE = 655 + (9.936 kkal = 397.989.6 kkal TEE x FA x FS = 1.8 x TB) – (4.49 gram Lemak = 20% x 1.7 x 62) = 655 + 624 + 288 .7 x U) = 655 + (9.

Tempat : Tulip No. Alat Bantu : Leaflet Diet DM dan RG h. Tema : Diet DM RG b. Metode : Konsultasi g. Waktu : ± 15 menit e. 4. Tujuan : . Sasaran : Pasien dan keluarga d. . c.10 Monitoring dan Evaluasi Anamnesis Yang Diukur Pengukuran Target Berat Badan atau Awal kasus dan Antropometri Normal LLA akhir kasus  GDP/2 jam PP Biokimia Setiap Pemeriksaan Normal  Urinalisa  Keadaan Membaik umum pasien Fisik/Klinis Setiap hari  Tanda-tanda Normal Vital Asupan ≥ 80% Dietary History Asupan makan Setiap hari dari total kebutuhan 31 .Agar pasien dan keluarga mengetahui diet yang diberikan serta mengetahui bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan. Untuk memberikan motivasi kepada pasien dalam menjalankan diet yang diberikan.B-19 f.9 Nutrition Implementation a. Materi :  Pola makan dan kebiasaan makan yang benar  Penjelasan mengenai diet DM dan Rendah Natrium  Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan 4.

BAB V PEMBAHASAN 5. Pengukuran tinggi badan dapat dilakukan dengan menanyakan langsung kepada pasien. 2010). Berikut adalah adalah hasil pengkuran BB pasien pada saat awal masuk rumah sakit (8 April 2017) dan pada saat pengambilan kasus (12 April 2017) adalah sebagai berikut : Pengukuran status gizi menggunakan IMT Tanggal BB (Kg) TB (Cm) IMT Keterangan 8 April 2017 73 160 28.51 Berat Badan Lebih 13 April 2017 65 160 25. IMT (Indeks Massa Tubuh) adalah perhitungan yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang. Apabila pasien mengalami kelainan pada sendi lututnya atau ketidakmampuan merentangkan tangan secara lurus maka pengukuran sulit atau tidak dapat dilakukan (Berg.39 kg/m2 yang artinya status gizi masih berada pada range normal.1 Antropometri Pengukuran status gizi pasien diukur dengan menggunakan perhitungan IMT berdasarkan data hasil ukur tinggi badan dan berat badan pasien. kurang tepat menggambarkan tinggi badan yang sebenarnya dan ketidakpraktisan alat yang digunakan. Data yang kami ambil adalah hasil pengukuran BB dan TB dalam buku rekam medik pasien. jika tidak dapat berdiri dapat diukur dengan rentang tangan atau tinggi lutut. mengukur langsung ditempat dengan posisi berdiri tegak. Pengukuran rentang tangan dan tinggi lutut dirasa sulit dilakukan. dkk. Perhitungan IMT pada pasien didapat 25. Kategori BMI (kg/m2) 32 . khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. pengukuran BB dan TB dilakukan secara rutin karena telah melakukan pengobatan rutin sebelum masuk rumah sakit. Berdasarkan informasi keluarga pasien.39 Berat Badan Normal Setelah diketahui tinggi badan dan berat badan pasien dapat diketahui status gizi pasien dengan perhitungan IMT. Mempertahankan berat badan yang seimbang dapat memperpanjang usia harapan hidup.

