You are on page 1of 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAN KELUARGA
DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PENDERITA
GANGGUAN JIWA DENGAN GANGGUAN SENSORI
PERSEPSI : HALUSINASI

Di susun oleh :

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017

Tujuan Khusus: Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1 X 15 menit diharapkan keluarga yang berkunjung ke Ruang 23E RSSA Malang dapat: a. Menyebutkan Pengertian halusinasi b. Menyebutkan sebab orang mengalami halusinasi d. TUJUAN 1. 2. 1 SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok bahasan : Mencegah kekambuhan pada pasien gangguan jiwa dengan Sub pokok bahasan halusinasi dengar : Peran keluarga dalam mencegah Kekambuhan Sasaran gangguan jiwa dengan Hari / Tanggal Halusinasi dengar Waktu : Keluarga pengunjung Ruang Tempat 23E RSSA Malang : : 15 menit : Ruang 23E RSSA Malang A. Tujuan Umum : Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan keluarga yang berkunjung ke Ruang 23E RSSA Malang mampu memahami apa perannya dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa di rumah dengan halusinasi. Menyebutkan rentang respon halusinasi c. Menyebutkan tanda dan gejala orang yang mengalami halusinasi .

Menyebutkan fase halusinasi g. Penyebab penderita mengalami halusinasi d. Tanda dan gejala halusinasi e. PELAKSANAAN KEGIATAN N Kegiatan Penyuluh Peserta Wakt o u 1 Pembukaan Menyampaikan salam Menjawab 3 dan salam Menjelaskan tujuan salam menit Apersepsi 2 Penyampai Menyampaikan materi: Mendengar an materi  Penge kan 10 rtian halusinasi Memberi menit  Meny respon ebutkan rentang respon halusinasi Mendengar  Penye kandan bab penderita memperhati kan . Menyebutkan tipe halusinasi f. B. C. Menyebutkan rentang respon halusinasi c. Fase halusinasi g. Peran keluarga dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa dengan rencana halusinasi. GARIS BESAR MATERI a. Pengertian halusinasi b. 2 e. Tipe halusinasi f. Menyebutkan apa saja peran keluarga dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa dengan halusinasi.

METODE  Prolog  Ceramah  Tanya jawab D. D. MEDIA Leaflet Naskah dialog E. 3 mengalami halusinasi  Tanda dan gejala halusiasi  Tipe halusinasi  Fase- 3 Penutup fase halusinasi dan salam  Peran 2 Menjawab menit keluarga dalam Mendengar mencegah kan kekambuhan Menjawab penderita ganggua salam jiwa dengan halusinasi Tanya jawab Menyimpulkan hasil materi Menyampaikan salam. EVALUASI . SETTING TEMPAT Peserta duduk di kursi tunggu Penyaji didepannya F.

14 Penyampaian Firosika 4. 10. Apa pengertian halusinasi b.04 – 10. Apa saja fase halusinasi g. Kegiatan : Jadwal. G. SUSUNAN ACARA N WAKTU ACARA PETUGAS O 1. Apa peran keluarga dalam mencegah kekambuhan penderita gangguan jiwa dengan rencana halusinasi.00 – 10. Apa tanda dan gejala halusinasi e. 10. Apa tipe-tipe halusinasi f. Menyebutkan rentang respon halusinasi c. 4 1.14 – 10. pengorganisasian. 10.03 – 10.04 Prolog 3. 10.02 Pembukaan Indari P 2. Apa penyebab penderita mengalami halusinasi d. Hasil penyuluhan : Memberi pertanyaan pada pasien dan keluarga yang mengikuti penyuluhan di Ruang 23E RSSA Malang tentang : a. alat bantu atau media.15 materi Yuni H Diskusi dan penutup . proses penyuluhan 2.

5 Lampiran materi PERAN KELUARGA DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PENDERITA GANGGUAN JIWA DENGAN HALUSINASI DENGAR DI RUMAH .

Menyebutkan rentang respon halusinasi Respon adaptif respon maladaptif -Pikiran logis -Distorsi pikiran -Gangguan pikir -Persepsi aktual -Ilusi -Halusinasi -Emosi konsisten -Reaksi emosi -Kesukaran proses dengan -Prilaku yang tak pikir pengalaman biasa -Prilaku -Prilaku sesuai disorganisasi -Berhubungan -Isolasi sosial sosial C. Halusinasi adalah gejala sekunder dari skizofrenia dan klien dengan skizofrenia 70% mengalami halusinasi pendengaran dan 205 mengalami campuran halusinasi pendengaran dan penglihatan (Stuart dan sundeen. 1995). Pengertian halusinasi Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus atau rangsangan dari luar. Penyebab penderita mengalami halusinasi o Faktor predisposisi 1. daya ingat. 1980). 6 A. Halusinasi merupakan reaksi terhadap stress dan usaha dari alam tak sadar untuk melindungi egonya atau pernyataan simbolik dari gangguan psikotik individu. mungkin perilaku kekerasan . B. (Maramis. bicara. Biologis  Gangguan perkembangan dan factor otak/ssp  Gejala yang mungkin timbul : hambatan dalam belajar.

ketakutan. serta tidak mampu melakukan asuhan keperawatan mandiri seperti mandi. sikat gigi. Tanda dan gejala halusinasi  Berbicara. jengkel.  Merusak diri sendiri. sulit membuat keputusan. menghirup. Psikologis  Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan  Penolakan dan kekerasan dalam kehidupan  Pola asuh pada usia anak-anak 3. konflik social budaya  Kebudayaan yang terisolir disertai stress yang menumpuk o Faktor prepitasi  Kurang sumberdaya/dukungan sosial yang dimiliki  Respon koping yang maladaptif  Komunikasi keluarga yang kurang/kemampuan financial keluarga D.  Mengatakan mendengar suara. menarik diri. orang lain dan lingkungan. Sosial budaya  Kemiskinan. 7 2. melihat.  Sikap curiga. berganti pakaian dan berhias yang rapi. mudah tersinggung. senyum dan tertawa sendirian.  Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata. bermusuhan. mengecap dan merasa sesuatu yang tidak nyata. mudah .