p. baik pada pembuluh darah (mikroangiopati dan makroangiopati) maupun pada susunan saraf (neuropati) sehingga dapat menekan angka morbiditas dan mortilitas. Sehingga dari hasil pemeriksaan biokimia terhadap gula darah pasien yang dilaksanakan pada studi kasus (13 April 2017).Pemantauan status gizi ini bertujuan untuk menghindari terjadinya berbagai komplikasi lain dari penyaki pasien.2 Biokimia Pada studi kasus ini.99 Berat Badan Lebih 25. diabetes dapat ditegakkan dengan adanya salah satu dari tiga kriteria sebagai berikut: 1.00 Obese >27.159) pemeriksaan diagnostik diabetes melitus yang dilakukan oleh The Expert Commitee on Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus di Amerika Serikat.50-24. Glukosa plasma puasa (GDP) ≥7 mmol/L (126mg/dL) 2.1 mmol/L (200mg/dL) 3. 2007 Pemantauan terhadap status gizi pasien penting dilakukan.00 Sumber : Riset Kesehatan Dasar. Konsentrasi glukosa plasma sewaktu (GDS) ≥11. termasuk pada pasien dengan diagnosis diabetes mellitus.00-27. Kadar glukosa plasma 2 jam (GD 2 jam PP) ≥ 11. pemeriksaan biokimia dilaksanakan pada saat pengambilan kasus (13 April 2017) Nilai Normal Hasil pemeriksaan (mg/dl) Pemeriksaan (mg/dl) (13/04/17) GDP 80 – 110 273 ( ↑ ) GD2JPP 110 – 160 193( ↑ ) Sumber Rekam Medik 19 April 2017 Menurut Brashers (2008. Kurus <18.1 mmol/L selama uji toleransi glukosa oral (OGTT). 5. Tingginya gula darah pasien merupakan tanda dari meningkatnya kadar gula darah yang menunjukkan pasien menderita penyakit Diabetes Mellitus. 33 . dapat diketahui bahwa GDS pasien tinggi karena ≥ 200mg/dL. gula darah pasien tetap tinggi. Hal ini harus mendapat perhatian untuk dilakukan intervensi gizi karena dari awal masuk rumah sakit sampai hari pengambilan kasus.50 Normal 18.

Suhu yang di maksud adalah “panas” atau “dingin” suatu substansi. pada tanggal 08 April 2017 sampai dengan 13 April 2017 terjadi perubahan nilai nadi. Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah terhadap pembuluh darah. Pengukuran suhu tubuh pasien yang dilakukan selama empat hari menunjukkan bahwa suhu tubuh pasien berada pada rentang suhu tubuh yang normal. Orang-orang dengan diabetes dapat merasa mual dan muntah ketika gula darah menjadi tinggi (Hiperglikemia) karena keseimbangan gula dan insulin terganggu. yang diukur dalam unit panas yang disebut derajat. Panas yang diproduksi dikurangi pengeluaran panas sama dengan nilai suhu tubuh (Sutisna. suhu. Pada kondisi diabetes Melitus penyebab rasa mual dan muntah mungkin terjadi karena adanya gastroparesis. 34 . Sebaliknya. Peningkatan tekanan darah disebabkan peningkatan volume darah atau elastisitas pembuluh darah. yaitu adanya mual. Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.muntah. Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas dari tubuh. Berdasarkan hasil pemeriksaan secara fisik yang dilaksanakan pada hari pengambilan kasus (tanggal 13 April 2017).5. muntah dan lemah. Tekanan darah dipengaruhi volume darah dan elastisitas pembuluh darah. dapat diketahui bahwa keadaan umum pasien composmentis disertai mual. penurunan volume darah akan menurunkan tekanan darah (Ronny et al. dapat diketahui bahwa kondisi pasien masih sama.3 Fisik dan Klinis 1) Fisik Berdasarkan hasil pemeriksaan secara fisik yang dilaksanakan pada saat pasien masuk RS (tanggal 08 April 2017). dan tekanan darah. 2010). 2) Klinis Salah satu parameter yang akan dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan diet bagi pasien adalah evaluasi keadaan klinis pasien. dan lemah. yaitu kondisi dimana lambung gagal mengosongkan diri secara cepat dan kegagalan dari saraf-saraf dalam tubuh untuk mengirim sinyal-sinyal yang tepat ke otak dan dari otak.

Makanan berserat akan memberikan serat pangan.4 Asupan Makan Pemberian diet pada tanggal 12 April 2017 adalah diet DM 1700 kkal dan RG II dengan bentuk makanan lunak yaitu bubur sesuai dengan keadaan dan kemampuan pasien untuk menerimanya. Dengan mengonsumsi serat dalam jumlah yang cukup dapat memberikan manfaat metabolik berupa pengendalian gula darah. terutama mengonsumsi lemak dan karbohidrat cukup serta meningkatkan konsumsi serat. protein. kategori makanan sebagai berikut : a. Selama pelaksaan studi kasus pasien mendapat diet bubur diet DM 1700 kalori dan RG II dengan pemberian makan 3 kali sehari.08 6. 80-110 % = normal c. dapat diketahui bahwa asupan makan energi. muntah dan tidak adanya nafsu makan. Jumlah serat yang dianjurkan untuk dikonsumsi bagi 35 . < 80 % = kurang b. 5.57 60. lemak dan karbohidrat kurang. >110 % = lebih Dari hasil recall 24 jam menurut kebutuhan individu pasien pada hari pengambilan kasus. 2010).36 Asupan (%) Dalam menganalisis asupan makan pasien dilakukan dengan melihat seberapa besar porsi yang dapat dihabiskan pasien. hiperinsulinemia dan kadar lipid plasma atau faktor risiko kardiovaskuler.Tekanan darah pasien yang dipantau selama 5 hari masih berada di atas normal.04 21. Pasien dengan penyakit diabetes Melitus dianjurkan untuk menerapkan pola makan yang sehat supaya terhindar dari komplikasi DM dengan cara mengonsumsi makanan secara seimbang. vitamin dan mineral serta substansi lain yang penting bagi kesehatan. Asupan makan pasien akan dibandingkan dengan kebutuhan pasien yang dikategorikan menurut kriteria WNPG (2004). Kekurangan asupan zat gizi ini terjadi salah satunya karena pasien mengalami gangguan gastrointestinal berupa mual. 12/04/2017 Energi Protein Lemak Karbohidrat Persentase 39.

Resistensi insulin dan tekanan darah (Ricardi. (Snehalatha. Asupan zat gizi mikro. 2011). yaitu 15-20 gram/1000 kkal setiap harinya dari berbagai bahan makanan sumber serat. 36 . Asupan lemak pada pasien diabetes harus sangat diperhatikan.2005) Aspek paling penting yang berhubungan dengan komposisi diet adalah konsumsi lemak jenuh <10% Dari total energi atau bahkan <8% Bagi pasien dengan risiko kardiovaskuler tinggi. Lemak jenuh merupakan determinan diet yang penting untuk menentukan kadar LDL-kolesterol di dalam plasma. yang berperan sebagai antioksidan akan menurunkan resistensi insulin melalui perbaikan fungsi endothelial dan menurunkan stress oksidatif sehingga mencegah berkembangnya kejadian diabetes tipe 2 Selain Menerapkan pola makan sehat juga dianjurkan bagi masyarakat untuk melakukan olahraga secara teratur (Azrimaidaliza. Pengaturan pola makan. Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh banyak faktor. terutama serat larut. Tujuan diet yang utama dalam kaitannya dengan lemak makanan pada penyandang DM adalah membatasi asupan lemak jenuh dan kolesterol dari makanan. salah satunya vitamin C terdapat dalam makanan sumber alami. 2005). Adanya rekomendasi kuat. Hartanti (2004) Menemukan asupan serat sebagian besar penderita diabetes mellitus tipe2 masih kurang dari angka kecukupan serat 25 gram/hari dan asupan serat makanan berkontribusi terhadap kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus (p- value < 0.penderita DM sama dengan jumlah serat yang dianjurkan pada masyarakat umum.05). yaitu tingginya risiko menderita penyakit kardiovaskuler pada pasien diabetes dan kenyataan bahwa asupan lemak lemak jenuh memberikan efek terhadap metabolisme lemak (meningkatkan Kolesterol LDL). karbohidrat dan serat cukup akan membantu dalam mengontrol glukosa darah. terutama konsumsi lemak.

2 Penurunan berat badan yang tidak diharapkan berkaitan dengan penyakit DM Tipe II ditandai dengan berat badan turun 8 kg dalam satu bulan  NB.1. muntah dan tidak nafsu makan. ditandai dengan asupan energy kurang (58. g. d.2 Perilaku dan kepercayaan yang tidak mendukung terkait dengan makanan dan zat gizi berkaitan dengan kebiasaan makan pasien seperti mengkonsumsi makanan manis dan bergula. Status gizi pasien adalah baik ditandai dengan IMT yaitu 25. f. h. mual dan muntah dan sulit BAB.79%)  NC.1 Kesimpulan a. kurang nafsu makan.3. Pasien memiliki riwayat penyakit DM dan hipertensi. Berdasarkan diagnosis dari dokter (diagnosa medis) dapat diketahui bahwa pasien didiagnosa menderita penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Hipertensi b. dan memiliki riwayat penyakit keluarga yaitu DM serta riwayat penyakit sekarang yaitu stroke komplikasi DM dan hipertensi. e. Terapi diet yang diberikan yaitu Diet DM 1700 kalori dan RG II dengan bentuk makanan yaitu bubur yang diberikan secara oral dengan 37 . BAB VI PENUTUP 6. c. namun selama di RS masih tergolong kurang (< 80 %) karena pasien mengalami gangguan gastrointestinal berupa mual.1 Asupan oral tidak adekuat berkaitan dengan kondisi pasien lemah.39 kg/m2 (Normal). Kebiasaan makan pasien sebelum masuk RS yaitu makan utama 3 x/hari dan selingan/ ngemil >3 x/hari dan tidak ada alergi ataupun pantangan makan. Diagnosis Gizi Pasien adalah sebagai berikut :  NI.2. Asupan makan pasien sebelum masuk RS tergolong berlebih. Keadaan fisik pasien masih kurang baik karena pasien masih sering mengalami lemah. i. Keadaan klinis berupa tekanan darah pasien masih tinggi yaitu 170/70 mmHg dan suhu tubuh pasien berada dalam rentang normal.