Tipe ini sering ditemukan pada klien dengan dimensia seizure atau mengalami gangguan cerebrovaskuler.Halusinasi ini paling sering dialami klien dibandingkan dengan halusinasi yang lain. ekspresi wajah tegang. 1995) E. seperti cahaya atau seseorang yang telah mati. Halusinasi Penglihatan Melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada. suara-suara tersebut biasanya familiar. Halusinasi Penciuman Mencium bau-bau padahal di tempat tersebut tidak ada bau. Tipe halusinasi 1. 2. sering mendengar suara-suara orang berbicara atau membicarakannya. 3. . banyak keringat (Towsend & Mary. pembicaraan kacau dan tidak masuk akal. Halusinasi Pendengaran Mendengar suara-suara. 8 marah.

. dan tidak dapat diselesaikan. perpisahan. Perilaku klien : menggerakan bibir tanpa suara. 6. respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya. Fase kedua/comdemning (ansietas berat) Fase condemming atau ansietas berat merupakan fase pengalaman sensori yang menjijikkan dan menakutkan. 2. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. 2000). perasaan adanya rasa makanan dan berbagai zat lainnya yang dirasakan oleh indra pengecapan klien (Cancro & Lehman. pergerakan mata yang. 5. cara ini hanya menolong sementara. rasa bersalah. 9 4. diam dan asyik sendiri. nikmat atau tidak nyaman padahal stimulus itu tidak ada.  Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan. cepat. kesepian yang memuncak. Halusinasi Sentuhan Perasaan nyeri. perasaan. Halusinasi Pengecapan Termasuk rasa yang tidak hilang pada mulut. Fase-fase halusinasi 1. Karakteristik :  Klien mengalami stress. Fase pertama/conforting (ansietas sedang) Fase comforting yaitu fase menyenangkan. cemas.

Klien berhenti menghentikan perlawanan kesepian jika sensori halusinasi berhenti. Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. 3. Karakteristik :  Bisikan suara. Fase ini bersifat psikotik. klien masih bisa mengontrol Perilaku klien : meningkatkan tanda-tanda system saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut jantung. Karakteristik :  Kecemasan meningkat. berfikir sendiri  Mulai diresahkan oleh bisikan yang tidak jelas  Klien tidak ingin orang lain tahu. Klien mengalami panik dan umumnya menjadi melebur dalam halusinasi. kesukaran berhubungan dengan orang lain. Fase keempat/conguering (panik) Disebut juga fase conquering. 4. 10 Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang diekspresikan. isi halusinasi makin menonjol dan mengontrol klien  Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasi Perilaku klien : kemauan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti. melamun. Fase ketiga/controling (ansietas sangat berat) Fase controlling merupakan ansietas sangat berat dimana pengalaman sensorik pada klien menjadi berkuasa. . rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit. Fase ini bersifat psikotik ringan. dan tekanan darah. pernafasan.

bersama sama saat makan buah atau dicampur dengan makanan. Perilaku klien : perilaku teror akibat panik. serta akibat jika lupa atau menolak minum obat  Modifikasi pemberian obat. 11 Karakteristik :  Halusinasi berubah menjadi mengancam. tidak berdaya. 7. menarik diri.  Berikan pujian langsung pada penderita saat mempunyai keinginan sendiri untuk minum obat . potensi bunuh diri. Peran keluarga dalam mencegah ke kambuhan penderita gangguan jiwa 1. Alasan penderita gangguan jiwa harus minum obat secara teratur:  Untuk memacu atau mengahambat fungsi mental yang terganggu  Memperbaiki kondisi penderita Kiat pada pasien yang menolak minum obat:  Buat kesepakatan dengan penderita (membuat jadwal minum obat)  Menjelaskan manfaat pengobatan bagi penderita. Memberikan perhatian dan rasa kasih sayang dan penghargaan social kepada penderita 2. hilang kontrol. Mengawasi kepatuhan penderita dalam minum obat. memerintah dan memarahi klien  Klien menjadi takut. perilaku kekerasan. tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan.

libatkan dalam kegiatan sehari-hari. Beri kegiatan yang positif untuk mengisi waktu penderita dirumah. . Memberikan pujian jika penderita melakukan hal yang positif. 6. Membawa penderita untuk control rutin kepelayanan kesehatan. Bantu penderita untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan 4. 8. Menjauhkan penderita dari pengalaman atau keadaan yang menyebabkan penderita merasa tidak berdaya dan tidak berarti 9. 5. Jangan mengkritik penderita jika penderita melakukan kesalahan. 12 3. Jangan biarkan penderita menyendiri. 7.

S dkk. Jakarta: DepKes RI . Philadelphia. 13 DAFTAR PUSTAKA Shives. Keperawatan Jiwa :Teori dan tindakan keperawatan. 3. Health Education and Drug Counseling for Schizophrenia. Basic Concept Of Psyciatric Mental Health Nursing. Lippincott Razali. pp 187-189 Tim Penyusun buku pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa I. M.R. 1998. L. Vol. 1997. IMJ. 4 No. 2000.