Pasien disarankan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung cukup serat untuk mengatasi BAB. Keluarga pasien disarankan untuk memberikan motivasi kepada pasien agar mematuhi diet yang telah dianjurkan/diberikan. 6. frekuensi/rute pemberian 3x/hari dan diberikan dalam porsi kecil dan sering. d. 38 . Pasien disarankan untuk tetap menjalani diet yang diberikan. c. b. Pasien dan keluarga pasien disarankan untuk mengikuti konseling gizi untuk menambah pemahaman pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit DM dan hipertensi serta makanan yang dianjurkan serta tidak dianjurkan untuk pasien.2 Saran a.

Dalam Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 (SNATI 2009). 12..PharmaceUrinary Tract Infectioncal Care Untuk Penyakit Diabetes 39 . 2009..Kes. DAFTAR PUSTAKA Askandar.al. 12.6 No. R.. Staff pengajar program studi ilmu kesehatan masyarakat.3 Juta Orang. Ginting. diakses pada tanggal 27 April 2017. A.deherba. R. 12. Helmi.. Wahyuni. Fakultas Kedokteran Andalas Fungsi Obat Amlodipine (https://www. Diakses tanggal 26 April 2017 (http://m. M.php) Dirjen Pelayanan Medik Dep Kes Sos RI WHO. dkk).depkes.com/indonesia-id/micardis-tablet. 2002. 2011. et. diakses pada tanggal 27 April 2017.1. Jurnal Studi Literatur vol.net/health/Micardis- (Telmisartan)-Drug-Information-(Indonesian).news-medical.. Umar. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. Basri.Yogyakarta Metformin (https://hellosehat. C. diakses pada tanggal 27 April 2017.id/index.tabletwise.Dr. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 21. Pusat Diabetes dan Lipid RSCM/FKUI Instalasi Gizi RSCM (tim editor : Sarwono Waspadji.48 WITA) Micardis (http://www. S. diakses pada tanggal 27 April 2017. 2005..html. Tjokroprawiro. Asupan Zat Gizi dan Diabetes Mellitus.46 WITA) Micardis (Telmisartan) (http://www. F.RI.Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta Kusumadewi. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta Azrimaidaliza.com/apa-fungsi-obat- amlodipine.com/obat/metformin/.go.aspx. Aplikasi Informatika Medis Untuk Penatalaksanaan Diabetes Melitus Secara Terpadu...43 WITA) Dep. 2002.50 WITA) Muchid.N. Pedoman Diet Diabetes Mellitus. 12.DR.

Paduan Pelayanan Medik Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. S. Diabetes Mellitus dalam human nutrition. B Dan Rivellese. Ambady. Mansjoer. 40 . Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Riccardi. A. Nafrialdi. 2009.Z. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Mellitus.Jakarta: Direktorat Bina Rarmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Kesehatan Departemen Kesehatan Rani. 2006.A. Diabetes Melitus dalam gizi kesehatan masyarakat. A. Wijaya.Jakarta. Chamukuttan Dan Ramachandran. A. Capaldo.P. A. Et al.. Elsevier Churchil Livingstone. Eleventh Edition.2005 Snehalatha.. Edited By Catherine Geissler Dan Flilary Powers. Editor : Michael J Gibney.U. Nasir. I..UK. G.. Soegondo.